Saya membaca berita meninggalnya kartunis GM Sudarta saat berlangsungnya kualifikasi Piala Dunia. Saya sangat terkejut, mengingat beberapa waktu yang lalu saya mendatangi pameran kartun GM Sudarta di Bentara Budaya tentang perjalanan almarhum berkarya selama 50 tahun di harian Kompas, menampilkan sosok Om Pasikom dengan beragam karakter yang menggelitik.

Waktu itu, ada tiga orang pembahas karya-karya GM Sudarta, yaitu Trias Kuncahyono, Seno Gumira Aji Darma, Romo Mudji Sutrisno dan dipandu oleh Putu Fajar Arcana. Diskusi berlangsung serius dalam beragam perspektif, Pak Trias Kuncahyono membahas dalam kebiasaan GM Sudarta yang sering mengganti tema menjelang deadline, Seno Gumira Ajidarma membahas sejarah kartun dari sisi historis dan filosofis, sedangkan Romo Mudji melengkapinya dalam sisi etika.

Diskusi berlangsung seru, dan saya pun bertanya tentang beberapa kartun yang menyulut kontroversi di pelbagai media dunia, batasan berekspresi, hingga kurang dihargainya eksistensi hasil karya kartunis belakangan ini.

Saya masih ingat, dia menulis dalam tulisan yang dipigura sangat besar, tentang pergulatannya selama 50 tahun bersama Om Pasikom. Om Pasikom adalah teman diskusi, bertukar pikiran, pemberi nasehat, juga teman bercanda yang mengasyikkan. Sangat disayangkan, saat acara berlangsung, almarhum tidak bisa datang karena alasan kesehatan. Namun, beberapa karya maestronya mengitari sepanjang dinding gedung Bentara Budaya tempat terjadinya diskusi.

Meskipun GM Sudarta tidak hadir, namun tulisan di pigura itu saya simpan. Dia selalu menganggap bahwa yang membuat dia betah menjadi kartunis adalah bisa “mati ketawa cara indonesia”. Dia juga selalu ingat nasehat Pak Jakob Oetama berikut ini.

Acara yang dihadiri banyak pecinta kartun ini berlangsung meriah dan semarak. Para pembicara dan peserta diskusi semangat untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Seno Gumira Ajidarma panjang lebar menjelaskan tentang historis dan batasan-batasan yang sakral dan profan dalam membuat karikatur.

Acara ditutup dengan jawaban yang memuaskan dan peserta diskusi pulang dengan gembira. Termasuk saya yang mengitari karya-karya GM Sudarta yang tersebar mengelilingi Bentara Budaya sore itu. Berikut foto-foto karikatur yang saya abadikan. Semoga, segala amal baik, kritik Om Pasikom yang telah 51 tahun berkarya mendapat Pahala dari Sang Maha Pencipta.

Advertisements

Sudah empat hari saya berada di Surabaya. Tempat yang bersih dan kotanya tertata rapi. Kanan kiri trotoar bersih tapi jarang ada yang jalan kaki. Orang Surabaya lebih senang naik mobil dan kendaraan bermotor untuk jarak dekat dan jarak jauh.

Pada hari minggu saya berjalan kaki dari RSUD Dr. Soetomo ke Delta Mall. Jalan-jalan sore membuat hati ini gembira, udara segar, di iringi gemericik air di dekat lambang kota Surabaya yaitu patung buaya. Di bawahnya mengalir air sungai yang sangat jernih. Betah saya berlama-lama menikmati indahnya Kota Surabaya, melewati monumen kapal selam dan menikmati segala kelebihannya.

Kemarin senin, saya sama Mas Arif berjalan-jalan menunggu senja di jembatan Suramadu. Berangkat habis Ashar yang ditempuh kurang lebih 50 menit dari tempat kami menginap.

Pemandangan sore itu sangat indah. Jembatan Suramadu membentang dari ujung barat ke ujung timur. Akan tetapi saya tidak naik ke atas jembatan, saya lebih senang berada di sebelah kiri jembatan dan mas Arif di sebelah bawah dan kanan jembatan.

Nelayan Kesulitan Mencari Kerang

Saya cukup lama berjalan di sekitar perahu nelayan, mengingatkan saya saat berada di Pantai Karangsong Indramayu Pantai Utara Jawa Barat. Di Karangsong rata-rata nelayan memiliki kapal besar di atas 7 GT. Ada yang 30 GT sampai 60 GT. Namun, nelayan di pantai dekat penyebrangan jembatan Suramadu, adalah nelayan harian yang pergi dalam hitungan jam, atau harian. Sedangkan kapal besar di atas 30 GT berlayar ke sebrang pulau dalam hitungan minggu dan bulan. Biasanya untuk mencari ikan.

Nelayan di sekitar jembatan Suramadu rata-rata adalah nelayan yang memiliki perahu ukuran  antara 7-8 GT. Biasanya perahu mereka mencari kerang, udang dan rajungan. Namun, saat saya berbincang dengan para nelayan yang sedang merapikan jaring nylon yang halus, mereka banyak mengeluh karena sejak dibangun jembatan Suramadu, mereka kesulitan mendapatkan kerang. Bahkan hampir tidak ada, karena harus mencari ke bagian laut dalam ke sebelah selatan jembatan yang tidak ramai kendaraan.

Mereka kini hanya bisa menghasilkan udang dan rajungan, itu saja jika jaringnya tidak rusak terkena sampah lautan yang banyak tersangkut jika ombak pasang.

Meskipun demikian, mereka tetap gembira, berkumpul sore hari membetulkan senar jaring bersama teman-teman sesama nelayan, menunggu waktu yang tepat untuk berlayar. Biasanya di atas jam 12 malam saat laut sepi dari gemuruh kendaraan bermotor, dimana udang dan rajungan naik ke permukaan laut.

Saya juga mengamati ada anak muda yang membawa karung entah mencari apa tapi seperti malu-malu. Dia berjalan sendirian dan sangat hati-hati karena di pinggir pantai banyak aneka hewan bercangkang yang masih hidup maupun yang tinggal cangkangnya saja menyerupai kerang tapi seperti kumbang.

Jika di pantai yang bersih kumbang jalan di pasir terlihat indah, di pantai bawah jembatan Suramadu, kumbang-kumbang kasihan karena mereka harus hidup diantara sampah plastik yang dibuang sembarangan. Saya tidak yakin yang membuang adalah nelayan, tapi entah siapa. Tidak hanya sampah plastik, ada juga sampah kain, sampai sampah celana dalam. Semua bercampur mengganggu keindahan pemandangan memandang indahnya jembatan.

Sampah plastik di pinggir pantai sisi kiri jembatan

Karena banyak sampah, saya pun tidak jadi berlama-lama. Kalau mau kesana harus hati-hati juga kalau memakai sandal, karena banyak cangkang kumbang keras yang nempel di sandal, jadi harus memakai sandal yang barbahan dasar karet keras.

Setelah cukup melihat sisi jembatan dan pantai dari sebelah kiri, saya pun berjalan ke pantai sebelah kanan. Di sana banyak orang tua yang membawa anak bermain di bawah jembatan dan berjalan di pinggir pantai.

