Archive for December, 2007

Tahun Penuh Berkah

Posted: December 28, 2007 by Eva in Pribadi

Tahun Penuh Berkah

Aku mencoba refleksi terhadap apa yang aku alami tahun ini. Jika bursa saham Indonesia mengalami tahun keemasan, maka tahun ini menurut aku adalah tahun yang penuh berkah dan banyak kejutan yang tak terduga.

Selain aku pindah kerja dan suamiku dapat kerjaan baru, roda kehidupan kami perlahan makin membaik. Namun aku tidak ingat beberapa peristiwa penting yang telah aku alami beberapa bulan yang lalu. Kami melewati semuanya dengan baik dan tidak terencana, semua kejadian berjalan seperti tiba-tiba.

Perjalanan ke luarkota mengunjungi tempat yang selama aku inginkan banyak aku lakukan tahun ini. Beberapa impian juga banyak terwujud, seiring dinamika kehidupan kami yang memang terus berubah juga. Konflik pribadi, kantor dan rumah tangga semakin mendewasakan aku dalam bersikap maupun tingkah laku. Akan tetapi masih banyak beberapa sikap dan karakter buruk aku yang memang sulit dirubah.

Yang jelas menjelang akhir tahun, saya sama suami merasa bahwa ini adalah akhir tahun yang sangat melelahkan. Banyak sekali kegiatan yang harus ikuti, baik itu liputan, penugasan dari kantor, acara keluarga, bisnis sampingan, kegiatan pengawasan, dan tentu saja merenovasi rumah yang benar-benar menguras tenaga, pikiran dan tentu saja uang.

Meskipun demikian, kami sangat bersyukur dengan segala yang telah Allah SWT berikan pada kami. Semoga tahun depan kami bisa melakukan segala sesuatunya lebih baik dan berguna tidak hanya bagi kami sekeluarga, namun juga bagi keluarga, relasi, sahabat bangsa dan Negara.

Selamat Tahun Baru 2008

Bekerja Dengan Cerdas

Posted: December 28, 2007 by Eva in Humaniora

Bekerja Dengan Cerdas

work-hard.jpg

 Saudaraku yang baik, semoga   Allah mengaruniakan semangat kepada kita untuk senantiasa melakukan yang    terbaik dalam hidup ini. Karena, itulah kunci meraih prestasi dalam segala  hal. Semangat bekerja keras harus ada dalam diri. Dengan bekal semangat   bekerja keras, diharapkan kita mampu berbuat semaksimal mungkin yang kita kerjakan.                                                                  
                                                                           
Saudaraku, ternyata tidak cukup hanya kerja keras semata. Manusia juga  membutuhkan kecerdasan dalam menjalankan aktivitasnya, agar hasil yang   diharapkan dapat lebih optimal, dan jauh lebih baik dari sebelumnya. Kita   tidak mungkin hanya mengandalkan kondisi fisik semata saat bekerja, karena  kemampuan fisik manusia sangat terbatas. Ada potensi lain yang sesungguhnya dapat kita gali dan manfaatkan, yaitu potensi akal. Itulah  yang disebut dengan bekerja cerdas. Jadi, kita bekerja dengan ilmu.    Karena, ada orang yang kelihatannya sibuk sekali, pontang-panting tetapi   hasil ia dapatkan tidak optimal. Malah, bisa jadi kesalahan yang  didapatkan.                                                                
                                                                           
Saudaraku, minimal kita mengetahui dengan jelas tentang pekerjaan atau apa  saja yang kita lakukan. Bagaimana caranya, apa yang harus dilakukan jika   ada masalah. Dengan siapa kita dapat bekerjasama, dan segala hal yang  menyakut pekerjaan kita. Lebih baik lagi, jika kita terus menambah ilmu,   pemahaman agar dapat terus meningkatkan kualitas diri. Dan, orang seperti inilah yang akan bertahan, berprestasi dan memperoleh kesuksesan dalam  karirnya.                                                                  
                                                                           
Saudaraku, selain potensi jasad, dan akal, dimanfaatkan, yaitu potensi  hati. Artinya, setelah kita sukses bekerja keras dengan cerdas, kita juga  harus ikhlas. Amalan hati ini memang tidak mudah untuk dilakukan. Apalagi,  ketika kita merasa sudah mampu menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik,   kadangkala kita tidak hati-hati, terselip rasa riya (sombong) atau  sombong. Menganggap bahwa keberhasilan itu adalah karena usaha kita berpayah-payah, Sehingga kita harus tetap mengikhtiarkan agar sikap  ikhlas, mengharap keridhaan Allah tetap menjadi tujuan kita dalam segala  aktivitas.                                                                 
                                                                            
Itulah tiga potensi penting manusia yang telah diberikan Allah agar dapat  mengoptimalkan setiap aktivitasnya. Porsi potensi fisik, akal, dan hati    haruslah seimbang. Salah satu tidak boleh terlalu mendominasi yang  lainnya. Fisik saja, tentu lelah yang akan didapatkan. Akal saja, bisa    jadi berbuah kesombongan. Hati saja, tentu sebagai manusia kita juga  diharuskan berikhtiar dengan optimal. Karunia Allah tidak datang begitu   saja tanpa ada usaha dari setiap makhluknya. Semoga kita digolongkan sebagai orang yang mampu bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas, sehingga  bermakna bagi dunia, dan berarti pula bagi akhirat, wallahu’alam.      


 

Belajar Seperti Menonton Sinetron

Posted: December 13, 2007 by Eva in Pendidikan

Juara I Guru Berprestasi Tingkat SD 2007: Sri Rahayu

Belajar Seperti Menonton Sinetron

Sri Rahayu memanfaatkan multimedia sebagai media pembelajaran. Menjadikan belajar Ilmu Pengetahuan Alam tidak membosankan. Prestasi anak didik meningkat tajam.

Sebentuk senyum tiada henti mengembang dari bibir Sri Rahayu. Ketika itu, perempuan berperawakan tinggi dan berkulit kuning langsat itu diumumkan sebagai guru berprestasi tingkat nasional untuk jenjang Sekolah Dasar (SD). Dengan mengenakan jilbab putih dan seragam biru dongker, ia pun bersalaman dengan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dengan bangga.

Modal utama yang menjadikan Yayuk, nama sapaannya, terpilih menjadi guru berprestasi adalah karena karya ilmiah yang dibuatnya dinilai sangat bagus dan inovatif. Karya ilmiah yang berjudul Pembelajaran Tata Surya Menggunakan Multimedia di SD itu telah mencuri hati para juri di tingkat nasional.

Padahal, menurut perempuan kelahiran Magelang 10 Januari 1969 itu, ide menulis karya ilmiah itu sangat sedehana. Gagasannya lahir setelah ia memperhatikan kebiasaan anak-anaknya menyaksikan iklan atau sinetron di televisi.

Penayangan iklan dan sinetron yang diulang-ulang membuat kedua anaknya cepat hafal dan secara reflek akan terus mengingatnya. Tanpa pikir panjang, Yayuk langsung menuliskan konsep pembelajaran tentang tata surya dalam bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diajarkan sehari-hari.

“Pada awalnya menyusun karya ilmiah ini memang sulit karena banyak kendala,” katanya. Namun, ia sangat yakin dengan langkah yang ia tempuh. Setelah konsep matang, ia lantas mendiskusikannya dengan suami untuk mempersiapkan segala perangkat yang akan ia gunakan.

Gayung pun bersambut. Didukung kemahiran suaminya menggunakan komputer, rencana pun berjalan mulus seperti melaju di atas jalan tol. “Saya membuat skenario dan suami saya merancang perangkat multimedia dalam bentuk compact disk (CD),” katanya.

Ia ingin agar pelajaran tata surya yang diajarkannya menarik para murid seperti mereka menonton sinetron. “Bahkan sampai hafal soundtrack lagunya,” ujar Yayuk sambil tertawa.

Yayuk lalu menunjukkan hasil karyanya pada GURU ketika ditemui di Hotel Sheraton Media, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dengan sigap, ia mengeluarkan laptop paling gres telah menggunakan piranti Windows Vista. Sejenak ia memperlihatkan karya ilmiahnya tanpa bermaksud menggurui.

Presentasi singkat Yayuk kepada GURU cukup ringkas, tajam, dan jelas. Begitu juga yang ia lakukan di hadapan dewan juri ketika berkompetisi dengan ratusan guru se-Indonesia. Dalam presentasi yang dilakukan pada pemilihan guru berprestasi tingkat nasional itulah karyanya membawa Yayuk menjadi juara I untuk tingkat SD.

