Tanggal tiga Februari kemarin kami resmi membuka kafe “SongoSewelas” yang berada di jalan majapahit no 9 depan Universitas Islam Blitar (UNISBA) mulai pagi jam 9.

Dari pagi hingga siang sepi, ramenya mulai sore sehingga kami putuskan buka mulai pukul 16.00 sampai 12.00 malam.

Meski baru grand launching satu persatu pengunjung mulai datang menikmati aneka kopi hitam seperti kopi robusta, excelso, arabika dan es kopi yang dimininati mahasiswa yang pulang malam bubar kuliah.

Harga kopi terjangkau antara 7000-8000 pergelas. Jadah atau uli 3000 dan nasi pelangan 5000.

Jadi yuuk berkunjung ke kafe “SongoSewelas” ngopi sebebasnya sambil wifian gratis.

Lari Pagi Menyusuri Sawah

Posted: January 15, 2020 by Eva in Artikel

Jika di kota besar kita berolahraga ke gym atau pusat kebugaran, di Blitar saya cukup melakukakan jogging dan lari di sekitar perkebunan belakang rumah mengitari area sawah, kebun jagung, kebun cabe dan lain-lain.

Hal ini sudah lama saya lakukan, namun tidak rutin kadang dua kali sehari, tiga kali sehari, bahkan pernah seminggu sekali.

 
Kedepan pengennya tiap hari sekali biasanya saya lakukan habis masak atau habis rumah rapi. Lari dan jogging ini saya lakukan agar sehat dan terhindar dari penyakit Diabetes serta untuk kebugaran.

Jaraknya tidak begitu jauh kurang lebih 2 kilometer sampai keringetan atau satu jam perjalanan. Yuuuk olahraga biar sehat.

2020-01-15 10.43.07

 

Tidak terasa awal Januari 2020 telah tiba. Rencananya kita mau buka bisnis warung kopi atau kafe di depan Universitas Islam Blitar.

Persiapan sudah dimulai sejak dua bulan lalu. Pesan meja kasir, kursi dan lain-lain.

Do’akan saja semoga lancar yaaPersiapan dan penataan sebelum dibuka

Mencoba Kopi Aceh Gayo

Posted: September 25, 2019 by Eva in Artikel

Pada pertengahan September 2019 kemarin kita berdua pulang kampung ke Sukabumi. Dua hari di sana kita banyak jalan-jalan ke pusat belanja yang tidak ada di Blitar seperti Donatello dan Elizabeth.

Kita berdua cuma sebentar di Sukabumi karena harus segera kembali ke Blitar ada kabar duka. Hari sabtu pagi kami naik kereta ke Bogor untuk selanjutnya naik bis Rosalia Indah dari Tajur jurusan Blitar berangkat jam 12.30 WIB.

Karena sampai Bogor pagi, saya mampir ke Lippo mall di Bogor waktu itu masih jam sembilan pagi mall bukanya jam 09.30 WIB. Disana ada warung kopi namanya MAXX Coffee.

Mas Arif membeli kopi Aceh Gayo yang masih bijian, disana bisa langsung digiling dan langsung diseduh gratis satu cup kopi Aceh Gayo, sementara saya pesan coklat Belgia enak banget.

20190925_152951

Setelah menunggu tidak berapa lama kopi dan coklatpun siap diminum. Sambil menunggu dinginnya udara Bogor dan menunggu mall buka kami menikmati minuman di MAXX Coffee.

Setelah selesai, barista memberikan kopi yang sudah digiling, ada tawaran mau digiling halus apa setengah kasar. Mas Arif pesan setengah kasar. Sesampainya di Blitar kopi ini laris buat menjamu tamu sayangnya cuma sedikit 250 gr.

Semoga lain kali bisa mencicipi kopi lainnya dari penjuru nusantara.

Blitar 25 September 2019

Pukul 15.45

Mengurus Kartu BPJS Kesehatan Karena Pindah Domisili

Posted: September 10, 2019 by Eva in Artikel

Sudah setahun ini aku pindah ke Blitar dan ganti ktp Blitar tapi kartu BPJS kesehatanku belum ku urus karena takut ribet dan malas antri.

Namun karena sayang tidak pernah dipakai akhirnya hari ini aku mencoba mengantri setelah dua kali ke kantor BPJS Kesehatan untuk melengkapi berkas.

