Tiga Lagu Syahdu di Bis Hiba Utama

Posted: February 20, 2018 by Eva in Artikel

Setelah keluar pintu tol Koja menuju terminal Leuwi Panjang, seorang pengamen, anak muda berkaos hitam dan mengenakan topi coklat naik ke atas bis Hiba Utama dan menyanyikan tiga lagu syahdu yang membuat penumpang ngelangut.

Pertama yaitu lagu “Ke Jakarta ku Akan Kembali” tembang lawas yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Liriknya seperti ini :

Di sana rumahku
Dalam kabut biru
Hatiku sedih
Di hari minggu
Di sana kasihku
Berdiri menunggu
Di batas waktu
Yang telah tertentu

Reff.
Ke jakarta aku kan kembali
Walaupun apa yang kan terjadi
Kembali ke reff.
Pernah kualami
Hidupku sendiri

Temanku pergi
Dan menjauhi
Lama kumenanti
Ku harus mencari
Atau ku tiada
Dikenal lagi

Kemudian, pengamen muda itu menyanyi lagu kedua berjudul “Diana Kekasihku” Lagu yang dipopulerkan oleh Penyanyi yang sama yaitu Koes Plus.

Liriknya sebagai berikut:
Di gunung tinggi kutemui
Gadis manis putri paman petani
Cantik, menarik, menawan hati

Diana namanya manja sekali
Waktu aku mengikat janji
Ku berikan cincin bermata jeli
Tapi apa yang kualami
Paman petani marah ku dibenci
Reff :

Diana, Diana kekasihku
Bilang pada orang tuamu
Cincin permata yang jeli itu
Tanda kasih sayang untukmu

Di gunung tinggi kutemui
Gadis manis putri paman petani
Cantik, menarik, menawan hati
Diana namanya manja sekali
Waktu aku mengikat janji
Ku berikan cincin bermata jeli
Tapi apa yang kualami
Paman petani marah ku dibenci

Karena mengamen di bis itu waktunya cepat, maka lagu yang bersyair pendek sangat di sukai.

Rupanya usai dua tembang lawas, pengamen muda itu masih terus semangat dengan mempersembahkan lagu ketiga. Kali ini adalah lagu Firman Idol berjudul “Kehilangan”.

Para penumpang di bis ekonomi Hiba Utama yang tidak penuh ini pun terhibur. Mereka semua terdiam, namun tidak tahu juga dalam hati mereka ikut bernyanyi atau biasa saja. Namun, lagu ini bernada cukup tinggi sehingga saya pun ikut bernyanyi lirih.

Berikut lirik lagu “Kehilangan”

Ku coba ungkap tabir ini
Kisah antara kau dan aku
Terpisahkan oleh ruang dan waktu
Menyudutkanmu meninggalkanku
Ku merasa tlah kehilangan
Cintamu yang tlah lama hilang
Kau pergi jauh karena salahku
Yang tak pernah menganggap kamu ada
*
Asmara memisahkan kita
Mengingatkanku pada dirimu
Gelora mengingatkanku
Bahwa cintamu tlah merasuk jantungku
Reff:
Sejujurnya ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Seandainya kamu bisa
Mengulang kembali lagi cinta kita
Takkan ku sia-siakan kamu lagi
Back to *, Reff:
Sejujurnya ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Takkan ku sia-siakan kamu lagi.. (2x)

Lengkingan lagu di bait terakhir ini terus dinyanyikan oleh Pengamen muda hingga akhirnya dia berhenti, menunggu sebentar dan turun bersamaan dengan turunnya beberapa penumpang.

Setelah itu bis Hiba Utama melaju kencang, dan akhirnya tidak lama kemudian tiba di Stasiun Leuwi Panjang yang sekarang tambah rapi dan bersih.

Karawang 20 Februari 2018

Pukul 21.55

Advertisements

Judul Buku : Bagaimana Akhir Hidup Mereka (Misteri Seputar Kematian Selebritas Dunia)

Penulis : Rausyan Deniz

Penerbit: Visi Media Jakarta

Edisi : I, Maret 2013

Aneka Konspirasi di Balik Kematian Pesohor

“We owe respect to the living, to the dead we owe only truth,” Voltaire, Filsuf Perancis. Kita harus Menunjukkan rasa hormat dan kadang-kadang berkompromi atas kebenaran demi diplomasi dan silaturahmi dengan orang-orang yang masih hidup.

Buku ini bersampul putih dengan ukuran yang lebih besar tidak seperti buku populer kebanyakan. Tampil foto musisi dunia Michael Jackson dan artis Korea, pemeran utama “Winter Sonata” Park Yong Ha sebagai sampul.

Saya menemukan buku ini dalam deretan buku dewasa koleksi Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat. Judulnya cukup menarik dan provokatif, buku ini berjejer rapi dengan deretan buku populer lainnya.

Berbicara kematian, adakalanya kita semua termenung. Penyebab kematian karena sakit, kecelakaan atau usia yang sudah senja sudah menjadi hal yang umum dialami setiap orang.

Akan tetapi adakalanya, kita melihat ada tokoh terkemuka (pesohor) maupun selebritas meninggal karena satu hal yang mengejutkan, penuh keganjilan bahkan misterius.

Nah, buku ini menjelaskan bagaimana ada 21 orang yang meninggal dunia dengan cara yang tidak biasa. Ada yang dibunuh sadis, bunuh diri, hingga kelalaian dokter. Semua dikupas Rausyan Deniz dengan cara penuturan yang menarik.

Dimulai dengan meninggalnya musisi jenius Joannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart, atau dia lebih senang memanggil dirinya Wolfgang Amade Mozart yang wafat di usia 35 tahun. Beliau lahir pada 27 Januari 1756 dan wafat pada 5 Desember 1791. Usia yang sangat muda bagi komposer yang karyanya melegenda.

Sejak kecil, Mozart terbiasa hidup nyaman. Terlahir dari keluarga musisi dia terbiasa keliling Eropa sejak kecil mengikuti konser orkestra sang Ayah.

Kemewahan hidup yang dirasakan Mozart dan keluarga tidak bertahan lama.Kesulitan finansial terjadi saat perang Austria dan Turki pada 1786, Mozart mengalami kesulitan finansial. Ia sering berhutang kepada musisi atau sesama mason, situasi sulit ini membuatnya depresi dan kehilangan sentuhan dalam berkarya. Istrinya Constanze mengajaknya bepergian untuk sejenak melupakan pekerjaannya.

Mozart meninggal dengan menyisakan banyak utang. Dia selalu berpikir bahwa dirinya diracun.Muncul banyak polemik seputar kematiannya, ada yang mengatakan karena demam tinggi, namun ada juga yang mengatakan karena kecemburuan pesaing beratnya Antonio Salieri, bahkan ada yang mengatakan bahwa kematiannya karena anggota Mason.

Selain Mozart ada 20 tokoh lain dalam buku ini yang meninggalnya penuh misteri. Seperti Marilyn Monroe, Janes Joplin, Sharon Tate, Jim Morisson, Bruce Lee, Elvis Presley, John Lennon, Heather O Rourke, Selena Quintanila – Perez, Tupac Shakur, Princess Diana, Heath Ledger, Jang Ja Yeon, Michael Jackson, Park Yong Ha, Chae Dong Ha, Amy Winehouse, dan Whitney Houston.

Mereka meninggal dengan cara yang beragam

Selain mengisahkan masa akhir hidupnya, penulis juga banyak menjelaskan era kejayaan pesohor, hasil karya dan tentu saja kegelisahan mereka yang dikutip saat mereka sedang dalam kesendirian.

Ada beberapa artis korea dalam buku ini selain musisi dunia yang meninggal justru saat popularitas menjulang, narkoba dan heroin banyak yang menjadi alasan utama disamping pembunuhan dan depresi. Namun sayang memang tidak ada musisi tanah air yang dikisahkan.

Semoga saja tidak ada ya artis Indonesia yang meninggal dengan konspirasi atau mengenaskan, meskipun sekarang gencarnya narkoba menghinggapi artis menjadi kegetiran sendiri di kalangan dunia hiburan. Apalagi anak muda yang memang harus hati-hati dalam pergaulan.

Tentu tidak menarik jika saya menceritakan satu persatu artis yang dimuat dalam buku ini bagaimana cara mereka meninggal dunia. Anda baca sendiri saja, atau kunjungi perpustakaan Provinsi Jawa Barat, atau perpustakaan lainnya, karena dalam buku ini tersaji lengkap ada gambar dan penyampaian cerita yang mudah dicerna.

Bandung, 20 Februari 2018

Pukul 16.11

Pada Akhirnya Kita Akan Pulang Sendirian

Posted: February 19, 2018 by Eva in Artikel

Minggu lalu ada berita duka bertubi-tubi dari Jogjakarta. Pada hari rabu, 6 September saya dikabari teman SMA, Nur Hartanti meninggal dunia karena kanker getah bening selama 2,5 bulan. Esok harinya 7 september ada Dewan Redaksi Pustaka Alvabet pada tahun 2004-2007 Pak Samsu Rizal Panggabean (SRP), meninggal karena sakit jantung, kemudian ayahnya Pak Bae, Mas Iyung, Mas Togen Abah Rouf meninggal senin dinihari 11 September 2017.

Semua berita yang kudengar terlambat karena aku lagi non aktif facebook sementara. Ada banyak kesan yang mendalam tentang ketiga orang itu, Nur hartanti, sosok anak pendiam, rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri sejak pertama aku kenal. Namun orangnya baik hati dan ramah. Dia kuliah di Geografi UGM bersama Dyank Aflahah, Dewi Masithoh, Opik Indrawan dan Febri. Mereka anak IPA 1 SMA Muhammadiyah II Jalan Kapas.

Sedangkan Pak Rizal aku hanya sebentar mengenalnya, Aku diajak bekerja di Alvabet oleh Mas Ahmad Zaky Kopma UIN Suka, disana aku diperkenalkan sama Dewan Redaksi yang menyeleksi semua terjemahan Alvabet seperti Pak Rizal. Taufik Adnan Amal, Pak HBS, Pak IAF dan Pak Bae merupakan orang yang harus mengacc semua sampul depan dan belakang, proses editing, kualitas terjemahan dan mengusulkan buku-buku yang akan diterbitkan. Sedangkan Abah Rouf adalah orangtua dari ak Bae, Owner Alvabet juga ayah dari Mas Nurul Huda (Iyung) dan Ahmad Sirajul Huda (Togen) mereka berdua pernah lama bekerjasama dengan kami di Alvabet sebagai marketing dan pemasaran.

Jumat malam aku ke Jogja sama mas Arif Takziyah, paginya dijemput mobil teh geugeu. Kita berdua langsung menuju Rejodani Ngaglik, setelah sebelumnya makan soto kudus di Condong Catur. Sesampainya disana ada istri almarhum Bu Luthfiyatur Rahmah, serta anak Pak Rizal yang baru pulang dari Jepang Sarah Fitri Panggabean dan anak keduanya Irvan serta anak Pak bae, Dede.

Baru kali ini aku ke Jogja gak bilang-bilang teman, aku hanya langsung ke TKP, usai takziyah dan berziarah, aku langsung pergi ke Ngawi.

Pulang dari Ngawi, aku berziarah ke makam Kyai Mufid Mas’ud Sunan Pandanaran, saya terpukau ternyata Pondok Pesantren Sunan Pandanaran berkembang pesat, sangat bagus dan luas serta hijau, santrinya banyak.

Usai dari jalan kaliurang saya mampir Condong Catur tapi tidak ada Teh Neng adanya Hoho sendirian, baru setelah itu Takziyah ke Nurhartanti di jalan Berbah Banguntapan Bantul. Rumahnya memanjang dan parkirnya luas, sayang suaminya Mas Sigit tidak ada di tempat karena sedang ke rumah orangtuanya di Semin Gunung Kidul mengajak refreshing anak-anaknya.

Sehabis itu saya pulang ke Bantul ke Teh Geugeu, ketemu ponakan dan makan bakso, jam 12 malam pulang ke Tugu naik kereta ke Bandung. Sampai Bandung jam 9 pagi, dan lanjut naik kereta ke gambir jam 10.35. Sampai Jakarta saya langsung naik gojek ke kantor ambil kamera dan segera meluncur ke Golden Butik Kemayoran, ada acara kantor sampai Rabu 13 September.

Hari selasa saya dikejutkan sama status bbm, ada kabar ayahnya Pak Bae, Mas Iyung dan mas Togen meninggal dunia, saya baca siang dan rencana malam mau takziyah ke Bekasi. Tapi apa daya acara sampai malam, saya sangat kelelahan, pulang, istirahat dan bangun subuh untuk segera naik kereta ke Bekasi, ternyata sekarang ke Bekasi cepat dan gampang tidak sampai 1 jam, rumah duka tidak jauh juga dari stasiun.

Sepanjang jalan saya melamun sendirian, ingat terakhir ketemu mas Iyung dan Mas Duyung di Rs Medistra bekasi, Abah Rouf sehat dan masih bisa shalat meski sakit. Saya waan sama teh ing dan Rifky karena hp mas iyung dan togen ga aktif, saya tanya alamat rumah ke mama oi, akhirnya saya sampai di Sawah Indah bertemu Umi, mas iyung, Togen dan dua orang kakak mas Iyung yang ga begitu aku kenal. Mereka sangat kehilangan. Umi sekarang memakai kursi roda dan duduk diam. Tidak banyak cerita, terakhir almarhum jatuh di kamar mandi.

Dari situ saya berpikir bahwa pada akhirnya kita semua akan meninggal. Kita akan pulang sendirian.

Satu hal yang harus aku siapkan adalah bahwa kita semua harus ikhlas ditinggalkan oleh orang – orang yang kita cinta.

catatan: Ini tulisan tahun lalu Bulan September 2017

Perempuan manis ini akrab dipanggil Novie oleh teman-temannya, berpenampilan ceria dan apa adanya. Sederet prestasi pernah diraih Novie, di bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas), meskipun dia memiliki latar belakang sarjana Pendidikan Agama Islam, tapi tidak menghalanginya untuk terus memajukan PAUD-DIKMAS.

