Kerennya Pasukan Polisi Bersepeda

Posted: December 5, 2018 by Eva in Lingkungan
Tags:

Setelah posisi Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Kepala Bulog di isi oleh mantan petinggi Polisi, saya salut atas perkembangan cepat Polisi RI membenahi diri.

Sigap dan cepat dalam setiap acara kenegaraan. Kepercayaan masyarakat terhadap polisi kian meningkat. Seperti serombongan polisi yang melakukan patroli ke desa-desa di pelosok Nanggroe Aceh Darussalam menggunakan sepeda.

Nah, jika selama ini banyak petugas polisi yang menangkap orang yang melanggar peraturan di jalan raya ditilang dan lain sebagainya. Kini mereka jemput bola, mengunjungi desa-desa untuk menciptakan ketertiban dan memberi contoh yang baik dalam mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.

Dengan bersepeda, selain sehat para polisi juga tampak keren, gagah dan kuat. Malu kiranya jika anda melanggar peraturan saat menggunakan kendaraan bermotor yang menangkap pasukan polisi bersepeda.

Setelah memberi efek jera dengan pemecatan ASN yang tidak disiplin dan mencapai target yang dilakukan para mantan petinggi Polri, saya ingin mengucapkan salam revolusi mental Pak Polisi….

5 Desember 2018

Pukul 15.10

Advertisements

Pada bulan Juli lalu saya mengulas tentang Majalah Natgeo yang membahas tentang Bumi atau Plastik. Enam bulan kemudian, yaitu dua hari kemarin harian Kompas memborbardir halaman utamanya dengan tema sampah plastik, langkah produsen, hingga ikan yang terkena mikroplastik dan membahayakan kesehatan.

Miris memang melihat fenomena ini ibarat membuka aib seluruh penduduk Indonesia, karena sampai kapanpun kita tidak bisa lepas dari plastik, karena hanya bisa menguranginya saja. Tidak seekstrim negara di Eropa terutama Jerman yang sangat konsisten dengan isu sampah plastik, mengerahkan teknologi guna pencegahan dan penguraian serta solusi menghadapi timbunan yang membebani bumi.

Saya tidak ingin menggurui, karena jika dihadapkan pada kondisi dimana sekarang kita berada, membuat saya adakalanya tidak mau hanya ngomong doang, atau menulis doang. Selain karena dalam hidup ini yang paling sulit adalah menjadi orang yang konsisten.

Namun, sepertinya saya merasakan sudah ada yang tidak tahan untuk menerbitkan regulasi atau perundang-undangan dalam menangani sampah plastik. Jika saya sudah enam bulan menahan rasa gemes dengan sampah plastik yang sulit dihentikan, kini media nasional dan para pemerhati lingkungan sudah saatnya memikirkan kebijakan untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah akibat sampah plastik.

Membuat regulasi tentu tidak mudah, karena melibatkan banyak pihak baik itu produsen, konsumen dan distributor juga harus mempertimbangkan aspek karyawan jika regulasi ini akan diterbitkan.

5 Desember 2018
14.50

Memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia yang jatuh setiap tanggal sembilan Desember membuat saya banyak merenung tentang makna di balik isu korupsi, pencegahan, kehebohan dan kecurigaan konspirasi saat ramainya tersangka korupsi, hingga kasus-kasus korupsi yang terlupakan.

Kini saya sendiri merasa bahwa isu korupsi tidak seseksi dulu. Meski dalam beberapa hal memang negara kita mengalami kemajuan, transparansi dalam berbagai bidang, ketatnya pengawasan keuangan, adakalanya hanyut dengan munculnya nama-nama tersangka baru yang heboh, tidak diduga lalu setelah itu menghilang bersama deru dan debu angin di terik hawa panas politik.

Apa yang saya rasakan ini hanyalah sedikit kegelisahan yang tersampaikan. Perasaan krisis kepercayaan terhadap lembaga penegak korupsi yang ada, akan tetapi di sisi lain saya melihat negara kita baik pemerintah maupun swasta semakin menjunjung tinggi sikap dan jiwa anti korupsi.

Semoga slogan yang selama ini koar-koar bukan hanya sekedar slogan tak bertuan. Juga kebiasaan menangkap atau menuduh orang menjadi tersangka korupsi karena hasrat ingin memenuhi target kinerja juga bukanlah suatu hal yang sedap di pandang.

Selamat Memperingati Hari Anti Korupsi

05 Desember 2018
Pukul 14.04

Judul : Agenda Ekonomi Kerakyatan
Penulis : Revrisond Baswir
Penerbit: Pustaka Pelajar
Edisi : I, Juli, 1997
Pengantar: Sritua Arief

 

Salah satu tokoh ekonomi yang banyak meneruskan pemikiran Mohammad Hatta di Indonesia adalah Revrisond Baswir. Tenaga Pengajar di UGM ini saya kenal sejak masih di Jogja dan aktif mengkampanyekan  Agenda Ekonomi Kerakyatan.

Ketika  beberapa kali mengikuti diskusi dengan beliau yang menjelaskan tentang “Tiada ekonomi Kerakyatan Tanpa Kedaulatan” dan kita sudah lama mengenal beliau sebagai pengagas anti hutang luar negeri.

Membahas Teori, Kritik dan Strategi Kondisi Ekonomi

Buku ini setting ceritanya sekitar tahun 1997-an dimana saat itu masih banyak terjadi kesenjangan ekonomi dan sosial. Namun meskipun sudah tidak begitu kekinian tidak ada salahnya menjadikan buku ini sebagai rujukan.

Menurut Revrisond, Ramainya perbincangan ekonomi rakyat, dan perekonomian serta istilah-istilah baru dalam dunia ekonomi seolah-olah ada pendekatan ekonomi baru yang ditawarkan. Padahal, dengan menelusuri jika menelusuri pemikiran ekonomi pra kemerdekaan, akan segera diketahui jika istilah tersebut merupakan reinkarnasi saja.

