Archive for November, 2007

Petualangan Sejati Sejatinya Guru

Posted: November 21, 2007 by Eva in Pendidikan

 

Penulis : Butet Manurung

Judul    : Sokola Rimba (Petualangan Belajar Bersama Orang Rimba)

Penerbit : Insist Press, Yogyakarta

Edisi : I, Juni 2007

Tebal : 250 halaman

Harga : Rp 38.000

ISBN : 979-3457-83-x

PETUALANGAN SEJATI SEJATINYA GURU

sokola-rimba.jpg

Ibuk, ado akehlah melawon?

Ee..akeh lagi lolo…apolah pintar?

Ado akeh todo lah tokang molajoko kanti?

(Ibu apa aku sudah pintar, ah aku masih bodoh, eh apa sudah pintar? apa aku nanti bisa mengajar orang?

Itu sebagian pertanyaan yang muncul dari bocah-bocah yang hidup di tengah rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, yang ditujukan kepada Butet Manurung. Butet mengalami banyak kesulitan di awal pendekatannya dengan masyarakat adat yang tinggal di TNBD Jambi itu untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Di kalangan masyarakat adat, yang biasa disebut orang rimba, ada pendapat “mending bodoh daripada pinter tetapi buat minterin orang”. Butet disangka akan mengubah adat mereka. Mereka pun sangat marah terhadap Butet. Sempat terucap dari tetua adat, “Jangan usik-usik adat kami!”

Pada akhirnya perempuan bernama Saur Marlina Manurung ini mendapat jalan masuk ke masyarakat rimba. Ketika itu ada dua orang rimba yang datang pada Butet minta diajari baca tulis. Dari dua orang itulah, sistem kader yang diterapkan Butet berhasil. Anak rimba yang minta diajari baca tulis semakin banyak. Hingga pada suatu ketika berdirilah sokola rimba alias sekolah rimba.

Model sekolah alternatif seperti sokola rimba tak cuma ada di Jambi. Butet keluar masuk hutan dan menyambangi beberapa suku terbelakang yang tersebar di berbagai daerah seperti Aceh, Makassar, Bulukumba, Flores, Halmahera, Klaten, dan Bantul.

Kerja keras dan keseriusan Butet memberikan pendidikan kepada komunitas-komunitas terpinggirkan dan terbelakang telah menyita perhatian masyarakat pendidikan. Membaca buku Sokola Rimba (Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba) tak ubahnya menyimak catatan harian Butet Manurung. Larik-larik kalimatnya dituturkan secara sederhana. Tidak menjadikan pembaca merasa seperti diceramahi. Melainkan mengajak imajinasi pembaca terbang ke alam rimba belantara di pedalaman Jambi. Banyak kisah pahit-getir menjelajah hutan dan kehidupannya bersama orang rimba (OR) yang disebutnya amat bersahaja.

Ada episode-episode yang bisa membuat tertawa geli menyimak kisah-kisah orang rimba yang udik, konyol, dan lugu. Ada pula penggalan yang bisa membuat decak kagum saat Butet mengungkap tradisi luhur dan sistem sosial orang rimba.

Pada bagian pertama buku ini, Butet menulis tuntas kisah pribadinya: dari menyusup di antara celah dedaunan belantara, akar bahar raksasa, selapisan tanah yang mengendap selama berabad-abad, dan pohon jangkung sialang (madu) yang disucikan, hingga ketakutannya hidup di tengah dangau sendirian, seperti tercampak di dunia yang gaib, rahasia, dan sekaligus menjadi ruang sengketa terbuka, yang sempat membuatnya menggigil saat gelap menyelimuti malam.

Memang, masih banyak orang yang mau mengajar untuk komunitas terpencil dan terbelakang yang masih tinggal di tengah-tengah hutan. Namun, berbagai rintangan banyak pula yang menyurutkan semangat para guru. Bukan saja karena pola kehidupan mereka masih sangat sederhana sehingga banyak menolak kehadiran orang luar. Tantangan datang dari sulitnya medan, diperparah lagi risiko yang dihadapi selama berada di tengah hutan, seperti terserang penyakit, dihisap pacet, diterkam harimau dan dipatuk ular.

Menulis, Membaca dan Berhitung

Butet menelusup hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi berawal dari keterlibatannya dalam Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI Warsi), sebuah organisasi yang bergerak sebagai fasilitator pendidikan. Aktivis muda progresif yang mengantongi dua ijazah, Antropologi dan Bahasa ini, tugas awalnya hanya sebagai pemberi informasi kepada orang rimba tentang peran penting mereka untuk menjaga hutan secara umum.

Ia mengawali pendekatannya dengan pendidikan, yang diyakini sebagai awal dari segala perubahan sikap. Butet secara tidak sengaja mengawali petualang hidupnya dengan menjadi salah satu pendiri model sekolah nonformal yang diselenggarakan di rimba.

Setelah sekian lama berinteraksi, Butet sadar bahwa orang-orang rimba hanya butuh sekelumit pengetahuan tentang baca, tulis, dan berhitung untuk berinteraksi dengan orang lain di perkotaan. Mereka tak perlu diceramahi bagaimana menjaga hutan. Mereka tak perlu diajarkan ilmu konservasi yang njlimet hanya untuk memahami kenapa hutan perlu bestari. Butet justru harus bia menggali keunggulan orang rimba dan membantu mereka ketika berhadapan dengan persoalan dengan masyarakat luar.

Pergulatan nurani Butet sangat terlihat saat melihat laporan-laporan dan foto-foto kegiatannya dijadikan kunci mengalirnya dana dari lembaga donor penyokong uang operasional. Butet tersiksa. Nuraninya berontak. Ia keluar dari KKI Warsi. Perempuan yang menghabiskan masa kecilnya di Leuven, Belgia ini memilih mengelola sekolah rimbanya tanpa keterlibatan lembaga manapun.

Namun, jangan membayangkan Sokola Rimba Butet adalah sepetak bangunan bertembok beratap layaknya sekolah. Sokola Butet hanya dangau kecil tak berdinding, tak beratap, agar jika tak dibutuhkan lagi bisa segera ditinggalkan. Sokola rimba adalah sekolah nomaden, justru sekolah yang mendatangi murid.

Maka jika ditanya, di manakah alamat Sokola Rimba itu, maka Butet menjawab enteng: pada koordinat 01′ 05’’1 LS – 102′ 30’’ BT, alias lokasi Taman Nasional Jambi. Letak sekolahnya memang tak pasti desa maupun kecamatan.

Di sekolah, Butet membagikan buku tulis bergaris, pensil, dan pena yang dia punyai. “Murid” yang tidak kebagian disilakan mengambil ranting dan menggarisi tanah. Suatu ketika saat tiba waktu belajar menggambar, seorang murid menangkap seekor kijang kecil. Binatang lucu itu ditidurkan di atas kertas dan mulailah sang murid menggambar ruas-ruas tubuh kijang tersebut.

Sulitnya Menjadi Guru

bersama-anak2.jpg

Di bagian kedua, buku ini menawarkan opini yang lebih non-diari kehidupan orang rimba. Butet menggugat pandangan orang luar (non-rimba) yang menganggap orang rimba butuh belas kasihan, yang justru menjadikan orang rimba makin rendah diri.

Butet juga menentang anggapan bahwa orang rimba terbelakang, tak berbudaya. Pengalamannya tinggal bersama orang rimba mencatat kehidupan mereka mandiri dan ramah lingkungan, selama tak ada gangguan dari orang luar.

Sokola Rimba juga menjadi sekolah nonformal yang menurutnya lebih mengakrabkan masyarakat adat, terpencil dan terasing. Sekolah yang bukan hanya bisa baca-tulis-hitung, namun juga bisa memberikan pilihan-pilihan kepada orang rimba memilih dan sadar akan pilihannya.

Perjuangan tak kenal lelah Butet itu banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Ia menerima banyak penghargaan. Misalnya Man and Biosphere Award 2000 dari LIPI, Woman of the Year bidang pendidikan dari ANTV Jakarta (2004), Heroes of Asia Award kategori konservasi dari Majalah TIME (2004), penghargaan pendidikan untuk anggota masyarakat biasa dari Menteri Pendidikan Nasional, penghargaan perempuan dalam bidang keadilan dari PEKA, dan penghargaan dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (2005).

Kisah Butet bukan hanya catatan tentang etnografi rimba dan upaya dia mendirikan sokola rimba. Melainkan juga kitab kearifan tentang hidup berdampingan dengan manusia-manusia terpinggirkan dan terasing.

