Summerhill Yang Merdeka dan Cerdas

Posted: July 24, 2007 by Eva in Buku dan Media, Pendidikan

SUMMERHILL YANG MERDEKA DAN CERDAS
Infosocieta, Depsos RI edisi hari Anak

Judul Buku : SUMMERHILL SCHOOL (Pendidikan alternatif yang Membebaskan)
Penulis : A.S. Neill
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Cetakan I, Juni 2007
Tebal : 356 Halaman
Harga : Rp 45.000
ISBN : 978-9791275-00-2

Carilah sekolah yang cocok dengan anak-anak, bukannya anak-anak yang harus cocok dengan sekolah. Summerhill menjadi sekolah bebas sejak 1921. Anak bebas menentukan pelajaran yang ia sukai. Bebas tumbuh dan berkembang.

“Pada dasarnya tidak ada anak yang jahat. Yang ada adalah para orangtua bermasalah, guru-guru bermasalah, dan sekolah-sekolah bermasalah yang semuanya melahirkan anak-anak bermasalah.” Itulah kesan Robert Gottlieb, Executive Vice-President di sebuah agen bakat yang besar dan kepala departemen sastra, mengomentari sosok Alexander Sutherland Neill.

Neill tak lain adalah pendiri sekolah Summerhill, tempat Robert Gottlieb menghabiskan sebagian masa sekolahnya pada 1960 hingga 1962. Ungkapan Gottlieb mengenai sekolahnya itu ditulis pada 1990, sebagai pengantar buku kecil karya Neill ini yang diterbitkan di Inggris pada 1992.

Sekolah Summerhill yang didirikan Neill di Leiston Suffolk, sekitar 160 km dari London, Inggris, pada 1921, memang bukan sekolah sebagaimana lazimnya sekolah. Loh? Melalui sekolahnya, Neill menggulirkan gagasan membebaskan murid-muridnya menentukan apa yang mereka mau. Ketertiban, arahan, anjuran, pengajaran moral, dan pengajaran agama, Neill singkirkan.

“Kami dianggap berani dengan ide ini, padahal tak dibutuhkan keberanian apa pun,” ujar Neill. Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan penuh bahwa anak-anak adalah makhluk yang baik dan bukan makhluk jahat. “Kami meyakini sepenuh hati,” tambah Neill.

Mengatasi Anak Bermasalah

Pemikiran-pemikiran Neill membangun Summerhill dibukukan dalam Summerhill School, A New View of Childhood yang disunting dengan bagus oleh Albert Lamb. Edisi perdana buku aslinya terjual lebih dari 4 juta eksemplar. Seperti apakah Summerhill itu?

Pertama, anak-anak bebas memilih pelajaran yang mereka ikuti. Bahkan bagi anak yang baru masuk ke sekolah ini mereka bebas bermain sepanjang waktu, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun, sesuka mereka. Jadwal pelajaran tetap ada, tetapi hanya ditentukan untuk para guru. Fasilitas di sana komplit: kolam renang, bengkel kerja, laboratorium, ruang kesenian, teater, alat musik, perpustakaan bahkan sampai ladang.

Bagi Neill, pelajaran bukanlah sesuatu yang penting. Aktivitas belajar tidaklah sepenting kepribadian dan karakter. Jack, salah satu siswanya, tidak lulus dalam seleksi masuk perguruan tinggi karena dia membenci buku. Tetapi ketidaktahuannya tentang pelajaran tidak menghalangi hidupnya. Jack tumbuh menjadi seorang yang sangat percaya diri.

Di mata Neill, menjejalkan pelajaran pada anak sama saja memaksakan pekerjaan yang tidak menyenangkan buat anak. Neill tak menyangkal, banyak anak bermasalah di Summerhill. Mereka berkali-kali dikeluarkan dari sekolah sebelum masuk Summerhill. Banyak murid dengan pribadi penuh kebencian dan pemberontakan.

Neill sadar betul seorang anak tumbuh dengan egonya. Tapi ia yakin, ego yang dipelihara dengan baik, akan memiliki apa yang disebut kebaikan. Sebaliknya ego yang dikekang hanya menghasilkan kejahatan. Anak-anak yang dianggap jahat sejatinya ia sedang berusaha mencari kebahagiaan. Rumah dan sekolah seringkali menjadi sumber ketidakbahagiaan dan sikap antisosial.

Ia sangat memahami, butuh waktu bagi anak untuk menjadi diri sendiri setelah begitu tertekan oleh sekolah konvensional. Panjang pendek masa penyembuhan ini tergantung pada seberapa besar kebencian yang ”ditanamkan” sekolah merasuk ke pikiran para murid.

Kebahagiaan yang tak mereka rasakan sejak kanak-kanak hanya akan membuka celah bagi kebahagiaan palsu yang didapat dari kegiatan merusak, mencuri, atau menghajar orang. Kejahatan dan hukuman tidak akan pernah mengatasi kejahatan dan kenakalan anak. Di Summerhill, siswa-siswanya boleh mangkir dari pelajaran-pelajaran jika ia tidak suka.

Manajemen Swakelola

Namun, Summmerhill bukan sembarang sekolah bebas. Dengan menentukan pelajaran yang murid sukai, justru mampu mengubah anak yang semula penakut menjadi pemberani dan teguh pendirian. Jika ada anak yang ketahuan mencuri, ia hanya diminta mengembalikan apa yang sudah diambilnya. Hukumannya pun ditentukan murid-murid sendiri.