Pada tahun 2009 Novie menyelesaikan pendidikan S1 jurusan pendiidikan Agama Islam di Universitas Islam As-Syafi’iyah, selepas itu dia mengajar di Taman Kanak-Kanak.

Pada tahun 2011, Novie mulai serius mengabdi di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Tamansari Persada Kota Bekasi. Di PKBM Tamansari Persada Novie Jayanti Norma Sari mendapat kesempatan untuk selalu menambah ilmu, dan mengembangkan karya. Di bawah pimpinan yayasan Agus Basuki Yanuar dan Revita Tantri Yanuar yang selalu memberikan dukungan penuh atas semakin berkembang dan bermutunya para pendidik di PKBM Tamansari Persada, Novie juga belajar banyak berbagai ilmu terkait dengan pedidikan dari ilmu mengenai metode pembelajaran, cara mengenal karakter anak didik sampai adminstrasi guru dan berbagai ilmu lainnya. Hal ini membuat dirinya semakin berusaha untuk menjadi guru yang profesional.

Tahun 2017, enam tahun setelah Novie jatuh bangun menjadi tutor di PKBM Tamansari ini ia berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Ia menjadi juara I tutor Paket B dengan judul karya ilmiah.

“Pembelajaran Tematik Melalui Kegiatan Pasar Rakyat untuk Meningkatkan Kecakapan Hidup Warga Belajar Paket B di PKBM Tamansari Persada,”Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidkan Masyarakat (Dikmas) Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 8-15 Juli2017 di Bengkulu dan berhasil mengharumkan nama Kota Bekasi Jawa Barat.
Bakat Awal Novi mulai terlihat sejak SMA, perempuan kelahiran Jakarta 24 november 1987 ini sudah sejak SMA terinspirasi untuk pembelajaran yang menyenangkan agar saya tidak bosan untuk belajar.

“Alangkah menyenangkan sekali jika pembelajaran itu dilakukan dengan metode yang bervariasi. Berangkat dari keinginkan tersebut, saya begitu termotivasi untuk menjadi pendidik yang mampu mendidik dengan berbagai metode yang menyenangkan. Saat saya menempuh jenjang kuliah, saya semakin menyukai dunia pendidikan. Tertawa dan dapat berbagi ilmu dengan anak-anak membuat saya sangat bahagia,” ujarnya seraya tersenyum.

Menggagas Pelajaran yang menyenangkan dan Kearifan Lokal

Apa yang diangankan semasa SMA kini bisa di aplikasikan di PKBM Tamansari Persada. Novie menyadari betul, jika pada saat ini, perkembangan Kota Bekasi sangat pesat, banyak sekali berjamur pasar-pasar modern dan semakin tergerusnya pasar tradisional. Di PKBM Tamansari Persada, kami hadir dengan program yakni Pasar Rakyat dimana siswa belajar mengenal lebih dekat tentang kondisi daerahnya.

Melaui Pasar Rakyat Novie mengharapakan siswa mampu mengenal berbagai barang olahan tradisional baik dari makanan, minuman dan berbagai hal lainnya. Dalam pelaksanaannya Pasar rakyat menggunakan strategi pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu.

“Oleh karena itu, guru harus merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual yang menjadikan proses pembelajaran lebih efektif,” ujar anak dari pasangan Suparmin (wirausaha) dan Sutini yang bekerja sebagai guru PAUD di RW 09 Cipinang Melayu.

Satu hal yang yang menjadi masalah saat ini tidak hanya di Bekasi, di kota-kota lainnya adalah Fenomena di masyarakat saat ini, menyatakan bahwa lulusan yang baik adalah lulusan yang memiliki kecakapan akademik dengan nilai terbaik. Konsep bahwa hasil dari belajar hanyalah cukup dengan mengejar nilai akademik sudah tertanam di pemikiran warga belajar kami, padahal kenyataannya dalam kehidupan di masyarakat nantinya, begitu banyak berbagai kecakapan yang harus dicapai.

Menurut Novie Pembelajaran tematik mengarah pada pengembangan kurikulum pendidikan yang menekankan pada kecakapan hidup dan bekerja. Kecakapan hidup akan memiliki makna yang luas apabila pengalaman-pengalaman belajar yang dirancang memberikan dampak positif bagi peserta didik dalam memecahkan problematika kehidupannya. Pembelajaran tematik menyiapkan peserta didik dalam mengatasi problematika hidup dan kehidupan yang dihadapi secara proaktif dan reaktif guna menemukan solusi dari permasalahan.

Pembelajaran tematik dapat saling terkait dengan konsep pembelajaran berbasis kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal biasanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi melalui cerita dari mulut ke mulut.

Ingin Memberikan Kontribusi Pada Dunia Pendidikan dan Bermanfaat Buat Orang-orang disekitar

Penelitian dan materi yang dilakukan Novie sungguh menggembirakan dan memberikan manfaat bagi perkembangan PKBM Tamansari Persada. Setelah metode ini diterapkan peningkatan kreativitas pendidik melalui kegiatan Pasar Rakyat dalam pembelajaran tematik berbasis kearifan lokal merupakan karya nyata yang telah dilaksanakan di PKBM Tamansari Persada. “Metode ini memberikan pengaruh bagi pendidik guna menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan,” ujar perempuan yang punya hobi membaca dan berkebun ini.

Sehingga sangat beralasan kiranya juri memilih Novie menjadijuara I tutor paket B padaApresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidkan Masyarakat (Dikmas) Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2017 yang berlangsung di Bengkulu. Pada saat terpilih mengikuti lomba tingkat nasional yang akan dilaksanakan di Bengkulu. “Awalnya saya ragu untuk melanjutkan perjuangan ke nasional. Ada rasa khawatir akan mengecewakan dan tidak dapat memberikan yang terbaik. Namun berkat dukungan keluarga dan teman- teman serta orang-orang di sekitar saya, akhirnya saya bersemangat lagi,” ujarnya mengenang masa-masa perjuangannya.

Novie sangat berharap para tutor paket B di beberapa daerah di Indonesia, bisa rekomendasikan kepada semua pelaku pendidikan pada jenjang pendidikan kesetaraan paket B untuk bisa diterapkan di PKBM masing-masing. Kepada orang tua, hendaknya mampu memberikan kerjasama dan memotivasi anak agar tetap semangat berkarya.

“Kepada pihak sekolah, sekiranya dapat menfasilitasi media, dan alat penunjang pembelajaran yang dibutuhkan sehingga kendala yang dihadapi dapat teratasi dan warga belajar dapat belajar dengan maksimal” ungkap perempuan berjilbab ini penuh harap.

Meskipun menjadi juara bukan tujuan, tapi satu hal yang sangat diinginkan Novie dengan penelitian dan karya ilmiah yang dibuatnya adalah ingin hidup bermanfaat bagi orang sekitar, “Anugerah terindah dan pengalaman yang luar biasa yang takkan terlupakan seumur hidup saya. Dan hal ini juga merupakan amanah besar dari Allah pada saya untuk dapat lebih berkarya, memberikan kontribusi pada dunia pendidikan dan bermanfaat buat orang-orang disekitar,” pungkas Novie khidmat. (ER)

Novie Jayanti Normasari adalah juara I Tutor Paket B
pada Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidkan Masyarakat (Dikmas) Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2017

Hampir tiga tahun ini kami tiap hari beraktivitas menggunakan motor untuk bekerja. Parkir di Stasiun Sudimara lanjut naik KRL ke tempat bekerja, namun mulai awal tahun 2018 ini sesekali saya naik busway.Dulu jika pulang tidak bareng suami saya kadang naik angkot, tapi sering ngetem lama dan akhirnya naik ojek daring.

Resiko tidak bisa naik motor itu repot, kadang kalau tidak bisa diantar adakalanya kalau bepergian jarak dekat naik sepeda, atau naik ke opang lama di Pamulang Elok, namanya Bang Amir opang asli pondok petir, kalau tidak bisa kadang Bang Jadu. Mereka mudah dihubungi dan merupakan orang Betawi asli. Rumahnya tidak jauh dari komplek perumahan kami.

Namun siang itu kamis, 8 Februari saya kebetulan habis ada acara di daerah Palmerah arah Slipi, tiba-tiba saya kok malas ya naik KRL atau busway, saya kangen naik bis kuning Koantas Bima 102 jurusan Tanabang-Ciputat.

Biasanya di perempatan Slipi banyak bis yang ngetem tapi sore ini tidak, saya menunggu ada sekitar 10 menit langsung bisnya jalan. Saya sudah cukup lama tidak naik bis 102 terakhir kapan ya mungkin 1 tahun lalu lebih karena malas sekali lewat jalur Pondok Indah Radio Dalam karena macet sekali, lebih nyaman pakai commuter.

Namun seraya merenung entah kenapa saya sangat menikmati naik bis 102 yang isinya lumayan penuh. Baru naik fly over dekat Senayan saya dihibur pengamen remaja menyanyikan dua lagu, satu lagu ciptaan sendiri dan yang kedua lagi Franky Sahilatua yang asyik sekali ku dengar di tengah gemuruh mesin bis.

“Hangatnya matahari
Membakar tapak kaki
Siang itu disebuah terminal
Yang tak rapi. Wajah pejalan kaki
Kusut mengutuk hari
Jari jari kekar kondektur
Genit goda daki

Wah sayang lagu mereka berhenti padahal saya masih menikmati.
Perlahan tapi pasti bis berjalan tanpa hambatan hanya macet sedikit depan Senayan City arah Taman Puring. Tiba-tiba naik seorang Bapak-bapak memakai kacamata berbaju hitam dan bertopi memetik gitar dengan syahdu. Wah saya merasa senang sekali dengan lagu-lagu lawas yang ia nyanyikan seperti lagu-lag Panbers dll salahsatunya liriknya begini…

“Demi engkau dan si buah hati aku rela begini….

Wah Bapak ini saya lihat sangat pintar bernyanyi dengan penuh perasaan sehingga semua penumpang diam, hingga akhirnya dia turun sebelum masuk jalan radio dalam.

Sekian lama perjalanan lancar, bis 102 tersendat di depan Plaza Pondok Indah sehingga harus memotong jalur lewat RSPI hujan deras mengguyur sampai halte busway Lebak bulus.

Memasuki jalan Cirendeu bis bocor, waduh penumpang banyak yang pindah termasuk saya yang geser dua kursi ke belakang. Sampai di pool terakhir Pasar Ciputat hujan deras tiada henti karena kosong saya ngobrol sama kondektur yang cerita bahwa setorannya turun 50% lebih dari sehari 700 rb skg jd 300 rb karena sekarang ada busway jurusan Ciputat Sudirman dan kendaraan online di mana-mana. Dia berkata bahwa pengaruh dua jenis kendaraan itu sangat besar bagi kelangsungan armadanya sehingga sekarang armada 102 dikurangi.

Dia juga cerita kalau bis – bis kopaja dan Koantas lainnya sekarang sepi karena banyak kendaraan gratis seperti bis tingkat dan busway yang tidak lewat jalur. Bis P 19 juga kata kondektur tadi dulu setorannya paling besar sehari bisa 1.500.000 akan tetapi sekarang turus drastis di bawah 500 ribu.

Kemajuan teknologi dan kenyamanan berkendara sangat berpengaruh pada para pengusaha armada dan para sopir kondektur yang sekian lama hidup di ibukota. Sulit dicari solusi karena bagaimanapun harus ada yang menjadi korban dan dikorbankan.

Akan tetapi Bapak kondektur ini sangat tegar menghadapi apa yang dialaminya sehari-hari. Ia bercerita tiada beban. Badannya kekal dan kulitnya legam, rambutnya yang ikal dan sorot matanya yang tajam menggambarkan ketabahannya menghadapi bisnya yang bocor, sepinya penumpang bertarung dengan macet dan hujan sepanjang perjalanan Slipi – Ciputat. Saya membayar tarif 4000 rupiah.

Usai bercerita panjang lebar tentang setoran bos dan terminal yang dibakar kami sampai di tujuan akhir. Ada tiga orang penumpang yang turun bersama saya, kami semua berlarian mencari tempat berteduh. Air menggenang membasahi sepatuku masuk sampai ke dalam sela-sela kaki, selokan mampet dan sayapun meloncat ke pinggir toko cari tempat berteduh menunggu angkot ke Reni Jaya jurusan Reni.

Seperti biasa angkot cukup lama lewat, hingga sekitar 12 menit kemudian datang dan ngetem di pengkolan (belokan) langsung penuh seperti biasa. Saya pun berjalan menuju ke angkot Reni dan akhirnya angkot pun berjalan. Selang berapa meter ke depan tiba-tiba ada penumpang bucis (bahasa sunda), (basah kuyup) lelaki setengah baya masuk tergesa membawa bungkusan besar hitam.

Dia mencegat agak ke tengah karena hujan, namun karena berhenti mendadak, sebuah mobil mewah di belakang langsung membunyikan klakson, Bapak itu setengah berteriak mengumpat “Orang kaya, gak sabaran,” ujarnya sambil menoleh ke belakang dan merapikan bawaan. Dia terlihat menahan geram, kami di dalam angkot pun berisik mendengar bunyi klakson.

Tidak lama kemudian, mobil itu menyalip dari sebelah kanan lalu melaju kencang. Kami semua penumpang dalam angkot Reni yang sudah ringkih dan karatan disana-sini hanya terpaku diam… hening. Tidak lama kemudian angkot Reni pun melaju perlahan dengan suara mesinnya yang khas, menderu, membelah hujan….

Pondok Petir, Minggu 11 Februari 2018

Hujan Pagi

Posted: February 3, 2018 by Eva in Artikel

Pagi yang Basah

Sabtu pagi diiringi hujan

Dingin menyelimuti tulang

Aku termenung memandang rintik hujan

yang jatuh mendera tanaman di taman kecilku

Tanah basah

Jiwa gelisah

Namun tanamanku gembira

Mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa

Perempuan pecinta hujan

Pondok Petir 3 Februari 2018 Pukul 06.34

Usai menamatkan Sekolah Dasar di SDN Cisande IV Cibadak Sukabumi Jawa Barat pada tahun 1992, saya melanjutkan untuk masuk pesantren. Saat itu, saya baru pertama kali menginjak kota Jogjakarta, dimana kakakku Teh Geugeu Syarifah sekolah SMP dan A Iwan kuliah di Universitas Negeri Yogjakarta (UNY).