Tiga bab pertama membahas tentang teori, kritik dan strategi pembangunan. Bung Hatta misalnya sudah menulis tentang ekonomi rakyat sejak tahun 1933.  (Ekonomi Rakyat, dalam Hatta (1954), Kumpulan Karangan ( Jilid 3), Balai Buku Indonesia, Jakarta.

Selain istilah kekinian, kritik terhadap target pertumbuhan juga menjadi sorotan Revrisond Baswir. Hingga strategi pembangunan, mengatasi kesenjangan ekonomi dan relasi buruh majikan.

Berbicara mengenai kemampuan rakyat untuk mengendalikan atau mengawasi jalannya perekonomian, berarti berbicara mengenai di tangan siapa kedaulatan berada; di tangan negara atau di tangan rakyat, tanpa kedaulatan rakyat tidak akan ada ekonomi kerakyatan,” halaman 7.

Koperasi dan Demokrasi Ekonomi

Setelah membahas agenda besar di tiga bab di atas, bab keempat ada sembilan sub bab yang membahas  perkembangan koperasi di Indonesia.

Koperasi dan demokrasi ekonomi merupakan dua konsep penting dalam ekonomi Indonesia. Bila demokrasi ekonomi merupakan konsep dasar yang mengungkapkan karakteristik institusional, ekonomi konstitusi Indonesia secara makro, maka koperasi adalah pengejawantahan konsep besar tersebut dalam dataran dataran institusi mikro.

Namun seiring perkembangan waktu sistem koperasi sudah tergerus dan mengalami banyak kemunduran. Terdapat perbedaan mencolok antara cita dan fakta penerapan prinsip usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan dalam penataan kelembagaan koperasi saat ini, maka pada tempatnya bila kita mempertanyakan paham ekonomi yang kita anut.

Selain membahas koperasi ada satu bab menjelaskan tentang Yang Hilang dan Berkembang dalam Tubuh Koperasi, Ekonomi Politik dan Perkembangan Koperasi, Strategi dan mengkaji ulang perkembangan koperasi, Kemandirian dan Kewirausahaan serta Koperasi Unit Desa.

Meredam Amarah Jika Ada Kebijakan yang Tidak Merakyat

Buku yang merupakan kumpulan tulisan ini bagus untuk menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan. Mengembalikan sistem ekonomi kerakyatan, mengurangi korupsi dalam lembaga pemerintah dan LSM platmerah untuk mengurangi kemarahan masyarakat yang sewaktu-waktu bisa meledak jika kesenjangan terabaikan.

Dengan menanggulangi faktor-faktor ekonomi yang memecut kemarahan, rasa marah masyarakat jika ada sedikit saja kebijakan yang tidak memihak pada rakyat seperti faktor alam maupun faktor sulitnya bahan baku baik persoalan sandang, pangan dan papan, semoga segera diobati dengan cara damai.

Perpus Veteran, 19 November 2018

Pukul 09.53

 

 

Ketika pulang dari Taman Wisata Sumberasri Bukit Teletubis, saat pulang perjalanan cukup lancar. Melalui jalan yang lebih halus dibanding ketika berangkat, jarak yang  ditempuh pun lebih cepat.

Setelah melewati Taman Wisata Candi Penataran, yang ramai pengunjung di hari Sabtu ini. Tepatnya sebelum pertigaan, saya melihat ada sebuah warung yang menjual aneka peralatan masak dari anyaman bambu seperti tampah buat menyimpan sayuran, wadah mencuci beras, dan saringan untuk mencuci sayuran atau memeras kelapa parut menjadi santan kelapa. Kalau bahasa Sunda namanya “Ayakan”.

Sudah Lama Ditinggalkan

Cukup lama saya memilih dan mengamatinya aneka peralatan masak tersebut yang sepertinya menumpuk dan jarang dibeli masyarakat karena sudah tergantikan dengan peralatan plastik.

Tidak hanya di sini, di daerah lain juga sebenarnya sama, banyak yang membuat tapi masyarakat sudah jarang menggunakannya.

Selain tiga peralatan itu masih ada barang lainnya dengan bahan dasar yang sama seperti topi bundar dari anyaman bambu, wadah sampah, tempat bumbu, caping, parutan kelapa, cobek dan lain sebagainya. Harganya pun sangat terjangkau.

Di Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya dan daerah Jawa Barat lainnya juga ada yang membuat dan menjual kerajinan seperti ini, namun berbeda nama dan cara membuatnya serta fungsinya.

Semoga kelak peralatan masak dari anyaman bambu ini kembali digemari masyarakat.

Jika teman atau kerabat pulang dari Candi Penataran atau Bukit Teletubis, silahkan mampir  membeli oleh-oleh peralatan masak untuk keperluan memasak di rumah. Bisa di beli di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar dan sekitarnya.

17 November 2018
Pukul 15.25 WIB

Setelah empat bulan di Blitar, hari ini saya berkunjung ke Taman Wisata Sumberasri atau biasa di sebut Bukit Teletubis di daerah Nglegok, Sumberasri, Blitar. Jarak dari Kanigoro ke Sini sekitar satu jam perjalanan.

Sayangnya sepanjang perjalanan aspalnya kurang bagus karena banyak truk besar yang mengangkut pasir dari sisa lahar gunung kelud.

Namun setelah tiga kali bertanya sampai juga di Bukit Teletubis. Naik ke bukit sangat curam hati-hati kalau bawa kendaraan atau sebaiknya malah jalan kalau badan kuat.

Tapi lelah anda akan terbayar. Apalagi setelah sampai di atas banyak pemandangan menarik, hembusan angin yang besar, sejuk dan pepohonan di sini sangat rindang.

Membentang di atas sana ada hamparan perkebunan aneka macam. Di sini buah nanas bisa dipetik dari kebun nanas, begitu juga pohon durian ada yang panen dan dijual murah di pinggir jalan.

