Energi Alternatif, Malah Bikin Pusing?

Posted: January 22, 2008 by Eva in Lingkungan

Energi Alternatif, Malah Bikin Pusing?
Oleh Silvia Iskandar

Hampir tiap hari kita melihat berita melambungnya harga minyak goreng curah di berbagai media massa. Bagaimana tidak, sejak awal April lalu, harga normal minyak goreng curah yang biasanya hanya sekitar 5000 sampai 6000 rupiah, sekarang di beberapa daerah sudah menembus 10,000 rupiah. Dua kali lipat! Padahal kita tahu pengguna minyak goreng curah sebagian besar adalah rakyat menengah ke bawah, dan padahal kita pun tahu Indonesia adalah pengekspor CPO kedua terbesar di dunia setelah Malaysia. Sungguh suatu paradoks yang menggelikan.

Ini terjadi karena para produsen di Indonesia, yang bersama-sama dengan Malaysia menyumbang 90% CPO (Crude Palm Oil, bahan dasar minyak goreng) dunia tergiur dengan harga yang ditawarkan pasar dunia. Harga CPO dunia melambung akibat permintaan Cina dan India yang terus meningkat sementara panen tahun lalu menurun karena kemarau yang berkepanjangan. Akibatnya, produsen CPO dalam negeri lebih senang menjual CPO ke luar negeri demi meraup untung daripada memenuhi kebutuhan domestik.

Di tengah-tengah gencarnya usaha pemerintah menggalakkan CPO sebagai biofuel dan biodiesel , tiba-tiba saja kita disadarkan kalau manusia tidak hanya butuh bensin tapi juga makan. Memang penyebab utama ricuhnya pasar minyak goreng kali ini bukan diakibatkan oleh besarnya jumlah CPO yang disisihkan untuk produksi energi alternatif, namun boleh jadi ini merupakan peringatan alam kepada kita.

Para ilmuwan selain menawarkan dunia dengan pilihan baru dalam dunia energi, di lain pihak mereka juga mengkhawatirkan efek samping yang mungkin timbul dari eksploitasi yang lepas kontrol ataupun faktor alam yang tidak terduga. Sama seperti CPO, jagung dan gandum-ganduman yang merupakan bahan dasar untuk membuat bioethanol juga bisa mengalami nasib yang sama. Tidak mustahil akan timbul bencana kelaparan di tengah-tengah melimpahnya panen hasil pertanian akibat kerakusan manusia sendiri.

Masih belum tuntas pemerintah mengatasi masalah CPO, berita tentang ketidaksetujuan masyarakat akan niat pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Semenanjung Muria, Kudus pun menjadi topik hangat. Demo masyarakat sekitar bahkan didukung oleh Bupati Kudus sendiri yang khawatir akan malapetaka massal yang mungkin terjadi.

Memang kalau mengingat tarif listrik yang terus-menerus naik seiring dengan meningkatnya harga minyak dunia (padahal sering “byar-pet”), atau tidak meratanya distribusi listrik sampai ke pelosok-pelosok desa, sekilas nuklir merupakan solusi yang terbaik. Namun masalahnya, sanggupkan bangsa Indonesia, yang kerap menjatuhkan kapal terbang dan menenggelamkan kapal laut memenuhi standar keamanan industri nuklir yang sangat tinggi? Apakah para pegawai PLTN akan melakukan perawatan mesin dengan cermat dan teliti? Sedangkan Swedia dan Jerman saja berniat menghentikan ketergantungan mereka pada energi nuklir?

Saya rasa keuntungan dan resiko pada setiap kebijakan energi alternatif perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati. Sebagai negara berkembang, mungkin kita harus menahan diri agar tidak bermimpi terlalu jauh untuk bisa menikmati kemajuan sains. Karena kalau tidak mawas diri, bisa-bisa kita hanya jadi korban globalisasi dan utopia energi alternatif.

Advertisements
Comments
  1. purmana says:

    Dalam hal ini buruknya sistem manajemen sumber daya alam dan energi dan juga kurangnya pendidikan terhadap masyarakat adalah penyebab terjadinya situasi2 yang anda sebutkan.

    Bila kita bisa memperbaiki kedua-duanya maka tak ada lagi alasan untuk menunda-nunda dalam hal menikmati kemajuan sains. Tentunya tanpa mengorbankan perut dong 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s