Kongkalikong Dana APBN di Pelbagai Kementerian

Posted: December 12, 2017 by Eva in Artikel

Wah mengerikan sekali ya, bagaimana penyusunan uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini di perjual belikan dengan uang amplopan rapat di pelbagai kementerian, bagiku ini temuan yang sangat menggembirakan.

Waktu aku menulis ini, aku sedang dalam perjalanan ke Perpustakaan Kementerian Pendidikan tapi lewat jalur Kementerian Kehutanan. Di sana aku melihat betapa mengerikan sekali bagaimana uang APBN di putar-putar hanya untuk kepuasan para Pegawai Negeri Sipil (PNS) terutama yang suka mengatur pencetakan uang di Kementerian Kehutanan dan Bank Indonesia.

Akan tetapi aku tahu siapa sebenarnya yang ingin membersihkan? justru yang ingin membersihkan dunia hitam orang-orang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menggandakan uang APBN untuk membantu orang-orang Palestina tapi lewat jakur Hezbollah. Dan yang sangat mengerikan itu, mereka adalah alumni Institut Pertanian Bogor (IPB)dan Institut Teknologi Bandung (ITB) terutama aktifis Mesjid Salman yang tidak tahu sejarah Palestina dan suka demo-demo pro Palestina tapi sebenarnya mereka memberi makan pasukan asal Yaman dan Kurdistan dalam hal ini Hezbollah yang sangat tidak disukai oleh Bangsa Israel dan Bangsa Palestina.

Jadi sebenarnya yang terjadi pada konflik Israel Palestina adalah orang-orang Hezbollah dimana mereka adalah orang-orang malas. Kamu tahu apa itu Hezbollah? Dia adalah orang-orang keturunan Yasser Arafat yang mengklaim bahwa negara Palestina adalah saat yang memberikannya adalah orang Indonesia.

Akan tetapi siapa justru yang mendalamaikan?Kita semua tahu siapa yang mendamaikan Israel-Palestina adalah Raja Jordania yang ingin memberitahu Donald Trump agar membiarkan para Yahudi pengelola Silicon Valley kembali ke Yerussalem dan membangun Israel sebagai bangsa yang maju seperti Amerika Serikat.

Kamu tahu siapa itu orang Yahudi Israel yang sangat ingin mendamaikan konflik? Mereka adalah Mark Zuckerberg, Bill Gates, Jack Windsor, John Bezos, Stanford Rockerfeller dan pendiri wordpress yang aku pakai sekarang ini, yaitu Matt Lawonski. Mereka semua adalah orang-orang Yahudi yang selama ini diberi keserdasan untuk membersihkan dunia dari kemunafikan orang-orang malas yang ingin menjadi besar dengan dan atas nama bantuan.

Kita semua tahu siapa itu orang Indonesia yang asli Yaman dan Kurdistan yang sekarang ini menghilang. Dia adalah orang Indonesia yang punya sihir dan syair Mesir Mesir yang ada di Jaringan Islam Liberal (JIL) dan siapa itu tokoh Yaman yang pemalas dan sangat bangga dengan sex harrastment terhadap anaknya sendiri adalah orang yang selama ini menghiasi wajah Islam moderat Indonesia, justeru sebenarnya mereka adalah orang-orang pemalas yang ingin dimuliakan.

Saya kira kita tidak usah menyebutkan siapa mereka, orang-orang yang suka membaca Al-qur’an sudah tahu siapa dia. Dengan demikian kita semua tahu bahwa sebetulnya konflik Israel Palestina akan berhasil jika Amerika Serikat memberikan izin kepada Jordania untuk mengusir pasukan Hezbollah untuk pergi dari Yerussalem dan orang-orang Yaman dan Kurdistan pergi dari Yerussalem. Jika mereka semua pergi, maka dengan senang hati kami semua orang Yahudi di seluruh dunia akan pergi ke Yerussalem dengan semua orang Yahudi yang ada di seluruh dunia untuk membangun kembali Israel. Dasn kami orang Israel yang merupakan kamu Yahudi keturunan Nabi Musa (Judaism) dan kaum Palestina (Pallaz and Tiens) atau kami menyebutnya kaum dengan cara damai.

Sekarang ini, kami ingin pasukan Jordania menarik semua pasukan Hezbollah dari Yerussalem dengan catatan, Republik Yaman Utara dan Yaman Selatan mau menerima orang-orang malas yang ada di Palestina. Begitu juga, pemerintahan Republik Turki yang ada di bawah pemerintahan Erdogan menerima orang-orang Kurdistan yang sangat malas dan hanya ingin makan uang sumbangan dari Indonesia yang selama ini merupakan uang recehan dari Dompet Dhuafa dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang seharusnya diberikan diberikan kepada orang tidak mampu di Indonesia justru diberikan kepada orang-orang malas di Yerussalem dan Tel Aviv.

Siapa sebenarnya Dompet Dhuafa dan Partai Keadilan Sejahtera? Silahkan kalian semua membaca di website pribadi mereka. Aku tahu saat ini ada orang di DPR yang tidak disukai oleh orang PKS dan Dompet Dhuafa, tapi dia memang tidak pernah menyumbang kepada Hezbollah, dia hanya menyumbang kepada Daerah Pemilihannya di Nusa Tenggara Barat. Akan tetapi siapa sebenarnya yang cerdas, bukan dia, tapi stafnya yang merupakan sahabat suami aku yang memang sangat menyukai sejarah. Baik sejarah Indonesia, sejarah dunia yang diterbitkan Pustaka Alvabet yang di proofreading suamiku yang di kritik sama orang PMII proofreadingnya jelek? akan tetapi siapa yang tahu bahwa buku SejarahDunia (The History of World) yang membenarkan adalah Kakaknya Mas Wakhit Hasyim yang sekarang sedang bersama Pak Komarudin Hidayat di Universitas Islam Syahid Hidayatullah Jakarta membersihkan pengaruh Jaringan Islam Liberal di Organisasi Kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam Indonesia (KAMMI).

Suami aku memang orang Nahdlatul Ulama, akan tetapi dia adalah anak Komite Masyarakat Pro Demokrasi (KMPD) dan Front Persatuan Pemuda Indonesia sama dengan stafnya Fahri Hamzah. Akan tetapi siapa yang selama ini curiga terhadap Fahri Hamzah, justru yang selalu memberikan syal bukan Hezbollah adalah stafnya Fahri Hamzah yang sangat tahu sejarah Palestina belum lama ini setelah diberitahu  Lukman Hakim Saefudin.

Siapa yang sekarang berada di Jordania? Itulah mata hati kita, Ibu Retno Marsudi yang dengan sepenuh hati meninggalkan keluarga, padahal suaminya lagi sakit difteri karena terlalu sering naik Commuterline. Suami Retno Marsudi adalah Mata Tuhan. Dia adalah Dirjen Kehutanan yang selama hidupnya sangat jijik dengan uang amplopan dari Percetakan Uang Negara yang sekarang diambil alih oleh Siti Nurbaya. Akan tetapi siapa yang menyembuhkan penyakit istri Ibu Retno Marsudi justru adalah Gubernur Jakarta, Anies Rasyid Baswedan yang memperbolehkan pasien Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan berobat dimana saja asal sembuh nanti biar diklaim sama Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Dan yang sudah mengganti uang berobat difteri yang kemudian juga menjadi uang yang diterima suami Retno Marsudi adalah uang yang sama dengan uang yang aku miliki sekarang di BRI, yaitu uang halal gajiku dari Majalah Guru dan Majalah Sekolah Dasar (SD) dimana aku waktu itu digaji setengah bulan dengan Pak Saiful Anam.

Lalu apa hubungannya gajiku dengan gaji suami Ibu Retno Marsudi? yang tahu jawabannya adalah uang APBN yang disusun oleh pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla semuanya adalah uang bunga bank yang memang diambil untuk membayar rapat di kementerian, termasuk rapat yang dihadiri Pak Jokowi sekarang, dimana biasanya makan nasi rames dan rebus-rebusan oleh Menteri Yuddi Chrisnandi diganti dengan masakan enak, yaitu masakan rumah makan padang dan snacknya adalah Monami, milik salah satu orang terkaya di dunia kuliner, yaitu Titik Puspa yang hanya ingin memberikan snacknya pada orang yang dia suka dengan harga murah, yaitu Monami di istana yang dibeli Binny Buchori sama harganya dengan Monami yang ada di Point Square dan Monami  Fatmawati yang sangat terkenal.

Akan tetapi apa yang terjadi sekarang? Titik Puspa justru sakit-sakitan dan meminta kepada Binny Buchori agar memberi dirinya dengan uang gaji jangan uang rapat, disinilah Pak Jokowi baru bisa membedakan jika dalam uang rapat yang ia terima adalah uang rapat yang sangat besar seperti yang aku terima dari Pak Wowon orangnya Anies Rasyid Baswedan. Yang sangat mengerikan adalah pencitraan Anies Rasyid Baswedan yang tidak tahu sejarah jika uang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah uang yang tidak boleh dipakai untuk pencitraan seperti buku dan lain sebagainya.

Di sinilah aku paham kenapa Kementerian sangat gila dengan buku Pendidikan Karakter. Akan tetapi orang Kemendikbud paham jika buku Karakter harus ditulis oleh orang yang berkarakter, bukan orang yang suka membicarakan kejelekan dan membicarakan omongan orang. Apalagi orang yang suka menghabiskan uang Kemendikbud buku karakter adalah bantuan dari JICA (Japan Internastional Contribution and Acomodation) adalah dana yang dipakai orang Kemendikbud dan Yayasan Sukma Bangsa untuk membangun Sekolah Sukma Bangsa. Padahal sebenarnya orang Jepang ingin membantu sekolah yang rusak.

Akan tetapi disinilah kepedulian yang sangat ingin disampaikan oleh orang Palestina yang ada di Indonesia. Orang Palestina yang ada di Indonesia dan selamanya ada di hati orang Yahudi Israel adalah orang yang mukanya mirip dengan Perdana Menteri Jordania yang sangat dikagumi dunia. Dia adalah Syech Abdurrahman Al-Ayyubi, dia adalah seorang perdana menteri yang sangat rendah hati setelah Raja Arab Saudi. Siapa yang tahu PM Jordania? tidak ada. Yang tahu PM Jordania adalah Raja Arab Saudi yang selalu membeli karpet dan selimut orang Palestina yang kemudian dia bagikan kepada Raja Arab Saudi dan para pembantunya, termasuk almarhum kakakku Khadijah yang memberiku selimut Palestina yang sangat tebal, juga dimiliki oleh Todung Mulya Lubis dan Almarhum Muna Lubis dan suaminya. Dan siapa sepertinya orang Turki yang asli? Orang Turki yang asli adalah orang yang membuat jilbab Turki mengkilap bukan jilbab printoutan yang pernah kukupas di blog ini sebelumnya. Orang Turki yang asli adalah orang keturunan Mehmed Syaltout yang sudah lama berada di Indonesia membuat karpet dari bulu angsa dan bulu kulit onta. Jika jilbab Turki Indonesia dijual di Thamrin City, maka jilbab print out mirip jilbab Turki itu hanya ada di Instagram. Siapa yang senang jika ada orang pulang haji bawa kulit unta untuk bahan sepatu KW-an akan tetapi jika setiap berangkat haji ada orang Batak yang membawa bulu angsa ke Arab Saudi dan dibawa ke Palestina itu yang tahu hanya Lukman Hakim Saefudin dan Ali Machzumi.

Siapa yang tahu kalau selimut, kesed, karpet, yang selama ini beredar di IKEA, Jerman dan Uni Eropa adalah selimut yang dibuat oleh orang Palestina di Swedia. Siapa sebenarnya Maher Zein dan Orang Swedia? Orang Swedia dikaruniai keindahaan Uni Eropa? Di mana pendidikan paling murah? dimana IKEA berkantor pusat? dan siapa yang paling suka belanja di IKEA. Yang suka belanja di IKEA adalah orang-orang Indonesia yang pernah belajar di Luar Negeri. Bahkan aku juga yang baru pertamakali berkunjung ke IKEA sangat suka dengan barang-barang IKEA. Ini memang mengerikan. Orang yang sudah lama bekerjasama dengan IKEA adalah temannya Bill Gates yaitu John Wood yang berhenti mendirikan Room to Read, justru ketika ada orang Palestina menyumbang ke Yayasan Sukma lewat Carrefour Indonesia yang sekarang diakuisisi oleh Chairul Tandjung adalah seluruh orang Palestina di Perancis yang memberikan bantuan lewat Yayasan Sukma yang dipimpin oleh Pak Baedhowi.

Itulah mata Tuhan, orang Palestina sangat percaya bahwa yang akan mendamaikan Palestina adalah orang yang sangat ingin membantu Aceh tapi dituding korupsi oleh anak UIN Syarif Hidayatullah Jakarta karena ingin mendapat keuntungan dari uang jaket, topi, dan tas yang pakai relawan. Itu adalah aku yang selama ini difitnah memakan uang tsunami oleh orang-orang pasar senen yang akhirnya pasarnya terbakar oleh karena dibakar oleh orang yang menuduhku korupsi, karena sangat ingin membakar keuntungan seribu rupiah dalam uang sablonan oleh kakaknya. Akan tetapi siapa yang tahu jika yang membersihkan aku adalah orang-orang Pandanaran, justru dari setiap doa yang kuberikan oleh teman-temanku yang memang sangat mencintaiku dalam ketiadaan.

Siapa sebenarnya yang ingin aku bersihkan sekarang? Aku sangat ingin membersihkan Kementerian Pendidikan Kebudayaan yang justru melakukan korupsi besar-besaran dalam pengelolaan guru berprestasi dan guru garis depan yang setelah sekian lama berjalan. Aku tahu mereka menjahit rompi di tempat yang sama dengan yang membuatkan aku jaket tsunami karena aku tahu rasanya jahitan yang aku rasakan. Akan tetapi siapa yang sampai saat ini menyimpan jaket tsunami yang selalu kujaga dalam ketiadaan dan jaket Guru Garis Depan yang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang aku pakai lalu aku buang di tempat sampah rumahku yang sampai saat aku menulis ini belum ada yang mengambil? Aku akan mengecek, siapa yang selalu menginginkanku uang dari hasil korupsi? justru suamiku yang memang tidak ingin aku bekerja aku tidak sakit-sakitan. Akan tetapi siapa yang selalu membisikkkan kepadaku untuk bekerja adalah keinginanku untuk selalu belanja online?

Jadi bila anda penerima hadiah Guru Berprestasi sejak tahun 2007 yang disponsori Intel Pentium dan Bank Mandiri, maka aku sangat yakin jika yang salah dalam dunia digital adalah orang-orang Agus Martowidjoyo yang saat ini memenuhi  Bank Indonesia  dari mulai istrinya sampai tetangga bahkan sampai tujuh turunan keluarga semua adalah orang Bank Mandiri dan orang Agus Martowidjoyo. Dia yang sangat selalu keenakan dengan uang akhir bunga Bank dari semua aplikasi online, karena dari semua Bank yang menyisakan saldo paling besar adalah Bank Mandiri. Semua dana sertifikasi dan semua dana-dana APBN bahkan gaji Pak Jokowi juga yang mengisi adalah Bank Mandiri. Karena yang sangat kotor dalam perekrutan Gubernur Indonesia setelah Pak Boediono adalah Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo yang memang tiap hari tidak pernah bekerja dan hanya tidur saja, karena yang bekerja adalah anak buahnya yang tidak tahu bagaimana sistem perbankan dijalankan termasuk digandakan oleh politisi Nasdem Siti Nurbaya yang tidak bisa membedakan mana ilmu putih dan ilmu hitam.

