Archive for November 21, 2007

Petualangan Sejati Sejatinya Guru

Posted: November 21, 2007 by Eva in Pendidikan

 

Penulis : Butet Manurung

Judul    : Sokola Rimba (Petualangan Belajar Bersama Orang Rimba)

Penerbit : Insist Press, Yogyakarta

Edisi : I, Juni 2007

Tebal : 250 halaman

Harga : Rp 38.000

ISBN : 979-3457-83-x

PETUALANGAN SEJATI SEJATINYA GURU

sokola-rimba.jpg

Ibuk, ado akehlah melawon?

Ee..akeh lagi lolo…apolah pintar?

Ado akeh todo lah tokang molajoko kanti?

(Ibu apa aku sudah pintar, ah aku masih bodoh, eh apa sudah pintar? apa aku nanti bisa mengajar orang?

Itu sebagian pertanyaan yang muncul dari bocah-bocah yang hidup di tengah rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, yang ditujukan kepada Butet Manurung. Butet mengalami banyak kesulitan di awal pendekatannya dengan masyarakat adat yang tinggal di TNBD Jambi itu untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Di kalangan masyarakat adat, yang biasa disebut orang rimba, ada pendapat “mending bodoh daripada pinter tetapi buat minterin orang”. Butet disangka akan mengubah adat mereka. Mereka pun sangat marah terhadap Butet. Sempat terucap dari tetua adat, “Jangan usik-usik adat kami!”

Pada akhirnya perempuan bernama Saur Marlina Manurung ini mendapat jalan masuk ke masyarakat rimba. Ketika itu ada dua orang rimba yang datang pada Butet minta diajari baca tulis. Dari dua orang itulah, sistem kader yang diterapkan Butet berhasil. Anak rimba yang minta diajari baca tulis semakin banyak. Hingga pada suatu ketika berdirilah sokola rimba alias sekolah rimba.

Model sekolah alternatif seperti sokola rimba tak cuma ada di Jambi. Butet keluar masuk hutan dan menyambangi beberapa suku terbelakang yang tersebar di berbagai daerah seperti Aceh, Makassar, Bulukumba, Flores, Halmahera, Klaten, dan Bantul.

Kerja keras dan keseriusan Butet memberikan pendidikan kepada komunitas-komunitas terpinggirkan dan terbelakang telah menyita perhatian masyarakat pendidikan. Membaca buku Sokola Rimba (Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba) tak ubahnya menyimak catatan harian Butet Manurung. Larik-larik kalimatnya dituturkan secara sederhana. Tidak menjadikan pembaca merasa seperti diceramahi. Melainkan mengajak imajinasi pembaca terbang ke alam rimba belantara di pedalaman Jambi. Banyak kisah pahit-getir menjelajah hutan dan kehidupannya bersama orang rimba (OR) yang disebutnya amat bersahaja.

Ada episode-episode yang bisa membuat tertawa geli menyimak kisah-kisah orang rimba yang udik, konyol, dan lugu. Ada pula penggalan yang bisa membuat decak kagum saat Butet mengungkap tradisi luhur dan sistem sosial orang rimba.

Pada bagian pertama buku ini, Butet menulis tuntas kisah pribadinya: dari menyusup di antara celah dedaunan belantara, akar bahar raksasa, selapisan tanah yang mengendap selama berabad-abad, dan pohon jangkung sialang (madu) yang disucikan, hingga ketakutannya hidup di tengah dangau sendirian, seperti tercampak di dunia yang gaib, rahasia, dan sekaligus menjadi ruang sengketa terbuka, yang sempat membuatnya menggigil saat gelap menyelimuti malam.

Memang, masih banyak orang yang mau mengajar untuk komunitas terpencil dan terbelakang yang masih tinggal di tengah-tengah hutan. Namun, berbagai rintangan banyak pula yang menyurutkan semangat para guru. Bukan saja karena pola kehidupan mereka masih sangat sederhana sehingga banyak menolak kehadiran orang luar. Tantangan datang dari sulitnya medan, diperparah lagi risiko yang dihadapi selama berada di tengah hutan, seperti terserang penyakit, dihisap pacet, diterkam harimau dan dipatuk ular.