Saat pulang saya mampir membeli durian dan duduk memandang kebun nanas yang sedang berbunga. Kebunnya sangat luas di belakang orang jualan durian dekat para Kalilahar, Kaligladak memasuki desa Candi Panataran.

Pas turun anda bisa istirahat di dekat pintu keluar. Di mana di situ ada gereja Santo Yosef dan warga setempat banyak menawarkan berbagai jasa untuk bisa naik ke atas dengan harga terjangkau.

Jadi kalau anda banyak waktu luang, ajak keluarga, sahabat dan kerabat ke Bukit Teletubis untuk berlibur dan menghabiskan waktu akhir pekan anda.

Bukit Teletubis, Sumberasri, Nglegok Blitar
17 November 2018
Pukul 11.22

Membaca di Alam Terbuka

Posted: November 16, 2018 by Eva in Buku dan Media
Tags:

Ada satu masa di Bali, saya pernah merasakan kenikmatan tiada tara membaca buku di alam terbuka.

Selain merasa santai, suasana alam yang hijau, menulis cerita, puisi sambil tiduran di bantal besar bersama teman dan sahabat, membuat waktu terasa sangat cepat.

Jika ingat,  saya ingin mengulang kembali, berkumpul bersama teman, sahabat di alam terbuka, di belakang taman baca di mana di situ pikiran kita terbuka.

Membaca alam, menggoreskan pena tentang apa yang kita rasa, dan bercengkrama dengan teman-teman…sungguh saya merindukan kalian semua. 📖📖📚📚📚♥️♥️♥️

Saya tidak menyangka jika kita bisa menanam jagung tidak harus punya kebun dan tanah luas. Menanam jagung itu bisa di lakukan di lahan terbatas dan bisa tumbuh subur dalam waktu seminggu sudah keluar batang dan daun.

Seminggu yang lalu, Mas Arif membeli  jagung yang sudah tua, untuk ditanam, gambarnya  seperti ini.

Seiring waktu yang berjalan, benih jagung tumbuh sangat cepat di awal November ini. Beginilah penampakannya, saya lupa persis kapan menanamnya seminggu lalu atau sepuluh hari yang lalu.

Saya tidak menyangka, jika kita bisa menanam jagung di halaman rumah belakang, dimana dari beberapa biji jagung yang ditanam baru tumbuh dua pohon. Faktor hujan sepertinya sangat berpengaruh terhadap perkembangan tumbuh tanaman.

Yuuk mari menanam jagung, biar suatu hari bisa buat kita masak untuk sayur asem, sayur lodeh atau bubur jagung.

14 November 2018

09.59

 

Awal November kemarin, majalah Basis tiba. Tema utama yang diangkat kali ini tentang “Kekayaan dan Persoalan Moral” dan sub tema lainnya seperti yang anda lihat di halaman sampul. Namun, ada beberapa artikel menarik yang saya suka dalam edisi kali ini, terutama wawasan baru berkaitan dengan istilah yang selama ini kita kenal. Dimana yang menulis di Majalah Basis tidak hanya para redaktur dan dosen Universitas Sanata Dharma (USD) tapi juga beberapa guru yang mengajar di sekolah dasar, penggiat literasi, penulis cerita anak dan pemerhati sosial, yang ditutup dengan pembahasan arsitektur sebuah galeri yang bernilai artistik.

Seperti biasa, majalah Basis itu saya baca harus saat tenang. Saat datang tidak langsung dibaca. Namun yang saya suka, karena saya sudah tidak lama mengikuti perkembangan akademik, saya tidak menyangka jika perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat dan binal.

Dimulai dari Mesianisme, dan Keutamaan Hidup Bertetangga

Apa itu Mesianisme? bagi saya ini istilah terbaru dalam dunia filsafat, membuat saya merasa sangat bodoh. Dalam artikel berjudul “Mesianisme sebagai Struktur Pengalaman dan Sejarah” yang ditulis dengan sangat keren oleh Fitzerald Kennedy Sitorus, Dosen Filsafat Fakultas Liberal Alts (FLA), Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci Tangerang, menegaskan jika Mesianisme adalah istilah yang berasal dari tradisi religius Judeo-Kristen yang dalam perkembangannya kemudian menjadi istilah generik untuk setiap kepercayaan atau ajaran mengenai kedatangan (kembali) seorang atau sekelompok penyelamat atau penebus pada akhir sejarah / zaman untuk mengembalikan segala kebaikan dari masa lalu yang telah hilang.

Peristiwa kembalinya masa lalu di masa depan itu bisa bersifat eskatologis apokaliptik, yakni penyelamatan manusia dari dunia ini melalui penghancuran dunia sekarang dan penciptaan baru yang sama sekali baru, tapi bisa juga bersifat politis, yakni penyelamatan manusia di dunia sekarang ini melalui total struktur-struktur sosial politis lama dan penciptaan struktur baru yang dapat mewujudkan harapan masyarakat yang berangkutan (Sabin Brachter).

Secara etimologis, mesias berasal dari bahasa Ibrani, mashiah, yang artinya (yang diurapi, atau yang diberkati (oleh Tuhan), atau yang terpilih (Lanternari, 1962: 52). Sesuai dengan asal – usulnya dalam konteks bangsa Israel, istilah ini mengacu kepada seorang pribadi yang berasal dari tengah-tengah bangsa Israel sendiri, yang dipilih Tuhan untuk mengemablikan zaman kejayaan Israel. Dimana zaman yang dimaksud adalah zaman ketika bangsa Israel hidup dalam kebebasan, kedamaian, harmoni, dan keadailan pada masa pemerintahan Raja Daud.

Tulisan sepanjang tujuh halaman ini bagus, anda wajib membacanya dimana ada beberapa bab tentang Universalisasi Paham Mesianisme, Beberapa Konsepsi paham mekanisme intelektual Yahudi, Struktur Pemikiran Mesianistik, serta Mesianisme dalam sejarah.