Yayuk sendiri telah menerapkan metoda itu di sekolahnya. “Hasilnya memuaskan,” ujar ibu dua putri itu. Buktinya terlihat dari nilai IPA untuk mata pelajaran Tata Surya yang diperoleh ke-35 siswanya. Hasilnya jauh berbeda dibanding ketika ia masih menggunakan metode sebelumnya.

Pada saat evaluasi siswa, dengan metode ceramah, dari 35 siswa, 25 di antaranya mendapat nilai IPA di atas 7. Sisanya mendapat nilai di bawah 7.

Setelah pembelajaran melalui multimedia hasilnya melonjak tajam. Rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 81,0. Sebanyak 32 anak mendapat nilai di atas 7. Artinya, hanya 3 anak yang mendapat nilai di bawah 7. “Luar biasa sangat menggembirakan hasilnya,” katanya. Karena itu, ia mendiskusikan juga karyanya itu di Kelompok Kerja Guru.

Selain penggunaan multimedia saat belajar, Yayuk juga membuat CD Tata Surya yang bisa dimiliki setiap siswa. Dengan CD yang dicetaknya, siswa bisa belajar kapan saja di rumah. Selain hemat waktu, cara itu juga dinilai efektif. “Penggunaan CD pembelajaran dapat memudahkan siswa untuk mengulang-ngulang pembelajaran baik di sekolah maupun rumah,” ujarnya.

Tapi, Yayuk tak hanya mengandalkan efektivitas penggunaan CD. Ia juga menerapkan metode simulasi saat mengajar Tata Surya. Ia berpendapat, simulasi pada pembelajaran tata surya dapat digunakan untuk melatih siswa bekerja sama dalam kelompok.

“Selain itu, saat penggunaan simulasi siswa juga belajar untuk bertoleransi antar sesama,” ia menambahkan. Dengan adanya toleransi dan rasa kebersamaan, Yayuk berharap materi Tata Surya dan mata pelajaran IPA menjadi lebih menyenangkan.

“Jika karya ilmiah saya ini diterima oleh guru-guru lain, saya ingin memotivasi mereka untuk berkarya,” katanya. Ia juga mengajak para guru untuk menjadikan IPA sebagai mata pelajaran yang menarik dan mencerdaskan anak didik.

Yayuk adalah guru SD 2 Yayasan Pupuk Kaltim (YPK), Bontang, Kalimantan Timur.
Sebelum mengajar di sana, Yayuk mengajar mata pelajaran Biologi di SMA Sulaiman Sleman, DIY. Ketika itu, ia tak menduga nasib akan membawanya menjadi guru SD.

Soalnya, ketika ia melamar pekerjaan, skripsinya tertunda karena masalah biaya. Keadaan itu kian parah karena dosennya pergi ke luar negeri. Selain itu, ia terlambat menerima surat pengumuman yang menyatakan ia diterima untuk mengikuti tes selanjutnya. “Tapi alhamdulilah saya masih bisa mengikuti tes dan lolos,” ujar perempuan yang dulu bercita-cita menjadi dokter itu. .

Akhirnya, pada 1996, sarjana lulusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta itu berangkat ke Bontang. Pada awal mengajar, Yayuk langsung ditempatkan sebagai guru kelas 4 SD. Saat itu ia juga harus mengajar Matematika, IPA dan IPS.

Namun, tugas itu tidak berlangsung lama. Kepala sekolahnya kemudian menempatkan Yayuk menjadi guru mata pelajaran IPA. Tanpa terasa, pekerjaan itu telah dijalaninya selama sebelas tahun. Ia telah melewati pelbagai macam kenangan pahit dan manis mengabdi untuk pendidikan di Pulau Borneo, yang jauh dari tanah kelahirannya.

Yayuk memang bukan guru biasa. Ia telah mengukir beragam penghargaaan dan prestasi baik di tingkat lokal maupun nasional. Prestasi itu, antara lain, Juara I Laga Prestasi di TVRI Samarinda, Juara II Lomba Bidang Studi IPA, pemenang perunggu kategori Multimedia YPK Bontang, Peringkat II Guru Berprestasi Bontang 2006, serta Juara I Guru Berprestasi Bontang 2007.

Bagi perempuan yang berasal dari keluarga petani di Magelang itu, menjadi guru adalah ibadah. Penggemar olah raga bols volley itu memang mempunyai prinsip bahwa apapun yang ia lakukan adalah ibadah. Karena itu, setelah melakukan kerja keras sejak tingkat kabupaten hingga meraih prestasi terbaik di tingkat nasional, tidak banyak yang diinginkan Yayuk.

Ia akan memanfaatkan sebaik-baiknya hadiah berupa uang tunai dan laptop dari Depdiknas. Bahkan, sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah tiada tara yang telah diberikan Tuhan padanya, Yayuk ingin segera berziarah ke tanah suci.

Sebenarnya, keinginan untuk menunaikan ibadah haji itu sudah lama ia idam-idamkan. Namun, niatnya itu selalu tertunda karena tabungannya tak kunjung mencukupi. Karena itu, ia menilai saat ini sebagai kesempatan emas baginya untuk segera melaksanakan cita-citanya itu. “Saya ingin memenuhi panggilan Allah, mengunjungi-Nya di rumah Allah, saya ingin naik haji,” ujar pembaca serial novel Harry Potter itu berseri-seri.

EVA ROHILAH

SERTIFIKASI ITU MENGEMBAN MISI KENABIAN

Posted: December 13, 2007 by Eva in Pendidikan

SERTIFIKASI ITU MENGEMBAN MISI KENABIAN
wawancara Giri Suryatmana

Ia sosok yang humanis. Dibalik sikapnya yang ramah dan penyabar, selera humornya juga tinggi. Dialah Ir. Giri Suryatmana, Sekretaris Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Sesditjen PMPTK) Depdiknas. Siapa yang menyangka jika lulusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) ini akan bergulat dengat pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi salah satu instrumen penting dalam dunia pendidikan.

Meskipun demikian, bagi ayah dua putri ini, dunia guru bukanlah hal yang baru. Sang ayah yang berdarah Sunda, Atmo Suryatma adalah seorang guru bahkan salah seorang pendiri Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), sedangkan ibunya yang berdarah Jawa, Retno, juga seorang guru lulusan Normal School, sekolah keguruan zaman Belanda yang dalam perkembangannya berubah menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Bagi lelaki kelahiran Bandung 30 September 1955 ini, sertifikasi guru harus diawasi betul pelaksanaannya mengingat proses ini sangat penting bagi masa depan tenaga pendidik dan sifatnya yang berkelanjutan. Disela-sela kesibukan dan jadwal kerjanya yang padat, lelaki yang memiliki hobi beternak ikan ini berbicara panjang lebar kepada Eva Rohilah dari Majalah GURU tentang sertifikasi guru dan rencana strategis percepatan peningkatan mutu di daerah terpencil.

Berikut petikannya:

Bagaimana perkembangan terkini pelaksanaan sertifikasi?

Secara normatif kan sudah jelas target sertifikasi saat ini 200.450 guru, 20.000 di antaranya adalah guru yang masuk daftar tahun 2006. Sebanyak 180.450 guru didaftar pada tahun 2007. Sampai saat sekarang dari laporan yang kami terima dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang menyelenggarakan tes hasil penilaian portofolio itu tingkat kelulusannya di bawah 50%. Nah, dari situ nanti akan tercipta proses yang luar biasa dan ada satu kata kunci yang bisa kita pelajari dari proses uji sertifikasi ini, yaitu proses penertiban penugasan guru, terlepas dari alasan merepotkan guru dan lain sebagainya.

Dalam sertifikasi itu disebutkan guru minimum mengajar 24 jam seminggu. Setelah disertifikasi banyak guru yang ketahuan hanya mengajar enam jam, delapan jam dan lain sebagainya. Berarti selama ini penugasan guru di negeri kita ini tidak efisien.

Dimana letak tidak efisiennya?

Begini, perbandingan jumlah guru dengan murid di negara kita dibanding dengan perbandingan jumlah guru di ASEAN sangatlah jauh, guru di Indonesia ini tergolong mewah. Karena satu guru perbandingannya 14 siswa, bandingkan dengan Malaysia 1:25, Korea Selatan 1:30 siswa. Akan tetapi permasalahannya distribusi yang tidak sempurna, guru di Indonesia terpusat di kota, sedangkan di daerah terpencil itu kekurangan, hampir 70% kekurangan guru.