Saya pun menemui Mas Arif yang berada di sebelah kanan. Kami naik ke atas sisi kanan untuk mencari spot terbaik, dimana di sana ombaknya sangat besar. Ada gedung petugas yang mengawasi pantai dan banyak penjual makanan.

Namun sayang, lagi-lagi saya kecewa ketika duduk berdiri di atas bebatuan. Tumpukan sampah berkumpul di bibir pantai bawah jembatan sisi kanan.

Sampah plastik di pinggir pantai jembatan Suramadu sisi kanan

Karena waktu menjelang senja telah tiba. Kami pun pulang. Kendaraan umum seperti angkutan kota di Surabaya sangat jarang. Anak-anak kecil sudah pada merokok dan naik motor memenuhi jalan. Sepanjang jalan saya merenung, sebenarnya saya sangat betah tinggal di Surabaya, makanan dan kuliner enak, penginapan banyak pilihan. Dua hal yang disayangkan, selain udara panas, mau menyebrang jalan saja sulit, karena terlalu padatnya kendaraan.

Surabaya, 17 Juli 2018
pukul 17.23

Resensi Buku: Sapiens

Riwayat Singkat Umat Manusia

Penulis: Yuval Noah Harari

Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari Palar

Penyunting: Andya Primanda

Penerbit: KPG, 2017

Edisi : Cetakan ke-2 Oktober 2017

Buku “Sapiens” yang saya baca ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menuntaskannya. Karena menyangkut sejarah kehidupan manusia yang  terdiri dari tiga revolusi. Pertama, revolusi kognitif, kedua revolusi pertanian, dan ketiga revolusi sains. Dimana pada saat peralihan dari revolusi pertanian ke sains, bahkan ada satu bab tersendiri tentang pemersatuan umat manusia.

Namun, perlu dijelaskan bahwa, Homo Sapiens yang ada di dalam buku ini bukan berdasarkan teori biologis, tapi teori Darwin. Dimana manusia pada awal di temukan, Homo Sapiens atau disebut spesies Sapiens (bijak) dalam genus homo (manusia), hlm 5.

Revolusi Kognitif dan Revolusi Pertanian

Homo Sapiens merupakan anggota satu famili yang merupakan salah satu rahasia paling terkunci rapat dalam sejarah. Dimana Homo Sapiens lebih suka memandang dirinya sendiri sebagai berbeda dari hewan.Kerabat-kerabat terdekat Homo Sapiens adalah simpanse, gorila dan orang utan. Simpanse adalah kerabat kita yang paling dekat.

Enam juta tahun yang lalu, satu kera betina memiliki dua putri, yang satu menjadi nenek moyang semua simpanse yang satu lagi adalah nenek moyang kita.

Guna menuntaskan kontroversi ini dan memahami perihal seksualitas, masyarakat dan politik kita, kita perlu belajar belajar tentang kehidupan leluhur kita, mengkaji bagaimana sapiens hidup antara revolusi kognitif pada 70.000 tahun silam dan awal mula revolusi pertanian sekitar 12.000 tahun silam.

Homo Sapiens hidup pada zaman dahulu kala dengan para pemburu dan pengumpul purba yang hidup di daerah yang lebih subur daripada Kalahari untuk mendapatkan bahan makanan dan bahan mentah.

Ditambah lagi, mereka menikmati beban pekerjaan rumah yang lebih ringan. Mereka tidak punya piring untuk dicuci, karpet untuk dibersihkan, lantai untuk di pel,popok untuk diganti, maupun tagihan untuk dibayar.

Para cendekiawan pernah percaya bahwa pertanian menyebar dari satu titik asal tunggal di Timur Tengah ke empat penjuru dunia.Orang-orang di Amerika Tengah mendomestikasi jagung dan buncis, orang Amerika Selatan membudidayakan kentang dan Ilama, revolusi pertanian pertama di Tiongkok mendomestikasi padi, millet dan babi.

Di daerah lain misalnya Amerika Utara bosan menyisir sesemakan demi mencari labu liar yang bisa di makan, orang Papua menjinakkan tebu dan pisang, sementara petani Afrika Barat pertama menjadi millet Afrika, padi Afrika, sorgum, dan gandum sesuai dengan kebutuhan mereka. Dari titik fokus awal ini, pertanian menyebar ke seluruh dunia.

Revolusi pertanian menjadikan masa depan jauh lebih penting daripada sebelumnya. Para petani harus selalu mengingat masa depan, bangun pagi-pagi buta untuk bekerja seharian di ladang karena mengkhawatirkan siklus musim produksi.

Pemersatuan Umat Manusia

Meskipun  penulis Yuval Noah Harari adalah  seorang Yahudi, beliau orang yang mengakui keragaman. Bahkan pada bagian tiga yang menjelaskan tentang Pemersatuan bangsa, beliau menampilkan gambar yang sangat indah tentang jamaah haji mengelilingi Ka’bah di Mekkah.

Bahkan hukum tentang agama sendiri bahas dalam satu bab di bagian tiga (248-256), juga bagaimana orang memandang sepakbola sebagai agama.

Revolusi Sains dan Kebahagiaan Semu

Dalam bagian yang membahas Revolusi Sains ini ada tujuh bab yaitu penemuan ketidak tahuan, perkawinan sains dan imperium, kredo kapitalis, roda-roda industri, revolusi perizinan, dan mereka pun hidup bahagia selamanya, tamatnya homo sapiens.

Orang yang terlalu banyak mengkonsumsi teknologi akan mengalami kebahagiaan semu karena menderita keterasingan dan kekosongan makna meskipun mereka makmur.

Dan barangkali leluhur kita yang tidak punya banyak hal justru menemukan banyak kepuasan dalam masyarakat, agama dan kedekatan dengan alam.

Uang, Penyakit dan Kebahagiaan

Orang yang kaya, baik karena membuat aplikasi teknologi yang memiliki jutaan pengguna dan penumpang, biasanya ia akan memiliki banyak uang. Kalau punya uang atau harta melimpah ia ingin makan enak dan bermalas-malasan. Membeli suatu yang mewah dengan cara mengkredit atau membeli makanan sembarangan yang penting enak.

Apa hubungan antara uang, makanan tidak bergizi (kemproh/jawa, geuleuh/sunda) yang biasa dibeli oleh orang kelebihan uang. Maka yang timbul adalah serangan penyakit seperti batuk dan jantung karena rokok dan makanan goreng-gorengan, sakit kanker karena makanan bermicin, sulit buang air besar karena kurang serat dan menjadi pemalas akibat jarang olahraga dan terlalu sering membeli fastfood dan memesan makanan lainnya lewat online.

Ada satu kesimpulan menarik tentang apa makna uang. Uang memang mendatangkan kebahagiaan, namun hanya sampai pada titik tertentu, dan selepas titik itu uang tidak punya makna (halaman 456).

Noah Harari juga menjelaskan jika sudah sampai pada kesimpulan di atas, terlalu banyak uang, malas-malasan, menimbulkan penyakit, maka yang ada adalah tergerusnya kebahagiaan. Tiada ada orang yang punya uang banyak tapi setiap hari mengeluh sakit, di rawat, dioperasi, tidak bisa jalan dan di hari tua sakit-sakitan.