Setelah saya membaca Mesianisme, saya membaca tulisan Almarhum Anton M. Moeliono seorang Pemulia Bahasa yang ditulis oleh Tri Winarno, seorang esais dan kolektor buku. Dimana edisi beberapa waktu yang lalu ada Gorys Keraf, kali ini perkembangan bahasa membahas pemikiran beliau, pelopor terbentuknya Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Namun, dari sekian pemikiran almarhum, yang menarik adalah kredo pamungkas Anton M. Moeliono yang dituliskannya pada 1983.

“Yang enggan berbagi hidupnya dengan tetangga, yang segan memberi hidupnya untuk sesama, akan binasa. Yang rela berkorban memberi cinta dan jasa, yang suka berkawan akan tahu bahwa ia hidup selalu,”.

Wedang yang Mengejutkan

Saat menelusuri lembar demi lembar yang saya baca seperti Perenialisme (Heru Prakosa), Cerita, Kematian, dan Hal-hal yang Bersehadap (Wdyanuari Eko Putra), Galilah dan Daminah (Satyaningsih), Sawah, Petuah dan Pemandangan Indah (Bandung Mawardi), Kolonialisme, Pergundikan dan Alat Pergerakan (Retor Aw Kaligis), saya dikejutkan dengan tulisan menarik tentang “Air” yang ditulis oleh Tuginem (Guru SMPN 2 Karangdowo).

Dengan bahasa yang mengalir, Tuginem menjelaskan asal muasal air, manfaat air dari mulai memasak, mandi, menyiram tanaman, dan pentingnya air bagi kehidupan, sehingga air menjadi bahan utama hidup.

“Ketika sedang duduk di serambi rumah, seorang teman datang dengan wajah pucat dan kehausan. Segelas air segera kutuangkan untuknya. Rasa haus yang dideritanya segera lenyap. Wajahnya kembali ceria. Ucapan terimakasih meluncur tulus dari mulutnya. Air menjadi perekat untuk bersaudara. Sesuai dengan tema wedang dalam budaya Jawa yang dimaknai “nggawe kadang” atau membuat persaudaraan.

Sastra yang Merakyat

Pada bagian berikutnya, satu artikel menarik di bab buku yang ditulis oleh Dian Vita Ellyati, seorang pemerhati anak, berjudul “Ujung Pelangi di Pangkuan Ibu”. Dimana di awal kalimat dia mengutip tulisan seorang tokoh perempuan.

“Di pangkuan orangtuanya, anak-anak dibentuk sebagai pembaca,” (Emilie Buchwad). Dalam penjelasan di bawahnya ia menjelaskan tentang keutamaan membacakan buku. Selain agak sulit dipahami karena terlalu banyak referensi dan meloncat-loncat, saya mengira mungkin tulisan ini bermaksud bahwa membaca bagi anak itu mendorong pembentukan sirkuit ketika otak secara aktif menerima informasi – informasi essensial. Saya kira penulis harus membedakan mana buku anak dan penulis lagu anak di rubrik buku (tentu ini berbeda), biar pembaca tidak bingung.

Di rubrik tentang kabar, ada satu tulisan Willy Satya Putranta, yang menulis tentang pemikiran Sindhunata tentang Sastra yang Merakyat. Di mana saat ini kita melihat pameran sastra berada di mall atau pusat perbelanjaan mewah, butik ternama dan diulas secara membahana namun terkadang isinya di luar dugaan.

Akan tetapi, Willy Satya Putranta justru mengupas tentang beberapa karya Shindunata seperti “Anak Bajang Menggiring Angin”, “Putri Cina”, dan “Air Kata-kata”. Misalnya dalam puisi “Air Kata-kata” yang dihiphopkan oleh kelompok Jahanam dan Rotra, tukang becak pun hafal dari kata ke kata “Cintamu Sepahit Topi Miring,”.

“Tidak mungkin puisi yang elite akan sampai pada pembaca yang demikian. Orang-orang itu mungkin tidak tahu kalau itu puisi, tetapi bisa menikmatinya sebagai puisi. Inilah seharusnya sastra. Kalau sastra hanya bergerak di kalangan elit sastra, apa gunanya menjadi sastra yang memang bicara tentang kehidupan? semoga ini pula yang mewarnai bahwa sebuah sastra itu akhirnya betul-betul hidup merakyat semacam ini,” harap Sindhunata menandaskan.

Kanigoro, 13 November 2018
Pukul 13.53

Hujan Deras, Bumi Basah

Posted: November 9, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah
Tags:

Hari ini apakah di tempat anda turun hujan? Di sini hujan turun sangat deras dan lebat. Awan mendung kehitaman dan suasana mencekam tadi siang.

Bahkan petir pun bersahut-sahutan. Meski deg-degan karena tidak seperti biasanya saya mengabadikan peristiwa turunnya hujan ini.

Saya tidak menyangka, hujan yang biasa saya rindukan tadi agak sedikit mengerikan. Meskipun usai reda saya merasa sangat gembira. Melihat bumi yang basah, dedaunan pohon mangga, jeruk, belimbing di belakang rumah sangat segar, diiringi gemericik hujan.

Kamis, 9 November, 2018

 

Ruang baca dimulai dari pintu depan, hingga ke dalam sangat menarik perhatian. Interior tempat duduk, rak buku, poster berisi kutipan-kutipan menarik di tata sedemikian rupa. Terutama ruang baca di bagian tengah, berupa tempat duduk berhadap-hadapan dengan lampu baca di atas. Berjejer aneka warna, dengan kursi sofa empuk.