Jadi memang ada ketimpangan antara distribusi guru di pusat dan daerah, kenapa bisa demikian?

Iya, memang timpang. Mungkin selama ini manajemen Human Resource Development (HRD) penataan guru itu tidak tertata dengan bagus, mungkin ya dulu mohon maaf sebelum ada Ditjen PMPTK, dana untuk guru besarnya hanya 3% APBN. Kalau sekarang anggaran guru sudah naik menjadi sekitar 17%. Seandainya dana pendidikan naik menjadi 20% APBN, maka hampir 50% dana itu untuk guru.

Berapa dana yang dibutuhkan jika 2,7 juta guru sudah bersertifikat?

Jika 2,7 juta guru sudah bersertifikat kita butuh dana antara Rp 52-53 triliun untuk memberi tunjangan di luar gaji. Gaji PNS dan gaji tunjangan sekitar Rp 45 triliun. Jadi layaklah kalau memang nanti jika anggaran pendidikan itu 20% dari APBN, maka minimal setengah dari dana tersebut seharusnya untuk guru. Sehingga, melalui proses sertifikasi ini sekaligus sedang menata ulang ketidakseimbangan distribusi, ketidakefektifan jam mengajar dan lain sebagainya. Sulit sekali mengikuti standar 24 jam karena banyak yang terpusat di kota.

Bisa dipertegas lagi, apa sebenarnya filosofi pelaksanaan sertifikasi?

Sebenarnya kita ingin meneguhkan kembali peran guru. Jika kita cermati, profesi guru itu emang agak unik dan berbeda dengan profesi lain yang sangat teknis seperti akuntan, misalnya. Di luar profesinya sebagai pendidik, guru itu mengemban misi kenabian atau misi kerasulan (profetis), dia itu kan pembimbing umat. Bayangkanlah anak Taman Kanak-kanak (TK) yang masih belum tahu apa-apa jadi pintar, itu kan berkat guru yang melakukan fungsi rasul, pembimbing umat. Jadi bagi guru yang sudah bersertifikat itu, harus tercermin adanya ruh profetis.

Maksudnya guru yang bersertifikasi mengemban misi kenabian?
Iya, karena para guru mengemban amanah umat, dan terus menerus seorang guru harus mencerdaskan generasi baru, sampai melahirkan generasi cerdas yang bisa mengelola alam dan menciptakan masa depan. Makanya dulu proses untuk menjadi guru itu tidaklah mudah. Karena harus melewati berbagai macam ujian.

Mengapa sertifikasi telat pelaksanaannya?

Alasan utamanya, ya payung hukum. Pada 2006, kami menyiapkan kira-kira 20.000 guru mengikuti sertifikasi. Dananya disiapkan sekitar Rp 350 miliar. Rencananya, sertifikasi dilaksanakan November 2006 sampai Maret 2007. Tapi peraturan pemerintah yang mengatur tentang guru belum ada. Maka disiasatilah lewat peraturan menteri.

Setiap kebijakan pemerintah itu terkait dengan perundangan lain. Sertifikasi berkaitan dengan aturan otonomi daerah, perimbangan keuangan pusat dan daerah, Ada tunjangan profesional, tunjangan fungsional dan tunjangan lainnya. Jadi perlu disinkronkan dengan aturan lain.

Lalu pembagiannya menjadi seperti apa?
Akhirnya dari draft yang sudah lolos itu, tunjangan fungsional untuk guru yang sudah PNS itu menjadi kewenangan daerah melalui DAU (Dana Alokasi Umum), sedangkan tunjangan fungsional guru non PNS (swasta) itu menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Akan tetapi jika tiap daerah punya kebijakan sendiri, berapa besarnya insentif guru terserah daerah.

Setelah sertifikasi bergulir, bagaimana reaksi para guru?
Ada reaksi beragam dari guru. Yang positif, guru semakin meningkatkan kompetensi. Selama ini kompetensi guru tidak pernah diukur. Seharusnya setiap dua tahun diperbaharui kayak SIM. Tapi PGRI inginnya sertifikat berlaku seumur hidup.

Dari hasil penilaian portofolio ditemukan kecurangan di beberapa rayon, apakah sudah ada evaluasi?

Ya, secara otomatis sudah ada mekanismenya. Bagi yang sudah melakukan kecurangan itu sudah mati kutu atau bunuh diri. Kita sudah menginstruksikan pada LPTK dan dinas agar menyisir. Yang paling penting sebetulnya, memberikan kesadaran sertifikasi itu bukan mengejar sertifikat, tapi mencari peran yang lebih luhur yaitu mengemban misi profetis.

Bagaimana dengan minimnya sosialisasi, karena di beberapa daerah banyak yang belum tahu, sepertinya peran dinas itu belum maksimal?

Sebetulnya kami cukup lelah dengan proses sosialisasi yang berjenjang dari dinas. Kadangkala hasil rapat koordinasi ditinggal saja di hotel. Jangankan begitu ya, kami minta data guru saja dinas pendidikan kabupaten kota tidak banyak yang eager (tertarik) untuk melaporkan.

Bisa dijelaskan tidak pemilahan fungsi peran Dirjen PMPTK dengan Dirjen Pendidikan Tinggi dalam pelaksanaan sertifikasi?

PMPTK lebih pada memfasilitasi. Mulai dari data gurunya, dimana tempatnya, sampai menggerakkan para guru mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan bahan. Sedangkan yang menguji dan mensertifikasi itu Dikti. Ibarat hajatan pernikahan, PMPTK itu tuan rumah, Dikti, dalam hal ini LPTK sebagai amil yang mengesahkan. Di manapun, tuan rumah pasti paling sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau amil datang aja pas hari-H nya.

Bagaimana peranan KSG, sepertinya kurang maksimal, bahkan pelaksanaan diklat belum terlaksana juga?
Jadi begini, saat ini masih dalam proses pendataan di bawah komando Nurzaman, Kepala Subdit Program Direktorat Profesi Pendidik. Sekarang ini kami kerja keras terus siang malam.
Apa evaluasi pelaksanaan sertifikasi tahap awal?

Ada dua evaluasi yang pertama masalah sosialisasi dan yang kedua itu masalah penentuan ranking atau urutan siapa yang duluan siapa yang belakangan. Misalnya, dalam satu Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) ada 100 orang, selama 10 tahun kan hanya bisa sepuluh tiap tahun, harus ada urutannya. Siapa yang rela menunggu 10 tahun?

Strateginya seperti apa?

Cara yang akan kita lakukan adalah dengan memberikan kesadaran, menggetarkan musyawarah guru. Kami biarkan guru dengan kelompok guru menjadi kelompok kerja yang profesional. Ada segitiga antara kelompok guru, kepala sekolah, dan pengawas. Ke depan, fungsi dinas pendidikan hanya pemberi fasilitas. Kami akan giatkan 80.000 kelompok kerja guru. Mulai 2007, kami meluncurkan ICT Learning Centre untuk mempermudah sosialisasi.

Bukankah ICT hanya dijangkau masyarakat kota, bagaimana dengan daerah terpencil?

Oh tidak, ini justru di daerah terpencil dulu. Kami punya program namanya Percepatan Peningkatan Mutu di Daerah Terpencil.” Seiring dengan adanya bantuan untuk guru di daerah terpencil, kami siapkan juga sumber belajarnya. DPR sudah setuju.

Untuk melatih mereka yang di daerah terpencil agar mampu mengoperasikan ICT dan perangkatnya kami kerjasama dengan kementerian negara pembangunan percepatan daerah tertinggal.

