Kampung Halamanku

Posted: August 11, 2018 by Eva in Pribadi

 

Sejak April, hingga lebaran aku belum pulang ke kampung halamanku di Sukabumi.

Hari ini akhirnya aku bisa mengunjungi tanah kelahiranku tercinta, leluhur, saudara dan tetangga berkumpul.

Cuaca dingin di sini membuat enak makan dan tidur. Semalam dalam perjalanan, turun hujan di Bogor, namun hari ini tidak.

Bantarkaret, Sukabumi 11 Agustus 2018

Pukul 15.40 WIB

Advertisements

 

Tidak terasa hampir satu bulan

Menjelajahi enam kota

Surabaya, Sidoarja, Mojokerto,

Jombang, Kediri, Blitar, Malang, Pasuruan

 

Waktu berjalan cepat

Menikmati panen tebu, jagung dan nanas

Melewati kampung kursus Bahasa Inggris

Melihat kerumunan santri di sore hari

 

Kini semua kembali ke Dharmahusada

Tempat jiwa dan raga ini istirahat

Setelah melepas semua penat

Meniti hari-hari bersama

 

Selamat tinggal Dharmahusada

Banyak cerita indah diantara kita

Seindah masa depan yang akan tiba

Masa-masa penuh penantian panjang

Dharmahusada, Kedung Pengkol, Surabaya

Pukul 09.33 WIB

Musim dingin yang kering

 

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat.
So live a life you will remember.” 

 

Saya mengenal Avicii belum lama setelah dia meninggal di Muscat Oman pada usia 28 tahun April 2018. Penyanyi dan Dj asal Swedia ini dikenal sebagai DJ penyayang keluarga.

Ada dua lagu yang saya suka, pertama berjudul “You Wake Me Up”  bercerita tentang kisah perempuan yang mengurus anak perempuannya tanpa suami dan yang kedua kisah berjudul “The Nights” tentang kisah seorang pemuda yang sangat mencintai ayah kandungnya dan selalu ingat nasehat sang ayah kemanapun dia pergi.

Kini meski Avicii telah meninggal dunia dengan kontroversi, namun namanya dikenang dunia. Meninggalkan pesan yang kuat agar kita harus selalu ingat dan patuh nasehat orangtua.

Berikut liriknya:

The Nights

Hei, tahun yang lebih muda 
Hey, once upon a younger year 

Ketika semua bayangan kita menghilang 
When all our shadows disappeared 

Hewan-hewan di dalam keluar untuk bermain 
The animals inside came out to play 

Hei, ketika berhadapan muka dengan semua ketakutan kita 
Hey, when face to face with all our fears 

Mempelajari pelajaran kita melalui air mata 
Learned our lessons through the tears 

Membuat kenangan yang kami tahu tidak akan pernah memudar
Made memories we knew would never fade

Suatu hari ayah saya — dia memberi tahu saya, 
One day my father—he told me, 

Nak, jangan biarkan itu hilang” 
“Son, don’t let it slip away” 

Dia memeluk saya, saya mendengar dia berkata,
He took me in his arms, I heard him say,

“Ketika kamu bertambah tua 
“When you get older 

Kehidupan liar Anda akan hidup untuk hari yang lebih muda 
Your wild life will live for younger days 

Pikirkan aku jika kamu takut. “
Think of me if ever you’re afraid.”

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat. ” 
So live a life you will remember.” 

Ayah saya mengatakan kepada saya ketika saya masih anak-anak 
My father told me when I was just a child 

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die 

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Ketika awan guntur mulai mengalir turun 
When thunder clouds start pouring down 

Nyalakan api yang tidak bisa mereka keluarkan 
Light a fire they can’t put out 

Ukir nama Anda menjadi bintang yang bersinar 
Carve your name into those shinning stars 

Dia berkata, “Pergilah jauh-jauh di luar pantai. 
He said, “Go venture far beyond the shores. 

Jangan mengabaikan hidupmu ini. 
Don’t forsake this life of yours. 

Saya akan memandu Anda pulang ke mana pun Anda berada. “
I’ll guide you home no matter where you are.”

Suatu hari ayah saya — dia memberi tahu saya, 
One day my father—he told me, 

“Nak, jangan biarkan dia lolos.” 
“Son, don’t let it slip away.” 

Ketika saya masih kecil saya mendengar dia berkata,
When I was just a kid I heard him say,

“Ketika kamu bertambah tua 
“When you get older 

Kehidupan liar Anda akan hidup untuk hari yang lebih muda 
Your wild life will live for younger days 

Pikirkan aku jika kamu takut. “
Think of me if ever you’re afraid.”

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat.
So live a life you will remember.” 

Ayah saya mengatakan kepada saya ketika saya masih anak-anak 
My father told me when I was just a child 

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die 

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Penulis lagu: Ash Pournouri / Gabriel Benjamin / John Feldmann / Jordan Suecof / Nicholas Furlong / Tim Bergling
Lirik The Nights © BMG Rights Management, Tunecore Inc

Berikut videonya

“Hanya Dengan Pendidikan Kita Akan Tumbuh Menjadi Suatu Bangsa”- Raden Dewi Sartika

 

ruang baca

Bulan Maret 2018, saya berkunjung ke Perpustakaan Provinsi Jawa Barat yang berada satu gedung dengan arsip nasional di Pusat kota Parahyangan. Gedungnya modern yang dilengkapi lift empat lantai.

Museum Tokoh Pahlawan dan Seniman Sunda 

Sebelum anda naik ke ruang baca yang terdiri dari beberapa bagian, ada ruang anak, remaja dan bagian umum. Namun terlebih dahulu bisa melihat museum para tokoh pahlawan,tokoh  sejarah, kepala daerah dan seniman Sunda yang mengharumkan provinsi Jawa Barat selama ini.

Setelah itu, anda bisa menitipkan tas di lantai paling bawah berdekatan dengan musholla. Kemudian  mengunjungi koleksi beragam media yang lengkap dari mulai surat kabar, majalah, dan koleksi buku anak.

Di ruangan anak ini, sarana permainan dan ruang baca dibuat senyaman mungkin, sehingga anak-anak bebas bermain setelah membaca.

Koleksi Umum dan Karya Sastra Sunda 

Naik ke lantai dua dan tiga, anda akan terpana dengan lengkap dan luasnya ruang baca yang diberi nama tiap raknya. Koleksi buku biografi, pertanian, kesehatan, ekonomi, sosial, arsitektur, filsafat dan karya sastra melengkapi perpustakaan yang sepi dan tertata dengan rapi ini.

Ada beberapa rak yang isinya sastra austronesia dan sastra sunda. Buku-buku berbahasa Sunda yang terbit sejak tahun 1970-an hingga humor Sunda kekinian juga bisa anda baca disini.

Novel, Komik Indonesia dan Karya Penulis Mancanegara

Setelah puas melihat koleksi sastra lama, anda bisa berjalan ke ruangan lainnya, mengetik, membaca dan melihat buku koleksi novel terjemahan dan komik. Beberapa penulis ternama dari Amerika Serikat, Eropa, China dan negara lainnya ada disini.

Novel-novel best seller dari penerbit ternama juga ada. Bahkan dilantai paling atas, ada koleksi komik yang digemari anak-anak remaja. Usai berkeliling, jika anda ingin memfotokopi buku bisa menjaminkan HP anda untuk kemudian beberapa lembar memfotokopi di luar.

Saya yang datang sejak siang hari, tidak terasa berkeliling di perpustakaan Provinsi Jawa barat ini sampai tutup pukul enam sore, sepertinya kurang lama. Saat mau pulang, ada  anak-anak remaja masih menunggu menjelang tutup ketika hari hampir malam. Mereka mampir pulang sekolah. Berikut Videonya, mohon maaf jika kurang bagus.

Lokasi perpustakaan yang lengkap, modern dan dilengkapi wifi ini, strategis di pusat kota sangat disayangkan tidak ada angkutan kota yang lewat langsung di depannya. Jadi anda harus jalan kaki lumayan jauh dari kendaraan umum. Perpustakaan Umum Jawa Barat berada di Jalan Kawaluyaan Indah II No. 4 Sukarno Hatta Bandung.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika anda warga Jawa Barat  dan sekitarnya, berkunjung ke perpustakaan untuk mengenal lebih jauh sejarah dan tokoh , seniman, dan pahlawan Sunda. Juga mengamati perkembangan bahasa dan sastra sunda agar mengenal lebih dekat budaya sunda, serta karya umum lainnya dari Indonesia dan mancanegara.

7 Agustus 2018, Pukul 12.31

 

 

 

 

 

 

Jerawat Hilang dan Awet Muda

Posted: August 6, 2018 by Eva in Seni
Tags: ,

“Jerawat guede (sangat besar) pun bisa hilang lho, dan saya sekarang terlihat awet muda,” ujarnya sambil tertawa

Siang itu cuaca tidak begitu panas. Saya mengantri di sebuah studio  foto dan mencetak foto digital yang berada di sebuah ruko di pusat kota.

