Belajar dari Kun San

Posted: April 28, 2008 by Eva in Inspirasi

Tadi malam sejak jam 7 aku istirahat setelah seharian capek banget syukuran rumah. Enggak sengaja aku melihat siaran DAAI TV yang ada di channel 15. Sebenarnya aku udah lama memperhatikan siaran TV yang menurut aku sangat mendidik. TV milik Yayasan Budha Tzu chi ini beritanya memang beda. Tayangan pendidikan, lingkungan dan pengentasan kemiskinan sepertinya menjadi tema unggulan yang dikemas secara cerdas.

Pada awalnya memang agak membosankan, tapi jika lama-lama di cermati, maka apa yang disampaikan sangat berguna bagi kehidupan kita sehari-hari. Yayasan yang sukses melakukan recycle sampah terbesar di Taiwan ini menampilkan juga beberapa tokoh lingkungan yang dekat di hari rakyat. Pengolahan sampah dan upaya konservasi disampaikan dengan contoh yang menarik.

Selain itu ada juga kata-kata bijak yang disampaikan secara berkala pada pemirsa. Namun bukan itu yang membuat aku tertarik.  Aku suka dengan kisah inspiratif yang diambil dari kisah nyata. Acara yang disiarkan jam 11 malam ini sangat bagus. Seperti yang aku lihat tadi malam.

Aku agak lupa juduknya tapi yang jelas kisah nya begini:

Seorang bocah SD bernama Kun San setiap harinya bekerja dengan keras membantu orang tuanya di rumah. Ayahnya seorang penjudi dan ibunya berjualan dari tanaman hasil bercocok tanam. Kun San anak yang cerdas. Memiliki seorang kakak dan dua adik, dia anak kedua dari empat bersaudara. Saat sekolah SD ia terkadang lupa tidak mengerjakan pekerjaan rumah karena sibuk membantu orang tuanya. dia juga tidak bisa pergi berdarmawisata dengan teman-temannya ke sebuah pantai terkenal di Taiwan karena tidak punya uang. meski sedih Ibu Kun San selalu menasehati anaknya dengan mengatakan bahwa semua pantai itu sama.

Jelang lulus SD Kunsan lulus dengan nilai baik dan menyerahkan ijazah SDnya kepada sang ayah. Tapi ayahnya cuek saja dan segera menyuruh Kun San bekerja di perusahaan pakan ternak. meski masih bocah ia pekerja keras. Tiap hari ia naik sepeda dengan riang, terkadang dia ketemu dengan teman – teman  sekolahnya yang melanjutkan ke SMP. Dia tidak iri, dia sangat memahami kondisi dan tidak pernah sekalipun ia mengeluh.

Bertahun-tahun ia bekerja di perusahaan pakan ternak meskipun gajinya kecil. setiap ia gajian diserahkan semua pada ibunya. Saat makan siang ia selalu mendapat jatah makan siang yang selalu ia bawa ke rumahnya dan ia makan bersama ibunya.

Pendidikan orang tua yang diberikan ibunya sangat terpatri di jiwa bocah lugu ini. selang beberapa tahun kemudian ia pindah kerja mencari kerja yang lebih besar. ya, semalam baru sampai itu aja ceritanya, besok aku lanjutin.

Banyak pelajaran yang membuat  aku menangis dan berlinang air mata saat melihat jalan hidup Kun San, aku merasa bahwa aku kurang bersyukur dengan apa yang sudah aku raih selama ini seringkali mengeluh dan cepat bosan akan pekerjaan. Padahal seharusnya aku tidak demikian. Kun San yang pantang menyerah senantiasa menjalani hidup ini dengan senyuman, dengan sederhana.

Aku harus banyak belajar dari Kun San.

Advertisements
Comments
  1. twinklegl0ry says:

    film ya sampai2 membuat orang menagisssss

    ^_^hiks…..hiks……

    tetap pertahankan

  2. Yanto says:

    bravo daai tv sagt bagus n fenomenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s