Nonton Jiffest Yuk…

Posted: December 13, 2007 by Eva in Agenda

schedule.html”>JIFFEST SCHEDULE

Fri, 07th Dec 2008
DJK 1 19:00 WIB Persepolis
DKJ 1 21:30 WIB Across the Universe
DKJ 2 19:15 WIB Persepolis
DKJ 2 21:45 WIB Paprika

Sat, 08th Dec 2008
BLITZ 7 14:15 WIB Mukhsin
BLITZ 7 16:45 WIB S-Express Singapore + Thailand
BLITZ 7 19:15 WIB Hang Tuah
BLITZ 7 21:45 WIB S-Express Malaysia
BLITZ 9 14:00 WIB 4 Months, 3 Weeks & 2 Days
BLITZ 9 16:30 WIB Four Minutes (Vier Minuten)
BLITZ 9 19:00 WIB The Year My Parents Went On Vacation
BLITZ 9 21:30 WIB 2 Days in Paris
DJK 1 14:00 WIB Atonement
DJK 1 16:30 WIB Vitus
DJK 1 19:00 WIB Into the Wild
DJK 1 21:30 WIB A Mighty Heart
DJK 2 16:45 WIB Elizabeth: The Golden Age
DJK 2 19:15 WIB Waiter (Ober)
DJK 2 21:45 WIB Hula Girls (Hula gâru)
DJK 3 16:30 WIB The Drown Sea (Laut Yang Tenggelam)
DJK 3 19:00 WIB Sicko
DJK 3 21:30 WIB a courts d’écran #10 (La Fémis sélection 2007)
ERASMUS HUIS 12:00 WIB Indigènes (Days of Glory)
ERASMUS HUIS 14:30 WIB The Night Before Finals (Notte prima degli esami)
ERASMUS HUIS 17:00 WIB American Fork
ERASMUS HUIS 19:30 WIB Along the Ridge (Anche libero va bene)
GOETHE HOUSE 12:00 WIB El Otro
GOETHE HOUSE 14:30 WIB Grave Decisions
GOETHE HOUSE 19:30 WIB Rome Rather than You
KINEFORUM 14:00 WIB Dancing Bells (Chalanggai)
KINEFORUM 16:30 WIB Donsol
KINEFORUM 19:00 WIB Paper Can Not Wrap Up Embers
KINEFORUM 21:30 WIB Village People Radio Show

Sun, 09th Dec 2008
BLITZ 7 14:15 WIB Bujang Lapok
BLITZ 7 16:45 WIB The Conductors
BLITZ 7 19:15 WIB Flower in the Pocket
BLITZ 7 21:45 WIB The Truth Be Told: … Against Supinya Klangnarong
BLITZ 9 14:00 WIB Cyrano Fernandez
BLITZ 9 16:30 WIB Buenos Aires 1977 (Crónica de una fuga)
BLITZ 9 19:00 WIB The Fall
BLITZ 9 21:30 WIB Vitus
DJK 1 14:00 WIB Elizabeth: The Golden Age
DJK 1 16:30 WIB The Namesake
DJK 1 19:00 WIB No Country for Old Men
DJK 1 21:30 WIB Persepolis
DJK 2 16:45 WIB 2 Days in Paris
DJK 2 19:15 WIB Love & Honor (Bushi no ichibun)
DJK 2 21:45 WIB Four Minutes (Vier Minuten)
DJK 3 14:00 WIB Paprika
DJK 3 16:30 WIB Deliver Us From Evil
DJK 3 19:00 WIB Boy Meets Girl
DJK 3 19:00 WIB Crescent Moon Over the Sea
DJK 3 21:30 WIB The U.S. vs. John Lennon
EH 12:00 WIB Kirikou and Wild Beasts
EH 14:30 WIB Big Rig
EH 17:00 WIB Faro: Goddess of the Water
EH 19:30 WIB Saimir
GH 12:00 WIB Requiem
GH 14:30 WIB Pingpong
GH 17:00 WIB Atos dos Homens (Acts of Men)
GH 19:30 WIB Yella
KF 14:00 WIB The Blossoming of Maximo Oliveros
KF 16:30 WIB S-Express Singapore + Thailand
KF 19:00 WIB Labu & Labi
KF 21:30 WIB The Last Communist
logo-jiffest-penulisan-naskah.jpg
Mon, 10th Dec 2008
BLITZ 7 14:15 WIB The Blossoming of Maximo Oliveros
BLITZ 7 16:45 WIB Nujum Pak Belalang
BLITZ 7 19:15 WIB Pao’s Story (Chuyen cua Pao)
BLITZ 7 21:45 WIB S-Express Singapore + Thailand
BLITZ 9 11:30 WIB Kala
BLITZ 9 14:00 WIB Suely in the Sky (Céu de Suely, O)
BLITZ 9 16:30 WIB Playing Between Elephants
BLITZ 9 19:00 WIB Four Minutes (Vier Minuten)
BLITZ 9 21:30 WIB You Kill Me
DJK 1 11:30 WIB Pocong 2
DJK 1 14:00 WIB Kuntilanak (The Chanting)
DJK 1 16:30 WIB Into the Wild
DJK 1 19:00 WIB A Guide to Recognizing Your Saints
DJK 1 21:30 WIB The Namesake
DJK 2 11:45 WIB Lantai 13
DJK 2 14:15 WIB Hantu Bangku Kosong
DJK 2 16:45 WIB La Vie en Rose (La Môme)
DJK 2 19:15 WIB Shake Hands with the Devil
DJK 2 21:45 WIB Possible Lives (Las Vidas posibles)
DJK 3 11:30 WIB Lewat Tengah Malam
DJK 3 14:00 WIB Hantu Jeruk Purut
DJK 3 16:30 WIB Forever
DJK 3 19:00 WIB Comrades in Dreams
DJK 3 21:30 WIB Afghan Muscles
EH 17:00 WIB The Night Before Finals (Notte prima degli esami)
EH 19:30 WIB American Fork
GH 17:00 WIB Naousse (A Perfect Day)
GH 19:30 WIB Pingpong
KF 14:00 WIB Invisible City
KF 14:00 WIB Singapore GaGa
KF 16:30 WIB The Bet Collector (Kubrador)
KF 19:00 WIB S-Express Malaysia
KF 21:30 WIB Laksamana Do Re Mi

Tue, 11th Dec 2008
BLITZ 7 14:15 WIB Love Conquers All
BLITZ 7 16:45 WIB The Blossoming of Maximo Oliveros
BLITZ 7 19:15 WIB The Last Communist
BLITZ 7 21:45 WIB Hang Tuah
BLITZ 9 11:30 WIB Coklat Stroberi
BLITZ 9 14:00 WIB Comrades in Dreams
BLITZ 9 16:30 WIB Cyrano Fernandez
BLITZ 9 19:00 WIB Vitus
BLITZ 9 21:30 WIB The Year My Parents Went On Vacation
DJK 1 11:30 WIB Cinta Pertama
DJK 1 14:00 WIB Kangen
DJK 1 16:30 WIB Atonement
DJK 1 19:00 WIB A Mighty Heart
DJK 1 21:30 WIB A Guide to Recognizing Your Saints
DJK 2 11:45 WIB Love is Cinta
DJK 2 14:15 WIB Badai Pasti Berlalu
DJK 2 16:45 WIB Suely in the Sky (Céu de Suely, O)
DJK 2 19:15 WIB No Country for Old Men
DJK 2 21:45 WIB Waiter (Ober)
DJK 3 11:30 WIB Merah itu Cinta
DJK 3 14:00 WIB Cintapuccino
DJK 3 16:30 WIB Shut Up & Sing
DJK 3 19:00 WIB Swedish Shorts – New Beginnings
DJK 3 21:30 WIB Sicko
EH 17:00 WIB Spine Tingler: The William Castle Story
EH 19:30 WIB Faro: Goddess of the Water
GH 17:00 WIB Yella
GH 19:30 WIB Atos dos Homens (Acts of Men)
KF 14:00 WIB S-Express Indonesia + Philippines
KF 16:30 WIB Nujum Pak Belalang
KF 19:00 WIB Paper Can Not Wrap Up Embers
KF 21:30 WIB Donsol

