Archive for August, 2007

Adenium Indah

Posted: August 29, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

adeniumkecil.jpgBunga Adenium indah banget, aku jadi ingat bunga Adenium yang dikasih kakakku dari Bantul, apakah sudah berbunga. Aku menitipkannya pada mama winda dan yang menyirami pak Iyo di Cirendeu.

Advertisements

Menguak Tabir Menyulut Kontroversi

Posted: August 29, 2007 by Eva in Buku dan Media

sampul-buku-ipdn.jpgsampul-buku-ipdn.jpg
Judul Buku : IPDN UNDERCOVER (Sebuah Kesaksian Bernurani)
Penulis : Inu Kencana Syafiie
Penerbit : Progressio (Grup Syaamil), Bandung
Edisi : I, April 2007
Tebal : 282 Halaman
Harga : Rp 38.000
ISBN : 979-793-131-5

MENGUAK TABIR MENYULUT KONTROVERSI

TUMPUKAN buku dengan cover yang didominasi warna merah darah, berlatar foto seorang yang ditutup matanya, setengah membungkuk dengan kedua tangan saling mengatup bak pesakitan, itu cukup menarik perhatian pengunjung toko buku Gramedia, di bilangan Matraman, Jakarta, Mei lalu. Buku berjudul IPDN Undercover yang dipajang di bagian rak-rak buku bertuliskan ”Best Seller” itu memang dikerumuni sejumlah pengunjung.

Judulnya yang mirip-mirip buku Moammar Emka berjudul Jakarta Undercover itu agaknya turut menjadi daya tarik pembaca. Sebagaimana Jakarta Undercover yang memotret sisi remang-remang seks di Ibu Kota, pembaca juga membayangkan buku ini memerikan sisi gelap di balik ”tembok kekerasan” di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Rupanya, judul itu hanya siasat dagang belaka, entah dari penerbit atawa sang penulis buku, Inu Kencana Syafie. Dari 282 halaman buku ukuran A5 ini, hanya 74 halaman saja yang berisi kesaksian Inu Kencana atas sisi gelap keburukan-keburukan yang terjadi di IPDN. Artinya hanya seperempat bagian, lebih sedikit, yang sesuai dengan judul buku. Hanya Bagian G yang dijuduli Membongkar Kasus STPDN, yang klop dengan judul buku. Selebihnya, lebih mirip otobiografi sang penulis.

Judul yang melenceng dari isi itu diakui penerbit. ”Pemilihan judul IPDN Undercover tidak terlepas dari tujuan pemasaran. Secara teori mengambil salah satu bagian sebagai judul buku sah-sah saja,” kata Asep Syamsu Romli, Manajer Syaamil Pustaka, Bandung, seperti dikutip Harian Pikiran Rakyat.

Inu sendiri menyikapinya dengan enteng. ”Saya dan IPDN tidak terpisahkan. IPDN-lah awal kepopuleran saya. Setelah itu, tidak sedikit yang mempertanyakan latar belakang saya, termasuk dari mana saya mendapat keberanian. Buku ini merupakan jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan itu,” tutur Inu pada jumpa pers peluncuran buku ini, di Jalan Ir. H. Djuanda, Bandung, akhir April lalu.

Popularitas Inu Kencana Syafiie memang tengah melejit, begitu mencuat kasus kekerasan yang berujung kematian Cliff Muntu, praja –sebutan mahasiswa di IPDN– asal Manado, April lalu. Inu dengan lantang dan tanpa tedeng aling bahkan membeberkan sejumlah kekerasan lainnya di sana. Tahun 2003 lalu, ketika praja Wahyu Hidayat meninggal, Inu juga mengungkap sejumlah kisah kekerasan di balik tembok IPDN.

Sejumlah kesaksiannya yang ditulis dalam buku ini menjadi perhatian serius kepolisian. Inu sempat diperiksa penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Kepolisian Daerah Jawa Barat di Bandung, pertengahan April lalu. Polisi mempertanyakan sejumlah data kekerasan di IPDN yang Inu tulis dan tersebar di sejumlah media. Di buku ini Inu menyatakan dari 35 praja IPDN yang meninggal, 18 di antaranya meninggal secara tidak wajar (halaman 9).