EVA ROHILAH

Dimuat di Majalah Guru edisi-4 November 2007

Ketika Musim Sertifikasi Tiba

Posted: November 21, 2007 by Eva in Pendidikan

KETIKA MUSIM SERTIFIKASI TELAH TIBA

Setelah menunggu satu tahun delapan bulan, sejak Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diterbitkan, akhirnya pemerintah menggunakan Peraturan Mendiknas No 18/2007 sebagai landasan hukum pelaksanaan sertifikasi untuk guru dalam jabatan. Mulai September 2007, sebanyak 200.450 guru akan disertifikasi. Mereka terdiri dari 20.000 guru yang sudah di daftarkan pada tahun 2006 dan 180.450 guru yang didaftar pada tahun 2007.

WAJAH Alidin (40) berseri-seri. Ia adalah salah satu dari 478 guru yang lulus uji sertifikasi kuota 2006 yang diadakan oleh Universitas Negeri Makassar. Artinya, sebentar lagi, guru SD Negeri III Mangkura Makassar itu akan meraih sertifikat pendidik, sekaligus menyandang predikat guru profesional.

Pada Oktober 2007 Alidin menerima tunjangan profesi sebesar sekali gaji pokok. Sebagai seorang sarjana dengan masa kerja pegawai negeri sipil lebih dari 12 tahun, gaji pokoknya sekira Rp 1,5 juta. “Ya, lumayan tambahan rezeki buat menambah kebutuhan rumah tangga serta pendidikan anak-anak,” ujar ayah dari dua anak ini dengan wajah sumringah.

Alidin adalah satu di antara sekian banyak guru yang beruntung mengikuti sertifikasi gelombang awal tahun ini. Sebaliknya, beberapa guru SD yang baru saja melihat papan pengumuman di Lantai III Gedung Rektorat UNM, lesu darah. Mereka, di antaranya, adalah Rahim (guru SDN Sudirman Makassar) dan Ruslan (guru SMPN 12 Makassar). Status kelulusan mereka masih tertunda. Pada lajur nama mereka tertera kode DPG, singkatan dari Diklat Pendidikan Guru. Itu berarti, untuk meraih sertifikat pendidik dan tunjangan profesi mereka harus lebih dulu ikut pendidikan dan latihan dari asesor UNM.


Di lain pihak, yang terpaksa menunda kegembiraan adalah guru-guru yang pada nama mereka tertera kode verifikasi. Namun, mereka ini lebih beruntung karena berkas portofolio cuma butuh penyesuaian karena beberapa lembar berkas ternyata belum sempat dilegalisasi oleh atasan atau pengawas.

Yang paling sedih adalah yang diberi keterangan tidak lulus karena total skornya kurang dari rentang nilai 850—1.500 yang dipersyaratkan. Penyebabnya, macam-macam. Bisa saja yang bersangkutan melampirkan bukti palsu atau hasil plagiat. “Ini soal martabat profesi guru. Jangan main-main,” kata Eko Hadi Pujiono, Ketua Pelaksana Sertifikasi Universitas Negeri Makassar.

OPTIMALISASI DAN FUNGSI KONTROL

Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Tujuannya untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran, meningkatkan profesionalisme guru, serta mengangkat harkat dan martabat guru. Proses sertifikasi dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah.

Mengingat pelaksanaan sertifikasi merupakan kerja nasional yang melibatkan banyak pihak, jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan sertifikasi bergulir, Depdiknas mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kepmendiknas) Nomor 056/P/2007 tentang pembentukan Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG). KSG bertugas merumuskan standardisasi proses dan hasil sertifikasi guru, serta melaksanakan harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan sertifikasi guru.

Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) dr. Fasli Jalal, PhD, menjelaskan keanggotaan KSG melibatkan unsur Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti), PMPTK, wakil dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), universitas eks IKIP dan Departemen Agama.

“Konsorsium menjadi governing board untuk mengawasi, mengontrol, dan melakukan pembuatan kebijakan agar proses sertifikasi berjalan dengan baik, transparan, akuntabel dan cost efficient,” ungkap Fasli pada acara koordinasi penyelenggaraan sertifikasi guru dalam jabatan, beberapa waktu lalu.

Aktivitas KSG lainnya adalah melakukan koordinasi antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dengan Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten/Kota, dan LPTK dengan KSG. KSG juga melaksanakan monitoring dan evaluasi serta merumuskan rekomendasi dalam rangka pengendalian proses dan hasil sertifikasi guru. LPTK induk ditetapkan di Jakarta, Malang, Solo dan Jogjakjarta.

Tahun ini, sebanyak 200.450 guru kelas dan guru mata pelajaran untuk semua jenjang pendidikan baik PNS dan non PNS mengikuti sertifikasi. “Mereka terdiri dari 20.000 guru yang sudah didaftarkan pada tahun 2006 dan 180.450 guru yang didaftar pada tahun 2007,” Fasli menjelaskan. Kuota peserta dari berbagai kabupaten/kota ditetapkan sejak awal tahun dan telah dilakukan sosialisasi tatacara uji sertifikasi.

Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 menyatakan sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio. Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. “Semua guru yang sudah ditetapkan dalam kuota, mengumpulkan data-data dirinya dalam portofolio, termasuk semua dokumen yang berhubungan dengan kualifikasinya, pengalaman,pendidikan,dan pelatihan,” kata Fasli.

Lebih lanjut, Fasli menjelaskan terdapat 10 komponen portofolio yang meliputi (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi dibidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

PENILAIAN PORTOFOLIO

Sebulan setelah pelaksanaan sertifikasi berjalan, Fasli Jalal dan Direktur Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Muchlas Samani melakukan jumpa pers mengenai hasil penilaian dokumen portofolio sertifikasi guru, di Gerai Informasi Depdiknas. Penilaian tahap pertama ini diperuntukkan bagi peserta uji sertifikasi guru tahun 2006 dengan jumlah kuota 20.000 guru.

Sebanyak 31 rayon induk perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan, telah menyelesaikan penilaian tahap pertama dokumen portofolio peserta sertifikasi. Penilaian tahap pertama ini diperuntukkan bagi peserta sertifikasi guru tahun 2006 dengan jumlah kuota 20.000 guru. Sampai dengan batas akhir penerimaan dokumen portofolio tahun 2006, jumlah dokumen yang telah masuk ke perguruan tinggi menurut daftar peserta dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota adalah 18.864 dari 20.000 kuota tahun 2006. Sisanya belum dikirim ke perguruan tinggi.

“Kepada mereka yang sudah lulus, tunjangan profesi akan langsung dibayar mulai Oktober 2007. Kemudian bagi yang sedang melakukan perbaikan akan kita minta untuk memperbaiki portofolionya dan bagi yang mengikuti diklat akan kita undang untuk mengikuti diklat bersama dengan teman yang kita uji sertifikasi dengan kuota tahun 2007,” ujar Fasli menegaskan.

Sementara itu, Muchlas Samani, yang juga bertindak sebagai ketua tim sertifikasi menjelaskan jika perguruan tinggi telah menyelesaikan penilaian dan menyerahkan hasilnya kepada KSG pada tanggal 25 September 2007. Masih banyaknya dokumen portofolio yang belum dikirim disebabkan adanya penggantian peserta oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota karena peserta yang telah ditetapkan tersebut sudah tidak menjadi guru (pensiun, alih tugas ke pengawas, struktural) dan banyak guru yang terlambat mengirim portofolio ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Hasil penilaian dokumen portofolio yang diterima dari 31 rayon induk perguruan tinggi, 8.484 dinyatakan lulus (48,94%). Sisanya, lebih dari 7.500 mengikuti diklat profesi guru, dan ratusan lainnya melengkapi portofolio.

Sementara itu, peserta lain yang belum diputuskan hasil penilaiannya oleh perguruan tinggi dikarenakan beberapa hal yaitu: peserta tercatat dalam daftar peserta dari kabupaten/kota tetapi dokumen portofolio tidak ada/tidak dikirim, peserta tidak ada nilainya dan sedang konfirmasi dengan perguruan tinggi, dokumen portofolio guru agama, dokumen dikembalikan karena tidak lengkap atau hanya berisi kumpulan fotokopi dokumen, dokumen perlu klarifikasi ijasah, dan dokumen diragukan ada indikasi kecurangan.

