Menerobos Kemacetan Visi Pendidikan

Posted: July 4, 2007 by anick in Buku dan Media, Pendidikan

Judul Buku : Belajar Sejati VS Kurikulum Nasional

(Kontestasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar)

Penulis : Y.Dedi Pradipto

Penerbit : Kanisius Jogjakarta

Pengantar : Mudji Sutrisno

Edisi : I. 2007

Tebal : ix + 270

Harga : Rp.45.000

ISBN : 979-21-1583-8

Mungkin pembaca akan mengira jika buku berjudul Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional adalah buku yang menjabarkan tentang konsep belajar sejati berhadapan dengan kurikulum nasional yang beberapa kali mengalami perubahan. Dilihat dari judul dan desain sampulnya yang akrobatik memang mengesankan demikian. Sebuah perlawanan terhadap kemapanan dunia pendidikan. Namun, buku karya Yosef Dedy Pradipto ini mengulas lebih dari itu.

Gagasan tentang belajar sejati dan suasana hati yang merdeka dalam pendidikan dasar muncul dari proses panjang dalam perjalanan hidup Yusuf Bilyarta Mangun Wijaya atau akrab dipanggil Romo Mangun menjadi tema utama buku ini. Ide-ide pendidikan Romo Mangun yang kemudian dilembagakan menjadi DED (Dinamika Edukasi Dasar) inilah yang kemudian diserap oleh Dedy Pradipto menjadi sebuah disertasi untuk meraih gelar Doktor dari antropologi UI yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Kanisius Jogjakarta.

Dalam kata pengantar yang ditulis oleh Romo Mudji Sutrisno, guru besar STF Driyarkara, merasa sangat terkesan pada kepedulian Dedy untuk menghidupi terus visi pendidikan Romo Mangun setelah sang pionir, pemrakarsa dan pelakunya sudah dipanggil Tuhan YME.

Berawal dari keprihatinan Romo Mangun terhadap kualitas perguruan tinggi. Banyak mahasiswa sekarang hanya main hafalan, ambil jalan pintas, berlogika rancu dan membebek diktat. Ternyata itu merupakan hasil SMU. Para Siswa terbiasa mencontek, tidak eksploratif dan tidak tidak kritis kreatif karena hasil SMP. Demikian seterusnya SMP adalah produk sekolah dasar.

Maka, memperbaiki pendidikan di Indonesia harus dimulai dari sekolah dasar. Sebab yang harus dibenahi adalah persoalan yang mendasar, yakni alur jalan berfikir atau logikanya. Serentak dengan itu pendidikan yang peduli terhadap realitas lingkungan dan alam yang berkawan dengan sesama, harus dimulai dengan humaniora. Jika semuanya digabung, maka yang harus dievaluasi adalah kurikum di tingkat pendidikan dasar.

Kurikulum 1975, 1984 dan 1994 dikritik karena memberikan terlalu banyak mata pelajaran dan materi kurikulum dianggap terlalu padat. Seturut dengan kurikulum nasional ini maka proses belajar-mengajar, buku teks dan ujian (EBTANAS) menjadi diseragamkan.

Permasalahan menjadi semakin kompleks ketika kurikulum nasional diterapkan di sekolah dengan kondisi yang tidak seragam di tiap-tiap daerah. Sekolah Dasar Eksperimental Mangunan merupakan salah satu bentuk pendidikan eksperimental yang menawarkan kurikulum yang berbeda dengan kurikulum nasional. Romo Mangun menilai bahwa kurikulum nasional yang dibuat oleh pemerintah hanya akan membuat anak menjadi robot.

Anak-anak hanya bisa menghafal tetapi tidak bisa menerapkan ilmu yang diajarkan, pelajaran yang diberikan dianggap tidak sesuai dengan lingkungan tempat tinggal. Padahal, pendidikan merupakan proses pemanusiaan, yang berarti pembebasan manusia dari berbagai tekanan kekuasaan, termasuk kekuasaan politik sektarial, kurikulum baku yang terpusat, ujian nasional yang baku, dan kekuasaan birokrasi pendidikan.

Agar anak tidak menjadi robot yang diperbudak kurikulum, maka penulis yang mendapatkan master dari Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma ini memberikan penyadaran pada segenap guru atau pembaca buku ini agar menerapkan konsep belajar sejati yang di gagas Romo Mangun. Ide belajar Sejati dan suasana hati yang merdeka adalah tahap dimana sesorang punya kesadaran diri untuk memperhatikan, mempelajari, dan menekuni segala hal yang dialaminya sehari-hari.

Belajar sejati terdorong oleh keyakinan dari dalam suasana hati yang merdeka. Murid hanya belajar apabila ia punya perhatian, merasa terlibat dan melibatkan diri dalam materi belajarnya. Semua anak dari kodratnya dan dari dalam dirinya ingin tahu, ingin belajar ingin mengembangkan diri. Murid adalah guru bagi dirinya sendiri. (Hal 68)

Buku yang terdiri dari lima bab ini diharapkan bisa memberikan metode baru bagi para guru dalam mengembangkan pendidikan alternatif,menerobos kemacetan visi pendidikan.

Buku ini mendapat endorsement (pujian) dari beberapa tokoh pendidikan di Indonesia seperti H.A.R.Tilaar, Achmad Fedyani Saifuddin, Francis SSE Seda, Bedjo Sujanto dan J Riberu. Sayangnya editing buku ini terasa sangat kaku dan ilmiah. Mungkin karena diolah dari disertasi. Meskipun demikian buku ini membuka wawasan kita untuk melihat kepincangan yang ada dalam paradigma dan praksis dunia pendidikan dan mencari bentuk yang paling relevan dalam mencari format pendidikan ke depan.

Buku ini menarik dan patut dibaca oleh para pengambil kebijakan, akademisi, birokrat, guru, & pemerhati pendidikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s