Hari pertama aku diminta petugas mempersiapkan fotokopi kartu keluarga, ktp, kartu BPJS Mas Arif, isi form perubahan domisili dan karena kartu bpjsku hilang aku ngisi form kehilangan dengan tanda tangan di atas materai.

Hari kedua berkasku lengkap, aku berangkat  ke kantor BPJS Kesehatan Kota Blitar agak siang,  antriannya sudah tutup. Setelah itu esok harinya tepatnya hari ini aku berangkat kesana.

Datang jam 9.30 aku dapat antrian no 31 saat itu masih 23 orang aku menunggu. Sekitar pukul 13.00 aku dipanggil dan tidak lama kemudian kartu BPJS baru dengan faskes yang sudah diperbarui pun jadi.

Ternyata ngurusnya cepat juga ya tidak ribet. Semoga pengalamanku ini bermanfaat buat anda  yang mau mengurus BPJS karena pindah domisili.

Blitar 10 September 2019

Pukul 14.13

 

Kangen Lima Bulan Tidak Update Blog

Posted: September 4, 2019 by Eva in Artikel

Teman-teman semuanya apa kabar? Sejak April aku tidak update blog, kangen rasanya. Terakhir pas upload iklan rumah, alhamdulilah bulan Mei rumah di Pamulang sudah laku terjual.

Sejak itu tepatnya awal puasa saya sama Mas Arif bangun rumah di Banggle lamanya kurang lebih 3,5 bulan rumah dibangun dan  selesai pada 11 Agustus. Selama itu aku gak kemana-mana fokus nungguin tukang. Kini pertengahan Agustus kemarin pindah dan sekarang sudah ditempatin.

Sekian lama gak pernah update blog, saya jadi kangen menyapa teman-teman. Kini setelah rumah baru selesai dibangun, saya berencana update di blog kembali. Semoga kedepannya mulai bisa menulis rutin lagi.

Blitar, 4 September 2019

Pukul 18:48IMG-20190903-WA0002

Akhir pekan kemarin, kami berdua menghabiskan waktu berkunjung ke salah satu candi yang terkenal di Blitar yaitu Candi Penataran, yang ada di di daerah Nglegok, tidak jauh dari rumah dan bisa diakses oleh kendaraan sekitar 40 menit.

Suasana hari itu cukup cerah. Kami berangkat pagi sekitar jam 10 dan sampai menjelang siang. Di sana ramai sekali pengunjung karena sedang ada acara Pramuka dari seluruh Jawa Timur.

Sebelum masuk ke Candi Penataran, ada seorang penjual durian. Kami pun makan durian dulu sebelum masuk ke Candi. Duriannya mengkel enak sekali dengan harga terjangkau.

Di candi Penataran ada beberapa Candi yang terpisah. Candi Pertama berdiri menjulang di depan, tinggi dan persis menyerupai Candi Prambanan dalam ukuran  mini. Seperti gambar di bawah ini.

 

Setelah Candi pertama, yang saat itu sedang ramai dikunjungi keluarga dan anak pramuka, saya naik ke candi yang berbentuk datar, yaitu Candi kedua.

Di candi yang kedua ini, kita diperbolehkan naik, tapi hati-hati kalau jatuh. Candi ini lebar di apit oleh dua orang patung penjaga. Kita pun gembira dan foto bersama.

Usai mengitari Candi, kami berkunjung ke tempat pemandian atau semacam kolam untuk mandi orang zaman dahulu kala. Lokasinya agak turun belok di sebelah kanan, suasana di sana sangat asyik dan sejuk di dalam kolam ada beberapa ikan.

Sambil melihat kolam pemandian, mas Arif memesan minuman kopi hitam dan saya pun membeli camilan. Suasana ramai saat ada anak pramuka datang bergerombol. Cukup lama kami duduk di pinggir kolam hingga akhirnya hujan turun.

Menjelang siang, ketika hujan turun kami pun pulang dari Candi Penataran. Jalan-jalan sore itu terasa menyenangkan.

Blitar, 6 Maret 2018

Pukul 12.07 WIB

 

20190209_104702

Siapa sangka di wilayah Timur Blitar, ada tempat wisata yang sangat bagus dan banyak diminati warga, namun kurang dikenal secara nasional. Namanya adalah Perkebunan Teh Sirah Kencong yang berada di Kecamatan Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar.

Kami berangkat Sabtu 9 Februari 2019 kesana pukul 09.30 pagi, sarapan sebentar, baru jam 09.30 berangkat dan sampai disana sekitar setengah sebelas siang. Lamanya perjalanan kurang lebih dua jam dengan jarak tempuh 87KM dari  kota Blitar.