Aku akan terus menulis dan akan membuka kebenaran, siapa sebenarnya yang bermain di dalam pengelolaan dana kemanusiaan yang selama ini dikelola Palang Merah Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Bank – Bank yang selama ini hidup dari sisa-sisa nasabah karena ingin mendapatkan uang halal? Jangan percaya naik haji dengan Bank Syari’ah, karena yang memiliki konsep-konsep syariah itu menurut Bank Mandiri adalah yang pegawainya memakai jilbab dan tahu bahwa bunga itu riba’. Akan tetapi jika Anda ingin Palestina dan Israel berdamai, maka berhentilah memakan uang rapat dan berhentilah menjadi nasabah Bank Mandiri.

Jakarta, 12 Desember 2017

Pukul 1:47

 

 

Advertisements

Selalu Siap Menghadapi Tantangan dan Cobaan

Aku sudah lama membeli buku ini dari seniorku HMI Fakultas Adab Cabang Jogjakarta yang sudah dua tahun terakhir ini mengelola websiteku sekarang, namanya Bang Surgana, suaminya Aan Faridah. Aku mengenalnya sejak lama, bahkan sebelum aku kenal Aisyah, waktu aku di LSM Solidaritas Perempuan Kinasih, dia juga yang menggarap buletin Kinasih bersama Pak Chamad yang isi salah satu rubrik utama dan Surgana yang melayout dan mencetaknya lalu dibagikan di lingkungan LSM Jogjakarta.

Buku ini memang judulnya sederhana, “Janganlah Mengeluh” Gunakan Kekuatan Pikiran yang Mewujud. Aku tertarik membeli buku itu saat aku mempunyai sedikit uang dari gajiku tempat bekerja. Aku sangat senang, tapi entah kenapa kok di halaman belakangnya ada yang salah titik koma dan disitulah aku jadi malas membaca buku teman-teman HMI Jogjakarta.

Akan tetapi setelah sekian lama buku ini ada di rak bukuku, dia merupakan buku yang sedikit saja kena rayap, disitulah aku percaya bahwa buku ini buku bagus. Ada banyak hal yang aku peroleh dalam buku ini, yang dimulai dengan beberapa ungkapan Bunda Theresa.

Sampul Buku Janganlah Mengeluh

Surgana berbadan kecil berkulit putih tapi hatinya mulia. Satu hal yang tidak aku suka dari dirinya adalah suka pamer ini itu di media sosial, persis seperti Pak Chamad Hojin yang pamer wisuda. Entah kenapa, aku sangat tidak suka dengan yang suka show up ini itu di media sosial, padahal dulu aku suka juga, bahkan di blog ini sangat terbuka, tapi aku baru merasakan sekarang, lebih baik show up ini itu daripada pamer keberhasilan dari uang hasil korupsi teman-teman.

Saat ini yang santer aku dengar adalah bahwa uang yang dipakai untuk acara alumni UIN Sunan Kalijaga adalah uang dana desa, oh mengerikan sekali karena kampus UIN Sunan Kalijaga adalah kampus desa tapi aku tinggal di pinggiran ibukota dan tidak ada yang datang ke acara di TMII itu kecuali orang-orang dari desa yang ingin tahu Jakarta.

Aku sangat kaget mendengar berita kali ini, karena kita yang tinggal di Jakarta tidak semua menghadiri acara reuni alumni UIN Sunan Kalijaga di TMII dan lebih baik diganti saja alumni UIN Sunan Kalijaga Jogja ini dengan alumni terbaik pilihan dirinya bukan pilihan alumni PMII Jogjakarta.

Aku pengen menulis ini karena aku yakin bahwa dalam buku ini kita tidak pernah mengeluh apakah uang yang kita pakai uang korupsi atau tidak tapi akan terasa pada ada yang kita rasa. Buku ini banyak mengisahkan tentang kesadaran agar jangan menyerah atas semua keadaan termasuk saat kampusku tercinta UIN Sunan Kalijaga ketar-ketir dituduh terima dana desa.

Saya ingin jujur pada Pak Rektor, bahwa siapa sebenarnya yang menginginkan acara alumni UIN Sunan Kalijaga adalah sekalian pembentukan acara IKAPMII seluruh Indonesia, apakah benar itu usulnya Anda?

Pamulang, 11 Desember 2017
Pukul 1.56

Mengingat dan Menata Kembali Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru

Saat aku menulis resensi tiga buku ini, sudah hampir tiga bulan aku tidak aktifkan whatsapp, facebook dan instagram, tiga media sosial yang sangat tidak bisa kita hindari sekarang ini. Tapi apa yang terjadi, ternyata biasa aja tidak terlalu kampungan justru aku merasa semakin yakin akan nikmatnya menikmati komunikasi lewat telfon dan smsan.

Dalam tatanan ilmu sosial baru yang hadir dalam buku yang saya resensi kali ini yaitu berjudul “Guncangan Besar, Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru” adalah semakin marak beredarnya orang-orang yang memiliki akun media sosial tapi terjerumus dalam konflik sosial seperti perkelahian, pertengkarang, cekcok rumah tangga hingga orang yang ingin meninggal dunia dalam kesendirian.

Sampul Buku Guncangan Besar

Sampul Buku Guncangan Besar

Saat menulis buku ini, Francis Fukuyama yang merupakan sosiolog asal Jepang yang besar di Amerika, justru mengamati bahwa merebak dan semakin dicintainya media sosial membuat orang-orang lebih bangga, narsis dan ingin terlihat menawan, padahal aslinya biasa saja, itulah guncangan besar yang dinamakan pencitraan oleh media sosial.

Buku ini terdiri dari tiga bab, yang satu sama lain saling berkaitan. Di mulai dengan hipotesis Guncangan Besar, pada saat buku ini ditulis tahun 2003, hingga saat buku ini diterjemahkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama bekerjasama dengan Freedom Institute.

Hipotesis buku ini justru baru terbukti sekarang, 11 tahun setelah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Di mana saat ini, guncangan besar akibat terlalu sering aktifnya orang di media sosial sedang melanda dunia.

Dimana di sekitar kita sering terlihat kemunafikan dan kegetiran yang sepertinya terlihat sempurna di mata media sosial, tapi pada kenyataannya justru sangat mengerikan. Maka akan lebih baik jika dari sekarang kita lebih bijak bermedia sosial. Sebaiknya kita lebih sering bertatap muka dengan dunia riil atau nyata, daripada sibuk pencitraan ini itu di media sosial.

Pamulang 11 Desember 2017
Pukul 11.22

Saat aku menulis refleksi tentang perempuan, korupsi dan karya sastra, aku teringat pertemuanku dengan penulis buku “86” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) waktu itu penulisnya Okky Madasari. Waktu itu aku masih kerja di Kalibata atau di mana ya lupa, atau malah sudah tidak kerja, tapi aku dapatkan undangan peluncuran buku itu di twitter atau di media sosial.

Disitulah aku kenal pertamakali dengan para pembicara, ada Febridiansyah dan sang penulis sendiri, Okky Madasari. Tapi yang mengejutkan ternyata aku disana berjumpa sahabat lama ketika berkantor di majalah Media Internal Pendidikan dulu namanya Ika, Dosen Universitas Paramadina. Di sanalah pembicaraan kita mengalir tentang apa itu korupsi, perempuan dan karya sastra.

Saat ini setahuku Okky adalah anggota Dewan Kesenian Jakarta, akan tetapi setelah judul bukunya yang terakhir terbit, dia lupa apa itu yang namanya 86, dia bahkan sekarang suka jalan-jalan ke luar negeri pakai uang atas nama 86, padahal itu uang yang digelembungkan dari anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menghadiri event-event menulis internasional.

Aku pernah menghadiri event Ubud Writers dan Readers Festival, akan tetapi memang namanya uang rumah tangga itu tidak boleh dipakai untuk jalan-jalan, sehabis itu aku selalu ingin jalan-jalan apalagi jika mendapat uang rapat dari suami di kantor aku, aku melihat bahwa uang rapat itu adalah uang untuk jalan-jalan.

Setelah sekian lama berlalu, aku banyak menulis dan membaca buku terutama buku karya pendiri Partai Rakyat Demokrat (PRD) yaitu Arief Budimaan, bahwa dalam salah satu esainya ia mengatakan bahwa yang merusak pergerakan atau orang-orang yang bergerak dalam kebaikan adalah uang rapat, sedangkan yang menjaganya adalah menahan diri dari segala godaan.

Jadi seperti apa kaitannya antara perempuan, korupsi dan karya sastra adalah bagaimana jika para penulis baik yang berprofesi ibu rumah tangga, freelance atau pun bekerja di lembaga semacam Dewan Kesenian Jakarta itu bergaji besar tapi tidak ada uang-uang rapat.

Dengan demikian, tidak ada lagi uang yang dipakai untuk jalan-jalan, entah itu ke mall atau belanja online seperti yang dilakukan Ibu Iriana Joko Widodo. Jadi jika suami tidak ada uang rapat dan gajinya besar, maka semua istri akan senang, apalagi jika istrinya juga bekerja.

Jakarta, 5 Desember 2017
04.49

Judul Buku: Bumi Manusia
Karya : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Editor : Astuti Ananta Toer
Desain Sampul: Nadia

Sampul Buku-Bumi Manusia

Sampul Buku-Bumi Manusia

Peradaban Awal Manusia Indonesia

Pada saat aku dipenjara di Pulau Buru, aku selalu membayangkan hidup menjadi seorang putri raja Belanda, bernama Minke, ujar Pramoedya pada istrinya yang saat itu sedang hamil tua. Jadi saat Pramoedya menulis cerita Bumi Manusia ini, dia memang sedang mengandung anaknya yang pertama yang mengedit buku itu yaitu Astuti Ananta Toer.

Tuti, kamu harus tahu sampai kapan pun harus tahu aku sangat menyayangkan kenapa penerbit buku ini sekarang gulung tikar karena berselisih dengan penulis ternama dari Majalah Tempo Inisial GM. Kamu harus tahu Tuti, kamu akan lebih besar namanya dibanding dengan dia, yang hanya sekedar kutip sana kutip sini, kamu memiliki semua buku yang aku punya juga semua naskah yang kamu cari keliling dunia.

Akan tetapi Tuti, siapa suruh namamu berganti menjadi nama suamimu sayang? aku lebih senang memanggilmu Astuti PAT daripada Tuti Herawati nama dari suami kamu itu wartawan amplopan.

Aku memang sangat mengerikan Tutui, akan tetapi jika kamu membaca buku ini, aku hanya ingin mengembalikan arwahmu kepada nama besar ayahmu, Aku Pramoedya Ananta Toer.

Jakarta, 4 Desember 2017
yang selalu gelisah di sorga dan akhirat melihat kelakuan anakku
PAT
18.05

Judul Buku: Orang-Orang Proyek
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit Pertama: Penerbit Jendela dan Penerbit Matahari
Penerbit Kedua: Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Pertama, Januari 2007

Sindikat Orang-Orang Teraniaya

Sampul-Orang-Orang Proyek

Sampul-Orang-Orang Proyek

Aku membaca buku ini saat makan siang di depan FX Sudirman. Saat itu aku sedang di Perpustakaan Kemendikbud dan ingin makan siang dengan para kuli bangunan yang sedang membangun Mass Rapid Transportation (MRT) dan juga para kuli bangunan yang sedang membangun sarana Gelora Bung Karno (GBK).

Sebenarnya aku ingin membawa buku ini kesana, membaca bersama teman-teman kuli bangunan di GBK depan FX Sudirman, seperti apa rasanya mengerjakan pembangunan Indonesia Hebat dengan menjadikan kami kerja seperti kerja rodi zaman Jepang.

Lalu aku kembali ke Perpustakaan dan ternyata buku Ahmad Tohari Orang-Orang Proyek ini belum aku baca sama sekali. Akan tetapi, apa yang kubaca tidak jauh berbeda dengan apa yang kulihat sekarang. Bedanya, di buku ini tokoh utama Pak Tarya, Kabul, Wati dan para kanca (teman-teman Pak Tarya) sedang membangun jembatan, maka apa yang ku rasa di dalam kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan miris orang-orang proyek ini lebih buruk dibanding kehidupan dan cerita telanovela.

Aku memang tinggal di Pamulang, akan tetapi di kehidupan sehari-hariku ada banyak kuli bangunan, mereka berasal dari keluarga dan tetangga serta para pencari kehidupan. Akan tetapi di kota besar kehidupan mereka digadaikan pada akhir proyek pembuatan. Mereka ingin beli bakso, ingin beli makanan keliling selain makanan rumahan, akan tetapi tidak punya uang, itulah kehidupan orang-orang proyek.

Apalagi di kota besar seperti di Jakarta, mereka mau makan saja susah, harus jauh ke dalam mengambil jatah, sampai lokasi sudah lapar duluan, akan tetapi ya itu semua untuk mencari kehidupan. Akan tetapi di kota besar mereka lebih senang, karena dapat fasilitas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang akan di dapat jika mereka sakit dan meninggal dunia. Ngeri sekali, masa meninggal dunia diasuransikan seperti para pekerja di Jepang yang bunuh diri karena tidak ingin mendapat asuransi.

Pamulang 4 Desember 2017
17.44

Sampul Buku-Rumah Bambu

Sampul Buku-Rumah Bambu

Cerita Sederhana yang Menukik Hati

Jika anda ingin membaca cerita-cerita yang ringan, pendek dan sangat menyentuh perasaan, anda harus membaca Kumpulan Cerpen karya YB.Mangun Wijaya atau akrab biasa disapa Romo Mangun dalam salah satu Kumpulan Cerpennya berjudul “Rumah Bambu” yang diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Gramedia (Penerbit KPG).

Buku ini sebenarnya buku lama, saya harap Penerbit berani untuk menerbitkan kembali buku-buku ini untuk generasi di masa yang akan datang yang lebih mencintai kesederhanaan dan hidup bersahaja dibanding dunia anak muda sekarang yang serba digital dan penuh hiruk pikuk belaka.

Ada satu peristiwa dalam hidup Romo Mangun yang di kemudian hari menjadi cerita “legendaris”. Seorang teman menyebut peristiwa itu sebagai tragedi lem kanji. Suatu ketika Romo Mangun menyuruh salah seorang pembantunya membuat lem kanji. Kebetulan Romo sedang membutuhkan banyak lem, sementara ia enggan membelinya di toko. Selain mahal dan bikin boros, memang demikianlah prinsipnya: Jangan mudah membeli sesuatu yang sebenarnya dapat dibuat sendiri. Lem kanji yang dipesan pun jadi.

Celaka, Romo bukannya senang, tetapi malah marah, sebab lem kanji itu terlalu banyak dan mubazir. Sambil marah, Romo mengambil piring, sendok, garam, lalu menyodorkan kepada si pembuat lem kanji itu dan menyuruh memakannya. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, tapi peristiwa itu benar-benar terjadi.

Dari cerita di atas dapat kita simbulkan bahwa kita harus pandai-pandai menilai diri sendiri. Suatu hal atau barang yang menurut kita mahal, belum tentu mahal menurut orang lain. Lebih baik kita membeli sedikit lem kanji daripada memarahi orang yang membuatkan kita lem kanji dengan banyak dan kelelahan agar mendapat upah.

Dalam buku yang terdiri dari 20 Cerita pendek (Cerpen) yang belum pernah di publikasikan ini, semua cerita yang ada dikemas secara artistik dan menggelitik namun cetar membahana. Kita akan di bawa ke dalam cerita bencong yang menyamar menjadi pengamen, hingga cerita-cerita sederhana lainnya yang menyentuh hati dan memekakkkan telinga.