Pertama kali saya berkunjung ke Perpustakaan Bank Indonesia (BI)  pada bulan Ramadan tahun 2017. Saat itu saya menghadiri peluncuran buku karya Setiadi Sopandi yang menulis tentang tokoh arsitek  terkemuka, Freiderich Silaban.  Freiderich Silaban adalah seorang arsitek yang sangat dekat dengan Ir. Sukarno dan berhasil mengarsiteki beberapa bangunan bersejarah di Indonesia seperti Mesjid Istiqlal, Bank Indonesia, Tugu Monumen Nasional (Monas), Museum Nasional dan gedung lain sebagainya.

Setiadi Sopandi adalah dosen jurusan arsitektur di Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta.  Buku bersampul “Istiqlal” ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Sejak saat itu, saya bertanya kepada pengelola Perpustakaan Bank Indonesia (BI), apakah tempat ini bisa dikunjungi untuk umum atau hanya untuk karyawan atau pegawai BI saja. Dan pihak petugas perpustakaan dengan senang hati menjelaskan jika terbuka untuk umum, dimana bukanya tiap hari Senin-Jum’at Pukul 08.00 – 18.00. Namun saat istirahat tutup antara jam 12.00 – 13.00. Tentu ini di luar dugaan saya.  Sangat senang bisa melihat koleksi lengkap buku, suratkabar, majalah, jurnal, baik yang cetak maupun digital yang sangat lengkap.

Melewati Tiga Lapis Pemeriksaan

20170707_175422

Akan tetapi jika anda hendak berkunjung ke perpustakaan BI, anda harus berpakaian rapi dan tidak boleh mengenakan sandal, celana pendek,  dan tidak diperkenankan membawa  makanan dan minuman di dalam ruangan. Selain itu di BI itu ada beberapa pintu masuk. Ada dari pintu Kebon sirih, ada juga yang dari pintu jalan Budi Kemuliaan. Jika anda naik busway, jalannya lumayan jauh ke arah Kemuliaan, dekat ke pintu masuk.

Namun jika dari pintu Kebon sirih, wah anda berarti salah masuk, karena jalannya memutar jauh. Dimana gedung Perpustakaan BI ada di Menara Sjafruddin Prawiranegara di bagian tengah, jalan beberapa meter dari pintu barat. Letaknya ada di lantai 2, jalan MH.Thamrin No. 2 Jakarta Pusat. Kalau dari stasiun Tanabang lebih dekat, naik bis langsung berhenti di pintu masuk sebelah barat.

Jadi anda lebih baik masuk lewat pintu barat dimana sebelum ke lantai dua harus melewati tiga lapis pemeriksaan. Pertama, petugas keamanan di pintu barat akan mendeteksi bawaan anda, menyerahkan Kartu Tanda Pengenal (KTP) dan memberi tanda pengenal, setelah itu melewati pintu utama gedung Sjafruddin Prawiranegara di cek lagi layaknya masuk ke sebual pusat belanja (mall). Ketat pemeriksaannya.  Setelah dinyatakan aman, ada petugas di sebelah kanan pintu masuk, anda harus menukar tanda pengenal dengan kartu identitas pengunjung (tamu) agar bisa masuk lift di lantai dua. Ribet memang, namun jika anda tidak banyak barang bawaan yang mencurigakan anda akan merasa aman-aman saja.

Setelah naik ke lantai dua, keluar lift akan terlihat di seberang barat dua pintu perpustakaan. Pertama, ruang pintu perpustakaan umum dan kedua ruang pintu perpustakaan riset.  Masukkan nama anda di papan digital dan titipkan barang ke loker. Di sini juga, di ruang koleksi umum tidak ada wifi jadi anda bisa membaca dengan tenang dan puas buku-buku koleksi BI.

Enam Layanan Prima di Ruangan yang  Nyaman dan Warna Warni

Ada beragam buku di perpustakaan BI yang terbaru dan tertata rapi sedemikian rupa. Buku Koleksi umum seperti koleksi bahasa, komputer, psikologi, hukum, fiksi dan non fiksi sastrawan terkemuka dan karya Best seller terkini dan karya lainnya juga ada. Dari karya Seno Gumira Ajidarma sampai Dewi Lestari anda bisa membacanya.

Sedangkan koleksi buku bidang moneter, stabilitas sistem keuangan, dan bidang lain guna meningkatkan kualitas diri dalam mendukung pekerjaan, penelitian, dan pendidikan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan dengan tetap berpedoman kepada pemerintah dan undang – undang yang berlaku, dimana ada enam layanan prima di perpustakaan BI.

Pertama, Koleksi lengkap bidang moneter, stabilitas sistem keuangan, sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah, baik cetak maupun online. Kedua, penelusuran melalui website yang friendly acces. Ketiga, PC penelusuran yang berkualitas. Keempat, Lounge area dan ruang baca yang warna warni. Kelima, ruang diskusi, ruang karya ilmiah dan ruang koleksi anak, dan keenam ada fotokopi dan musholla.

kutipan

Ruang baca dimulai dari pintu depan, hingga ke dalam sangat menarik perhatian. Warna-warni tempat duduk, interior rak buku, ada poster berisi kutipan-kutipan menarik di tata dengan menarik sehingga anda betah berlama-lama di ruang baca. Terutama ruang baca di bagian tengah, berupa tempat duduk berhadap-hadapan dengan lampu baca di atasnya. Berjejer penuh warna, dengan kursi sofa empuk, anda akan betah berlama-lama di sini.

Jika anda suka menyendiri membaca, bisa juga mojok di bagian pinggir dimana ada kursi dan meja terbuka untuk satu komputer jinjing dengan pemandangan ke gedung BI. anda bisa melihat indahnya pemandangan di luar gedung. Taman yang luas dan pekerja taman yang rajin juga bisa anda lihat saat anda pulang.

Lomba Resensi dan Hadiah Buat Pengunjung Paling Rajin

Selain anda bisa membaca koleksi buku sesuai yang anda butuhkan, surat kabar, majalah dan jurnal. Anda juga bisa mengunduh aneka jurnal internasional dari seluruh dunia di ruang perpustakaan riset.