Wed, 12th Dec 2008
BLITZ 7 14:15 WIB The Bet Collector (Kubrador)
BLITZ 7 16:45 WIB Labu & Labi
BLITZ 7 19:15 WIB The Truth Be Told: … Against Supinya Klangnarong
BLITZ 7 21:45 WIB Village People Radio Show
BLITZ 9 11:30 WIB Long Road to Heaven
BLITZ 9 14:00 WIB International Shorts + S-Express Taiwan
BLITZ 9 16:30 WIB El Custodio (The Minder)
BLITZ 9 19:00 WIB Buenos Aires 1977 (Crónica de una fuga)
BLITZ 9 21:30 WIB The Golden Door (Nuovomondo)
DJK 2 11:45 WIB Bukan Bintang Biasa: The Movie
DJK 2 14:15 WIB Dunia Mereka
DJK 2 16:45 WIB Possible Lives (Las Vidas posibles)
DJK 2 19:15 WIB La Vie en Rose (La Môme)
DJK 2 21:45 WIB 4 Months, 3 Weeks & 2 Days
DJK 3 11:30 WIB Mengejar Mas-Mas
DJK 3 14:00 WIB Maaf Saya Menghamili Istri Anda
DJK 3 16:30 WIB Wordplay
DJK 3 19:00 WIB Swedish Shorts – The End of a Century
DJK 3 21:30 WIB Crescent Moon Over the Sea
DJK 3 21:30 WIB Boy Meets Girl
EH 17:00 WIB Along the Ridge (Anche libero va bene)
EH 19:30 WIB Big Rig
GH 17:00 WIB El Otro
GH 19:30 WIB Grave Decisions
KF 14:00 WIB Bujang Lapok
KF 16:30 WIB Invisible City
KF 16:30 WIB Singapore GaGa
KF 19:00 WIB Dancing Bells (Chalanggai)
KF 21:30 WIB S-Express Indonesia + Philippines

Thu, 13th Dec 2008
BLITZ 7 14:15 WIB Invisible City
BLITZ 7 14:15 WIB Singapore GaGa
BLITZ 7 16:45 WIB Flower in the Pocket
BLITZ 7 19:15 WIB Nujum Pak Belalang
BLITZ 7 21:45 WIB The Blossoming of Maximo Oliveros
BLITZ 9 11:30 WIB Jakarta Undercover
BLITZ 9 14:00 WIB Hula Girls (Hula gâru)
BLITZ 9 16:30 WIB The Drown Sea (Laut Yang Tenggelam)
BLITZ 9 19:00 WIB Persepolis
BLITZ 9 21:30 WIB The Fall
DJK 1 19:00 WIB The Missing Star (La Stella che non c’è)
DJK 1 21:30 WIB No Country for Old Men
DJK 2 11:45 WIB Malam Jumat Kliwon
DJK 2 14:15 WIB Terowongan Casablanca
DJK 2 16:45 WIB Atonement
DJK 2 19:15 WIB The Namesake
DJK 2 21:45 WIB A Mighty Heart
DJK 3 11:30 WIB Suster Ngesot (The Crawling Nurse)
DJK 3 14:00 WIB Suster N
DJK 3 16:30 WIB Deliver Us From Evil
DJK 3 19:00 WIB Mystic Ball
DJK 3 21:30 WIB Swedish Shorts – New Beginnings
EH 17:00 WIB Kirikou and Wild Beasts
EH 19:30 WIB Spine Tingler: The William Castle Story
GH 17:00 WIB Yella
GH 19:30 WIB Naousse (A Perfect Day)
KF 14:00 WIB Paper Can Not Wrap Up Embers
KF 16:30 WIB Village People Radio Show
KF 19:00 WIB Mukhsin
KF 21:30 WIB Love Conquers All

Fri, 14th Dec 2008
BLZ 7 14:15 WIB The Last Communist
16:45 WIB Laksamana Do Re Mi
19:15 WIB The Bet Collector (Kubrador)
21:45 WIB S-Express Malaysia
BLZ 9 11:30 WIB The Photograph
14:00 WIB Mystic Ball
16:30 WIB You Kill Me
19:00 WIB Cyrano Fernandez
21:30 WIB 2 Days in Paris
DJK 2 11:45 WIB Pesan Dari Surga
14:15 WIB KM 14
16:45 WIB 4 Months, 3 Weeks & 2 Days
19:15 WIB Shake Hands with the Devil
21:45 WIB Possible Lives (Las Vidas posibles)
DJK 3 11:30 WIB Lawang Sewu Dendam Kuntilanak
14:00 WIB Leak
16:30 WIB Playing Between Elephants
19:00 WIB Please Vote For Me
21:30 WIB Wordplay
EH 17:00 WIB Saimir
19:30 WIB Along the Ridge (Anche libero va bene)
GH 17:00 WIB Rome Rather than You
19:30 WIB Requiem
KF 14:00 WIB Village People Radio Show
16:30 WIB The Truth Be Told: … Against Supinya Klangnarong
19:00 WIB Donsol
21:30 WIB S-Express Singapore + Thailand

Sat, 15th Dec 2008
BLZ 7 14:15 WIB Labu & Labi
16:45 WIB Bujang Lapok
19:15 WIB Invisible City
19:15 WIB Singapore GaGa
21:45 WIB Dancing Bells (Chalanggai)
BLZ 9 11:30 WIB 3 Hari Untuk Selamanya (3 Days to Forever)
14:00 WIB The Golden Door (Nuovomondo)
16:30 WIB Please Vote For Me
19:00 WIB Love & Honor (Bushi no ichibun)
21:30 WIB Waiter (Ober)
DJK 2 11:45 WIB Anak-anak Borobudur
14:15 WIB Kamulah Satu-satunya
16:45 WIB The Missing Star (La Stella che non c’è)
19:15 WIB 881
21:45 WIB Suely in the Sky (Céu de Suely, O)
DJK 3 11:30 WIB 6:30
14:00 WIB Hantu
16:30 WIB Shut Up & Sing
19:00 WIB a courts d’écran #10 (La Fémis sélection 2007)
21:30 WIB Swedish Shorts – The End of a Century
EH 12:00 WIB Faro: Goddess of the Water
14:30 WIB Big Rig
17:00 WIB The Night Before Finals (Notte prima degli esami)
19:30 WIB Kirikou and Wild Beasts
GH 12:00 WIB Grave Decisions
14:30 WIB Atos dos Homens (Acts of Men)
17:00 WIB Pingpong
19:30 WIB El Otro
KF 14:00 WIB Mukhsin
16:30 WIB Hang Tuah

Sun, 16th Dec 2008
BLZ 7 14:15 WIB S-Express Indonesia + Philippines
16:45 WIB 881
19:15 WIB The Truth Be Told: … Against Supinya Klangnarong
21:45 WIB Laksamana Do Re Mi
BLZ 9 11:30 WIB The Conductors
14:00 WIB Forever
16:30 WIB Shake Hands with the Devil
19:00 WIB El Custodio (The Minder)
21:30 WIB Hula Girls (Hula gâru)
DJK 1 19:00 WIB Chants of Lotus (Perempuan Punya Cerita)
21:30 WIB Across the Universe
DJK 2 11:45 WIB D’Bijis
14:15 WIB Nagabonar (Jadi) 2
16:45 WIB The Golden Door (Nuovomondo)
19:15 WIB Into the Wild
21:45 WIB Elizabeth: The Golden Age
DJK 3 11:30 WIB Sang Dewi
14:00 WIB Selamanya …
16:30 WIB Afghan Muscles
19:00 WIB International Shorts + S-Express Taiwan
21:30 WIB The U.S. vs. John Lennon
EH 12:00 WIB American Fork
14:30 WIB Saimir
17:00 WIB Spine Tingler: The William Castle Story
19:30 WIB Indigènes (Days of Glory)
GH 12:00 WIB Naousse (A Perfect Day)
14:30 WIB Rome Rather than You
17:00 WIB Requiem
19:30 WIB Yella
KF 14:00 WIB Flower in the Pocket
16:30 WIB The Last Communist
19:00 WIB Love Conquers All
21:30 WIB Express Malaysia

Selamat Nonton deh…

Memandang Setiap Individu Unik, Istimewa dan Penting

Pribadi yang rendah hati biasanya memandang bahawa orang lain memiliki keunikan dan keistimewaan, sehingga dia sentiasa membuat orang lain merasa penting. Kerana sesungguhnya setiap pribadi adalah istimewa. Setiap orang adalah unik dan berhak untuk dihargai. Manusia adalah pribadi yang harus diperlakukan khusus. Manusia adalah makhluk yang sangat sensitif. Jika kita meragukan hal ini, lihat diri kita sendiri dan perhatikan betapa mudahnya kita merasa disakiti atau tersinggung.

Jika apa yang kita pikirkan mengenai orang lain berubah, maka sikap dan tindakan mereka terhadap kita juga akan berubah. Karena manusia sangat sensitif satu sama lain dalam banyak hal, kita biasanya sangat peka terhadap apa yang dipikirkan oleh satu sama lainnya. Jika hubungan kita dengan isteri/suami, kekasih, teman, rakan kerja atau orang tua kita tidak sebagaimana kita harapkan, cobalah lihat lebih jauh ke dalam fikiran kita, apa yang sesungguhnya kita pikirkan saat ini tentang orang tersebut. Kita pasti memiliki hal-hal atau gambaran yang sangat negatif atau positif tentang seseorang.