Hampir Putus Asa Karena Rawan Longsor

Sepanjang perjalanan sebelum memasuki 4 km lagi sampai di lokasi perkebunan kami hampir putus asa, karena kok tidak sampai-sampai ya, selain merasa sangat jauh, jalan yang dilewati juga termasuk daerah rawan longsor.

Namun akhirnya kami teruskan perjalanan mengingat jaraknya kian mendekat. Tidak lama kemudian kami sampai di lokasi, aku minum teh dan coklat sebentar mas arif minum kopi.

20190209_100751

Setelah itu kita naik ke pusat perkebunan untuk melihat pemandangan kebun teh yang indah. Di sana juga sedang ramai karena ada pesta pernikahan.

Kami tidak mengunjungi air terjun maupun candi yang ada disana, kami hanya berjalan-jalan di kebun teh saja dan setelah itu pulang. Usai perjalanan melelahkan kami merasa sangat gembira, karena kekhawatiran sejak tadi kena longsor maupun tempat wisatanya kejauhan terobati dengan sejuknya hawa dingin perkebunan di sini.

20190209_104023

Pokoknya dijamin anda puas, jika jalan-jalan kemari. Yuuk kita ramaikan wisata daerah atau kunjungi wisata yang terdekat dengan anda.

Blitar 13 Februari 2019, Pukul 15.10

 

 

 

Seminggu yang lalu tepatnya hari Sabtu, saya dan Mas Arif melewatkan perjalanan menyenangkan ke daerah Pantai Serang di daerah Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Perjalanan yang ditempuh kesana tidak terlalu jauh, kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari tempat kami tinggal di Kuningan, Blitar. Berangkat  pukul setengah tiga siang, sampai di lokasi sekitar pukul 16.00 kurang lebih 40 km jarak tempuh perjalanan.

 

Sepanjang perjalanan, jalan mulus diaspal sehingga kami nyaman dalam perjalanan. Tidak terkendala macet atau terhambat suatu apapun. Kami mendengarkan musik sepanjang perjalanan.

Sesampainya disana kami singgah di musholla sebentar, lalu menikmati keindahan pantai yang sore itu sedang tidak begitu ramai. Tidak lama kemudian kita memesan ikan tuna bakar dan nasi sepaket dengan minumannya. Di iringi deburan pantai sore itu kami menghabiskan akhir pekan dengan damai, indah dan menyenangkan.

 

Menjelang sore, sebelum matahari terbenam kami pulang segera ke Banggle Kuningan karena akan mengikuti Fida’an atau memperingati meninggalnya saudara di Bendosewu. Bagi anda yang ingin melakukan perjalanan ke Pantai Serang, sebaiknya siapkan bensin secukupnya karena jalannya cukup jauh kalau dari pusat kota Blitar atau dari Kediri dan Tulungagung.

Yuk Berwisata ke Perkebunan Teh Sirah Kencong, Blitar Timur

13 Februari 2019

Jeda

Posted: February 4, 2019 by Eva in Pribadi, Puisi

Jeda

Hampir tiga bulan lebih

Tidak menyapa  kalian

Ada banyak kisah

Cerita yang tidak bisa

Diungkapkan dengan kata-kata

 

Kini aku kembali menyapa kalian

Semoga semua baik-baik saja

Tidak kurang suatu apapun

Sehat dan sederhana

 

Sampai berjumpa lagi

Meniti hari bersama

Saling menyapa

Saling berbagi cerita

 

Blitar, 04-02-2019

Kerennya Pasukan Polisi Bersepeda

Posted: December 5, 2018 by Eva in Lingkungan
Tags:

Setelah posisi Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Kepala Bulog di isi oleh mantan petinggi Polisi, saya salut atas perkembangan cepat Polisi RI membenahi diri.

Sigap dan cepat dalam setiap acara kenegaraan. Kepercayaan masyarakat terhadap polisi kian meningkat. Seperti serombongan polisi yang melakukan patroli ke desa-desa di pelosok Nanggroe Aceh Darussalam menggunakan sepeda.

Nah, jika selama ini banyak petugas polisi yang menangkap orang yang melanggar peraturan di jalan raya ditilang dan lain sebagainya. Kini mereka jemput bola, mengunjungi desa-desa untuk menciptakan ketertiban dan memberi contoh yang baik dalam mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.