Di usia yang masih 12 tahun saya sangat kaget ketika saya naik bis Rajawali jurusan Sukabumi Jogjakarta, saya dijemput kakak pertama untuk tinggal sementara di Perumnas Condong Catur sambil menunggu pengumuman masuk SMPN 30 Sardonoharjo Ngaglik Sleman, atau sekarang SMPN 3 Ngaglik.

Pada saat saya ke Jogja, saya masih memakai rok merah dan baju bintik merah, satu-satunya baju terbagus yang saya punya. Setelah itu, saya dibonceng memakai motor Honda Astrea oleh kakak dari Condong Catur ke Ngaglik Sleman. Saya masih ingat betul, waktu itu saya masih imut dan tidak memakai jilbab, lalu mendaftar ke SMPN 30 Sardonohardjo dan mendaftar di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran PPSPA yang beralamat di Jl.Kaliurang KM 12,5 Candi Ngaglik Sleman Jogjakarta.

Saya juga langsung berjumpa dengan KH. Mufid Mas’ud yang saat itu sedang bersantai memakai kaus putih dan sarung putih. Saya sangat senang bisa melihat pondok pesantren yang begitu besar, tidak seperti di kampung saya di Sukabumi, dimana saya waktu SD tiap hari jalan kaki lewat galengan (pematang sawah) dan rel kereta api. Akan tetapi, karena kakak saya ada 8, kalau hujan, saya masuk sekolah SD sering digendong Kang Dada, kakak no 3 yang sekarang sudah punya cucu.

Rumah orang tua saya sederhana dengan sembilan anak. Akan tetapi sepeninggal ibuku, kakak pertama menyekolahkan adik-adiknya di Jogja. Sesudah diterima di SMP, kaka saya menjahit seragam di langganan kakak di Gejayan, seragamnya masih rok pendek dan seragam putih pendek. Lucunya waktu itu belum ada peraturan siswa SMP boleh mengenakan jilbab, baru setelah ada usulan dari Pondok Pesantren ke pihak sekolah, barulah kita semua memakai jilbab.Waktu itu aku sekolah sepantar dengan keponakanku Trisasi Lestari dia masuk SMP 5 Jogja.

Aku masih ingat betul, waktu keponakanku masih kecil-kecil. Aku dekat dengan semua keponakanku. kakak iparku membekali aku selimut yang berwarna kuning merah garis-garis dan makanan ringan seperti Happy Tos dan perlengkapan untuk aku sekolah lainnya. Kakak-kakakku sangat mencintai aku, setiap bulan aku ditengok sama A Iwan untuk bayar bulanan yang saat itu langsung diberikan kepada Bapak Ndalem oleh Kakakku.

Asramaku berada di sebelah selatan dekat deretan kamar mandi, namanya SQL (Sekolah Luar). Kami semua adalah santri yang sekolah di luar (Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran MTSPA) dan Madrasah Aliyah Sunan Pandanaran (MASPA). Tapi kata teman-teman sistem SQL sekarang sudah tidak ada. Karena sekarang PPSPA santrinya sudah 3.500 dari seluruh Indonesia yang kebanyakan adalah anak dan saudara alumni PPSPA sejak pertama kali didirikan pada tahun 1975.

Saya tidak tahu banyak sejarah Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud, karena beliau termasuk orang yang tidak banyak bicara, namun sangat tegas tapi sering bercanda. Seperti namanya, Mufid adalah orang yang memberi manfaat dan Mas’ud adalah orang yang selalu bahagia dan membahagiakan orang lain. Kalau di komplek putri kami mengaji setelah Subuh sampai sebelum berangkat sekolah, maka di komplek putra biasanya sore hari. Karena, saya waktu itu masih Juzz Amma dan Bin-Nadhor, maka saya sering nderes (Membaca Al-Qur’an) Kepada Ibu Ndalem Ibu Nyai

Hj.Jauharoh Munawwir yang sangat tegas dan suaranya besar, dia selalu memakai mukena kalau nderes, semua takut sama Ibu Ndalem, biasanya dia memimpin Nderes berdua bersama anaknya Mbak Nah (Hj. Ninik Afifah).

Waktu mondok di Pandanaran saya bertemu dengan santri dari seluruh Indonesia. Ada yang dari Cirebon, Indramayu, Jakarta, Klaten, Magelang, Pati dan lain sebagainya. Di situ kita juga belajar aneka bahasa daerah. Satu hal yang kuingat selama mondok di Pandanaran adalah kesederhanaan dalam makanan. Di mana makannya sayur nangka (jangan gori), sayur kol (jangan kol) dan kerupuk. Akan tetapi temanku Mbak Ika Nurazizah dari Magelang, kakak kelas di SMP selalu dibuatkan kering kentang sama kacang dan kalau dijenguk ibunya aku sering minta hehehe. Kalau aku karena tidak punya Ibu, begitupun ayahku (Apa) yang sudah tua tidak pernah menjenguk aku di pondok selama tiga tahun, jadi jarang dikirimi aneka makanan.

Kakakku Condong Catur juga jarang menengok, karena yang sering menjenguk dan mengantarku kebutuhan bulanan seperti susu dan Indomie, bulanan dan uang saku SMP adalah Kakak ke enam, Iwan Setiawan (A Iwan). Waktu itu, dia masih kuliah di Fakultas Ekonomi UNY.

Aku tidur di ranjang besi yang agak lebar, warnanya krem. Bagian atas diisi dua orang dan bagian bawah di isi dua orang. Pertama kali datang aku seranjang sama Mbak Siti Munawaroh, anak MAN I Jogja, dibawahnya ada Farikhatul Udkhiyah (Eka) dari Indramayu. Waktu ada Mbak Ika datang, saat itu aku pindah ranjang, selain sama mbak Ika, aku dekat juga sama mbak Tintin Nunani dari Cirebon. Saya juga satu SMP sama si kembar Umi Haniin, Umi Haniatin, Farikhatul Udkhiyah (Eka), Lina Dwi Arfiastuti, Muchtar Hidayat, Eko Ariyanto, M.Nadjib, Muhammad Huda, Nuril, Rahmat dan masih banyak lainnya.

Satu asrama kita bergabung ada yang dari SMPN 30 Sardonoharjo, ada yang dari SMPN 8, ada yang dari MAN I, MAN Pakem, Universitas Gadjahmada, mereka harus menyesuaikan dengan jadwal pondok, seperti Kak Neny yang sekarang di Bandung, Kak Wahyunah yang sekarang di Bintaro, Kak Irma dan Kak Fauziyah. Semua santri-santrinya bahagia, seperti ketika saya mengikuti Haul ke 11 di Pondok Pesantren milik KH. Subhan Baalawi.

Kita semua alumni PPSPA yang di Jakarta Bogor Depok dan Bekasi memiliki Forum Silaturahmi Alumni Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Di Pondok Petir, justru saya ketemu dengan Kak Eni yang rumahnya tidak jauh dari rumahku di Pamulang Elok. Begitu juga, saya baru tahu bahwa yang memiliki Pondok Pesantren An-Nahdlah adalah Ibu Lia Zahiroh adalah alumni PPSPA istrinya Bapak Asrorun Ni’am. Dimana saat ini, anak pertama kakak kelas saya waktu di UIN UIN Sunan Kalijaga adalah Cak Shohib Sifatar yang bernama Arina (Kakak Arin) mondok di An-Nahdlah Pondok Petir.

Banyak hal tak terduga dalam hidupku, dimana saya bisa berjumpa dengan alumni Pondok PPSPA waktu di Kaliurang Jogjakarta, justru setelah 26 tahun saya meninggalkan Pandanaran. Saya berjumpa dengan Bu Nyai Lilik Ummu Kaltsum yang dulu suka menggantikan Ibu Ndalem. Bu Nyai Lilik sekarang memiliki Pondok Tahfidz Alqur’an di Parung Bogor bersama Gus Mustofa.

Ada banyak kenangan indah selama tiga tahun mondok. Kami semua dididik untuk terbiasa disiplin dan prihatin. Disiplin karena harus cepat-cepatan mandi (bare), setelah itu cepat-cepatan antri nderes mengaji di mesjid yang ada di komplek putri dan habis itu kita jam 7 sudah harus masuk sekolah. Saya termasuk yang malas bersama Mbak Ika dan Mbak Tintin, biasanya kita antri paling belakang karena memang ingin selalu bersama bertiga kemana-mana. Tapi kini mereka justru sukses, Mbak Tintin berwirausaha dan Mbak Ika bekerja jadi PNS di Pemda Magelang sesuai lulusannya Administrasi Negara UGM.

Ada banyak filosofi yang kuat ketika nyantri di pesantren. Kenapa kita harus prihatin dan makan seadanya. Karena supaya kita tidak dimanja makan enak. Semua santri jika saat mudanya susah, maka ketika mendapat ujian di hari tua menjadi orang tidak punya, maka dia tidak merasa aneh. Begitu juga dengan hafalan Al-qur’an, jangan sampai lupa dan harus selalu membaca Al-qur’an habis Shalat lima waktu, atau kalau bisa satu juzz sehari, jangan hanya saat Bulan Ramadan saja, tapi harus setiap hari. Berikutnya adalah harus mandiri, jangan harap santri menjadi PNS atau berharap banyak pada pemerintah, lebih baik mandiri atau punya Pondok Pesantren sendiri seperti Mas Lukman Kakak kelas, seangkatan sama Mbak Ika yang memiliki Pondok Pesantren di Tebet, Bu Nyai Lilik, Kyai Khusnul di Pondok Cabe, KH. Subhan Baalawi di Pondok Rajeg Cibinong dan lain sebagainya.

Satu hal lagi yang selalu kuingat amanat Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud, yaitu jika kita sudah menghembuskan nafas terakhir, atau kalau kita meninggal dunia, kita tidak boleh menerima karangan bunga dari siapapun.

Ibu Ndalem Hj.Jauharoh Munawir wafat pada April 1998 dan Bapak Ndalem wafat pada 2 April 2007. Semoga beliau berdua senantiasa mendapat maghfurlah dari Allah SWT dan semua santrinya bisa mengamalkan amanat atau pesan beliau berdua dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini penerus Bapak Ndalem KH. Mufid mas’ud adalah KH. Mu’tasim Billah dan KH. Masykur Muhammad serta ke-delapan anak-anak lainnya yang tidak mau disebutkan namanya karena pendidikan Hj. Jauharoh yang tidak ingin anak-anaknya mengemban amanat berat sebagai anak Kyai. Sepertinya itu saja yang ingin saya tulis sekarang, mohon maaf jika ada teman satu asrama tidak tersebut namanya.

Jakarta, 9 januari 2017 Pukul 13.55

Mengingat dan Menata Kembali Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru

Saat aku menulis resensi  buku ini, sudah hampir tiga bulan aku tidak aktifkan whatsapp, facebook dan instagram, tiga media sosial yang sangat tidak bisa kita hindari sekarang ini. Tapi apa yang terjadi, ternyata biasa aja tidak terlalu kampungan justru aku merasa semakin yakin akan nikmatnya menikmati komunikasi lewat telfon dan smsan.

Dalam tatanan ilmu sosial baru yang hadir dalam buku yang saya resensi kali ini yaitu berjudul “Guncangan Besar, Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru” adalah semakin marak beredarnya orang-orang yang memiliki akun media sosial tapi terjerumus dalam konflik sosial seperti perkelahian, pertengkaran, cekcok rumah tangga hingga orang yang ingin meninggal dunia dalam kesendirian.

Sampul Buku Guncangan Besar

Sampul Buku Guncangan Besar

Saat menulis buku ini, Francis Fukuyama yang merupakan sosiolog asal Jepang yang besar di Amerika, justru mengamati bahwa merebak dan semakin dicintainya media sosial membuat orang-orang lebih bangga, narsis dan ingin terlihat menawan, padahal aslinya biasa saja, itulah guncangan besar yang dinamakan pencitraan oleh media sosial.

Buku ini terdiri dari tiga bab, yang satu sama lain saling berkaitan. Di mulai dengan hipotesis Guncangan Besar, pada saat buku ini ditulis tahun 2003, hingga saat buku ini diterjemahkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama bekerjasama dengan Freedom Institute.

Hipotesis buku ini justru baru terbukti sekarang, 11 tahun setelah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Di mana saat ini, guncangan besar akibat terlalu sering aktifnya orang di media sosial sedang melanda dunia.

Dimana di sekitar kita sering terlihat kemunafikan dan kegetiran yang sepertinya terlihat sempurna di mata media sosial, tapi pada kenyataannya justru sangat mengerikan. Maka akan lebih baik jika dari sekarang kita lebih bijak bermedia sosial. Sebaiknya kita lebih sering bertatap muka dengan dunia riil atau nyata, daripada sibuk pencitraan ini itu di media sosial.

Pamulang 11 Desember 2017
Pukul 11.22

Sampul Buku-Rumah Bambu

Sampul Buku-Rumah Bambu

Cerita Sederhana yang Menukik Hati

Jika anda ingin membaca cerita-cerita yang ringan, pendek dan sangat menyentuh perasaan, anda harus membaca Kumpulan Cerpen karya YB.Mangun Wijaya atau akrab biasa disapa Romo Mangun dalam salah satu Kumpulan Cerpennya berjudul “Rumah Bambu” yang diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Gramedia (Penerbit KPG).

Buku ini sebenarnya buku lama, saya harap Penerbit berani untuk menerbitkan kembali buku-buku ini untuk generasi di masa yang akan datang yang lebih mencintai kesederhanaan dan hidup bersahaja dibanding dunia anak muda sekarang yang serba digital dan penuh hiruk pikuk belaka.