Mendengar dan Menerima Kritik

Salah satu ciri kerendahan hati adalah dapat mendengar pendapat, saranan dan menerima kritik dari orang lain. Sering dikatakan bahawa Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut, yang dimaksudkan agar kita lebih banyak mendengar daripada bercakap. Kadang-kadang hanya dengan mendengarkan saja kita dapat menguatkan orang lain yang sedang dilanda kesedihan atau kesulitan. Dengan hanya mendengar, kita dapat memecahkan sebagian besar masalah yang kita hadapi. Mendengar juga berarti membuka diri dan menerima, suatu sifat yang menggambarkan kerelaan untuk menerima kelebihan dan kekurangan orang lain maupun diri kita sendiri.

Demikian halnya dengan kritik, harus sentiasa dipandang sebagai saranan untuk kita belajar dan berusaha. Kritik harus kita pandang sebagai sumber kita untuk mengembangkan diri, bukan untuk menunjukkan kita salah atau benar. Apapun bentuk dan cara penyampaian kritik harus sentiasa kita pandang positif dalam proses pembelajaran yang berlangsung terus menerus dalam hidup kita. Banyak sekali dari kita yang memandang kritik sebagai hal yang pribadi yang menunjukkan kelemahan dan kegagalan kita. Padahal sebaliknya kritik menunjukkan kemenangan dan kedewasaan kita dalam menghadapi setiap tentangan dan kesulitan.

Berani Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf

Salah satu ciri kerendahan hati adalah sentiasa berani mengakui kesalahan dan meminta maaf jika melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan orang lain. Manusia rendah hati adalah manusia yang sangat peduli dengan perasaan orang lain. Bedakan dengan mereka yang sentiasa peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Orang seperti ini bukan rendah hati, tetapi rendah diri atau tidak memiliki rasa percaya diri, sehingga dia selalu khawatir dengan apa yang akan difikirkan atau dikatakan orang lain tentang dirinya.

Rela Memaafkan

Rela memaafkan merupakan ciri seseorang yang rendah hati. Bahkan dalam setiap agama dikatakan bahawa kita harus memaafkan kesalahan sesama kita, karana Tuhan juga mengampuni dosa-dosa kita. Sifat ini tidak selalu kita temui dalam kehidupan seharian kita. Masih banyak dari kita yang tidak dapat memaafkan orang lain dan sentiasa hidup dalam dendam dan sakit hati. Rela memaafkan lebih ditujukan kepada kepentingan diri kita sendiri, untuk menghindarkan kita dari sakit penyakit dan tekanan dalam kehidupan kita.

Lemah Lembut dan Penuh Pengendalian Diri

Ciri yang jelas dari orang yang rendah hati adalah sikapnya yang lemah lembut (gentle) dan penuh pengendalian diri (self control). Dia tidak pernah membiarkan emosinya tidak terkendali dan lepas kontrol. Dia tidak menunjukkan kemarahan dengan sikap kasar, kata-kata yang tidak baik, atau melakukan tindakan fisik. Kemarahan dia tunjukkan dalam rangka mendidik orang lain. Kemarahan atau kekecewaan yang dirasakan senantiasa dapat dia kendalikan sepenuhnya, dalam arti bukan dilupakan, diacuhkan atau ditahan (supressed), tetapi dilepaskan dengan pasrah (released).

Biofuel Solution or Disaster

Posted: December 5, 2007 by Eva in Lingkungan

Biofuel adalah hasil pemanfaatan energi biomassa yang dikonversi menjadi bahan bakar. Biofuel ada banyak macemnya: bioethanol, biodiesel, dan biogas.

Bioethanol dihasilkan dari tumbuhan yang berkadar hidrokarbon tinggi atau tumbuhan berbahan gula dan pati, misalnya tebu, ubi jalar, singkong, jagung, dan masih banyak lagi, yang pasti bukan dari lolipop… apalagi dari gulali yang bentuknya orang naik sepedah…

Untuk menghasilkan bioethanol, biomassa tumbuhan harus difermentasi dulu dengan dibantu oleh mikroorganisme tertentu sehingga dihasilkan ethanol.

Bioethanol dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar motor bensin. Bahan bakar ini bisa digunakan dengan kadar 100%, atau bisa dicampur dengan bensin, yang biasa disebut gasohol (kodenya E-XX atau BE-XX, misalnya E-10 untuk campuran bensin dengan kadar ethanol 10%).

Pada campuran dengan bensin, bioethanol mampu meningkatkan nilai oktan bensin. Jadi kalo mobil kamu minum gasohol E-10, maka efisiensi kerjanya akan lebih baik dibanding kalo minum bensin biasa. Pleus…. emisi gas buangnya otomatis lebih kecil 10%…

Sedangkan biodiesel dihasilkan dari minyak nabati seperti minyak kelapa, minyak sawit, minyak jarak-pagar, dan lain-lain. Biodiesel juga dapat dihasilkan dari lemak hewan dan minyak jelantah. Yang pasti minyak nyongnyong mah ga bisa… Minyak di muka kamu yang baru bangun tidur juga kayanya ga bisa.

Kalo bioethanol dipake buat ngeganti bensin, biodiesel dipake buat ngeganti solar, alias bahan bakar motor diesel.

Salah satu biodiesel yang sudah disosialisasikan di Indonesia adalah biosolar keluaran Pertamina. Katanya nih, untuk mendapatkan biosolar, diperlukan campuran minyak solar dengan minyak nabati yang sudah diproses transesterifikasi menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) [nyontek dari brosur Pertamina Biosolar sisa Bioekspo kemaren].

Anak gaul Bandung vs anak ilmiah
X: Eh, lu tau ‘fame’ ga?
Y: Tau lah… Fame Station yang di Jalan Sersan Bajuri itu kan?
X: Bukan… Fatty Acid Methyl Ester.
(garing ah… :p)

Dari banyak manfaat yang digembar-gemborkan oleh orang-orang, sebenernya cuman ada dua manfaat utama biofuel, yaitu sifatnya yang biodegradale dan kemampuannya memperpanjang umur mesin dengan cara peningkatan efisiensi kerja motor.
*ini hasil diskusi dengan Sawung*
“Dia tidak ramah lingkungan…” — Sawung

Setuju, Wung….!

Bullshit kalo biofuel dibilang ramah lingkungan. Pada kenyataannya, untuk mendapatkan berkilo-kilo liter biofuel setiap hari, dibutuhkan ratusan ribu hektar lahan pertanian. Artinya mau tidak mau hutan yang tersisa di Indonesia harus dibabat demi tercukupinya jumlah kebutuhan tersebut.

Atau hutan bisa tetap dibiarkan lestari, tetapi kebutuhan pangan masyarakat terancam. Silahkan pilih yang mana…

Jika pilihan pertama yang dipilih, coba pikirkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menunggu sampai tumbuhan siap dipanen untuk kemudian diolah. Sedangkan kebutuhan bahan bakar motor jumlahnya sangat tinggi setiap harinya.

Maka, mau tidak mau lahan pertanian hasil pembabatan hutan harus dibuat dengan ukuran ekstra luas, dengan siklus panen yang berbeda-beda agar biomassa bisa dipanen setiap hari.

Coba bayangkennnn…. berapa kerugian ekologis yang harus ditanggung oleh bangsa ini. Bukannya pelit dan perhitungan, tapi hal ini benar-benar harus diperhitungkan. Berapa jumlah oksigen yang suplainya berkurang…. lahan resapan air yang hilang…. habitat satwa serta satwa yang punah…. kesuburan tanah yang terganggu….. debit air sungai yang berkurang…. Apakah hal-hal ini tidak pernah terpikirkan?

Tapi kan biofuel bisa terbakar secara bersih alias biodegradable, tanpa emisi bo…..!