Jadi tunggu apa lagi, datang saja ke Perpus Kementerian Kemendikbud untuk membaca buku ini, jika Penerbit KPG enggan menjualnya kembali, karena royaltinya belum diterima sama Romo Mangun Wijaya.

Jakarta, 4 Desember 2017

 

Untuk pertamakalinya, saya mengikuti ajang komunitas berbasis wordpress di wordcamp Jakarta minggu lalu di daerah  Sunter. Saya sangat terkesan  berjumpa dengan beberapa orang dari berbagai daerah di Indonesia untuk membahas beberapa hal terkait perkembangan terkini dunia digital, terutama mereka yang menggunakan wordpress untuk website pribadi, lembaga atau perusahaan.

Ada satu hal yang menarik di awal sesi pembicaraan yang membahas tentang kecendrungan anak muda sekarang yang akan lebih berminat menjadi Independent Digital Media Worker, mereka lebih senang bekerja tidak di kantor yang terikat waktu dan peraturan, mereka lebih senang bekerja kreatif di kafe, perpustakaan, atau co-working yang sekarang ini sudah banyak berada di Jakarta.

Menurut Vika, Independent Digital Media Worker pada dasarnya adalah No Boss No Staff. Itu sangat menyenangkan. Beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan dunia ini banyak berkaitan dengan beragam profesi seperti tertera di gambar bawah ini.

Karena setiap anak muda lebih senang bekerja independen. Seperti halnya Nomad Traveller, profesi independent digital media worker disebut juga (digital Nomad) masalah yang paling sulit adalah mencari partner yang bener-bener satu visi dengan kita untuk bekerja di dunia digital jika kita keteteran. Karena pada dasarnya tidak semua orang menguasai banyak hal. Seperti wordcamp kali ini dimana dibagi dua tempat di atas adalah yang berkaitan dengan teknologi dan desain, coding, startup dan lain-lain sedangkan di bawah membahas tentang content, tujuan blog kita apa, apa saja yang harus diutamakan saat penulisan, cara menjadi no 1 di SEO dan beberapa role model blogger dan para pengiat dunia digital.

Jadi bagaimanapun kita membutuhkan orang lain, Jika kita penulis kita butuh orang yang memiliki kecanggihan teknologi agar website dan blog kita bagus, begitu juga orang yang pintar desain web dan start up butuh orang untuk mengisi content.

Istilah Vika itu partner yang solumate banget itu sulit di temukan. Start up dan ahli coding akan menjamur dimana-mana dan pada akhirnya setiap orang juga akan memiliki website personal untuk branding.

Vika juga menjelaskan beberapa pekerja digital yang sekarang banyak bekerja untuk perusahaan terpusat di Ubud Bali. Selain karena faktor alam, fasilitas internet di sana juga karena anak-anak milenial sekarang selain menyukai travelling, mereka sangat peduli dengan alam, setelah berhari-hari kerja lembur siang malam, biasanya mereka melakukan travelling ke beberapa tempat untuk refreshing atau ikut kegiatan olahraga seperti lari marathon, Bulutangkis dan Yoga.

Dalam setahun terakhir ini saya juga merasakan ada orang yang saya temui ketika bekerja di warung kopi adalah anak-anak muda kekinian yang memang bekerjanya di kafe dari pagi hingga petang.

Jane misalnya anak Bina Nusantara adalah seorang illustrator yang bekerja di bidang periklanan. Dia memegang beberapa instagram yang menjual koleksi etnik dan unik. Jadi untuk menjual produk online di instagram, sang klien mengirim bahan untuk diolah agar menjadi menarik, Jane membuat desain dan menguploadnya hingga memberi hashtag agar instagramable.

Jane mengatakan bahwa kliennya tidak mengharuskan tiap hari upload produk, yang jelas dia menerima bayaran tiap minggu. Selain bekerja sendiri, dia juga bersama teman-teman bekerja untuk perusahaan iklan, ada berempat. Janeeve cerita saat saya bertemu beberapa waktu yang lalu bahwa dia baru saja menyelesaikan iklan IKEA yang edisi sale, bersama timnya dan sukses besar, waktu itu sampai antri orang masuk IKEA di Serpong.

Pertemuan tidak sengaja di warung kopi berlanjut di instagram dan akhirnya kita berteman.Karya-karya Jane unik dan simple, lucu, khas anak-anak kreatif sekarang.

Akan tetapi sekarang kafe mulai berisik, kebanyakan anak muda pindah ke perpustakaan seperti perpustakaan nasional, Kemendikbud yang memang menyediakan banyak ruang-ruang kecil untuk pertemuan, atau perpustakan nasional RI yang memiliki gedung tinggi dan ruang terbuka. Sangat disayangkan, perpustakaan di Indonesia hanya buka sampai jam 16.00 WIB hanya perpustakaan Bank Indonesia yang buka sampai jam 18.00 WIB.

Nah yang belum lama saya ketahui juga adalah mulai diminatinya Co-Working di ibukota. Saya baru tahu juga dari Ibu Vika. Di Jepang bahkan sudah ada aplikasi co-working. Di Jakarta saya belum tahu banyak, yang saya tahu baru Co-Working Kolega di Senopati dan Co Working punya Pak Johannes di Kelapa Gading.

Di kolega anda bisa bekerja dengan nyaman, satu lantai. Santai dan ada fasilitas minum. Perjamnya beragam kalau di Kolega pertiga jam 110 ribu untuk sendirian, kalau satu ruangan untuk meeting satu jam 220 ribu untuk 10 orang.

Di Conclave beda lagi, harga bisa lihat di website resmi Conclave. Conclave lebih luas.Beberapa acara eventbrite banyak dilakukan di sini. Sebenarnya acara alumni suatu kampus atau sekolah lebih efektif di eventbrite. Cepat dan jelas kita bisa mendapatkan konfirmasi peserta dalam beberapa waktu saja kalau udah memenuhi kuota bisa ditutup.

Kemarin di event wordcamp Jakarta 2017, saya berjumpa Pak Johannes yang bergerak di bidang co-working di Sunter, pengusaha muda travelling bareng, penyedoa jasa keaehatan online seperti perawat dan lain-lain dan ada satu dari Bandung pengusaha jasa pendidikan Bahasa Inggris untuk para blogger yang akan mengupload tulisan bisa diterjemahkan dulu oleh jasa online dia.

Saya berjanji jika sudah selesai deadline pekerjaan akan segera ke Co Working Pak Johannes di Sunter, katanya kita bisa berkantor perjam 30.000, perhari 120.000 atau bahkan per bulan 1,5 juta seorang. Udah dapat 10 kali makan dan free cofee dan teh. Di sana ada juga bisa juga menjadi virtual account akan tetapi ada syarat dan ketentuan tertentu.

Dalam buku Francis Fukuyama yang berjudul “Goncangan Besar” yang diterbitkan Gramedia dan Freedom Institute yang membahas tentang pergeseran masa dari industri tradisional ke digital dan lain seterusnya. Maka saya merasakan sebenarnya saat ini kita dalam goncangan besar dunia digital dimana kata bu Vika dari 250 juta lebih rakyat Indonesia sudah 50% terkoneksi dengan dunia digital.

Sebenarnya teknologi bermata dua, di satu sisi banyak mall, dan industri tradisional bangkrut dan beralih ke dunia digital saya sebenarnya juga merasa prihatin tapi di sisi lain, kita juga harus berlari kencang jangan sampai ketinggalan teknologi.

Satu hal yang saya suka dari profesi yang diminati anak muda ini adalah generasi milenial tidak suka show up keberhasilan, karya dan harta yang ia punya. Mereka aktif di media sosial justru untuk kebaikan dengan hashtag positif dan meme-meme kreatif berkaitan dengan trending topik juga aneka inovasi yang unik, Itu yang saya amati sekarang.

Sebenarnya masih banyak materi berikutnya berkaitan dengan suka duka Freelancer, kreativitas anak 11 tahun yang pintar coding dan blogging di wordpress.org dan materi menarik lainnya dari lantai 2, nanti semoga bisa saya tulis berikutnya. Semoga di era pesatnya perkembangan digital kita bisa berkolaborasi dan bukan berkompetisi.

Terimakasih wordpress Indonesia, terimakasih kaos, buku, pin dan aneka souvenir lainnya yang kami terima di acara yang menyenangkan ini.

Sudimara, Conclave, Senopati
Perjalanan di dalam Kereta

Foto=foto menyusul ada di kamera habis batrenya.

Posted: November 6, 2017 by Eva in Agama dan Spiritualitas, Puisi

Berpikir Positif

Akan Percuma Segala Kebaikan
Jika ada Sedikit Saja Dalam Hati Kita
Rasa Benci.

Jika Kita Membenci Sesama
Berarti Kita Telah Membenci
Terhadap Siapa Yang Menciptakan
Kita

Tuhan Menciptakan Kita Sedemikian Rupa
Sangat Sempurna Dengan Segala Kelebihan dan Kekurangan
Lalu Kenapa Kita Membenci Sesama Mahluk Ciptaan Tuhan
Apa Yang Kamu Inginkan

Kita Tidak Bisa membuat orang lain menjadi seperti
yang kita inginkan
Karena Tuhan Menciptakan
Setiap Manusia Memiliki Keunikan
Semoga Kita Selalu Bekerjasama dalam Kebaikan
Saling peduli dan tolong menolong.

Benih Kebencian adalah Merasa Diri Paling Benar
(Truth Claim). Hal ini telah memicu kecurigaan dan prasangka buruk
pada orang lain. Kita Semua Harus Sadar
Bahwa Kebenaran yang Mutlak Adalah Milik Tuhan.

Mari tebarkan rasa cinta dan
Berpikir Positif terhadap sesama.

Renungan menjelang Deadline
Pamulang 6 november 2017
Pukul 20.53

Posted: October 13, 2017 by Eva in Humaniora, Inspirasi, Puisi

Just The Way You Are

Jadilah Diri Kamu Apa Adanya
Tidak Pura-Pura Berpunya
Tidak Juga Menjadi Miskin Peminta-Minta

Karakter Orang Adalah
Watak, Watuk dan Wahing
(Watak, Batuk, Bersin)
Sudah dari Sananya
Lewat Pembiasaan, Keluarga dan
Lingkungan Pergaulan
Semua Akan Berubah Menjadi Lebih Baik
Atau Sebaliknya

Jika Kamu Sukses Atau Tidak
Biar Orang Lain yang Bicara

Jakarta
13 Oktober 2017

(Kisah dan Sejarah Jilbab selama 25 tahun (Periode 1992-2017) )

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis kisah dan pengamatanku tentang fenomena jilbab dari sejak aku pertama kali mengenakan tahun 1992 saat di SMPN Sardonohardjo dan mondok di Pesantren Sunan Pandanaran hingga saat ini 2017, aku mengenakan hijab untuk bekerja atau OOTD.

Kerudung Era 90an

Pada awal tahun 1990an, gaya hidup belum semeriah sekarang. Era orde baru, meski penuh dengan sejarah kelam tentang korupsi dan nepotisme, tapi masa-masa itu kaum muslim di Indonesia di mana aku tinggal tidak banyak gaya, tampil seadanya dengan jilbab sederhana. Waktu di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Sejak dahulu model penutup kepala (kerudung), jilbab atau hijab mengalami banyak perubahan. Ibuku adalah seorang pedagang yang suka memakai kerudung langsungan model brokat lama atau selendang disampirkan. Pada saat periode aku kecil 1979-1980an orang Indonesia belum begitu rapat menutup kepala, ala kadarnya saja tradisional yang penting sopan. Anak-anak usia sekolah seperti SD-SMP juga jarang mengenakan jilbab kecuali sekolah yang berbasiskan ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Pada tahun 1992 lulus SD aku melanjutkan ke SMP 30 Ngaglik, Sardonoharjo Sleman dan mondok di PP Sunan Pandanaran, nyantri kepada Kyai Mufid Mas’ud. Waktu itu aku datang ke pondok diantar kakak pertama dan di tengok A Iwan setiap bulan. Kadang di PPSPA aku nakal curi-curi kesempatan kabur dari kobong jalan naik colt Kaliurang berhenti di depan Mirota Kampus kemudian naik bis pemuda ke rumah kakak di Condongcatur.

Saat SMP ini cara pake jilbabku, begitu juga ketika bermain sesama santri PPSPA. Jilbab segi empat biasa yang bisa kubeli di pasar dengan aneka warna, kalau di dalam kita pake sarung dan tidak berkerudung, atau  jilbab langsungan. Waktu itu di asrama SQL (khusus Sekolah Luar) dimana anak2 pandanaran yang sekolah di luar MTS dan MASPA. Temanku di SMP hanya anak pondok saja yang berhijab yang lain tidak ada.  Kala itu periode 1992-1995.

Pada 1996 aku masuk SMU Muhammadiyah II dimana waktu itu semua murid perempuan berjilbab. Aku masuk sekolah ini karena aku gagal di terima di SMA 7 tadinya kakakku menyarankan aku masuk SMA negeri dan lanjut mondok di Krapyak. Tapi takdir mengatakan lain, NEM ku kurang dua digit sehingga aku gagal masuk SMA negeri unggulan di Jogja.

Jilbab saat SMA

Saat SMA aku berkenalan dengan banyak teman ada yang asli Jogja, ada juga yang dari luar kota seperti Kalimantan, Riau, Kuningan dan daerah lainnnya, aku masuk kelas IPA I Muha. Ada dua orang teman searah yang sering berangkat dan pulang bareng ke sekolah yaitu Veny Setyaningrum dan Nida Nadia.Veny bawa motor sendiri dari rumahnya Jambu Sari aku suka berangkat bareng, sedangkan Nida tinggal di Timoho bersama kakaknya yang kuliah di UII ada 3 orang.

Bersama Veny dan Nida aku banyak menghabiskan waktu berangkat dan pulang sekolah. Di kelas aku bukan termasuk anak pintar, aku sering nakal dan bolosan bersama Dyank Aflahah main radio Geronimo atau ke Malioboro Mall. Sedangkan Nida adalah anak yang pendiam dan sopan, orang Sunda banget yang halus bertutur kata, rapi berpenampilan dan tekun belajar.

Sama Veny Sebelum Balik ke Jambusari Jogja

Sedangkan Veny itu anak manja, orangtuanya dosen UII dan sudah lama tinggal di Jogja, ayahnya asli Kulonprogo dan ibunya Makassar. Aku sering banyak jalan sama veny kadang hunting jilbab di beberapa toko baju muslim, jilbabnya bagus-bagus, namun pernah juga kita beli jilbab meteran.

Jilbab meteran ini kita beli biasanya di Jalan Solo ada sebuah toko bernama Bombay Textil dekat Toserba Gardena, sebrang Galeria Mall. Bahan untuk jilbab di sana cakep-cakep, ada aneka warna kebanyakan berbahan tipis seperti sutra India, tapi harganya terjangkau. Kita berdua senang dan beli beberapa warna lalu kita jahit pinggirannya.

Jilbab meteran aku pakai di depan tugu

Kalau tidak sama Veny aku kadang cari jilbab sendiri di toko bahan cari bahan yang ringan dan motif tidak pasaran. Hal ini berlanjut hingga kuliah, aku sering mix match pakaian dengan jilbab meteran atau jilbab biasa yang aku beli di pasar berbahan katun segi empat

Jilbab Era Awal Tahun 2000-an.

Saat awal kuliah orang yang suka menjaga penampilan, tampil modis dan lipstikan. Akan tetapi setelah aku aktif di organisasi aku berubah total tidak suka dandan dan tidak peduli penampilan. Kampus putih IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga merubah cara pandangku tentang gaya hidup dan kesederhanaan. Aku senang melihat mahasiswa UIN yang tampil sederhana, kaosan, sandal jepitan dan tidak mengutamakan penanmpilan. Akan tetapi mereka kritis dan sangat pintar dalam pemikiran. Terlihat saat berdiskusi dalam aneka bidang baik sosial filsafat atau keagamaan. Saat itu aku lebih senang beli buku daripada pakaian.