Ada satu peristiwa dalam hidup Romo Mangun yang di kemudian hari menjadi cerita “legendaris”. Seorang teman menyebut peristiwa itu sebagai tragedi lem kanji. Suatu ketika Romo Mangun menyuruh salah seorang pembantunya membuat lem kanji. Kebetulan Romo sedang membutuhkan banyak lem, sementara ia enggan membelinya di toko. Selain mahal dan bikin boros, memang demikianlah prinsipnya: Jangan mudah membeli sesuatu yang sebenarnya dapat dibuat sendiri. Lem kanji yang dipesan pun jadi.

Celaka, Romo bukannya senang, tetapi malah marah, sebab lem kanji itu terlalu banyak dan mubazir. Sambil marah, Romo mengambil piring, sendok, garam, lalu menyodorkan kepada si pembuat lem kanji itu dan menyuruh memakannya. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, tapi peristiwa itu benar-benar terjadi.

Selain itu ada juga cerita tentang pesawat tempur dan helikopter milik TNI angkatan Udara yang sudah lapuk dan bulukan, tapi berusaha diterbangkan oleh pilot yang masih belajar, tepatnya di halaman 97 yang berjudul tentang Pilot. Tapi yang terjadi sekarang memang Alutsista Kementerian Pertahanan dan semua TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara sudah pada lapuk dan hanya ada sedikit anggaran membeli Alutsista seperti Sukhoi, yang baru saja diberi mahal malah dipakai orang Rusia yang tidak tahu ilmu kedirgantaraan.

Dari cerita di atas dapat kita simbulkan bahwa kita harus pandai-pandai menilai diri sendiri. Suatu hal atau barang yang menurut kita mahal, belum tentu mahal menurut orang lain. Lebih baik kita membeli sedikit lem kanji daripada memarahi orang yang membuatkan kita lem kanji dengan banyak dan kelelahan agar mendapat upah.

Dalam buku yang terdiri dari 20 Cerita pendek (Cerpen) yang belum pernah di publikasikan ini, semua cerita yang ada dikemas secara artistik dan menggelitik namun cetar membahana. Kita akan di bawa ke dalam cerita bencong yang menyamar menjadi pengamen, hingga cerita-cerita sederhana lainnya yang menyentuh hati dan memekakkkan telinga.

Jadi tunggu apa lagi, datang saja ke Perpus Kementerian Kemendikbud untuk membaca buku ini, jika Penerbit KPG enggan menjualnya kembali, karena royaltinya belum diterima sama Romo Mangun Wijaya.

Jakarta, 4 Desember 2017

Untuk pertamakalinya, saya mengikuti ajang komunitas berbasis wordpress di wordcamp Jakarta minggu lalu di daerah Sunter. Saya sangat terkesan berjumpa dengan beberapa orang dari berbagai daerah di Indonesia untuk membahas beberapa hal terkait perkembangan terkini dunia digital, terutama mereka yang menggunakan wordpress untuk website pribadi, lembaga atau perusahaan.

Ada satu hal yang menarik di awal sesi pembicaraan yang membahas tentang kecendrungan anak muda sekarang yang akan lebih berminat menjadi Independent Digital Media Worker, mereka lebih senang bekerja tidak di kantor yang terikat waktu dan peraturan, mereka lebih senang bekerja kreatif di kafe, perpustakaan, atau co-working yang sekarang ini sudah banyak berada di Jakarta.

Menurut Vika, Independent Digital Media Worker pada dasarnya adalah No Boss No Staff. Itu sangat menyenangkan. Beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan dunia ini banyak berkaitan dengan beragam profesi seperti tertera di gambar bawah ini.

Karena setiap anak muda lebih senang bekerja independen. Seperti halnya Nomad Traveller, profesi Independent digital media worker disebut juga (digital nomad) masalah yang paling sulit adalah mencari partner yang bener-bener satu visi dengan kita untuk bekerja di dunia digital jika kita keteteran. Karena pada dasarnya tidak semua orang menguasai banyak hal. Seperti wordcamp kali ini dimana dibagi dua tempat di atas adalah yang berkaitan dengan teknologi dan design, coding, startup dan lain-lain sedangkan di bawah membahas tentang content, tujuan blog kita apa, apa saja yang harus diutamakan saat penulisan, cara menjadi no 1 di SEO (Search Engine Optimalization) dan beberapa role model blogger dan para penggiat dunia digital.

Jadi bagaimanapun kita membutuhkan orang lain, Jika kita penulis kita butuh orang yang memiliki kecanggihan teknologi agar website dan blog kita bagus, begitu juga orang yang pintar web designer dan start up butuh orang untuk mengisi content.

Istilah Ibu Vika itu partner yang soulmate banget itu sulit di temukan. Start up dan ahli coding akan menjamur dimana-mana dan pada akhirnya setiap orang juga akan memiliki website personal untuk branding.

Ibu Vika juga menjelaskan beberapa pekerja digital yang sekarang banyak bekerja untuk perusahaan terpusat di Ubud Bali. Selain karena faktor alam, fasilitas internet di sana juga karena anak-anak milenial sekarang selain menyukai wisata perjalanan (travelling), mereka sangat peduli dengan alam, setelah berhari-hari kerja lembur siang malam, biasanya mereka melakukan travelling ke beberapa tempat untuk refreshing atau ikut kegiatan olahraga seperti lari marathon, Bulutangkis dan Yoga.

Dalam setahun terakhir ini saya juga merasakan ada orang yang saya temui ketika bekerja di warung kopi adalah anak-anak muda kekinian yang memang bekerjanya di kafe dari pagi hingga petang.

Jane misalnya anak Bina Nusantara adalah seorang illustrator yang bekerja di bidang periklanan. Dia memegang beberapa akun Instagram yang menjual koleksi etnik dan unik. Jadi untuk menjual produk online di instagram, sang klien mengirim bahan untuk diolah agar menjadi menarik, Jane membuat desain dan menguploadnya hingga memberi hastag agar instagramable.

Jane mengatakan bahwa kliennya tidak mengharuskan tiap hari upload produk, yang jelas dia menerima bayaran tiap minggu. Selain bekerja sendiri, dia juga bersama teman-teman bekerja untuk perusahaan iklan, ada berempat. Janeeve cerita saat saya bertemu beberapa waktu yang lalu bahwa dia baru saja menyelesaikan iklan IKEA yang edisi sale, bersama timnya dan sukses besar, waktu itu sampai antri orang masuk IKEA di Serpong.

Pertemuan tidak sengaja di warung kopi berlanjut di instagram dan akhirnya kita berteman. Karya-karya Jane unik dan simple, lucu, khas anak-anak kreatif sekarang.

Akan tetapi sekarang kafe mulai berisik, kebanyakan anak muda pindah ke perpustakaan seperti Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) yang memang menyediakan banyak ruang-ruang kecil untuk pertemuan, atau Perpustakaan BI. Sangat disayangkan, perpustakaan di beberapa tempat itu hanya buka sampai jam 16.00 WIB hanya perpustakaan Bank Indonesia yang buka sampai jam 18.00 WIB.

Nah yang belum lama saya ketahui juga adalah mulai diminatinya co-working di ibukota. Saya baru tahu juga dari Ibu Vika. Di Jepang bahkan sudah ada aplikasi co-working. Di Jakarta saya belum tahu banyak, yang saya tahu baru co-working Kolega di Senopati dan co working punya Pak Johannes di Kelapa Gading.

Di kolega anda bisa bekerja dengan nyaman, satu lantai. Santai dan ada fasilitas minum. Perjamnya beragam kalau di Kolega pertiga jam 110 ribu untuk sendiri, kalau satu ruangan untuk meeting satu jam 220 ribu untuk 10 orang.

Di Conclave beda lagi, harga bisa lihat di website resmi Conclave. Conclave lebih luas. Beberapa acara eventbrite banyak dilakukan di sini. Sebenarnya acara alumni suatu kampus atau sekolah lebih efektif di eventbrite. Cepat dan jelas kita bisa mendapatkan konfirmasi peserta dalam beberapa waktu saja kalau udah memenuhi kuota bisa ditutup.

Kemarin di event wordcamp Jakarta 2017, saya berjumpa Pak Johannes yang bergerak di bidang co-working di Sunter, pengusaha muda travelling bareng, penyedia jasa kesehatan online seperti perawat dan lain-lain dan ada satu dari Bandung pengusaha jasa pendidikan Bahasa Inggris untuk para blogger yang akan mengupload tulisan bisa diterjemahkan dulu oleh jasa online dia.

Saya berjanji jika sudah selesai deadline pekerjaan akan segera ke co working Pak Johannes di Sunter, katanya kita bisa berkantor perjam 30.000, perhari 120.000 atau bahkan per bulan 1,5 juta seorang. Sudah dapat 10 kali makan dan free cofee dan teh. Di sana anda juga bisa juga menjadi virtual account atau kantor kerja virtual akan tetapi ada syarat dan ketentuan tertentu. Akan tetapi saya ke sana ntuk melihat saja.

Dalam buku Francis Fukuyama yang berjudul “Goncangan Besar” yang diterbitkan Gramedia dan Freedom Institute yang membahas tentang pergeseran masa dari industri tradisional ke digital dan lain seterusnya. Maka saya merasakan sebenarnya saat ini kita dalam goncangan besar dunia digital dimana kata bu Vika dari 250 juta lebih rakyat Indonesia sudah 50% terkoneksi dengan dunia digital.

Sebenarnya teknologi bermata dua, di satu sisi banyak mall, dan industri tradisional bangkrut dan beralih ke dunia digital saya sebenarnya juga merasa prihatin tapi di sisi lain, kita juga harus berlari kencang jangan sampai ketinggalan teknologi.

Satu hal yang saya suka dari profesi yang diminati anak muda ini adalah generasi milenial tidak suka show up (pamer) keberhasilan, karya dan harta yang ia punya. Mereka aktif di media sosial justru untuk kebaikan dengan hastag positif dan meme-meme kreatif berkaitan dengan trending topik juga aneka inovasi yang unik, Itu yang saya amati sekarang.

Sebenarnya masih banyak materi berikutnya berkaitan dengan suka duka freelancer, kreativitas anak 11 tahun yang pintar coding dan blogging di wordpress.org dan materi menarik lainnya dari lantai 2, nanti semoga bisa saya tulis berikutnya. Semoga di era pesatnya perkembangan digital kita bisa berkolaborasi dan bukan berkompetisi.

Terimakasih WordPress Indonesia, terimakasih kaos, buku, pin dan aneka souvenir lainnya yang kami terima di acara yang menyenangkan ini.

Sudimara, Conclave, Senopati
Perjalanan di dalam kereta.

Berpikir Positif

Posted: November 6, 2017 by Eva in Agama dan Spiritualitas, Puisi

Berpikir Positif

Akan Percuma Segala Kebaikan
Jika ada Sedikit Saja Dalam Hati Kita
Rasa Benci.

Jika Kita Membenci Sesama
Berarti Kita Telah Membenci
Terhadap Siapa Yang Menciptakan
Kita

Tuhan Menciptakan Kita Sedemikian Rupa
Sangat Sempurna Dengan Segala Kelebihan dan Kekurangan
Lalu Kenapa Kita Membenci Sesama Mahluk Ciptaan Tuhan
Apa Yang Kamu Inginkan

Kita Tidak Bisa membuat orang lain menjadi seperti
yang kita inginkan
Karena Tuhan Menciptakan
Setiap Manusia Memiliki Keunikan
Semoga Kita Selalu Bekerjasama dalam Kebaikan
Saling peduli dan tolong menolong.

Benih Kebencian adalah Merasa Diri Paling Benar
(Truth Claim). Hal ini telah memicu kecurigaan dan prasangka buruk
pada orang lain. Kita Semua Harus Sadar
Bahwa Kebenaran yang Mutlak Adalah Milik Tuhan.

Mari Tebarkan Rasa Cinta dan
Berpikir Positif Terhadap Sesama.

Renungan Menjelang Deadline
Pamulang 6 november 2017
Pukul 20.53

Posted: October 13, 2017 by Eva in Humaniora, Inspirasi, Puisi

Just The Way You Are

Jadilah Diri Kamu Apa Adanya
Tidak Pura-Pura Berpunya
Tidak Juga Menjadi Miskin Peminta-Minta

Karakter Orang Adalah
Watak, Watuk dan Wahing
(Watak, Batuk, Bersin)
Sudah dari Sananya
Lewat Pembiasaan, Keluarga dan
Lingkungan Pergaulan
Semua Akan Berubah Menjadi Lebih Baik
Atau Sebaliknya

Jika Kamu Sukses Atau Tidak
Biar Orang Lain yang Bicara

Jakarta
13 Oktober 2017

Ada tiga hal  yang berubah dalam beberapa waktu belakangan, kaitannya dengan usaha dan kebiasaan yang sudah lama aku lakukan. Aku menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tapi setidaknya untuk berbagi cerita atau sharing bahwa kelestarian alam, lingkungan dan perubahan iklim adalah hal yang selama ini harus terus kita kampanyekan mulai dari dalam diri kita sendiri. Bukan hanya sekedar berkoar-koar.

Pertama yang ini membutuhkan banyak sekali pertimbangan adalah aku berhenti jualan sandal. Sudah sejak kecil, keluarga kami di Sukabumi turun temurun berbisnis sandal. Bahkan aku dan kakakku bisa kuliah di Jogja dan di Sukabumi karena usaha keluarga ini. Sungguh berat aku harus menghentikan bisnis yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Ada rasa nyesek dalam hati ketika ada pesanan dari beberapa teman berkaitan dengan sandal tapi aku tidak bisa memenuhinya.

Alasan utama aku berhenti jualan sandal adalah karena faktor limbah industri kecil kami di kampung yang sulit di daur ulang, ya memang harus dibakar. Awalnya sedikit akan tetapi karena orderan dari berbagai daerah melimpah, makin hari makin banyak. Dari lima orang kakakku laki-laki, empat diantaranya berbisnis ini dan aku sebagai adik sudah sejak SMA membantu berjualan. Hingga akhirnya pada tahun lalu, 2016, aku memberanikan diri mengemukakan alasan, dan semoga kakak-kakakku tidak surut bisnisnya karena alasan ini. Akan tetapi mereka memahami, bahwa bahan dasar industri sandal adalah karet. Dengan segala keberanian, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjualan sandal.

