Dunia Dongeng Tanaman Hias

Posted: October 28, 2007 by Eva in Ekonomi Bisnis

Hari ini Kompas Menulis tiga artikel Tentang Anthurium

Aku simpan agar berguna

Dunia Dongeng Tanaman Hias

Ilham Khoiri

Mengikuti perkembangan tanaman hias beberapa tahun belakangan seperti memasuki dunia dongeng. Tren berganti-ganti dan orang-orang berduit tak segan mengeluarkan uang miliaran rupiah demi memburu tanaman primadona. Masyarakat umum pun ikut-ikutan menginvestasikan uang yang pas-pasan demi mimpi meraup untung besar. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Masyarakat di Tanah Air sedang terjangkiti demam tanaman hias. Cobalah berkunjung ke Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sejak memasuki kawasan Jaten, yang berbatasan dengan Kota Solo, kita langsung menghirup aroma anturium, tanaman yang jadi tren tahun 2007 ini. Ratusan kebun tanaman hias memenuhi kiri-kanan jalan raya.

Tiba di kawasan Karangpandan, Tawangmangu, dan Ngargoyoso, kebun bunga makin berjubel di mana-mana. Penduduk membangun kotak-kotak di depan rumah sebagai semacam “etalase” untuk memajang tanaman. Baliho-baliho besar dipasang dengan mengusung jargon: “Selamat datang di Kabupaten Anturium”.

Bupati Karanganyar Rina Iriani Sri Ratnaningsih memang mencanangkan kabupaten itu sebagai “Kabupaten Anturium” dan meminta masyarakat di 17 kecamatan untuk menanam berbagai jenis anturium. Kini, ada 1.000 petani, ratusan nursery dan green house yang membiakkan tanaman ini. “Saya mendorong mereka agar fokus pada tanaman hias. Di sini, kalau tidak memiliki anturium, orang tidak merasa jadi orang Karanganyar,” ujarnya.

Tren anturium juga merasuki wilayah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, dan meluas lagi sampai Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Papua. Pameran, kontes, dan media hobi kerap menampilkan tanaman ini sebagai primadona. Selain jenmanii, jenis lain juga banyak dicari, seperti black beauty, hokeri, gelombang cinta, dan garuda.

gelombang-cinta.jpg

Yang sangat fenomenal, tentulah rekor harga yang gila-gilaan. Awal tahun 2006, indukan anturium jenmanii masih berharga Rp 1.000.000 per pot. Tapi, baru-baru ini, satu pohon anturium jenis jenmanii hasil silangan baru di Kudus, Jawa Tengah, dikabarkan mencapai harga Rp 1,25 miliar. Biji-biji jenmanii yang baru dipanen pun laku Rp 250.000 per buah.

Meski tak seheboh anturium, aglaonema juga sempat booming beberapa tahun lalu. Saat itu, masyarakat juga getol memburu berbagai jenis tanaman dengan daun berbintik-bintik ini, terutama jenis pride sumatera, hot lady, dan widuri. Tren memuncak saat aglaonema harlequin hasil silangan Greg Hambali terjual seharga Rp 660 juta pada lelang terbatas pertengahan tahun 2006.

anthurium-jenmani-jaipong.jpg

Sebelum itu, adenium-lah yang jadi raja tanaman hias. Sejak tahun 2002, masyarakat menguber berbagai jenis adenium dengan bunga berwarna-warni, seperti crimson star, arabicum, dan herry potter. Tahun 2005, tanaman asal Afrika ini pernah mencapai rekor harga sekitar Rp 100 juta.

Begitulah, tren tanaman hias berubah begitu cepat, dengan siklus sekitar dua tahunan. Harga tanaman bisa melonjak tinggi, tetapi juga gampang jatuh. “Fenomena harga yang gila-gilaan hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara lain, seperti Taiwan, Thailand, Hongkong, dan Amerika, masyarakat membeli tanaman dengan harga wajar,” kata Pemimpin Redaksi Majalah Trubus Onny Untung.