Di depan saya ada dua orang yang antri. Satu perempuan muda dan satu lagi lelaki setengah baya yang datang lengkap dengan dasi dan jas.

Sambil menunggu giliran saya berfoto, tiba-tiba pria berambut ikal itu keluar dari ruang pemotretan. Dia terlihat bahagia dan tersenyum gembira.

Sebelum saya masuk ke ruang foto, pria itu keluar sambil memegang jas yang digantung di hanger itu sabar menunggu proses pencetakan.

Sambil berkelakar dia pun bercerita “Sekarang itu ya mbak, selesai di foto jerawat guede (besar sekali) yang ada di pipi kita bisa hilang, begitu juga kerutan wajah, saya senang lihat hasilnya, saya jadi kelihatan awet muda,” ujarnya tertawa….

6 Agustus 2018, Pukul 18:18

Meskipun masih memiliki banyak kekurangan dalam proses perekrutan, namun sejauh ini Hamid Muhammad optimis 6.294 CPNS Guru Garis Depan yang sudah dilepas secara simbolis akan bisa menunaikan tugasnya dengan baik.

 

Foto:Koleksi Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah

Dalam pengarahannya, Hamid Muhammad menjelaskan tentang beberapa hal yang harus diperhatikan para guru di daerah penempatan. berkaitan dengan kompetensi guru di sekolah tersebut, kepala sekolah, dan fasilitas sekolah.

Di sisi lain, Hamid juga menyampaikan tiga hal penting terkait proses pembelajaran.

“Pertama, Berkaitan dengan karakter, para GGD harus membekali siswa agar tidak mencontek, memiliki karakter berkaitan dengan kejujuran dan integritas, karakter berkaitan dengan kinerja yaitu disiplin dan pantang menyerah, dan rekatkan betul rasa kebangsaan kita tanpa membedakan suku, ras dan agama.

Kedua, terkait literasi, Kita termasuk bangsa yang kurang suka membaca apalagi menulis. Semaikan bacaan di sekolah dasar.

Dan ketiga berkaitan dengan kurikulum dan efektifitas pembelajaran, ini harus diperhatikan. Di Papua, anak-anak kelas I dan Kelas 2 banyak yang belum bisa membaca dan menulis, ini berat, karena walau tidak bisa membaca dan menulis mereka tidak boleh tidak naik kelas, jadi kawal terus tentang kurikulum,” jelas Hamid.

Tidak muluk-muluk sebenarnya target yang ingin dicapai oleh Kementerian. Berusaha agar pelayanan di daerah 3T meningkat.

“Indikasinya adalah prestasi anak-anak daerah semakin bagus. Kalau banyak anak-anak yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi sampai jenjang SMP, SMA, atau bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, nanti jika mereka bisa sekolah, anak-anak seperti ini yang berada di daerah terpencil inilah yang akan mengentaskan kemiskinan, saya kira itu yang kita inginkan,” ujar Hamid Muhammad.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Drs. Anas M Adam, M.Pd lebih menyoroti tentang upaya menghindari konflik antara PNS GGD dengan guru di daerah penempatan. Anas menekankan agar GGD membaca terlebih dahulu budaya, menyesuaikan diri dengan budaya setempat untuk menghindari konflik.

Kemudian dia juga berharap para peserta GGD jangan melakukan perubahan secara mendadak, akan tetapi lakukanlah perubahan itu secara gradual-pelan-pelan, anak-anaknya, guru-gurunya kemudian baru masyarakatnya. Jangan terlalu berambisi untuk mengubah semuanya karena itu justru akan menyebabkan timbul konflik juga.

“Saya berharap ilmu yang sedikit lebih menonjol yang dimiliki para GGD ini jangan terlalu dipamerkan, jangan merasa paling mampu, jangan pelit ilmu, karena itu akan menimbulkan potensi konflik. Dan saya berpesan, jangan hanya menggerakkan sekolahnya saja, sebaiknya juga memberikan imbas kepada sekolah lainnya di sekitar.” ujar lelaki asal dari Aceh ini sangat hati-hati.

Anas juga menjelaskan perihal lamanya penerbitan Surat Keputusan dan Pemberangkatan GGD. Katanya, permasalahan administrasi yang cukup memusingkan. “Karena kita tidak sendiri, program ini berkaitan dengan instansi-instansi lain, termasuk pemerintah daerah,” katanya.

Tulisan ini dimuat pada tahun 2017, setelah pelepasan PNS Guru Garis Depan

Jangan curiga dengan judul tulisan ini, karena sebenarnya hanya mengutip dari sebuah poster di pinggir jalan.

Jika Anda Bukan Orang Sembarangan, Maka  Jangan Buang Sampah Sembarangan,” Anonim

Hak Cipta foto Begron

 

Jangan disangka, dibalik masyarakat yang diam mereka mengekspresikan sikap lewat tulisan tangan yang ditulis penuh perasaan, sebuah perlawanan tanpa senjata.

Saat melewati kota Pasuruan saya memperhatikan pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan.

Meski apa yang saya temui hanya sekilas dan tidak ada dokumentasi foto. Namun, pesan yang di sampaikan masyarakat dalam bentuk tulisan tangan selalu saya ingat.

Pesan pertama saya temui dari pantat truk, isinya sebagai berikut:

“Jadilah Perintis Bukan Pewaris”

Saya terdiam membacanya, truk berjalan cukup lama di depan bis yang saya kendarai.

Tidak lama kemudian saya melewati rumah pinggir jalan yang menyerupai rumah kosong bercat hitam dengan tulisan tangan memakai kapur dengan huruf yang ditulis besar-besar.

“Jagalah Tanah Kita, Sebelum Semua Tanah Menjadi Ibukota,”

 

Pagi yang dingin, 4 Agustus 2018, Pukul 07:09

Tidak, tidak ada ikatan yang membelenggu lebih erat,
Laut kehidupan tidak pernah begitu liar
Dibandingkan dengan ikatan yang ditetapkan Tuhan
Tidak juga ikatan ibu dan anaknya!

(Max Havelaar, Karya Multatuli halaman 41)

Resensi Buku
Judul : Max Havelaar
Penulis : Multatuli (Eduard Douwes Dekker)
Alih bahasa: Andi Tenri W
Editor : Hamonangan Simanjuntak
Penerbit : Narasi, Jogjakarta
Edisi : 2014

Saya sudah lama mengincar buku ini dan menemukan buku yang masih baru dan meminjamnya di Perpustakaan Kabupaten Blitar yang berada di jalan Veteran. Buku bersampul kuning emas ini merupakan karya seorang tokoh terkemuka asal Belanda yang tinggal cukup lama di Kabupaten Lebak Banten bernama Multatuli yang merupakan nama samaran dari Eduard Douwes Dekker.

Eduard Douwes Dekker adalah anggota Dewan Pengawas Keuangan Pemerintah Belanda yang pertama kali ditempatkan di wilayah Batavia (Hindia-Belanda) pada 1840. Tahun 1842 ia meminta dipindahkan ke Sumatera Barat. Di tahun yang sama pula, ia dipindahkan ke Natal, Sumatera Utara, untuk bertugas sebagai Kontelir. Baru setelah itu ditugaskan di Banten.

Membuka Busuknya Kolonialisme

Buku ini dibuka dengan sebuah pendahuluan yang menyentuh tentang keadaan seniman di akhir hidupnya. Sebuah persembahan untuk istrinya yang bernama Tina. Buku ini ditulis Multatuli di sebuah losmen yang disewanya di Belgia pada musim dingin tahun 1859, setelah cukup lama ia tinggal di Indonesia mengunjungi perkebunan kopi.

Tulisan setebal 396 halaman ini berisi tentang kritik tajam yang telah membuka sebagian besar mata publik dunia tentang betapa perihnya arti sebuah penindasan (kolonialisme).

Dalam buku ini, Multatuli menjelaskan tentang busuknya Kolonialisme Hindia Belanda, dan memberi ilham bangsa Indonesia untuk merdeka. Cerita tentang menderitanya petani di Lebak Banten yang karena kemiskinannya tidak bisa mendapatkan jodoh dari kelas yang lebih tinggi. Petani dianggap sebagai profesi yang sangat rendah, miskin dan tidak berkelas.

Menginspirasi Kartini dan Bung Karno

Di era jaman penjajahan Belanda, Max Havelaar merupakan buku yang sulit dicari bahkan dilarang beredar. Namun, beberapa tokoh pergerakan Indonesia membacanya dengan seksama seperti tokoh pergerakan Wanita Indonesia Raden Ajeng Kartini dan Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno.