Dari Hati Nurani

Keberanian lelaki lulusan S-2 Fakultas Sosiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini memang layak diacungi jempol. Namun, tak sedikit kalangan menuding Inu cuma cari-cari popularitas belaka. Meski dibantahnya, “Motivasi saya melakukan semua itu berangkat dari hati nurani. Hanya karena ridla Allah. Sangat jauh melampaui self actualization.”

Di bagian pengantar, Inu mengawali kisahnya di balik seremoni wisuda IPDN, Agustus 2006. Inu terkejut saat mengetahui para terpidana kasus pembunuhan Wahyu Hidayat masuk dalam daftar wisudawan. Inu memberanikan diri menelepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui juru bicara Kepresidenan, Andi Malarangeng. “Saya minta izin untuk membeberkan fakta tentang calon wisudawan yang seharusnya ada di balik terali besi untuk mempertanggungjawabkan kasus pembunuhan,” kata Inu.

Melalui Andi, kata Inu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan ijin Inu membeberkan fakta tentang para calon wisudawan yang seharusnya ada di balik jeruji sel penjara. Esoknya, ada media massa yang menulis artikel berjudul “Presiden Melantik Narapidana”. Buntutnya, Inu disidang dalam rapat senat yang dihadiri Menteri Dalam Negeri Muhammad Ma’ruf. Ia dicap telah menjelekkan almamater.

Fakta hukum membuktikan bahwa sepuluh praja memang telah divonis hingga tingkat Pengadilan Tinggi Jawa Barat. Kasasi mereka ditolak Mahkamah Agung pada 2005. Herannya, meski vonis dijatuhkan mereka semua tak masuk bui. Eksekusi terpidana baru dijalankan Kejaksaan Negeri Sumedang beberapa hari setelah media massa memberitakan fakta yang dibeberkan Inu. Departemen Dalam Negeri juga memutuskan mencabut status pegawai negeri sipil (PNS) para terpidana.

Meski tindakan Inu benar, tetap muncul suara sumbang yang membela para calon wisudawan. Inu dinilai tidak kasihan kepada orangtua para terpidana dan praja yang siap diwisuda. Inu teguh. “Kenapa harus melindungi narapidana?” ujarnya tegas.

Di bagian pengantar ini Inu menyambungnya dengan cerita di balik terbunuhnya Cliff Muntu pada 2 April 2007. Di bab pertama, Inu mengawali dengan kisah masa kanak-kanak. Lazimnya tulisan biografi, Inu mengisahkan masa kanaknya itu dengan detil. Perjalanan hidup ibunda Zaidar dan ayahanda Abdullah Syafiie bahkan ditulis komplet. Inu mengakui sebagai pria yang memuliakan ibu. ”Saya membenci cerita Sangkuriang dan Oidhipus Complex,” tulis Inu di bagian ini.

Berturut-turut setelah itu Inu menulis bagian yang dijuduli Masa Remaja, Pernikahan yang Menggemparkan, Kelahiran Anak-anak, Perkuliahan Tanpa Akhir, dan Orang Miskin Naik Haji. Jelas bagian-bagian ini sangat tidak klop dengan judul buku.

Dosen Bintang Porno

Cerita-cerita yang layak disebut IPDN Undercover sendiri murni hanya satu bab berjudul Membongkar Kasus STPDN. Inu memaparkan banyak kasus yang terjadi di sana. Mulai penganiayaan, narkoba, dan yang paling seru… soal hubungan seks bebas di kampus pencetak abdi rakyat itu.

Seks bebas menurut pengamatan Inu bukan saja melibatkan antarpraja, praja dan warga di sekitar kampus, bahkan antara praja dan dosen IPDN sendiri. ”Ada warga yang melaporkan istrinya berselingkuh dengan penghuni STPDN. Bahkan ada praja yang membawa kabur istri orang lain ketika melakukan bakti karya praja di Pandeglang,” tutur Inu.