Dengan bersepeda, selain sehat para polisi juga tampak keren, gagah dan kuat. Malu kiranya jika anda melanggar peraturan saat menggunakan kendaraan bermotor yang menangkap pasukan polisi bersepeda.

Setelah memberi efek jera dengan pemecatan ASN yang tidak disiplin dan mencapai target yang dilakukan para mantan petinggi Polri, saya ingin mengucapkan salam revolusi mental Pak Polisi….

5 Desember 2018

Pukul 15.10

Pada bulan Juli lalu saya mengulas tentang Majalah Natgeo yang membahas tentang Bumi atau Plastik. Enam bulan kemudian, yaitu dua hari kemarin harian Kompas memborbardir halaman utamanya dengan tema sampah plastik, langkah produsen, hingga ikan yang terkena mikroplastik dan membahayakan kesehatan.

Miris memang melihat fenomena ini ibarat membuka aib seluruh penduduk Indonesia, karena sampai kapanpun kita tidak bisa lepas dari plastik, karena hanya bisa menguranginya saja. Tidak seekstrim negara di Eropa terutama Jerman yang sangat konsisten dengan isu sampah plastik, mengerahkan teknologi guna pencegahan dan penguraian serta solusi menghadapi timbunan yang membebani bumi.

Saya tidak ingin menggurui, karena jika dihadapkan pada kondisi dimana sekarang kita berada, membuat saya adakalanya tidak mau hanya ngomong doang, atau menulis doang. Selain karena dalam hidup ini yang paling sulit adalah menjadi orang yang konsisten.

Namun, sepertinya saya merasakan sudah ada yang tidak tahan untuk menerbitkan regulasi atau perundang-undangan dalam menangani sampah plastik. Jika saya sudah enam bulan menahan rasa gemes dengan sampah plastik yang sulit dihentikan, kini media nasional dan para pemerhati lingkungan sudah saatnya memikirkan kebijakan untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah akibat sampah plastik.

Membuat regulasi tentu tidak mudah, karena melibatkan banyak pihak baik itu produsen, konsumen dan distributor juga harus mempertimbangkan aspek karyawan jika regulasi ini akan diterbitkan.

5 Desember 2018
14.50

Memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia yang jatuh setiap tanggal sembilan Desember membuat saya banyak merenung tentang makna di balik isu korupsi, pencegahan, kehebohan dan kecurigaan konspirasi saat ramainya tersangka korupsi, hingga kasus-kasus korupsi yang terlupakan.

Kini saya sendiri merasa bahwa isu korupsi tidak seseksi dulu. Meski dalam beberapa hal memang negara kita mengalami kemajuan, transparansi dalam berbagai bidang, ketatnya pengawasan keuangan, adakalanya hanyut dengan munculnya nama-nama tersangka baru yang heboh, tidak diduga lalu setelah itu menghilang bersama deru dan debu angin di terik hawa panas politik.

Apa yang saya rasakan ini hanyalah sedikit kegelisahan yang tersampaikan. Perasaan krisis kepercayaan terhadap lembaga penegak korupsi yang ada, akan tetapi di sisi lain saya melihat negara kita baik pemerintah maupun swasta semakin menjunjung tinggi sikap dan jiwa anti korupsi.

Semoga slogan yang selama ini koar-koar bukan hanya sekedar slogan tak bertuan. Juga kebiasaan menangkap atau menuduh orang menjadi tersangka korupsi karena hasrat ingin memenuhi target kinerja juga bukanlah suatu hal yang sedap di pandang.

Selamat Memperingati Hari Anti Korupsi

05 Desember 2018
Pukul 14.04

Judul : Agenda Ekonomi Kerakyatan
Penulis : Revrisond Baswir
Penerbit: Pustaka Pelajar
Edisi : I, Juli, 1997
Pengantar: Sritua Arief

 

Salah satu tokoh ekonomi yang banyak meneruskan pemikiran Mohammad Hatta di Indonesia adalah Revrisond Baswir. Tenaga Pengajar di UGM ini saya kenal sejak masih di Jogja dan aktif mengkampanyekan  Agenda Ekonomi Kerakyatan.

Ketika  beberapa kali mengikuti diskusi dengan beliau yang menjelaskan tentang “Tiada ekonomi Kerakyatan Tanpa Kedaulatan” dan kita sudah lama mengenal beliau sebagai pengagas anti hutang luar negeri.