Kini, setelah 70 tahun merdeka (terbit 2014), anda bisa membaca karya fenomenal Multatuli yang saya sendiri merasa kebingungan membacanya karena ditulis dengan bahasa sastra tingkat tinggi yang membutuhkan perenungan terhadap curahan hati tokoh Max Havelaar tentang perasaannya pada perempuan yang ada dalam hidupnya, tentang kemiskinan kaum petani dan menderitanya perempuan yang terpisah dari suaminya yang ikut berperang menentang kolonialisme.

“Nak, jika mereka memberitahumu bahwa aku adalah bajingan yang tidak memiliki keberanian melakukan keadilan…, bahwa banyak ibu yang meninggal karena kesalahanku…, ketika mereka berkata bahwa ayah melalaikan tugas yang telah mencuri berkah dalam kepalamu…, oh, Max, max beritahu mereka betapa menderitanya aku! (Multatuli)

Saat saya menulis resensi ini, saya belum selesai membacanya. Jadi tidak tahu kelemahan kelebihannya. Semoga suatu hari nanti, orang akan paham dan bisa membedakan siapa itu Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, apa hubungannya dengan Ernest Douwes Dekker  yang pernah menjadi penjaga perpustakaan di Kotabaru Jogjakarta? Dan apa saja karya  Multatuli dan pemikirannya di masa lalu.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah berkunjung ke Museum Multatuli di Rangkas Bitung Lebak Banten. Sebaiknya, jika anda ingin tahu lebih dalam sosok Multatuli baca terlebih dulu buku ini.

Setelah itu baru berkunjung ke museum Multatuli, lihat film dokumentasinya dan harus paham betul sejarah kolonialisme dan prrgerakan Indonesia.

Malang, 22.06 WIB

“Rahasia sesungguhnya untuk meningkatkan kreativitas, bukan dengan terobsesi terhadap segala macam alat atau proses, tapi dengan mengerti motivasi kita,”- Scott Barry Kaufman, pengarang Wired to Create

Resensi Buku: What’s Your Creative Type (Semua Orang Kreatif, Anda Termasuk yang Mana?
Penulis: Meta Wagner
Alih bahasa: Adinto F.Susanto, Dinun Wicaksono
Editor : Adinto F Susanto
Penerbit: Grasindo, Jakarta
Edisi: I, Agustus, 2017

Lima Tipe Kreatif Orang di Dunia

Pertama kali saya melihat buku ini, saya penasaran terhadap isinya, apa saja tipe orang-orang kreatif di dunia yang bisa mengubah segala hal yang sulit menjadi sedemikian ringan dan menyenangkan, meskipun dalam posisi sulit.

Buku yang ditulis oleh Meta Wagner, seorang kontributor “The Boston Globe” dan kolumnis untuk “Pop Matters” memiliki perhatian terhadap budaya pop di kalangan anak muda di dunia, khususnya di Amerika Serikat.

Menurut Meta Wagner yang menulis pemikirannya dengan bahasa yang ringkas, padat dan berkualitas ini ada lima tipe orang kreatif di dunia, yaitu Tipe Sang Primadona, kedunia tipe Sang Seniman, tipe Sang Pembuat Perubahan, tipe Sang Perasa, dan tipe Sang Aktivis.

Kali ini saya tidak mau panjang lebar membahas buku ini, seperti penjelasan masing-masing tipe orang kreatif yang ada di atas seperti buku sebelumnya, karena buku ini tipis dan bisa didapat di toko buku terdekat dengan harga terjangkau.

Setelah membaca buku ini, anda pembaca, akan lebih kreatif membaca apa yang membuat anda menarik dan menggali potensi kreativitas diri anda apapun yang anda lakukan sekarang dimanapun berada.

Buku ini meski tidak sempurna, namun tidak ada kelemahan yang berarti. Bahkan di bagian kesimpulan ada tulisan panjang yang menjelaskan jika semua orang di dunia adalah orang kreatif.

Selamat membaca

Malang, 3 Agustus 2018

Pesan yang disampaikan anak muda Indonesia di Hari Kemerdekaan ke-73 ini beraneka ragam. Jika dulu Indonesia berjuang melawan penjajah dari pelbagai negara, sekarang kita harus bersatu mengusir penjajah yang tidak kita sadari.

Berikut saya lampirkan dalam video beberapa kaos hasil kreasi anak muda Indonesia dari Malang Jawa Timur.

Di outlet lain, tidak jauh dari kaos buatan anak muda Indonesia, ada merek brand luar negeri yang menampilkan pesan-pesan khas anak kekinian.

Warna-warni kaos ini bisa untuk anda pakai atau kirim sebagai hadiah. Harganyapun beda-beda sesuai dengan kualitas bahan.

Kreasi anak muda sekarang tidak terbatas, baik laki-laki maupun perempuan bisa mandiri, membuat sablon dan menjahit dengan tenaga asli Indonesia dan bersaing dengan kaos impor. Ini baru produksi kaos, mungkin masih banyak kreasi unik lainnya di bulan Agustus ini.

 

Universitas Brawijaya Malang, 2 Agustus 2018 Pukul 19:48

Sore ini kami pulang menyusuri jalan di sepanjang Ketintang timur menuju pusat perbelanjaan Royal yang bersebrangan dengan Rumkital TNI Angkatan Laut Marsekal Dr. Ramelan dengan naik becak.

Suasana sore itu sangat menyenangkan. Bunga bermekaran dan udara sore yang segar membuat saya senang menikmati kota Surabaya yang menurut Bung Karno dijuluki sebagai dapur nasionalisme.20180801_160432-1

Kampus Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengingatkan saya akan sahabat Arien Tri Widiastuti yang sekarang tinggal di Belanda. Dulu kita sekantor dan dia sering bercerita tentang tokoh sastra terkemuka yang merupakan dosennya yaitu Pak Budi Darma.

Musim kemarau membuat bunga-bunga yang berada di sekitar kampus kering berguguran, belum lagi ruas jalan yang dilewati kendaraan pribadi terlihat sangat ramai. Saya melewatinya dari belakang. Dari Fakultas Teknik Informatika, Fakultas Ekonomi, Pusat Bahasa dan Fakultas Ekonomi Sosial Budaya.

Sepertinya kampus UNESA tertata dengan baik. Depannya ada deretan unit usaha menyerupai koperasi mahasiswa. Namun di pinggir jalan arah Royal usaha masyarakat juga banyak diminati mahasiswa seperti tempat fotokopi, warung makan, bakso dan lain sebagainya.

20180801_160818-1

Tidak terasa kami sampai di Pusat Belanja Royal. Kami berjalan jauh untuk dari perempatan ke dekat pintu keluar pusat belanja. Seperti minggu lalu, di Surabaya harus hati-hati menyebrang karena jalannya sangat padat.

Kami menunggu bis ke arah Bungur Asih. Tidak lama kemudian ada Bis Damri datang dari arah Tanjung Perak. Kami naik bis Damri yang nyaman dan membayar Rp.6000 ke terminal Bungur Asih untuk selanjutnya menuju ke Plaosan Blimbingsari Malang.

Plaosan, Blimbingsari Malang
Pukul 20:13

“Tanahku Tak Ku Lupakan, Engkau Kubanggakan”

Selamat datang bulan Agustus. Bulan ini kita akan melewati banyak peristiwa bersejarah yang penuh dengan kegembiraan. Bulan dimana bangsa ini mengalami kejadian penting baik pesta olahraga maupun pesta-pesta lainnya.

Pagi ini saya sangat bergembira, karena sedang berada di kota Surabaya, Kota pahlawan dimana Bung Karno menyatakan bahwa Surabaya adalah Dapur Nasionalisme.

Maka, untuk mengobarkan nasionalisme, saya ingin memutar sebuah video yang memadukan orasi Bung Karno dengan Lagu Ciptaan Ibu Sud berjudul Tanah air yang diakhiri dengan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Lagu ini diaransemen oleh EDM X Gamelan by Alffy Rev Ft Brisia jodi dan Gasita Karawitan.

Berikut videonya

Bila kau lihat pemuda yang lebih kaya
Cintamupun segera berpindah kepadanya

Hari minggu kemarin kami naik bis AKAS jurusan Malang-Surabaya yang berlaju kencang tanpa macet. Di perjalanan ada seorang perempuan menyanyi lagu “Cinta Hampa” dengan merdu dan mendayu.

Saya mengambil video dari samping,karena posisi duduk yang sulit. Jadi gambarnya seadanya.