Menulis, Membaca dan Berhitung

Butet menelusup hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi berawal dari keterlibatannya dalam Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI Warsi), sebuah organisasi yang bergerak sebagai fasilitator pendidikan. Aktivis muda progresif yang mengantongi dua ijazah, Antropologi dan Bahasa ini, tugas awalnya hanya sebagai pemberi informasi kepada orang rimba tentang peran penting mereka untuk menjaga hutan secara umum.

Ia mengawali pendekatannya dengan pendidikan, yang diyakini sebagai awal dari segala perubahan sikap. Butet secara tidak sengaja mengawali petualang hidupnya dengan menjadi salah satu pendiri model sekolah nonformal yang diselenggarakan di rimba.

Setelah sekian lama berinteraksi, Butet sadar bahwa orang-orang rimba hanya butuh sekelumit pengetahuan tentang baca, tulis, dan berhitung untuk berinteraksi dengan orang lain di perkotaan. Mereka tak perlu diceramahi bagaimana menjaga hutan. Mereka tak perlu diajarkan ilmu konservasi yang njlimet hanya untuk memahami kenapa hutan perlu bestari. Butet justru harus bia menggali keunggulan orang rimba dan membantu mereka ketika berhadapan dengan persoalan dengan masyarakat luar.

Pergulatan nurani Butet sangat terlihat saat melihat laporan-laporan dan foto-foto kegiatannya dijadikan kunci mengalirnya dana dari lembaga donor penyokong uang operasional. Butet tersiksa. Nuraninya berontak. Ia keluar dari KKI Warsi. Perempuan yang menghabiskan masa kecilnya di Leuven, Belgia ini memilih mengelola sekolah rimbanya tanpa keterlibatan lembaga manapun.

Namun, jangan membayangkan Sokola Rimba Butet adalah sepetak bangunan bertembok beratap layaknya sekolah. Sokola Butet hanya dangau kecil tak berdinding, tak beratap, agar jika tak dibutuhkan lagi bisa segera ditinggalkan. Sokola rimba adalah sekolah nomaden, justru sekolah yang mendatangi murid.

Maka jika ditanya, di manakah alamat Sokola Rimba itu, maka Butet menjawab enteng: pada koordinat 01′ 05’’1 LS – 102′ 30’’ BT, alias lokasi Taman Nasional Jambi. Letak sekolahnya memang tak pasti desa maupun kecamatan.

Di sekolah, Butet membagikan buku tulis bergaris, pensil, dan pena yang dia punyai. “Murid” yang tidak kebagian disilakan mengambil ranting dan menggarisi tanah. Suatu ketika saat tiba waktu belajar menggambar, seorang murid menangkap seekor kijang kecil. Binatang lucu itu ditidurkan di atas kertas dan mulailah sang murid menggambar ruas-ruas tubuh kijang tersebut.

Sulitnya Menjadi Guru

bersama-anak2.jpg

Di bagian kedua, buku ini menawarkan opini yang lebih non-diari kehidupan orang rimba. Butet menggugat pandangan orang luar (non-rimba) yang menganggap orang rimba butuh belas kasihan, yang justru menjadikan orang rimba makin rendah diri.

Butet juga menentang anggapan bahwa orang rimba terbelakang, tak berbudaya. Pengalamannya tinggal bersama orang rimba mencatat kehidupan mereka mandiri dan ramah lingkungan, selama tak ada gangguan dari orang luar.

Sokola Rimba juga menjadi sekolah nonformal yang menurutnya lebih mengakrabkan masyarakat adat, terpencil dan terasing. Sekolah yang bukan hanya bisa baca-tulis-hitung, namun juga bisa memberikan pilihan-pilihan kepada orang rimba memilih dan sadar akan pilihannya.

Perjuangan tak kenal lelah Butet itu banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Ia menerima banyak penghargaan. Misalnya Man and Biosphere Award 2000 dari LIPI, Woman of the Year bidang pendidikan dari ANTV Jakarta (2004), Heroes of Asia Award kategori konservasi dari Majalah TIME (2004), penghargaan pendidikan untuk anggota masyarakat biasa dari Menteri Pendidikan Nasional, penghargaan perempuan dalam bidang keadilan dari PEKA, dan penghargaan dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (2005).