Membahas Teori, Kritik dan Strategi Kondisi Ekonomi

Buku ini setting ceritanya sekitar tahun 1997-an dimana saat itu masih banyak terjadi kesenjangan ekonomi dan sosial. Namun meskipun sudah tidak begitu kekinian tidak ada salahnya menjadikan buku ini sebagai rujukan.

Menurut Revrisond, Ramainya perbincangan ekonomi rakyat, dan perekonomian serta istilah-istilah baru dalam dunia ekonomi seolah-olah ada pendekatan ekonomi baru yang ditawarkan. Padahal, dengan menelusuri jika menelusuri pemikiran ekonomi pra kemerdekaan, akan segera diketahui jika istilah tersebut merupakan reinkarnasi saja.

Tiga bab pertama membahas tentang teori, kritik dan strategi pembangunan. Bung Hatta misalnya sudah menulis tentang ekonomi rakyat sejak tahun 1933.  (Ekonomi Rakyat, dalam Hatta (1954), Kumpulan Karangan ( Jilid 3), Balai Buku Indonesia, Jakarta.

Selain istilah kekinian, kritik terhadap target pertumbuhan juga menjadi sorotan Revrisond Baswir. Hingga strategi pembangunan, mengatasi kesenjangan ekonomi dan relasi buruh majikan.

Berbicara mengenai kemampuan rakyat untuk mengendalikan atau mengawasi jalannya perekonomian, berarti berbicara mengenai di tangan siapa kedaulatan berada; di tangan negara atau di tangan rakyat, tanpa kedaulatan rakyat tidak akan ada ekonomi kerakyatan,” halaman 7.

Koperasi dan Demokrasi Ekonomi

Setelah membahas agenda besar di tiga bab di atas, bab keempat ada sembilan sub bab yang membahas  perkembangan koperasi di Indonesia.

Koperasi dan demokrasi ekonomi merupakan dua konsep penting dalam ekonomi Indonesia. Bila demokrasi ekonomi merupakan konsep dasar yang mengungkapkan karakteristik institusional, ekonomi konstitusi Indonesia secara makro, maka koperasi adalah pengejawantahan konsep besar tersebut dalam dataran dataran institusi mikro.

Namun seiring perkembangan waktu sistem koperasi sudah tergerus dan mengalami banyak kemunduran. Terdapat perbedaan mencolok antara cita dan fakta penerapan prinsip usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan dalam penataan kelembagaan koperasi saat ini, maka pada tempatnya bila kita mempertanyakan paham ekonomi yang kita anut.

Selain membahas koperasi ada satu bab menjelaskan tentang Yang Hilang dan Berkembang dalam Tubuh Koperasi, Ekonomi Politik dan Perkembangan Koperasi, Strategi dan mengkaji ulang perkembangan koperasi, Kemandirian dan Kewirausahaan serta Koperasi Unit Desa.

Meredam Amarah Jika Ada Kebijakan yang Tidak Merakyat

Buku yang merupakan kumpulan tulisan ini bagus untuk menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan. Mengembalikan sistem ekonomi kerakyatan, mengurangi korupsi dalam lembaga pemerintah dan LSM platmerah untuk mengurangi kemarahan masyarakat yang sewaktu-waktu bisa meledak jika kesenjangan terabaikan.

Dengan menanggulangi faktor-faktor ekonomi yang memecut kemarahan, rasa marah masyarakat jika ada sedikit saja kebijakan yang tidak memihak pada rakyat seperti faktor alam maupun faktor sulitnya bahan baku baik persoalan sandang, pangan dan papan, semoga segera diobati dengan cara damai.

Perpus Veteran, 19 November 2018

Pukul 09.53

 

 

Ketika pulang dari Taman Wisata Sumberasri Bukit Teletubis, saat pulang perjalanan cukup lancar. Melalui jalan yang lebih halus dibanding ketika berangkat, jarak yang  ditempuh pun lebih cepat.

Setelah melewati Taman Wisata Candi Penataran, yang ramai pengunjung di hari Sabtu ini. Tepatnya sebelum pertigaan, saya melihat ada sebuah warung yang menjual aneka peralatan masak dari anyaman bambu seperti tampah buat menyimpan sayuran, wadah mencuci beras, dan saringan untuk mencuci sayuran atau memeras kelapa parut menjadi santan kelapa. Kalau bahasa Sunda namanya “Ayakan”.