Kedua, Aku berhenti memakai lipstick. Aku kira ini terobosan besar. Sangat sulit di awal aku melakukan, karena sebelumnya aku termasuk yang suka dandan. Lebih dari 10 warna lipstick aku punya dari berbagai merek, dari yang paling murah sampai yang lumayan. Aku senang berburu warna lipstick kekinian. Tapi sejak September tahun lalu, sepulang aku dari Bali, aku sudah tidak menggunakan lipstick. Berat rasanya aku membuang semua lipstick di ruang kosmetik, aku sangat sayang, tapi aku sadar apa itu bahan dasar lipstick dan kosmetik lainnya, yaitu kelapa sawit. Jika Eka Kurniawan memiliki novel berjudul Cantik itu Luka, maka saya mengibaratkan lipstick itu demikian. Untuk membuat tampak cantik, kita harus merusak lingkungan, kita tidak tahu bagaimana kelapa sawit itu ditanam harus membakar hutan, merusak ekosistem. Begitu juga saat pengolahan dari kelapa sawit menjadi alat kosmetik, banyak para buruh yang diupah murah, sementara lipstick dijual mahal untuk kepentingan pemilik modal. Di balik aneka lipstick yang warna warni, ada beberapa nilai berkaitan dengan lingkungan dan kemanusiaan yang aku pertimbangkan.

Mungkin bagi sebagian orang, langkahku tidak menggunakan lipstik ini dianggap ekstrim atau lebay. Tak apalah untuk melakukan suatu perubahan kita harus siap dibilang beda, dimusuhi atau ditinggalkan teman. Tapi perubahan-perubahan besar berkaitan dengan lingkungan adalah dengan melakukan hal-hal kecil yang menurut kita benar, yang itu mudah-mudahan jika orang membaca tulisan ini akan berbuat demikian, tapi bukan merupakan suatu paksaan.

Ketiga: Hemat air, Energi dan Mulai Menanam. Awal tahun lalu hujan terus mengguyur bumi Pamulang, aku selalu siapkan menadah ember-ember di dapur aku keluarkan. Biasanya airnya aku pakai berwudhu, mandi atau menyiram tanaman. Begitu juga bilasan air cucian piring, tidak aku buang yang sudah tidak ada sabunnya aku siram. Aku sangat hemat menggunakan air, untuk berwudhu secukupnya. Beberapa waktu lalu aku sering dimarahin mas arif karena lupa matikan keran, sehingga air melimpah kemana-mana dan bagiku itu suatu peringatan.

Selain air, aku juga sekarang belajar untuk tidak sering menggunakan kendaraan bermotor atau mobil, jangan terlalu sering mencuci mobil dan usahakan semaksimal mungkin untuk naik kereta, commuter atau kendaraan daring jika bepergian. Semua aku lakukan dengan penuh kesadaran, begitu juga suami, dalam hal ini kita memiliki banyak kesamaan. Kita berdua kalau akhir pekan lebih banyak di rumah, ngurus tanaman dan istirahat panjang, tidak begitu suka bepergian. Paling banter ke Sukabumi, kalau ada hari-hari besar. Tidak seperti dulu, waktu masih ada orangtua.

Berkaitan dengan kebiasaaan menanam. Awalnya berasal dari sampah rumahtangga yaitu sayuran busuk seperti cabe, tomat, dan lain-lain yang kalau tidak dimasak, sayang aku buang. Aku jemur, lalu aku simpan bijinya dan kumpulkan.

aneka benih

Sudah banyak sebenarnya, aku wadahin rencana mau aku pisahin di kertas aku kasih label nama sayuran dan buah, cuma belum sempat beberapa bulan terakhir aku banyak deadline pekerjaan, sehingga adakalanya aku sabtu minggu tidak pulang.

 

Tapi minggu ini, sudah kembali normal, aku kembali menyiram tanaman, mengumpulkan benih, memasak dan bikin kue kesukaan. Mungkin itu saja, cerita yang aku ingin bagikan kepada teman-teman. Tidak ada maksud untuk gagah-gagahan, tapi ini semua kulakukan karena aku sangat percaya akan adanya hari akhir, atau hari kiamat. Siapa bilang isu perubahan iklim tidak berkaitan dengan hari akhir. Aku percaya akan semua yang diceritakan Al-qur’an bahwa ketika sumber daya alam diambil secara serakah oleh manusia maka gunung meletus sudah terjadi, gempa bumi dan banjir bandang terjadi dimana-mana, itu karena kita tidak peduli lingkungan dan serakah atas semua ciptaan Tuhan.

tomat

Kekayaan alam dikeruk untuk kepentingan pribadi dan pemilik modal, maka orang akan beramai-ramai untuk mengumpulkan uang. Kita tidak ingat seperti apa anak cucu kita di masa depan. Apakah mereka masih bisa makan enak dengan sayuran atau lalapan seperti yang kita makan sekarang? Atau mandi aja sulit karena tidak air, karena airnya habis untuk dijual air kemasan atau mencuci mobil agar kelihatan kinclong.

 

Suatu hari orang akan sadar, ketika ikan terakhir kita makan, ketika tidak adalagi tanah yang bisa ditanam, disitulah orang baru sadar bahwa uang tidak bisa dimakan. Bukan aku tidak butuh uang, tapi setidaknya kita bekerja harus seimbang, terutama dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Pejaten 25 September 2017
Pukul 9.40

Menghadapi Tekanan Kerja

Posted: September 22, 2017 by Eva in Artikel
Ada masanya ketika kita bekerja kurang fokus, banyak melakukan kesalahan dan tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Disitulah kita seringkali dikritik, dibantai bahkan dipermalukan di hadapan rekan kerja lainnya.Lalu apa yang harus kamu lakukan.
Ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan dan kita sadari, lalu kita tindaklanjuti.
1.Evaluasi Diri
 Anda harus perhatikan betul pekerjaan yang mendapat kritikan, perbaiki semua kesalahan, minta maaf dan mengingat ingat mungkin saat anda melakukan pekerjaan tersebut anda sedang tidak fokus atau ada urusan pribadi lain yang lebih anda prioritaskan selain pekerjaan. Saya kira itu yang harus kita lakukan di awal.
2.Positif Thinking
Ada masanya ucapan atasan terhadap kita sangat menyakitkan, nah disitulah kita positif thinking.Jangan menganggap bahwa bos anda tidak suka atau benci,  terima kritik dengan terbuka dan berikan penjelasan. Jika tidak mau terima ya sebaiknya kita diam, tapi kita harus menerima masukan dan anggap saja bahwa atasan itu sayang sama kita agar kita menjadi lebih baik dalam bekerja.
3.Jangan Masukin Perasaan
Tingginya angka depresi dan sakit jiwa adalah karena orang mudah tersinggungan, perasa dan tidak suka melihat orang lain bahagia. Jika anda ditegur keras, di kritik bahkan dibantai habis-habisan, jangan semua ucapan orang dimasukin perasaan. Di situ kunci menjaga keseimbangan. Kita harus ingat, bahwa perjuangan masih panjang, masih ada keluarga dan saudara yang yang harus kita perhatikan. Kalau anda selalu sensitif dan mudah tersinggungan, dimanapun berada anda tidak akan betah kerja.
4. Fokus dan Susun Skala Prioritas
Anda harus benar-benar memperbaiki semua kesalahan yang pernah dilakukan. Jangan mengulanginya.Bekerja harus teliti dan jangan asal asalan.Susun skala prioritas jangan sampai anda kebingungan mana yang harus didahulukan. Hindari medsos dan obrolan tidak penting yg membuat anda tidak fokus.
5.Bekerja diniati Ibadah
Jangan terlalu bangga dengan apa yang kamu miliki sekarang, karir cemerlang, gaji lumayan dan fasilitas memuaskan.Apalagi sampai pamer keberhasilan.Jika anda merasa bangga dan sukses, saat anda mendapat tekanan dan ujian, anda sulit menerima kenyataan.Maka jadilah pekerja yang senantiasa bekerja keras dimanapun ditempatkan.
kerja
Kita sebagai orang bawahan, pekerja kantoran, ibu rumahtangga, bahkan sampai pejabat pemerintahan, semua mulia di mata Tuhan. Maka apapun yang kita kerjakan maka diniati dengan ibadah, serahkan semua kepada yang memberi pekerjaan. Jika anda menyadari bahwa kerja itu ibadah, maka sepenuh hati kita akan melakukannya tanpa ingin dilihat orang baik atau buruk.Kita bekerja demi keluarga, demi masa depan dan tentu saja jangan lupa beramal. Beri keseimbangan antara dunia akhirat, bersyukur, insyaallah anda akan tahan banting menerima tekanan dan ujian dalam setiap pekerjaan.
Commuterline 22 September 2017
Pasar Minggu Baru – Tanabang
Pukul 19.19

Ketika Adzan Ashar Berkumandang

Posted: September 14, 2017 by Eva in Puisi

Ketika Adzan Ashar Berkumandang

Ada Banyak Momen Bersejarah
Ketika Adzan Ashar Berkumandang
Saat Aku di Rumah Sakit di Sukabumi
Pada Tahun 2009
Aku Tersadar Setelah Sakit Berbulan-bulan
Aku Seperti Terbangun dari Mimpi Panjang
Saat Aku Membuka Mata, Siuman
Saat itulah Berkumandang Adzan Ashar.

Beberapa waktu berlalu
Aku Berdebat dengan Orang Terdekat
Sangat Panjang tentang Silaturahmi, Etika Bertetangga
Dan juga Adab dalam pergaulan
Menyangkut Semua Kebiasaan dan Tata Krama
Dalam kehidupan Kemasyarakatan, Dikupas juga Habis-habisan
Semua selesai dan berdamai setelah Adzan Ashar Berkumandang

Sejak semalam aku dibantai habis-habisan
Berkaitan dengan Kinerja dan Kompetensiku di Perusahaan
Aku Senang Mendapat Masukan, Meski sangat menyakitkan
Seminggu Belakangan, Aku memang kerja kurang fokus
Berturut-turut dapat berita duka dari sahabat, kerabat dan teman
Dalam Seminggu Meninggal tiga orang, karena Kanker,
Jantung dan Darah Tinggi..

Aku sangat Ketakutan dan Sulit Membayangkan, Sampai Akhirnya Aku Sadar…
Pada Akhirnya Kita Semua Akan Berjuang dan Meninggal Sendirian
Suami, Anak, Harta, Sahabat Semua Akan Kita Tinggalkan
Aku Baru Sadar Bahwa Kita Jangan Terlalu Mencintai Berlebihan
Di usiaku sekarang 38 Tahun, Aku Sudah Harus Banyak Memikirkan
Bagaimana Cara Aku Menghadap Tuhan.

 

Kesedihanku Akan Kehilangan dan Juga Masalah Pekerjaan Berakhir Hari ini
Dengan Satu Kesadaran Bahwa Apa yang Kita Miliki
Semua adalah Milik Tuhan
Aku Berusaha Menghilangkan Ego dan Keinginan
Yang Kadang-Kadang Muncul dari Bawah Alam Sadar
Seketika Menjadi Terang Benderang
Entah Selamanya atau Sesaat, Mungkin Aku Akan Menghindari
Bertemu Teman-teman, sahabat atau kerabat
Entah Sampai Kapan Adakalanya Aku Hanya Ingin Sendirian
Berkumpul dengan Pasangan Atau Orang-orang Terdekat Saja
Bukan Sombong Atau Apalah Tapi Memang Sedang Menghindar dari Kegaduhan
Aku juga Baru Menyadari, Semua Kelemahan dan Kekurangan
Yang Aku Miliki, Saat Hati ini Berbisik Pelan…
Bahwa Aku sekarang Harus Banyak Diam
Tidak Usah terlalu banyak Mengungkapkan
Teruslah Bekerja Keras dan Berprasangka Baik Sama Orang
Mempersiapkan Masa Depan dan Juga Akhir Kehidupan
Saat Aku Menyadari Semuanya
Saat itulah Adzan Ashar Berkumandang…

Pejaten 14 September 2017
Pukul 15.40 WIB

Sejak Maret 2017, aku hampir tidak pernah menulis di blog. Sangat malas dan tidak semangat. Bulan Juli sampai September sempat non aktif, karena ada sesuatu berdasarkan tracking dan menghilang sejenak dari google agar namanya tak muncul.

Kadang aku berpikir, aku terlalu show up atau pamer di blog, jadi adakalanya malu dan geli baca tulisan yang sudah lama, jadi lebih baik ditutup aja blogku, aku kadang berpikir demikian.

Seiring berjalannya waktu dan kerjaannya menumpuk aku larut dalam rutinitas. Beberapa hari yang lalu, aku buka website detik.com dan ada tulisan tentang Filantropis Bill Gates yang baru-baru ini rajin ngeblog review buku….ya ampuun seneng banget bacanya. Secara aku sejak lama review buku di blog ini, tapi aku tidak pernah peduli ada yang baca atau tidak, tapi bagiku ini sangat menyenangkan. Keponakanku Auliani Ekasari Putri dari Jogja juga tanya kok bibi blognya tidak aktif, akhirnya kemarin aku aktifin lagi.

Apa yang aku geluti sejak lama sekarang sudah banyak dilakukan orang. Aku salut dan sangat respek pada orang yang suka membaca atau pegiat literasi, meskipun kadang aku sendiri merasakan tidak semua orang suka membaca. Bahkan ada yang mengatakan aku terlalu teksbook dan kebanyakan teori, lebih baik banyak berbuat tidak usah terlalu lama baca buku, kata sebagian orang, yah bagiku itu adalah pilihan-pilihan kita dalam melakukan suatu kegiatan.

Salam Literasi Bersama Guru Berprestasi

Bagiku membaca saat ini adalah suatu yang mahal. Duduk, meluangkan waktu dan menelisik lembar demi lembar itu sangat menyenangkan. Di tengah kerjaan yang menumpuk. Dengan membaca kita dilatih untuk berempati dan peduli dengan apa yang diceritakan penulis. Nah, itulah kekuatan literasi. Olah rasa, olah jiwa dengan bacaan. Dari situ kita akan merasakan suatu kepuasaan tersendiri dengan apa yang disampaikan penulis, setting cerita dan terbawa suasana. Apalagi jika bukunya bagus kita review supaya orang juga tahu apa yang kita baca mereka rajin membaca dan membeli buku yang kita punya.