Selain itu, ada kegiatan lain yang bisa dilakukan di Perpustakaan BI. Seperti peluncuran buku, lomba resensi buku  yang diadakan dua tahun sekali, workshop, seminar dan beberapa penghargaan buat para pengunjung seperti library awards, book addict of the year, visitor of the year, dan library best friend.

Saya mengira perpustakaan ini dibuat untuk memancing pegawai BI mendatangi perpustakaan yang menurut saya memang sangat sepi karena pengunjungnya sedikit, hanya ada beberapa orang  petugas yang berjaga. Terakhir saya kesana tidak sengaja berjumpa dengan dua orang mahasiswa dari universitas swasta jurusan ekonomi yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Mereka semangat mencari buku referensi untuk tugas kuliah mereka dan pulang menjelang sore.

Jadi jika anda ingin memperdalam tentang sistem ekonomi, sejarah uang,  sistem perbankan di Indonesia, kondisi moneter dan ingin tahu lebih banyak hal terkini seputar inovasi  dunia Perbankan di Indonesia, silahkan mampir ke perpustakaan Bank Indonesia.

Blitar, 7 November 2018

Pukul 17. 51

 

 

 

IMG_7583Saat ini kita melihat tokoh inspirasi biasanya dari orang-orang terkemuka yang berhasil mengubah dunia. Namun, ternyata hari rabu ini saya mendapat inspirasi dari  sosok petani sederhana bernama Marjuni yang berhasil mempermudah pekerjaan menanam padi di sawah dengan hasil temuan yang keren tidak kalah inovatif dengan temuan universitas terkemuka.

Marjuni (44), adalah lelaki kelahiran Blitar yang bertransmigrasi ke daerah Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Belajar dari sekian lama menjadi petani, ayah tiga anak ini menciptakan alat bernama Tabela (Tanam Benih Langsung).

Ide Tabela ini dia rembuk bersama Karyani (47) temannya sesama petani di sawah. Sebelum membuat Tabela, dia mencari cara bagaimana supaya menanam padi bisa cepat dan praktis. Akhirnya terciptalah Tabela.

“Tabela memang dibuat untuk mempermudah pekerjaan petani dalam menanam padi. Ini adalah inovasi dari cara menanam padi dengan sistem tugal ataupun icir,” ujar lelaki berkumis ini.

Biaya Pembuatan Terjangkau

Penggunaan Tabela mirip dengan  memakai bajak, tetapi ditarik mundur. Agar benih yang baru ditanam tidak terinjak dan jarak tanam juga rapi. Ongkos biayanya kata Marjuni untuk menggunakan Tabela adalah sekitar Rp 700.000. Sedangkan jika menggunakan icir/tugal bisa mencapai Rp 4.000.000. Tentu ini sangat membantu para petani di lingkup petani Karangmulya dan petani lain di sekitarnya.

“Sesama petani kami saling berbagi pengetahuan, saya senang karena bisa menularkan cara meimbuat Tabela, sebagian lain ada di modifikasi saya juga tidak keberatan karena dibuat untuk membantu petani menekan ongkos produksi,” ujar Marjani.

Populer Namun Tidak Menuntut Hak Paten

Kini penggunaan Tabela semakin populer di kalangan Petani Tanah Bumbu terutama di Kusan Hulu dan Kusan Hilir. Selain membanggakan  dan bermanfaat, para petani pun semangat menanam padi, apalagi sekarang mulai musim penghujan.

Saat ini kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Selatan yang membina petani di Kasan Hulu coba memfasilitasi agar Tabela buatan Marjuni dipatenkan.

Lalu apa jawabannya? “Kalau saya pribadi, dipatenkan monggo (silahkan) enggak pun enggak apa-apa,” ucapnya. Marjuni berprinsip jika menjadi petani harus saling berbagi ilmu, rasa bangga justru muncul ketika petani lain menggunakannya.

“Mau bikin berapapun monggo, dengan begitu ilmu saya bisa diterapkan dan dikembangkan di mana-mana,” kata lelaki tamatan Sekolah Dasar (SD) yang juga pernah menjadi Juara I Inovasi Tepat Guna Tingkat Kabupaten Tanah Bumbu atas inovasi bahan bakar minyak dari limbah plastik pada tahun 2014.

Harian Kompas Edisi

Rabu 7 November, 2018

Koleksi Umum Perpustakaan Bung Karno

Pukul 11.28

Saat masih kost di daerah guru alif, duren tiga Jakarta Selatan, saya punya banyak cerita menarik. Saat itu saya indekost di tempatnya Sunariyah, teman lama asal Lombok kenal saat dia masih kerja di YLKI.

Kost tempat saya tinggal adalah milik seorang pengacara, namanya lupa, istrinya  cantik dan bekerja. Mereka punya anak tunggal yang lucu, gendut dan menggemaskan. Anaknya masih SD saat itu, yang diasuh oleh Mbak Ratmi yang juga pengelola kost-kostan.

Kami yang tinggal disitu ada beragam suku dan agama. Pekerjaan juga beda-beda. Ada yang bekerja di media, di mangga dua, kontraktor hingga pendeta perempuan.  Seperti biasa kami saling kenal satu sama lain dan saling menyapa dan peduli satu sama lain jika waktu pulang bekerja.

Kamar mandi di sana ada dua, dua-duanya untuk umum. Namun, di sana ada seorang perempuan paruh baya, berambut pendek hitam manis. Baik orangnya dan tegas. Sebut saja namanya Bu Santi, dia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di bilangan Blok M anaknya pun sudah besar. Tapi dia lebih senang tingga di guru alif daripada di rumah sendiri karena sibuk dan sering banyak lembur.

Jika saya dan teman – teman lain gantian menggunakan kamar mandi, tidak dengan Bu Santi. Dia selalu memakai kamar mandi yang sebelah barat, sampai teman-teman kost yang lain sungkan memakainya.