Berikut video dan liriknya

Cinta Hampa

Dipopulerkan oleh D’llyod

Ibarat air di daun keladi
Walaupun tergenang tetapi
Tak meninggalkan bekas
Pabila tersentuh
Dahannya bergoyang
Airpun tertumpah tercurah
Habis tak tinggal lagi

Begitu juga cintamu padaku
Cinta hanya separuh hati
Kau lepas kembali
Nanti di suatu masa
Kau juga akan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa
Karena cinta

Bila kau lihat pemuda yang lebih kaya
Cintamupun segera berpindah kepadanya

Tapi biarlah kau cari yang lain
Kan kau buat sebagai korban
Cinta palsu hampa
Nanti di suatu masa
Kau juga kan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa karena cinta

“Saya masuk di dalam buku-buku, saya membaca buku banyak sekali, malahan saya berkata, in the world of the mind, I met these great men”  Ir.Sukarno, 2 Februari 1963

Tidak terasa sudah hampir seminggu di Blitar. Berkumpul dengan keluarga Mas Arif. Hari Sabtu kemarin, adalah hari terakhir saya di Banggle Kanigoro, pagi-pagi saya berangkat untuk mendokumentasikan membuat video di tiga tempat dimana saya mengenal sejarah Presiden Sukarno. Meski sudah 12 tahun menikah, saya biasanya berkunjung ke makam Bung Karno saja, baru tahun ini saya komplek terpadu museum dan perpustakaan.

Sukarno dan Buku
Sejak muda, Sukarno selain mencintai seni dan menguasai banyak bahasa, Beliau adalah pemimpin yang rajin membaca.Dia sangat menyukai buku, menulis opini, dan berdiskusi banyak hal dengan para pahlawan pendiri negeri ini.

Isi orasi sangat membahana. Membangkitkan semangat juang dan rakyat Indonesia rela berkumpul mendengar pidatonya. Anda akan bisa melihat buku apa yang dibaca oleh Sukarno, serta dalam kurun waktu 1945-2018 sudah berapa orang dan penerbit menulis tentang pemikirannya dari pelbagai sudut pandang.

Beliau juga mendapat gelar Honoris Causa dari pelbagai universitas di Indonesia karena jasanya yang besar kepada republik ini.

Jika generasi anak muda sekarang malas membaca apa yang salah dengan pendidikan di negeri kita. Terlalu sibuk ngurusin hal-hal tidak penting atau terlalu banyak online.Bagaimanapun juga minat baca itu sulit jika tidak dibiasakan (tidak bermaksud menggurui).

Empat Bagian Gedung Museum dan Perpustakaan

Namun, meskipun demikian kita harus belajar dari pendahulu kita dengan menelusuri atau napak tilas jejak mereka seperti Museum Bung Karno yang terpusat satu lokasi dengan perpustakaan proklamator di Kota Blitar.

Selain makam Bung Karno yang terletak di atas Ada empat bagian gedung yang berada menyatu namun berbeda fungsi. Pertama Sebelah air mancur atau gedung memanjang penghubung makam dengan museum utama ada koleksi perpustakaan anak yang nyaman dengan beragam buku bacaan untuk anak-anak. Persisnya dekat gazebo, jika anda membawa anak mampir kesini.

Screenshot_2018-07-31-09-44-42-1

 

Setelah itu bagian kedua ada gedung utama di sebrangnya, yaitu Museum Bung Karno. Di sana ada foto-foto masa kecil Bung Karno, saat perjuangan, proklamasi, masa pembuangan, foto keluarga, kedatangan tamu negara dan lain sebagainya bisa anda lihat di sini.

Video Museum Bung Karno. Bisa di lihat di sini.

Setelah anda melihat ke museum, anda bisa menyebrang ke bagian tiga gedung yaitu perpustakaan proklamator koleksi umum. Di sana terdapat majalah, koran, buku sejarah, buku populer, novel, ekonomi dan lain sebagainya. Ratusan judul buku ada di sini dengan ruang baca yang nyaman.

Barang anda dititipkan di satpam perpustakaan.Anda juga bisa meminjam buku di sini yang terdiri dari dua lantai.Mendaftar jadi anggota bagi warga Blitar, dan mengusulkan buku yang ingin anda baca.

Berikut Video Koleksi Umum Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar.

Sebenarnya ada dua pilihan. Jika anda orang dari luar kota, anda ingin membaca langsung buku karya Bung Karno dan buku karya orang lain tentang sosok Bung Karno, anda bisa melewati perpustakaan koleksi umum, langsung di lantai dua menyebrang ke gedung bagian keempat yaitu perpustakaan koleksi khusus Bung Karno.

Anda bisa melihat audio visual, dan membaca di tempat. Koleksi khusus Bung Karno di jaga oleh beberapa orang petugas. Setelah mengisi daftar pengunjung, anda bisa melihat koleksi buku yang ada di etalase dan katalog.

Di sini anda hanya bisa membaca di tempat,tidak bisa dibawa pulang maksimal pinjam dua buku. Bagus-bagus koleksinya.

Berikut Video tentang Koleksi khusus Perpustakaan Bung Karno di lantai dua.

Video yang saya buat memakai perangkat gawai biasa dengan menggunakan aplikasi FilmoraGo. Saya menyadari video yang saya buat amatiran, sangat jauh dari sempurna. Harap maklum jika banyak kekurangan di sana sini.

Ketintang, 31 Juli 2018 Pukul 10.11 WIB

Sebenarnya saya membaca Majalah National Geographic sudah lama, biasanya saya baca di Perpustakaan Kemendikbud Senayan Jakarta. Banyak wawasan baru setiap edisi, namun belum pernah saya ceritakan di blog ini. Baru pada bulan ini saya bikin sedikit review Majalah edisi bulan Juni yang mengangkat tema tentang Bumi Atau Plastik, Ancaman dan Asa Plastik di Indonesia. Namun, kali ini saya membaca ulang di koleksi umum perpustakaan proklamator Bung Karno Blitar.

Saya juga sudah membaca edisi Bulan Juli, namun karena saya sudah merasakan dan melihat bagaimana sampah di pinggir pantai beberapa waktu yang lalu, maka tidak ada salahya atau semoga belum terlambat kita mengantisipasi sejak dini timbunan sampah plastik yang ada di daratan maupan pinggir laut (pantai) bahkan dalam laut.

Konsistensi Tanpa Sampul Plastik

Satu hal yang saya suka dari majalah ini adalah mencopot sampul plastik yang ada di setiap majalah baru. Wah menarik juga ya, dimana hal paling sulit dalam hidup kita adalah konsisten antara tulisan dan perbuatan. Pemberitahuan ini dimuat semacam pengumuman sederhana namun resikonya besar.

Karena apa, jika kita membeli buku atau majalah baru tanpa sampul plastik terkadang kita berpikir bukan buku atau majalah baru karena sudah tidak ada plastiknya 😊. Ya, semoga upaya ini menjadi kepedulian bagi kita semua untuk memperhatikan plastik atau sampah terdekat dalam kehidupan kita.

Ada banyak foto menarik seperti biasa, investigasi majalah ini berkaitan dengan semakin sulitnya kita menghentikan kebiasaan atau ketidakberdayaan terhadap apapun yang kita minum, makan, pakai dan tempat tinggal.

Delapan Juta Ton Plastik Berakhir di Laut dan Spesies Laut Terluka

Di halaman depan sudut kiri ada semacam penekanan kata terhadap jumlah sampah plastik dimana setiap tahun delapan juta ton plastik berakhir di laut. Itu baru yang terlihat di permukaan.

Dari halama 54 sampai halaman 101, laporan utama plastik ini membuat kita berkali-kali mengernyitkan dahi, tertegun, terbelalak melihat foto-foto, dan sedikit lega dengan adanya solusi untuk mengurangi.

Tulisan Laura Parker dan Fotografer Randy Olson dari National Geographic membuka tulisan dengan data statistik yang akurat tentang plastik.

Dia menulis bahwa sudah 150 tahun kita menciptakan materi yang ringan, kuat dan murah. Lebih dari 40% diantaranya hanya digunakan satu kali, Kini matero mukjizat ini membantu jantung berdenyut dan pesawat melesat dan delapan juta ton tiba di laut seperti yang saya tulis di atas.

Narasi yang kuat tentang bahaya plastik dan foto-foto sampah plastik di laut sangat menarik namun tidak asyik. Kenapa dikatakan demikian, karena kebiasaan buruk kita yang membuang barang plastik yang membahayakan biota laut.

20180728_091621
Sebelum Laut Berubah Menjadi Sup Plastik

Pada halaman 60 ditulis jika sampah plastik menewaskan jutaan satwa laut setiap tahun. Diketahui hampir 700 spesies, termasuk yang terancam punah karena dampaknya.Sebagian biota laut cedera dengan gamblang-tercekik jala terbengkalai atau cincin plastik minuman kaleng. Mungkin banyak lagi yang cedera tanpa terlihat.

“Spesies laut segala ukuran, dari zooplankton hingga paus, sekarang makan mikroplastik, serpih yang besarnya tak sampai lima meter,”

Ted Siegler, ahli ekonomi sumber daya daya dari Vermont mengatakan jika ini bukan masalah yang tidak diketahui solusinya.

