Archive for January 15, 2008

Mobil Tanpa Polusi Bukan Lagi Impian

Posted: January 15, 2008 by Eva in Lingkungan


Mobil Tanpa Polusi Bukan Impian

Sumber: chem-is-try.org
DENGAN demikian, mobil tanpa polusi bukan lagi mobil yang hanya berada dalam tahap penelitian atau uji coba, tetapi segera akan dijual secara massal. Dan, untuk sementara, penggunaan fuel cell itu dikhususkan pada mobil Mercedes Benz A-Class, yang akan diberi nama F-Cell. Dan, bahan bakar yang digunakan adalah hidrogen.

Keputusan DaimlerChrysler itu dianggap sebagai satu langkah ke masa depan, mengingat F-Cell adalah benar-benar mobil yang bebas polusi. Di samping mobil itu bebas gas buang (emisi), dalam keadaan berjalan pun mobil itu tidak mengeluarkan suara (bising).

Secara sederhana bisa dikatakan, Mercedes Benz A-Class F-Cell itu menggabungkan hidrogen yang dibawa dalam tangki bahan bakarnya dengan oksigen yang diperoleh dari udara di dalam fuel cell untuk menghasilkan listrik. Dan, listrik yang dihasilkan itu digunakan untuk menggerakkan motor listrik.

Mercedes Benz A-Class F-Cell mempunyai daya jelajah 145 kilometer dalam satu kali pengisian hidrogen. Motor listriknya berdaya (berkekuatan) 87 PK (paardekracht, tenaga kuda), dan kecepatan maksimum yang bisa dicapainya 140 kilometer per jam. Akselerasi dari 0 sampai 100 kilometer per jam dicapai dalam 16 detik.

Beberapa mobil fuel cell lain, yang masih dalam tahap uji coba, juga melengkapi mobilnya dengan dinamo ampere yang berfungsi mengisi baterai atau aki saat mobil digerakkan oleh listrik yang diperoleh dari hidrogen. Saat persediaan hidrogen habis, listrik yang ada di baterai atau aki itu akan menggerakkan mesin listrik. Dengan demikian, daya jelajah mobil bisa mencapai lebih dari 300 kilometer. Kurang lebih setara dengan mobil yang menggunakan bahan bakar bensin atau solar.

FUEL cell terdiri dari dua lempeng elektroda yang mengapit elektrolit. Oksigen dilewatkan pada satu sisi elektroda, sedangkan hidrogen dilewatkan pada sisi elektroda lainnya sehingga menghasilkan listrik, air, dan panas.

Cara kerjanya, hidrogen disalurkan melalui katalisator anoda. Oksigen (yang diperoleh dari udara) memasuki katalisator katoda. Didorong oleh katalisator, atom hidrogen membelah menjadi proton dan elektron yang mengambil jalur terpisah di dalam katoda. Proton melintas melalui elektrolit. Elektron-elektron menciptakan aliran yang terpisah, yang dapat dimanfaatkan sebelum elektron-elektron itu kembali ke katoda untuk bergabung dengan hidrogen dan oksigen, dan membentuk molekul air.

Sistem fuel cell mencakup fuel reformer yang dapat memanfaatkan hidrogen dari semua jenis hidrokarbon, seperti gas alam, methanol, atau bahkan gas/bensin. Mengingat fuel cell bekerja secara kimia dan bukan pembakaran seperti mesin konvensional, maka emisinya pun sangat rendah bila dibandingkan dengan mesin konvensional yang paling bersih sekalipun.

Penggunaan fuel cell sebagai penghasil listrik sudah dikembangkan sejak lama. Saat ini lebih dari 200 sistem fuel cell dipasang di berbagai bagian dunia, antara lain di rumah sakit, rumah perawatan, hotel, perkantoran, sekolah, bandar udara, dan penyedia tenaga listrik. Namun, memang penggunaannya pada sebuah mobil itu masih merupakan sesuatu hal yang baru.