Kisah Butet bukan hanya catatan tentang etnografi rimba dan upaya dia mendirikan sokola rimba. Melainkan juga kitab kearifan tentang hidup berdampingan dengan manusia-manusia terpinggirkan dan terasing.

EVA ROHILAH

Dimuat di Majalah Guru edisi-4 November 2007

Ketika Musim Sertifikasi Tiba

Posted: November 21, 2007 by Eva in Pendidikan

KETIKA MUSIM SERTIFIKASI TELAH TIBA

Setelah menunggu satu tahun delapan bulan, sejak Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diterbitkan, akhirnya pemerintah menggunakan Peraturan Mendiknas No 18/2007 sebagai landasan hukum pelaksanaan sertifikasi untuk guru dalam jabatan. Mulai September 2007, sebanyak 200.450 guru akan disertifikasi. Mereka terdiri dari 20.000 guru yang sudah di daftarkan pada tahun 2006 dan 180.450 guru yang didaftar pada tahun 2007.

WAJAH Alidin (40) berseri-seri. Ia adalah salah satu dari 478 guru yang lulus uji sertifikasi kuota 2006 yang diadakan oleh Universitas Negeri Makassar. Artinya, sebentar lagi, guru SD Negeri III Mangkura Makassar itu akan meraih sertifikat pendidik, sekaligus menyandang predikat guru profesional.

Pada Oktober 2007 Alidin menerima tunjangan profesi sebesar sekali gaji pokok. Sebagai seorang sarjana dengan masa kerja pegawai negeri sipil lebih dari 12 tahun, gaji pokoknya sekira Rp 1,5 juta. “Ya, lumayan tambahan rezeki buat menambah kebutuhan rumah tangga serta pendidikan anak-anak,” ujar ayah dari dua anak ini dengan wajah sumringah.

Alidin adalah satu di antara sekian banyak guru yang beruntung mengikuti sertifikasi gelombang awal tahun ini. Sebaliknya, beberapa guru SD yang baru saja melihat papan pengumuman di Lantai III Gedung Rektorat UNM, lesu darah. Mereka, di antaranya, adalah Rahim (guru SDN Sudirman Makassar) dan Ruslan (guru SMPN 12 Makassar). Status kelulusan mereka masih tertunda. Pada lajur nama mereka tertera kode DPG, singkatan dari Diklat Pendidikan Guru. Itu berarti, untuk meraih sertifikat pendidik dan tunjangan profesi mereka harus lebih dulu ikut pendidikan dan latihan dari asesor UNM.


Di lain pihak, yang terpaksa menunda kegembiraan adalah guru-guru yang pada nama mereka tertera kode verifikasi. Namun, mereka ini lebih beruntung karena berkas portofolio cuma butuh penyesuaian karena beberapa lembar berkas ternyata belum sempat dilegalisasi oleh atasan atau pengawas.

Yang paling sedih adalah yang diberi keterangan tidak lulus karena total skornya kurang dari rentang nilai 850—1.500 yang dipersyaratkan. Penyebabnya, macam-macam. Bisa saja yang bersangkutan melampirkan bukti palsu atau hasil plagiat. “Ini soal martabat profesi guru. Jangan main-main,” kata Eko Hadi Pujiono, Ketua Pelaksana Sertifikasi Universitas Negeri Makassar.

OPTIMALISASI DAN FUNGSI KONTROL

Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Tujuannya untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran, meningkatkan profesionalisme guru, serta mengangkat harkat dan martabat guru. Proses sertifikasi dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah.

Mengingat pelaksanaan sertifikasi merupakan kerja nasional yang melibatkan banyak pihak, jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan sertifikasi bergulir, Depdiknas mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kepmendiknas) Nomor 056/P/2007 tentang pembentukan Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG). KSG bertugas merumuskan standardisasi proses dan hasil sertifikasi guru, serta melaksanakan harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan sertifikasi guru.

Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) dr. Fasli Jalal, PhD, menjelaskan keanggotaan KSG melibatkan unsur Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti), PMPTK, wakil dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), universitas eks IKIP dan Departemen Agama.

“Konsorsium menjadi governing board untuk mengawasi, mengontrol, dan melakukan pembuatan kebijakan agar proses sertifikasi berjalan dengan baik, transparan, akuntabel dan cost efficient,” ungkap Fasli pada acara koordinasi penyelenggaraan sertifikasi guru dalam jabatan, beberapa waktu lalu.