Belum lagi orang yang terlalu banyak uang merusak lingkungan. Membeli makan dan tidak menghabiskan, bahkan sering membuang-buang makanan di tempat sampah, padahal di benua lain orang kelaparan. Apalagi yang merusak ekologis seperti menambang bahan bakar dan fosil yang seharusnya terpendam lama di habiskan orang-orang yang serakah untuk memenuhi permintaan pasar mobil atau kendaraan bermotor dan pemborosan listrik, seperti minyak bumi dan batubara.

Orang yang memiliki uang dan membeli kendaraan yang diisi oleh sumber daya yang merusak bumi, maka selamanya ia akan merasa diri paling kaya dan paling gagah.

Karena semua yang ada di dunia ini dia hanya melihat dari penampilan semata seperti mobil mewah, handphone mahal dan hidup serba ada. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah merusak alam dan lingkungan ekologis terbesar kita yaitu bumi dan seisinya.

Bahkan gejolak ekologis itu mungkin membahayakan kelestarian kita (Homo Sapiens) sendiri. Pemanasan global, naiknya permukaan laut dan pencemaran yang tersebar luas dapat menjadikan bumi kurang bersahabat bagi kita sendiri dan akibatnya pada masa depan mungkin terjadi lomba tiada akhir antara upaya manusia dan bencana alam yang dipicu manusia (420).

Secara keseluruhan buku ini sangat bagus dan penerjemahannya juga sangat menarik dan cerdas. Kelebihan buku ini ada pada kualitas isi dan pemaparan yang jujur, gamblang dan mengejutkan.

Namun ada satu hal yang mestinya harus dipertanyakan tentang teori singularitas dan tamatnya Homo Sapiens berkaitan dengan berakhirnya kehidupan atau biasa kita sebut hari kiamat (dalam agama Islam).

Namun, sebenarnya ada satu pesan mulia dari buku ini, dimana hari akhir kehidupan (kiamat) bisa kita cegah dengan cara kembali ke bagian satu yaitu kembali ke zaman revolusi pertanian dan mengurangi menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan transportasi massal dan membiarkan jalan-jalan tol yang baru di bangun itu untuk distribusi bahan baku dan hasil industri dari pelosok tanah air agar merata, sehingga bahan yang sulit di daerah lain bisa disalurkan lewat truk dan lewat perjalanan laut. Jangan sampai ada mobil masuk ke kapal laut ya, apalagi mobil kreditan, karena akan membebani kapal dan tenggelam sehingga kalau tenggelam ke dasar laut yang hancur adalah biota laut dan kasihan nelayan, ikan mereka keracunan barang kemewahan orang-orang sebrang lautan yang serakah dan ingin punya mobil mewah padahal merusak lingkungan, alam, dan membebani lautan.

Jika bumi, lautan, udara semua di isi oleh keserakahan maka yang ada adalah ketidak seimbangan seperti kebakaran, longsor dan banjir meski tidak ada hujan, gempa alam di berbagai wilayah dan seperti yang kita lihat sekarang banyak terjadi kejadian kriminal karena orang kesulitan untuk membayar cicilan.

Itu saja mungkin yang bisa saya sampaikan dalam buku ini, anda akan rugi jika tidak membacanya. Akan tetapi karena buku ini mahal, maka sebaiknya kita sekarang lebih baik berolahraga, banyak jalan dan naik transportasi massal.

Kurangi makan-makan dan lebih baik kita menanam seperti Homo Sapien dulu ada dan senang berkelompok bersama untuk menanam aneka tanaman yang bisa bermanfaat untuk anak cucu kita, bukan berkumpul sambil makan-makan enak dan menghabiskan waktu percuma dan tidak menghabiskan makanan.

Surabaya, 15 Juli 2018

Pukul 11.27 WIB

Resensi Buku
Judul : Guncangan Besar (The Great Disruption)
Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru
Penulis :Francis Fukuyama
Penerjemah : Masri Maris
Editor : H. Wawan Setiawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama dan Freedom Institute

Edisi: I, 2005

Buku ini dimulai dengan pengantar yang mengejutkan dari seorang tokoh filosof Yunani. “Kita dapat mengenyahkan Alam dengan garpu rumput, tetapi Alam (rumput) selalu tumbuh lagi, dan ia akan menembus upaya bodoh kita dengan penuh kemenangan”-Horace, Epistles.

Bagaimana juga kini kita sudah tiba pada saatnya kembali kepada apa itu yang namanya Guncangan Besar dan mengajukan apa yang akan terjadi. Apakah kita ditakdirkan tergelincir ke dalam kekacauan sosial dan moral yang makin besar?
Sebenarnya bukan itu garis besar yang dimaksud dengan Guncangan Besar dalam buku ini.

Guncangan besar adalah tereduksinya dinamika garis dan arah (sekat-sekat) sosial, hubungan pertemanan, dan keluarga, karena perkembangan teknologi dan kebencian sosial yang terbentuk karena maraknya aplikasi media sosial, aplikasi online dan dinamika besar perubahan zaman. Itu sebesarnya guncangan besar yang saat ini sedang kita rasakan.

Kita mungkin tidak sadar, bahwa ketika kita sedang membuat status dalam media sosial, baik dalam bentuk Facebook, instagram, twitter, Path dan lain sebagainya, kita sangat ingin mendapat like atau komentar yang berarti kita sudah tidak ikhlas dalam berteman. Nah, ketika kita tidak menyadari bahwa hal itu yang memperburuk tentang kesan bahwa kita berteman atau tidak, disanalah terjadi guncangan besar. Contohnya, di sapa di whattsapp tidak menjawab, di colek tidak dibales atau di whattsapp group tidak aktif, maka di disitulah kita merasakan apa itu guncangan besar.

Buku ini terdiri dari tiga bagian, dengan tebal 447 halaman. Dalam ilmu sosial, perubahan sosial adalah suatu hal yang tidak dapat kita hindari.Para pelopor cabang ilmu ini seperti Ferdinand Tonnies, Emile Durkheim, dan Max Weber dengan cara masing-masing mencoba merumuskan teori-teori sosial berdasarkan gejala perubahan dalam masyarakat yang mereka amati.

Pada bab satu menjelaskan ikatan-ikatan dan modal sosial yang hilang diantara kita akibat terlalu sering bermedia sosial. Baik sosiolog maupun ekonom, tidaklah gembira dengan meluasnya penggunaan istilah media sosial, karena bagi sosiolog hal itu berarti semakin luasnya pengaruh ilmu ekonomi dan sosial, sementara bagi ekonom, konsep tersebut masih kabur dank arena itu sulit, jika tidak mustahil mengukurnya.

Dan memang, mengukur seluruh hubungan kerjasama sosial berdasarkan nilai-nilai kejujuran dan asas timbal balik bukanlah pekerjaan yang mudah. Jika kita menyatakan bahwa guncangan besar telah membawa dampak pada modal sosial, kita harus mencari landasan empiris untuk menguji apakah memang benar demikian?.