Perguruan tinggi telah menyampaikan hasil penilaian portofolio tahap pertama ini kepada Ditjen Dikti, Ditjen PMPTK, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Selanjutnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setelah menerima laporan hasil penilaian portofolio dari perguruan tinggi, menginformasikan hasil penilaian tersebut kepada guru yang bersangkutan. Disamping itu, guru dapat langsung melihat hasil penilaian portofolio dari perguruan tinggi melalui website www.sertifikasiguru.org.

Guru yang dinyatakan lulus akan mendapat sertifikat pendidik yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi, dan nomor registrasi guru yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional melalui Ditjen PMPTK. Sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru sedang dalam proses penyelesaian.

Guru yang telah dinyatakan lulus sebelum bulan Oktober 2007, memiliki sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru, serta memenuhi beban kerja mengajar 24 jam per minggu akan mendapatkan tunjangan profesi terhitung mulai Oktober 2007.

Dokumen yang harus disiapkan guru untuk mendapatkan tunjangan profesi adalah SK kenaikan pangkat terakhir dan SK kenaikan gaji berkala yang telah dilegalisasi oleh kepala sekolah (bagi guru PNS), SK inpassing jabatan fungsional guru bukan PNS yang dilegalisasi oleh kepala sekolah dan yayasan (bagi guru bukan PNS), surat keterangan beban kerja guru mengajar dari kepala sekolah pada satuan pendidikan dimana guru tersebut menjadi guru tetap serta fotokopi nomor rekening bank/pos.

Jika guru mengajar lebih dari satu sekolah, masing-masing sekolah membuat surat keterangan yang akan digunakan sebagai data pendukung bagi kepala sekolah pada satuan pendidikan dimana guru tersebut menjadi guru tetap yang akan membuat surat keterangan beban kerja. Pembayaran tunjangan profesi dapat dibatalkan apabila ditemukan bukti bahwa guru yang bersangkutan memalsukan data dokumen yang dipersyaratkan dalam pemberian tunjangan dan sertifikat pendidik yang bersangkutan dinyatakan batal.

Guru yang diputuskan untuk melengkapi portofolio, segera melengkapinya dan diserahkan kembali ke perguruan tinggi yang bersangkutan paling lambat 2 minggu setelah diumumkan. Bagi guru yang dinyatakan belum lulus dan harus mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) profesi guru, segera mempersiapkan diri untuk mengikuti diklat tersebut yang rencana akan dimulai pada November 2007. Perguruan tinggi akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota untuk penjadwalan dan pelaksanaan diklat profesi guru tersebut.

Sesuai Undang-Undang Nomor 14 tentang Guru dan Dosen bahwa pelaksanaan sertifikasi guru menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Oleh karena itu, perlu dukungan dana dari pemerintah kabupaten/kota melalui dinas pendidikan kabupaten/kota dan pemerintah provinsi melalui dinas pendidikan provinsi untuk dapat membantu pendanaan bagi guru yang mengikuti diklat profesi guru tersebut berupa dana transportasi dan uang harian peserta selama mengikuti diklat profesi guru.

Adapun tempat dan waktu pelaksanaan diklat profesi guru akan ditentukan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan setelah berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota dan dinas pendidikan provinsi. “Sekarang ini LPTK mulai melakukan penilaian tahap kedua yaitu angkatan tahun 2007 dan mempersiapkan diklat profesi yang kita harapkan akan dimulai pada bulan November, sehingga pada bulan Desember semuanya sudah selesai 31 Rayon dari Aceh sampai ke Jayapura,” ungkap Muchlas Samani menambahkan

proses-sertifikasi-di-rayon15lptkuniversitasnegerimalang.jpg

FILOSOFI SERTIFIKASI

Beragam reaksi muncul dari guru, asesor, LPTK dan juga pengamat pendidikan tentang pelaksanaan tahap pertama sertifikasi ini. Masalah sosialisasi, kecurangan, minimnya pemahaman dalam penyusunan portofolio, dan urutan siapa yang duluan disertifikasi menjadi evaluasi bagi KSG dalam pelaksanaan sertifikasi tahap berikutnya.

Rendahnya angka kelulusan dalam penilaian portofolio semakin membuktikan bahwa dengan adanya sertifikasi, semakin ketahuan sejauh mana sebenarnya kemampuan para guru dan ada yang harus dibenahi berkaitan dengan penertiban tugas guru.

Berdasar laporan LPTK penyelenggara penilaian portofolio, tingkat kelulusannya di bawah 50%. Karena banyak yang tak lulus, nantinya akan ada proses penertiban penugasan guru. “Syarat memperoleh sertifikasi di antaranya mengajar minimum 24 jam seminggu. Setelah disertifikasi banyak guru yang hanya mengajar enam jam, delapan jam. Berarti selama ini penugasan guru di negeri kita ini tidak efisien,” ujar Giri Suryatmana, Sekretaris Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan.

Selain itu, menurut lelaki kelahiran Bandung 30 September 1955 ini, masalah sosialisasi dan urutan siapa yang duluan disertifikasi adalah dua aspek yang banyak dibahas dalam evaluasi pelaksanaan sertifikasi “Ada dua evaluasi, pertama masalah sosialisasi, dan yang kedua masalah penentuan ranking atau urutan siapa yang duluan siapa yang belakangan,” ungkapnya singkat.

Berkaitan dengan sosialiasasi Fasli Jalal menjelaskan bahwa perlu dorongan berbagai pihak untuk melakukan sosialiasasi. “Perlu kita jelaskan benar, bahwa pengiriman surat kepada kepala dinas untuk sosialisasi itu memang tidak cukup, maka tahun depan itu kita akan membuat iklan di koran-koran daerah di samping iklan di koran-koran nasional. Di samping itu kita juga membuat website sertifikasi guru, ada juga website PMPTK (www.pmptk.net),” ujarnya penuh semangat.

Berkaitan dengan kecurangan yang ditemui di beberapa rayon, menurut Muchlas Samani, memang ada beberapa kecurangan seperti yang terjadi di UNM Makassar namun jumlahnya tidak signifikan.

“Tingkat kecurangan memang ada, namun sangat rendah. Saat ini LPTK yang bersangkutan sedang menelusurinya. Indikasinya nanti kita panggil orangnya untuk di klarifikasi. Misalnya begini ada dua karyatulis yang nampaknya mirip, kita kan tidak bisa bilang kalau guru itu plagiat, maka kita panggil dua-duanya apakah dia plagiat atau bukan,” tegas lelaki berkacamata itu singkat .

Sejatinya, menurut Giri Suryatmana, beberapa kecurangan dan beberapa kecurigaan terhadap pelaksanaan sertifikasi itu tidak akan terjadi jika para guru menyadari akan filosofi pelaksanaan sertifikasi. Para guru harus menyadari betul perannya sebagai pendidik yang mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Bagi yang sudah melakukan kecurangan itu sudah mati kutu atau bunuh diri. Yang paling penting sebetulnya, memberikan kesadaran sertifikasi itu bukan mengejar sertifikat saja, tapi mencari peran yang lebih luhur yaitu mengemban misi profetis. Filosofi sertifikasi itu sebenarnya ingin meneguhkan kembali peran guru. Karena para guru mengemban amanah umat mencerdaskan generasi bangsa” ujar Giri tegas.

Sertifikasi guru memang merupakan kerja besar nasional. Besar dan ruwetnya pekerjaan terbayang dari jumlah 2,7 juta guru TK-SMA yang harus disertifikasi. Konsekuensinya, butuh tenaga penilai, yaitu ribuan orang asesor dengan kualifikasi dosen yang ditunjuk oleh satuan LPTK. “Tahun ini saja butuh 4.010 asesor,” kata E Nurzaman, Kepala Subdit Program Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK, Depdiknas.

Menurut Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, program sertifikasi guru harus tuntas tahun 2015. Keputusan untuk menyertifikasi guru, kata Mendiknas, sudah dipuji oleh Bank Dunia sebagai langkah luar biasa di dunia. “Sertifikasi semua guru dalam jabatan di Indonesia merupakan kebijakan reformasi terbesar di dunia dalam peningkatan kualitas guru,” ujar Bambang Sudibyo bangga.