Goreng-gorengan?

Kenapa bisnis tanaman hias diwarnai harga yang gila-gilaan? Menurut Ketua Florikultura Indonesia Iwan Hendrayanta, situasi itu terjadi karena stok tanaman hias tertentu memang yang terbatas, padahal kebutuhan pasar tinggi. Tetapi, itu juga bisa dipengaruhi spekulasi para pemain baru yang terjun dalam bisnis ini.

Biasanya satu jenis tanaman yang potensial dimatangkan dulu di kalangan penyilang atau pemilik tanaman indukan. Sebelum dilempar ke pasar, tanaman itu diperkenalkan dulu dalam pameran, kontes, atau brosur. Tanaman yang memperoleh sambutan bagus lantas dipublikasikan media, seperti Trubus atau Flona.

bibit Anthurium

“Kalau sudah diulas media, biasanya orang-orang langsung penasaran, mencari-cari, dan tumbuhlah pasar. Ketika pasar bertambah dan stok terbatas, otomatis harga terdongkrak,” kata Iwan.

Saat harga naik, bisnis tanaman itu menjanjikan untung besar. Masuklah kalangan berduit atau konglomerat yang ingin untung cepat. Mereka berinvestasi dengan menanamkan modal besar. Dalam kondisi seperti itu, harga tanaman bisa melejit sampai taraf “tak masuk akal”.

Bursa tanaman tambah panas ketika para pemain berlomba mendatangkan jenis-jenis baru dari luar negeri, terutama Thailand, Filipina, dan Taiwan. Apalagi, kemudian bermunculan orang yang ikut-ikutan atau kolektor yang membeli demi gengsi. Hauwlie, pemilik Gracia Nursery di Karanganyar, mengungkapkan, banyak pemain di bisnis ikan, burung, atau pengusaha bus dan rokok yang terjun ke tanaman hias.

“Tidak benar pengusaha Karanganyar sengaja menggoreng-goreng harga anturium. Harga melonjak karena ada sejumlah pengusaha pendatang baru yang berspekulasi menawarkan harga tinggi,” kata Didik Setiawan, pemilik Nursery dan Gardening Deni di Karanganyar.

Menurut Chandra Gunawan Hendarto, pemilik Godongijo Nursery di Sawangan, Depok, orang berduit berani berinvestasi ke tanaman hias karena melihat sektor riil ekonomi masih lesu. Saat bersamaan, bunga deposito di bank yang sekitar 8-9 persen per tahun dinilai terlalu minim, sedangkan permainan saham dianggap kurang menarik karena turun-naik.

“Orang yang punya duit lalu melirik bisnis tanaman hias yang sedang menggairahkan. Jadilah bisnis ini makin ramai saja, banyak orang yang semrintil-ngintil,” kata Chandra, yang memopulerkan adenium sejak tahun 1999.

Pencurian

Ketika jadi komoditas bernilai tinggi, tanaman hias lantas jadi incaran banyak orang, termasuk pencuri. Sejak heboh anturium jenmanii yang mahal, banyak pemilik nursery mengaku kebobolan. Sayangnya, kasus kriminal itu sulit ditangani kepolisian karena belum ada identifikasi khusus untuk tanaman hias.

“Saya sudah pernah empat kali kecurian tanaman anturium. Nilainya bisa ratusan juta rupiah,” kata Jefri, penggemar tanaman hias asal Cipanas, Puncak.

Puncak

Mengantisipasi situasi ini, pemilik tanaman hias mau tak mau harus mengeluarkan biaya tinggi demi menciptakan keamanan berlapis. Jangan heran jika kebun-kebun anturium di Karanganyar dikerangkeng pagar besi, dikawal sejumlah satpam 24 jam, dipasangi alarm, kamera CCTV, sampai dijaga anjing galak.

anthurium-jenmanii-cobra.jpg

“Demi menjaga anturium, bahkan ada orang yang memboyong tanaman itu dalam kamar untuk diajak tidur bersama,” kata Ketua Koperasi Pinasti Karanganyar M Zamzami Ali.