Masih dalam bab satu, dijelaskan tentang bagaimana kita melihat peran perempuan dalam guncangan besar. Makin banyaknya aborsi dan ketidak jelasan asal-usul biologis keluarga. Bila kita letakkan kekerabatan dan keluarga dalam konteks biologi, lebih mudah bagi kita untuk memahami mengapa keluarga inti mulai tercerai berai. Ikatan keluarga boleh dikatakan sudah rapuh, yang didasarkan pada tukar menukar perempuan kesuburan perempuan dengan sumber daya laki-laki.

Pada bagian dua, lebih banyak menjelaskan tentang asal usul moral. Dimulai dari datangnya moral, kodrat manusia, dan tatanan sosial. Asal muasal kerjasama, mengatur diri sendiri, teknologi jaringan modal sosial dan batas-batas keniscayaan hierarki. Pada bab tentang jagad norma, Slug, dalam hal ini adalah ketentuan-ketentuan tentang batasan sosial di hadapan orang-orang yang memiliki harta dan jabatan tapi tidak memiliki kemanusiaan akan semakin banyak.
Seperti hal yang menyeruak sekarang adalah perdebatan seru mengani kerjasama dan persaingan.

Aku melihat dalam bab dua ini adalah bagaimana mungkin orang lebih senang dengan status yang memiliki banyak komentar dan like atau love dan sebagainya daripada mereka ngobrol atau sekedar berkumpul bersama keluarga. Akan tetapi yang mengerikan adalah kalau di dalam kehidupan dunia media sosial memiliki banyak teman, tapi di dalam kehidupan nyata ia sendirian.

Selain itu persaingan aplikasi online untuk merebut jumlah penumpang apakah memakai daring atau online dengan kendaraan transportasi tradisional. Mereka lebih senang individualism daripada kolektivisme. Selain itu, dalam jaringan sosial, seperti Saxenian, pakar hak cipta, sikap mementingkan hak cipta individu dan perusahaan semakin menguat.

Pada bagian selanjutnya adalah bab tiga, banyak orang secara intuitif percaya bahwa kapitalisme merusak kehidupan moral. Pasar menjadikan segalanya barang dagangan dan mengganti hubungan manusia dengan laba, seperti makin merebaknya toko daring atau toko online. Menurut masyarakat kapitalis modern lebih banyak menguras modal sosial daripada menghasilkannya.

Dalam bab lampiran, justru lebih menggetarkan dada. Bab yang membahas tentang guncangan besar di beberapa negara tentang apa yang dibahas dalam buku ini yaitu gesekan sosial akibat teknologi yang ada sekarang ini atau era perkembangan dunia industri ke dunia teknologi.

Dalam diagram di jelaskan bahwa tingkat kejahatan dengan kekerasan, tingkat pencurian, tingkat kesuburan dan perceraian, dalam hal ini hak ekonomi sosial keluarga justru mengalami kenaikan dalam kehidupan sosial.

Dalam bab ini beberapa negara seperti Kanada, Australia, Amerika Serikat, Jepang, Denmark, Korea Selatan, Finlandia dan Perancis, memiliki angka yang berbeda-beda dalam mengalami dinamika atau goncangan sosial.

Eva Rohilah
Pengamat Buku dan Sosial

Tadi pagi saya  naik bis Damri dari terminal Lebak Bulus ke arah Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Berangkat dari habis Shubuh sampai di terminal Damri Pukul 05.40 WIB.

Pagi-pagi penumpang bis Damri ramai. Menurut Supir bis, bis baru berangkat jam 06.00 WIB. Tiba-tiba saat menunggu bis jalan, datang seorang perempuan setengah baya menyanyikan lagu “Hargai Aku” yang dipopulerkan Armada.

Saya merekam tidak dari awal, karena HP rendah batrenya. Baru di bait kedua saya rekam sampai selesai. Silahkan simak, mohon maaf kepotong ya..

“Hargai Aku” Penyanyi : Armada

Seringkali kau merendahkanku
Melihat dengan sebelah matamu
Aku bukan siapa-siapa

Selalu saja kau anggap ku lemah
Merasa hebat dengan yang kau punya
Kau sombongkan itu semua

Coba kau lihat dirimu dahulu
Sebelum kau nilai kurangnya diriku
Apa salahnya hargai diriku
Sebelum kau nilai siapa diriku

Sering kali (sering kali) kau merendahkanku (kau merendahkanku)
Melihat dengan sebelah matamu
Aku bukan siapa-siapa

Coba kau lihat dirimu dahulu
Sebelum kau nilai kurangnya diriku
Apa salahnya hargai diriku
Sebelum kau nilai siapa diriku

Coba kau lihat dirimu dahulu
Sebelum kau nilai kurangnya diriku
Apa salahnya hargai diriku
Sebelum kau nilai siapa diriku
Sebelum kau nilai… siapa diriku

Catatan Biru yang Hilang

Posted: April 24, 2018 by Eva in Puisi

Adakah yang lebih menyakitkan
Mengambil Sesuatu yang Berharga
Dari orang yang tidak punya

Jika semua hal diukur dari status dan jabatan
Dimanakah Letak Rasa Kemanusiaan

25 April 2018 Pukul 01:04

Selamat Hari Bumi 2018

Posted: April 22, 2018 by Eva in Lingkungan
Tags: ,

Setelah kemarin Hari Kartini, maka hari ini 22 April 2018 diperingati sebagai Hari Bumi. Saya merasakan
bahwa pada saat ini usia bumi makin tua dan semakin tergerus oleh banyak bencana alam.

Ada banyak sebab, entah karena ulah manusia atau memang sudah kehendak alam. Tidak banyak selebrasi yang saya lakukan kecuali suatu niatan untuk senantiasa menjaga bumi lebih baik lagi, merawatnya dan mencintai bumi seperti menyayangi diri kita sendiri.

22 April 2018, Pukul 15:25

Aaron Ashab dan Hidup Sesuka Hati

Posted: April 22, 2018 by Eva in Artikel, Seni
Tags: ,

Sebenarnya saya sudah lama mendengar lagu ini dari winamp. Lagunya rancak menyenangkan dengan iringan musik ceria seperti isi lagu.

Sambil menunggu akhir pekan habis tidak ada salahnya anda mendengarkan lagu karya penyanyi muda Aaron Ashab ini dengan santai dan hati gembira.

Cocok buat kamu yang cuek dan tidak begitu peduli atau memperhatikan pendapat orang lain hehehe…😅😊

Silahkan buka lagu ini di website youtube.com ya, judulnya Aaron Ashab “Sesuka Hati”.

 

Sabtu Kecewa Bersama Bis Damri

Posted: April 21, 2018 by Eva in Jalan-jalan

Hari ini aku sangat kecewa karena naik bis Damri dari Bandara Soetta ke Lebakbulus bayar dua kali. Ternyata tiket di counter yang ada di bandara gak kepake aku harus beli lagi di atas.

Teman-teman kalau naik Damri mending bayar di atas bis saja. Tadinya aku dah semangat mau menulis sky train dan beberapa hal yang terkini di bandara. Tapi semua buyar sudah.

Sepanjang perjalanan aku gondok dan kecewa. Cukup aku saja deh yang ketipu calo agen bis Damri, penumpang lain jangan.