Aktivitas KSG lainnya adalah melakukan koordinasi antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dengan Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten/Kota, dan LPTK dengan KSG. KSG juga melaksanakan monitoring dan evaluasi serta merumuskan rekomendasi dalam rangka pengendalian proses dan hasil sertifikasi guru. LPTK induk ditetapkan di Jakarta, Malang, Solo dan Jogjakjarta.

Tahun ini, sebanyak 200.450 guru kelas dan guru mata pelajaran untuk semua jenjang pendidikan baik PNS dan non PNS mengikuti sertifikasi. “Mereka terdiri dari 20.000 guru yang sudah didaftarkan pada tahun 2006 dan 180.450 guru yang didaftar pada tahun 2007,” Fasli menjelaskan. Kuota peserta dari berbagai kabupaten/kota ditetapkan sejak awal tahun dan telah dilakukan sosialisasi tatacara uji sertifikasi.

Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 menyatakan sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio. Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. “Semua guru yang sudah ditetapkan dalam kuota, mengumpulkan data-data dirinya dalam portofolio, termasuk semua dokumen yang berhubungan dengan kualifikasinya, pengalaman,pendidikan,dan pelatihan,” kata Fasli.

Lebih lanjut, Fasli menjelaskan terdapat 10 komponen portofolio yang meliputi (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi dibidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

PENILAIAN PORTOFOLIO

Sebulan setelah pelaksanaan sertifikasi berjalan, Fasli Jalal dan Direktur Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Muchlas Samani melakukan jumpa pers mengenai hasil penilaian dokumen portofolio sertifikasi guru, di Gerai Informasi Depdiknas. Penilaian tahap pertama ini diperuntukkan bagi peserta uji sertifikasi guru tahun 2006 dengan jumlah kuota 20.000 guru.

Sebanyak 31 rayon induk perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan, telah menyelesaikan penilaian tahap pertama dokumen portofolio peserta sertifikasi. Penilaian tahap pertama ini diperuntukkan bagi peserta sertifikasi guru tahun 2006 dengan jumlah kuota 20.000 guru. Sampai dengan batas akhir penerimaan dokumen portofolio tahun 2006, jumlah dokumen yang telah masuk ke perguruan tinggi menurut daftar peserta dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota adalah 18.864 dari 20.000 kuota tahun 2006. Sisanya belum dikirim ke perguruan tinggi.

“Kepada mereka yang sudah lulus, tunjangan profesi akan langsung dibayar mulai Oktober 2007. Kemudian bagi yang sedang melakukan perbaikan akan kita minta untuk memperbaiki portofolionya dan bagi yang mengikuti diklat akan kita undang untuk mengikuti diklat bersama dengan teman yang kita uji sertifikasi dengan kuota tahun 2007,” ujar Fasli menegaskan.

Sementara itu, Muchlas Samani, yang juga bertindak sebagai ketua tim sertifikasi menjelaskan jika perguruan tinggi telah menyelesaikan penilaian dan menyerahkan hasilnya kepada KSG pada tanggal 25 September 2007. Masih banyaknya dokumen portofolio yang belum dikirim disebabkan adanya penggantian peserta oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota karena peserta yang telah ditetapkan tersebut sudah tidak menjadi guru (pensiun, alih tugas ke pengawas, struktural) dan banyak guru yang terlambat mengirim portofolio ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Hasil penilaian dokumen portofolio yang diterima dari 31 rayon induk perguruan tinggi, 8.484 dinyatakan lulus (48,94%). Sisanya, lebih dari 7.500 mengikuti diklat profesi guru, dan ratusan lainnya melengkapi portofolio.

Sementara itu, peserta lain yang belum diputuskan hasil penilaiannya oleh perguruan tinggi dikarenakan beberapa hal yaitu: peserta tercatat dalam daftar peserta dari kabupaten/kota tetapi dokumen portofolio tidak ada/tidak dikirim, peserta tidak ada nilainya dan sedang konfirmasi dengan perguruan tinggi, dokumen portofolio guru agama, dokumen dikembalikan karena tidak lengkap atau hanya berisi kumpulan fotokopi dokumen, dokumen perlu klarifikasi ijasah, dan dokumen diragukan ada indikasi kecurangan.