Tak sampai di situ saja, pesta seks dilakukan di asrama dengan mengundang wanita tuna susila (WTS). Yang membikin mata terbelalak, menurut Inu, ada seorang dosen perempuan yang menjadi bintang VCD porno. VCD porno itu sempat beredar di kampus. Ironisnya, sambung Inu, dosen pemeran VCD porno itu memiliki kedudukan penting kala itu, yaitu anggota komisi disiplin.

Di luar kampus, kasus perzinahan antarpraja juga terjadi di hotel, ketika praja menjalankan kegiatan semacam Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tindakan tak bermoral ini sempat memakan korban jiwa. Pada 2000, praja bernama Utari Dewi Tunjung Sari meninggal dunia tak lama setelah proses aborsi. Yang menyedihkan, jasad Utari dibiarkan begitu saja tergeletak di sebuah masjid di kawasan Kota Cimahi.

Inu menyebut tidak ada lagi moral di IPDN. Hingga di titik nadir kesabarannya, Inu bahkan muntab dan mengucap sumpah: Hancurkan sekolah ini, ya, Allah dan ganti dengan yang lebih baik!
Apa yang diungkapkan Inu itu rasanya hanya hanya sebagian saja dari gunung es persoalan di IPDN. Paparan Inu yang ditulis dengan gaya bertutur langsung itu belum komplet. Agar lebih bernyawa, buku ini masih butuh wawancara dari banyak nara sumber, bukan sekadar versi Inu seorang. Banyak nama yang disebut Inu dengan menggunakan inisial yang sama sekali tak diimbangi wawancara nara sumber yang bersangkutan, atau setidaknya orang kedua.

Di luar kekurangan itu, buku dengan sajian bahasa yang lugas, dan sederhana ini memang gampang dicerna pembaca tanpa mengernyitkan dahi. Plus judul yang bikin pembaca penasaran, membuatnya ludes di toko buku. Tiras 10.000 eksemplar di cetakan pertama, habis kurang dari sebulan. Edisi cetak ulang buku ini pun layak mendapat label Best Seller.

Dalam rentang waktu tiga bulan sejak beredar di pasaran, buku ini sudah tiga kali dibahas dalam acara bedah buku. Yakni di Bandung, Jakarta, dan Depok. Sejumlah kalangan, terutama dosen yang disebut-sebut Inu meradang dan menggugat agar fakta kontroversial Inu bisa diungkap kebenarannya.

EVA ROHILAH

Lukisan Picasso

Posted: August 28, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Pablo PicassoEntah apa yang aku rasakan kok tiba2 kalo ingat pameran lukisan atau jalan-jalan ke galeri lukiksan aku selalu teringat Pablo Picasso. Saat ini kan lagi deadline lho gak lagi jalan2 ke tempat seni tapi kok aku ingat Picasso. Aku suka banget lukisan ini…

Di sudut Jembatan Plangi

Posted: August 28, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

NyebrangJembatan
Plaza Semanggi 15 Agustus 2007

Malam kian pekat, saat aku keluar dari Gedung Bank Mandiri di daerah Gatot Subroto.
Habis liputan aku berjalan lumayan jauh menuju jembata Plaza Semanggi depannya Komdak. Mungkin ini adalah pemandangan yang biasa di Jakarta, namun malam itu bagi aku tidak biasa.

Mewakili

Posted: August 27, 2007 by Eva in Uncategorized

ibis-16-agustus-2007.jpgHkhkhk…Gayanya tampil ke depan padahal hanya mewakili je!
Tapi lumayan juga bisa foto bareng BWA dan Pak DN.
Hotel Ibis 16 Agustus 2007

The Poetry of Nature

Posted: August 27, 2007 by Eva in Uncategorized

Yang moto ayin waktu di The Sultan Hotelcrop-aku.jpg

Pendidikan di China

Posted: August 22, 2007 by Eva in Pendidikan

GURU BERKUALITAS NEGERI PANDA

Sistem pendidikan China lebih terbuka. Guru diklasifikasi berdasarkan kualitas. Siswa bebas mengevaluasi kualitas guru secara objektif. Guru dapat tambahan tunjangan kesejahteraan 10 persen dari gaji pokok.

Ungkapan “carilah ilmu hingga ke negeri China” memiliki makna tersendiri bagi Drs Zaenal Mutaqin, MSi. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini benar-benar terbang ke Beijing, China, 9-21 Juli lalu.