Lebakbulus 21 April 2018 Pukul 15.38

Dalam peringatan hari Kartini hari ini tidak banyak yang ingin saya katakan. Karena sekarang ini saya lihat perempuan memiliki banyak peran di berbagai sektor, asal mau saja.

Satu hal yang ingin tekankan disini bagaimana peran perempuan bisa berkarya, sehat sampai lanjut usia. Kenapa ini penting, karena sekarang usia saya menjelang 40, mungkin pembaca masih berusia 25-38 usia-usia produktif untuk berkarya. Di usia yang semakin menua banyak ujian baik itu penyakit, kecelakaan bahkan hingga di tinggal orang tercinta.

Nah disitulah kita sebagai perempuan harus mandiri. Sejak sekarang harus menjaga kesehatan, menghindari stress, berkarya selagi bisa dan yang lebih penting adalah bermanfaat untuk sesama.

Seperti ibu yang ada di foto ini, sudah lanjut usia, namun tetap menganyam pandan untuk membuat tas kerajinan khas dari daun pandan. Di usianya yang kian menua, dia tetap bekerja dengan gembira.
Foto ini dari Mbak Rachmawati Jogja.

Berbahagia di hari tua, saat usia sudah senja. Bahagia di hari tua bukanlah kaya raya menumpuk harta. Berbahagia di hari tua adalah memiliki badan sehat, lebih mencintai keluarga dan hidup bermanfaat bagi sesama.

Cengkareng, 21 April 2018 Pukul 13.32

Kemarin sore usai melakukan suatu pertemuan membahas tentang teknologi dan perannya dalam menanggulangi bencana alam secara real time baik pencegahan, penanganan hingga pemulihan, sekelompok bapak-bapak berkumpul sambil ngopi-ngopi.

Karena seharian penuh membahas hal-hal yang serius, sore itu usai acara mereka berkumpul sambil berkelakar melepas penat.

Seorang Bapak berkumis mengajukan pertanyaan senda gurau kepada rekannya yang ada di ruangan, membuat para hadirin dan beberapa orang di sekitarnya ikut berpikir.

“Sekarang ini kebutuhan primer kita sebagai manusia bertambah lho setelah sandang, pangan dan papan, tidak hanya tiga tapi jadi empat, hayoo ada yang tahu apa?

Saya yang mendengar dan teman yang lainpun ikut mengerutkan dahi apa ya? Lalu dengan santai dia bicara sambil berdiri.

“Jawabannya empat kebutuhan primer itu adalah sandang, pangan, papan dan satu lagi yaitu colokan atau charger,” ujarnya sambil tertawa, kemudian berdiri dan pergi.

Rupanya Si Bapak itu handphonenya kehabisan baterai dan mau mencari colokan / chargeran.Karena sekarang kalau habis baterei orang akan bosan atau bete dan seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Bahkan bisa membuat khawatir dan gelisah.

Kami yang ada di dalam ruangan pun tertawa, mendengar guyonan segar sore itu 😆😆😆😆😆😊😊😊.

20 April 2018, Pukul 17.41

Saya pernah mendengar tapi lupa siapa yang mengatakan jika di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa kita hindari, yaitu pertama kematian dan yang kedua kemajuan teknologi.

Orang boleh sepakat atau tidak dengan ungkapan itu, adalah hak bagi siapa saja yang hidup di era sekarang ini. Merasakan imbas atau tidak efek positif dan negatif dari teknologi ini.

Meskipun beberapa belakangan ini saya mengamati banyak sekali aplikasi terbaru untuk memudahkan orang agar efektif dan efisien. Seperti aplikasi kesehatan yang pernah saya ulas, dan beberapa aplikasi bidang lainnya yang akan menyusul saya justru sedang rindu dengan benda-benda retro yang dulu sering dipakai saat perkembangan teknologi belum semassif sekarang.

Sejak tahun lalu saya tiap pagi mendengarkan radio dari tape merk china yang saya beli di toko elektronik. Jadi saya tiap pagi nyalain tape dan radio lewat colokan listrik buat streaming. Kemudian saya membeli kaset-kaset lama di Ciputat ada sebuah toko kaset dan cd yang menyediakan kaset para penyanyi zaman dulu hingga para penyanyi era tahun 2000-an. Bahkan ada juga kaset dari tetangga yang sudah hendak membuang koleksi kaset lamanya.

Untuk Mencari Keseimbangan

Dua minggu lalu saya menservis DVD, dan alhamdulilah masih bisa. Sehingga saya pun membuka koleksi dvd lama yang saya wadahin di tas kecil khusus dvd beresleting.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika kita memelihara barang retro seperti tape recorder dan DVD jadul. Mencoba memutar lagu yang masih enak di dengar membuat kita senang. Begitu juga ketika membersihkan dari debu dan merawatnya agar bisa dipakai.

Hal yang saya lakukan ini bukan upaya menghindari kemajuan teknologi permusikan seperti winamp, Spotify, jooks, atau aplikasi lainnya yang sekarang sedang mekar bersemi di bumi Indonesia atau seluruh dunia.

Namun apa yang saya lakukan adalah untuk menjaga keseimbangan, agar tidak terlalu terbawa arus kemajuan teknologi, meskipun godaan terberat adalah inkonsistensi. Ada kalanya saya sangat menyukai yang jadul dan retro namun adakalanya saya juga tidak sabar dengan tuntutan untuk hidup efektif dan efisien. Dimana disitulah kelebihan teknologi yang memudahkan.

Jadi sebenarnya mungkin fleksibel saja dalam menghadapi kehidupan di dunia yang seperti dilipat ini. Saya masih menggunakan beberapa aplikasi teknologi, bahkan mungkin beberapa waktu ke depan akan menulis aplikasi dalam penanggulangan bencana dan geospasial.yang memudahkan dan bermanfaat bagi korban bencana dan pengungsi.

Namun di sisi lain saya juga tidak melupakan barang-barang retro yang saya koleksi dan akan mencari bahkan mengkoleksi benda retro lainnya untuk mengingat dan mengenang masa-masa dulu sebelum dunia bergerak cepat seperti sekarang.

20 April 2018 Pukul 15.07

Pagi tadi cuaca cerah dan matahari pagi menyinari ibukota. Udara pun terasa segar. Namun menjelang siang hujan sangat deras mengguyur Jakarta.

Kurang lebih beginilah potret yang saya ambil dari salah satu sudut Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Hujan sempat berhenti sebentar, namun setelah itu kembali turun membasahi bumi.

Foto diambil saat jam menunjukkan angka 13.40. Suasana pagi yang semula cerah pun menjadi basah. Lalu lalang kendaraan berkurang dan orang yang bekerja pun tidak banyak yang keluar. Bahkan para pengendara motor dan pejalan kaki banyak yang menepi berteduh.

Hujan adalah karunia ilahi, membasahi bumi yang kering. Kita bersyukur masih ada hujan, asal jangan sampai banjir saja. Di belahan dunia lain, hujan termasuk jarang turun. Bahkan, ada orang yang hanya bisa mandi jika turun hujan.

Jakarta, 19 April 2018, Pukul 15.34

Perjalanan Sudimara Tanabang  tadi pagi lumayan lama meski tidak sampai satu jam. Jika di commuter sekarang kebanyakan orang membuka Hp, maka pagi ini saya menemukan seorang perempuan yang tidak menyia-nyiakan waktunya untuk membaca buku.