Perguruan tinggi telah menyampaikan hasil penilaian portofolio tahap pertama ini kepada Ditjen Dikti, Ditjen PMPTK, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Selanjutnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setelah menerima laporan hasil penilaian portofolio dari perguruan tinggi, menginformasikan hasil penilaian tersebut kepada guru yang bersangkutan. Disamping itu, guru dapat langsung melihat hasil penilaian portofolio dari perguruan tinggi melalui website www.sertifikasiguru.org.

Guru yang dinyatakan lulus akan mendapat sertifikat pendidik yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi, dan nomor registrasi guru yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional melalui Ditjen PMPTK. Sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru sedang dalam proses penyelesaian.

Guru yang telah dinyatakan lulus sebelum bulan Oktober 2007, memiliki sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru, serta memenuhi beban kerja mengajar 24 jam per minggu akan mendapatkan tunjangan profesi terhitung mulai Oktober 2007.

Dokumen yang harus disiapkan guru untuk mendapatkan tunjangan profesi adalah SK kenaikan pangkat terakhir dan SK kenaikan gaji berkala yang telah dilegalisasi oleh kepala sekolah (bagi guru PNS), SK inpassing jabatan fungsional guru bukan PNS yang dilegalisasi oleh kepala sekolah dan yayasan (bagi guru bukan PNS), surat keterangan beban kerja guru mengajar dari kepala sekolah pada satuan pendidikan dimana guru tersebut menjadi guru tetap serta fotokopi nomor rekening bank/pos.

Jika guru mengajar lebih dari satu sekolah, masing-masing sekolah membuat surat keterangan yang akan digunakan sebagai data pendukung bagi kepala sekolah pada satuan pendidikan dimana guru tersebut menjadi guru tetap yang akan membuat surat keterangan beban kerja. Pembayaran tunjangan profesi dapat dibatalkan apabila ditemukan bukti bahwa guru yang bersangkutan memalsukan data dokumen yang dipersyaratkan dalam pemberian tunjangan dan sertifikat pendidik yang bersangkutan dinyatakan batal.

Guru yang diputuskan untuk melengkapi portofolio, segera melengkapinya dan diserahkan kembali ke perguruan tinggi yang bersangkutan paling lambat 2 minggu setelah diumumkan. Bagi guru yang dinyatakan belum lulus dan harus mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) profesi guru, segera mempersiapkan diri untuk mengikuti diklat tersebut yang rencana akan dimulai pada November 2007. Perguruan tinggi akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota untuk penjadwalan dan pelaksanaan diklat profesi guru tersebut.

Sesuai Undang-Undang Nomor 14 tentang Guru dan Dosen bahwa pelaksanaan sertifikasi guru menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Oleh karena itu, perlu dukungan dana dari pemerintah kabupaten/kota melalui dinas pendidikan kabupaten/kota dan pemerintah provinsi melalui dinas pendidikan provinsi untuk dapat membantu pendanaan bagi guru yang mengikuti diklat profesi guru tersebut berupa dana transportasi dan uang harian peserta selama mengikuti diklat profesi guru.

Adapun tempat dan waktu pelaksanaan diklat profesi guru akan ditentukan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan setelah berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota dan dinas pendidikan provinsi. “Sekarang ini LPTK mulai melakukan penilaian tahap kedua yaitu angkatan tahun 2007 dan mempersiapkan diklat profesi yang kita harapkan akan dimulai pada bulan November, sehingga pada bulan Desember semuanya sudah selesai 31 Rayon dari Aceh sampai ke Jayapura,” ungkap Muchlas Samani menambahkan

proses-sertifikasi-di-rayon15lptkuniversitasnegerimalang.jpg

FILOSOFI SERTIFIKASI

Beragam reaksi muncul dari guru, asesor, LPTK dan juga pengamat pendidikan tentang pelaksanaan tahap pertama sertifikasi ini. Masalah sosialisasi, kecurangan, minimnya pemahaman dalam penyusunan portofolio, dan urutan siapa yang duluan disertifikasi menjadi evaluasi bagi KSG dalam pelaksanaan sertifikasi tahap berikutnya.