EVA ROHILAH

Dimuat di Majalah Guru Edisi-4 November 2007

Agenda Budaya dan Pameran November 2007

Posted: November 15, 2007 by Eva in Agenda

  

Agenda November 2007  


1. Bandung - Kamis, 8 November 07 

Pentas Teater "Cupak Tanah" persembahan Sanggar Banyuning  (Buleleng, Bali)

 CCL - Jl. Setia Budhi No. 8 / 169 A Ledeng Bandung 

Pukul 20.00 WIB

2. Depok – Kamis, 8 November 07

FIB UI, Studi Klub Sejarah dan Komunitas Bambu mengundang Anda untuk menghadiri
Diskusi Buku “Greget Tuanku Rao” karya Basyral Hamidy Harahap

MENGUJI KEPAHLAWANAN TUANKU IMAM BONJOL & TUANKU TAMBUSAI
Tempat:
Gedung IV Ruang 4101 FIB UI Kampus UI Depok

Pembicara:
– Basyral Hamidy Harahap (Penulis buku Greget Tuanku Rao)
– Indra Jaya Piliang (Peneliti di CSIS)
– Kasijanto Sastrodinomo(Pengajar di Dept. Sejarah FIB UI)

3. Surakarta – Sabtu, 11 November 07

250 years of the Mangkunegaran Court in 2007

Theme: ONCE IN A LIFE TIME EVENT
Venue: The Mangkunegaran Court, Surakarta.
Time: 07.00 pm

Programs:
– A Cosmopolitan dinner at the Court of the Mangkunegaran
– The Amari Orchestra
– A Colossal Dance Perfomance of THE RISE OF THE MANGKUNEGARAN COURT (ADEGING PRAJA MANGKUNEGARAN) with 250- 300 dancers, elephants, horses, etc.

 
4. Surabaya – Senin, 12 November 07

Pentas Teater “Cupak Tanah” persembahan Sanggar Banyuning (Buleleng, Bali)

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya.

Pukul 20:00 WIB

5. Jakarta – 14 s/d 18 November 2007

Pergelaran Monolog Butet Kartaredjasa: S A R I M I N
sebuah kolaborasi bersama: Agus Noor, Pradjoto dan Djaduk Ferianto
dipentaskan dalam Art Summit V Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta
pukul 20.00

Tiket: Rp. 50.000,-/ Rp. 75.000,-/ Rp.100.000,-/Rp.150.000,-

6. 27th Indonesia Book Fair

14 s/d 18 November 2007

Indonesian Book Publishers Association (IKAPI) presents:The Largest Book Exhibition in Indonesia

“Gorontalo the Hidden Paradise”November 14 – 18 200710.00 AM – 09.00 PMAssembly Hall & Main Lobby, Jakarta Convention CenterBooks Collecting to be Donated to Gorontalo Province by Komunitas 1001 buku Gorontalo Art Culture PerformancesPainting on T-ShirtOrganized by Dyandra Promosindo and Radyatama.

 Gerai Indonesia Mulai Dilirik

Pada tahun 2008, gerai Indonesia di Frankfurt Book Fair seharusnya minimal dua kali lipat besarnya dari tahun ini. Begitu tekad yang dicanangkan oleh segenap insan perbukuan dari Indonesia di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Frankfurt, Jerman, beberapa waktu lalu, di sela-sela penyelenggaraan pameran buku terakbar di dunia, FBF 2007.

Optimisme mereka untuk membuka gerai yang lebih luas bukannya tanpa dasar, mengingat “kesuksesan” yang ditandai dengan meningkatnya tawaran kerja sama bisnis dari penerbit mancanegara suatu hal yang langka daripada tahun-tahun sebelumnya.

Dilirik pengunjung

fbf-1.jpg 

Penampilan gerai Indonesia yang dikelola oleh Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) memang berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kendati masih belum seluas dan semegah gerai negara-negara Asia lainnya, seperti China, Jepang, bahkan negara tetangga Singapura yang kebetulan tahun ini lokasinya bersebelahan, gerai Ikapi kali ini jauh lebih luas, yakni 64 meter persegi. “Sebelum ini gerai Ikapi paling luas hanya setengahnya dari sekarang,” kata Nova Rasdiana, pengurus Ikapi yang ditunjuk sebagai salah satu dari dua project officer (PO) gerai Ikapi pada pameran kali ini.

Penampilan gerai Indonesia sendiri masih tergolong sangat sederhana karena hanya menggunakan partisi standar tanpa ada desain khusus bahkan ornamen atau facia (hiasan di sekitar nama gerai) yang mencirikan Indonesia pun tidak ada alias polos. Kalaupun ada ciri yang mewakili Indonesia, itu hanyalah pada warna gerai yang dominan warna merah dan putih.

Tak hanya penampilan luar dan desain konstruksi gerai yang standar, interiornya pun sangat sederhana. Ruang dalam gerai hanya terdiri dari beberapa rak dinding, floor display, 4 set meja kursi, dan 2 buah lemari kecil. Seperti halnya dengan penampilan luarnya, interior di dalam gerai juga polos tanpa hiasan apa pun yang mencirikan Indonesia. Kalaupun ada hiasan, hanyalah sebuah backdrop digital printing ukuran kecil bertuliskan “Ikapi” yang ditempel di tengah-tengah gerai yang bergambar beberapa orang berpakaian tradisional Bali sedang menari kecak.

Penampilan gerai Ikapi ini sangat sederhana dibandingkan dengan gerai dari negara-negara tetangga di ASEAN yang hampir semuanya dengan desain khusus dihiasi ornamen khas negara masing-masing. Satu hal yang menarik dan sempat menjadi pembicaraan warga Indonesia selama pameran adalah gerai Malaysia yang menampilkan wayang kulit sebagai hiasan ornamen gerainya.

Kendati penampilannya masih sangat sederhana, dalam kenyataannya gerai Ikapi selama pameran tak pernah sepi pengunjung. Ini yang di luar dugaan karena sepanjang sejarah keikutsertaan di Frankfurt Book Fair (FBF) baru kali ini gerai Ikapi banyak dikunjungi. “Terus terang kita tidak menduga kalau gerai kita akan dikunjungi orang sebanyak ini,” ujar Raja Manahara Hutauruk dari penerbit Erlangga, PO Ikapi yang bertanggung jawab mempersiapkan gerai Ikapi mulai dari pencarian dana dan sponsor, pembangunan gerai, hingga pelaksanaan kegiatan selama pameran.

Selama lima hari pameran, lebih dari 500 orang dari berbagai negara mengunjungi gerai Ikapi. Dari kartu nama yang ditinggalkan, hampir separuhnya (47 persen) dari kalangan penerbit buku, disusul dari percetakan sekitar 25 persen, sisanya terdiri dari distributor, agen, perpustakaan, LSM, dan orang-orang yang punya kedekatan khusus dengan Indonesia. Sementara itu, dari asal negaranya sebagian besar datang dari Asia dan Timur Tengah (60 persen), Eropa sekitar 35 persen, sisanya dari Amerika dan Afrika.

Hal yang cukup menggembirakan, pengunjung mancanegara itu banyak yang menaruh minat terhadap buku-buku terbitan Indonesia, bahkan beberapa di antara mereka tertarik membeli hak cipta. “Ada 13 penerbit yang tertarik membeli right dari kita,” kata Wahyu Priyanto, salah seorang panitia pelaksana pameran dari Ikapi yang ikut menjaga gerai.

Buku Asia Africa: Towards the First Century terbitan BAB Publishing menarik perhatian Munsachol Project (under the Ministry of Foreign Affairs of Korea) sehingga rencananya akan diterjemahkan ke dalam bahasa Korea. Publishing House BALBÈ penerbit dari Lituania tertarik membeli hak cipta buku The Tarot Wayang terbitan Grasindo dan menerbitkannya di Lituania. Buku-buku Cerita Anak Nusantara yang diterbitkan Erlangga juga diminati para penerbit dari Eropa, antara lain dari Jerman dan Hongaria. Penerbit-penerbit itu umumnya menawarkan kerja sama dalam bentuk barter hak cipta.

Mengejar Hak Cipta

Sebagian besar buku yang diminati penerbit mancanegara adalah buku-buku yang unik dan khas Indonesia, seperti tentang seni dan budaya, pariwisata, maupun yang berkaitan dengan sejarah Indonesia. Namun yang cukup menarik, buku-buku anak dan buku tentang Islam di Indonesia juga diminati.

ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) di Singapura misalnya tertarik dengan buku-buku terbitan Mizan seperti Why Muslim Participate in Jihad dan buku Islam in the Indonesian World. Selain itu, ISEAS juga berminat pada buku Islamic Banking terbitan RajaGrafindo Persada. “Saya enggak menyangka buku tentang Islam yang saya bawa ternyata ada yang berminat membeli copyright-nya. Soalnya, terus terang sebelum berangkat kami tidak berharap apa-apa dalam pameran ini, hanya sekadar memamerkan buku-buku yang kami punya,” kata Nova Rasdiana, Presiden Direktur RajaGrafindo Persada.