 

Pada tahun 2002 aku ketemu mas Arif dan berkenalan dan bertemu dengan temann-temannya di pergerakan. Aku juga ikut dengan orang-orang NGO di Jogja.Aku aktif di Solidaritas Perempuan Kinasih dan Mas arif saat itu merintis usaha kaos bersama Mas Yusrol di Laron oblonk. Saat wisuda tahun 2003 aku dibelikan jilbab hijau yang sampai sekarang masih terawat dengan baik.

Jilbab hadiah wisuda terakhir aku pakai ke Perpus Depdikbud Juli 2017, sudah 14 tahun usia jilbab

Di LSM aku belajar banyak tentang isu pangan dan perubahan iklim, aku waktu itu kenalan dengan mba Farida, Mbak Tini sastra dan Rini YA. Ada sekitar dua tahun aku aktif di SP Kinasih mengelola buletin dan berkenalan dengan mas Kus Indarto seorang illustrator komik dari ISI, waktu itu kantor SP di lantai 2 Gedung AJI Gejayan.

Ini jilbab ketika di LSM

Usai lulus aku kerja di Kebayoran Lama tapi tidak lama, hanya periode Desember – Mei 2004. Aku tidak kuat di Jakarta dan kembali ke Jogja, Mas Arif waktu itu sudah pindah ke Malang. Namun aku kembali lagi ke Jakarta dan bekerja di Cililitan, waktu itu aku tinggal di guru alif satu kost sama Sunariyah. Di samping bekerja aku juga berjualan sandal buka lapak di Senayan sebrang hotel Mulia berangkat jam 4 subuh, suka sendirian atau kadang juga ditemani Nana adiknya Sunar.

Sunariyah, teman pertamakali di Jakarta, bertemu sejak masih di YLKI

Bersama Sunariyah teman pertama di Jakarta berteman sejak di YLKI

Ini jilbab ketiika aku awal kerja di Jakarta

Pada November 2004 aku ditawari kerja merintis penerbitan Pustaka Alvabet bersama bang Ahmad Zaky dan Pak Baedhowi. Waktu sudah ada Lika, Pak Pri dan Mas fahmi. Bang Zaky sebagai Direktur dan aku Redaktur Pelaksana.

Jilbab kain meteran bersejarah aku pakai di acara pameran Buku Pustaka Alvabet

Selama di Alvabet, semua naskah yang akan diterbitkan harus mendapat persetujuan Dewan Redaksi dan Pemegang Saham. Waktu itu ada 5 orang  Pak Bae, HBS, SRP, TAA dan IAF. Aku banyak mengenal mereka selama periode 2004-2007. Garis hidupku berjalan linear, skripsiku tentang Fazlur Rahman dan aku bekerja bersama para penerus pemikiran Neo Modernisne itu. Entah kebetulan atau tidak bagiku ini sangat berguna saat ini juga di masa yang akan datang.

Pada 2007 aku pindah kerja ke Kalibata. Saat itu kantorku menjadi mitra Kemendikbud. Aku sering rapat di Senayan dan liputan ke daerah juga acara-acara Kependidikan.Waktu itu aku suka mengenakan jilbab minimalis dengan ditarik ke belakang terasa simpel dan elegan. Dulu aku suka model ini karena praktis dan simpel sehingga terkesan stylish. Sampai sekarang kebanyakan orang Indonesia mengenakan model jilbab seperti ini.

Di Acara Rembug Nasional Pendidikan era Pak Nuh

Pada 2009 aku berhenti kerja dari Kalibata dan aktif kembali di SP sebagai Dewan Pengawas Komunitas. Inilah penyesalaanku terbesar aku sakit parah sepulang kongres SP di Jakarta,  hingga baru sembuh pada 2010 dan aku kembali bekerja di Kalibata. Aku juga merintis usaha online Gerai Amira, di sana aku jualan sandal, kaos nama, jilbab dan baju muslim.

Sama ketiga kakak pengrajin sandal

ini jilbabku saat jualan online.

Jilbab Langsungan

Booming Pashmina dan Shawl Pada 2010

Pada  periode 2010-2012 aku suka memakai jilbab pashmina yang simpel dengan aneka warna menarik. Biasanya aku beli di Thamrin city dengan harga murah 100 ribu dapat tiga kadang empat. Biasanya aku beli di lantai 5 Thamcit setiap senin dan kamis atau pasar Tasik istilah pengunjung.Kadang aku beli juga di Pamulang square atau Point Square, namun harganya selisih di atas dikit dari jilbab Thamcit.Sesekali beli online juga di Saqina.com.

Pashmina Ceruty Thamcit

Saat lebaran memakai jilbab Saqina

Pada tahun itu juga aku kembali bekerja kali  ini di Empang tiga Pejaten Timur. Namun tidak lama aku sakit typus dan akhirnya tergoda lagi merintis usaha. Aku buka toko jersey di Pamulang. Awalnya laris hingga akhirnya sepi dan bangkrut. Aku berhenti buka toko setelah Apa meninggal dan kembali bekerja di Kebayoran lama pada Maret 2015.

Saat Kerja di Kebayoran Lama

Aneka Shawl dan Pashmina suka aku kenakan, saat itu aku bekerja sebagai Ghost Writer. Aku suka juga jilbab berbahan kaos tipis agar mudah dibentuk dan jilbab tipis pashmina ringan bermotif.

Pada awal tahun 2014 mulai banyak jilbab berbahan jersey besar yang sepadan dengan gamis, ukurannya besar dan panjang menjuntai.Fenomena ini berkembang setelah banyak orang berumroh.Aku sempat beli untuk pengajian, dan sempat jualan dan dikirim ke Arab Saudi.

Pada Mei 2016 aku berhenti kerja, aku memilih menjadi ghost writer dan cari klien sendiri atau tim marketing. Selama 1, 5 tahun aku riset di daerah atau berlama -lama di perpustakaan, tapi lebih sering di rumah Pamulang dan lebih sering pulang ke Sukabumi. Aku juga sempat sakit cukup lama waktu hingga aku mengundurkan diri dari pengurus pengajian.

Pulang ke Sukabumi Stasiun Cibadak

Saat off ngantor aku sering memakai gamis katun dan jilbab jersey yang aku jahit di Bu Hardyanto tetangga  depan rumah Pamulang elok, aku suka jahitannya rapi rendanya juga menyesuaikan. Aku berburu gamis katun lucu, ada yang jahit ada juga diskonan dan kadang dikirim juga dari kakak ipar mas arif Mbak  Lilik dari Malang.

Jilbab karya Bu Hardyanto

Pada 2016 aku lupa bulan apa, aku memutuskan untuk berganti model dari pashmina, atau segiempat tarik belakang,  ke model jilbab segi empat yang menutup dada. Aku lupa awalnya kenapa, tiba-tiba pas acara formal aku memakai jilbab segi empat dan seterusnya. Kata Mas Arif jilbab yang kupakai sekarang lebih sopan dari sebelumnya pashmina yang kata dia bentuknya tidak beraturan, disilang sana sini (uwel-uwelan) dan memakai bross besar kadang menurut dia kurang berkenan.

Aku membuka koleksi lama, untung masih ada.Beberapa koleksi jilbab segi empat aneka warna berbahan chiffon (sifon), ceruti dan voile. Ada juga jilbab Turki oleh-oleh haji dari kakak ipar mbak Atik dan jilbab berbahan hycon dari mbak Lilik, masih kusimpan dengan baik.

Jilbab Turki Oleh-oleh Haji

Tidak lama kemudian pada Mei 2016 mulai beredar jilbab licin yang harganya lumayan.Waktu itu aku dikasih Arien saat main ke kantor Kalibata. Aku suka warna merah dan hitam, aku pakai di acara Ubud Writers dan Readers Festival Oktober 2016 di Ubud, Bali.

Jilbab merah penuh kisah

Di Ubud Gianyar Bali

Ada banyak bahan dasar jilbab dari mulai sifon (chiffon), hycon, voile, sutra, spandek, ceruty, higet, rayon, PE (poly ethilene), TC atau Tetoron cotton, kaos, rajut, jersey, katun, kashmir, dan polyster. Belakangan ada juga bahan mulberry silk, katun (cotton tyrex), voal, dan poycrepe.

Belakangan jilbab segi empat satin yang berbahan printing menjadi model kekinian dan dijual dengan harga menjulang.

Aneka Warna Jilbab (HL)

Aku juga bernah menjual jilbab segi empat yang ada bordir pinggiran dan jilbab langsungan bermonte dulu pesan di mbak Iim Azizah Kakak ipar Semarang, sampai sekarang jilbabnya suka aku kenakan. Pernah pula pesan jilbab Padang saat Dewi Nofrita pulang ke kampung halaman di Bukit Tinggi.

Jilbab coklat bordir dari Mbak IIm Semarang

Jilbab coklat bordir dari Mbak Iim Azizah Semarang

Gencarnya Promo Jilbab di Instagram (IG)

Sejak instagram booming pada 2014 hingga  tahun sekarang,  fashion muslim dan hijab berkibar di IG. Aneka hijab di jual dengan harga beragam dari 30 ribuan sampe 280 ribu beredar di di kalangan toko online di IG yang diendorse selebgram.

Ada satu akun yang sering aku jadi rujukan di IG namanya @heavin_lights. Jilbabnya keren dengan warna dan motif kekinian. Model andalannya adalah Mega Iskanti humas Wardah yang sangat elegan mengenakan aneka hijab, baik pashmina, segi empat maupun syar’i.

Koleksi Jilbab HL Motif

Akan tetapi aku kalau pesan tidak  pernah kebagian karena akun itu kebanyakan milik ratusan reseller padahal aku cuma beli satu saja. Dari akun ini aku menemukan banyak model dan warna jilbab kekinian terutama warna pastel yang sebelumnya tidak aku kenal seperti dusty pink, mocca cappucino, green avocado, peach, baby pink dll.

Aku punya satu jilbab dari HL berwarna abu, nama jilbabnya Selena Grey berbahan mulberry silk.
Satu warna coklat, hijau atau pink saja skg turunannya bisa memiliki 4 sampai lima warna gradasi dari yang paling tua sampai paling muda dan warna soft (lembut).Meski tidak pernah antrian, aku  dapat mengakalinya dengan menscreenshot dan mencari warna serupa di toko langganan.Beberapa aku dapat harganyapun murah dan tidak pakai ongkir.

Warna mocca capucino, atau Peach Makuta dan warna abu-abu serta warna lembut saat ini menjadi incaran setelah grey dan dusty pink, green mint dan pastel purple. Di IG HL warna ini laris manis dan jadi rebutan setiap upload.yang pesen sampai antri seharian.

Warna Pastel Purple

Toko online HL yang sangat

Selain itu aku mengkritisi para artis yang menjual jilbab printing dengan harga tinggi seperti merk Mandja dan Ashanty,menurutku itu tidak bagus untuk persaingan dunia hijab. Jangan jadikan bisnis ini terlalu berlebihan mengeruk keuntungan.

Aku follow akun @kain_printing yang menjual harga jilbab printing aneka bahan. Di situ dia jual dengan harga 90 rb sampai 110 ribuan silahkan buka jika penasaran. Di sini anda bia tahu modal jilbab printing artis kenamaan, dari biaya produksi 90 ribuan, para artis tenar  menjualnya hingga di atas 200 ribuan, karena ditambahi merk kenamaan…wah…

Akan tetapi fenomena jilbab printing ini tidak tahu sampai kapan,yang jelas aku lihat responnya rame di awal sepi belakangan padahal banyak outlet tersebar.

Sekarang orang berpikir dua kali  untuk beli jilbab mahal, karena sudah menjauh dari tujuan awal menutup aurat. Sebenarnya sah-sah saja itu dilakukan utk meramaikan dunia fashion hijab kekinian asal jangan terlalu berlebihan.

Saat kerja untuk acara 17 Agustus tahun ini di KC

Belum lama ini aku dapat jilbab oleh-oleh dari luar negeri saat Elin kuliah di Australia, berwarna biru dan abu, motifnya lucu ada yang motif aneka garis dan kubus ada yang sangat aku suka, yaitu motif speda, setahuku ini jarang yang punya. Kakakku di Bantul sekarang berjilbab lebar, dia lungsurkan juga banyak banget aneka warna jilbab segi empat yang biasa dia pakai sebagai PNS, yaitu jilbab sifon dan jilbab batik sutra, aku senang dan kegirangan bisa mix match buat aku kerja.

Saat acara pemuda milenial berdamai dengan sesama dan lingkungan, pake jilbab batik sutra dari teh geugeu

Mungkin itu saja pengamatan dan pengalamanku tentang dunia hijab. Foto yang aku tampilkan hanya menggambarkan variasi dan perkembangan  model berjilbab tidak bermaksud pamer,hanya menjelaskan perkembangan model, tapi terserah juga jika ada yg berpendapat demikian.

Jilbab Paling Sering kupakai warna baby pink

Sebenarnya masih banyak cerita tentang pernik pelengkap hijab seperti  ciput, atau inner serta bross yang menjadi pemanis hijab.Waktu masih pake pashmina aku suka mengkombinasikan dengan kalung etnik dulu suka koleksi dan titip Mas Arif saat dinas luar kota. Tapi sekarang sudah jarang aku kenakan.

Berkaitan dengan bross aku suka beli secara kebetulan di penjual keliling yang lewat, saat bazaar atau belakangan beli di kakak ipar Teh Neng A Iwan.Murah meriah harganya 15.000an. Dua minggu lalu aru saja menemukan bross cantik dari limbah plastik kresek kreasi ibu-ibu upcycle Depok. Wah ini keren sekali bagaimana pun sekarang era sustainability, mengolah sampah plastik menjadi bros cantik itu sangat keren.

Ini Bross Cantik dari Daur Ulang Kantong Kresek Plastik

Cerita selanjutnya tentang dunia hijab, jilbab, kerudung atau apalah yang aku pakai dan pernik lainnya. Saat menulis cerita ini di kereta jurusan Tanabang – Pasar Minggu baru, aku sedang memakai jilbab motif bunga kecil dengan bross dari limbah plastik kresek dan kaos orange untuk bekerja. Aku menyadari dalam hal berpakaian aku adalah orang tidak konsisten, kapan hari bisa berubah santun dan sopan, tapi juga adakalanya juga urakan ya seadanya aja, sebenarnya tidak terlalu mengikuti mode juga, aku lebih memilih kenyamanan dalam berbusana dan berjilbab.

Selain IG untuk mixmatch kadang aku suka memperhatikan gaya hijab para commuter sepanjang perjalanan Sudimara-Pasar Minggu Baru. Banyak inspirasi, apalagi jika duduk di gerbong perempuan itu seru dan menyenangkan.

Entah apa yang terjadi di masa depan dan entah model apa lagi hijab yang akan diminati dan kekinian.Terakhir aku lihat muncul jilbab brintik dan  jilbab printing motif bendera di status wa sebuah toko hijab langganan, setelah itu entah apa lagi.

Jilbab Kondangan Kekinian

Kita tunggu saja…Sebentar lagi sudah mau sampai kantor tempat aku bekerja, cukup mungkin ceritaku ini, mohon maaf jika tidak berkenan.Semoga bisa di sambung lagi  kapan-kapan.

Stasiun Tebet 12 Oktober 2017 pukul 08.48

Ada tiga hal  yang berubah dalam beberapa waktu belakangan, kaitannya dengan usaha dan kebiasaan yang sudah lama aku lakukan. Aku menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tapi setidaknya untuk berbagi cerita atau sharing bahwa kelestarian alam, lingkungan dan perubahan iklim adalah hal yang selama ini harus terus kita kampanyekan mulai dari dalam diri kita sendiri. Bukan hanya sekedar berkoar-koar.