Keberangkatan Zaenal ke “negeri Tirai Bambu” itu juga dalam rangka menimba ilmu pendidikan. Ia bersama rombongan dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) dan beberapa pejabat dari dinas pendidikan kabupaten/kota, mengikuti workshop peningkatan kompetensi guru,

“Rasanya seperti mimpi berangkat ke Beijing,” katanya. Sesama kepala dinas pendidikan yang dikirim ke Beijing adalah kepala dinas pendidikan Lombok Barat, Gorontalo, Tanah Datar, dan Merauke. Workshop pendidikan itu juga diikuti negara lain, yakni Kamboja, Laos, Mongolia, Papua Nugini, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

China yang punya luas daratan 9,6 juta km2 ini memang pendidikannya lebih maju dibandingkan Indonesia. “Mereka lebih fokus dalam menangani pendidikan. Saya kira kita harus punya komitmen dan bisa konsisten agar bisa memajukan pendidikan di Indonesia,” ujar Zaenal Mutaqin.

UU Sisdiknas-nya China mewajibkan anak umur 6 tahun mengikuti pendidikan dasar, tanpa dipungut biaya sekolah. SD di sana berlangsung 6 tahun. Mata pelajaran utamanya, antara lain, bahasa dan kesusastraan China, matematika, ilmu pasti, bahasa asing, pendidikan moral, musik, olahraga dan jasmani.

Jumlah SD di negeri Panda ini mencapai 400.000 dengan murid hingga 120 juta anak. APK SD di sana mencapai 98%. Sedangkan jumlah SMP dan SMA kurang lebih 60.000 dan 30.000, plus 3.000 perguruan tinggi.

Satu hal yang menarik bagi Zaenal berkaitan dengan tenaga pendidik adalah relasi guru dan murid yang berjalan demokratis. “Ciri khas pendidikan di Beijing adalah adanya klasifikasi guru, mulai dari guru paripurna sampai guru yang tidak qualified. Siswa juga bebas mengevaluasi guru secara objektif. Dua hal yang masih tabu di negara kita,” ujar Zaenal salut.

Guru juga mendapat tempat istimewa di Beijing. Gaji guru di sana berkisar 3.000–5.000 yuan per bulan. Dalam kurs 1 yuan= Rp 1.200, guru di China menerima rata-rata senilai Rp 3,6 juta–Rp 6 juta/bulan. Selain gaji pokok, guru juga menerima tunjangan kesejahteraan sebesar 10% dari gaji pokok. Sistem penggajian buat guru ini lebih tinggi 10% daripada pegawai biasa.

Penghasilan itu sudah memadai. Sehingga, hampir tidak pernah terdengar guru harus “ngojek” atau kepala sekolah mencari uang tambahan dari jual-beli seragam dan buku. Ketika pensiun pun, setiap guru berhak mendapatkan 100% gaji pokok per bulannya.

Zaenal menilai, pemerintah RRC menyadari pentingnya peran guru untuk memajukan bangsanya. Tak heran bila kemajuan RRC kini menjadi buah bibir di dunia. “Kemajuan China tentu tak bisa dilepaskan dari peran guru di sana,” katanya.

Kunjungan ke Beijing menjadikan Zaenal bertekad memajukan kualitas guru di Sukabumi. Langkah awalnya adalah mendongkrak tingkat kesejahteraannya. “China memulai memberi insentif kepada guru lebihdulu dari Indonesia, sedangkan kita baru mulai. Saya akan melaksanakan pemerataan guru di Sukabumi lewat pemberian insentif bagi guru yang ditempatkan di daerah terpencil,” kata Zaenal.

EVA ROHILAH (Sukabumi)

Pendidikan di Selandia Baru

Posted: August 22, 2007 by Eva in Pendidikan

college-di-new-zaeland-1.jpgcollege-di-new-zaeland-1.jpgMajalah Forum Tenaga Pendidik
Edisi Agustus 2007

MENIMBA ILMU DI NEGERI KIWI

Kali pertama Indonesia mengikuti pertemuan kepala sekolah tingkat dunia di Auckland, Selandia Baru. Wawasan dan kepemimpinan sangat ketinggalan dibandingkan dengan negara lain. Perlu lebih sering ikut forum internasional.