Dalam pameran ini tak hanya buku dari Indonesia yang diminati oleh penerbit mancanegara, tetapi mereka juga berminat mencetak buku di Indonesia. Untuk pertama kalinya gerai Indonesia mengikutsertakan industri percetakan dalam FBF tahun ini. Ternyata, kehadiran dua perusahaan percetakan, Indonesia Printer dan Jayakarta Agung Offset, tidaklah sia-sia. Tak kurang dari 25 penerbit dari Eropa dan Brasil menaruh minat untuk mencetak buku, terutama buku jenis artbook di Indonesia.

“Paling tidak, dua penerbit sudah hampir pasti mencetak buku di tempat kita. Belum banyak sih, tetapi sebagai awal sudah cukup bagus,” ujar Victor Ho, Direktur Marketing Indonesia Printer. Dari segi kualitas, percetakan kita tidak kalah dengan negara-negara lain, seperti China dan India, yang selama ini banyak mendapat order cetak dari penerbit Eropa. “Kita masih sering kalah dalam soal harga dengan China,” katanya.

Sambutan pengunjung yang di luar dugaan dan sangat menggembirakan dalam sejarah keikutsertaan Indonesia dalam FBF 2007 ini menunjukkan, industri perbukuan di Indonesia sebenarnya cukup potensial dan prospektif bagi pasar global. Sudah saatnya industri buku Indonesia tampil lebih percaya diri dan tidak ragu menampilkan potensi yang dimiliki dalam pameran buku terakbar seperti ini.

“Kita sebelum ini memang kurang percaya diri dengan produk kita sendiri. Apa ada yang tertarik dengan buku-buku kita? Namun, melihat begitu antusiasnya pengunjung terhadap potensi industri buku Indonesia seperti yang kita saksikan selama lima hari pameran ini, saya kok optimistis,” kata Manahara. Karena itu, pada tahun-tahun mendatang, selain penerbit dan percetakan, sudah waktunya penulis-penulis Indonesia juga hadir di Frankfurt. “Kita punya banyak penulis hebat dan bisa lebih hebat dari Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya,” kata Manahara menambahkan.

Untuk mewujudkan hal itu, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah dengan memperluas ukuran gerai pada tahun-tahun mendatang. “Kalau ditanggung secara bersama, saya yakin kita bisa bikin gerai yang jauh lebih besar dibandingkan dengan sekarang. Apalagi kalau penerbit-penerbit besar seperti Gramedia, Agromedia, dan penerbit besar lain ikut berpartisipasi lebih, enggak hanya titip buku, pasti gerai Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain. Kita enggak perlu bikin gerai sendiri-sendiri. Kita berkumpul jadi satu sehingga gerai kita bisa lebih luas dan lebih bagus dari yang ada sekarang. Ini juga dilakukan negara-negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand,” ujar Nova Rasdiana.

Keikutsertaan Ikapi dalam pameran ini memang belum optimal. Selain karena hampir tidak mendapat bantuan sama sekali dari pemerintah, kecuali bantuan dari pihak konsulat jenderal setempat, juga belum didukung sepenuhnya oleh kalangan industri buku, utamanya penerbit-penerbit besar. Dari 59 penerbit yang ditawari menjadi sponsor, hanya 10 penerbit yang akhirnya ikut berpartisipasi menyumbang dana. Untungnya, biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan gerai, honor, dan biaya pendukung lainnya yang mendekati Rp 500 juta akhirnya tertutupi dari beberapa sponsor, di antaranya dari percetakan, pemasok tinta, dan pemasok kertas.

Tantangan tahun 2008

Keinginan untuk tampil lebih percaya diri dan lebih representatif dalam FBF tahun 2008 juga didorong oleh semangat untuk bangkit dari keterpurukan. “Tahun 2008 nanti kita memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan juga 10 tahun Reformasi. Jadi, tidak ada salahnya apabila itu kita pakai sebagai momentum kebangkitan nasional kembali Indonesia melalui keikutsertaan Indonesia dalam FBF 2008 dengan lebih percaya diri,” kata Frans Meak Parera, Sekjen Dewan Buku Nasional di hadapan sekitar 40 orang masyarakat perbukuan baik dari penerbitan maupun percetakan yang sedang mengikuti FBF dalam acara buka bersama di Konsulat Jenderal RI di Frankfurt.

Seruan Frans Parera ini ternyata mendapat sambutan positif dari yang hadir di situ, baik dari kalangan industri buku maupun dari Konsul Jenderal RI di Frankfurt Eddy Setiabudhi. Bahkan, dalam kesempatan itu Eddy menantang para penerbit maupun percetakan untuk berpartisipasi dalam acara Museumsuferfest 2008 yang akan diadakan Agustus 2008 di tepi Sungai Main di pusat kota Frankfurt. Museumsuferfest merupakan festival musim panas terbesar di Kota Frankfurt. Tahun lalu, hanya dalam tiga hari acara ini dikunjungi oleh 3,5 juta orang dari berbagai negara Eropa. Karena itu, acara ini sangat potensial sebagai sarana promosi bagi Indonesia, termasuk industri buku.

(Anung Wendyartaka/ Litbang Kompas)

PARADIGMA BERPIKIR DARI HATI

Posted: November 13, 2007 by Eva in Inspirasi

PARADIGMA BERPIKIR DARI HATI

Oleh: Eko Jalu Santoso, Weblog: www.ekojalusantoso.com

“Orang-orang menjadi begitu luar biasa ketika mereka mulai berpikir bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. Saat mereka  percaya pada diri mereka sendiri, mereka memiliki rahasia  kesuksesan yang pertama”. – Norman Vincent Peale –

Kehidupan dunia dengan pernik-perniknya yang sangat menggiurkan seringkali menjadikan banyak orang menempatkan orientasi yang salah dalam memandang kehidupan. Banyak orang yang menempatkan sumber motivasi kebahagiaan, keberhasilan, kesuksesan dari luar dirinya. Mereka menjadi manusia yang mendewakan berbagai aksesories kesuksesan duniawi, dengan mengabaikan nilai-nilai spiritual kebenaran dalam hatinya. Tidak memahami hakekat posisi dirinya sebagai manusia dalam kehidupan dunia ini dan bahkan ada yang menganggap dirinya mampu mengatur dunia ini dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan akal pikirannya.

Tanpa disadarinya, hatinya telah terbelenggu dan dikendalikan oleh pengaruh lingkungan kemajuan peradaban kehidupan modern. Banyak orang telah diperbudak oleh kemajuan zaman dan cenderung mengabaikan nilai-nilai spiritual kebenaran dalam hatinya. Inilah sumber dari kemerosotan etika, moral dan perilaku banyak manusia dalam kehidupan.

Albert Einstein pernah mengatakan, “ Masalah penting yang kita hadapi kini tidak dapat kita pecahkan pada tingkat berpikir yang sama seperti ketika kita menciptakan masalah tersebut.” Makna dari ungkapan ini adalah, kalau kita ingin melakukan sebuah perubahan biasa, atau menyelesaikan masalah biasa saja, mungkin cukup dilakukan dalam tataran praktik, tingkah laku dan sikap dalam diri kita. Namun, kalau kita ingin melakukan sebuah perubahan yang besar dan sangat berarti dalam hidup ini, maka perlu dilakukan perubahan mendasar melalui tataran paradigma berpikir.

Paradigma berpikir dari dalam hati adalah tingkatan baru dalam pola berpikir, tingkatan berpikir yang lebih dalam. Sebuah paradigma yang didasari oleh prinsip-prinsip yang bersumber dari dalam hati. Paradigma dari dalam hati artinya meyakini segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita dimulai dari dalam hati. Keberhasilan, kegagalan, kesuksesan dan keagungan hidup ini sesungguhnya dimulai dari dalam diri kita sendiri, bahkan lebih mendasar lagi, dimulai dari bagian paling dalam dari diri sendiri yakni “hati nurani”.

Memiliki paradigma berpikir dari dalam hati dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata melalui keyakinan hidup yang bersumber dari suara hati nurani, seperti:

·       Selalu menempatkan hati nurani sebagai pembimbing dalam langkah kehidupan.