“Kita tahu cara memungut sampah, cara membuang, cara mendaur ulang. Masalah utamanya adalah soal membangun lembaga dan sistem dan sistem, katanya idealnya sebelum laut berubah menjadi sup plastik encer yang mustahil dibenahi berabad-abad.

20180728_091610

Mendengar kata sup plastik, membuat saya menelan ludah. Membayangkan apa yang tejadi jika kita membiarkan ini berlangsung tanpa kesadaran dan pencegahan yang radikal.

Tutup botol minuman kemanasan dibuat dengan ilustrasi seperti gambar gurita plastik dengan spesies laut yang menghuni tutup botol. Seperti tutup botol minuman ringan dalam perut anak albatros di Midway Atoll, cacing keel yang hidup di tutup botol air minum, dll.

20180728_092521

 

Solusi untuk menghentikan

Pembahasan tentang plastik biodegrable dan Norwegia yang berhasil mendaur ulang 97%, produk yang bisa membantu mengurangi plastik, serta enam hal yang bisa anda dilakukan untuk menguranginya (98-101).

20180728_092658

Produk yang bisa membantu mengurangi limbah plastik juga disampaikan seperti sikat gigi dengan kepala sikat yang bisa diganti, pembungkus makanan berbahan dasar lilin lebah dan kapas, sedotan dari logam yang bisa dipakai ulang, dan cincin pengikat minuman yang dibuat dari kompos limbah pembuatan minuman berkaleng.

Lalu apa saja enam hal itu, pertama tanpa kantong plastik, tanpa sedotan, lupakan botol plastik, hindari kemasan plastik, daur ulang yang bisa, dan jangan buang sampah sembarangan.

Dilema Mengkampayekan Lingkungan Bersih dengan Penetrasi Kapital

Saya sendiri termasuk yang sulit konsisten dengan sampah plastik karena kondisi dan keadaan. Tidak hanya sampah plastik, saya juga gelisah dengan sampah elektronik dan teknologi seperti modem bekas, usb bekas, kaset bekas, baterei bekas, colokan bekas, casing bekas dan komputer dan laptop bekas. Dimana di masa yang akan datang pasti akan semakin menumpuk dan tidak tahu bagaimana cara mengurainya.

20180728_092717

Berbicara isu lingkungan kita juga harus memikirkan nasib industri plastik, pekerja pabrik plastik dan makanan yang dibungkus plastik dll. Menjadi dilematis memang ketika kepedulian lingkungan berlawanan dengan keuntungan kapital dan gaya hidup yang instan dan praktis.

Tapi bagaimanapun kesadaran dan lingkungan dan alam yang bersih itu lebih penting daripada uang banyak kita sakit-sakitan. Karena air yang kita minum tercemar hingga harus minum air kemasan dibungkus plastik, tanah yang kita tanami sudah tereduksi sampah yang tidak terurai, ikan yang kita makan terancam mengandung mikroplastik dan efek lainnya yang menimbulkan penyakit berbahaya dan akan mengancam bumi manusia dan isinya. Maka tidak aneh ya jika orang yang dipenjara atau orang tua kita dulu minum air keran.

Sebenarnya apa yang saya baca di majalah National Geographic kali ini baru sedikit saya sampaikan, lebih baik anda dan keluarga,sahabat, teman kerja atau semua orang membaca majalah ini. Bisa membeli, atau membacanya sambil berkunjung ke perpustakaan.

Koleksi umum Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar
28 Juli 2018 Pukul 14.50

Resensi Buku: Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia)
Penulis : Ir. Sukarno
Edisi : Tjetakan Ketiga, 1963
Penerbit: Panitya Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Sukarno
Koleksi: UPT Perpustakaan Bung Karno Kota Blitar, Perpustakaan Nasional RI
Sarinah dan Perjuangan Perempuan untuk Keadilan Sosial

“Sjair Inggris mengatakan Man works from rise to set of sun, woman’s work is never done, artinya, laki kerdja dari matahari terbit sampai terbenam, perempuan kerdja tiada hentinja siang dan malam,” Ir.Sukarno, dalam buku Sarinah halaman 77

Screenshot_2018-07-28-14-34-15

Orang Ketjil Berbudi Besar

Raden Soekemi Sosrodiningrat dan Ida Ayu Nyoman Ray memiliki dua orang anak, yaitu Sukarmini dan Sukarno. Sebagai keluarga bangsawan, mereka memiliki kesibukan lain disamping membesarkan dua orang anaknya yang masih Balita. Sukarno akhirnya di asuh oleh Sarinah.

Kitab Sarinah ditulis oleh Sukarno sesudah berpindah kediaman dari Djakarta ke Djogjakarta, dimana saat itu tiap dua pekan sekali Sukarno mengadakan banyak kursus-kursus keputrian. Sukarno menulis bahwa alasan utamanya kenapa kitab (buku) ini dinamakan “Sarinah”?

Saja menamakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terimakasih saja kepada pengasuh saja ketika saja masih kanak-kanak. Pengasuh saja itu bernama Sarinah. Ia “mbok” saja. Ia membantu ibu saja, dan dari dia saja menerima banjak rasa kasih. Dari dia saja mendapat peladjaran mentjintai “orang ketjil”. Dia sendiripun “orang ketjil” tetapi budinja selalu besar! Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu.

Mendapat Pujian dari Tiga Pemimpin Dunia

Sebagai orang yang pernah bekerja di penerbitan, saya tidak menyangka jika buku yang ditulis presiden pertama Indonesia ini, sampulnya memuat endorsement (pujian) dari para pemimpin dunia, padahal buku ini terbit tahun 1963. Berarti bisa dibayangkan jika, dunia penerbitan di Indonesia sudah mengalami kemajuan pesat sejak jaman perjuangan. Paling sulit dalam proses penerbitan buku selain editing adalah mencari endorsement, harus lama menunggu, menyesuaikan jadwal dan menanti tokoh tersebut membaca buku yang ditulis. Ini membuktikan bahwa Bapak Proklamator kita selain menguasai banyak bahasa juga dikagumi pemimpin dunia.

Orang pertama yang menulis pujian terhadap buku bersampul gading dengan judul merah ini, adalah Mahatma Gandhi. Dia menulis sebagai berikut. Banyak sekali pergerakan-pergerakan kita kandas di tengah djalan, oleh karena keadaannya wanita kita”-Gandhi.
Setelah itu, pemberi pujian kedua adalah  Lenin. Lenin berkata “Djikalau tidak dengan mereka (wanita), kemenangan ta’ mungkin kita tjapai,” Lenin dan sebagai penutupnya adalah Presiden Turki,  yang menulis “Diantara soal-soal perjuangan yang harus diperhatikan, soal wanita hampir selalu dilupakan,” Kemal Ataturk.

Enam Bab Penuh Makna Filosofis

Anda jangan membayangkan jika buku ini menceritakan biografi Sarinah dari A-Z. Karena yang dalam buku ini yang dimaksud Sarinah oleh Bung Karno adalah symbol perempuan Indonesia yang tidak berdaya, lebih banyak menceritakan tentang pemikiran perempuan Indonesia yang harus berjuang, memperjuangkan dirinya, bangkit dari kebodohan dan keterpurukan namun tidak lupa kodrat.

Bab pertama, Sukarno menulis panjang lebar tentang Makna dan Soal Perempuan, bab kedua mendedahkan tentang Laki-laki dan Perempuan, bab tiga tentang dari Gua ke Kota. Terlihat, dalam proses penulisan, Sukarno sangat bersemangat dengan tulisan yang diketik dan banyak penekanan huruf-huruf besar jika menyangkut salah satu nilai yang diperjuangkan.

 

Usai tiga bab menjelaskan tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga, bernegara, dan kehidupan sosial, bab empat pembahasannya lebih mendalam yaitu menyangkut ideologi Matriarchat dan Patriarchat, yang dilanjutkan dengan bab lima membahas tentang wanita bergerak.

Dalam kaitannya dengan ideologi matriarki, patriarki, feminis dan neo feminis anda akan kaget dengan pemikiran Beliau. Dimana disini, dia mengambil banyak ide-ide tentang gerakan wanita yang menurut dia bisa menjadi semacam ruh dalam suatu perjuangan. Selain karena perempuan memiliki rahim (kasih sayang), maka ruh dalam rahim perempuan harus memperjuangkan diri akan terciptanya suatu kehidupan penuh harapan.

Sarinah Dalam Perdjoangan Republik Indonesia Read the rest of this entry »

Resensi Buku
Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat
Karya: Cindy Adams, Edisi Revisi, 2007
Alih bahasa: Syamsu Hadi
Penerbit: Yayasan Bung Karno dan Penerbit Media Pressindo Jogjakarta

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata,” Ir. Sukarno 1933.