“Betapa kita sangat jauh ketinggalan di banding negara-negara seperti Uganda, Srilanka, dan beberapa negara lainnya di Afrika Selatan,” kata Drs Asyikin, Kepala SMA Negeri 70 Jakarta, mengomentari keikutsertaannya pada International Confederation of Principals (ICP) di Auckland, Selandia Baru, pada 2-5 April 2007 lalu.

Asyikin merasa beruntung menjadi satu di antara 20 kepala rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang mengikuti Konfederasi Internasional Kepala Sekolah itu. “Pertemuan kepala sekolah yang menyerupai konvensi tingkat dunia memiliki manfaat luar biasa bagi kami, terutama untuk mengukur kemampuan dan kualitas SDM,” ujar pria kelahiran Kuningan, 14 April 1951 ini kepada Forum Tendik, saat ditemui di kantornya, awal Agustus lalu.

Konferensi kali ini diikuti 1700 orang kepala sekolah dari 30 negara. Konferensi diisi berbagai pembicara utama berkelas internasional dari negara-negara maju dan berkembang. Agenda yang dibahas di antaranya standar SBI, manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, dan pengembangan sumber daya manusia.

Ajang bergengsi itu menjadai wahana berbagi pengalaman dan wawasan kepala sekolah dari lima benua membagi pengalaman satu sama lain. ”Pertemuan ini sangat bermanfaat dalam rangka persiapan menuju sekolah bertaraf internasional,” ucap Jasman Luasin, Kepala SMA Negeri 2 Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Direktorat Tenaga Pendidikan Ditjen PMPTK sendiri berharap kehadiran para kepala sekolah di forum internasional itu bisa menjadi media pengembangan wacana kepemimpinan kepala sekolah pada tataran internasional. Juga untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan hasil-hasil penelitian terkini terkait dengan usaha peningkatan mutu pendidikan.

Selain itu, Direktorat Tendik berharap ICP bisa untuk mengukur tingkat kesiapan kepala sekolah Indonesia, menghadapi persaingan global di bidang pendidikan, serta bisa membandingkan dan mengetahui posisi antara strategi pembangunan sekolah-sekolah di negara maju dengan kondisi pendidikan di Indonesia.

KOMUNIKASI DAN KURANG GAUL

Hal yang menyolok dalam pertemuan itu adalah: delegasi Indonesia yang kurang bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Padahal, setiap dialog, pemaparan, rapat pleno dan konvensi, semuanya menggunakan bahasa Inggris. Minimnya kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris ini membuat delegasi Indonesia tidak banyak bicara.

”Kita juga jarang mengikuti forum-forum internasional seperti itu. Akhirnya jadi kurang gaul. Saya yang kebetulan sering mendapat kesempatan ke luar negeri, merasa terpukul,” ujar Asyikin.

Selain kelemahan soal komunikasi dan kurang pengalaman internasional, Asyikin menilai secara makro kondisi pendidikan Indonesia tidak jauh tertinggal dibanding negara-negara yang hadir. Misalnya soal kurikulum menyongsong abad 21. ”Dalam beberapa hal kurikulum negara-negara lain hampir sama dengan di sini. Kita punya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memberikan kebebasan secara konsep, filosofis dan teori,” kata Asyikin.

Bedanya, sejumlah negara mengembangkan kurikulum secara bottom-up. Sebelum kurikulum disahkan, sudah terlebih dahulu dipaparkan kepada murid, orangtua, masyarakat dan dunia usaha. Sehingga suara dari mereka bisa diserap. Setelah konsep kurikulum jadi, pemerintah mengadakan polling untuk menanyakan apakah kurikulum sudah sesuai dengan kebutuhan. “Polling menjaring kembali suara para ahli. Baru kemudian menjadi sebuah kurikulum,” ungkap Asyikin.

Selain kurikulum, pembekalan di bidang teknologi informasi, komunikasi, dan komputer dalam belajar, paradigma belajar-mengajar, organisasi pembelajar (learning organization) dan kemitraan antar sekolah (sister school) adalah empat poin penting yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut. “Saya sampaikan apa yang diperoleh di Selandia Baru ini pada Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS),” kata Asyikin yang juga Ketua MKKS Jakarta Selatan.