Eh jeng…. emangnya situ yakin kita mampu pake bioethanol 100%? Kalo ekeu sih tidak yakin akan hal itu…. Ketika iyey menggunakan gasohol E-10, artinya yey hanya mengurangi dampak emisi sebesar 10% saja. Selama bensin di Indonesia tetep ada timbalnya, mobil yey tetep aja berkontribusi atas udara kotor di Indonesia (walopun hanya 90%)…

Sekarang kita itung-itungan….
Jika bioethanol benar-benar mensubstitusi 10% konsumsi bensin (sebagai gasohol E-10)
– Impor MBTE sebagai octane enhancer berkurang sebesar US $23,14 juta/tahun
– Impor premium berkurang sebesar US $1,350 milyar/tahun (2,25 juta kL, dengan asumsi harga bensin US $0,6/liter)
– Total pengurangan impor = US $1,373 milyar/tahun
(BPPT, 2006)

Harga bioethanol derajat bahan bakar sekarang di pasaran Rp 5000,-/liter, dan harga gasohol E-10 Rp 4.550,-/liter (Rp 50,- perak lebih mahal dari premium biasa yang disubsidi). Lalu siapa yang akan menanggung Rp 50,-nya? Produsen atau pemerintah?

* * *

Jadi kamu jangan percaya 100% kalo ada opini “biofuel ramah lingkungan”. Biofuel hanya membantu kita dalam hal pengadaan bahan bakar alternatif, tapi tetap tidak bisa memberikan solusi perbaikan kualitas lingkungan secara signifikan.

Orang-orang heboh membicarakannya bukan karena kritis terhadap lingkungan, tapi karena kritis memikirkan bagaimana nasib kendaraannya di masa yang akan datang.

Semuanya antroposentris, namun berkedok ekosentris.

Sebenarnya solusi terpenting dalam mempertahankan bahan bakar minyak bukanlah dengan memproduksi biofuel, tetapi dengan merubah gaya hidup kita yang suka menghambur-hamburkan menjadi sedikit hemat akan bahan bakar.

Selama kegiatan jalan kaki, naik sepeda, atau naik angkot dianggap sebagai tradisi kampungan dan miskin, bangsa ini akan terus dihantui oleh harga BBM yang makin lama makin mahal saja.

Ada sanggahan?

diambil dari

Menangguk laba dari gas rumah kaca

Posted: December 4, 2007 by Eva in Lingkungan

Hampir semua pihak, mulai kelompok musik The Rolling Stones hingga pemerintah Indonesia berusaha untuk menekan laju emisi karbon ke udara. Bangkitnya sebuah kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, atau upaya menghapus dosa?


LIMA abad yang lalu, Martin Luther dan kaum reformis sezamannya pernah mengutuk kebijakan gereja Katolik, di mana seseorang bisa memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya di masa lalu dengan membayar sejumlah uang. Praktik penghapusan dosa tersebut mungkin bisa menjadi analogi sekaligus simplifikasi yang pas untuk menjelaskan rumitnya perdagangan karbon, istilah yang menggaung beberapa tahun belakangan ini.

Melalui perdagangan karbon, negara-negara industri—sebagai penyumbang terbesar emisi gas karbon dioksida, biang kerok pemanasan global—bisa membayar suatu negara berkembang yang mampu mengupayakan pengurangan emisi karbon. Dengan begitu, ’dosa-dosa lingkungan’ negara tersebut dianggap tidak ada atau berkurang.

Perdagangan karbon dilahirkan melalui perjalanan yang amat panjang. Adalah laporan para ilmuwan pada 1990 tentang Perubahan Iklim yang telah memukul lonceng tanda bahaya bagi kehidupan umat manusia, dan mendesak agar dibentuk suatu kesepakatan global untuk mengatasi perubahan iklim. Dua tahun kemudian, disepakatilah konvensi PBB tentang perubahan iklim (United Nations Frameworks Convention on Climate Change atau UNFCCC) yang tujuan pokoknya menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) pada tingkat yang aman dan tidak mengganggu iklim global.

Berbagai paktapun diteken setelahnya. Yang terpenting adalah pertemuan di Kyoto, Jepang, pada 1997. Perjanjian yang dikenal dengan Protokol Kyoto itu mewajibkan negara-negara industri untuk mengurangi emisi GRK—salah satunya karbon dioksida—sebanyak 5,2% di bawah kadar yang mereka lepas pada tahun 1990 dalam kurun waktu lima tahun (mulai 2008-2012, yang disebut sebagai periode komitmen pertama). Protokol ini mulai mengikat secara hukum setelah Rusia meratifikasi pada 16 November 2004 sebagai negara ke-55. Hal ini sesuai kesepakatan, bahwa protokol mulai berlaku jika telah diratifikasi minimal 55 negara. Saat ini, sedikitnya 140 negara sudah menandatangani.

Protokol Kyoto menawarkan tiga mekanisme fleksibel untuk membantu negara-negara industri menekan laju emisi GRK: Implementasi Bersama (joint implementation/JI), Perdagangan Emisi Internasional (international emission trading/IET) dan Mekanisme Pembangunan Bersih (clean development mechanism atau CDM). CDM digagas karena begitu sulit memaksa negara-negara tersebut mengurangi emisi karbonnya, akibat begitu besarnya ketergantungan mereka pada konsumsi bahan bakar minyak. Sampai sekarang, Amerika Serikat saja masih menolak Protokol Kyoto. Dari tiga mekanisme fleksibel tersebut, hanya CDM yang melibatkan negara-negara berkembang. Dan, melalui CDM inilah tata cara perdagangan karbon dunia diatur.

Alhasil, karbon kini menjadi komoditas bisnis dadakan; FIFA, federasi sepak bola dunia, membeli beberapa kredit karbon sehubungan pelaksanaan Piala Dunia 2006 lalu. Kelompok musik kenamaan The Rolling Stones dan beberapa band lain membelinya sebagai kompensasi emisi GRK yang mereka buang dalam tur-tur mereka. Sementara Paramount, studio film Hollywood, juga membeli kredit karbon atas setiap emisi yang mereka keluarkan selama proses pembuatan film kontroversial tentang pemanasan global, An Inconvenient Truth (2006).

Bank Dunia tercatat sebagai pembeli kredit karbon paling royal: nilai transaksi pada 2005 diestimasi mencapai 10 miliar dolar. Bagi beberapa ”pemain”, jual-beli karbon memang perkara citra. Sampai saat ini, kebanyakan pembeli karbon adalah firma yang relatif beremisi rendah, seperti bank-bank, yang berharap bisa menggaet klien yang memiliki visi lingkungan. Namun bagi pemain lain, bisnis karbon adalah business as usual yang menggiurkan.

Hitung-hitungan bisnisnya relatif sederhana. Setiap upaya penurunan emisi yang setara dengan satu ton karbon (tCO2e) akan diganjar satu CER (certified emission reduction). Sertifikat yang mirip surat berharga ini dikeluarkan oleh Badan Eksekutif CDM di bawah UNFCCC. Negara industri yang sudah meratifikasi Protokol Kyoto (disebut dengan kelompok Annex-1), atau lembaga nonpemerintah manapun yang merasacarbontrade.jpg

berkepentingan, bisa membeli CER ini dari proyek-proyek CDM di negara berkembang (non-Annex-1) yang tidak diwajibkan untuk mengurangi emisi.

Layaknya komoditas dagang, harga CER bisa bervariasi, tergantung kesepakatan pihak-pihak yang bertransaksi. Tapi, secara rerata, harga satu CER berkisar 5-15 dolar AS. Jadi, jika suatu proyek CDM berhasil memproyeksikan pengurangan emisi sebesar 1 juta ton CO2e dalam setahun, pendapatan kasar yang diperoleh proyek tersebut satu tahunnya sekitar 10 juta dolar AS (jika diambil harga tengah 10 juta dolar) dari penjualan CER.

Perlu diketahui, istilah ”reduksi emisi karbon” tidak serta-merta berarti pengurangan kadar karbon yang sudah ada saat ini di udara, tetapi merupakan upaya menekan bertambahnya emisi GRK akibat penggunaan bahan bakar fosil. Jadi, angka-angka tersebut pada dasarnya adalah jumlah karbon yang diemisikan jika tanpa proyek CDM.

Di satu sisi, solusi ini terkesan menyederhanakan masalah dan kental dengan unsur ketidakadilan: negara industri bebas mengotori atmosfer selama mampu membeli CER sebagai kompensasinya. Tapi di sisi lain, bisnis karbon membuka berbagai peluang: membangkitkan perekonomian negara dunia ketiga sekaligus menciptakan kondisi lingkungan yang relatif lebih baik. ”Ide besarnya adalah memberikan nilai moneter pada usaha perbaikan lingkungan. Selama ini, konservasi lingkungan dianggap sebagai cost, liabilitas. Tapi dengan adanya CDM, pengelolaan lingkungan juga berarti aset berharga,” kata Agus P. Sari, Direktur Regional Asia Tenggara EcoSecurities, salah satu pemain besar perdagangan karbon yang bermarkas di Oxford, Inggris.

