Menguak Tabir Menyulut Kontroversi

Posted: August 29, 2007 by Eva in Buku dan Media

sampul-buku-ipdn.jpgsampul-buku-ipdn.jpg
Judul Buku : IPDN UNDERCOVER (Sebuah Kesaksian Bernurani)
Penulis : Inu Kencana Syafiie
Penerbit : Progressio (Grup Syaamil), Bandung
Edisi : I, April 2007
Tebal : 282 Halaman
Harga : Rp 38.000
ISBN : 979-793-131-5

MENGUAK TABIR MENYULUT KONTROVERSI

TUMPUKAN buku dengan cover yang didominasi warna merah darah, berlatar foto seorang yang ditutup matanya, setengah membungkuk dengan kedua tangan saling mengatup bak pesakitan, itu cukup menarik perhatian pengunjung toko buku Gramedia, di bilangan Matraman, Jakarta, Mei lalu. Buku berjudul IPDN Undercover yang dipajang di bagian rak-rak buku bertuliskan ”Best Seller” itu memang dikerumuni sejumlah pengunjung.

Judulnya yang mirip-mirip buku Moammar Emka berjudul Jakarta Undercover itu agaknya turut menjadi daya tarik pembaca. Sebagaimana Jakarta Undercover yang memotret sisi remang-remang seks di Ibu Kota, pembaca juga membayangkan buku ini memerikan sisi gelap di balik ”tembok kekerasan” di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Rupanya, judul itu hanya siasat dagang belaka, entah dari penerbit atawa sang penulis buku, Inu Kencana Syafie. Dari 282 halaman buku ukuran A5 ini, hanya 74 halaman saja yang berisi kesaksian Inu Kencana atas sisi gelap keburukan-keburukan yang terjadi di IPDN. Artinya hanya seperempat bagian, lebih sedikit, yang sesuai dengan judul buku. Hanya Bagian G yang dijuduli Membongkar Kasus STPDN, yang klop dengan judul buku. Selebihnya, lebih mirip otobiografi sang penulis.

Judul yang melenceng dari isi itu diakui penerbit. ”Pemilihan judul IPDN Undercover tidak terlepas dari tujuan pemasaran. Secara teori mengambil salah satu bagian sebagai judul buku sah-sah saja,” kata Asep Syamsu Romli, Manajer Syaamil Pustaka, Bandung, seperti dikutip Harian Pikiran Rakyat.

Inu sendiri menyikapinya dengan enteng. ”Saya dan IPDN tidak terpisahkan. IPDN-lah awal kepopuleran saya. Setelah itu, tidak sedikit yang mempertanyakan latar belakang saya, termasuk dari mana saya mendapat keberanian. Buku ini merupakan jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan itu,” tutur Inu pada jumpa pers peluncuran buku ini, di Jalan Ir. H. Djuanda, Bandung, akhir April lalu.

Popularitas Inu Kencana Syafiie memang tengah melejit, begitu mencuat kasus kekerasan yang berujung kematian Cliff Muntu, praja –sebutan mahasiswa di IPDN– asal Manado, April lalu. Inu dengan lantang dan tanpa tedeng aling bahkan membeberkan sejumlah kekerasan lainnya di sana. Tahun 2003 lalu, ketika praja Wahyu Hidayat meninggal, Inu juga mengungkap sejumlah kisah kekerasan di balik tembok IPDN.

Sejumlah kesaksiannya yang ditulis dalam buku ini menjadi perhatian serius kepolisian. Inu sempat diperiksa penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Kepolisian Daerah Jawa Barat di Bandung, pertengahan April lalu. Polisi mempertanyakan sejumlah data kekerasan di IPDN yang Inu tulis dan tersebar di sejumlah media. Di buku ini Inu menyatakan dari 35 praja IPDN yang meninggal, 18 di antaranya meninggal secara tidak wajar (halaman 9).

Dari Hati Nurani

Keberanian lelaki lulusan S-2 Fakultas Sosiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini memang layak diacungi jempol. Namun, tak sedikit kalangan menuding Inu cuma cari-cari popularitas belaka. Meski dibantahnya, “Motivasi saya melakukan semua itu berangkat dari hati nurani. Hanya karena ridla Allah. Sangat jauh melampaui self actualization.”

Di bagian pengantar, Inu mengawali kisahnya di balik seremoni wisuda IPDN, Agustus 2006. Inu terkejut saat mengetahui para terpidana kasus pembunuhan Wahyu Hidayat masuk dalam daftar wisudawan. Inu memberanikan diri menelepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui juru bicara Kepresidenan, Andi Malarangeng. “Saya minta izin untuk membeberkan fakta tentang calon wisudawan yang seharusnya ada di balik terali besi untuk mempertanggungjawabkan kasus pembunuhan,” kata Inu.

Melalui Andi, kata Inu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan ijin Inu membeberkan fakta tentang para calon wisudawan yang seharusnya ada di balik jeruji sel penjara. Esoknya, ada media massa yang menulis artikel berjudul “Presiden Melantik Narapidana”. Buntutnya, Inu disidang dalam rapat senat yang dihadiri Menteri Dalam Negeri Muhammad Ma’ruf. Ia dicap telah menjelekkan almamater.