Rendahnya angka kelulusan dalam penilaian portofolio semakin membuktikan bahwa dengan adanya sertifikasi, semakin ketahuan sejauh mana sebenarnya kemampuan para guru dan ada yang harus dibenahi berkaitan dengan penertiban tugas guru.

Berdasar laporan LPTK penyelenggara penilaian portofolio, tingkat kelulusannya di bawah 50%. Karena banyak yang tak lulus, nantinya akan ada proses penertiban penugasan guru. “Syarat memperoleh sertifikasi di antaranya mengajar minimum 24 jam seminggu. Setelah disertifikasi banyak guru yang hanya mengajar enam jam, delapan jam. Berarti selama ini penugasan guru di negeri kita ini tidak efisien,” ujar Giri Suryatmana, Sekretaris Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan.

Selain itu, menurut lelaki kelahiran Bandung 30 September 1955 ini, masalah sosialisasi dan urutan siapa yang duluan disertifikasi adalah dua aspek yang banyak dibahas dalam evaluasi pelaksanaan sertifikasi “Ada dua evaluasi, pertama masalah sosialisasi, dan yang kedua masalah penentuan ranking atau urutan siapa yang duluan siapa yang belakangan,” ungkapnya singkat.

Berkaitan dengan sosialiasasi Fasli Jalal menjelaskan bahwa perlu dorongan berbagai pihak untuk melakukan sosialiasasi. “Perlu kita jelaskan benar, bahwa pengiriman surat kepada kepala dinas untuk sosialisasi itu memang tidak cukup, maka tahun depan itu kita akan membuat iklan di koran-koran daerah di samping iklan di koran-koran nasional. Di samping itu kita juga membuat website sertifikasi guru, ada juga website PMPTK (www.pmptk.net),” ujarnya penuh semangat.

Berkaitan dengan kecurangan yang ditemui di beberapa rayon, menurut Muchlas Samani, memang ada beberapa kecurangan seperti yang terjadi di UNM Makassar namun jumlahnya tidak signifikan.

“Tingkat kecurangan memang ada, namun sangat rendah. Saat ini LPTK yang bersangkutan sedang menelusurinya. Indikasinya nanti kita panggil orangnya untuk di klarifikasi. Misalnya begini ada dua karyatulis yang nampaknya mirip, kita kan tidak bisa bilang kalau guru itu plagiat, maka kita panggil dua-duanya apakah dia plagiat atau bukan,” tegas lelaki berkacamata itu singkat .

Sejatinya, menurut Giri Suryatmana, beberapa kecurangan dan beberapa kecurigaan terhadap pelaksanaan sertifikasi itu tidak akan terjadi jika para guru menyadari akan filosofi pelaksanaan sertifikasi. Para guru harus menyadari betul perannya sebagai pendidik yang mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Bagi yang sudah melakukan kecurangan itu sudah mati kutu atau bunuh diri. Yang paling penting sebetulnya, memberikan kesadaran sertifikasi itu bukan mengejar sertifikat saja, tapi mencari peran yang lebih luhur yaitu mengemban misi profetis. Filosofi sertifikasi itu sebenarnya ingin meneguhkan kembali peran guru. Karena para guru mengemban amanah umat mencerdaskan generasi bangsa” ujar Giri tegas.

Sertifikasi guru memang merupakan kerja besar nasional. Besar dan ruwetnya pekerjaan terbayang dari jumlah 2,7 juta guru TK-SMA yang harus disertifikasi. Konsekuensinya, butuh tenaga penilai, yaitu ribuan orang asesor dengan kualifikasi dosen yang ditunjuk oleh satuan LPTK. “Tahun ini saja butuh 4.010 asesor,” kata E Nurzaman, Kepala Subdit Program Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK, Depdiknas.

Menurut Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, program sertifikasi guru harus tuntas tahun 2015. Keputusan untuk menyertifikasi guru, kata Mendiknas, sudah dipuji oleh Bank Dunia sebagai langkah luar biasa di dunia. “Sertifikasi semua guru dalam jabatan di Indonesia merupakan kebijakan reformasi terbesar di dunia dalam peningkatan kualitas guru,” ujar Bambang Sudibyo bangga.

EVA ROHILAH

Dimuat di Majalah Guru Edisi-4 November 2007