SETELAH meratifikasi Protokol Kyoto melalui Undang-undang Nomor 17 tahun 2004, Indonesia membuka peluang ikut serta dalam arus perdagangan karbon. Sebagai fasilitator dan koordinator CDM di tingkat nasional, pemerintah membentuk Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih (Komnas MPB) di bawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup pada Juli 2005. Di setiap negara, komisi semacam juga ada dengan sebutan DNA (designated national authority).

”Setiap proyek CDM harus diverifikasi dan divalidasi oleh DNA di masing-masing negara,” ucap Prasetyadi Utomo dari Sekretariat Komnas MPB. Menurut pengakuannya, Komnas MPB sama sekali tidak menarik pungutan apapun dari proses verifikasi. Hal ini dibenarkan oleh Agus selaku pengembang proyek. ”Memang cukup ganjil, tapi begitulah kenyataannya,” ujarnya dengan nada seloroh.

Berdasarkan Kajian Strategis Nasional sektor Kehutanan dan Energi (KSNKE) yang dilakukan pada tahun 2001-2002, Indonesia memiliki potensi pengurangan emisi GRK sekitar 23-24 juta ton CO2e per tahun. Jika dikonversi ke nilai CER, potensinya menjadi 230 juta dolar AS dalam setahun (sekitar 2,3 triliun rupiah). Bukan jumlah yang kecil.

Khusus sektor kehutanan (nonenergi), catatan KSNKE menyebut ada sekitar 15 juta hektare lahan di seluruh daerah di Indonesia yang bisa diajukan untuk proyek CDM. Mengetahui fakta ini, akhir-akhir ini banyak pemerintah daerah yang mempromosikan hutan di daerahnya untuk dijadikan proyek CDM. Padahal, masalahnya ternyata tidak sesederhana itu.

“Potensi kebocoran (leakage) hutan Indonesia cukup besar,” kata Alue Dohong, penggiat lingkungan dari Wetlands International Indonesia Program. Dalam skema CDM, leakage tidak diperkenankan. Leakage, papar Alue, bisa disebabkan oleh belum mapannya tata kelola hutan, masih tingginya insiden kebakaran hutan, maraknya pembalakan liar, dan inkonsistensi kebijakan penataan ruang. “Belum jelasnya metode penentuan batas wilayah dan kriteria hutan yang memenuhi syarat juga menjadi batu sandungan untuk mengembangkan hutan kita sebagai proyek CDM,” imbuh Alue.

Hutan yang diperkenankan, misalnya, adalah hutan ”buatan” manusia (dengan pembenihan, penanaman, dan sebagainya) pada lahan yang belum pernah menjadi hutan sedikitnya 50 tahun ke belakang. ”Teknis penghitungan reduksi emisi karbon oleh hutan juga sulit, mengingat daya ikat karbon setiap pohon dalam suatu hutan heterogen berbeda-beda,” jelas Deddy Hadriyanto, pakar kehutanan dari Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur. Kawasan mangrove justru lebih berpeluang dari sisi teknis.

Karenanya, hingga saat ini belum ada proyek CDM berbasis hutan dari Indonesia yang berhasil disetujui. Amat kontras dengan sektor energi alternatif yang lebih ”seksi”. Kabar terakhir, delapan proyek sudah teregistrasi di Badan Eksekutif CDM. Hampir semuanya berbasis energi.

Chevron Geothermal Indonesia (CGI), melalui proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi Darajat Unit III adalah yang terakhir mendapat persetujuan, Desember tahun lalu, dengan kapasitas pembangkit sebesar 110 megawatt. Seperti diketahui, Indonesia merupakan negara dengan kandungan panas bumi amat besar, bahkan yang terbesar di dunia atau 40 persen dari cadangan panas bumi dunia. Menurut riset yang dilakukan oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, di seluruh kepulauan Indonesia sedikitnya ada 244 titik yang merupakan sumber panas bumi potensial, dengan kapasitas pembangkit sebesar 29.000 megawatt. Namun, hingga saat ini, jumlah total yang tereksplorasi hanya sekitar 1.000 megawatt, alias baru sekira lima persen. Sebagai perbandingan betapa efisiennya tenaga geotermal, 1.000 megawatt ekivalen geotermal untuk 30 tahun setara dengan 465 juta barel minyak bumi.

efekrumahkaca.jpg

Menurut data CGI, emisi karbon dioksida dari pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya sekitar sepersepuluh dari emisi yang diembuskan oleh pembangkit konvensional seperti batu bara, dan seperenam dari bahan bakar disel dan minyak. Selisih jumlah emisi inilah yang bisa dijadikan kredit karbon untuk diperjualbelikan.

Namun, bukan berarti sumber energi ini tidak memiliki kelemahan. Halangan utama eksplorasi panas bumi terletak pada besarnya biaya investasi, terutama jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Komoditas ini juga tidak dapat diekspor seperti halnya minyak bumi. Selain itu, berbeda dengan minyak dan batu bara, mobilitas panas bumi juga rendah, tidak dapat berpindah-pindah dengan leluasa. Karena itu, pemanfaatannya mesti langsung dari sumber eksplorasi.

Proyek lain yang cukup menarik adalah pemanfaatan limbah hewan yang dilakukan oleh peternakan PT Indotirta Suaka Bulan di Riau dan Lampung Bekri Biogas. Suaka Bulan mengelola kotoran dari peternakan babi seluas 1.700 hektare di Pulau Bulan, Riau. Dengan teknik pencerna anaerobik (anaerobic digester), gas metana (CH4, salah satu GRK) yang ditangkap bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar. Rata-rata, setiap tahunnya instalasi biogas ini diperkirakan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 166.000 ribu ton CO2e.

Mirip dengan Suaka Bulan, Lampung Bekri menggunakan reaktor anaerobik bawah tanah tertutup (CIGAR) untuk menangkap gas metana dari kotoran sapi. Komposisi biogas yang diperoleh melalui proyek berskala kecil ini adalah 65% metana dan 35% CO2, dengan rata-rata reduksi emisi 18.826 ton CO2e per tahun. Produk kompor pun bisa dimanfaatkan untuk proyek CDM. Tetapi bukan sembarang kompor, tentunya. Alat masak yang diproduksi oleh PT Petromat Agrotech yang berkongsi dengan Klimaschutz e.V. dari Jerman ini menggunakan tenaga matahari sebagai sumber panasnya. Dengan begitu, penggunaan minyak tanah atau gas elpiji yang menghasilkan polusi karbon bisa ditekan. ”Kompor ini merupakan bagian dari usaha memperbaiki lingkungan, karena itu kami amat mendukungnya,” ucap Rudi Wahyudi dari Petromat Agrotech.

Berdiameter sekitar satu meter, bentuk kompor surya ini relatif sederhana, mirip sebuah parabola yang bagian permukaan cekungnya dilapisi bahan cermin yang bisa memantulkan cahaya. Dengan bentuk parabola, cahaya bisa dipantulkan terpusat ke sebuah penyangga wadah masak, sehingga menghasilkan panas yang cukup untuk memasak berbagai jenis makanan, mulai nasi goreng hingga sayur sup. Menurut rencana, akhir Februari, sekitar 1.000 unit kompor surya ini akan diserahkan secara cuma-cuma kepada para nelayan di Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam.

Saat ini ada dua proyek lagi dari Indonesia yang masih mengantre untuk disetujui oleh Badan Eksekutif CDM. Bukan tidak mungkin jumlahnya akan terus bertambah. Hingga saat ini, beberapa proposal proyek juga terus diterima oleh Komnas MPB.

Kabar baik? Belum tentu. Yang perlu didesak adalah komitmen setiap pihak untuk melestarikan lingkungan, tidak peduli apakah ada atau tidak ada keuntungan finansial di belakangnya. Apalagi sekadar upaya menghapus dosa, seperti yang dikhawatirkan Martin Luther terhadap gereja Katolik lima abad silam. *Oleh Firman Firdaus, Artikel ini sudah dimuat dalam National Geographic Indonesia edisi Maret 2007.