Tidur bersama tanaman? Ah, benar-benar mirip dunia dongeng saja! (sonya hellen sinombor/ frans sartono)

 Artikel-2

Untung dan Buntung Saling Bersambung
Ninuk Mardiana Pambudy

anthurium-crenatum.jpg


“Kami baru kehilangan dua anturium. Satu dicuri dari halaman belakang yang pagarnya tingginya tiga meter, satu lagi di teras yang lebih kecil. Yang satu ‘Anthurium plowmanii’ atau Gelombang Cinta, satunya lagi ‘Anthurium jemanii’ ‘Kol’. Yang dicuri dari kantor juga dua pohon.”
Itulah pengalaman Susilo Hadi Arifin dan istrinya, Nurhayati, pengajar di Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Anturium kesayangan mereka itu dibeli pada tahun 2001 saat belum populer dan ketika dicuri panjang daunnya sudah sekitar 50 sentimeter. Bila dibandingkan dengan anturium yang kerap muncul di pameran, tanaman dengan ukuran tersebut dapat mencapai harga lebih Rp 20 juta.
Anturium yang saat ini berada pada puncak kejayaannya membuat banyak orang tergiur memiliki tanaman ini, meskipun dengan cara mencuri. Susilo juga kecurian ratusan pot aglaonema dari laboratorium tanaman di IPB saat tanaman itu sedang jaya-jayanya dua tahun lalu.
Cerita tentang tanaman hias saat ini seperti dongeng. Harganya bisa semahal satu mobil Mercedes seri S. Kalau dibelikan rumah, bisa dapat lima-enam buah dengan luas tanah 180-an meter di pinggiran Jakarta. Bagaimana bisa menjelaskan satu tanaman hias daun anturium yang harganya Rp 600 juta bahkan Rp 1,2 miliar per buah? Harga ratusan juta rupiah juga pernah diraih adenium.