·       Memandang kehidupan dunia ini melalui mata hati, bukan sekedar mata panca indra semata.

·       Mengarahkan hati selalu “taqarrub” pada sifat-sifat kemuliaan Allah, yang melandasi setiap kegiatan hidupnya.

·       Hal ini diimplementasikan dalam kehidupan melalui sikap yang mengedepankan integritas, kejujuran, cinta kasih, keadilan, kebenaran, kebebasan, kesabaran  dan ketawakalan.

Memiliki paradigma berpikir dari dalam hati dapat menjadi sumber inspirasi yang dapat memancarkan energi positif ke sekelilingnya, sehingga melahirkan kreativitas dan produktivitas tinggi. Karena dirinya selalu mencari sifat-sifat mulia yang bersumber dari hati yang merupakan percikan sifat-sifat mulia Allah. Kalau hal ini dijadikan sebagai sebuah landasan berpikir pada akhirnya dapat mengantarkan manusia meraih kesuksesan dan keagungan insani. Yakni memiliki hati yang senantiasa “taqarrub” menuju kepada sifat-sifat mulia Allah. Karena manusia memiliki watak dasar selalu mencari sifat-sifat mulia Allah yang sudah “built in” di dalam dirinya untuk memenuhi kebahagiaannya.

Keseimbangan hidup seperti ini akan nampak setiap saat dalam perilaku kehidupan yang cenderung lebih mengedepankan nilai-nilai spiritualitas dalam kehidupan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, yang mengatakan, “Bahwa makna yang paling tinggi dan paling bernilai, dimana manusia akan merasa bahagia, justru terletak pada aspek spiritualitasnya”.  Maka manusia yang dapat mengarahkan hatinya selalu “taqarrub” menuju sifat-sifat mulia Allah, akan menemukan makna hidup yang lebih tinggi.


Bagaimana paradigma berpikir dari dalam hati ? Dalam buku saya “HEART REVOLUTION, Revolusi Hati Nurani” yang diterbitkan Elex Media Komputindo telah dibahas dengan lengkap mengenai bagaimana mengembangkan paradigma berpikir dari dalam hati ini. Sederhananya, paradigma berpikir dari dalam hati artinya, dalam berkarier, berbinis, berkarya, maupun dalam berbagai aktivitas kehidupan selalu dilandasi nilai-nilai “Illahiah” mulia dalam hati. Memiliki kesadaran bahwa kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang abadi. Dengan demikian dapat memandang kehidupan dengan seimbang, artinya tetap realistis dan memiliki idealisme sesuai nilai-nilai spiritual dalam hatinya.

Lebih menghargai orang-orang yang mengedepankan integritas, kejujuran, hidup yang lurus, penuh cinta kasih, kepedulian sosial dan empati kepada sesama kehidupan, meskipun mungkin tidak memiliki berbagai simbul kesuksesan duniawi. Karena dapat memandang kesuksesan hidup bukan hanya pada prestasi luar semata, tetapi memiliki keselarasan dalam nilai-nilai kebenaran berdasarkan hati nurani.

Demikianlah orang-orang yang mendengarkan suara hatinya dan menggunakannya sebagai pembimbing dalam kehidupannya, akan mengantarkannya meraih kehidupan yang penuh potensi dan keagungan. Karena mereka menempatkan orientasi hidupnya jangka panjang yang jauh kedepan. Mereka hidup mengedepankan kebijaksanaan, melakukan hal-hal yang bernilai tinggi dan memberdayakan potensi dirinya untuk tujuan mulia dalam kehidupan. Mereka memandang kehidupan secara realistis, tetap menjaga integritas hati nuraninya. SEMOGA BERMANFAAT.

Salam Motivasi Nurani.

Tips Perawatan Notebook

Posted: November 2, 2007 by Eva in Teknologi

laptop

Tips Perawatan Layar Notebook

  • Selalu tutup notebook Anda jika tidak sedang digunakan. Jika perlu gunakan penutup anti debu dari plastik atau simpan dalam tas notebook.
  • Jangan pernah menyentuh layar notebook, apalagi dengan benda tajam.
  • Jangan menyemprotkan cairan pembersih langsung pada layar notebook.
  • Saat notebook tertutup usahakan notebook tidak mengalami tekanan. Terutama jangan letakkan benda-benda berat di atas notebook yang tertutup.
  • Jangan menutup notebook saat ada benda tertentu antara layar dan keyboard. Bahkan selembar kertas yang terjepit antara layar dan keyboard bisa menjadi penyebab kerusakan layar.
  • Jangan menutup notebook dengan cara membanting.
  • Untuk membersihkan layar notebook, gunakan sikat lembut yang memang dirancang untuk membersihkan layar LCD dari debu.
  • Jika sikat tidak cukup, gunakan kain lembut atau tisu yang dibasahi dengan cairan pembersih. Ingat! Jangan gunakan cairan pembersih yang mengandung amoniak atau alkohol. Semprotkan cairan pembersih pada kain dan usap layar perlahan-lahan saat membersihkan.
  • Cairan pembersih untuk layar notebook disarankan menggunakan jenis pembersih yang sama dengan yang digunakan untuk layar kamera digital. Cairan ini biasanya bisa didapatkan di toko penjual perlengkapan kamera.

Sayap Baru si Golden Boy

Posted: November 1, 2007 by Eva in Ekonomi Bisnis, Inspirasi

para-group.jpg

TEMPO Edisi. 35/XXXVI/22 – 28 Oktober 2007

Ekonomi dan Bisnis

TEMPO Edisi. 35/XXXVI/22 – 28 Oktober 2007

Ekonomi dan Bisnis

Sayap Baru Si Golden Boy

Setelah menguasai bisnis keuangan dan media, Para Group milik Chairul Tanjung
mulai terjun ke penerbangan, perkebunan, gaya hidup, dan hiburan. Modal siapa di balik ekspansi agresif itu?

PADA mulanya Chairul Tanjung hanya seorang dokter gigi lulus an Universitas
Indonesia yang banting setir menjadi pengusaha sepatu. Ia bukan saudagar kesohor, bukan pula anak konglomerat ternama.

Namanya baru mencuat tatkala ia memiliki Bank Mega pada 1996. Ketika konglomerat bertumbang an dihantam krisis pada 1998, garis tangan Chairul
berubah. Bisnis anak Jakarta ini justru menjulang. Sekarang pria 45 tahun itu menjadi buah bibir di kalangan pengusaha nasional.

Sayap bisnisnya berkembang cepat. Ia bukan lagi cuma memiliki Bank Mega, Bandung
Super Mall, serta Trans TV dan Trans-7, melainkan sudah lebih luas. Ia merambah bisnis jasa keuangan, media dan gaya hidup, properti, perkebunan, energi, serta pertambangan. Chairul sangat agresif dan giat mencari peluang baru, menurut Ishadi, bekas orang pemerintah yang kini Direktur Utama Trans TV.

trans-tv.jpg

Belum lama ini, Chairul ”menjelma” menjadi distributor produk-produk retail
bergengsi di Indonesia. Chairul telah mengakuisisi PT Mahagaya Perdana, distributor merek terkenal seperti Mango, Prada, Escada, Gucci, Hugo Boss, Alfred Dunhill, dan Ettiene Aig ner. Ia akan menantang Mitra Adi Perkasa yang selama ini menjadi penguasa bisnis itu.
gucci.jpg
Ia juga masuk ke bisnis makanan-minuman dengan membeli lisensi kafe ternama
Coffee Bean dan es krim berkelas Baskin-Robbins. ”Dalam setahun banyak sekali perusahaan diakuisisi,” kata seorang karyawan divisi jasa ke uangan grup itu yang mengaku heran dengan pesatnya bisnis bosnya.

Sekarang grup ini sedang menggodok rencana baru prestisius: melebarkan sayap dan
menjadi pemain kunci di kawasan Asia. Pada tahap awal, nama induk usaha Grup Para akan diubah jadi Chairul Tanjung Corporation (CT Corp.) agar lebih mudah dikenal. Tahun depan nama baru itu kabarnya diluncurkan.

Bersamaan dengan perubahan nama, beberapa proyek raksasa dimatangkan jajaran
petinggi kelompok bisnis ini. Di antaranya membangun maskapai pener bangan, perkebunan seluas 500 ribu hektare, energi listrik, pertambangan, serta pusat hiburan terbesar di Indonesia timur.