Beberapa waktu yang lalu, dalam kurun waktu teakhir saya rajin mengunjungi Perpus Kemendikbud, Perpus UIN Jakarta, Perpus Kemenkes, Perpusnas, FKM UI dan terakhir Perpustakaan Bank Indonesia. Saya suka berlama-lama di perpustakaan, karena tuntutan pekerjaan, setelah lama di lapangan untuk liputan dan bahan penulisan, biasanya saya mencari referensi di perpus. Tapi saya lebih suka perpus yang ga ada wifinya jadi kita tenang bisa membaca sampai selesai. Nanti kapan-kapan aku0 akan cerita pengalamanku selama 1,5 tahun mengunjungi aneka perpustakaan, ini seru dan mengasyikkan meskipun aku harus mengakhirinya karena harus ngantor lagi beberapa bulan belakangan.

di Perpustakaan Kemendikbud

Saat ini gerakan literasi sudah mulai menyeruak di berbagai lini, lingkungan sekolah misalnya, setelah berdoa diharapkan setiap murid membaca selama 10 menit buku cerita, itu yang diajarkan para guru untuk melatih murid agar senantiasa gemar membaca. Semoga kedepan orang akan semakin banyak membaca dan tentu saja, biasanya orang bisa menulis karena suka membaca. Jangan larut dengan hal-hal yang praktis luangkan waktu untuk menulis dan membaca.

di Perpustakaan Bank Indonesia

Pepatah mengatakan jika Sahabat terbaik adalah buku, ya buku bisa kita bawa saat susah senang dan melanglang buana kemanapun si penulis membawa cerita. Mencintai buku adalah mencintai ilmu pengetahuan, semakin banyak membaca semakin kita merasa bodoh. Disitulah kita menjadi tidak mudah terpengaruh dengan berita online dan berita hoaks yang bertebaran. Dengan membaca kita juga punya second opinion, referensi dan rujukan. Apapagi aku suka menstabilo kutipan yang memotivasi atau kata-kata bijak yang menyentuh hati. Bagiku itu ibarat kita menemukan berlian di tengah pusaran padang pasir.

kutipan-kutipan seperti ini yang kusuka

Maka mari kita rajin membaca, menulis apa saja, menulis puisi, cerpen atau menulis di blog, atau opini selagi sempat. Jangan menulis status kebencian atau sikap nyinyir yang justru membuat orang tidak nyaman. Barbaik sangka sama orang, dan tidak menyimpan rasa dendam, maka hati kita menjadi lapang. Kita menulis, bekerja apapun yang kita lakukan diniati ibadah, tidak mengharap pujian manusia, karena yang berhak menilai diri kita adalah Tuhan. Salam Literasi

Salam Literasi

Berikut saya tulis link yang membuat saya termotivasi untuk menulis di blog lagi, tidak jadi menutupnya.

Pejaten 7 September 2017

Salam Literasi

https://inet.detik.com/cyberlife/d-3629030/ternyata-ini-hobi-bill-gates-yang-membuatnya-pintar

Ternyata Ini Hobi Bill Gates yang Membuatnya Pintar

Fino Yurio Kristo – detikInet
Share 0 Tweet 0 Share 0 1 komentar
Bill Gates (Foto: Internet)

Jakarta – Bill Gates mengaku sudah kecanduan membaca sejak kecil. Itu adalah salah satu kunci kepintaran dan kesuksesan pendiri Microsoft tersebut. Tak sekadar membaca, ia bahkan juga sempat menulis beberapa review buku di blognya, Gates Notes.

Berikut wawancara singkat dengan Bill Gates yang menceritakan soal kecanduannya membaca, dikutip detikINET dari New York Times.

Seperti apa peran membaca dalam hidup Anda?

Membaca adalah salah satu cara utama bagiku untuk belajar dan telah kulakukan sejak masa kanak-kanak. Belakangan ini, aku memang mengunjungi tempat-tempat menarik, bertemu dengan para ilmuwan, dan menyaksikan banyak kuliah online. Tapi membaca masih tetap menjadi cara utama bagiku mempelajari hal-hal baru dan menguji pemahamanku.

Bill Gates

Apa yang membuat Anda memutuskan menulis review buku di blog?

Aku selalu suka membaca dan belajar, jadi kupikir akan bagus jika orang membaca sebuah review buku dan juga merasa terdorong untuk membaca dan membagikan apa yang mereka pikirkan dengan teman-temannya.

Salah satu alasan utama aku memulai blog memang adalah untuk membagikan pemikiranku soal apa yang kubaca. Jadi menyenangkan melihat orang menulis reaksi dan rekomendasi mereka di kolom komentar.

Bagaimana Anda memilih buku yang akan dibaca?

Melinda dan aku kadang saling bertukar buku yang kami suka. Aku juga mendapatkan rekomendasi dari teman. Setelah menyelesaikan buku yang bagus, aku sering mencoba menemukan buku lain karya penulis yang sama atau buku yang mirip tentang subyek yang sama.

Buku apa yang sering Anda rekomendasikan?

Aku membaca buku The Better Angels of Our Nature karya Stephen Pinker beberapa tahun lalu dan setelahnya langsung aku menemui Stephen untuk bicara padanya. Aku review buku itu di Gates Notes karena aku ingin orang lain membacanya, menyukainya dan belajar darinya seperti halnya diriku. Ini mungkin buku favoritku dan yang paling sering kurekomendasikan.

Apakah Anda juga membaca novel?

Aku memang tidak membaca banyak fiksi tapi pernah terkejut karena merasa sangat suka dengan novel berjudul The Rosie Project karya Graeme Simsion. Melinda yang pertama membacanya dan kadang membacanya dengan suara keras. Akhirnya, aku memutuskan untuk juga membacanya.

Aku mulai membaca novel itu pada jam 11 malam dan keterusan sampai jam 3 dini hari. Novel itu sangat lucu dan juga menunjukkan banyak empati bagi orang yang berjuang di berbagai situasi sosial.

Jika anda ingin membaca website pribadi Bill Gates, silahkan kunjungi http://www.gatesnotes.com

Resign?Maju Atau Mundur

Posted: May 15, 2017 by Eva in Artikel

Resensi Buku

Judul   : Resign, Memajukan Diri Bukan Mengundurkan Diri

Penulis: Mega Chandra (Me-Chan)

Penerbit: Self Publishing

Edisi     : Maret, 2017

sampul buku

Setelah sekian tahun anda bekerja, merangkak dari karir , yang paling bawah hingga mencapai posisi yang sudah mapan, atau bekerja lama tapi karir anda di perusahaan anda stagnan, maka pilihan untuk berhenti bekerja, dan tentu masih banyak alasan lain, karena ingin lebih memperhatikan anak dan orangtua (keluarga), karena sakit, atau karena tergoda ingin buka usaha sendiri.

Ada banyak alasan orang untuk memilih pilihan berhenti dari karir, namun tidak ada salahnya, sebelum anda memutuskan melanjutkan atau tidak karir anda, baca buku ini terlebih dahulu agar anda lebih menghadapi apa yang terjadi kemudian di masa yang akan datang, ketika karir anda berhenti, atau bahkan semakin melambung tinggi.

Buku berjdul ‘Resign” karya Mega Chandra ini, adalah buku kedua yang saya baca, buku pertama yang saya baca, adalah One Team One Goal bicara tentang cara kita bekerjasama dalam satu tim, sebuah buku penyemangat untuk saling berpegangan tangan membangun tim yang kompak untuk menuju satu kesuksesan. Resensinya bisa dibaca di sini Mengoptimalkan Teamwork, Hindari Ingin Maju Sendiri.

Nah buku terbaru, Motivator yang akrab dipanggil Me-Chan ini, membahas tuntas tentang Resign dari berbagai perspektif. Seperti biasa, ulasan penulis asal Lampung ini mengawali prolog dengan peristiwa sehari-hari kekininian tentang aneka perusahaan yang banyak mem-PHK karyawannya serta makin tergerusnya tenaga manusia oleh alih teknologi.

Namun, buku yang memiliki sampul artistik ini, tampil beda, tidak melulu pada satu titik tentang kenapa perlu resign atau tidak, tapi lebih kepada alasan dan gagasan untuk menghadapi rasa takut dan keluar dari zona nyaman agar anda bisa mengambil keputusan.

Mempersiapkan Diri Lebih Baik

Ada empat bab yang dibahas secara tuntas dalam buku ini. Pertama tentang Resign? Why Not, terdiri dari empat sub bab yaitu hadapi rasa takut, keluar dari zona nyaman, bertumbuh dengan SWOT Analysis, dan Ketakutan itu tidak akan terjadi.

Memasuki Bab dua, anda akan tercerahkan  dengan argumen lengkap, berjudul Why Resign? di sini akan didedahkan tentang dahsyatnya paradigma, Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Cepat. Sedangkan Bab ketiga, Me-Chan mendedahkan tentang Prepare Be Better. Ada tiga sub bab dalam buku ini yang menjelaskan tentang Good Preparation better than Good Explanation, Never Stop Study, Show up, Stand up, Speak up.

Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, pada buku kali ini di akhir setiap bab ada karikatur yang berkaitan dengan wacana yang dibahas tiap bab. Seperti bab empat yang merupakan inti dari buku ini, yaitu: Resign=Memajukan Diri. Menurut Me-Chan, menyiapkan diri baik mental dan skills adalah upaya terbaik yang harus kita lakukan jika kita siap menghadapi ujian dalam bentuk apapun, terlebih dengan tidak stabilnya kondisi perusahaan di mana kita dituntut selalu siap dengan segala resiko.

Resign itu harus maju, harus menjadi lebih baik karena yang mengajukan resign pasti seharusnya sudah jauh lebih siap dibandingkan yang di-resign-kan. Orang yang mengajukan resign pastinya sudah berpikir dalam tentang keputusannya apapun alasannya, itu sebabnya orang yang mengundurkan diri lebih siap dibandingkan dengan yang diberhentikan.

Namun sangat disayangkan apabila orang yang jauh lebih siap ternyata “resign” tidak mengalami kemajuan, resign tidak hanya karena bosan atau karena ingin mencari suasana baru tanpa perubahan apapun yang lebih baik. Baik dari sisi penghasilan, fasilitas atau yang paling utama yaitu kualitas dan karya yang lebih baik.

Dalam bab empat ini juga di bahas tentang Self Management dan Choose The Right Job for Us, Harus diingat memajukan diri bisa kita lakukan dengan banyak cara. Apapun yang kita pilih memiliki konsekuensi yang harus siap kita hadapi. oleh sebab itu kita harus lebih siap, maka proses reminder diri seperti self management dalam proses pengembangan diri mutlak harus kita jalankan jika kita ingin memiliki kebebasan memilih.

Jadi anda masih bingung dengan pilihan Anda? Tidak ada salahnya untuk membaca buku ini sebagai bahan pertimbangan. Selamat membaca

Eva Rohilah

Pengamat Buku tinggal di Depok

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-Mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet DeNeefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

 

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama di adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali, mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan imagining India pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee. Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali, ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain belok-belokan di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-fotoakhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara ke Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya, dan Alex mereka turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampe besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di neka Museum saya mengikuti sesi Migrant dan Refugees bersama Stef vaessen, Sami Shah, Chris raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang A Little Life yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemau Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Empat Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan.Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak saya ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirma 21.40

MENGARUNGI PERJALANAN SPIRITUAL-INTELEKTUAL

Judul: Bahkan Malaikat Pun Bertanya
Penulis: Dr Jeffrey Lang
Pengantar: Jalaluddin Rahmat
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama: Oktober 2000
Tebal: (xix + 302) halaman

Buku Jefrey Lang

Buku Jefrey Lang

Buku Bahkan Malaikat pun Bertanya ini berangkat dari keprihatinan penulisnya setelah melihat banyak orang Islam di negerinya menghindari atau bahkan mengingkari agama itu, lantaran tak mampu mendamaikan agama yang mereka warisi dengan pandangan Barat sekuler yang mereka peroleh.
Fenomena yang sesungguhnya melanda nyaris semua negeri muslim ini telah membelah umat Islam ke dalam dua kubu yang berlawanan: mereka membekukan dirinya dalam tradisi lama dan mereka yang mengekor pada peradaban Barat.

Yang pertama memandang pemikiran Islam terdahulu sebagai rujukan ideal, dan yang kedua melihat Barat sebagai puncak peradaban. Yang pertama kaum fundamentalis, sedangkan yang kedua kaum liberal.

Kedua kelompok itu sama “menyesatkan”. Agar tidak terperangkap dalam bahaya itu, lewat buku yang dalam peringkat Amazon.com mendapat bintang lima ini penulis menganjurkan umat Islam senantiasa mengembangkan sikap kritis. Baik dalam memandang realitas faktual yang muncul, maupun dalam memahami pesan-pesan Islam itu sendiri.

Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu stereotip yang populer di Barat. Disebut stereotip karena, kesan-kesan itu terus bertahan walaupun “survei membuktikan” bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab.

Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah nama apapun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila masuk Islam atau naik haji?

Hal seperti itulah yang mengusik Jeffrey Lang, ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan tidak mengganti namanya, seperti Cassius Clay yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk ditukar dengan jubah dan sorban seperti Cat Steven, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga tak pernah mengubah Thank God sebagai pengganti Alhamdulillah.

Menurut mualaf Amerika penulis buku terkenal Struggling to Surrender (telah di Indonesiakan menjadi Pergumulan Menuju Kepasrahan, Serambi, Juni 2002) ini, cara yang paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukan mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik.
Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan, katanya. Bahkan malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan pun bertanya! Mereka “berani” mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka Bumi: Apakah Engkau akan jadikan disana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

BUKU ini membawa pembaca mengarungi perjalanan spiritual intelektual dengan mendiskusikan konflik-konflik yang terjadi antara agama dan akal, rintangan-rintangan yang dipasang oleh kaum Muslim sendiri yang menghalangi orang untuk memeluk Islam, ekstremisme dalam komunitas Islam, dan lain-lain.