Pertama yang ini membutuhkan banyak sekali pertimbangan adalah aku berhenti jualan sandal. Sudah sejak kecil, keluarga kami di Sukabumi turun temurun berbisnis sandal. Bahkan aku dan kakakku bisa kuliah di Jogja dan di Sukabumi karena usaha keluarga ini. Sungguh berat aku harus menghentikan bisnis yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Ada rasa nyesek dalam hati ketika ada pesanan dari beberapa teman berkaitan dengan sandal tapi aku tidak bisa memenuhinya.

Alasan utama aku berhenti jualan sandal adalah karena faktor limbah industri kecil kami di kampung yang sulit di daur ulang, ya memang harus dibakar. Awalnya sedikit akan tetapi karena orderan dari berbagai daerah melimpah, makin hari makin banyak. Dari lima orang kakakku laki-laki, empat diantaranya berbisnis ini dan aku sebagai adik sudah sejak SMA membantu berjualan. Hingga akhirnya pada tahun lalu, 2016, aku memberanikan diri mengemukakan alasan, dan semoga kakak-kakakku tidak surut bisnisnya karena alasan ini. Akan tetapi mereka memahami, bahwa bahan dasar industri sandal adalah karet. Dengan segala keberanian, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjualan sandal.

Kedua, Aku berhenti memakai lipstick. Aku kira ini terobosan besar. Sangat sulit di awal aku melakukan, karena sebelumnya aku termasuk yang suka dandan. Lebih dari 10 warna lipstick aku punya dari berbagai merek, dari yang paling murah sampai yang lumayan. Aku senang berburu warna lipstick kekinian. Tapi sejak September tahun lalu, sepulang aku dari Bali, aku sudah tidak menggunakan lipstick. Berat rasanya aku membuang semua lipstick di ruang kosmetik, aku sangat sayang, tapi aku sadar apa itu bahan dasar lipstick dan kosmetik lainnya, yaitu kelapa sawit. Jika Eka Kurniawan memiliki novel berjudul Cantik itu Luka, maka saya mengibaratkan lipstick itu demikian. Untuk membuat tampak cantik, kita harus merusak lingkungan, kita tidak tahu bagaimana kelapa sawit itu ditanam harus membakar hutan, merusak ekosistem. Begitu juga saat pengolahan dari kelapa sawit menjadi alat kosmetik, banyak para buruh yang diupah murah, sementara lipstick dijual mahal untuk kepentingan pemilik modal. Di balik aneka lipstick yang warna warni, ada beberapa nilai berkaitan dengan lingkungan dan kemanusiaan yang aku pertimbangkan.

Mungkin bagi sebagian orang, langkahku tidak menggunakan lipstik ini dianggap ekstrim atau lebay. Tak apalah untuk melakukan suatu perubahan kita harus siap dibilang beda, dimusuhi atau ditinggalkan teman. Tapi perubahan-perubahan besar berkaitan dengan lingkungan adalah dengan melakukan hal-hal kecil yang menurut kita benar, yang itu mudah-mudahan jika orang membaca tulisan ini akan berbuat demikian, tapi bukan merupakan suatu paksaan.

Ketiga: Hemat air, Energi dan Mulai Menanam. Awal tahun lalu hujan terus mengguyur bumi Pamulang, aku selalu siapkan menadah ember-ember di dapur aku keluarkan. Biasanya airnya aku pakai berwudhu, mandi atau menyiram tanaman. Begitu juga bilasan air cucian piring, tidak aku buang yang sudah tidak ada sabunnya aku siram. Aku sangat hemat menggunakan air, untuk berwudhu secukupnya. Beberapa waktu lalu aku sering dimarahin mas arif karena lupa matikan keran, sehingga air melimpah kemana-mana dan bagiku itu suatu peringatan.

Selain air, aku juga sekarang belajar untuk tidak sering menggunakan kendaraan bermotor atau mobil, jangan terlalu sering mencuci mobil dan usahakan semaksimal mungkin untuk naik kerta, commuter atau kendaraan daring jika bepergian. Semua aku lakukan dengan penuh kesadaran, begitu juga suami, dalam hal ini kita memiliki banyak kesamaan. Kita berdua kalau akhir pekan lebih banyak di rumah, ngurus tanaman dan istirahat panjang, tidak begitu suka bepergian. Paling banter ke Sukabumi, kalau ada hari-hari besar. Tidak seperti dulu, waktu masih ada orangtua.

Berkaitan dengan kebiasaaan menanam. Awalnya berasal dari sampah rumahtangga yaitu sayuran busuk seperti cabe, tomat, dan lain-lain yang kalau tidak dimasak, sayang aku buang. Aku jemur, lalu aku simpan bijinya dan kumpulkan.

aneka benih

Sudah banyak sebenarnya, aku wadahin rencana mau aku pisahin di kertas aku kasih label nama sayuran dan buah, cuma belum sempat beberapa bulan terakhir aku banyak deadline pekerjaan, sehingga adakalanya aku sabtu minggu tidak pulang.

 

Tapi minggu ini, sudah kembali normal, aku kembali menyiram tanaman, mengumpulkan benih, memasak dan bikin kue kesukaan. Mungkin itu saja, cerita yang aku ingin bagikan kepada teman-teman. Tidak ada maksud untuk gagah-gagahan, tapi ini semua kulakukan karena aku sangat percaya akan adanya hari akhir, atau hari kiamat. Siapa bilang isu perubahan iklim tidak berkaitan dengan hari akhir. Aku percaya akan semua yang diceritakan Al-qur’an bahwa ketika sumber daya alam diambil secara serakah oleh manusia maka gunung meletus sudah terjadi, gempa bumi dan banjir bandang terjadi dimana-mana, itu karena kita tidak peduli lingkungan dan serakah atas semua ciptaan Tuhan.

tomat

Kekayaan alam dikeruk untuk kepentingan pribadi dan pemilik modal, maka orang akan beramai-ramai untuk mengumpulkan uang. Kita tidak ingat seperti apa anak cucu kita di masa depan. Apakah mereka masih bisa makan enak dengan sayuran atau lalapan seperti yang kita makan sekarang? Atau mandi aja sulit karena tidak air, karena airnya habis untuk dijual air kemasan atau mencuci mobil agar kelihatan kinclong.

 

Suatu hari orang akan sadar, ketika ikan terakhir kita makan, ketika tidak adalagi tanah yang bisa ditanam, disitulah orang baru sadar bahwa uang tidak bisa dimakan. Bukan aku tidak butuh uang, tapi setidaknya kita bekerja harus seimbang, terutama dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Pejaten 25 September 2017
Pukul 9.40

Menghadapi Tekanan Kerja

Posted: September 22, 2017 by Eva in Artikel
Ada masanya ketika kita bekerja kurang fokus, banyak melakukan kesalahan dan tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Disitulah kita seringkali dikritik, dibantai bahkan dipermalukan di hadapan rekan kerja lainnya.Lalu apa yang harus kamu lakukan.
Ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan dan kita sadari, lalu kita tindaklanjuti.
1.Evaluasi Diri
 Anda harus perhatikan betul pekerjaan yang mendapat kritikan, perbaiki semua kesalahan, minta maaf dan mengingat ingat mungkin saat anda melakukan pekerjaan tersebut anda sedang tidak fokus atau ada urusan pribadi lain yang lebih anda prioritaskan selain pekerjaan. Saya kira itu yang harus kita lakukan di awal.
2.Positif Thinking
Ada masanya ucapan atasan terhadap kita sangat menyakitkan, nah disitulah kita positif thinking.Jangan menganggap bahwa bos anda tidak suka atau benci,  terima kritik dengan terbuka dan berikan penjelasan. Jika tidak mau terima ya sebaiknya kita diam, tapi kita harus menerima masukan dan anggap saja bahwa atasan itu sayang sama kita agar kita menjadi lebih baik dalam bekerja.
3.Jangan Masukin Perasaan
Tingginya angka depresi dan sakit jiwa adalah karena orang mudah tersinggungan, perasa dan tidak suka melihat orang lain bahagia. Jika anda ditegur keras, di kritik bahkan dibantai habis-habisan, jangan semua ucapan orang dimasukin perasaan. Di situ kunci menjaga keseimbangan. Kita harus ingat, bahwa perjuangan masih panjang, masih ada keluarga dan saudara yang yang harus kita perhatikan. Kalau anda selalu sensitif dan mudah tersinggungan, dimanapun berada anda tidak akan betah kerja.
4. Fokus dan Susun Skala Prioritas
Anda harus benar-benar memperbaiki semua kesalahan yang pernah dilakukan. Jangan mengulanginya.Bekerja harus teliti dan jangan asal asalan.Susun skala prioritas jangan sampai anda kebingungan mana yang harus didahulukan. Hindari medsos dan obrolan tidak penting yg membuat anda tidak fokus.
5.Bekerja diniati Ibadah
Jangan terlalu bangga dengan apa yang kamu miliki sekarang, karir cemerlang, gaji lumayan dan fasilitas memuaskan.Apalagi sampai pamer keberhasilan.Jika anda merasa bangga dan sukses, saat anda mendapat tekanan dan ujian, anda sulit menerima kenyataan.Maka jadilah pekerja yang senantiasa bekerja keras dimanapun ditempatkan.
kerja
Kita sebagai orang bawahan, pekerja kantoran, ibu rumahtangga, bahkan sampai pejabat pemerintahan, semua mulia di mata Tuhan. Maka apapun yang kita kerjakan maka diniati dengan ibadah, serahkan semua kepada yang memberi pekerjaan. Jika anda menyadari bahwa kerja itu ibadah, maka sepenuh hati kita akan melakukannya tanpa ingin dilihat orang baik atau buruk.Kita bekerja demi keluarga, demi masa depan dan tentu saja jangan lupa beramal. Beri keseimbangan antara dunia akhirat, bersyukur, insyaallah anda akan tahan banting menerima tekanan dan ujian dalam setiap pekerjaan.
Commuterline 22 September 2017
Pasar Minggu Baru – Tanabang
Pukul 19.19

Ketika Adzan Ashar Berkumandang

Posted: September 14, 2017 by Eva in Puisi

Ketika Adzan Ashar Berkumandang

Ada Banyak Momen Bersejarah
Ketika Adzan Ashar Berkumandang
Saat Aku di Rumah Sakit di Sukabumi
Pada Tahun 2009
Aku Tersadar Setelah Sakit Berbulan-bulan
Aku Seperti Terbangun dari Mimpi Panjang
Saat Aku Membuka Mata, Siuman
Saat itulah Berkumandang Adzan Ashar.

Beberapa waktu berlalu
Aku Berdebat dengan Orang Terdekat
Sangat Panjang tentang Silaturahmi, Etika Bertetangga
Dan juga Adab dalam pergaulan
Menyangkut Semua Kebiasaan dan Tata Krama
Dalam kehidupan Kemasyarakatan, Dikupas juga Habis-habisan
Semua selesai dan berdamai setelah Adzan Ashar Berkumandang

Sejak semalam aku dibantai habis-habisan
Berkaitan dengan Kinerja dan Kompetensiku di Perusahaan
Aku Senang Mendapat Masukan, Meski sangat menyakitkan
Seminggu Belakangan, Aku memang kerja kurang fokus
Berturut-turut dapat berita duka dari sahabat, kerabat dan teman
Dalam Seminggu Meninggal tiga orang, karena Kanker,
Jantung dan Darah Tinggi..

Aku sangat Ketakutan dan Sulit Membayangkan, Sampai Akhirnya Aku Sadar…
Pada Akhirnya Kita Semua Akan Berjuang dan Meninggal Sendirian
Suami, Anak, Harta, Sahabat Semua Akan Kita Tinggalkan
Aku Baru Sadar Bahwa Kita Jangan Terlalu Mencintai Berlebihan
Di usiaku sekarang 38 Tahun, Aku Sudah Harus Banyak Memikirkan
Bagaimana Cara Aku Menghadap Tuhan.

 

Kesedihanku Akan Kehilangan dan Juga Masalah Pekerjaan Berakhir Hari ini
Dengan Satu Kesadaran Bahwa Apa yang Kita Miliki
Semua adalah Milik Tuhan
Aku Berusaha Menghilangkan Ego dan Keinginan
Yang Kadang-Kadang Muncul dari Bawah Alam Sadar
Seketika Menjadi Terang Benderang
Entah Selamanya atau Sesaat, Mungkin Aku Akan Menghindari
Bertemu Teman-teman, sahabat atau kerabat
Entah Sampai Kapan Adakalanya Aku Hanya Ingin Sendirian
Berkumpul dengan Pasangan Atau Orang-orang Terdekat Saja
Bukan Sombong Atau Apalah Tapi Memang Sedang Menghindar dari Kegaduhan
Aku juga Baru Menyadari, Semua Kelemahan dan Kekurangan
Yang Aku Miliki, Saat Hati ini Berbisik Pelan…
Bahwa Aku sekarang Harus Banyak Diam
Tidak Usah terlalu banyak Mengungkapkan
Teruslah Bekerja Keras dan Berprasangka Baik Sama Orang
Mempersiapkan Masa Depan dan Juga Akhir Kehidupan
Saat Aku Menyadari Semuanya
Saat itulah Adzan Ashar Berkumandang…

Pejaten 14 September 2017
Pukul 15.40 WIB

Sejak Maret 2017, aku hampir tidak pernah menulis di blog. Sangat malas dan tidak semangat. Bulan Juli sampai September sempat non aktif, karena ada sesuatu berdasarkan tracking dan menghilang sejenak dari google agar namanya tak muncul. Kadang aq berpikir, aq terlalu show up atau show off di blog, jadi adakalanya malu dan geli baca tulisan yang sudah lama, jadi lebih baik ditutup aja blogku, aku kadang berpikir demikian.

Seiring berjalannya waktu dan kerjaannya menumpuk aku larut dalam rutinitas. Beberapa hari yang lalu, aku buka detik.com dan ada tulisan tentang philantropis Bill Gates yang baru-baru ini rajin ngeblog review buku….ya ampuun seneng banget bacanya. Secara aku sejak lama review buku di blog ini, tapi aku tidak pernah peduli ada yang baca atau tidak, tapi bagiku ini sangat menyenangkan. Keponakanku  Auliani Ekasari Putri dari Jogja juga tanya kok bibi blognya ga aktif, akhirnya kemarin aku aktifin lagi.

Apa yang aku geluti sejak lama sekarang sudah banyak dilakukan orang. Aku salut dan sangat respek pada orang yang suka membaca atau pegiat literasi, meskipun kadang aku sendiri merasakan tidak semua orang suka membaca. Bahkan ada yang mengatakan aku terlalu teksbook dan kebanyakan teori, lebih baik banyak berbuat tidak usah terlalu lama baca buku, kata sebagian orang, yah bagiku itu adalah pilihan-pilihan kita dalam melakukan suatu kegiatan.

Salam Literasi bersama Guru Berprestasi

Bagiku membaca saat ini adalah suatu yang mahal. Duduk, meluangkan waktu dan menelisik lembar demi lembar itu sangat menyenangkan. Di tengah kerjaan yang menumpuk. Dengan membaca Kita dilatih untuk berempati dan peduli dengan apa yang diceritakan penulis. Nah, itulah kekuatan literasi, olah rasa, olah jiwa dengan bacaan. Dari situ kita akan merasakan suatu kepuasaan tersendiri dengan apa yang disampaikan penulis, setting cerita dan terbawa suasana. Apalagi jika bukunya bagus kita review supaya orang juga tahu apa yang kita baca mereka rajin membaca dan membeli buku yang kita punya.