Untuk bisnis penerbangan, menurut Chaeral Tanjung, salah satu petinggi di
kelompok bisnis ini, pihaknya sedang mempersiapkan keuangan, operasionalisasi, sumber daya manusia, dan keamanannya.

”Pokoknya, kami tak akan tampil seperti maskapai sekarang,” kata adik Chairul
tersebut. Maksudnya, ia tak mau hadir sebagai maskapai yang banyak masalah seperti banyak maskapai sekarang ini.

Dengan bendera Trans-Air, mereka membidik segmen khusus, yakni kelas eksekutif.
Tarifnya dipatok dua kali lipat lebih mahal dari harga tiket Garuda Indonesia. Misalnya, tiket Garuda Rp 1 juta, maka Trans-Air akan mematok harga Rp 2 juta. ”Itu sesuai dengan layanan berkelas Concorde yang akan ditawarkan,” kata sumber di Grup Para. ”Slogannya, kalau terbang tidak naik Trans-Air, tidak keren gitu deh.”

Di Makassar, Chairul sedang membangun proyek hiburan terpadu. Kawasan wisata
bernama Trans Studio Resort Makassar senilai Rp 1 triliun dibangun di lahan seluas 12,7 hektare. Di proyek ini, ia bekerja sama dengan Grup Kalla. Mereka akan menampilkan berbagai atraksi permainan ala Disneyland.

disneyland.jpg

Bukan cuma di Makassar, Chairul mulai menjamah kawasan lain di Sulawesi hingga
Kalimantan. Di sana ia mengejar mimpi besar menjadi pemain baru perkebunan—seperti Sinar Mas atau Raja Garuda Mas. Targetnya menguasai 500 ribu hektare dengan investasi tri liunan rupiah. Ia pernah berasumsi, untuk lahan seluas 200 ribu hektare saja, diperlukan dana Rp 5 triliun.

Di belahan bumi Sumatera dan Jawa Barat, bekerja sama dengan PT Pertami na, dua
tahun lalu ia berniat membangun tiga pembangkit listrik tenaga panas bumi senilai US$ 1,5 miliar. Sayangnya, sampai sejauh ini kontrak kerja sama itu belum jelas tindak lanjutnya. ”Itu tak batal, tapi masih dijajaki,” kata Ishadi.

Siapa mesin uang di balik investasi raksasa Chairul? Banyak mata melirik pada
kedekatannya dengan Anthoni Salim, pemilik Grup Salim yang kesohor itu. Apalagi Chairul memang bekerja sama dengan Grup Salim di sejumlah bisnis, misalnya di perusahaan investasi Singapura, Asia Medic, yang mereka akuisisi tahun lalu.

Chairul memang kelihatan bersama Anthoni Salim ketika bertemu dengan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan visi Indonesia 2030, Maret lalu. Adakah dana Anthoni yang dikelola Chairul selama ini?

Ketika soal sumber dana ekspansi ini dikonfirmasikan kepada Chairul, ia tegas
membantahnya. Ia menampik keras sebutan operator Grup Salim. ”Saya bisa berhasil karena kerja keras,” kata Chairul dalam sebuah wawancara dengan Tempo beberapa waktu lalu.

Namun seorang eksekutif Grup Para menyebutkan bahwa Salim sesungguhnya memiliki
belasan persen saham Bank Mega. Itu terjadi saat bank ini menawarkan saham perdana tujuh tahun lalu. Tapi peran Salim dalam pengembangan Para ditolak mentah-mentah oleh Ishadi dan Direktur Utama Bank Mega Yungki Setiawan. Menurut mereka, Chairul mudah mendapatkan dana karena bisnisnya berkembang baik.

Ada saja institusi keuangan dunia yang menawarkan dana kepada Grup Para, seperti
Citigroup dan JP Morgan. ”Chairul dikenal sebagai golden boy atau anak emas,” kata Ishadi. ”Di Singapura saja ia gampang cari dana murah.”

Siapa pun penyokong dana grup ini, yang jelas bisnisnya sudah menggurita. Saking
banyaknya aset, menurut Ishadi, Grup Para perlu mengkonsolidasi diri dalam tiga fokus bisnis. Pertama, jasa keuangan, dinaungi oleh Mega Global Finance. Itu mencakup Bank Mega, Bank Syariah Mega, Mega Capital, Mega Insu rance, Mega Life, dan Para Financing.

Kedua, bidang media, gaya hidup, dan hiburan, yang dipayungi Trans Corpora. Ini
meliputi Trans TV, Trans-7, Trans Lifestyle, Mahagaya, PT Bara Bali, serta properti seperti Bandung Super Mall dan Batam Indah Investindo. Sedangkan ketiga, CT Global Resources, yang membawahkan perkebunan, energi, dan pertambangan.

Ekspansi usaha ini ditujukan untuk menciptakan sinergi positif. Itu sudah
terbukti di Bank Mega, yang sukses mendongkrak pertumbuhan bisnis secara signifikan. Bank ini sepuluh tahun lalu cuma bank kecil beraset ratusan miliar rupiah, tapi sekarang sudah beraset Rp 30 triliun.

Program sinergi juga dijalankan di Bank Mega. Dengan Mega Life dan Mega Capital,
misalnya, ia
menciptakan produk investasi berbiaya murah, tapi menarik karena berasuransi.
Melalui Trans TV,
Bank Mega membombardir pemirsa dengan iklan tabungan berhadiah. Sedangkan dengan
Mahagaya dan
Coffee Bean, mereka memberikan diskon khusus bagi pemilik kartu kredit Bank
Mega.

Bahkan bukan cuma dengan sesama anak usaha mereka bermitra. Dengan grup besar
lain pun Grup Para
menjalin kerja sama. Misalnya dengan Sinar Mas di Mega Life, dengan Gramedia di
Trans-7, atau
dengan Grup Kalla di Trans-Makassar, juga dengan Grup Salim ”Sekarang ini memang
eranya bersinergi
jika tak mau tenggelam,” kata Yungki.

Dengan sinergi itu pula Chairul memasang target tinggi bagi semua anak usaha.
Bank Mega, kata
Yungki, sudah ditargetkan naik peringkat dari posisi ke-12 saat ini menjadi 5
bank teratas
nasional sepuluh tahun lagi. Artinya, dengan memperhitungkan sejarah pertumbuhan
10-20 persen,
total asetnya diperkirakan menyentuh Rp 200 triliun dalam satu dekade mendatang.

Melihat ambisi besarnya, menurut eksekutif Grup Para, Chairul yang juga Ketua
Yayasan Forum
Indonesia ini sangat mungkin mewujudkan mimpinya pada 2030, yaitu CT Corp. masuk
30 perusahaan
Indonesia di daftar 500 perusahaan besar dunia versi majalah Fortune. ”Jika
sudah berniat, ia
bertekad mewujudkannya,” kata eksekutif ini.

Asalkan itu dicapai lewat proses bisnis yang sehat, jauh dari kolusi ala Orde
Baru, pasti banyak
orang ikut bangga.

Heri Susanto

Setelah menguasai bisnis keuangan dan media, Para Group milik Chairul Tanjung
mulai terjun ke
penerbangan, perkebunan, gaya hidup, dan hiburan. Modal siapa di balik ekspansi
agresif itu?

PADA mulanya Chairul Tanjung hanya seorang dokter gigi lulus an Universitas
Indonesia yang banting
setir menjadi pengusaha sepatu. Ia bukan saudagar kesohor, bukan pula anak
konglomerat ternama.
Namanya baru mencuat tatkala ia memiliki Bank Mega pada 1996.

Ketika konglomerat bertumbang an dihantam krisis pada 1998, garis tangan Chairul
berubah. Bisnis
anak Jakarta ini justru menjulang. Sekarang pria 45 tahun itu menjadi buah bibir
di kalangan
pengusaha nasional.

Sayap bisnisnya berkembang cepat. Ia bukan lagi cuma memiliki Bank Mega, Bandung
Super Mall, serta
Trans TV dan Trans-7, melainkan sudah lebih luas. Ia merambah bisnis jasa
keuangan, media dan gaya
hidup, properti, perkebunan, energi, serta pertambangan. Chairul sangat agresif
dan giat mencari
peluang baru, menurut Ishadi, bekas orang pemerintah yang kini Direktur Utama
Trans TV.

Belum lama ini, Chairul ”menjelma” menjadi distributor produk-produk retail
bergengsi di
Indonesia. Chairul telah mengakuisisi PT Mahagaya Perdana, distributor merek
terkenal seperti
Mango, Prada, Escada, Gucci, Hugo Boss, Alfred Dunhill, dan Ettiene Aig ner. Ia
akan menantang
Mitra Adi Perkasa yang selama ini menjadi penguasa bisnis itu.