Sambil berdiri, perempuan memakai celana jeans dan baju pink ini tidak berhenti sedetikpun membaca buku sambil berdiri dan mengenakan tutup muka. Saya foto candid, dari posisi berlawanan.

Sekilas saya memperhatikan bahwa perempuan muda itu membaca buku berjudul “The Broken Window” karya Jeffery Deaver. Seorang penulis asal Amerika Serikat yang karya-karyanya menjadi Best Seller Internasional.

Membaca di Kereta

Jeffery Deaver adalah seorang penulis fiksi dan juga pakar hukum. Karyanya banyak berkisah tentang misteri dan kriminal.

Sampai stasiun Palmerah beberapa penumpang banyak yang turun, perempuan tadi yang duduk berdiri pun mendapat tempat duduk dan dilanjutkan dengan duduk sambil membaca.

19 April 2018, Pukul 12.39

Hari ini sedang hectic. Tidak banyak waktu untuk menulis blog seperti hari kemarin. Akan tetapi, hari ini saya tertarik dengan buku kecil bersampul hitam gradasi kuning berjudul “Kamus 5000 Peribahasa Indonesia” karya Heru Kasida Brataatmadja yang diterbitkan kanisius Jogjakarta.

Buku kecil ini sangat bagus isinya. Banyak aneka peribahasa yang menggambarkan perasaan seseorang dan fenomena sosial yang ada di sekitar kita.

Urutan peribahasa urut abjad dari A hingga Z. Seperti A dalam kata Akar.
“Telah Berurat Akar” artinya sesuatu yang telah menjadi kebiasaan, dan tidak mudah diubah lagi.

Kemudian B dalam kata Besi.
“Asal besi mengepak kayu, asal emas menjadi pendok,”;artinya derajat seseorang dapat ditentukan dari perangainya.

D dalam kata “Dara”
“Bagai anak dara mabuk andam” artinya seorang perempuan yang berbuat sopan tetapi dibuat-buat.

Wah karena huruf abjad itu banyak langsung ke T ya, Timun.
“Bagai timun dandang, di luar merah di dalam pahit”
artinya lahirnya baik tetapi hatinya jahat.

Kemudian terakhir Z
“Zaman beralih musim bertukar”
artinya segala sesuatu berdasarkan putaran waktu.

Apalagi ya banyak peribahasa lain pokoknya. Sangat cocok dengan kondisi sekarang ini baik, sosial maupun politik. Sangat menarik.

Silahkan anda membeli jika menyukai peribahasa,  karena kamus ini bagus dan sangat laris, yang ada di tangan saya ini cetakan ke-21. Tebalnya 516 Halaman.

Yuuk kita belajar peribahasa untuk memperkaya khazanah bahasa ibu kita Bahasa Indonesia.

18 April 2018 Pukul 17:07

Jika waktu di Jogja ada toko buku Social Agency yang sekarang memiliki banyak cabang. Maka di dekat Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah ada toko buku bernama TB.Batubara yang terletak sangat strategis. Dari gedung Pasca, belok kanan. Posisinya tidak jauh dari Madrasah Pembangunan, dari sana lurus ke arah jalan Cirendeu raya, posisi toko buku berada di kiri jalan, Ciputat Tangerang Selatan.

Saya belum lama mengetahuinya baru tiga tahun lalu, tepatnya 2015. Saat itu tidak sengaja mencari buku baru dan kitab terjemahan Ta’lim Mutaalim. Tampak dari luar toko itu kecil mungil, namun setelah sampai di dalam anda akan kaget karena bukunya sangat lengkap (pepak) istilah orang Jawa.

Buku kedokteran, kajian keagamaan, sosial, politik, filsafat, psikologi, teknologi, jurnal dan buku lainnya bisa anda dapatkan disana. Betah berlama-lama dan sepertinya menjadi favorit mahasiswa baik yang S-1 maupun Pasca Sarjana. Harganyapun terjangkau, sangat pas dengan kantong mahasiswa.

Selain itu, jika anda kesulitan mencari buku referensi, bahan skripsi, thesis atau disertasi anda bisa memesannya di sana. Termasuk buku lama yang sudah langka. Dengan senang hati penjaga dan pemilik toko buku akan mencarikan dan jika sudah ada, anda dihubungi dan tinggal mengambilnya.

Jadi tidak ada salahnya jika anda berada di Tangerang Selatan, atau Jakarta Selatan dan sekitarnya anda bisa berkunjung ke TB Batubara.

18 April 2018, Pukul 16.18

Judul Buku:
Seks dan Revolusi
Penulis:
Jean Paul Sartre
Penerjemah :
Sivester G Sukur
Cetakan: I, Mei 2002
Tebal: 258 Halaman
Penerbit: Bentang Pustaka Yogyakarta

Buku ini merupakan kompilasi dari berbagai esai Sartre yang dikelompokkan ke dalam dua tema utama, yaitu seks dan revolusi. Masing-masing tema berdiri sendiri dan dibahas dengan sudut pandang yang berbeda. Namun demikian pemaparan secara kontekstual dengan gagasan-gagasan yang mengejutkan menjadi ciri dari esai-esai Sartre ini. Buku ini diterjemahkan dari buku “Modern Times: Selected Non Fiction”, Penguin London, 2000.

Jean Paul Sartre (1905-1980) seorang pendiri eksistensialisme Perancis, memiliki pengaruh besar di berbagai bidang pemikiran modern. Sebagai seorang penulis yang cerdas dan orisinil, Sartre berkarya dalam banyak genre yang berbeda-beda. Sebagai seorang filsuf, novelis, penulis drama, biograf, kritisi di bidang kebudayaan, dan seorang wartawan politik, Sartre mendalami makna kebebasan manusia dalam suatu abad yang dibayangi oleh peperangan.

Sejumlah esai panjang dalam buku ini merefleksikan visi eksistensialis Sartre tentang Seksualitas dan revolusi. Hasrat seksual, cinta maternal,  bagi Sartre merupakan fenomena yang sesungguhnya tak lepas dari suatu modus kesadaran (tubuh) untuk mengada dan menjadi. Yang unik, didalam seks, kesadaran itu kemunculannya melibatkan penemuan tubuh lain.

Ketika berbicara tentang seks, cara pemaparan Sartre sangat berbeda dengan pembicaraan-pembicaraan seks pada umumnya. Seks, bagi seorang eksistensialis seperti Sartre tidak hanya bisa dipandang dari satu sisi saja yakni hasrat pemenuhan seksual. Seks adalah suatu hal yang harus dijabarkan secara mendetail dengan karakter dan fungsi yang melekat padanya.

Dalam esai panjang di awal buku ini, Sartre membahas tentang apakah makna hasrat yang sesungguhnya? Benarkah bahwa hasrat merupakan bagian terdiri dari fungsi tubuh sehingga pemenuhannya pun memerlukan kondisi tertentu. Sartre mengaitkan setiap permasalahan tersebut dengan keadaan tubuh fisik, meski hal ini tidak dapat diartikan bahwa setiap anggota tubuh tersebut akan juga bisa merasakan pemenuhan kondisi psikologis tersebut. Pertautan antara kondisi psikologis dan tubuh fisik ini kembali dipaparkan ketika Sartre membicarakan cinta keibuan.