Sekolah ini memang dikelola bersama oleh guru dan siswanya. Swakelola istilah mereka. Dari hukuman, mereka sadar mencuri itu merugikan. “Mereka adalah para realis cilik. Mereka tidak akan mengatakan bahwa Tuhan akan menghukum pencuri,” ujar Neill. Sepekan sekali mereka menggelar rapat bersama untuk membahas semua kejadian dalam keseharian mereka. Hukuman, ketidaksetujuan, dan ide dibahas secara demokratis. Guru tidak campur tangan. Semuanya diselesaikan sendiri oleh anak-anak.

Pada bagian kebebasan beragama, Neill mengungkapkan pengalaman pribadinya. Menurut Neill, para psikolog menyatakan bahwa pengalaman hidup masa kecil kita menentukan kehidupan kita selanjutnya. Neill sependapat dengan psikolog itu saat menyaksikan kematian Clunie, adiknya tersayang, pada usia tiga puluh empat tahun. Semasa hidupnya Clunie selalu bersikukuh dan tak mau berkompromi menyangkut Ateisme yang ia anut.

Di matanya agama adalah takhayul dan omong kosong yang kejam. Namun pada akhir hayatnya ia banyak memanjatkan doa yang selalu dipelajarinya saat kecil. Bagi Neill, kejadian ini meneguhkan bukti bahwa perasaan pada anak-anak akan hidup sepanjang umur.

Summerhill pun menjadi surga pendidikan. Mereka menelurkan banyak alumni sukses secara psikologis, ekonomis, akademis, sosiokultural, politis. Mereka menjadi insinyur, dokter, dosen, pemusik, pengusaha, mekanis, koki, dan segala macam profesi, yang berpikiran maju dan terbuka, jujur, tekun, optimis, dan bahagia. Summerhill telah dan terus melahirkan insan-insan yang berjuang membangun peradaban dunia yang lebih manusiawi dan damai.

Satu di antaranya adalah Robert Gottlieb yang menulis pengantar buku ini. Saat di Summerhill (1960-1962), dia tidak berminat belajar baca-tulis. Hingga usia sebelas tahun ia tak mau belajar baca-tulis. “Summerhill adalah sebuah cara hidup. Hidup bersama orang lain dalam sebuah masyarakat dan mengekspresikan diri dengan segenap kecintaan kita pada kasih sayang, ilmu pengetahuan dan karya,” katanya dalam buku itu. Tak segan-segan ia merekomendasikan pada kerabat, juga anaknya agar masuk Summerhill.

Neil, penulis buku ini dan pendiri Summerhill, sudah meninggal pada 22 September 1973 di Aldeburgh, Suffolk. Pria kelahiran Angus, Skotlandia bergelar MA bidang Bahasa dan Sastra Inggris dari Universitas Edinburgh ini sepanjang hayatnya banyak berceramah di mana-mana dan sudah menulis 21 buku semasa menjadi Kepala Sekolah Summerhill. Summerhill hingga saat buku ini ditulis pada 1990, dipimpin Zoe Readhead, sejak 1985.

Model pengelolaan Summerhill itu, banyak dikembangkan di banyak sekolah alternatif di sejumlah negara, khususnya Amerika Serikat. Tak ada salahnya Indonesia mengadopsi metodologi dan pengelolaan sekolah bebas. Setidaknya, banyak murid yang putus asa dan tertekan dengan beban belajar di sekolah merasakan suasana lain. Sangat tidak masuk akal melihat anak-anak putus asa karena tak punya biaya. Di lain daerah, ada siswa memilih mengakhiri hidup dengan cara meregang nyawa karena gagal Ujian Nasional. Sejumlah kalangan menilai sekolah di Indonesia tak ubahnya penjara. Orangtua sendiri berlomba-lomba memenjarakan anaknya ke sekolah.

Buku ini menyadarkan kita bahwa mempelajari dan mengetahui standar-standar pendidikan mutlak diperlukan. Kualitas terjemahan buku ini lumayan bagus, meskipun ada beberapa kata yang kurang pas penempatannya. Didukung sampul atraktif, buku ini wajib dibaca praktisi pendidikan terutama mereka yang terlibat langsung pengelolaan manajemen berbasis sekolah, penyusunan kurikulum, tenaga pendidik (guru), kepala sekolah, dosen, pemerhati pendidikan, dan tentu saja para orangtua yang menginginkan anaknya menjadi cerdas, percaya diri dengan cara yang merdeka.

EVA ROHILAH

Advertisements
Comments
  1. Rin says:

    Pertama kali baca buku ini-waktu masih SMA- saya tercerahkan. Bahwa selama hampir 12 tahun sekolah (TK-SMA) ternyata saya belum mendapatkan apa yg disebut dg “hak” u/ memperoleh Pendidikan yg layak. Saya hanya memperoleh lebih banyak & lebih banyak lagi Pengajaran (bkn Pendidikan). Emosi saya, juga spiritual, kurang sekali disentuh. Otak kanan nyaris diabaikan, otak kiri saya mengepul krn terlalu banyak digunakan. Hingga akhirnya suatu hari saya memutuskan untuk berhenti sekolah, depresi, karena tidak cocok dengan sistemnya. Ingin ke Summerhill tapi terlambat, usia saya sudah 17… hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s