jutawan.jpg
“Sebetulnya agak berlebihan kalau harganya sampai semahal itu karena tanaman adalah sesuatu yang terbarukan, bisa dibiakkan. Menyilangkan anturium, adenium, atau aglaonema, misalnya, relatif tidak terlalu sulit,” kata Prof Dr Ir Susilo yang Ketua Departemen Arsitektur Lanskap IPB dan penulis buku pertamanan dan tanaman hias.
Ada beberapa faktor yang membuat suatu jenis tanaman menjadi buruan dan harganya sangat tinggi. Kelangkaan adalah faktor terpenting selain tanaman itu dianggap “baru” dan pasti harus menarik dilihat.
“Umumnya yang memiliki tanaman dengan sifat tersebut adalah komunitas kolektor tanaman. Kadang mereka melelang di antara mereka sendiri,” kata Dr Ir Nurhayati, salah seorang penyusun standar kompetensi kerja nasional untuk tanaman hias krisan dan aglaonema.
Selain komunitas, Himma Zakia dari Salsabiila Nursery di Cipanas, Jawa Barat, dan Susilo berpendapat, media massa juga ikut mengipasi konsumen dengan info apa yang sedang populer saat ini.
Peran komunitas pencinta tanaman ini cukup penting karena mereka selalu mencari tanaman baru. Untuk itu, mereka menyilang sendiri, bertukar di antara mereka, atau ke petani karena tanaman yang unik dapat muncul dari mana saja ketika terjadi mutasi.
Di sisi lain, ada pemulia (breeder) yang bekerja sama dengan pembibit (nursery) untuk menghasilkan tanaman-tanaman jenis baru. “Jadi, ada yang klop antara penawaran dan permintaan,” kata Susilo.
Untung dan buntung
Untung dan buntung bisa sambung-menyambung dalam bisnis tanaman hias. Mereka yang buntung, selain karena tanamannya dicuri, juga karena latah ikut-ikutan bisnis ini sementara tidak paham berapa lama tanaman itu tetap populer.
“Waktu palem raja untuk lanskap sedang di puncak, permintaannya tinggi sementara pasokan terbatas. Akhirnya para desainer lanskap pindah ke palem ekor tupai dan palem putri. Harga palem raja jatuh. Banyak petani yang telanjur tanam palem raja akhirnya rugi,” papar Ir Lita Herlinawati, yang bekerja di perusahaan lanskap di Kabupaten Bogor.
Himma Zakia, yang memproduksi tanaman hias pot, tanaman lanskap, dan tanaman hias daun, mengaku ikut kecipratan rezeki dari populernya anturium. Dia mendatangkan sebagian tanaman hias daun-termasuk anturium-dari Thailand. Di sana anturium tidak terlalu menjadi perhatian. Perusahaan pembibitan umumnya melayani permintaan dari Indonesia.
“Di pasar Chatuchak, Bangkok, isinya orang Indonesia. Ada yang dari Medan, Solo, sampai Jawa Timur. Mereka rebutan anturium, sampai ada yang bela-belain nginep di kebun supaya enggak keduluan yang lain,” kata Himma.
Begitu menggiurkannya rupiah yang dapat dipanen dari tanaman hias sampai-sampai ada yang menjual rumah dan mobil, bahkan utang dari bank, untuk ikut menangguk rezeki “sesaat”. Menurut Himma, tidak selalu mereka yang kini berbisnis anturium punya kebun bahkan tanaman. Para penggembira ini cukup bermodal jaringan pasar. Mereka akan menghubungkan penjual dan pembeli dengan mengambil keuntungan di antara keduanya.
“Popularitas anturium sudah berlangsung tiga tahun, mudah-mudahan masih bertahan lama karena pembiakannya tidak bisa dengan setek. Yang bagus dengan biji, itu pun harus yang matang; atau kultur jaringan yang cukup rumit mencari media tumbuhnya. Kalau anturium segera surut, jangan-jangan banyak yang ‘miring’ karena telanjur investasi besar-besaran,” kata Himma.

kaya-dari-tanaman.jpg

Semakin semaraknya bisnis tanaman hias, menurut Nurhayati, bagus-bagus saja karena menambah keragaman tanaman hias di sini. Lagi pula, tiap tanaman memiliki penggemar fanatik yang tidak akan begitu saja mengalihkan cintanya ke tanaman lain sehingga petani tetap akan mempunyai pasar.
Membuat meledak
Pemulia tanaman ikut berperan sebab bila hasil tangkaran mereka sukses di pasar sudah pasti bukan hanya nama, tetapi keuntungan ekonomi pun menjadi imbalan. Tak mengherankan bila kebun bibit bermodal kuat bersedia membiayai pemulia mereka melakukan eksplorasi ke hutan mencari tanaman yang berpotensi ekonomi untuk kemudian disilangkan dengan jenis yang sudah dikenal sebelumnya.
“Pasti tanamannya mesti menarik dan unik. Biasanya dari jenis yang memiliki banyak varian, seperti pada aglaonema, adenium, atau euforbia yang katanya membawa rezeki hingga harganya stabil meski tidak spektakuler,” kata Susilo.