Bahkan Malaikat Pun Bertanya, memiliki arti umum yang sangat penting, ditulis dengan sangat bagus (orang mungkin tidak mengira bila penulisnya seorang guru besar matematika), dan merupakan hasil dari kajian yang baik.

Memang buku ini adalah gambaran hidup tentang bagaimana Jeffrey Lang begitu tertarik kepada Islam tanpa terbendung lagi. Namun, buku ini juga menawarkan suatu program yang solid dengan menawarkan alasan yang baik bagi semua orang Amerika lainnya memerlukan kajian rasional yang luas dan mendalam sebelum berserah diri pada Allah.

Perjalanan spiritual Dr. Lang menjadi terkesan unik dan menarik ketika ia ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapi, ia berhasil menemukan pencerahan baru: no escape from being an american. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya.

Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya. Islam tidak pernah datang dari suatu vakum kultural. Karena itu, maka ditemukanlah Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indonesia. Dan mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?

Akan tetapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah jatuh pada hambatan besar: mengekor Barat? Memang disamping kaum fundamentalis yang mengekor kebudayaan Arab, kita juga menemukan kaum liberal yang mengekor Barat sebagai puncak peradaban.

Terlepas dari jebak-jebakan itu, Dr Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis pada bab 2 buku ini: “Cara paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukanlah mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik, melainkan justru harus sebaliknya. Komunitas Muslim harus terus mendorong kedua hal itu. Kita cenderung berbuat salah manakala kita tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri”.
***
MEMBACA buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalanan spiritual, bukan saja seorang Muslim Amerika, tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun ketika ia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dan Islam aktual.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang perspektif orang non-Muslim tentang Ramadhan. Mereka menilai bahwa puasa merupakan ibadah ritual yang paling keras dalam Islam (hlm 216).
Namun perlu diperhatikan, bahwa ada beberapa kekhawatiran dari buku ini, yakni dapat menjerumuskan pembaca non-Muslim pada kesan keliru dan sepihak tentang kaum Muslim. Boleh jadi pemburukan media Barat atas citra kaum Muslim dan agama mereka.

Jeffrey Lang menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli (berdasarkan akal) dan nakli (berdasarkan Al-Qur’an).

Uraian Dr Lang dalam buku ini juga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan. Bisa dibaca oleh siapa saja dan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan serius maupun ringan.

(Eva Rohilah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di harian Kompas edisi 11 Maret 2001, waktu itu ditelepon sama Pak Dewa Brata Redaktur Pustakaloka yang terbit setiap Senin, honornya saya masih ingat 350.000 sangat besar ukuran saat itu, dari sini pula saya diberi beberapa buku baru dari Penerbit Serambi yang Chief Editornya Pak Qamaruddin SF, setelah saya kerja di Alvabet kita sering bertemu sebagai sesama penerbit dan bersahabat baik dengan beliau.

JUNJUNGLAH TINGGI SISTEM NILAI YANG EGALITER

Judul: Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan
Penulis: Dr. Irwan Abdullah
Editor: Ana Samsuri
Penerbit: Tarawang Press Yogyakarta
Cetakan 1 Maret 2001
Tebal: (xvi + 222) halaman

Buku Irwan Abdullah

Buku Irwan Abdullah

Diawali dengan ide dan gagasan RA Kartini lewat buku Habis Gelap terbitlah Terang perjuangan perempuan untuk kesetaraan hak sampai kini terus bergulir. Bahkan, belakangan ini wacana itu menjadi semakin marak, lantaran dalam rentang waktu yang demikian panjang dan lama, perempuan menuju persamaan hak belum juga mencapai klimaks.

Dalam struktur yang hegemonik sekalipun, sesungguhnya perempuan melakukan pilihan bagi hidupnya. Perempuan bukan pihak yang menerima begitu saja kenyataan hidup.

Akan tetapi, mengapa dalam praktik sosial, perempuan mau mengalah atau dikalahkan? Kesalahan utama yang dilakukan para politisi, peneliti, dan kaum feminis, adalah mereproduksi struktur patriarirkal dengan menekankan wacana ketimpangan jender, perempuan sebagai makhluk yang lemah, tergantung, halus, dan sebagainya.
Dengan cara itu sesungguhnya kita tidak melakukan apa-apa untuk kesejahteraan perempuan. Sebaliknya, perempuan malah tersubordinasi secara terus menerus oleh wacana yang dibangun orang-orang yang sangat ingin membantu perempuan sekalipun
***
Buku Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan ini terdiri dari empat bagian, atau sebelas bab. Ditulis dengan saksama oleh dosen Fakultas Sastra UGM yang sangat tertarik pada masalah perempuan sejak mahasiswa. Penulis itu Dr. Irwan Abdullah, seorang feminis kelahiran Aceh Utara 37 tahun yang lalu.

Melalui bukunya tersebut ia berusaha membawa pembaca mengikuti dua arus besar yang melanda dunia ketiga. Dalam ranah sosial, pembicaraan mengenai perempuan telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan pada saat konsep “jender” digunakan sebagai perspektif. Jender lebih menunjuk kepada relasi dimana kaum lelaki dan perempuan berinteraksi.

Hal tersebut menjadi rumit tatkala perempuan memainkan berbagai peranan sekaligus. Perempuan ideal kemudian menjadi superwoman yang memiliki kapasitas domestik dan diharapkan memiliki kapasitas dalam bidang publik secara sempurna. Posisi laki-laki disini tampak cenderung tidak digugat.
Secara implisit dinyatakan bahwa peran publik merupakan tanda kemerdekaan perempuan, dan peran domestik digugat karena dianggap telah memenjarakan perempuan. Cara-cara seperti ini sesungguhnya ikut mereproduksi realitas tentang stratifikasi sosial.

Dalam proses migrasi dari domestik ke publik, perempuan harus mengeluarkan biaya ideologi yang begitu besar. Perempuan tidak hanya harus memiliki kualitas yang sama dengan laki-laki untuk memenuhi kriteria sebuah pekerjaan, tetapi juga harus cantik dan menawan. Bukankah ini sekaligus pelecehan terhadap perempuan.

Pada bagian lain, arus balik yang terjadi berasal dari realitas ekonomi. Hal ini berawal dari penandaan tubuh perempuan yang terbingkai dalam fungsi biologis reproduktif ke arah fungsi ekonomi demi ekspansi kapital. Tubuh dan hasrat digunakan sebagai titik sentral produk yang disebut sebagai ekonomi libido.

Pembahasan soal itu menjadi menarik ketika menyangkut masalah tubuh perempuan dalam iklan dan rimba laki-laki. Stigma ini cukup diimbangi dengan peranan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi.

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Imbangan itu antar lain tampak dari hasil penelitian tentang bagaimana peranan perempuan dalam pasar, pedesaan, dan kerajinan rumah tangga yang lebih menenkankan pada aspek mobilitas dan mengangkat marginalitas profesi seperti bakul (penjaja), tukang jamu. Bahkan juga peranannya dalam home industry.
***

Pesan utama dari penulis adalah bahwa usaha perbaikan kehidupan perempuan bukan usaha memerangi laki-laki tetapi mengubah sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obejek. Perubahan ini akan terjadi apabila bertumpu pada struktur yang menjunjung tinggi sistem nilai dan ideologi yang egaliter.

Kekuatan utama buku ini pada epilog yang merupakan rajutan dari berbagai bab. Masing-masing bagian digarap secara serius karena beberapa bahan dalam buku ini hasil penelitian lapangan serta riset perpustakaan yang dilengkapi dengan data kuantitatif yang cukup akurat.
Disamping itu ada terobosan yang cukup berani untuk melakukan penyegaran, penyusuran, dan penggerusan yang cukup mendalam atas kompilasi wacana yang telah ada, kritikan terhadap kaum feminis, sampai sindiran yang tajam terhadap kaum oportunis.

Sayangnya ada satu kelemahan yang cukup fatal, yaitu tidak seimbang (equal) antara judul buku dengan substansi, yakni dimensi seksisme kurang begitu disentuh secara mendalam. Ulasannya teramat singkat hanya sebatas retorika dan obyektivitas reproduksi dalam kaitannya dengan kekuasaan lelaki.
Hal itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran editor yang kurang memperhatikan grand opinion dan tidak fasih dalam menerapkan gaya penulisan ilmiah sehingga buku ini terkesan kaku meskipun alur penulisannya dari awal hingga akhir menarik.

Akan tetapi, setidaknya, sampul bergambar RA Kartini yang melankonis akan sedikit mengeliminir kelemahan buku ini. Yang jelas, dengan kelebihan dan kekurangannya itu, buku ini telah menambah panjang koleksi buku feminis. Siapapun yang peduli akan nasib, pendidikan, dan masa depan perempuan akan memperoleh manfaat dari buku ini.
(Eva Rohilah mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurnalis LPM Sinergi Yogyakarta)
Dimuat di Harian Kompas edisi 28 Mei 2001

JANGAN LUPAKAN TRADISI

Judul: Agama, Negara, dan Penerapan Syaria’ah
Judul Asli: Ad-Din Wa Ad Daulah wa Tathbiq As-Syari’ah Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah (Beirut 1996)
Penulis: Muhammad Abed Al Jabiri
Penerjemah: Ulin Nuha
Penerbit: Fajar Pustaka Bru, Yogyakarta
Cetakan I, September 2001
Tebal: (xxxvi + 201) halaman

Buku Abed Al-Jabiri

Buku Abed Al-Jabiri

MUHAMMAD Abed Al-Jabiri seorang pemikir terkemuka Arab saat ini yang mengangkat berbagai gagasan segar dalam rangka kebangkitan Islam, khususnya di lingkungan negara Arab. Ia punya analisa yang cukup signifikan terhadap masalah yang menyita kaum muslim tentang hubungan negara dan agama.

Masalah itu menjadi mendesak karena kemunculan negara-negara bangsa (nation state) dan berhembusnya semangat sekularisme yang dibawa Barat Modern. Dia mengemukakan pertanyaan apakah Islam itu agama atau negara merupakan pertanyaan palsu karena diajukan oleh kebudayaan Barat dengan segala pengakuan historis yang dilaluinya, bukan cermin realitas kaum Muslim sendiri.

Menurut Al-Jabiri, kalau mau jujur menelaah Al Qur’an dan sejarah Islam, kita akan menemukan fakta bahwa Islam tidak pernah menentukan jenis dan bentuk negara. Rujukan historis maupun praktis tentang kenegaraan Islam hanya ada pada praktik sahabat Nabi SAW, yang menurut dia, itu hanya suatu ijtihad.

Oleh karena itu, sesuai perkembangan zaman, Al-Jabiri dengan tegas mengatakan bahwa demokrasi merupakan sesuatu yang niscaya bagi kaum Muslim untuk masa kini dan masa depan. Meskipun dia tidak naif dengan mengatakan bahwa para sahabat Nabi SAW telah mempraktikkan demokrasi melalui ajaran syura yang dianggap mempunyai urgensi yang sama dengan demokrasi.

Jika negara itu demokratis, bagaimana dengan penerapan syariah, bagaimana meletakkan syari’ah dalam sebuah negara demokrasi? Al-Jabiri kembali membongkar tradisi dan sejarah secara rasional. Baginya, praktik kenegaraan dan penerapan hukum syariah harus dikaji dan ditelaah secara mendalam. Di sini hukum Islam dianggap sebagai hukum yang hidup (the living law) dan menjiwai setiap aturan tanpa memaksakan simbol sebagai suatu ciri yang otentik.

Buku yang merupakan terjemahan dari kumpulan artikel dari Bahasa Arab ini ditulis oleh Abed Al-Jabiri yang dewasa ini pemikiran dan gagasan-gagasannya dibicarakan oleh kalangan intelektual Muslim berkenaan dengan semakin menguatnya wacana post tradisionalisme Islam dan kajian tentang Islam Liberal.
***

TIDAK ada salahnya jika sebelum membaca buku ini akan diperkenalkan terlebih dahulu tentang sosok Al-Jabiri.
Intelektual Muslim kelahiran Maroko tahun 1936 ini menempati posisi garda depan pemikiran Islam Arab kontemporer, sederajat dengan Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Hamd Abu Zayd, Bassam Tibi, Muhammad Imarah, Fatima Mernisi, Adonis. Al-Jabiri sering menulis berseri di beberapa harian ternama Timur Tengah, seperti Al-Syarqah Ausath.

Dalam suatu kesempatan pada waktu seminar di Berlin, Jerman, yang diselenggarakan oleh Federich Ebert Stiftung pada tahun 1996, Al-Jabiri bertemu dalam satu forum dengan Abdurrahman Wahid dan Fatima Mernissi yang sama-sama berbicara tentang Civil Society In the Moslem World.

Edisi Cetak Harian Kompas

Edisi Cetak Harian Kompas

Salah satu tulisannya yang terkenal adalah Naqd al-Aql al’Arabi (Kritik Nalar Arab) yang mejadi perdebatan di kalangan intelektual Muslim karena berbeda dengan “Kritik Nalar Islam” Arkoun. Dalam bahasannya itu, jelas sekali pemikirannya tentang perubahan makna akal tersebut banyak dipengaruhi oleh tokoh filsafat Perancis seperti Jacques Lacan, Althusser, Jacques Derrida, Roland Barthes, dan Michael Foucoult.

Hingga kini tulisan-tulis Al-Jabiri bentuk buku telah mencapai angka belasan. Salah satu kumpulan tulisannya di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Baso bejudul Post Tradisionalis Islam (LKiS Yogyakarta, 2000) banyak mengulas tentang pejalanan intelektual Al-Jabiri dan relevansi tradisi dalam pemikiran Islam kontemporer.
***

DALAM penuturannya yang cukup lugas lewat buku ini terasa kepeduliannya terhadap tradisi (al turats) cukup kental dan mewarnai uraiannya. Salah satu persoalan krusial saat ini bagi kebangkitan Islam adalah bagaimana menyikapi tradisi dalam kehidupan bernegara dan beragama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sepanjang sejarah.