Ia juga masuk ke bisnis makanan-minuman dengan membeli lisensi kafe ternama
Coffee Bean dan es
krim berkelas Baskin-Robbins. ”Dalam setahun banyak sekali perusahaan
diakuisisi,” kata seorang
karyawan divisi jasa ke uangan grup itu yang mengaku heran dengan pesatnya
bisnis bosnya.

Sekarang grup ini sedang menggodok rencana baru prestisius: melebarkan sayap dan
menjadi pemain
kunci di kawasan Asia. Pada tahap awal, nama induk usaha Grup Para akan diubah
jadi Chairul
Tanjung Corporation (CT Corp.) agar lebih mudah dikenal. Tahun depan nama baru
itu kabarnya
diluncurkan.

Bersamaan dengan perubahan nama, beberapa proyek raksasa dimatangkan jajaran
petinggi kelompok
bisnis ini. Di antaranya membangun maskapai pener bangan, perkebunan seluas 500
ribu hektare,
energi listrik, pertambangan, serta pusat hiburan terbesar di Indonesia timur.

Untuk bisnis penerbangan, menurut Chaeral Tanjung, salah satu petinggi di
kelompok bisnis ini,
pihaknya sedang mempersiapkan keuangan, operasionalisasi, sumber daya manusia,
dan keamanannya.
”Pokoknya, kami tak akan tampil seperti maskapai sekarang,” kata adik Chairul
tersebut. Maksudnya,
ia tak mau hadir sebagai maskapai yang banyak masalah seperti banyak maskapai
sekarang ini.

Dengan bendera Trans-Air, mereka membidik segmen khusus, yakni kelas eksekutif.
Tarifnya dipatok
dua kali lipat lebih mahal dari harga tiket Garuda Indonesia. Misalnya, tiket
Garuda Rp 1 juta,
maka Trans-Air akan mematok harga Rp 2 juta. ”Itu sesuai dengan layanan berkelas
Concorde yang
akan ditawarkan,” kata sumber di Grup Para. ”Slogannya, kalau terbang tidak naik
Trans-Air, tidak
keren gitu deh.”

Di Makassar, Chairul sedang membangun proyek hiburan terpadu. Kawasan wisata
bernama Trans Studio
Resort Makassar senilai Rp 1 triliun dibangun di lahan seluas 12,7 hektare. Di
proyek ini, ia
bekerja sama dengan Grup Kalla. Mereka akan menampilkan berbagai atraksi
permainan ala Disneyland.

Bukan cuma di Makassar, Chairul mulai menjamah kawasan lain di Sulawesi hingga
Kalimantan. Di sana
ia mengejar mimpi besar menjadi pemain baru perkebunan—seperti Sinar Mas atau
Raja Garuda Mas.
Targetnya menguasai 500 ribu hektare dengan investasi tri liunan rupiah. Ia
pernah berasumsi,
untuk lahan seluas 200 ribu hektare saja, diperlukan dana Rp 5 triliun.

Di belahan bumi Sumatera dan Jawa Barat, bekerja sama dengan PT Pertami na, dua
tahun lalu ia
berniat membangun tiga pembangkit listrik tenaga panas bumi senilai US$ 1,5
miliar. Sayangnya,
sampai sejauh ini kontrak kerja sama itu belum jelas tindak lanjutnya. ”Itu tak
batal, tapi masih
dijajaki,” kata Ishadi.

Siapa mesin uang di balik investasi raksasa Chairul? Banyak mata melirik pada
kedekatannya dengan
Anthoni Salim, pemilik Grup Salim yang kesohor itu. Apalagi Chairul memang
bekerja sama dengan
Grup Salim di sejumlah bisnis, misalnya di perusahaan investasi Singapura, Asia
Medic, yang mereka
akuisisi tahun lalu.

Chairul memang kelihatan bersama Anthoni Salim ketika bertemu dengan Presiden
Susilo Bambang
Yudhoyono saat menyampaikan visi Indonesia 2030, Maret lalu. Adakah dana Anthoni
yang dikelola
Chairul selama ini?

Ketika soal sumber dana ekspansi ini dikonfirmasikan kepada Chairul, ia tegas
membantahnya. Ia
menampik keras sebutan operator Grup Salim. ”Saya bisa berhasil karena kerja
keras,” kata Chairul
dalam sebuah wawancara dengan Tempo beberapa waktu lalu.

Namun seorang eksekutif Grup Para menyebutkan bahwa Salim sesungguhnya memiliki
belasan persen
saham Bank Mega. Itu terjadi saat bank ini menawarkan saham perdana tujuh tahun
lalu. Tapi peran
Salim dalam pengembangan Para ditolak mentah-mentah oleh Ishadi dan Direktur
Utama Bank Mega
Yungki Setiawan. Menurut mereka, Chairul mudah mendapatkan dana karena bisnisnya
berkembang baik.
Ada saja institusi keuangan dunia yang menawarkan dana kepada Grup Para, seperti
Citigroup dan JP
Morgan. ”Chairul dikenal sebagai golden boy atau anak emas,” kata Ishadi. ”Di
Singapura saja ia
gampang cari dana murah.”

Siapa pun penyokong dana grup ini, yang jelas bisnisnya sudah menggurita. Saking
banyaknya aset,
menurut Ishadi, Grup Para perlu mengkonsolidasi diri dalam tiga fokus bisnis.
Pertama, jasa
keuangan, dinaungi oleh Mega Global Finance. Itu mencakup Bank Mega, Bank
Syariah Mega, Mega
Capital, Mega Insu rance, Mega Life, dan Para Financing.

Kedua, bidang media, gaya hidup, dan hiburan, yang dipayungi Trans Corpora. Ini
meliputi Trans TV,
Trans-7, Trans Lifestyle, Mahagaya, PT Bara Bali, serta properti seperti Bandung
Super Mall dan
Batam Indah Investindo. Sedangkan ketiga, CT Global Resources, yang membawahkan
perkebunan,
energi, dan pertambangan.

Ekspansi usaha ini ditujukan untuk menciptakan sinergi positif. Itu sudah
terbukti di Bank Mega,
yang sukses mendongkrak pertumbuhan bisnis secara signifikan. Bank ini sepuluh
tahun lalu cuma
bank kecil beraset ratusan miliar rupiah, tapi sekarang sudah beraset Rp 30
triliun.

Program sinergi juga dijalankan di Bank Mega. Dengan Mega Life dan Mega Capital,
misalnya, ia
menciptakan produk investasi berbiaya murah, tapi menarik karena berasuransi.
Melalui Trans TV,
Bank Mega membombardir pemirsa dengan iklan tabungan berhadiah. Sedangkan dengan
Mahagaya dan
Coffee Bean, mereka memberikan diskon khusus bagi pemilik kartu kredit Bank
Mega.

bank-mega.jpg

Bahkan bukan cuma dengan sesama anak usaha mereka bermitra. Dengan grup besar
lain pun Grup Para
menjalin kerja sama. Misalnya dengan Sinar Mas di Mega Life, dengan Gramedia di
Trans-7, atau
dengan Grup Kalla di Trans-Makassar, juga dengan Grup Salim ”Sekarang ini memang
eranya bersinergi
jika tak mau tenggelam,” kata Yungki.

Dengan sinergi itu pula Chairul memasang target tinggi bagi semua anak usaha.
Bank Mega, kata
Yungki, sudah ditargetkan naik peringkat dari posisi ke-12 saat ini menjadi 5
bank teratas
nasional sepuluh tahun lagi. Artinya, dengan memperhitungkan sejarah pertumbuhan
10-20 persen,
total asetnya diperkirakan menyentuh Rp 200 triliun dalam satu dekade mendatang.

Melihat ambisi besarnya, menurut eksekutif Grup Para, Chairul yang juga Ketua
Yayasan Forum
Indonesia ini sangat mungkin mewujudkan mimpinya pada 2030, yaitu CT Corp. masuk
30 perusahaan
Indonesia di daftar 500 perusahaan besar dunia versi majalah Fortune. ”Jika
sudah berniat, ia
bertekad mewujudkannya,” kata eksekutif ini.

Asalkan itu dicapai lewat proses bisnis yang sehat, jauh dari kolusi ala Orde
Baru, pasti banyak
orang ikut bangga.

Heri Susanto