Buku berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” ini merupakan karya monumental Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno yang memerintah sejak tahun 1945-1966. Buku ini berkisah tentang perjuangannya sejak dia lahir, sekolah, kuliah, menikah, memproklamasikan kemerdekaan, membesarkan anak-anak, mengunjungi pelbagai negara, bertarung melawan pemberontakan komunis dan paham Islam yang kolot, diturunkan dari pemerintahan dan diancam digantung karena antek CIA, hingga masa akhir hayatnya yang sakit cukup lama dan menderita di hari tua hingga ajal menjemput dan menutup mata.

Buku yang ditulis oleh wartawati asal Amerika Serikat Cindy Adams ini sudah beberapa kali terbit dan mengalami revisi, seperti yang dijelaskan Guruh Sukarnoputra dalam kata sambutannya di pembukaan buku ini. Sempat diterbitkan beberapa kali dan diterjemahkan dengan makna yang tidak tepat, membuat keluarga Bung Karno membuat revisi yang terbit pada tahun 2007.

Sebagai wartawati, Cindy Adams menulis dengan baik buku yang terdiri 33 bab ini. Narasi yang disampaikan Cindy Adams, ditulis secara bertutur, sehingga seolah-olah Bung Karno sendiri yang menceritakan dirinya dalam buku yang memiliki tebal 415 halaman ini ditulis pada tahun 1964. Awal mula penulisan buku ini adalah saat itu Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones berkunjung ke istana Bogor dan menyarankan Bung Karno untuk menulis biografi.

Bung Karno akhirnya menyetujui untuk membuat biografi dan bersedia diwawancara oleh Cindy Adams, wartawati Amerika Serikat yang berada di Indonesia bersama suaminya Joey Adams yang memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara.

Putra Sang Fajar Berbintang Gemini

Sukarno adalah anak dari seorang ibu kelahiran Bali. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai Serimben (biasa disapa Idayu). Idayu, merupakan keturunan bangsawan. Raja Singaraja yang terakhir adalah paman ibunya Bung Karno. Sedangkan sang ayah, berasal dari Blitar, Jawa Timur. Nama lengkapnya Raden Soekemi Sosrodiharjo. Raden Soekemi merupakan gelar kebangsawanan. Dan bapak berasal dari Keturunan Sultan Kediri.

Raden Soekemi-ayah Sukarno-merupakan mantri guru sekolah pribumi dan sempat menjadi asisten peneliti bahasa Van Den Tuuk dan pernah bekerja di Buleleng Singaraja, karena Ibu Sukarno (Idayu) berasal dari keluarga Serimbin.

Raden Soekemi merupakan putera seorang ulama masyhur pada masanya. Keluarga Raden Soekemi merupakan patriot hebat. Nenek dari nenek ayah Sukarno memiliki pejuang pendamping pahlawan besar Diponegoro. Sewaktu Sukarno kecil, Ibunya sering mendengarkan cerita-cerita mengenai kebangsaan dan kepahlawanan. Sukarno bersimpuh di dekat kaki Ibu berjam-jam untuk mendengarkan cerita menarik dari perjuangan melawan penjajahan.

Kepada Cindy Adams, Sukarno terus terang menceritakan kisah cinta orangtuanya di masa muda. “Ibuku tercinta itu pun menceritakan bagaimana Bapak menaklukkan hatinya. Semasa muda Ibu adalah gadis di Pura Hindu Budha yang bertugas membersihkan rumah ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak yang bekerja sebagai guru sekolah rendah gubernemen di Singaraja sering datang ke air mancur di muka pura pulang sekolah. Suatu hari dia melihat Ibu, sering bertegur sapa dan keduanya saling jatuh cinta. (hlm, 25)

Sudah menjadi tradisi, perempuan Bali tidak boleh menikah dengan orang luar. Bukan orang luar dari negara lain, tetapi orang dari pulau lain. Waktu itu sama sekali tidak ada perkawinan campuran antara satu suku dengan suku lain. Kalaupun bencana semacam ini terjadi, pengantin baru itu diasingkan dari rumah orangtuanya sendiri.

Karena ayah Sukarno beragama Islam dan Ibunya seorang Hindu tidak mungkin mereka menikah. Namun, karena saling cinta, mereka akhirnya mendobrak tradisi. Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai akhirnya melakukan kawin lari. Peristiwa ini memang tidak lazim, namun untuk mendapat pengesahan, kedua pengantin di bawa ke depan pengadilan.

Akhirnya pengadilan mengizinkan perkawinan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai meskipun pengadilan menjatuhkan denda kepada sebesar 25 ringgit atau 25 dollar kepada mempelai perempuan dengan menjual perhiasan.

“Karena merasa tidak disenangi di Bali, Bapak kemudian mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk pindah ke Jawa. Bapak di pindah ke Surabaya dan disanalah aku dilahirkan,” ujar Sukarno pada Cindy Adams. Sukarno lahir pada 6 Juni 1901.

Cindy Adams menulis tentang asal usul kenapa, dia mendapat julukan Putra Sang Fajar. “Ketika aku masih bocah kecil, mungkin berumur dua tahun, ibu telah memberkatiku. Dia bangun sebelum matahari terbit dan di dalam kegelapan di beranda rumah kami yang kecil dia duduk tidak bergerak, tanpa melakukan apa-apa dan tanpa bicara, hanya memandang ke arah timur dengan sabar menantikan datangnya fajar.

Ketika aku terbangun dan mendekatinya, dia mengulurkan kedua belah tangannya dan meraih badanku ke dalam pelukannya, lalu pelan-pelan mendekap tubuhku ke dadanya. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan lembut,” ujar Sukarno menerawang masa kecilnya bersama Ibu tercinta.

“Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau, anakku, kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena Ibu melahirkanmu saat fajar menyingsing. Kita orang Jawa memiliki suatu kepercayaan, bahwa seorang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah digariskan sebelumnya. Jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra sang fajar,” (hlm 21)

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal 6 Juni. Aku bernasib sangat baik dengan dilahirkan di bawah bintang Gemini, lambang anak kembar. Dan memang itulah aku yang sebenarnya. Dua sifat yang sangat bertentangan. Aku bisa lemah lembut atau aku bisa rewel; keras bagai baja, atau puitis penuh perasaan. Pribadiku merupakan perpaduan dari pikiran dan emosi.

Aku orang yang suka memaafkan, akan tetapi aku pun seorang yang keras kepala. Aku menjebloskan musuh-musuh negara ke balik jeruji penjara, namun aku tidak tega membiarkan burung terkurung di balik sangkar.


Berganti Nama Karena Sering Sakit

Raden Soekemi adalah seorang pecinta seni dan pengagum wayang. Sejak lahir, Sukarno diberi nama Kusno. Namun, karena sakit-sakitan, ayahnya mengganti namanya.

“Namaku ketika lahir adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang sakit-sakitan. Aku terkena malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit. Bapak berpikir. ”Namanya tidak cocok. Kita harus memberinya nama lain agar tidak sakit-sakitan lagi. Bapak adalah pengagum Mahabharata, cerita klasik Hindu zaman dahulu. Aku belum mencapai usia remaja, ketika bapak berkata, “Engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar Mahabharata.” (halaman31).

“Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno-mengikuti cara Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan semua OE ditulis kembali menjadi U. Nama Soekarno sekarang ditulis menjadi Sukarno. Tetapi tidak mudah bagi seseorang untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun, jadi dalam hal tanda tangan aku menulis S-O-E,” ungkap Sukarno terus terang tentang penulisan nama yang sampai saat ini masih simpang siur antara Soekarno atau Sukarno.

Karena buku ini sangat tebal, saya tidak akan menceritakan secara mendetail apa saja yang terjadi semasa kecil hingga beranjak dewasa menjadi remaja dan gemar membaca karya filsafat. Namun, jika anda ingin membaca langsung buku ini, ada beberapa bab yang menceritakan bagaimana kisah sedih masa mudanya di Eerste Indianse School, di mojokerto, kemudian pindah ke ke Europheesche Lagere School (ELS), dan melanjutkan ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya dan tinggal di rumas HOS Tjokroaminoto sahabat ayahnya, di buku ini Sukarno memiliki kesan Kota Surabaya sebagai Dapur Nasionalisme.

Di masa remaja, Sukarno melanjutkan kuliah ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH, sejak 1959 menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan tinggal di kediaman H. Sanusi, teman dekat HOS Tjokroaminoto. Selama di Bandung, Sukarno melakukan perjalanan ke daerah persawahan di Bandung, disana ia bertemu dengan seorang petani bernama Marhaen.

Selanjutnya setelah lulus ia berjuang, rajin menulis opini dan mendirikan Partai Nasional Indonesia serta keluar masuk penjara (bui) dari penjara Banceuy, Sukamiskin, proses pengadilan dan satu bab sendiri saat keluar dari penjara (139).