Asyikin berharap di kesempatan mendatang, setiap provinsi bisa mendapat giliran mengikutsertakan wakilnya di ICP. Mengingat biaya yang tinggi, kepala sekolah terpilih bisa meminta bantuan kepada pemerintah provinsi. ”Saya juga berharap Direktorat Tenaga Kependidikan mendorong dinas pendidikan dan kepala sekolah terbaik mendaftar jadi anggota ICP,” katanya.

Pasalnya, dengan menjadi anggota ICP, mereka mendapat semua informasi perkembangan pendidikan di dunia. Beda halnya bila datang hanya sebagai peninjau. ”Informasi terbaru memang khusus untuk anggota,” katanya.

EVA ROHILAH

BOKS 1

SEJUTA PERAK JADI ANGGOTA

International Confederation of Principals (ICP) adalah organisasi independen yang menghimpun 40 negara dari lima benua. Saat ini ada 135.000 anggota kepala sekolah dari seluruh dunia yang menjadi anggota tetap. Konvensi ICP diadakan dua tahun sekali.

ICP diadakan kali pertama di Jenewa, Swiss pada 1993. Berturut-turut kemudian diadakan di Sidney, Australia (1995), Boston, Amerika Serikat (1997), Helsinki Finlandia (1999), Gyeong-ju, Korea (2001), Edinburgh, Skotlandia (2003), dan Cape Town, Afrika Selatan (2005). Pertemuan ke-9 ditetapkan diselenggarakan di Singapura, pada 2009 mendatang.

Untuk menjadi anggota ICP sangat mudah. Setiap anggota hanya dipungut iuran 60 poundsterling per tahun atau hanya sekira satu juta perak. Tidak mahal untuk ukuran keanggotaan organisasi bergengsi tingkat dunia. ICP beralamat di 68 Martin St, Heidelberg, Victoria 3084, Australia. Presiden ICP dijabat Kate Griffin dari Inggris. Bagi yang tertarik, silakan klik di http://www.icponline.org.

EVA ROHILAH

BOKS2:

BEBAS BERHENTI DAPAT DIPLOMA

SELANDIA Baru adalah negeri di selatan Australia yang berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik. Negeri seluas 268.000 kilometer persegi ini kurang lebih sama luasnya dengan wilayah Inggris dan Jepang. Atau hampir dua kali luas Pulau Jawa.

Dalam bahasa Maori, Selandia Baru disebut Aotearoa yang berarti ”tanah awan putih yang panjang”. ”Negeri Kiwi” ini masih memiliki hamparan tanah pertanian yang luas, padang pasir vulkanik, pegunungan yang tertutup salju, sertai pantai dengan air laut membiru. Terasa lapang untuk warga Selandia Baru yang cuma 4 juta jiwa.

Sistem pendidikan di sana boleh dibilang unik. Wajib belajar hanya sampai jenjang SMP. Ketika memasuki jenjang pendidikan SMA, warganya dibebaskan untuk “berhenti setiap saat”. Sehingga di sana, wajar terjadi siswa baru kelas I SMA, tiba-tiba berhenti sekolah dan mengalihkan kursus. Ada juga yang begitu kelas II SMA, keluar dan langsung mengikuti program diploma, tidak masalah.

Mereka yang “meloncat-meloncat” ini biasa disebut traders. Dengan kursus singkat seseorang dinyatakan memiliki kemampuan tertentu. Mereka bisa bekerja berdasar keterampilan atau keilmuan tertentu.

Lembaga pendidikan bagi anak-anak balita banyak berkembang dengan ciri khas budaya dan kebutuhan yang beragam. Kebanyakan anak mengikuti pendidikan dasar (primary school) pada usia 5 tahun dan pindah ke sekolah lanjutan pertama (intermediate school) pada usia 11 tahun. Sekolah menengah (secondary school) diikuti anak usia 13 tahun-17 tahun. Hampir semua sekolah menengah adalah sekolah negeri. Namun ada sejumlah sekolah memiliki corak filosofi atau keagamaan.