Tidak ada masalah sebenarnya dengan kamar mandi, karena jam kerja kami berbeda. Di sana saya senang punya banyak teman dengan aneka watak berbeda, dimana saya waktu itu kerja di Ciputat naik bis 57, lanjut P20 dan naik angkot D2 ke Plaza Mas Ciputat. Beberapa teman kost lain yang bekerja di daerah Kota, menggunakan kereta api dari stasiun Kalibata.

 

Waktu itu tahun 2004, ya sama bulan November. Berarti sekitar 14 tahun yang lalu kenangan terhadap Bu Santi dan kebiasaan teman – teman kost lain masih melekat dengan cerita lucu dan sebagainya.

Satu hal yang saya ingat dari Bu Santi itu kebiasaannya setelah mandi itu selalu menyikat sampai bersih gayung yang sudah dipakainya.  Dia sangat ekstrim terhadap kebersihan kamar mandi. Jika ingat kadang aku suka tertawa geli sampai segitunya ya, dia sangat bersih memelihara peralatan mandinya. 

Ini menjadi pelajaran berarti buat saya. Jadi sekarang, setiap lihat gayung di kamar mandi, saya selalu ingat Bu Santi hahaha….. Begitu juga masa-masa indah di gang guru alif duren tiga.  Itulah sedikit kisah lucu di selatan Jakarta.

Koleksi Umum Perpustakaan Bung Karno,

6 November 2018

Pukul 10.25

 

Kegembiraan tiada terkira dialami seluruh petani dan kita semua saat hujan deras turun tiada henti dua hari kemarin.

Selain tidak usah menyiram tanaman, hawa sejuk iklim kita membuat hati ini nyaman, dan tenang.

Esok paginya saat membuka jendela, titik embun menyisakan suasana yang membuat hati ini terpana.

Embun – embun yang menempel di dedaunan pohon jeruk, bunga yang baru saja mengembang, bulir-bulirnya sangat menyegarkan.

Selamat hari rabu teman-teman semua, mari kita mengawali pagi ini dengan semangat bekerja, dan hati gembira. 💐🌼🌸

Rabu, 6 November 2018

Pukul 07.02

Sedikit cerita tentang akhir pekan kemarin, kami mengunjungi salah satu tempat yang menjadi tujuan wisata warga Kanigoro dan sekitarnya, yaitu Pembangkit Jawa Bali, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lodoyo di Dusun Serut, Kecamatan Gogodeso, Kabupaten Kanigoro, kurang lebih setengah jam dari tempat kami tinggal.

Melewati jalur alternatif, kami melewati Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tlogo, almamater Mas Arif. Kami berjalan pelan menyusuri jalan sore itu. Tampak matahari sudah tenggelam meski hari masih jam lima sore.

 

Sesampainya di sana kami melihat bendungan air yang menjadi sumber tenaga listrik di sebelah kiri kanan luas membentang. Airnya tenang, dan aliran dari sungai-sungai sebelah kiri kanan deras kencang sehingga suasana sore itu sangat indah.

Kemarau panjang rupanya tidak mempengaruhi debit air yang ada. Meski di sepanjang perjalanan menuju kesana banyak pohon-pohon tinggi kering dengan daun berguguran, namun kondisi air di sini tetap melimpah dan bisa menjadi andalan untuk menerangi listrik yang ada di Jawa Bali.

Tidak terasa setengah jam lebih kita disana, bagus kan ya pemandangannya.  Banyak orangtua membawa anaknya ke sana. Pasangan muda mudi, remaja, dewasa, hingga lelaki setengah baya banyak berkunjung dan mampir disana sejenak untuk berfoto dan mengabdikan momen istimewa mereka.

Peranan PLTA sangat bergantung pada kondisi debit air yang ada. Mudah-mudahan jika kemarau panjang kelak, air yang ada bisa kita hemat semaksimal mungkin agar bisa menyinari Pulau Jawa dan Bali. Kita juga bersama keluarga harus menghemat penggunaan listrik mulai dari mengurangi main game di gawai, mengurangi nonton televisi dan matikan lampu jika tidak penting.

5 November 2018

Pukul 09.49

Kangen Karedok

Posted: November 3, 2018 by Eva in Artikel
Tags: ,

Udah dua hari ini aku kangen masakan sunda yaitu Karedok. Makanan yang terdiri dari kacang panjang, kubis (kol), tauge dan ketimun ini membuatnya gampang. Tidak usah direbus, semua mentah.

Bahan yang dihaluskan, bawang putih, garam, kencur, gula jawa, dan air asam. Kalau tidak pedas enggak usah pakai lombok rawit, tapi kalau anda suka pakai terserah.

Setelah semua bahan dihaluskan, jangan lupa masukkan kemangi dan goreng bawang merah. Tapi hari ini aku lupa gak pake keduanya dan males bolak balik ke pasar cari bahan yang kurang, jadi seadanya. Bawang goreng juga enggak, sayang minyak. Ini makanan khas Sunda kesukaanku Karedok.

Akhir pekan ini banyak waktu buat istirahat. Enaknya masak makanan kesukaan kita. Yuuk makan dulu dan jangan sampai terlambat makan dan selalu jaga kesehatan.

2 November 2018

Gethuk Ditaburi Parutan Kelapa

Posted: November 2, 2018 by Eva in Artikel
Tags: ,

Jajanan pasar di sini tidak berbeda dengan di Jogja dalam beberapa hal seperti jajanan yang sangat saya suka yaitu gethuk ditaburi parutan kelapa muda.

Dua minggu sekali saya  membeli gethuk ke pasar Banggle. Gethuk terbuat dari singkong yang dihaluskan dan dicampur gula merah. Sebelum memulai aktivitas rutin enaknya makan gethuk dulu. Biar perutnya tidak kosong.

Selain sehat, gethuk ini juga dijual oleh ibu-ibu sejak pagi, kebayang ya jam berapa mereka membuat gethuk ini.