Menampung hidrogen untuk digunakan pada mobil tidaklah mudah. Saat ini, hidrogen dibawa di dalam tabung bertekanan tinggi, yang mampu menahan tekanan sampai 10.000 pounds per square inch (psi) atau 700 atmosfer. Membawa-bawa tabung dengan tekanan sebesar itu, sama seperti membawa-bawa sebuah bom, tentunya diperlukan pengamanan yang khusus. Jika tabung itu sampai meledak, bisa dibayangkan apa yang terjadi.

Tampaknya DaimlerChrysler berhasil mengatasi persoalan yang dibawa oleh tabung penyimpan hidrogen tersebut. Seandainya belum, tentu DaimlerChrysler tidak akan memproduksinya secara massal.

Aktivitas Matahari Meningkat Seabad Terakhir

Posted: January 15, 2008 by Eva in Lingkungan
Aktivitas Matahari Meningkat Seabad Terakhir

Sumber: LiveScience.com
Dimuat: Kompas Cyber Media

Energi yang dihasilkan Matahari meningkat secara signifikan sepanjang abad ke-20. Tren hasil pengukuran ini dilaporkan tim peneliti internasional yang dipimpin Ilya Usoskin dari Observatorium Geofisika Sodankyla di Universitas Oulu, Finlandia.Banyak penelitian yang berusaha menguak apakah terjadi tren peningkatan aktivitas sunspot dan lidah api di permukaan Matahari. Namun, sejauh ini masih sedikit bukit-bukti yang menguatkan terjadinya tern peningkatan tersebut. Salah satu usaha dilakukan Badan Antariksa Jepang (JAXA) dengan mengirim satelit pemantau SolarB dua hari yang lalu.


Dengan metode yang berbeda, tim peneliti internasional yang dipimpin Usoskin mempelajari meteorit yang jauh ke permukaan Bumi selama 240 tahun terakhir. Dengan menganalisis kandungan Titanium-44, salah satu isotopnya yang bersifat radioaktif, tim menemukan peningkatan radioaktivitas Matahari selama abad ke-20.

Meski demikian, dalam beberapa dekade terakhir, aktivitas Matahari stabil pada level tertentu. Aktivitas Matahari berkisar pada level lebih tinggi dari level tertinggi yang pernah dicapai dalam catatan data historis.

Pada penelitian sebelumnya, para peneliti mengukur tren aktivitas Matahari dengan mempelajari lingkaran garis pertumbuhan pohon dan lapisan es di Greenland dan Antartika. Padahal, proses perubahan ini tidak hanya dipengaruhi aktivitas Matahari namun juga proses di permukaan Bumi.

Sedangkan, pada penelitian terakhir, isotop yang diukur tidak terpengaruh kondisi di Bumi. Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Astronomy & Astrophysics Letters ini merupakan bukti terjadinya peningkatan aktivitas Matahari dalam 100 tahun terakhir.

matahari.jpg

Pemanasan global

Pengaruh Matahari pada perubahan cuaca telah dipelajari dengan baik. Namun, sampai sekarang para ahli masih memperdebatkan pengaruh perubahan aktivitas Matahari dengan perubahan iklim Bumi.

“Selama beberapa dekade terakhir, aktivitas matahari tidak meningkat meski stabil pada level yang tinggi. Namun iklim di Bumi masih memperlihatkan kecenderungan berupa kenaikan suhu,” kata Usoskin. NASA mencatat kenaikan suhu permukaan Bumi berkisar 0,2 derajat Celcius dalam setiap dekade pada 30 tahun terakhir.

Tim peneliti dari Institut Studi Antariksa Goddard milik NASA juga menyatakan bahwa suhu Bumi saat ini sudah dalam kisaran satu derajat Celcius lebih tinggi dari perkiraan kenaikan suhu dalam satu juta tahun. Laporan tersebut dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.

Kalaupun aktivitas Matahari berpengaruh, Usoskin yakin terdapat faktor lain yang dominan. Sampai sekarang, peningkatan kegiatan industri yang memicu kadar gas rumah kaca ditunduh sebagai pemicu naiknya suhu Bumi.