anth-hookeri-oval.jpg
Uniknya, tanaman yang menjadi buruan itu dari jenis yang sudah lama dikenal. Anturium sudah menjadi tanaman hias sejak lebih 40 tahun lalu, adenium atau ada juga yang menyebut sebagai kamboja jepang, euforbia, dan aglaonema juga bukan tanaman baru. Tanaman-tanaman ini dijadikan baru melalui persilangan.
Lalu, bagaimana menciptakan tanaman yang akan menjadi populer?
Yang jelas, hal itu belum dapat dilakukan petani tanaman hias. “Mereka bisa membudidayakan, tetapi tidak cukup pengetahuan dan jaringan pasarnya,” kata Susilo.
Jadi, penentu memang kebun bibit berskala besar, komunitas kolektor tanaman, dan media massa. Adapun petani dan kebun bibit berskala kecil mengekor.
Dan, kabar-kabar pun berembus mengantisipasi perkembangan berikut. “Katanya yang berikut adalah bromelia (nanas-nanasan), tetapi kok belum juga muncul. Maunya sih anturium bertahan lebih lama karena memberi rezeki petani dan pencinta tanaman hias,” kata Himma.

Artikel-3

Dari Masa ke Masa
Setelah Anturium, Apa Lagi?

Masyarakat Indonesia punya selera yang unik menyangkut soal tanaman hias. Mula-mula, banyak orang menggandrungi tanaman yang memiliki bunga indah, lalu bergeser pada pepohonan pelindung untuk taman. Belakangan, masyarakat menyukai bunga dalam pot yang bisa dipelihara dalam rumah. Adalah bunga nusa indah yang dikenal menjadi primadona bagi masyarakat Indonesia tahun 1970-an. Saat itu, hampir tidak ada halaman rumah, kantor, hotel, dan toko di kota-kota yang tidak memajang tanaman yang kerap disebut cangkok emas atau daun putri itu. Bunganya yang merah cerah atau putih bersih dianggap melambangkan kesejahteraan pemiliknya. Memasuki tahun 1980-an, selera masyarakat beralih pada bunga bugenvil atau kembang kertas. Meski sempat tersebar mitos tanaman ini beraura panas sehingga menyulitkan kehidupan keluarga yang memeliharanya, bugenvil tetap memikat banyak kalangan. Tanaman dengan bunga warna-warni ini banyak ditanam di pinggir jalan atau pekarangan rumah.

bugenvile.jpgSaat program pembangunan gencar dilakukan di Indonesia pada era tahun 1990-an, berkembang jenis tanaman hias untuk lanskap atau taman terbuka, terutama jenis palem-paleman. Palem yang terkenal adalah palem botol, palem raja, dan ekor tupai. Saat itu, jenis tanaman ini berharga mahal. “Harga palem ekor tupai dewasa bisa mencapai Rp 7 juta. Harga tersebut sudah sangat tinggi zaman itu. Buah palem juga laris di pasaran yang dibeli orang untuk ditanam sendiri,” kata Matius Alberto Mujadi (38), landscaper asal Depok, Jawa Barat. Tak hanya palem, tahun 1990-an juga diwarnai tren tanaman peneduh, seperti kamboja dan cemara udang dengan bentuk semi bonsai. Saat tren, banyak orang yang berburu bonggol cemara udang langsung dari hutan. Banyak pedagang melirik bisnis tanaman cantik ini.

Adenium Bunga

Tahun 2000-an, tren tanaman hias makin cepat berganti. Berawal dari adenium, aglaonema, lantas belakangan terjadi demam anturium. Di sela-sela tiga tren besar itu, masih sempat muncul lagi beberapa tanaman lain, seperti euforbia, philodendron, pachypodium, dan sansiviera. Masing-masing tanaman memiliki keunggulan sendiri-sendiri.

Aglonema

Meskipun demam anturium masih terus berlangsung, kini orang sudah bertanya-tanya, tanaman apa lagi yang bakal naik daun? Diam-diam, sebagian orang sekarang mulai memborong senthe atau kajar-kajar, tanaman talas besar yang banyak tumbuh di pekarangan rumah di Jawa. Diperkirakan, tanaman besar ini bakal makin digemari. Tapi, sebenarnya semuanya masih gelap. Para kolektor, pengusaha, pedagang, dan petani tanaman hanya bisa menduga, tanaman yang bakal jadi tren tentulah yang punya sifat-sifat mirip anturium, adenium, dan aglaonema. Tanaman itu mesti menarik sehingga potensial untuk digandrungi banyak orang. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, stoknya harus cukup.