Padahal kalau sudah agak siang dan  jajanan tradisional ini tidak habis, berarti sudah tidak awet. Mari yuuk lestarikan makanan tradisional.

2 November 2018

Pukul 08.44

Sudah memasuki bulan November sekarang ini, tidak terasa sudah 3, 5 bulan tinggal di perantauan,  kampung Mas Arif. Blitar terdiri dari dua wilayah, ada kabupaten dan ada kotamadya. Saya tinggal di Kabupaten Blitar, namun jarak dari kabupaten dan kota berdekatan.

Beberapa kali saya mengunjungi makam dan perpustakaan Bung Karno itu posisinya di daerah Kota Blitar, sedangkan perpustakaan kabupaten Blitar itu ada di jalan Veteran, sehingga saya menyebutnya Perpus Veteran.

20181101_093207-1

Pagi ini saya sengaja menyusuri Kota Blitar lewat trotoar jalan dari tempat alat jahit Fanny sampai jalan merdeka. Dimana di sini ada Taman Pecut, di dekat alun-alun kota Blitar.

Di Blitar berbeda dengan daerah seperti daerah pinggiran Jakarta yang dimana semua bahan baku baik sayuran mengoptimalisasikan produksi masyarakat setempat. Hasil pertanian seperti jagung, lombok dan aneka sayuran lainnya adalah hasil petani setempat, bukan merupakan kiriman dari daerah penyangga.

Di sini juga tidak banyak supermarket, ada mall juga sepi. Para pedagang setempat masih ramai membuka toko baik kelontong, toko kain, toko pakaian, industri kerajinan seperti batok kelapa, batik, pandan, anyaman bambu, tembikar bahkan sampai perbankan semua berjalan biasa saja, denyut ekonomi berjalan dengan baik, namun tidak begitu terasa persaingan yang kencang.

Setiap pagi banyak warung makanan buka dan ramai pengunjung, seperti sarapan nasi pecel, gado-gado, bubur bayi, dll. Ada juga para penjual makanan seperti  rempeyek, tahu lontong, dan lain-lain senantiasa ramai setiap hari.

Beberapa kali saya mengunjungi toko bahan kue dan  mengunjungi toko peralatan jahit,  juga toko kain di jalan merdeka membuat saya suka dengan aneka jenis sandang di sini. Hingga tidak terasa waktu pun beranjak siang.

Saya merasakan bahwa Blitar itu baik kota maupun kabupatennya sangat mandiri. Beberapa bahan masakan, ikan yang biasa saya konsumsi dulu pun di sini tidak semua ada, mungkin diproteksi melindungi pengusaha lokal.

Sepertinya ada kebijakan tertentu berkaitan dengan sistem ekonomi, jika tidak salah mungkin saya menyebutnya sistem ekonomi di sini seperti sistem dumping di Jepang. Namun dalam skala lokal.

Setelah menjelang siang, saya pun beranjak pulang. Melihat – lihat sebentar taman pecut yang bersebrangan dengan ruang terbuka hijau dimana ada beberapa pohon beringin besar mengitarinya. Angin siang semilir terasa di siang itu, para tukang becak pun banyak berada di sekitar taman. Saya pun segera pulang.

Blitar, 1 November 2018
Pukul 12.34 WIB

Membuat Sendiri Mie Goreng Jawa

Posted: November 1, 2018 by Eva in Artikel

Selama ini saya agak sulit mencari mie goreng jawa yang biasa dijual di beberapa tempat di Selatan Jakarta. Sebenarnya ada beberapa pilihan aneka yang rasanya enak banget dan masaknya di anglo atau tungku.

Selama ini ada bakmie jogja, mie nyemek dan yang terakhir mie goreng jawa, dimana saya terakhir kali makan saat di Jakarta.

Kini saya mencoba bikin sendiri mie goreng jawa dengan tahapan sebagai berikut:

mie telur satu bungkus (rebus air sampai mendidih, angkat masukkan mie diamkan 5-10 menit) jangan sampai lembek.
sawi satu ikat (iris)
kecap
lombok rawit 8
bawang daun dan seledri
satu butir telur
bawang merah digoreng

Bumbu halus

bawang merah lima
bawang putih tiga
kemiri tiga
garam
merica secukupnya

Langkah-langkah:

Goreng bawang merah tiriskan
panaskan minyak
setelah ditiriskan, lalu aduk dengan kecap, haluskan bumbu halus semua dalam minyak panas, masukkan lombok utuh dan telur, orak arik telur dan semua bahan dengan api kecil.
Masukkan sawi, bawang daun seledri dalam bumbu halus.

Setelah menyerap masukkan mie yang sudah dibalur kecap
Aduk semua bahan dalam, masukkan garam lalu aduk-aduk  dengan api sedang dan matikan kompor.
Hidangkan mie goreng jawa yang telah matang dengan bawang goreng.

Yuuk sarapan

Pantun Hari Rabu

Posted: October 31, 2018 by Eva in Seni, Film dan Budaya
Tags: ,

Pantun Hari Rabu

Dari Sudimara ke stasiun ke Palmerah
Pulang dari Tanabang menuju ke Serpong
Kalau terpanah asmara pipinya memerah
Saat jatuh cinta bawaannya rempong

Naik kereta ke stasiun Kalibata
Salah turun di stasiun Tebet
Awalnya dari tatapan mata
Eh lama-lama kok suka banget

Stasiun manggarai setiap hari ramai
Banyak orang pindah ke stasiun Bekasi
Jika hati kita cinta damai
Mari kita saling asah saling asih

Paling Ramai stasiun Sudirman
Tangganya banyak dari kiri dan kanan
Kalau mau naik kereta aman
Jangan banyak barang bawaan

Dari Sudirman ke stasiun kota
Berhenti sebentar di stasiun Cikini
Terimakasih petugas kereta
Tugas siang malam kerja tiada henti

 

Selamat Beraktivitas

Rabu, 31 Oktober 2018

Pukul 08.27