Sudah Lama Ditinggalkan

Cukup lama saya memilih dan mengamatinya aneka peralatan masak tersebut yang sepertinya menumpuk dan jarang dibeli masyarakat karena sudah tergantikan dengan peralatan plastik.

Tidak hanya di sini, di daerah lain juga sebenarnya sama, banyak yang membuat tapi masyarakat sudah jarang menggunakannya.

Selain tiga peralatan itu masih ada barang lainnya dengan bahan dasar yang sama seperti topi bundar dari anyaman bambu, wadah sampah, tempat bumbu, caping, parutan kelapa, cobek dan lain sebagainya. Harganya pun sangat terjangkau.

Di Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya dan daerah Jawa Barat lainnya juga ada yang membuat dan menjual kerajinan seperti ini, namun berbeda nama dan cara membuatnya serta fungsinya.

Semoga kelak peralatan masak dari anyaman bambu ini kembali digemari masyarakat.

Jika teman atau kerabat pulang dari Candi Penataran atau Bukit Teletubis, silahkan mampir  membeli oleh-oleh peralatan masak untuk keperluan memasak di rumah. Bisa di beli di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar dan sekitarnya.

17 November 2018
Pukul 15.25 WIB

Setelah empat bulan di Blitar, hari ini saya berkunjung ke Taman Wisata Sumberasri atau biasa di sebut Bukit Teletubis di daerah Nglegok, Sumberasri, Blitar. Jarak dari Kanigoro ke Sini sekitar satu jam perjalanan.

Sayangnya sepanjang perjalanan aspalnya kurang bagus karena banyak truk besar yang mengangkut pasir dari sisa lahar gunung kelud.

Namun setelah tiga kali bertanya sampai juga di Bukit Teletubis. Naik ke bukit sangat curam hati-hati kalau bawa kendaraan atau sebaiknya malah jalan kalau badan kuat.

Tapi lelah anda akan terbayar. Apalagi setelah sampai di atas banyak pemandangan menarik, hembusan angin yang besar, sejuk dan pepohonan di sini sangat rindang.

Membentang di atas sana ada hamparan perkebunan aneka macam. Di sini buah nanas bisa dipetik dari kebun nanas, begitu juga pohon durian ada yang panen dan dijual murah di pinggir jalan.

Saat pulang saya mampir membeli durian dan duduk memandang kebun nanas yang sedang berbunga. Kebunnya sangat luas di belakang orang jualan durian dekat para Kalilahar, Kaligladak memasuki desa Candi Panataran.

Pas turun anda bisa istirahat di dekat pintu keluar. Di mana di situ ada gereja Santo Yosef dan warga setempat banyak menawarkan berbagai jasa untuk bisa naik ke atas dengan harga terjangkau.

Jadi kalau anda banyak waktu luang, ajak keluarga, sahabat dan kerabat ke Bukit Teletubis untuk berlibur dan menghabiskan waktu akhir pekan anda.

Bukit Teletubis, Sumberasri, Nglegok Blitar
17 November 2018
Pukul 11.22

Membaca di Alam Terbuka

Posted: November 16, 2018 by Eva in Buku dan Media
Tags:

Ada satu masa di Bali, saya pernah merasakan kenikmatan tiada tara membaca buku di alam terbuka.

Selain merasa santai, suasana alam yang hijau, menulis cerita, puisi sambil tiduran di bantal besar bersama teman dan sahabat, membuat waktu terasa sangat cepat.

Jika ingat,  saya ingin mengulang kembali, berkumpul bersama teman, sahabat di alam terbuka, di belakang taman baca di mana di situ pikiran kita terbuka.

Membaca alam, menggoreskan pena tentang apa yang kita rasa, dan bercengkrama dengan teman-teman…sungguh saya merindukan kalian semua. 📖📖📚📚📚♥️♥️♥️

Saya tidak menyangka jika kita bisa menanam jagung tidak harus punya kebun dan tanah luas. Menanam jagung itu bisa di lakukan di lahan terbatas dan bisa tumbuh subur dalam waktu seminggu sudah keluar batang dan daun.

Seminggu yang lalu, Mas Arif membeli  jagung yang sudah tua, untuk ditanam, gambarnya  seperti ini.

Seiring waktu yang berjalan, benih jagung tumbuh sangat cepat di awal November ini. Beginilah penampakannya, saya lupa persis kapan menanamnya seminggu lalu atau sepuluh hari yang lalu.