Fakta hukum membuktikan bahwa sepuluh praja memang telah divonis hingga tingkat Pengadilan Tinggi Jawa Barat. Kasasi mereka ditolak Mahkamah Agung pada 2005. Herannya, meski vonis dijatuhkan mereka semua tak masuk bui. Eksekusi terpidana baru dijalankan Kejaksaan Negeri Sumedang beberapa hari setelah media massa memberitakan fakta yang dibeberkan Inu. Departemen Dalam Negeri juga memutuskan mencabut status pegawai negeri sipil (PNS) para terpidana.

Meski tindakan Inu benar, tetap muncul suara sumbang yang membela para calon wisudawan. Inu dinilai tidak kasihan kepada orangtua para terpidana dan praja yang siap diwisuda. Inu teguh. “Kenapa harus melindungi narapidana?” ujarnya tegas.

Di bagian pengantar ini Inu menyambungnya dengan cerita di balik terbunuhnya Cliff Muntu pada 2 April 2007. Di bab pertama, Inu mengawali dengan kisah masa kanak-kanak. Lazimnya tulisan biografi, Inu mengisahkan masa kanaknya itu dengan detil. Perjalanan hidup ibunda Zaidar dan ayahanda Abdullah Syafiie bahkan ditulis komplet. Inu mengakui sebagai pria yang memuliakan ibu. ”Saya membenci cerita Sangkuriang dan Oidhipus Complex,” tulis Inu di bagian ini.

Berturut-turut setelah itu Inu menulis bagian yang dijuduli Masa Remaja, Pernikahan yang Menggemparkan, Kelahiran Anak-anak, Perkuliahan Tanpa Akhir, dan Orang Miskin Naik Haji. Jelas bagian-bagian ini sangat tidak klop dengan judul buku.

Dosen Bintang Porno

Cerita-cerita yang layak disebut IPDN Undercover sendiri murni hanya satu bab berjudul Membongkar Kasus STPDN. Inu memaparkan banyak kasus yang terjadi di sana. Mulai penganiayaan, narkoba, dan yang paling seru… soal hubungan seks bebas di kampus pencetak abdi rakyat itu.

Seks bebas menurut pengamatan Inu bukan saja melibatkan antarpraja, praja dan warga di sekitar kampus, bahkan antara praja dan dosen IPDN sendiri. ”Ada warga yang melaporkan istrinya berselingkuh dengan penghuni STPDN. Bahkan ada praja yang membawa kabur istri orang lain ketika melakukan bakti karya praja di Pandeglang,” tutur Inu.

Tak sampai di situ saja, pesta seks dilakukan di asrama dengan mengundang wanita tuna susila (WTS). Yang membikin mata terbelalak, menurut Inu, ada seorang dosen perempuan yang menjadi bintang VCD porno. VCD porno itu sempat beredar di kampus. Ironisnya, sambung Inu, dosen pemeran VCD porno itu memiliki kedudukan penting kala itu, yaitu anggota komisi disiplin.

Di luar kampus, kasus perzinahan antarpraja juga terjadi di hotel, ketika praja menjalankan kegiatan semacam Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tindakan tak bermoral ini sempat memakan korban jiwa. Pada 2000, praja bernama Utari Dewi Tunjung Sari meninggal dunia tak lama setelah proses aborsi. Yang menyedihkan, jasad Utari dibiarkan begitu saja tergeletak di sebuah masjid di kawasan Kota Cimahi.

Inu menyebut tidak ada lagi moral di IPDN. Hingga di titik nadir kesabarannya, Inu bahkan muntab dan mengucap sumpah: Hancurkan sekolah ini, ya, Allah dan ganti dengan yang lebih baik!
Apa yang diungkapkan Inu itu rasanya hanya hanya sebagian saja dari gunung es persoalan di IPDN. Paparan Inu yang ditulis dengan gaya bertutur langsung itu belum komplet. Agar lebih bernyawa, buku ini masih butuh wawancara dari banyak nara sumber, bukan sekadar versi Inu seorang. Banyak nama yang disebut Inu dengan menggunakan inisial yang sama sekali tak diimbangi wawancara nara sumber yang bersangkutan, atau setidaknya orang kedua.

Di luar kekurangan itu, buku dengan sajian bahasa yang lugas, dan sederhana ini memang gampang dicerna pembaca tanpa mengernyitkan dahi. Plus judul yang bikin pembaca penasaran, membuatnya ludes di toko buku. Tiras 10.000 eksemplar di cetakan pertama, habis kurang dari sebulan. Edisi cetak ulang buku ini pun layak mendapat label Best Seller.

Dalam rentang waktu tiga bulan sejak beredar di pasaran, buku ini sudah tiga kali dibahas dalam acara bedah buku. Yakni di Bandung, Jakarta, dan Depok. Sejumlah kalangan, terutama dosen yang disebut-sebut Inu meradang dan menggugat agar fakta kontroversial Inu bisa diungkap kebenarannya.

EVA ROHILAH

Advertisements
Comments
  1. christianto says:

    Bpk. Ibnu teruskan perjuangan sekarang diperlukan pahlawan2 seperti bapak, biarpun pahit rasanya, TUHAN AKAN MENUNJUKAN KEBENARAN DAN PASTI ADA JALAN, upahmu ada di Surga yang kekal dan abadi.
    Siapa yang berhadapan dengan Bapak lihat hidupnya, termasuk mentri dalam negri yang ikut bertanggung jawab ttg IPDN . lidah Bapak bagaikan pedang bermata tujuh untuk kebenaran , hanya Doa yang bisa saya ucapkan untuk Bapk Sekl. kesabaran, kekuatan, kesehatan dan panjang umur amin.GBU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s