Beberapa waktu yang lalu, dalam kurun waktu teakhir saya rajin mengunjungi perpus Kemendikbud, UIN Jakarta, Kemenkes, Perpusnas, FKM UI dan terakhir Perpustakaan Bank Indonesia.Saya suka berlama-lama di perpustakaan, karena tuntutan pekerjaan, setelah lama di lapangan untuk liputan dan bahan penulisan, biasanya saya mencari referensi di perpus. Tapi saya lebih suka perpus yang ga ada wifinya jadi kita tenang bisa membaca sampai selesai. Nanti kapan-kapan aku akan cerita pengalamanku selama 1,5 tahun mengunjungi aneka perpustakaan, ini seru dan mengasyikkan meskipun aku harus mengakhirinya karena harus ngantor lagi beberapa bulan belakangan.

di Perpustakaan Kemendikbud

Saat ini gerakan literasi sudah mulai menyeruak di berbagai lini, lingkungan sekolah misalnya, setelah berdoa diharapkan setiap murid membaca selama 10 menit buku cerita, itu yang diajarkan para guru untuk melatih murid agar senantiasa gemar membaca. Semoga kedepan orang akan semakin banyak membaca dan tentu saja, biasanya orang bisa menulis karena suka membaca. Jangan larut dengan hal-hal yang praktis luangkan waktu untuk menulis dan membaca.

di perpustakaan Bank Indonesia

Pepatah mengatakan jika Sahabat terbaik adalah buku, ya buku bisa kita bawa saat susah senang dan melanglang buana kemanapun si penulis membawa cerita. Mencintai buku adalah mencintai ilmu pengetahuan, semakin banyak membaca semakin kita merasa bodoh. Disitulah kita menjadi tidak mudah terpengaruh dengan berita online dan berita hoaks yang bertebaran. Dengan membaca kita juga punya second opinion, referensi dan rujukan. Apapagi aku suka menstabilo kutipan yang memotivasi atau kata-kata bijak yang menyentuh hati. Bagiku itu ibarat kita menemukan berlian di tengah pusaran padang pasir.

kutipan-kutipan seperti ini yang kusuka

Maka mari kita rajin membaca, menulis apa saja, menulis puisi, cerpen atau menulis di blog, atau opini selagi sempat. Jangan menulis status kebencian atau sikap nyinyir yang justru membuat orang tidak nyaman. Barbaik sangka sama orang, dan tidak menyimpan rasa dendam, maka hati kita menjadi lapang. Kita menulis, bekerja apapun yang kita lakukan diniati ibadah, tidak mengharap pujian manusia, karena yang berhak menilai diri kita adalah Tuhan. Salam Literasi

Salam Literasi

Berikut saya tulis link yang membuat saya termotivasi untuk menulis di blog lagi, tidak jadi menutupnya.

Pejaten 7 September 2017

Salam Literasi

https://inet.detik.com/cyberlife/d-3629030/ternyata-ini-hobi-bill-gates-yang-membuatnya-pintar

Ternyata Ini Hobi Bill Gates yang Membuatnya Pintar

Fino Yurio Kristo – detikInet
Share 0 Tweet 0 Share 0 1 komentar
Bill Gates (Foto: Internet)

Jakarta – Bill Gates mengaku sudah kecanduan membaca sejak kecil. Itu adalah salah satu kunci kepintaran dan kesuksesan pendiri Microsoft tersebut. Tak sekadar membaca, ia bahkan juga sempat menulis beberapa review buku di blognya, Gates Notes.

Berikut wawancara singkat dengan Bill Gates yang menceritakan soal kecanduannya membaca, dikutip detikINET dari New York Times.

Seperti apa peran membaca dalam hidup Anda?

Membaca adalah salah satu cara utama bagiku untuk belajar dan telah kulakukan sejak masa kanak-kanak. Belakangan ini, aku memang mengunjungi tempat-tempat menarik, bertemu dengan para ilmuwan, dan menyaksikan banyak kuliah online. Tapi membaca masih tetap menjadi cara utama bagiku mempelajari hal-hal baru dan menguji pemahamanku.

Bill Gates

Apa yang membuat Anda memutuskan menulis review buku di blog?

Aku selalu suka membaca dan belajar, jadi kupikir akan bagus jika orang membaca sebuah review buku dan juga merasa terdorong untuk membaca dan membagikan apa yang mereka pikirkan dengan teman-temannya.

Salah satu alasan utama aku memulai blog memang adalah untuk membagikan pemikiranku soal apa yang kubaca. Jadi menyenangkan melihat orang menulis reaksi dan rekomendasi mereka di kolom komentar.

Bagaimana Anda memilih buku yang akan dibaca?

Melinda dan aku kadang saling bertukar buku yang kami suka. Aku juga mendapatkan rekomendasi dari teman. Setelah menyelesaikan buku yang bagus, aku sering mencoba menemukan buku lain karya penulis yang sama atau buku yang mirip tentang subyek yang sama.

Buku apa yang sering Anda rekomendasikan?

Aku membaca buku The Better Angels of Our Nature karya Stephen Pinker beberapa tahun lalu dan setelahnya langsung aku menemui Stephen untuk bicara padanya. Aku review buku itu di Gates Notes karena aku ingin orang lain membacanya, menyukainya dan belajar darinya seperti halnya diriku. Ini mungkin buku favoritku dan yang paling sering kurekomendasikan.

Apakah Anda juga membaca novel?

Aku memang tidak membaca banyak fiksi tapi pernah terkejut karena merasa sangat suka dengan novel berjudul The Rosie Project karya Graeme Simsion. Melinda yang pertama membacanya dan kadang membacanya dengan suara keras. Akhirnya, aku memutuskan untuk juga membacanya.

Aku mulai membaca novel itu pada jam 11 malam dan keterusan sampai jam 3 dini hari. Novel itu sangat lucu dan juga menunjukkan banyak empati bagi orang yang berjuang di berbagai situasi sosial.

Jika anda ingin membaca website pribadi Bill Gates, silahkan kunjungi http://www.gatesnotes.com

Resign?Maju Atau Mundur

Posted: May 15, 2017 by Eva in Artikel

Resensi Buku

Judul   : Resign, Memajukan Diri Bukan Mengundurkan Diri

Penulis: Mega Chandra (Me-Chan)

Penerbit: Self Publishing

Edisi     : Maret, 2017

sampul buku

Setelah sekian tahun anda bekerja, merangkak dari karir , yang paling bawah hingga mencapai posisi yang sudah mapan, atau bekerja lama tapi karir anda di perusahaan anda stagnan, maka pilihan untuk berhenti bekerja, dan tentu masih banyak alasan lain, karena ingin lebih memperhatikan anak dan orangtua (keluarga), karena sakit, atau karena tergoda ingin buka usaha sendiri.

Ada banyak alasan orang untuk memilih pilihan berhenti dari karir, namun tidak ada salahnya, sebelum anda memutuskan melanjutkan atau tidak karir anda, baca buku ini terlebih dahulu agar anda lebih menghadapi apa yang terjadi kemudian di masa yang akan datang, ketika karir anda berhenti, atau bahkan semakin melambung tinggi.

Buku berjdul ‘Resign” karya Mega Chandra ini, adalah buku kedua yang saya baca, buku pertama yang saya baca, adalah One Team One Goal bicara tentang cara kita bekerjasama dalam satu tim, sebuah buku penyemangat untuk saling berpegangan tangan membangun tim yang kompak untuk menuju satu kesuksesan. Resensinya bisa dibaca di sini Mengoptimalkan Teamwork, Hindari Ingin Maju Sendiri.

Nah buku terbaru, Motivator yang akrab dipanggil Me-Chan ini, membahas tuntas tentang Resign dari berbagai perspektif. Seperti biasa, ulasan penulis asal Lampung ini mengawali prolog dengan peristiwa sehari-hari kekininian tentang aneka perusahaan yang banyak mem-PHK karyawannya serta makin tergerusnya tenaga manusia oleh alih teknologi.

Namun, buku yang memiliki sampul artistik ini, tampil beda, tidak melulu pada satu titik tentang kenapa perlu resign atau tidak, tapi lebih kepada alasan dan gagasan untuk menghadapi rasa takut dan keluar dari zona nyaman agar anda bisa mengambil keputusan.

Mempersiapkan Diri Lebih Baik

Ada empat bab yang dibahas secara tuntas dalam buku ini. Pertama tentang Resign? Why Not, terdiri dari empat sub bab yaitu hadapi rasa takut, keluar dari zona nyaman, bertumbuh dengan SWOT Analysis, dan Ketakutan itu tidak akan terjadi.

Memasuki Bab dua, anda akan tercerahkan  dengan argumen lengkap, berjudul Why Resign? di sini akan didedahkan tentang dahsyatnya paradigma, Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Cepat. Sedangkan Bab ketiga, Me-Chan mendedahkan tentang Prepare Be Better. Ada tiga sub bab dalam buku ini yang menjelaskan tentang Good Preparation better than Good Explanation, Never Stop Study, Show up, Stand up, Speak up.

Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, pada buku kali ini di akhir setiap bab ada karikatur yang berkaitan dengan wacana yang dibahas tiap bab. Seperti bab empat yang merupakan inti dari buku ini, yaitu: Resign=Memajukan Diri. Menurut Me-Chan, menyiapkan diri baik mental dan skills adalah upaya terbaik yang harus kita lakukan jika kita siap menghadapi ujian dalam bentuk apapun, terlebih dengan tidak stabilnya kondisi perusahaan di mana kita dituntut selalu siap dengan segala resiko.

Resign itu harus maju, harus menjadi lebih baik karena yang mengajukan resign pasti seharusnya sudah jauh lebih siap dibandingkan yang di-resign-kan. Orang yang mengajukan resign pastinya sudah berpikir dalam tentang keputusannya apapun alasannya, itu sebabnya orang yang mengundurkan diri lebih siap dibandingkan dengan yang diberhentikan.

Namun sangat disayangkan apabila orang yang jauh lebih siap ternyata “resign” tidak mengalami kemajuan, resign tidak hanya karena bosan atau karena ingin mencari suasana baru tanpa perubahan apapun yang lebih baik. Baik dari sisi penghasilan, fasilitas atau yang paling utama yaitu kualitas dan karya yang lebih baik.

Dalam bab empat ini juga di bahas tentang Self Management dan Choose The Right Job for Us, Harus diingat memajukan diri bisa kita lakukan dengan banyak cara. Apapun yang kita pilih memiliki konsekuensi yang harus siap kita hadapi. oleh sebab itu kita harus lebih siap, maka proses reminder diri seperti self management dalam proses pengembangan diri mutlak harus kita jalankan jika kita ingin memiliki kebebasan memilih.

Jadi anda masih bingung dengan pilihan Anda? Tidak ada salahnya untuk membaca buku ini sebagai bahan pertimbangan. Selamat membaca

Eva Rohilah

Pengamat Buku tinggal di Depok

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-Mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet DeNeefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

 

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama di adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali, mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan imagining India pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee. Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali, ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain belok-belokan di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-fotoakhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara ke Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya, dan Alex mereka turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampe besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di neka Museum saya mengikuti sesi Migrant dan Refugees bersama Stef vaessen, Sami Shah, Chris raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang A Little Life yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemau Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Empat Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan.Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak saya ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirma 21.40

MENGARUNGI PERJALANAN SPIRITUAL-INTELEKTUAL

Judul: Bahkan Malaikat Pun Bertanya
Penulis: Dr Jeffrey Lang
Pengantar: Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama: Oktoebr 2000
Tebal: (xix + 302) halaman

Buku Jefrey Lang

Buku Jefrey Lang

Buku Bahkan Malaikat pun Bertanya ini berangkat dari keprihatinan penulisnya setelah melihat banyak orang Islam di negerinya menghindari atau bahkan mengingkari agama itu, lantaran tak mampu mendamaikan agama yang mereka warisi dengan pandangan Barat sekuler yang mereka peroleh.
Fenomena yang sesungguhnya melanda nyaris semua negeri muslim ini telah membelah umat Islam ke dalam dua kubu yang berlawanan: mereka membekukan dirinya dalam tradisi lama dan mereka yang mengekor pada peradaban Barat.

Yang pertama memandang pemikiran Islam terdahulu sebagai rujukan ideal, dan yang kedua melihat Barat sebagai puncak peradaban. Yang pertama kaum fundamentalis, sedangkan yang kedua kaum liberal.

Kedua kelompok itu sama “menyesatkan”. Agar tidak terperangkap dalam bahaya itu, lewat buku yang dalam peringkat Amazon.com mendapat bintang lima ini penulis menganjurkan umat Islam senantiasa mengembangkan sikap kritis. Baik dalam memandang realitas faktual yang muncul, maupun dalam memahami pesan-pesan Islam itu sendiri.

Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu stereotip yang populer di Barat. Disebut stereotip karena, kesan-kesan itu terus bertahan walaupun “survei membuktikan” bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab.

Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah nama apapun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila masuk Islam atau naik haji?

Hal seperti itulah yang mengusik Jeffrey Lang, ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan tidak mengganti namanya, seperti Cassius Clay yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk ditukar dengan jubah dan sorban seperti Cat Steven, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga tak pernah mengubah Thank God sebagai pengganti Alhamdulillah.

Menurut mualaf Amerika penulis buku terkenal Struggling to Surrender (telah di Indonesiakan menjadi Pergumulan Menuju Kepasrahan, Serambi, Juni 2002) ini, cara yang paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukan mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik.
Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan, katanya. Bahkan malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan pun bertanya! Mereka “berani” mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka Bumi: Apakah Engkau akan jadikan disana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

BUKU ini membawa pembaca mengarungi perjalanan spiritual intelektual dengan mendiskusikan konflik-konflik yang terjadi antara agama dan akal, rintangan-rintangan yang dipasang oleh kaum Muslim sendiri yang menghalangi orang untuk memeluk Islam, ekstremisme dalam komunitas Islam, dan lain-lain.

Bahkan Malaikat Pun Bertanya, memiliki arti umum yang sangat penting, ditulis dengan sangat bagus (orang mungkin tidak mengira bila penulisnnya seorang guru besar matematika), dan merupakan hasil dari kajian yang baik.

Memang buku ini adalah gambaran hidup tentang bagaimana Jeffrey Lang begitu tertarik kepada Islam tanpa terbendung lagi. Namun, buku ini juga menawarkan suatu program yang solid dengan menawarkan alasan yang baik bagi semua orang Amerika lainnya memerlukan kajian rasional yang luas dan mendalam sebelum berserah diri pada Allah.

Perjalanan spiritual Dr Lang menjadi terkesan unik dan menarik ketika ia ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapi, ia berhasil menemukan pencerahan baru: no escape from being an american. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya.

Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya. Islam tidak pernah datang dari suatu vakum kultural. Karena itu, maka ditemukanlah Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indonesia. Dan mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?

Akan tetapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah jatuh pada hambatan besar: mengekor Barat? Memang disamping kaum fundamentalis yang mengekor kebudayaan Arab, kita juga menemukan kaum liberal yang mengekor Barat sebagai puncak peradaban.

Terlepas dari jebak-jebakan itu, Dr Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis pada bab 2 buku ini: “Cara paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukanlah mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik, melainkan justru harus sebaliknya. Komunitas Muslim harus terus mendorong kedua hal itu. Kita cenderung berbuat salah manakala kita tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri”.
***
MEMBACA buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalanan spiritual, bukan saja seorang Muslim Amerika, tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun ketika ia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dan Islam aktual.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang persiektif orang non-Muslim tentang Ramadhan. Mereka menilai bahwa puasa merupakan ibadah ritual yang paling keras dalam Islam (hlm 216).
Namun perlu diperhatikan, bahwa ada beberapa kekhawatiran dari buku ini, yakni dapat menjerumuskan pembaca non-Muslim pada kesan keliru dan sepihak tentang kaum Muslim. Boleh jadi pemburukan media Barat atas citra kaum Muslim dan agama mereka.