EVA ROHILAH

KUNCI MENGATUR KEHIDUPAN KERJA ANDA

Posted: August 10, 2007 by Eva in Inspirasi

Cobalah pikirkan seberapa sering kita mengeluh betapa sulitnya mengatur pekerjaan.
Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa waktu yang tersedia tidaklah cukup,
sedang pekerjaan menumpuk tiada henti. Ketidakmampuan kita untuk mengatur
kehidupan kerja kita dapat menciptakan stress, menghabiskan waktu dan energi
serta memberikan kesan negatif pada orang lain. Berikut ini adalah 4 tips ringkas bagi
kita yang sulit mengatur pekerjaan bahkan kehidupan kerja kita sendiri.

KUNCI MENGATUR KEHIDUPAN KERJA ANDA

The Economics Press

1. Rapikan Ruang/Meja Kerja anda

Ruang kantor dan meja kerja yang berantakan menyulitkan anda untuk menemukan
sesuatu yang anda cari. Selain itu, juga mudah mendorong perilaku mental
kerja yang berantakan pula. Mulailah untuk mengatur rapi meja dan ruangan
kerja anda. Singkirkan barang-barang yang jarang atau tak pernah anda
gunakan. Letakkan barang-barang yang sering anda pakai di tempat yang mudah
anda jangkau. Bersihkan pula laci-laci meja anda. di situlah keberantakan
ruang kerja anda biasanya dimulai.

2. Rencanakan Kegiatan untuk Esok Hari

Pada setiap akhir jam kerja, sebelum anda pulang kantor, buatlah daftar
apa-apa yang perlu anda lakukan keesokan hari. Susunlah berdasarkan
prioritas yang semestinya. Jangan letakkan sebuah tugas pada urutan priortas
yang tertinggi hanya karena tidak terkerjakan di hari ini. Jika sebuah tugas
tidak memiliki deadline, tentukan terlebih dahulu sebelum anda menulisnya
dalam daftar prioritas.

3. Rencanakan Kegiatan Bersama Atasan Anda

Susun pula daftar kegiatan bersama atasan anda untuk esok hari; misal:
menghadiri rapat, menelepon rekanan kerja, menyelesaikan laporan dan lain
sebagainya. Bertemulah dengan atasan anda, keesokan paginya, dan ingatkan ia
apa-apa yang anda persiapan baginya. Sampaikan pula prioritas tugas-tugas
anda sendiri. Atasan anda memiliki sesuatu yang lebih penting bagi anda
untuk dikerjakan.

4. Bersiap-siaplah Untuk Hari Kerja Anda Sendiri

Pagi hari, reviewlah daftar tugas anda. Secara psikologis ini akan
memberikan kesiapan mental bagi anda. Selain itu, persiapkan diri anda untuk
menghadapi tugas-tugas yang mendadak. Tambahkan, hapus atau atur kembali
hal-hal yang telah atasan anda sampaikan sebelumnya. Lalu, bersiaplah secara
fisik dengan mengumpulkan informasi atau perlengkapan yang anda perlukan
bagi pelaksanaan tugas anda yang pertama. Sekali anda memulainya dari tugas
anda yang berprioritas paling tinggi, anda takkan tergoda untuk meninggalkan
meja kerja anda terlalu cepat.

(disadur dari “4 Keys To Organizing Your Work Life “, The Economics Press)

Selamat Bekerja,
Eva

Cerita Akhir Harry Potter

Posted: August 10, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Dear all,
Penasaran dengan isi buku Harry Potter yang baru?Ini ada resensinya.
Selamat membaca

Harry Potter and the Deathly Hallows Plot Summary

Beginning of book

The book begins at the home of Lucius Malfoy, with Snape and a Ministry official, Yaxley, informing Lord Voldemort of the date Harry Potter intends to leave the Dursley’s house. Voldemort borrows Lucius wand, because his own is ineffective against Harry. Voldemort plans to kill Harry when he is moved to a new safe place, which has to happen when he turns seventeen and his safety with the Dursleys expires.
Harry, on the night he is to leave the Dursleys, reads an obituary of Albus Dumbledore, written by Dumbledore’s friend Elphias “Dogbreath” Doge. Harry learns about Dumbledore’s family including his brother Aberforth and sister Ariana, and he regrets not having asked Dumbledore more about his past.