Keingintahuan yang dingin dan kecemasan hati ini adalah kunci untuk memahami dunia seksual Sartre. Hal ini menimbulkan penghayatan yang tak terlupakan terhadap orang lain secara rinci, tanpa ilusi. Dia sangat piawai dalam seni kelam tentang cinta. Selain anak sekolah Perancis yang pakar dalam seluk beluk rumah bordil, Sartre mengetahui gairah menghanyutkan yang melambung dalam puisi-puisi seksual Baudelaire dan keletihan yang menggelisahkan yang murung dalam Baron Charlus-nya Proust.

Kebebasan yang merupakan ciri dari pemikiran Sartre, sangat mewarnai esai-esai ini hingga acapkali memunculkan suatu hal yang bagi para pembaca tidak lazim untuk dibicarakan.

Adapun mengenai revolusi, pandangan-pandangan Sartre tidak dapat dilepaskan dari pengalaman pribadinya saat menjalani wajib militer, ditangkap dan dipenjara oleh pihak Jerman ketika terjadi Perang Dunia II. Pengalamannya saat melarikan diri dari penjara tersebut untuk kemudian bergabung dengan gerakan perlawanan di Prancis sangat memperkaya pemikirannya sehingga dia mengalami beberapa fase revolusi secara intelektual. Oleh karena itu tidaklah mengherankankan jika darinya terlahir pemikiran-pemikiran yang begitu orisinil dan mendalam, saat ia merespon gagasan-gagasan tentang demokrasi, kelahiran, Stalinisme, konolialisme Eropa terhadap bangsa kulit hitam Afrika, pembebasan Paris, dan juga situasi Chekoslovakia tahun 1968.

Revolusi-revolusi besar yang muncul pada aabd ke-20 diulas oleh Sartre secara mendalam dan dinamis. Ia mendedahkan keterkaitan antara pengalaman historis kolektif itu dengan kesadaran individual. Terutama pada kaum libertarian penganut doktrin kebebasan yang selalu kritis. Disamping itu, esai-esai tentang revolusi inipun memprediksikan suatu bayangan ke depan, yakni peristiwa-peristiwa besar yang menyusul kemudian.

Meski merupakan respon terhadap situasi zamannya esai-esai Sartre ini tetap layak dibaca oleh pembaca masa kini karena di sini terimplikasi penghargaan yang tinggi terhadap manusia sebagai individu, yakni sesuatu yang kini cukup langka ketika manusia lebih banyak dipahami sebagai massa, masyarakat, gerombolan, ataupun semacam pangsa pasar dan konsumen yang tak lagi memiliki kebebasan memilih, berimajinasi, bebas memilih dan mempertanggungjawabkan hidup.

Buku ini adalah salah satu karya Sartre yang berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Membaca buku ini akan membuka cakrawala pembaca yang tidak hanya tentang seks dan revolusi saja, tapi juga banyak menyinggung masalah cinta kasih, moralitas, dan ketulusan seorang eksistensialis.

Gaya penulisan yang blak-blakan menjadi daya tarik buku ini, apalagi sang penulis, Sartre mempunya reputasi internasional yaitu penghargaan Nobel dibidang kesusastraan pada tahun 1964, meskipun akhirnya dia tolak. Tergugah oleh keinginan besarnya akan kebebasan dan keadilan, dicintai dan dibenci dalam kehidupan, Sartre memposisikan diri sebagai pengganti autentik modern bagi Voltaire, Victor Hugo, dan Emilie Zola, sayang sekali bila anda melewatkan buku ini.

Resensi ini dimuat pada 21 Juli 2002 di Harian Bernas yang sekarang surat kabarnya sudah tutup.

Judul Buku: Agama, Filsafat, Seni dalam Pemikiran Iqbal
Penulis: Asif Iqbal Khan
Penerjemah: Farida Arini
Cetakan: 1, Mei 2002
Tebal: vii + 167 halaman
Penerbit: Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta

Relasi Simbiosis Antar Agama, Filsafat dan Seni

Muhammad Iqbal merupakan satu-satunya individu dalam sejarah Islam modern yang bisa menerima pemikiran Barat modern bersamaan dengan ajaran abadi Islam. Hal inilah mungkin yang membuatnya mampu mengemban tugas amat berat yakni menyusun kembali pemikiran religius Islam

Iqbal adalah seorang pencinta kehidupan yang percaya pada pendekatan yang dinamis dan berpandangan ke depan pada kehidupan dan masalah-masalahnya. Ia berkeinginan membangun kembali Islam dengan kejayaan dan kesederhanaannya sambil menghadapi tantangan dari ilmu pengetahuan modern dan filsafat, serta untuk mencapai keselamatan bagi seluruh umat manusia baik di dunia maupun di kehidupan selanjutnya. Untuk mencapai hal itu Iqbal melakukannya dengan dua hal, yakni melalui pemikiran filsafat dan ketajaman puisinya.

Buku ini merupakan terjemahan dari buku yang berjudul Some Aspects of Iqbal Thought yang berisi tema pokok tentang pemikiran Iqbal. Ia seorang filsuf Islam yang cukup berpengaruh. Dia beranggapan bahwa media agama sebagai hal sangat penting dalam kehidupan seseorang.

Hanya agamalah yang dapat menyelesaikan sepenuhnya permasalahan yang kompleks berhubungan dengan manusia. Dalam peta khazanah pemikiran tentang Islam modern, barangkali Iqbal merupakan satu-satunya pemikir yang memiliki akar kuat dalam tradisi Islam—Timur maupun Barat modern.

Oleh karena itu tidak berlebihan bila Iqbal dikatakan sebagai salah satu filsuf Islam besar yang membidangi gerakan yang dikenal sebagai gerakan kebangkitan Islam. Ia mencita-citakan adanya sebuah Renaisans Islam (sebagai agama ynag sempurna, agung, sekaligus sederhana). Pemikiran Iqbal dapat saja tersingkir dikarenakan terjadinya kemunduran Islam berbentuk ritualisme, obskurantisme dan fanatisme.

Agama Rasional Upaya Iqbal untuk memberikan keharmonisan antaragama dan filsafat terutama termotivasi oleh pertimbangan praktis. Dia menganggap bahwa prinsip agama tetap dibutuhkan dalam dasar yang rasional.

Hal ini sesuai denan pendapatnya bahwa agama merupakan dasar bagi pikiran, dengan keberanian bergulat dengan filsafat dan ilmu pengetahuan modern, guna membangun kehidupan manusia yang bahagia baik di dunia maupun di hari kemudian.

Kenyataannya bahwa tujuan Iqbal sepanjang hidupnya adalah untuk membangun kembali Islam. Hal itu dapat dilihat dengan nyata dari syair, puisi maupun prosanya. Keinginannya untuk menghidupkan kembali moral sosial dan ide politik Islam dapat dilihat dari kekuatan ekspresi yang muncul dalam puisi-puisi filosofisnya seperti Asrar dan komposisi-komposisi puisinya yang lain.