Perempuan dalam Kehidupan Sukarno

Selain peran ibunya Ida Ayu Nyoman Rai yang sangat ia hormati. Sukarno kecil diasuh oleh seorang perempuan bernama Sarinah. Bagi Sukarno, rasa cinta kasih sayang bagai oase yang luas di padang pasir. Ia mampu menyejukkan dan membasahi tanah yang tandus. Menurutnya terlahir sebagai anak orang miskin dan melarat merupakan surat takdir yang harus dijalani. Dalam kemiskinan itulah, ia mendapat kasih sayang cinta yang penuh dari seorang Ibu dan pengasuhnya bernama Sarinah.

Menurut Bung Karno, tidak ada cinta yang lebih baik dari cinta seorang ibu. Namun, ia juga tidak mengesampingkan sosok Sarinah sebagai seorang pengasuh. Sarinah adalah seorang pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Tidak ada hal yang istimewa dari riwayat hidupnya. Ia pun tidak menikah dan tidak memiliki keturunan.

“Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak menikah, dia kami anggap sebagai anggota keluarga. Dia tidur dengan kami, tinggal bersama kami, memakan apa yang kami makan, tetapi dia tidak mendapat gaji sepeserpun. Dialah yang mengajariku mengenal kasih sayang. Sarinah mengajariku untuk mencintai rakyat. Rakjat kecil.

Selagi dia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan dia memberi nasihat, “Karno, di atas segala nya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia,” Sarinah adalah satu nama biasa. Tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita biasa. Dia orang yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku.” (Halaman 30)

Karena rasa cintanya yang besar pada Sarinah, Sukarno menulis sebuah buku yang terbit pada tahun 1963 berjudul “Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia)” yang ia tulis di Jogjakarta. (Resensi Menyusul). Selain Ibu Idayu dan Sarinah, ada perempuan lain yang juga memiliki pengaruh dalam kehidupan Presiden pertama Indonesia ini.

Bung Karno menjelaskan jika dia menyukai gadis-gadis menarik di sekitarnya, karena aku merasa mereka seperti bunga dan aku suka memandang bunga. Orang bilang, Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan sudut matanya. Itu tidak benar. Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan seluruh bola matanya.

Tetapi ini bukanlah suatu kejahatan. Bahkan Nabi Muhammad SAW, mengagumi kecantikan. Dan sebagai seorang Islam yang saleh, aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. “Tuhan yang dapat menciptakan mahluk cantik seperti kaum perempuan adalah Tuhan yang maha besar dan maha pengasih,” Aku setuju dengan ucapan beliau ini. (hlm 13).

Perempuan pertama yang pernah melaksanakan kawin gantung dengan Sukarno adalah Siti Oetari (16 tahun), putri HOS Tjokroaminoto, pada tahun 1921, dan diajak kuliah di ITB Bandung. Saat di Bandung, Sukarno tinggal di H. Sanusi dan jatuh cinta pada istri H. Sanusi bernama Inggit Garnasih dan menjelaskan pada Inggit bahwa hubungannya dengan Oetari adalah sebagai adik kakak. Sukarno juga terus terang kepada H.Sanusi bahwa ia mencintai Inggit, setelah itu H. Sanusi menceraikannya.

Sukarno dan Inggit Garnasih menikah pada 24 Maret 1923 dan menemani perjalanan politik, di penjara, diasingkan di Ende Flores, dan dibuang ke Bengkulu. Selama 18 Tahun menikah dengan Inggit, Sukarno tidak punya keturunan, mereka mengangkat anak angkat Ratna Juami (Omi), putri Ny. Murtasih kakaknya Inggit.

Di Bengkulu Ratna Juami sekolah di Rooms-Katholik Vakschool dan bersahabat karib dengan Fatmawati, putri tokoh Muhammadiyah di Bengkulu bernama Hassan Din. Saat itu Fatmawati berusia 15 tahun dan Sukarno mengajar Fatmawati dan Ratna Juami mengaji. Namun, karena intensitas di Pengasingan Bengkulu, lama-lama Sukarno jatuh cinta pada Fatmawati, dan berniat menikahinya.

Sukarno meminta restu pada Inggit untuk menikah dengan Fatmawati, namun Inggit menyatakan dengan tegas bahwa ia menolak dimadu dan memilih bercerai. Sukarno memulangkan Inggit ke Bandung pada 1942. Pada 1 Juni 1943, Sukarno menikah dengan Fatmawati.

Ir. Sukarno berpidato dalam sidang Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengenai dasar negara yang diberi nama Pancasila, 1 Juni 1945. Bersama dengan Ir. Sukarno dan Drs. Muhammad Hatta, Bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan

Jepang dan memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dan membacakan teks proklamasi dan diangkat sebagai Presiden RI pertama oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945. Saat hamil Guntur, Fatmawati menjahit bendera merah putih yang nantinya menjadi bendera pusaka. (halaman, 398).

Perjuangan tidak Pernah Usai Meskipun Telah Merdeka Pada 4 Januari 1946, Ibukota negara pindah dari Jakarta ke Jogjakarta. Namun tidak lama kemudian pusat pemerintahan kembali dari Jogjakarta ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan pada Konferensi Meja Bundar (KMB), 28 Desember 1949. Pada 5 Juli 1959, Presiden Sukarno atas nama rakyat Indonesia mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959.

Dengan Fatmawati, Sukarno memiliki lima orang anak, yaitu Guntur, Megawati Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Pernikahan Fatmawati dan Bung Karno kandas pada 1954, ketika Bung Karno ingin menikahi Siti Hartini, perempuan asal Ponorogo. Fatmawati berprinsip tak ingin dimadu dan anti poligami. Dengan Siti Hartini, Bung Karno memiliki dua orang anak yaitu Taufan dan Bayu.

Dalam buku ini tidak diceritakan siapa saja perempuan yang menikah dengan Sukarno setelah Siti Hartini. Namun, dalam gambar di halaman belakang ada foto-foto Sukarno Hartini menjamu acara kenegaraan dalam menerima tamu dari luar negeri. Dan foto-foto anak-anak Fatmawati menghadiri pernikahan anak Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto), yaitu Kartika di Jepang. Mereka terlihat rukun dan guyub meskipun berbeda ibu kandung.

Disamping berkaitan dengan peran perempuan dalam kehidupan Sukarno, ada sepuluh bab lain yang harus anda baca, berkaitan dengan memepertahankan kemerdekaan, dimana masa-masa itu sejarah mencatat banyak peristiwa penting. Seperti ketika Jepang datang, Pendudukan Jepang, Kolaborator atau Pahlawan, Anakku yang Pertama, Harganya Kemerdekaan, Awal dari Akhirnya, Perundingan di Saigon, Diculik, Proklamasi, Revolusi dimulai.

Refleksi atas Sebuah Perjuangan Penuh Cinta

Setelah anda membaca dari awal tentang masa kecil, remaja, mahasiswa dan sejarah merdeka, pemberontakan dari dalam negeri yang dimana saya kira para pembaca sudah kenyang dengan pelajaran sejarah yang selama ini kita pelajari, dari SD-SMP. Jadi tidak usah saya perjelaskan panjang lebar, lebih baik membaca sendiri buku ini dan anda akan banyak membuka mata tentang siapa itu Sukarno, Muhammad Hatta dan para pahlawan yang selama ini berjuang buat tanah air tercinta.

Namun, anda akan terharu membaca bagian akhir. Terutama tiga bab yang menjelaskan tentang masa Masa Mempertahankan Hidup, Masa Perkembangan, dan Sukarno Menjawab. Bagaimana dia selalu gelisah dengan isu Partai Komunis Indonesia, sulit tidur dan tidak bisa lepas dari membaca buku saat ia dilanda kesedihan dan kecintaan pada rakyat Indonesia. Cerita tentang kaus dalam dan piyama kesayangan pemberian para sahabat, membuat kita sadar bahwa Bung Karno di era buku ini ditulis sedang dalam masa kegalauan. Pesan tentang ia dimana ia dikuburkan setelah meninggal, dan beberapa foto kenangan sejarah bersama keluarga dan saat ia sakit ada di halaman belakang.

Kartunis Penolak Bantuan

Dalam buku ini dijelaskan dengan tegas, Bung karno jika biografi ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap kehidupan pribadinya maupun terhadap rakyat yang dicintainya dan juga masyarakat Internasional. Ia gunakan kesempatan ini antara lain untuk menjawab serangkaian tuduhan yang pernah ditujukan pada media massa nasional dan internasional kepadanya, antara lain sebagai kolaborator Jepang dan komunis serta terlalu sering ke luar negeri.

