Menebar Kepedulian dan Kesalehan Sosial

Posted: September 26, 2007 by Eva in Buku dan Media

Resensi Buku Dimuat di Infosocieta edisi Lebaran Oktober 2007 

Judul        : Buku Pintar Fiqh dan Amaliyah Zakat

Penulis    : Muhammad Ridwan Yahya

Penerbit  : Pustaka Nawaitu, Jakarta

Edisi       : II,  Maret 2007

Tebal      : 200 Halaman 

ISBN       : 979-3736-28-9  

MENEBAR KEPEDULIAN DAN KESALEHAN SOSIAL

Bicara zakat, rukun ketiga Islam ini akan terus bergandeng dengan kemiskinan. Zakat menjadi pemenggal kesenjangan mengurai kecemburuan. Zakat juga penyelamat bagi pembayarnya, juga penerimanya. Zakat dicatat mampu menjadi solusi menghentikan monster bernama kemiskinan. Buku kecil ini hadir mengupas masalah zakat dengan bahasa yang ringan namun dikaji cukup mendalam. 

Pada setiap bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan menunaikan ibadah puasa. Selama sebulan penuh, seorang muslim wajib menahan lapar dan haus dari mulai terbit fajar sampai dengan menjelang senja. Selama berpuasa, banyak sekali amalan-amalan yang dianjurkan untuk dilakukan, contohnya: shalat tarawih, zikir, tadarus Al Quran, dan bersedekah. Ketika puasa selesai dijalankan, maka kaum muslimin merayakan Idul Fitri. Setelah sebulan penuh berpuasa, kaum muslimin di seluruh dunia merayakan kemenangan. Satu kewajiban yang dilakukan sebelum hari Lebaran tiba adalah kewajiban membayar zakat fitrah. Zakat fitrah diwajibkan kepada setiap muslim yang sedikit berlebih memiliki bahan makanan pokok pada bulan Ramadhan. Jumlah yang wajib dibayarkan oleh setiap muslim adalah satu sha’ (kurang lebih 2,5 kg) beras, gandum, kurma atau yang lainnya. Sasaran zakat fitrah adalah kaum dhuafa yang tidak memiliki makanan pada hari Idul Fitri. Namun zakat fitrah dapat juga dibayarkan dengan uang tunai.  

Namanya buku pintar, tak hanya zakat fitrah saja yang dibahas penulis kelahiran Takalar, Makassar, Sulawesi Selatan, 9 September 1968 ini. Ia membahas panjang lebar jenis-jenis zakat yang lain. Yakni zakat penghasilan, zakat profesi lengkap dengan cara penghitungannya dan dasar Al Quran serta hadits yang mendasari kenapa zakat harus dibayarkan.  Buku yang terdiri dari 25 bagian ini sangat cocok bagi Anda yang ingin mengetahui seluk beluk tentang zakat. Bagi pemula, pada bab awal buku ini dijelaskan definisi, urgensi, kedudukan, syarat, hikmah dan filosofi zakat. 

Hikmah pertama yang dipetik dari zakat adalah menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah papa dengan materi sekadar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT.  Kedua, memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya. Ketiga, menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (social distribution), dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.  Hikmah keempat adalah dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: ummatan wahidan (umat yang satu), musawah (persamaan derajat, dan dan kewajiban), ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam) dan takaful ijti’ma (tanggung jawab bersama).  Hikmah kelima, dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlak mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan bathin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati.  

MANAJEMEN ZAKAT  

Selain itu, zakat adalah ibadah  yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan solidaritas kepedulian dan kesalehan  sosial. Sebagai pengikat batin antara golongan kaya dengan yang miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah.  Dengan adanya zakat, kita berusaha mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tenteram, aman lahir batin. Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali.

Pada bab 14, Muhammad Ridwan Yahya menjelaskan tentang orang-orang yang berhak menerima dan tidak menerima zakat, jenis harta yang wajib dizakati, serta distribusi zakat. Meskipun hanya diulas sekilas, bab ini menjadi sangat penting mengingat ada kaitannya dengan pendistribusian dan pengelolaan manajemen zakat.  Ada tujuh golongan orang yang berhak menerima zakat yaitu fakir miskin, muallaf (baru masuk Islam), amil zakat, hamba yang ingin memerdekakan dirinya. Orang-orang yang berhutang, orang-orang yang berjuang di jalan Allah (fi sabilillah) dan ibnu sabil (anak-anak yatim yang sedang sekolah).  Pada zaman dulu, pengelolaan zakat di Indonesia dilakukan secara kekeluargaan. Pengelolaan zakat dengan sistem manajemen yang terarah dan terencana masih jauh panggang dari api. Padahal saat itu, potensi zakat yang dikeluarkan setiap tahunnya sangat besar. Baru, pada 1968, pengelolaan zakat dikelola secara formal dengan didirikannya Badan Amil Zakat (BAZ) yang kemudian diganti menjadi BAZIS (Badan Amil Zakat Infaq Sodaqoh).

Setelah adanya BAZIS ini, dinamika pengelolaan zakat semakin berkembang. Bahkan pada era 1990-an peran swasta mulai melirik manajemen pengelolaan zakat sebagai salah satu aset untuk memberdayakan umat. Hadirnya Dompet Dhuafa Republika, Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), dan Rumah Zakat menjadikan orang berzakat lebih mudah.  Pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat ditambah dengan teknologi yang kian canggih pengelolaan zakat pun kian efektif. Selain menjamurnya lembaga zakat dari tingkat kelurahan hingga tingkat nasional. Kini, banyak para amil zakat yang menjemput zakatnya kepada muzakki (pemberi zakat), atau bahkan bisa juga berzakat lewat pesan Short Message Service (SMS). 

 Pada bagian akhir buku ini, penulis yang alumni Islamic University, Madinah, Arab Saudi ini memberikan beberapa tips praktis seputar zakat. Salah satunya adalah menjaga keikhlasan. Menurut lelaki yang cukup produktif menulis, lebih dari sembilan judul buku ini, kita harus selalu berupaya memperbaiki niat ketika mau bayar zakat. Jangan sampai kemasukan riya’ (pamer) yang bisa menghapus amal.  Selain itu, Ridwan juga menyarankan agar kita senantiasa mengeluarkan zakat setiap kali memperoleh harta, tanamkan cita-cita agar berupaya menjadi muzakki (pembayar zakat) dan bukan menjadi mustahiq (penerima zakat), serta bayarkanlah zakat anda kepada amil zakat yang kerjanya benar, jujur, dan bertanggung jawab dan.   

Sayang, minim sekali kisah-kisah atau contoh para muzakki yang inspiratif dalam buku ini. Selain itu, pengelolaan zakat berkaitan dengan pajak, dan pengelolaan ekonomi rakyat juga tidak dikaji tidak banyak disinggung.  Meskipun disertai catatan hampir dalam setiap babnya, buku ini tidak disertai indeks dan catatan kaki, padahal banyak istilah penting berbahasa Inggris maupun Arab yang mungkin orang awam belum paham.   

Salah satu kelebihan buku ini ditengah banyak dan maraknya buku tentang zakat adalah penyajiannya yang komprehensif, sistematis, praktis, dan tuntas dengan bahasan yang sederhana sehingga mudah dicerna. Buku ini sangat tepat dijadikan panduan zakat bagi lembaga atau perseorangan dalam kehidupan sehari-hari. Tidaklah keliru Anda membelinya, untuk keperluan sendiri atau dihadiahkan. 

 EVA ROHILAH        

Advertisements
Comments
  1. zakat adalah solusi bagi segala bentuk kemiskinan di bumi ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s