Anthurium Colonicum

“Tanaman bisa jadi tren kalau gampang dipelihara dan mudah diperbanyak, tetapi biar orang tidak cepat bosan, perbanyakan itu hendaknya menghasilkan variasi baru yang segar, seperti terjadi pada adenium dan anturium,” kata Handry Chuhaery (40), pemilik Han Garden di Serpong, Tangerang. (iam)  

Advertisements
Comments
  1. marriachiku says:

    assalamualikum…
    saya sangat senang membaca tulisan anda. klo bisa kupas secara detail prediksi tren tanaman hias th 2008

    salam kenal
    reno

  2. Eva says:

    hallo Reno,

    Terimakasih atas komentarnya, salam kenal.

  3. gema ireng nursery says:

    lebih banyak artikelnya makin menarik tentunya,pikir-pikir mau ekonomi rakyat ningkat atau hancur

  4. Amalia says:

    Tanaman hias kan emang lagi Booming, tapi… kalo bisa jangan cuma ngandalin bibit-bibit import dari luar dunk!!! jdi.. kenapa gak qta coba produksi bibit sendiri dengan kultur jaringan. Kan qta juga jadi bisa ikutan maju n pinter gt.. Bukan cuma orang0orang luar yang bisa.. Buktikan qta juga BISSA.. Makanya Ikutan KURSUS KULTUR JARINGAN SKALA RUMAH TANGGA yang diadain Pusat Kajian Agribisnis UPN. Bener2 bisa diterapin lhooo,,,,

  5. mimi says:

    makasii ya infonyh.. : )

  6. risa says:

    wah…rupanya diluar kota tasikmalaya pun demam TANAMAN HIAS JUGA… tapi harganya kenapa gila2an gitu sih… THX buat infonya..

  7. devayasa says:

    anthurium hebat membius semua masyarakat buat aja sekalian koperasi buat nampung oc dengan harga standar supaya makin ramai…..

  8. Motik says:

    Walaupun saya pribadi kurang mengerti soal tanaman..
    Namun dari keluarga saya sangatlah suka soal tanaman termasuk anthurium ini..Sehingga kalau ada pihak yang ingin memiliki termasuk jenis yang besar (setinggi +/- 2 m) bisa menghubungi saya..

  9. Eva says:

    Aih motik…ini blog bukan buat jualan hehehehehe, btw thanks atas komennta.

    Salam,

    Eva

  10. annisa says:

    tolong tampilin gambar/fhoto tanaman sente

  11. handy says:

    Alooo,,, assalamu alaikum,,,

    salam kenal yah,,, saya senang membaca tulisannya,,
    n setuju sm marriachiku,,, kalo bisa tolong kasi info prediksi tanaman yang bakal rame tahun ini,,,

    best regard,,,

  12. ontheatreindonesia says:

    assalamualaikum…

    wah..menarik betul ya klo kita mengamati terus perkembangan dunia tanaman hias, kayaknya ga ada abisnya. Perputaran bisnis ini tambah hari kian marak, sampe-sampe tanaman yang dulu dibabatin abis oleh kakek pun jadi laku. Seperti talas/senthe/kajar/joko towo/lompong, dsb. Apakah ini menunjukkan bergesernya tren tanaman hias pada produk lokal (habitat asli Indonesia)? Mungkin saja sih… karena melihat berbagai segi aspek kehidupan di tanah air mulai kembali pada kekayaan kultural nenek moyang. Oya…sampai 1-2 minggu ke depan di jatim lagi marak even bursa tanaman hias dan berbagai kontes tanaman hias lo…

    salam kenal
    nanda sukmana

  13. chai says:

    makasi byk buat infonya kk…
    n_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s