Jeffrey Lang menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli (berdasarkan akal) dan nakli (berdasarkan Al-Qur’an).

Uraian Dr Lang dalam buku ini juga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan. Bisa dibaca oleh siapa saja dan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan serius maupun ringan.

(Eva Rohilah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di harian Kompas edisi………..waktu itu ditelepon sama Pak Dewa Brata Redaktur Pustakaloka yang terbit setiap Senin, honornya saya masih ingat 350.000 sangat besar ukuran saat itu, dari sini pula saya diberi beberapa buku baru dari Penerbit Serambi yang Chief Editornya Pak Qamaruddin SF, setelah saya kerja di Alvabet kita sering bertemu sebagai sesama penerbit dan bersahabat baik dengan beliau.

JUNJUNGLAH TINGGI SISTEM NILAI YANG EGALITER

Judul: Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan
Penulis: Dr Irwan Abdullah
Editor: Ana Samsuri
Penerbit: Tarawang Press Yogyakarta
Cetakan 1 Maret 2001
Tebal: (xvi + 222) halaman

Buku Irwan Abdullah

Buku Irwan Abdullah

Diawali dengan ide dan gagasan RA Kartini leawt buku Habis Gelap terbitlah Terang perjuangan perempuan untuk kesetaraan hak sampai kini terus bergulir. Bahkan, belakangan ini wacana itu menjadi semakin marak, lantaran dalam rentang waktu yang demikian panjang dan lama, perempuan menuju persamaan hak belum juga mencapai klimaks.

Dalam struktur yang hegemonik sekalipun, sesungguhnya perempuan melakukan pilihan bagi hidupnya. Perempuan bukan pihak yang menerima begitu saja kenyataan hidup.

Akan tetapi, mengapa dalam praktik sosial, perempuan mau mengalah atau dikalahkan? Kesalahan utama yang dilakukan para politisi, peneliti, dan kaum feminis, adalah mereproduksi struktur patriarirkal dengan menekankan wacana ketimpangan jender, perempuan sebagai makhluk yang lemah, tergantung, halus, dan sebagainya.
Dengan cara itu sesungguhnya kita tidak melakukan apa-apa untuk kesejahteraan peremepuan. Sebaliknya, perempuan malah tersubordinasi secara terus menerus oleh wacana yang dibangun orang-orang yang sangat ingin membantu perempuan sekalipun
***
Buku Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan ini terdiri dari empat bagian, atau sebelas bab. Ditulis dengan saksama oleh dosen Fakultas Sastra UGM yang sangat tertarik pada masalah perempuan sejak mahasiswa. Penulis itu Dr. Irwan Abdullah, seorang feminis kelahiran Aceh Utara 37 tahun yang lalu.

Melalui bukunya tersebut ia berusaha membawa pembaca mengikuti dua arus besar yang melanda dunia ketiga. Dalam ranah sosial, pembicaraan mengenai perempuan telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan pada saat konsep “jender” digunakan sebagai perspektif. Jender lebih menunjuk kepada relasi dimana kaum lelaki dan perempuan berinteraksi.

Hal tersebut menjadi rumit tatkala perempuan memainkan berbagai peranan sekaligus. Perempuan ideal kemudian menjadi superwoman yang memiliki kapasitas domestik dan diharapkan memiliki kapasitas dalam bidang publik secara sempurna. Posisi laki-laki disini tampak cenderung tidak digugat.
Secara implisit dinyatakan bahwa peran publik merupakan tanda kemerdekaan perempuan, dan peran domestik digugat karena dianggap telah memenjarakan perempuan. Cara-cara seperti ini sesungguhnya ikut mereproduksi realitas tentang stratifikasi sosial.

Dalam proses migrasi dari domestik ke publik, perempuan harus mengeluarkan biaya ideologi yang begitu besar. Perempuan tidak hanya harus memiliki kualitas yang sama dengan laki-laki untuk memenuhi kriteria sebuah pekerjaan, tetapi juga harus cantik dan menawan. Bukankah ini sekaligus pelecehan terhadap perempuan.

Pada bagian lain, arus balik yang terjadi berasal dari realitas ekonomi. Hal ini berawal dari penandaan tubuh perempuan yang terbingkai dalam fungsi biologis reproduktif ke arah fungsi ekonomi demi ekspansi kapital. Tubuh dan hasrat digunakan sebagai titik sentral produk yang disebut sebagai ekonomi libido.

Pembahasan soal itu menjadi menarik ketika menyangkut masalah tubuh perempuan dalam iklan dan rimba laki-laki. Stigma ini cukup diimbangi dengan peranan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi.

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Imbangan itu antar lain tampak dari hasil penelitian tentang bagaimana peranan perempuan dalam pasar, pedesaan, dan kerajinan rumah tangga yang lebih menenkankan pada aspek mobilitas dan mengankat marginalitas profesi seperti bakul (penjaja), tukang jamu. Bhakan juga peranannya dalam home industry.
***

Pesan utama dari penulis adalah bahwa usaha perbaikan kehidupan perempuan bukan usaha memerangi laki-laki tetapi mengubah sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obejek. Perubahan ini akan terjadi apabila bertumpu pada struktur yang menjunjung tinggi sistem nilai dan ideologi yang egaliter.

Kekuatan utama buku ini pada epilog yang merupakan rajutan dari berbagai bab. Masing-masing bagian digarap secara serius karena beberapa bahan dalam buku ini hasil penelitian lapangan serta riset perpustakaan yang dilengkapi dengan data kuantitatif yang cukup akurat.
Disamping itu ada terobosan yang cukup berani untuk melakukan penyegaran, penyusuran, dan penggerusan yang cukup mendalam atas kompilasi wacana yang telah ada, kritikan terhadap kaum feminis, sampai sindiran yang tajam terhadap kaum oportunis.

Sayangnya ada satu kelemahan yang cukup fatal, yaitu tidak seimbang (equal) antara judul buku dengan substansi, yakni dimensi seksisme kurang begitu disentuh secara mendalam. Ulasannya teramat singkat hanya sebatas retorika dan obyektivitas reproduksi dalam kaitannya dengan kekuasaan lelaki.
Hal itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran editor yang kurang memperhatikan grand opinion dan tidak fasih dalam menerapkan gaya penulisan ilmiah sehingga buku ini terkesan kaku meskipun alur penulisannya dari awal hingga akhir menarik.

Akan tetapi, setidaknya, sampul bergambar RA Kartini yang melankonis akan sedikit mengeliminir kelemahan buku ini. Yang jelas, dengan kelebihan dan kekurangannya itu, buku ini telah menambah panjang koleksi buku feminis. Siapapun yang peduli akan nasib, pendidikan, dan masa depan perempuan akan memperoleh manfaat dari buku ini.
(Eva Rohilah mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurnalis LPM Sinergi Yogyakarta)
Dimuat di Harian Kompas edisi

JANGAN LUPAKAN TRADISI

Judul: Agama, Negara, dan Penerapan Syaria’ah
Judul Asli: Ad-Din Wa Ad Daulah wa Tathbiq As-Syari’ah Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah (Beirut 1996)
Penulis: Muhammad Abed Al Jabiri
Penerjemah: Ulin Nuha
Penerbit: Fajar Pustaka Bru, Yogyakarta
Cetakan I, September 2001
Tebal: (xxxvi + 201) halaman

Buku Abed Al-Jabiri

Buku Abed Al-Jabiri

MUHAMMAD Abed Al-Jabiri seorang pemikir terkemuka Arab saat ini yang mengangkat berbagai gagasan segar dalam rangka kebangkitan Islam, khususnya di lingkungan negara Arab. Ia punya analisa yang cukup signifikan terhadap masalah yang menyita kaum muslim tentang hubungan negara dan agama.

Masalah itu menjadi mendesak karena kemunculan negara-negara bangsa (nation state) dan berhembusnya semangat sekularisme yang dibawa Barat Modern. Dia mengemukakan, “pertanyaan apakah Islam itu agama atau negara” merupakan pertanyaan palsu karena diajukan oleh kebudayaan Barat dengan segala pengakuan historis yang dilaluinya, bukan cermin realitas kaum Muslim sendiri.

Menurut Al-Jabiri, kalau mau jujur menelaah Al Qur’an dan sejarah Islam, kita akan menemukan fakta bahwa Islam tidak pernah menentukan jenis dan bentuk negara. Rujukan historis maupun praktis tentang kenegaraan Islam hanya ada pada praktik sahabat Nabi SAW, yang menurut dia, itu hanya suatu ijtihad.
Oleh karena itu, sesuai perkembangan zaman, Al-Jabiri dengan tegas mengatakan bahwa demokrasi merupakan sesuatu yang niscaya bagi kaum Muslim untuk masa kini dan masa depan. Meskipun dia tidak naif dengan mengatakan bahwa para sahabat Nabi SAW telah mempraktikkan demokrasi melalui ajaran syura yang dianggap mempunyai urgensi yang sama dengan demokrasi.

Jika negara itu demokratis, bagaimana dengan penerapan syariah, bagaimana meletakkan syari’ah dalam sebuah negara demokrasi? Al-Jabiri kembali membongkar tradisi dan sejarah secara rasional. Baginya, praktik kenegaraan dan penerapan hukum syariah harus dikaji dan ditelaah secara mendalam. Di sini hukum Islam dianggap sebagai hukum yang hidup (the living law) dan menjiwai setiap aturan tanpa memaksakan simbol sebagai suatu ciri yang otentik.

Buku yang merupakan terjemahan dari kumpulan artikel dari Bahasa Arab ini ditulis oleh Abed Al-Jabiri yang dewasa ini pemikiran dan gagasan-gagasannya dibicarakan oleh kalangan intelektual Muslim berkenaan dengan semakin menguatnya wacana post tradisionalisme Islam dan kajian tentang Islam Liberal.
***

TIDAK ada salahnya jika sebelum membaca buku ini akan diperkenalkan terlebih dahulu tentang sosok Al-Jabiri.
Intelektual Muslim kelahiran Maroko tahun 1936 ini menempati posisi garda depan pemikiran Islam Arab kontemporer, sederajat dengan Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Hamd Abu Zayd, Basam Tibi, Muhammad Imarah, Fatima Mernisi, Adonis. Al-Jabiri sering menulis berseri di beberapa harian ternama Timur Tengah, seperti Al-Syarqah Ausath.

Dalam suatu kesempatan pada waktu seminar di Berlin, Jerman, yang diselenggarakan oleh Federich Ebert Stiftung pada tahun 1996, Al-Jabiri bertemu dalam satu forum dengan Abdurrahman Wahid dan Fatima Mernissi yang sama-sama berbicara tentang Civil Society In the Moslem World.

Edisi Cetak Harian Kompas

Edisi Cetak Harian Kompas

Salah satu tulisannya yang terkenal adalah Naqd al-Aql al’Arabi (Kritik Nalar Arab) yang mejadi perdebatan di kalangan intelektual Muslim karena berbeda dengan “Kritik Nalar Islam” Arkoun. Dalam bahasannya itu, jelas sekali pemikirannya tentang perubahan makna akal tersebut banyak dipengaruhi oleh tokoh filsafat Perancis seperti Jacques Lacan, Althussder, Jacques Derrida, Roland Barthes, dan Michael Foucoult.
Hingga kini tulisan-tulis Al-Jabiri bentuk buku telah mencapai angka belasan. Salah satu kumpulan tulisannya di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Baso bejudul Post Tradisionalis Islam (LKiS Yogyakarta, 2000) banyak mengulas tentang pejanlanan intelektual Al-Jabiri dan relevansi tradisi dalam pemikiran Islam kontemporer.
***

DALAM penuturannya yang cukup lugas lewat buku ini terasa kepeduliannya terhadap tradisi (al turats) cukup kental dan mewarnai uraiannya. Salah satu persoalan krusial saat ini bagi kebangkitan Islam adalah bagaimana menyikapi tradisi dalam kehidupan bernegara dan beragama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sepanjang sejarah.

Menurut Al-Jabiri ada dua hal penting yang menyertai kekinian, yang tetap hadir dalam kesadaran atau ketidaksadaran kita, dan kedua adalah tradisi yang mencakup kemanusiaan yang lebih luas seperti pemikiran filsafat dan sains.

Sikap kaum Muslim terhadap tradisi mempunyai corak yang berbeda, ada yang menolak apa saja yang bukan dari tradisi Islam karena apa yang ada dalam tradisi tersebut dinilai sudah memadai. Seperti ulama konservatif dan mereka yang justru tidak memiliki pengetahuan yang memadai karena dididik oleh tradisi lain yang sudah memadai.
Kedua, mereka yang menganggap bahwa tradisi sama sekali tidak memadai dalam kehidupan modern saat ini, karena itu harus dibuang jauh-jauh. Kelompok ini adalah mereka yang berpikiran sekuler dan liberal ala Barat sehingga menganggap kebangkitan tidak akan bisa dicapai kecuali mengikuti pola Barat.

Kedua sikap tersebut menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang (ekstrem). Oleh karena itu Al-Jabiri mencoba mencari jalan keluar dari dua sikap ekstrem itu dengan tawaran agar kita berusaha bersikap dan berpijak pada tradisi. Namun, tentu bukan dalam kerangka tradisi kita melebur didalamnya dengan segenap gerak dan gelombangnya, tetapi lebih diperlakukan sebagai produk kebudayaan manusia, sebagai produk ilmiah yang senantiasa berkembang.

Dari sini kita belajar berpijak pada tradisi kita sendiri secara sadar, kritis, dan rasional. Di Indonesia pemahaman tentang konsep ini sekarang sedang aktual diwacanakan sebagai “post tradisionalisme”.
***

BUKU yang terdiri dari dua bagian ini berusaha memposisikan hubungan agama dan negara dalam rujukan tradisi dan kebangkitan (renaissance). Penerapan syari’ah diulas secara mendetail, mulai salafisme sampai dengan ekstremisme, antara akidah dan syari’ah, juga diusahakan merasionalkan hukum-hukum syari’ah (hlm 168).
Beberapa kritik terhadap Mazhab Syafi’i, dan ajakan untuk menolak hukum (hudud) berdasarkan argumen ketidakjelasan, akan menjadi wacana yang menarik ketika hukum diletakkan dalam posisi agama dan negara, dengan memperhatikan tradisi dan budaya lokal.

Metode telaah kontemporer yang diajukan Al-Jabiri, merupakan sebuah terobosan yang cukup penting dan aktual dengan kondisi tanah air kita. Selama ini banyak orang yang menelaah tradisi untuk mencari sandaran otoritas belaka tanpa menyadari dimensi historis dan ideologis yang melahirkan tradisi itu. Dalam hal ini sikap terbuka Al-Jabiri terhadap demokrasi dan HAM dengan tanpa sedikit pun merasa terancam dengan kehilangan identitas keislamannya, juga merupakan satu hal yang patut diperhatikan.