Ide Iqbal yang sistematis dapat ditemui dalam bukunya yang religius-filosofis berjudul The Recontruction of Religions Throught of Islam (Rekrontruksi Pemikiran Religius Islam).

Pidato-pidato, pernyataan-pernyataan dan pemikiran-pemikiran Iqbal telah membuktikan bahwa dia telah menemukan inspirasi dan petunjuk dari ajaran Al-Qur’an dan kehidupan Rasulullah SAW. Iqbal juga bangga dengan hasil yang telah dicapai oleh filsuf-filsuf dan ilmuwan-ilmuwan Islam sepanjang masa.

Inilah salah satu alasan mengapa dia begitu bersemangat mendukung penelitian dan studi mendalam yang dilakukan secara terus-menerus dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan Islam.

Keistimewaan Iqbal yang luar biasa adalah pandangannya tentang dasar kebudayaan Barat modern dan Islam yakni bahwa Iqbal tidak menganggap salah dunia Islam saat ini dan sedang mengikuti kebudayaan Barat dengan cepat.

Satu-satunya kekhawatiran Iqbal adalah kalau “kehidupan fisik yang gemerlapan” dunia Barat akan mempengaruhi gerakan dunia sehingga memnyebabkan tidak mampu mencapai inti jiwa kebudayaan yang sebenarnya.

Iqbal yakin kalau gerakan kaum komunis di Eropa dimulai secara luas karena dorongan bebas pemikiran Islam, buah humanisme yang berbentuk ilmu pengetahuan dan filsafat modern, dengan penuh segala hormat hanyalah merupakan perluasan dari kebudayaan Islam. Di sini bisa kita lihat betapa kuatnya perhatian Iqbal pada masa ini.

Dalam salah satu suratnya kepada Sahib Zada Aftad Ahmad Khan, Sekretaris All India Muhamm dari Educational Conference (Konferensi Pendidikan Islam Seluruh India) di Aligarh yang bertanggal 4 Juni 1925, dia mengatakan: “Secara kasar dapat dikatakan kalau kejatuhan politik Islam di Eropa yang sedang terjadi saat ini dimulai ketika para pemikir Islam melihat kesia-siaan ilmu pengetahuan edukatif.

Sehingga praktis sekarang ini Eropa-lah yang mengambil alih tugas penelitian dan penemuan. Aktivitas intelektual di dunia Islam praktis terhenti saat ini.”

Saat ini Barat memimpin prinsip-prinsip Islam untuk kepentingan intelektual dan ilmu pengetahuan mereka, lalu kenapa kita harus mengambil petunjuk dari mereka? Kita juga bisa mengambil jalan dengan melalui sumber asli perkembangan modern dalam ajaran Islam. Kebangkitan Islam berikut penyebarannya memainkan peran sangat menentukan dalam sejarah. Kebangkitan ini dengan sukses telah membelokkan jalannya sejarah yakni denan mengubah negara Arab menjadi negara pemimpin pada masanya.

Orang Arab mendapat identitas baru dan ide-ide cemerlang dan mereka juga dikeluarkan dari lubang kemerosotan yang sangat dalam serta peradaban yang rendah. Tapi hal itu hanya mungkin dilakukan selama umat Islam tetap setia dan bertanggung jawab pada jiwa ajaran Islam.

Iqbal juga mengetahui mengapa saat ini umat Islam tidak termotivasi dan terinspirasi oleh semangat perubahan ilmuwan Islam pada masa lalu. Perubahan yang mereka lakukan adalah berusaha melawan dominasi filsafat pada masa itu yang dikuasai tradisi Yunani.

Hal itu membuktikan bahwa ilmuwan Islam bukan pengikut yang membabi buta. Para ilmuwan Islam ini memiliki keberanian untuk memiliki keyakinan yang “berbeda dengan jalur yang tersingkir” dibandingkan dengan pendahulu mereka. Tujuan mereka adalah menguasai dan mengendalikan alam, sejarah, perubahan keadaan sosial, etika dan politik yang ada, sehingga sesuai kondisi yang berlaku saat itu.

“Kritik konservatif tak pernah menjadi halangan bagi gerakan konstruktif mereka. Dibandingkan dengan tekanan filsafat Yunani konseptualisme dan abstraksisme, Al-Qur’an mengajarkan pendekatan yang pragmatis dan praktis dalam kehidupan.

Semangat perubahan ini menimbulkan konflik antara mereka dengan logika dan filsafat Yunani. Dalam kuliahnya yang berjudul “Jiwa Kebudayaan Islam”, Iqbal berusaha menemukan perbedaan esensial yang ada antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat.

Resensi ini dimuat di Harian Solo Pos, 28 Juli 2002. Tulisan lama.

17 April 2018, Pukul 11.19

Ada kalanya kita tidak memperhatikan hal-hal kecil di sekitar kita yang sebenarnya itu sangat penting untuk kesehatan.

Seperti kebiasaan mencuci piring yang hampir tiap hari kita lakukan. Namun adakalanya karena rutinitas yang berulang menjadi kebiasaan kita tidak memperhatikan apakah sudah saatnya busa atau spon/sabur pencuci piring itu diganti.

Muncul sebuah pertanyaan, secara normal berapa kali harus diganti, dalam hitungan minggu atau bulan busa/spon pencuci piring diganti baru? atau seingatnya saja saat melihat sudah usang dan tidak nyaman dipakai.

Beberapa waktu lalu di sebuah siaran radio saya mendengar seorang penyiar mengatakan bahwa harusnya busa atau spon pencuci piring diganti setiap tiga minggu sekali karena disitu adalah daerah yang basah, rawan dan tempat bersarangnya bakteri.

Jadi jika sudah lewat tiga minggu maka bakteri sisa-sisa mencuci piring akan berkembang biak dan akan mengubah fungsi busa atau spon yang tadinya membersihkan piring tapi akan menjadi tersebarnya bakteri.

Pendapat tadi baru dari seorang penyiar radio, mungkin ada pendapat yang berbeda dari teman lain?

17 April 2018, 09.26

Beberapa waktu yang lalu seorang teman mengirim saya paket lewat pos, tepatnya hari jum’at 13 April 2018. Saya kaget tiba-tiba ada sms notifikasi lewat sms lengkap dengan nomor resi yang bisa langsung terhubung ke website resmi kantor pos. Berikut contoh notifikasi lewat sms.

2018-04-16 16.47.38

Sekarang Pos Indonesia semakin maju dan mengikuti perkembangan digital. Bahkan sebelum mengirim kita bisa cek dulu di website biaya pengiriman. Lebih mudah seperti hendak membeli tiket ketika bepergian.

Karena sekarang ini saya jarang memaketkan barang, wah saya senang dengan perkembangan kantor pos di tengah gencarnya persaingan bisnis paket pengiriman / logistik di era belanja online.

Sore ini paket sampai dari kantor pos, seorang petugas pos dari kantor pos Bojongsari Sawangan datang dan mengantarkan paketnya dengan lengkap dan rapi. Setengah karung pengiriman masih menjadi bebannya hari ini.

Terimakasih Pak Pos…
16 April 2018 Pukul 15:47