Frankfurt Book Fair 2008-Gerai Indonesia Mulai dilirik

Posted: November 14, 2007 by Eva in Buku dan Media

 Gerai Indonesia Mulai Dilirik

Pada tahun 2008, gerai Indonesia di Frankfurt Book Fair seharusnya minimal dua kali lipat besarnya dari tahun ini. Begitu tekad yang dicanangkan oleh segenap insan perbukuan dari Indonesia di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Frankfurt, Jerman, beberapa waktu lalu, di sela-sela penyelenggaraan pameran buku terakbar di dunia, FBF 2007.

Optimisme mereka untuk membuka gerai yang lebih luas bukannya tanpa dasar, mengingat “kesuksesan” yang ditandai dengan meningkatnya tawaran kerja sama bisnis dari penerbit mancanegara suatu hal yang langka daripada tahun-tahun sebelumnya.

Dilirik pengunjung

fbf-1.jpg 

Penampilan gerai Indonesia yang dikelola oleh Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) memang berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kendati masih belum seluas dan semegah gerai negara-negara Asia lainnya, seperti China, Jepang, bahkan negara tetangga Singapura yang kebetulan tahun ini lokasinya bersebelahan, gerai Ikapi kali ini jauh lebih luas, yakni 64 meter persegi. “Sebelum ini gerai Ikapi paling luas hanya setengahnya dari sekarang,” kata Nova Rasdiana, pengurus Ikapi yang ditunjuk sebagai salah satu dari dua project officer (PO) gerai Ikapi pada pameran kali ini.

Penampilan gerai Indonesia sendiri masih tergolong sangat sederhana karena hanya menggunakan partisi standar tanpa ada desain khusus bahkan ornamen atau facia (hiasan di sekitar nama gerai) yang mencirikan Indonesia pun tidak ada alias polos. Kalaupun ada ciri yang mewakili Indonesia, itu hanyalah pada warna gerai yang dominan warna merah dan putih.

Tak hanya penampilan luar dan desain konstruksi gerai yang standar, interiornya pun sangat sederhana. Ruang dalam gerai hanya terdiri dari beberapa rak dinding, floor display, 4 set meja kursi, dan 2 buah lemari kecil. Seperti halnya dengan penampilan luarnya, interior di dalam gerai juga polos tanpa hiasan apa pun yang mencirikan Indonesia. Kalaupun ada hiasan, hanyalah sebuah backdrop digital printing ukuran kecil bertuliskan “Ikapi” yang ditempel di tengah-tengah gerai yang bergambar beberapa orang berpakaian tradisional Bali sedang menari kecak.

Penampilan gerai Ikapi ini sangat sederhana dibandingkan dengan gerai dari negara-negara tetangga di ASEAN yang hampir semuanya dengan desain khusus dihiasi ornamen khas negara masing-masing. Satu hal yang menarik dan sempat menjadi pembicaraan warga Indonesia selama pameran adalah gerai Malaysia yang menampilkan wayang kulit sebagai hiasan ornamen gerainya.

Kendati penampilannya masih sangat sederhana, dalam kenyataannya gerai Ikapi selama pameran tak pernah sepi pengunjung. Ini yang di luar dugaan karena sepanjang sejarah keikutsertaan di Frankfurt Book Fair (FBF) baru kali ini gerai Ikapi banyak dikunjungi. “Terus terang kita tidak menduga kalau gerai kita akan dikunjungi orang sebanyak ini,” ujar Raja Manahara Hutauruk dari penerbit Erlangga, PO Ikapi yang bertanggung jawab mempersiapkan gerai Ikapi mulai dari pencarian dana dan sponsor, pembangunan gerai, hingga pelaksanaan kegiatan selama pameran.

Selama lima hari pameran, lebih dari 500 orang dari berbagai negara mengunjungi gerai Ikapi. Dari kartu nama yang ditinggalkan, hampir separuhnya (47 persen) dari kalangan penerbit buku, disusul dari percetakan sekitar 25 persen, sisanya terdiri dari distributor, agen, perpustakaan, LSM, dan orang-orang yang punya kedekatan khusus dengan Indonesia. Sementara itu, dari asal negaranya sebagian besar datang dari Asia dan Timur Tengah (60 persen), Eropa sekitar 35 persen, sisanya dari Amerika dan Afrika.

Hal yang cukup menggembirakan, pengunjung mancanegara itu banyak yang menaruh minat terhadap buku-buku terbitan Indonesia, bahkan beberapa di antara mereka tertarik membeli hak cipta. “Ada 13 penerbit yang tertarik membeli right dari kita,” kata Wahyu Priyanto, salah seorang panitia pelaksana pameran dari Ikapi yang ikut menjaga gerai.

Buku Asia Africa: Towards the First Century terbitan BAB Publishing menarik perhatian Munsachol Project (under the Ministry of Foreign Affairs of Korea) sehingga rencananya akan diterjemahkan ke dalam bahasa Korea. Publishing House BALBÈ penerbit dari Lituania tertarik membeli hak cipta buku The Tarot Wayang terbitan Grasindo dan menerbitkannya di Lituania. Buku-buku Cerita Anak Nusantara yang diterbitkan Erlangga juga diminati para penerbit dari Eropa, antara lain dari Jerman dan Hongaria. Penerbit-penerbit itu umumnya menawarkan kerja sama dalam bentuk barter hak cipta.

Mengejar Hak Cipta

Sebagian besar buku yang diminati penerbit mancanegara adalah buku-buku yang unik dan khas Indonesia, seperti tentang seni dan budaya, pariwisata, maupun yang berkaitan dengan sejarah Indonesia. Namun yang cukup menarik, buku-buku anak dan buku tentang Islam di Indonesia juga diminati.

ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) di Singapura misalnya tertarik dengan buku-buku terbitan Mizan seperti Why Muslim Participate in Jihad dan buku Islam in the Indonesian World. Selain itu, ISEAS juga berminat pada buku Islamic Banking terbitan RajaGrafindo Persada. “Saya enggak menyangka buku tentang Islam yang saya bawa ternyata ada yang berminat membeli copyright-nya. Soalnya, terus terang sebelum berangkat kami tidak berharap apa-apa dalam pameran ini, hanya sekadar memamerkan buku-buku yang kami punya,” kata Nova Rasdiana, Presiden Direktur RajaGrafindo Persada.

Dalam pameran ini tak hanya buku dari Indonesia yang diminati oleh penerbit mancanegara, tetapi mereka juga berminat mencetak buku di Indonesia. Untuk pertama kalinya gerai Indonesia mengikutsertakan industri percetakan dalam FBF tahun ini. Ternyata, kehadiran dua perusahaan percetakan, Indonesia Printer dan Jayakarta Agung Offset, tidaklah sia-sia. Tak kurang dari 25 penerbit dari Eropa dan Brasil menaruh minat untuk mencetak buku, terutama buku jenis artbook di Indonesia.

“Paling tidak, dua penerbit sudah hampir pasti mencetak buku di tempat kita. Belum banyak sih, tetapi sebagai awal sudah cukup bagus,” ujar Victor Ho, Direktur Marketing Indonesia Printer. Dari segi kualitas, percetakan kita tidak kalah dengan negara-negara lain, seperti China dan India, yang selama ini banyak mendapat order cetak dari penerbit Eropa. “Kita masih sering kalah dalam soal harga dengan China,” katanya.

Sambutan pengunjung yang di luar dugaan dan sangat menggembirakan dalam sejarah keikutsertaan Indonesia dalam FBF 2007 ini menunjukkan, industri perbukuan di Indonesia sebenarnya cukup potensial dan prospektif bagi pasar global. Sudah saatnya industri buku Indonesia tampil lebih percaya diri dan tidak ragu menampilkan potensi yang dimiliki dalam pameran buku terakbar seperti ini.

“Kita sebelum ini memang kurang percaya diri dengan produk kita sendiri. Apa ada yang tertarik dengan buku-buku kita? Namun, melihat begitu antusiasnya pengunjung terhadap potensi industri buku Indonesia seperti yang kita saksikan selama lima hari pameran ini, saya kok optimistis,” kata Manahara. Karena itu, pada tahun-tahun mendatang, selain penerbit dan percetakan, sudah waktunya penulis-penulis Indonesia juga hadir di Frankfurt. “Kita punya banyak penulis hebat dan bisa lebih hebat dari Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya,” kata Manahara menambahkan.

Untuk mewujudkan hal itu, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah dengan memperluas ukuran gerai pada tahun-tahun mendatang. “Kalau ditanggung secara bersama, saya yakin kita bisa bikin gerai yang jauh lebih besar dibandingkan dengan sekarang. Apalagi kalau penerbit-penerbit besar seperti Gramedia, Agromedia, dan penerbit besar lain ikut berpartisipasi lebih, enggak hanya titip buku, pasti gerai Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain. Kita enggak perlu bikin gerai sendiri-sendiri. Kita berkumpul jadi satu sehingga gerai kita bisa lebih luas dan lebih bagus dari yang ada sekarang. Ini juga dilakukan negara-negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand,” ujar Nova Rasdiana.

Keikutsertaan Ikapi dalam pameran ini memang belum optimal. Selain karena hampir tidak mendapat bantuan sama sekali dari pemerintah, kecuali bantuan dari pihak konsulat jenderal setempat, juga belum didukung sepenuhnya oleh kalangan industri buku, utamanya penerbit-penerbit besar. Dari 59 penerbit yang ditawari menjadi sponsor, hanya 10 penerbit yang akhirnya ikut berpartisipasi menyumbang dana. Untungnya, biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan gerai, honor, dan biaya pendukung lainnya yang mendekati Rp 500 juta akhirnya tertutupi dari beberapa sponsor, di antaranya dari percetakan, pemasok tinta, dan pemasok kertas.

Tantangan tahun 2008

Keinginan untuk tampil lebih percaya diri dan lebih representatif dalam FBF tahun 2008 juga didorong oleh semangat untuk bangkit dari keterpurukan. “Tahun 2008 nanti kita memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan juga 10 tahun Reformasi. Jadi, tidak ada salahnya apabila itu kita pakai sebagai momentum kebangkitan nasional kembali Indonesia melalui keikutsertaan Indonesia dalam FBF 2008 dengan lebih percaya diri,” kata Frans Meak Parera, Sekjen Dewan Buku Nasional di hadapan sekitar 40 orang masyarakat perbukuan baik dari penerbitan maupun percetakan yang sedang mengikuti FBF dalam acara buka bersama di Konsulat Jenderal RI di Frankfurt.

Seruan Frans Parera ini ternyata mendapat sambutan positif dari yang hadir di situ, baik dari kalangan industri buku maupun dari Konsul Jenderal RI di Frankfurt Eddy Setiabudhi. Bahkan, dalam kesempatan itu Eddy menantang para penerbit maupun percetakan untuk berpartisipasi dalam acara Museumsuferfest 2008 yang akan diadakan Agustus 2008 di tepi Sungai Main di pusat kota Frankfurt. Museumsuferfest merupakan festival musim panas terbesar di Kota Frankfurt. Tahun lalu, hanya dalam tiga hari acara ini dikunjungi oleh 3,5 juta orang dari berbagai negara Eropa. Karena itu, acara ini sangat potensial sebagai sarana promosi bagi Indonesia, termasuk industri buku.

(Anung Wendyartaka/ Litbang Kompas)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s