Dilema Kaum Perempuan dalam Menciptakan Perubahan

Posted: December 22, 2002 by Eva in Buku dan Media, Perempuan

 

Sampul Buku  Kaum Perempuan dan Ketidak adilan Sosial

Judul: Kaum perempuan dan Ketidakadilan Sosial
Judul asli: Woman and Social Injustice
Penulis: Mahatma Gandhi
Alih Bahasa: Siti farida
Penyunting: Kamdani
Penerbit: Pustaka Pelajar Yogyakarta, Cetakan I, Juni 2002
Tebal: xxi+ 443 halaman + indeks

DI dalam sejarah, tidak ada seorang pemimpin yang memiliki pengikut sedemikian besar dalam masa hidupnya, baik di negerinya sendiri maupun di seluruh dunia, seperti Mahatma Gandhi. Dan, tak ada seorang pria yang bisa membangkitkan pengabdian dengan segenap ketulusan hati bagi kaum perempuan, selain Gandhi.

Alasan dari semua ini tidaklah sulit dicari. Gandhi memiliki kapasitas diteladani atas kesediaannya untuk menjadikan dirinya sebagai alas kaki bagi orang lain, terutama bagi orang-orang yang tengah berada dalam ketertindasan dan ketidakberdayaan.

Selain dikenal sebagai Bapak Anti Kekerasan (ahimsa), Gandhi adalah pejuang paling gigih yang membela kaum perempuan. Tak ada seorang pria pun yang pengabdiannya untuk menjunjung martabat perempuan sebesar Gandhi. Gandhilah yang mendudukkan kaum perempuan India sejajar, bahkan lebih tinggi, dari kaum pria. Kata-kata Gandhi selalu bertenaga, didengar, dan dilaksanakan pengikutnya, karena ia selalu menjadi implementator pertama dari apa yang dikhotbahkan. Ia selalu memulai pembaruan dari dalam dirinya dan keluarganya sendiri.

Dalam konteks pembaruan dan penegakan kebenaran, Gandhi menjadi pengkritik yang keras dan tanpa ampun bagi dirinya sendiri, yaitu pada saat dia menyadari dirinya menjadi “pemilik budak” (ini adalah sebutan Gandhi yang ditujukan kepada dirinya sendiri). Maka sikap beliau terhadap istrinya menjadi berubah, dan dengan perubahan tersebut, beliau memulai karya dan perjuangan bagi emansipasi kaum perempuan secara keseluruhan.

***

GANDHI selalu berbicara tanpa mengenal takut menentang sistem yang memaksakan status janda, purdah, persembahan gadis-gadis pada kuil-kuil, perbudakan ekonomi, dan perkawinan terhadap kaum perempuan.

“Pria dan perempuan statusnya sama”. Saya tidak akan pernah berkompromi dalam hal hak-hak perempuan. Dalam pandangan saya, kaum perempuan seharusnya bekerja di bawah undang-undang yang melegitimasi kelemahan kaum perempuan secara tidak sah, tetapi tidak diperlakukan kepada kaum pria. Saya harus memperlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan berpijak pada kesetaraan yang sempurna. “Berpikir bahwa smriti (ajaran yang berisi aturan-aturan tak tertulis) mengandung teks-teks yang membolehkan seorang pria untuk tidak menghormati dan menghargai kemerdekaan kaum perempuan sebagai mana kemerdekaannya sendiri dan menghormatinya sebagai ibu bangsa, ini adalah sesuatu yang memalukan”. Perkataan yang dihubungkan dengan manu, yaitu bahwa “bagi kaum perempuan tidak ada kemerdekaan”, bagi saya (Gandhi) bukanlah kata-kata suci”.

Ungkapan-ungkapan di atas tak lain adalah beberapa cuplikan kalimat dari tulisan-tulisan Gandhi atas nama kepentingan kaum perempuan yang tertindas.

***

PADA saat ini, persoalan kekerasan versus antikekerasan adalah sesuatu yang sangat penting. Pesan Gandhi adalah seruan yang nyaring bagi orang-orang yang meyakini antikekerasan sebagai jalan lintas yang paling cepat dan dekat untuk menuju ke surga, untuk mengerahkan kekuatan di sisinya.

Ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan Gandhi atas nama kepentingan kaum perempuan telah membangkitkan perasaan tanggung jawab bagi setiap pencinta kemanusiaan dan bahkan orang konservatif yang paling keras sekalipun. Karya-karya Gandhi sangat penting maknanya, terutama bagi kaum perempuan, karena semuanya menyentuh setiap aspek kehidupan mereka dan bisa berfungsi sebagai petunjuk yang tepat bagi kaum perempuan pada saat-saat sulit dan tertekan.

Yang terpenting, karya-karya Gandhi itu menyerukan kepada kaum perempuan akan kewajibannya-melahirkan dan mengabdi-bagi kemajuan kaum perempuan sendiri, bangsa, dan kemanusiaan secara luas. Semangat inilah yang harus ada bagi setiap perempuan yang membaca buku ini. Kita ada untuk mengambil keputusan zaman baru.

Buku ini merupakan terjemahan dari tulisan-tulisan Gandhi yang dipublikasikan di media massa India. Dalam buku ini, Gandhi mengungkapkan pikiran-pikirannya di sekitar kaum perempuan (kedudukan, peran, dan jasa) dan kelemahan alam budaya partiarkal. Dalam konteks sekarang, gagasan-gagasan Gandhi yang revolusioner perlu dikaji kembali dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan bahasa yang provokatif, buku ini secara lugas mampu mendedahkan berbagai macam persoalan perempuan. Dari mulai pendewaan yang salah terhadap kaum perempuan (hlm 55) sampai dengan cobaan berat bagi kaum perempuan (hlm 423). Semuanya diracik dalam suatu tulisan yang padat dan singkat, dan langsung menukik pada inti persoalan.

Meskipun dengan setting sosial India, apa yang ditulis dalam buku ini bisa juga terjadi di Indonesia, sehingga buku ini cukup representatif untuk dijadikan sebagai bahan perbandingan (komparasi) untuk menganalisa permasalahan jender dan dinamika gerakan perempuan. Tidak menutup kemungkinan buku ini dijadikan sebagai sumber sekunder dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan posisi perempuan dalam perjuangannya untuk menuntut perubahan atau mengeliminir ideologi patriarki yang selama ini merasuk dalam berbagai dimensi kehidupan.

Kompas Minggu, 22 Desember 2002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s