Tidak cukup satu atau dua hari anda membaca buku bersampul merah ini. Saya sempat berhenti sejenak menghela nafas, merenung, melanjutkan lagi dengan perasaan bercampur aduk. Karena selama ini, saya mengakui, bahwa saya kurang banyak membaca buku sejarah pahlawan, hanya sekilas saja, tidak sampai mendalam sampai urusan yang sangat pribadi pun pendiri Bangsa ini. Bung Karno sangat terbuka dalam beberapa hal, kita semua anak muda dan generasi penerus harus tahu itu, jangan hanya enak-enak saja menikmati buah dari kemerdekaan.

Seperti buku Mahatma Gandhi yang pernah saya tulis sebelumnya di sini, peran Bapak, Ibu, Istri, keluarga dan sahabat memiliki pengaruh yang besar untuk mencetak seorang pemimpin revolusioner. Kita juga bisa merasakan bagaimana, kesedihan Bung Karno setelah menjadi Presiden dan tinggal di Istana, Ibunya tidak mau ikut ke Istana dan memilih tinggal di Blitar. Sehingga, Bung Karno, sering pulang ke Blitar, sungkem dan bersimpuh meminta do’a kepada ibunya agar semua pekerjaannya diberi kelancaran.

Setelah ini saya ingin banyak membaca karya lainnya berkaitan dengan beberapa tokoh yang ada dalam buku ini supaya saya, dan semoga Anda pembaca menjadi orang yang tidak sok tahu sejarah sebenarnya dan ahistoris. Dengan membaca kita akan merasakan bagaimana kegembiraan Sukarno mencintai Marhaen, bahagia memiliki anak, semangat memproklamasikan diri, perceraian, dan kesedihan yang menyayat hati, menghibur diri dengan buku dan tabah menghadapi masa akhir kehidupan

Ada dua kejutan yang saya baca di halaman akhir, yang membuat saya tidak menyesal membaca buku ini dari awal sampai akhir. Pertama yaitu, kebenciannya atas bantuan Amerika Serikat, dia mengatakan dengan tegas. “Go to Hell, American Aid,”. Tanpa ada kelanjutan makna sesudah itu. Kedua, Sebuah karya Karikatur yang ia buat sendiri dan dimuat di halaman belakang buku ini, karyanya bagus dan menarik. Saya tidak menyangka jika Bung Karno adalah seorang Kartunis.

Kelebihan buku ini ada pada penuturan yang gamblang dan menyentuh perasaan. Banyak kejutan, dan kita bisa memahami pemimpin berbintang gemini ini dari berbagai sudut pandang. Namun kelemahannya, buku ini sudah jarang beredar, hanya ada di beberapa tempat tertentu, itu saja tidak bisa dipinjam, hanya bisa ditempat. Sedangkan secara teknis kelemahan fatal ada pada cetakan foto yang nampak buram, padahal fotonya bagus-bagus. Seperti anak-anak Bung Karno ketika kecil, foto kunjungan pemimpin beberapa negara dan foto ketika Beliau sakit terlihat suram.

Namun, diantara ratusan buku yang berkisah tentang orator ulung dan arsitek ini, saya rekomendasikan membaca buku ini. Apalagi jika anda punya banyak waktu luang, tidak kebanyakan online, dan ingin mengetahui biografi pemimpin negeri yang sangat kita cintai ini.

Blitar, 25 Juli 2018, Pukul 18:34

Saya cukup lama mengikuti kecendrungan anak-anak Indonesia yang terlahir setelah tahun 2010 ke bawah, kaitannya dengan minat mereka terhadap membaca dan olahraga, untuk menghindari kecanduan mereka terhadap teknologi internet dan permainan (game) online yang ada dalam perangkat lunak (gadget) maupun komputer/laptop.

Meski penelitian saya ini belum sepenuhnya benar karena permasalahan anak di tiap daerah berbeda, namun saya optimis di masa yang akan datang, anak-anak Indonesia akan memiliki minat yang sangat tinggi terhadap dunia membaca atau dunia pustaka karena pendidikan orangtua dan semakin menariknya perpustakaan di setiap wilayah yang ada di Indonesia.

20180724_124350

 

Sejak awal tahun 2018, ada beberapa provinsi yang saya kunjungi seperti Perpustakaan DPR RI, Perpustakaan Jawa Barat, Perpustakaan Jawa Tengah, Grhatama Pustaka Jogjakarta, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Jogjakarta, Perpustaan Provinsi Banten, Perpustakaan Saidjah Adinda Lebak, Perpustakaan Daerah DKI Jakarta di Kuningan, Perpustakaan Kemendikbud, Perpustakaan Kementerian Keuangan, Perpustakaan Kementerian Pertanian, Perpustakaan Kabupaten Sukabumi, Perpustakaan Kota Sukabumi dan Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar.


Anak-anak banyak yang berkunjung ke perpustakaan bersama teman-teman satu kelas atau sepermainan. Ada juga yang diantar oleh ibunya usai dijemput dari sekolah. Beragam cara mereka dilakukan orang tua agar sang anak terhindar dari permainan (game) di gadget yang sudah seperti narkoba, sulit dihentikan.

Ki Hadjar Dewantara pernah melukiskan tentang pentingnya membaca bagi anak-anak. Terutama bila dikaitkan dengan keutamaan pendidikan.

Berkaitan dengan minat olahraga. Keberadaan Lingkungan, orangtua, remaja, dan sanak saudara yang gemar berlari setiap pagi (jogging) sebelum bekerja, atau naik sepeda untuk berangkat ke kantor atau berwiraswasta sudah semakin marak di kota-kota besar. Semoga para orang tua anak-anak Indonesia tidak sekedar suka menonton olahraga, tapi juga suka berolahraga.

Meskipun bagi kalangan petani di desa, berjalan kiloan meter atau bersepeda ke sawah itu sudah lama di lakukan sejak kecil hingga menjelang hari tua.

ol (6)

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang anak muda kekinian yang peduli energi dan lingkungan silahkan klik di sini Anak Muda Peduli Lingkungan dan Energi.

Kita memang tak bisa memaksa anak menjadi seperti yang diinginkan oleh orangtua. Namun, jika kita memberi contoh yang baik, maka dengan sendirinya sang anak bisa menjadikan orangtua sebagai figur panutan, begitu juga sebaliknya.

Maka saya berharap, di masa yang akan datang anak-anak Indonesia akan menorehkan prestasi di berbagai bidang, baik dalam penemuan (inovasi) karena ketekunan maupun dalam prestasi olahraga.

Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar, Jawa Timur, 23 Juli 2018

Pukul 13.17 WIB

Sore tadi kami berjalan-jalan sore menyusuri perumahan kampung, pematang sawah, dan kebun jagung. Tujuannya selain untuk berolahraga, kami ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir (sarean).

Jarak dari rumah keluarga besar kami di Dusun Banggle, Kanigoro Blitar lumayan jauh, ada sekitar kurang lebih dua kilo meter. Kami berjalan enam orang, saya, mas arif dan empat orang keponakan.

Kurang lebih 50 menit kami berjalan, cuaca sore itu sangat cerah dengan udara segar. Meskipun bulan ini bukan musim penghujan, namun semua tanaman di perkebunan tumbuh subur dan saatnya musim berbuah.

Di Banggle, suasana desa sangat terasa meski kami tinggal di pinggir jalan raya. Namun, rumah di sini tidak begitu padat dan rapat. Jarak satu rumah dengan yang lain tidak berdekatan, akan tetapi disini hidup rukun dan damai.

Bahkan, jika anda berjalan jauh ke setiap sudut desa, lebih banyak perkebunan dan sawah daripada rumah tempat tinggal. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa yang lain mulus dan dipergunakan masyarakat dan petani untuk membawa hasil perkebunan, atau untuk mencari dedaunan makanan ternak dan sapi.

Ada yang naik sepeda, ada juga yang naik gerobak motor.Banyak rumah yang di belakangnya memelihara sapi dan kambing, dimana setiap sore para petani laki-laki atau perempuan pulang dari kebun mereka atau memberi makan ternak.

Tidak terasa kami pun sampai di tujuan, tidak lama kemudian kami pulang dan kembali berjalan sambil olahraga sore. Tidak sengaja kami yang berjalan sambil bercanda bersama keponakan melihat matahari yang hampir tenggelam sore itu. Tidak sia-sia kami abadikan.
Jika ingat matahari saya suka ingat usia kita yang juga akan semakin tua dan tenggelam seperti matahari, untuk kemudian, terbit lagi besok pagi dengan semangat baru.

Ada satu lagu yang selalu kuingat yang berkisah tentang Matahari, lagu Iwan Fals yang sangat terkenal.

Mata Hati

Matahari yang berangkat pulang
Tinggal jingga tersisa di jiwa
Bintang-bintang menyimpan kenangan
Kita diam tak bisa bicara

Hanya mata, hanya hati, hanya kamu hanya aku.
Aku di sampingmu, begitu pasti
yang tak kumengerti masih saja terasa sepi