Middle of book
After a month of spying on the Ministry of Magic, the trio attempt to infiltrate it to retrieve the Horcrux from Dolores Umbridge. They discover the Ministry of Magic has changed considerably; Muggle-born wizards and witches are being rounded up openly for questioning. The trio eventually locate Umbridge and take the Horcrux, knocking her out in the process. They free a number of Muggle-born wizards and witches, and encourage them to leave the country. However, the trio’s hiding place at 12 Grimmauld Place is discovered and they are forced to flee to the countryside, moving from place to place, never staying anywhere too long.
After several months of this, they overhear a conversation revealing that the Ministry only possesses a replica of Gryffindor’s sword; the original’s location is unknown. Harry questions the portrait of Phineas Black, and discovers that Dumbledore used the sword to destroy a Horcrux, the Gaunts’ ring. Harry suggests attempting to locate the real sword, but Ron objects, feeling that this is a pointless quest. After an argument with Harry, he leaves the group. Harry and Hermione are greatly saddened, but decide to go to Godric’s Hollow on the off-chance that Dumbledore left the sword there for them there.

The Deathly Hallows themselves
At Lovegood’s home, Harry, Ron, and Hermione are told an old wizard story about three brothers who bested Death, and each had received a magical item for it, the three Deathly Hallows – an unbeatable wand (called the Elder Wand), a stone which could bring back the dead (the Resurrection Stone), and an Invisibility Cloak that never failed with age. Harry believes that his own cloak is that Invisibility Cloak, and is very excited, but soon discovers that Lovegood has betrayed them to the Ministry; Luna, his daughter, has been taken captive and he believes that giving them Harry Potter would cause them to free her. The trio barely escape from the wizards sent to fetch them, but Harry is emboldened and believes that they need to collect all the Deathly Hallows, these artifacts given by Death, to defeat Voldemort.

End of book
At Hogsmeade, Harry and friends are cornered by Death Eaters and saved by Aberforth Dumbledore. Aberforth opens a secret passageway to Hogwarts, where Neville Longbottom greets them. Harry alerts the Heads of Houses at Hogwarts to Voldemort’s imminent arrival and evacuation measures are implemented to ensure the younger students’ safety, with the older ones able to stay and fight. After saving Draco Malfoy’s life, Harry finds Ravenclaw’s diadem in the Room of Requirement. Draco Malfoy and Crabbe and Goyle are also in there after the diadem.

Epilogue
In the story’s epilogue, taking place 19 years after the Battle of Hogwarts, Harry and Ginny Weasley are married and have three children named James, Albus Severus, and Lily. Ron and Hermione are also married and have two children named Rose and Hugo. Draco Malfoy has a wife (unnamed) and a child named Scorpius. Lupin and Tonks’ orphan son Teddy is apparently in love with Victoire, Bill and Fleur’s daughter. They all meet at King’s Cross, about to send their children to Hogwarts at the beginning of term. Neville Longbottom has become the Herbology Professor at Hogwarts. The Sorting Hat has survived, or has been repaired or replaced. It is revealed that Harry’s scar has not hurt since the Dark Lord’s defeat, and there the story ends.

Posted: August 3, 2007 by Eva in Uncategorized

fotokuStaf Humas

What is Friend

Posted: August 3, 2007 by Eva in Uncategorized

What is Friend?

friend is….

A bsolutely intriguing
B eautiful on the inside
C aring
D elightful
E xcellent
F un to be around
G ood natured
H appy (excessively!)
I nteresting
J ovial
K een and sharp like an angel (hey, they can tell you what mood in you are in just by looking at your face)
L oveable like a teddy bear
M arvelous
N ice when it comes to your needs
O penly honest with you
P artial to your thoughts and ideas
Q uick and comforting you
R adical
S weet like a kiss ( a Hershey’s kiss of course! )
T errific in lots of ways
U nderstanding
V ery kind when you are sad
W onderfully amazing
X tra special to you
Y oung at heart
Z ippy at helping you out