Saya tidak menyangka, jika kita bisa menanam jagung di halaman rumah belakang, dimana dari beberapa biji jagung yang ditanam baru tumbuh dua pohon. Faktor hujan sepertinya sangat berpengaruh terhadap perkembangan tumbuh tanaman.

Yuuk mari menanam jagung, biar suatu hari bisa buat kita masak untuk sayur asem, sayur lodeh atau bubur jagung.

14 November 2018

09.59

 

Awal November kemarin, majalah Basis tiba. Tema utama yang diangkat kali ini tentang “Kekayaan dan Persoalan Moral” dan sub tema lainnya seperti yang anda lihat di halaman sampul. Namun, ada beberapa artikel menarik yang saya suka dalam edisi kali ini, terutama wawasan baru berkaitan dengan istilah yang selama ini kita kenal. Dimana yang menulis di Majalah Basis tidak hanya para redaktur dan dosen Universitas Sanata Dharma (USD) tapi juga beberapa guru yang mengajar di sekolah dasar, penggiat literasi, penulis cerita anak dan pemerhati sosial, yang ditutup dengan pembahasan arsitektur sebuah galeri yang bernilai artistik.

Seperti biasa, majalah Basis itu saya baca harus saat tenang. Saat datang tidak langsung dibaca. Namun yang saya suka, karena saya sudah tidak lama mengikuti perkembangan akademik, saya tidak menyangka jika perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat dan binal.

Dimulai dari Mesianisme, dan Keutamaan Hidup Bertetangga

Apa itu Mesianisme? bagi saya ini istilah terbaru dalam dunia filsafat, membuat saya merasa sangat bodoh. Dalam artikel berjudul “Mesianisme sebagai Struktur Pengalaman dan Sejarah” yang ditulis dengan sangat keren oleh Fitzerald Kennedy Sitorus, Dosen Filsafat Fakultas Liberal Alts (FLA), Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci Tangerang, menegaskan jika Mesianisme adalah istilah yang berasal dari tradisi religius Judeo-Kristen yang dalam perkembangannya kemudian menjadi istilah generik untuk setiap kepercayaan atau ajaran mengenai kedatangan (kembali) seorang atau sekelompok penyelamat atau penebus pada akhir sejarah / zaman untuk mengembalikan segala kebaikan dari masa lalu yang telah hilang.

Peristiwa kembalinya masa lalu di masa depan itu bisa bersifat eskatologis apokaliptik, yakni penyelamatan manusia dari dunia ini melalui penghancuran dunia sekarang dan penciptaan baru yang sama sekali baru, tapi bisa juga bersifat politis, yakni penyelamatan manusia di dunia sekarang ini melalui total struktur-struktur sosial politis lama dan penciptaan struktur baru yang dapat mewujudkan harapan masyarakat yang berangkutan (Sabin Brachter).

Secara etimologis, mesias berasal dari bahasa Ibrani, mashiah, yang artinya (yang diurapi, atau yang diberkati (oleh Tuhan), atau yang terpilih (Lanternari, 1962: 52). Sesuai dengan asal – usulnya dalam konteks bangsa Israel, istilah ini mengacu kepada seorang pribadi yang berasal dari tengah-tengah bangsa Israel sendiri, yang dipilih Tuhan untuk mengemablikan zaman kejayaan Israel. Dimana zaman yang dimaksud adalah zaman ketika bangsa Israel hidup dalam kebebasan, kedamaian, harmoni, dan keadailan pada masa pemerintahan Raja Daud.

Tulisan sepanjang tujuh halaman ini bagus, anda wajib membacanya dimana ada beberapa bab tentang Universalisasi Paham Mesianisme, Beberapa Konsepsi paham mekanisme intelektual Yahudi, Struktur Pemikiran Mesianistik, serta Mesianisme dalam sejarah.

Setelah saya membaca Mesianisme, saya membaca tulisan Almarhum Anton M. Moeliono seorang Pemulia Bahasa yang ditulis oleh Tri Winarno, seorang esais dan kolektor buku. Dimana edisi beberapa waktu yang lalu ada Gorys Keraf, kali ini perkembangan bahasa membahas pemikiran beliau, pelopor terbentuknya Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Namun, dari sekian pemikiran almarhum, yang menarik adalah kredo pamungkas Anton M. Moeliono yang dituliskannya pada 1983.

“Yang enggan berbagi hidupnya dengan tetangga, yang segan memberi hidupnya untuk sesama, akan binasa. Yang rela berkorban memberi cinta dan jasa, yang suka berkawan akan tahu bahwa ia hidup selalu,”.