Dalam hal tersebut strategi Al-Jabiri untuk mendudukkan pemikiran Barat dan Islam pada mekanisme dan historitasnya masing-masing, adalah sesuatu yang diambil dari semangat Ibn Rusyd dalam menjelaskan hubungan agama dan filsafat. Itu boleh dibilang sebagai merupakan strategi yang cukup menjanjikan.
Terlepas dari sampulnya yang kurang begitu menarik, isi buku ini akan sangat bermanfaat bagi khazanah intelektual Muslim, sebagai wacana alternatif dalam membincangkan kembali agama, negara, dan penerapan hukum (syari’ah) secara proporsional, tanpa melepaskan tradisi, pluralisme, dalam dinamika pergolakan pemikiran Islam kontemporer.
• EVA ROHILAH
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dimuat di Harian Nasional Kompas edisi 22 Maret 2002

Iseng-iseng buka file lama, tulisan lama waktu kuliah di Jogja sejak tahun 1998-2003. Di tulis ulang oleh Mbak Vidia Hapsari, anak tetangga di Pamulang Elok sekolah di MTsN Pamulang.

Masing-masing ada sejarahnya tulisan yang kebanyakan resensi buku ini. Berikut saya ulas seingatnya, kapan dimuat dan berapa honornya juga lupa hehe..

MERETAS ALTERNATIF SOSIALISME DAN AGAMA

Resensi Buku: Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat
Editor: Muhidin M Dahlan
Cetakan: 1 Juli 2000
Penerbit: Kreasi Wacana
Prolog: Muhammad Hatta

Sampul Buku

Sampul Buku

Tema wacana sosialisme religius dan Islam “kiri” kembali jadi perbincangan dalam kajian berbagai seminar maupun diskusi keagamaan. Kajian sosial ekonomi pun ikut mewarnainya dengan semkain merajalelanya kapitalis, sehingga menambah khazanah ilmu sosial menjadi tak pernah kering ataupun menjemukan. Apa yang ditawarkan Giddens dalam The Third way-nya bukanlah jawaban terhadap permasalahan yang ada dalam sistem kapitalisme. Dan mereka hanyalah bagian ‘marketing’ kapitalisme terhadap kehidupan dunia.

Tema itu pulalah yang menjadi sentral of idea dalam buku yang berjudul Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat yang disusun secara gotong royong oleh para penulis yang kebanyakan dari aktivis pergerakan mahasiswa. Lewat telaah sosiohistoris, buku ini berusaha membongkar “secara radikal” tentang segala asumsi teoritis dari opini umum selama ini tentang perspektif ideologi sosialis – marxist atau islamis dengan mempresentasikannya pada analisa yang kongkrit sekarang ini.

Prolog buku ini sangat menarik dengan memuat buah pikiran salah satu dari founding father Drs Moh Hatta (alm) yang pernah dimuat pada harian Daulat Rakyat edisi 30 September 1932. Moh Hatta, memfokuskan pada penyelesaian krisis pada masa itu yang diakibatkan oleh serangan kapitalisme dan Imperialisme barat yang mengakibatkan rakyat kelaparan dan tidak adanya keadilan serta disemangati oleh individualisme yang tinggi sebagai reaksi atas ajaran agama pada waktu itu.

Ide yang ditawarkan sebagai solusi kala itu adalah pergaulan rakyat, yaitu pergaulan hidup kolektivisme berdasar persamaan yang telah lama dianjurkan oleh Nabi Isa sejak lahir, dilanjutkan oleh Umat Islam dalam penganjur kaum buruh pada waktu itu, yaitu Karl Marx sampai Lenin.

Edisi Cetak di KR

Edisi Cetak di KR

Hal ini tentu saja sangat representatif dengan kondisi bangsa saat ini yang sedang dirundung krisis membutuhkan suatu pemecahan yang lebih mendasar dan fundamental. Kebijakan publik yang telah diambil untuk menangani krisis terkesan hanya terpatok pada perspektif ekonomis. Asumsi dasar para pembuat kebijakan, eksekutif dan legislatif serta para pengkritiknya sesungguhnya relatif sama. Perbedaan diantara mereka hanya pada prioritas teknis, anggapan intensitas hubungan antara faktor dan beberapa detail kebijaksanaan.

Secara umum buku ini dibagi dalam tiga tahap pembahasan. Pertama, pembahasan Sosialisme dipanggung ideologi dunia. Ideologi saat ini tidak bisa lagi disebut alternatif, ideologi adalah instrumental.

Alat penjelas yang kaku dan ketat yang dibutuhkan guna mengarahkan pikiran dan tindakan secara efisien. Ketidakminatan masyarakat pada sosialisme bisa kita rujuk dalam bentangan sejarahnya sendiri yang memang cukup variatif. Meretas langkah sosial demokrasi kerakyatan menurut Budi Irawanto, Imam Yudhotomo, dan Ihsan Abdullah Aktivis PRD, merupakan jalan menuju revolusi sejati.

Dengan mempelajari kegagalan kapitalisme di masa lampau, Bonnie Setiawan berusaha menyusuri paradigma alternatif pasca kapitalisme dengan menimbang tradisi kiri, yang diperkuat oleh pernyataan Dadang Juliantara yang mengaplikasikannya dengan ideologi agraria. Melacak jejak sosialisme Religius merupakan pokok pikiran pada bagian kedua, Muhammad Romzy dan Hajriyanto Y Thohari berusaha mendeskripsikan Pseudo Ideologi dan kohorensinya sosialisme dengan agama.

Secara Historis Suhendra menjabarkan secara mendetail tentang peta pergerakan sosio religius Yesus dari Nazareth suatu penghampiran sosiologis, sedangkan Jarot Doso Purwanto aktivis (HMI DIPO) lebih banyak menyoroti lanskap sosialisme religius dalam pusaran sejarah Indonesia.
(Eva Rohilah)

Ini adalah tulisan pertama kali aku dimuat di media “Kedaulatan Rakyat” pada 28 Februari 2001. Harian Lokal di Jogjakarta.

Tulisan berikutnya resensi di Harian Bernas

SULITNYA MERAJUT KEMBALI NASIONALISME YANG TERKOYAK

Judul: Nasionalisme Etnisitas (Pertaruhan sebuah wacana Kebangsaan)
Kata Pengantar: Drs Cornelis Lay MA
Tim Editor: Dr Th Sumartana, Elga Sarapung, Zuly Qodir, Samuel A Bless
Cetakan: 1, Februari 2001
Penerbit: Dian/Interfidel, kompas dan Forum Wacana
Tebal: xvii + 184

Sampul Buku

Sampul Buku

NASIONALISME sekarang ini bagiakan matahari yang redup di jagad khatulistiwa. Sinarnya nyaris habis karena digerogoti oleh primordialisme separatis dan globalisasi etnisitas. Seperti tatapan hampa seorang ibu yang kehilangan anak yang dicintainya. Menemukan kemballi anak yang hilang itu penuh perjuangan dan pengorbanan. Diwarnai ketegangan, dan ketidakpastian. Seperti halnya ketika kita nyaris kehilangan rasa nasionalisme.

Pergumulan wacana tentang nasionalisme menjadi sangat privat, orang per orang, tidak menyebar ke seluruh level masyarakat, terutama lapisan bawah. Mereka dilupakan karena keangkuhan interes-interes yang mengitari imajinasi dan berfikir kita yang disetir kekuasaan rezim. Mendiskusikan hal-hal pelik apalagi menyangkut soal kenegaraan menjadi sangat mahal, karena penguasaan public sphere sungguh luar biasa dominannya sehingga menjadi riil halangan untuk hidup dengan sikap demokratis.

Dengan semangat menumbuhkan wacana baru di Republik ini, kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi ini mencoba “memotret” sisi lain dari apa yang diperbincangkan di atas tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi ekonomi. Buku “Naionalisme Entisitas” ini menuturkan dan menganalisis proses merajut kembali nasionalisme yang sempat terkoyak dalam beberapa dekade terakhir ini.

Rumitnya jalan demokrasi di era reformasi semakin menambah runyam muka bangsa. Hal ini terlihat dari semakin merajalelanya konflik budaya yang terjadi di negeri seribu satu etnis. Selama ini budaya hampir tidak mempunyai ruang dan manifetasi dalam tekanan doktrin nasionalis kebangsaan yang semu. Ruang manifestasi budaya asli negeri ini terbuka sesudah gerakan reformasi. Namun karena tidak mempunyai mode manifestasi dan ketika sistem yang ada tidak memberi cukup toleransi, munculah beragam konflik dan kerusuhan massal di berbagai daerah.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi forum wacana muda, Kompas dan Interfidei. Suatu terobosan cerdas yang berusaha menggambarkan secara detail tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi. Tiga sudut pandang yang membelah buku ini menjadi tiga bagian.

Edisi Cetak di Harian Bernas

Edisi Cetak di Harian Bernas

Bagian pertama Nasionalisme pertaruhan sebuah definisi yang ditulis oleh LPM Lakson. Secara Historis, PM Laksono menggunakan analisa Lombart berangkat dari ruang politik menjadi serat benang budaya yang mempertalikan apa yang dibayangkan nasionalisme masa lalu dan cita-cita bersama dengan studi komparatif nasionalisme di berbagai negara. Penulis berusaha menarik kesimpulan global mengenai problema nasionalisme yang dicekik dan tercekik kekuatan etnisitas dan globalisasi, terkait dengan hal itu, Rocky Gerung menemukan problema disintegrasi atau keretakan pada tiga arena penting yaitu: Kekuasaan politik, penguasaan wilayah, dan identitas kekuasaan. Ia mengandaikan nasionalisme sebagai sebuah ideregulatif dalam filsafat berfikir Kant. Keretakan antara ketiganya akhirnya lahir dalam bentuk “krisis kebangsaan” yang berkepanjangan sampai saat ini.

Bagian kedua: Wacana kebangsaan dan warga negara, di kupas tuntas oleh Faruk HT dan Dede Oetomo, mereka lebih mempertegas kebutuhan psikis obyektif dari sebuah bangsa akan nasionalisme. Perkembangan kontemporer politik juga mempengaruhi perilaku bangsa dalam memahami nasionalisme. Yang menarik pada bagian ini adalah analogi dari sebuah Nasionalisme pada masa orde baru yang bersifat semu. Ibarat peralatan politik. Dapat dibayangkan semacam kotak politik yang dibawa kesana kemari.

Bagaimana wacana NKRI dan Federalisme di pahami tidak secara substantif lebih kepada konstruk personal elit politik saja. Bahkan otonomi daerah sebagai sebuah solusi berjalan tersendat karena perbedaan pendapatan perkapita yang menghambat.

Dalam Nasionalisme dalam globalisasi ekonomi pada bagian ketiga, lebih menekankan pada perilaku “meniru” yang menjadi image di Indonesia. Bentuk peniruan yang punya akibat serius adalah apa yang disebut sebagai bangsa yang konsumtif atas barang-barang asing yang menyumbangkan kemajuan bagi negara lain di atas harga yang mesti dibayar sendiri.

Peresensi Eva Rohilah
Mahasiswa Fak Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dimuat di Harian Bernas 13 Mei 2001

Belakangan ini ada banyak hal yang ingin aku tulis berkaitan dengan beberapa kegiatan yang kuikuti belakangan, namun entah kenapa untuk memenuhi penulisan terasa sulit mengatur waktu, beberapa hal yang ingin aku tulis adalah, Jurnal untuk Fakultas Tarbiyah, Jurnal untuk STAIN Pekalongan, Pengalaman 5 hari mengikuti event Ubud Writers and Readers Festival di Bali,15 Tahun Supernova, 4 Film pendek Wregas Bhanuteja, Digital Diplomacy CSIS, review buku2 pemikiran filsafat Islam, Materi Tafsir Alquran yang telah kuikuti setiap Rabu di Pusat Studi Alquran Pondok cabe, Resep bikin Puding, Pameran Filantropis, Perkembangan Buku Digital, Pemikiran dan refleksi hari guru nasional, dan Opini Pribadi saya tentang Truth Of Claim.

Semua itu tiap hari membayangi saya ketika bangun tidur, mana yang saya harus tulis terlebih dahulu. Deadline muncul tiap detik dan saya tidak bisa mengendalikan diri. Semua masih dalam tahap baca buku, pengumpulan data dan rangkaian struktur penulisan. Ada majalah dan buku referensi yang hilang membuat saya kalang kabut untuk bisa menuntaskan semua itu, kembali mencari pengganti dan rempong sana sini mencari buku yang hilang, belum lagi telat mengembalikan buku yang dipinjam ke perpustakaan.

Saat saya dihadapkan dengan semua itu, keasyikan di media sosial membuat saya lupa diri akan membaca buku dan tugas kewajiban menulis, dan sibuk mengamati perang medsos yang semakin hari semakin mengerikan. Saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat status tentang hal yang provokatif dan menyakitkan ormas atau organisasi mahasiswa yang sedang ramai dibicarakan. Tidak menulis status bukan berarti tidak peduli, tapi menghindari klaim bahwa saya paling benar. Politik semakin tidak menarik dan kebencian di media sosial mem1buat satu sama lain saling unfriend, unfollow.

Terlepas dari itu semua, saya gembira buku saya kedua sbg ghostwriter terbit dan akan di launching 10 november di Manado dan Jakarta. Sehabis itu jadwal menanti kemungkinan adalah buku tentang Kedaulatan pangan, juga sebagai Ghost Writer. Mungkin awal Desember baru mulai.

Saat saya galau, tiba-tiba seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Dr. Hasani Ahmad Said, saat kajian di PSQ menceritakan saat-saat terbaik menulis dan pengalaman dia waktu menyelesaikan studi S3 Doktor Tafsir Hadits di UIN Syarif Hidayatullah. Dia bercerita tentang kisah beberapa tokoh yang mendisiplinkan diri untuk menulis.

Menurut Pak Hasan, saat paling tepat menulis bagi tiga guru besar UIN bermacam-macam. Pertama Pak Quraish Shihab, dia selalu menyempatkan menulis usai shalat subuh sampai jam 7 pagi, itu rutin dia lakukan, kalau tidak menulis ya membaca.

Lalu kedua adalah Pak Azyumardi Azra, Kapan beliau produktif menulis? Menurut Pak Hasan, Pak Azyumardi selalu berangkat jam 6 ke kantornya sejak beliau jadi dosen, padahal dia mengajar mulai jam 9 atau jam 10, nah saat sampai di kantor sampai tiba waktu mengajar, disitulah dia menulis artikel, opini dan buku.

Lalu Pak Hasan cerita sendiri kesibukannya dia saat menulis disertasi. Dalam waktu setahun dia full waktunya habis di perpustakaan dan kost-kostan, bergelut dengan buku, makan dan tidur. itu saja tidak ada aktifitas lain, selama enam bulan terakhir tambah intensif semakin mencintai buku dan melupakan cinta-cinta yang lain…ahai..”untuk itulah kenapa saya baru menikah setelah lulus menjadi doktor”.

Pengalaman dari ketiga orang guru besar UIN yang diceritakan Pak Hasan, saya catat dan garis dengan stabillo tebal, siapa tahu akan berguna buat saya saat ini atau suatu hari nanti. Mungkin itu yang saya ingin tulis hari ini dan saya berterimakasih kepada Ibu Lilik Umi Kaltsum MA, ibu nyai yang menjadi guru mengaji saat saya di Sunan Pandanaran dulu dan sekarang menjadi ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliaulah yang mengajak saya mengikuti kajian di PSQ setiap rabu dengan materi yang
menarik dan berbagai metode tafsir Alqur’an.

bersama Ibu Nyai Lilik Umi Kaltsum, Guru Ngaji di PPSPA Jogja

Foto Bersama Bu Nyai Lilik Umi Kaltsum di rumah Ning Mainunah

Selain butuh disiplin waktu, tempat yang cozy juga baik untuk menulis, seperti perpustakaan dan rumah, jangan lupa matikan gadget anda saat menulis, jangan terlalu percaya atau copy paste google, menulislah dengan murni pemikiran sendiri, cara anda sendiri, dan jangan lupa sertakan referensi.

Gedung C Lantai 4
Sudirman 8 November 2016
Pulul 14.54