Menurut Al-Jabiri ada dua hal penting yang menyertai kekinian, yang tetap hadir dalam kesadaran atau ketidaksadaran kita, dan kedua adalah tradisi yang mencakup kemanusiaan yang lebih luas seperti pemikiran filsafat dan sains.

Sikap kaum Muslim terhadap tradisi mempunyai corak yang berbeda, ada yang menolak apa saja yang bukan dari tradisi Islam karena apa yang ada dalam tradisi tersebut dinilai sudah memadai. Seperti ulama konservatif dan mereka yang justru tidak memiliki pengetahuan yang memadai karena dididik oleh tradisi lain yang sudah memadai.

Kedua, mereka yang menganggap bahwa tradisi sama sekali tidak memadai dalam kehidupan modern saat ini, karena itu harus dibuang jauh-jauh. Kelompok ini adalah mereka yang berpikiran sekuler dan liberal ala Barat sehingga menganggap kebangkitan tidak akan bisa dicapai kecuali mengikuti pola Barat.

Kedua sikap tersebut menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang (ekstrem). Oleh karena itu Al-Jabiri mencoba mencari jalan keluar dari dua sikap ekstrem itu dengan tawaran agar kita berusaha bersikap dan berpijak pada tradisi. Namun, tentu bukan dalam kerangka tradisi kita melebur didalamnya dengan segenap gerak dan gelombangnya, tetapi lebih diperlakukan sebagai produk kebudayaan manusia, sebagai produk ilmiah yang senantiasa berkembang.

Dari sini kita belajar berpijak pada tradisi kita sendiri secara sadar, kritis, dan rasional. Di Indonesia pemahaman tentang konsep ini sekarang sedang aktual diwacanakan sebagai “post tradisionalisme”.
***

BUKU yang terdiri dari dua bagian ini berusaha memposisikan hubungan agama dan negara dalam rujukan tradisi dan kebangkitan (renaissance). Penerapan syari’ah diulas secara mendetail, mulai salafisme sampai dengan ekstremisme, antara akidah dan syari’ah, juga diusahakan merasionalkan hukum-hukum syari’ah (hlm 168).

Beberapa kritik terhadap Mazhab Syafi’i, dan ajakan untuk menolak hukum (hudud) berdasarkan argumen ketidakjelasan, akan menjadi wacana yang menarik ketika hukum diletakkan dalam posisi agama dan negara, dengan memperhatikan tradisi dan budaya lokal.

Metode telaah kontemporer yang diajukan Al-Jabiri, merupakan sebuah terobosan yang cukup penting dan aktual dengan kondisi tanah air kita. Selama ini banyak orang yang menelaah tradisi untuk mencari sandaran otoritas belaka tanpa menyadari dimensi historis dan ideologis yang melahirkan tradisi itu.

Dalam hal ini sikap terbuka Al-Jabiri terhadap demokrasi dan HAM dengan tanpa sedikit pun merasa terancam dengan kehilangan identitas keislamannya, juga merupakan satu hal yang patut diperhatikan.

Dalam hal tersebut strategi Al-Jabiri untuk mendudukkan pemikiran Barat dan Islam pada mekanisme dan historitasnya masing-masing, adalah sesuatu yang diambil dari semangat Ibn Rusyd dalam menjelaskan hubungan agama dan filsafat. Itu boleh dibilang sebagai merupakan strategi yang cukup menjanjikan.

Terlepas dari sampulnya yang kurang begitu menarik, isi buku ini akan sangat bermanfaat bagi khazanah intelektual Muslim, sebagai wacana alternatif dalam membincangkan kembali agama, negara, dan penerapan hukum (syari’ah) secara proporsional, tanpa melepaskan tradisi, pluralisme, dalam dinamika pergolakan pemikiran Islam kontemporer.

• EVA ROHILAH
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dimuat di Harian Nasional Kompas edisi 22 Maret 2002

Iseng-iseng buka file lama, tulisan lama waktu kuliah di Jogja sejak tahun 1998-2003. Di tulis ulang oleh  Vidia Hapsari, anak tetangga di Pamulang Elok sekolah di MTsN Pamulang.

Masing-masing ada sejarahnya tulisan yang kebanyakan resensi buku ini. Berikut saya ulas seingatnya, kapan dimuat dan berapa honornya juga lupa hehe..

MERETAS ALTERNATIF SOSIALISME DAN AGAMA

Resensi Buku: Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat
Editor: Muhidin M Dahlan
Cetakan: 1 Juli 2000
Penerbit: Kreasi Wacana
Prolog: Muhammad Hatta

Sampul Buku

Sampul Buku

Tema wacana sosialisme religius dan Islam “kiri” kembali jadi perbincangan dalam kajian berbagai seminar maupun diskusi keagamaan. Kajian sosial ekonomi pun ikut mewarnainya dengan semkain merajalelanya kapitalis, sehingga menambah khazanah ilmu sosial menjadi tak pernah kering ataupun menjemukan. Apa yang ditawarkan Giddens dalam The Third way-nya bukanlah jawaban terhadap permasalahan yang ada dalam sistem kapitalisme. Dan mereka hanyalah bagian ‘marketing’ kapitalisme terhadap kehidupan dunia.

Tema itu pulalah yang menjadi sentral of idea dalam buku yang berjudul Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat yang disusun secara gotong royong oleh para penulis yang kebanyakan dari aktivis pergerakan mahasiswa. Lewat telaah sosiohistoris, buku ini berusaha membongkar “secara radikal” tentang segala asumsi teoritis dari opini umum selama ini tentang perspektif ideologi sosialis – marxist atau islamis dengan mempresentasikannya pada analisa yang kongkrit sekarang ini.

Prolog buku ini sangat menarik dengan memuat buah pikiran salah satu dari founding father Drs Moh Hatta (alm) yang pernah dimuat pada harian Daulat Rakyat edisi 30 September 1932. Moh Hatta, memfokuskan pada penyelesaian krisis pada masa itu yang diakibatkan oleh serangan kapitalisme dan Imperialisme barat yang mengakibatkan rakyat kelaparan dan tidak adanya keadilan serta disemangati oleh individualisme yang tinggi sebagai reaksi atas ajaran agama pada waktu itu.

Ide yang ditawarkan sebagai solusi kala itu adalah pergaulan rakyat, yaitu pergaulan hidup kolektivisme berdasar persamaan yang telah lama dianjurkan oleh Nabi Isa sejak lahir, dilanjutkan oleh Umat Islam dalam penganjur kaum buruh pada waktu itu, yaitu Karl Marx sampai Lenin.

Edisi Cetak di KR

Edisi Cetak di KR

Hal ini tentu saja sangat representatif dengan kondisi bangsa saat ini yang sedang dirundung krisis membutuhkan suatu pemecahan yang lebih mendasar dan fundamental. Kebijakan publik yang telah diambil untuk menangani krisis terkesan hanya terpatok pada perspektif ekonomis. Asumsi dasar para pembuat kebijakan, eksekutif dan legislatif serta para pengkritiknya sesungguhnya relatif sama. Perbedaan diantara mereka hanya pada prioritas teknis, anggapan intensitas hubungan antara faktor dan beberapa detail kebijaksanaan.

Secara umum buku ini dibagi dalam tiga tahap pembahasan. Pertama, pembahasan Sosialisme dipanggung ideologi dunia. Ideologi saat ini tidak bisa lagi disebut alternatif, ideologi adalah instrumental.

Alat penjelas yang kaku dan ketat yang dibutuhkan guna mengarahkan pikiran dan tindakan secara efisien. Ketidakminatan masyarakat pada sosialisme bisa kita rujuk dalam bentangan sejarahnya sendiri yang memang cukup variatif. Meretas langkah sosial demokrasi kerakyatan menurut Budi Irawanto, Imam Yudhotomo, dan Ihsan Abdullah Aktivis PRD, merupakan jalan menuju revolusi sejati.

Dengan mempelajari kegagalan kapitalisme di masa lampau, Bonnie Setiawan berusaha menyusuri paradigma alternatif pasca kapitalisme dengan menimbang tradisi kiri, yang diperkuat oleh pernyataan Dadang Juliantara yang mengaplikasikannya dengan ideologi agraria. Melacak jejak sosialisme Religius merupakan pokok pikiran pada bagian kedua, Muhammad Romzy dan Hajriyanto Y Thohari berusaha mendeskripsikan Pseudo Ideologi dan kohorensinya sosialisme dengan agama.

Secara Historis Suhendra menjabarkan secara mendetail tentang peta pergerakan sosio religius Yesus dari Nazareth suatu penghampiran sosiologis, sedangkan Jarot Doso Purwanto aktivis (HMI DIPO) lebih banyak menyoroti lanskap sosialisme religius dalam pusaran sejarah Indonesia.
(Eva Rohilah)

Ini adalah tulisan pertama kali aku dimuat di media “Kedaulatan Rakyat” pada 28 Februari 2001. Harian Lokal di Jogjakarta.

Tulisan berikutnya resensi di Harian Bernas

SULITNYA MERAJUT KEMBALI NASIONALISME YANG TERKOYAK

Judul: Nasionalisme Etnisitas (Pertaruhan sebuah wacana Kebangsaan)
Kata Pengantar: Drs Cornelis Lay MA
Tim Editor: Dr Th Sumartana, Elga Sarapung, Zuly Qodir, Samuel A Bless
Cetakan: 1, Februari 2001
Penerbit: Dian/Interfidel, kompas dan Forum Wacana
Tebal: xvii + 184

Sampul Buku

Sampul Buku

NASIONALISME sekarang ini bagiakan matahari yang redup di jagad khatulistiwa. Sinarnya nyaris habis karena digerogoti oleh primordialisme separatis dan globalisasi etnisitas. Seperti tatapan hampa seorang ibu yang kehilangan anak yang dicintainya. Menemukan kemballi anak yang hilang itu penuh perjuangan dan pengorbanan. Diwarnai ketegangan, dan ketidakpastian. Seperti halnya ketika kita nyaris kehilangan rasa nasionalisme.

Pergumulan wacana tentang nasionalisme menjadi sangat privat, orang per orang, tidak menyebar ke seluruh level masyarakat, terutama lapisan bawah. Mereka dilupakan karena keangkuhan interes-interes yang mengitari imajinasi dan berfikir kita yang disetir kekuasaan rezim. Mendiskusikan hal-hal pelik apalagi menyangkut soal kenegaraan menjadi sangat mahal, karena penguasaan public sphere sungguh luar biasa dominannya sehingga menjadi riil halangan untuk hidup dengan sikap demokratis.

Dengan semangat menumbuhkan wacana baru di Republik ini, kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi ini mencoba “memotret” sisi lain dari apa yang diperbincangkan di atas tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi ekonomi. Buku “Naionalisme Entisitas” ini menuturkan dan menganalisis proses merajut kembali nasionalisme yang sempat terkoyak dalam beberapa dekade terakhir ini.

Rumitnya jalan demokrasi di era reformasi semakin menambah runyam muka bangsa. Hal ini terlihat dari semakin merajalelanya konflik budaya yang terjadi di negeri seribu satu etnis. Selama ini budaya hampir tidak mempunyai ruang dan manifetasi dalam tekanan doktrin nasionalis kebangsaan yang semu. Ruang manifestasi budaya asli negeri ini terbuka sesudah gerakan reformasi. Namun karena tidak mempunyai mode manifestasi dan ketika sistem yang ada tidak memberi cukup toleransi, munculah beragam konflik dan kerusuhan massal di berbagai daerah.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi forum wacana muda, Kompas dan Interfidei. Suatu terobosan cerdas yang berusaha menggambarkan secara detail tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi. Tiga sudut pandang yang membelah buku ini menjadi tiga bagian.

Edisi Cetak di Harian Bernas

Edisi Cetak di Harian Bernas

Bagian pertama Nasionalisme pertaruhan sebuah definisi yang ditulis oleh LPM Laksono. Secara Historis, PM Laksono menggunakan analisa Lombart berangkat dari ruang politik menjadi serat benang budaya yang mempertalikan apa yang dibayangkan nasionalisme masa lalu dan cita-cita bersama dengan studi komparatif nasionalisme di berbagai negara. Penulis berusaha menarik kesimpulan global mengenai problema nasionalisme yang dicekik dan tercekik kekuatan etnisitas dan globalisasi, terkait dengan hal itu, Rocky Gerung menemukan problema disintegrasi atau keretakan pada tiga arena penting yaitu: Kekuasaan politik, penguasaan wilayah, dan identitas kekuasaan. Ia mengandaikan nasionalisme sebagai sebuah ideregulatif dalam filsafat berfikir Kant. Keretakan antara ketiganya akhirnya lahir dalam bentuk “krisis kebangsaan” yang berkepanjangan sampai saat ini.

Bagian kedua: Wacana kebangsaan dan warga negara, di kupas tuntas oleh Faruk HT dan Dede Oetomo, mereka lebih mempertegas kebutuhan psikis obyektif dari sebuah bangsa akan nasionalisme. Perkembangan kontemporer politik juga mempengaruhi perilaku bangsa dalam memahami nasionalisme. Yang menarik pada bagian ini adalah analogi dari sebuah Nasionalisme pada masa orde baru yang bersifat semu. Ibarat peralatan politik. Dapat dibayangkan semacam kotak politik yang dibawa kesana kemari.

Bagaimana wacana NKRI dan Federalisme di pahami tidak secara substantif lebih kepada konstruk personal elit politik saja. Bahkan otonomi daerah sebagai sebuah solusi berjalan tersendat karena perbedaan pendapatan perkapita yang menghambat.

Dalam Nasionalisme dalam globalisasi ekonomi pada bagian ketiga, lebih menekankan pada perilaku “meniru” yang menjadi image di Indonesia. Bentuk peniruan yang punya akibat serius adalah apa yang disebut sebagai bangsa yang konsumtif atas barang-barang asing yang menyumbangkan kemajuan bagi negara lain di atas harga yang mesti dibayar sendiri.

Peresensi Eva Rohilah
Mahasiswa Fak Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dimuat di Harian Bernas 13 Mei 2001