Wedang yang Mengejutkan

Saat menelusuri lembar demi lembar yang saya baca seperti Perenialisme (Heru Prakosa), Cerita, Kematian, dan Hal-hal yang Bersehadap (Wdyanuari Eko Putra), Galilah dan Daminah (Satyaningsih), Sawah, Petuah dan Pemandangan Indah (Bandung Mawardi), Kolonialisme, Pergundikan dan Alat Pergerakan (Retor Aw Kaligis), saya dikejutkan dengan tulisan menarik tentang “Air” yang ditulis oleh Tuginem (Guru SMPN 2 Karangdowo).

Dengan bahasa yang mengalir, Tuginem menjelaskan asal muasal air, manfaat air dari mulai memasak, mandi, menyiram tanaman, dan pentingnya air bagi kehidupan, sehingga air menjadi bahan utama hidup.

“Ketika sedang duduk di serambi rumah, seorang teman datang dengan wajah pucat dan kehausan. Segelas air segera kutuangkan untuknya. Rasa haus yang dideritanya segera lenyap. Wajahnya kembali ceria. Ucapan terimakasih meluncur tulus dari mulutnya. Air menjadi perekat untuk bersaudara. Sesuai dengan tema wedang dalam budaya Jawa yang dimaknai “nggawe kadang” atau membuat persaudaraan.

Sastra yang Merakyat

Pada bagian berikutnya, satu artikel menarik di bab buku yang ditulis oleh Dian Vita Ellyati, seorang pemerhati anak, berjudul “Ujung Pelangi di Pangkuan Ibu”. Dimana di awal kalimat dia mengutip tulisan seorang tokoh perempuan.

“Di pangkuan orangtuanya, anak-anak dibentuk sebagai pembaca,” (Emilie Buchwad). Dalam penjelasan di bawahnya ia menjelaskan tentang keutamaan membacakan buku. Selain agak sulit dipahami karena terlalu banyak referensi dan meloncat-loncat, saya mengira mungkin tulisan ini bermaksud bahwa membaca bagi anak itu mendorong pembentukan sirkuit ketika otak secara aktif menerima informasi – informasi essensial. Saya kira penulis harus membedakan mana buku anak dan penulis lagu anak di rubrik buku (tentu ini berbeda), biar pembaca tidak bingung.

Di rubrik tentang kabar, ada satu tulisan Willy Satya Putranta, yang menulis tentang pemikiran Sindhunata tentang Sastra yang Merakyat. Di mana saat ini kita melihat pameran sastra berada di mall atau pusat perbelanjaan mewah, butik ternama dan diulas secara membahana namun terkadang isinya di luar dugaan.

Akan tetapi, Willy Satya Putranta justru mengupas tentang beberapa karya Shindunata seperti “Anak Bajang Menggiring Angin”, “Putri Cina”, dan “Air Kata-kata”. Misalnya dalam puisi “Air Kata-kata” yang dihiphopkan oleh kelompok Jahanam dan Rotra, tukang becak pun hafal dari kata ke kata “Cintamu Sepahit Topi Miring,”.

“Tidak mungkin puisi yang elite akan sampai pada pembaca yang demikian. Orang-orang itu mungkin tidak tahu kalau itu puisi, tetapi bisa menikmatinya sebagai puisi. Inilah seharusnya sastra. Kalau sastra hanya bergerak di kalangan elit sastra, apa gunanya menjadi sastra yang memang bicara tentang kehidupan? semoga ini pula yang mewarnai bahwa sebuah sastra itu akhirnya betul-betul hidup merakyat semacam ini,” harap Sindhunata menandaskan.

Kanigoro, 13 November 2018
Pukul 13.53

Hujan Deras, Bumi Basah

Posted: November 9, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah
Tags:

Hari ini apakah di tempat anda turun hujan? Di sini hujan turun sangat deras dan lebat. Awan mendung kehitaman dan suasana mencekam tadi siang.

Bahkan petir pun bersahut-sahutan. Meski deg-degan karena tidak seperti biasanya saya mengabadikan peristiwa turunnya hujan ini.

Saya tidak menyangka, hujan yang biasa saya rindukan tadi agak sedikit mengerikan. Meskipun usai reda saya merasa sangat gembira. Melihat bumi yang basah, dedaunan pohon mangga, jeruk, belimbing di belakang rumah sangat segar, diiringi gemericik hujan.

Kamis, 9 November, 2018