Archive for May 27, 2008

Modal Uang Bukan segalanya

Posted: May 27, 2008 by Eva in Ekonomi Bisnis, Inspirasi

 

Modal Uang Bukan segalanya


Tak sedikit orang yang kalau ditanya kenapa tidak tertarik memulai
bisnis sendiri, jawabannya selalu ‘tidak punya modal uang untuk
memulai’. Demikian juga, kalau ada orang atau kawan yang sukses
membangun bisnisnya, cenderung mengatakan ‘ ya terang saja dia sukses
karena dia punya modal uang yang cukup. Yang terang saja bapaknya dia
kan anu, mertuanya begini begini… dan sebagainya”. Pendeknya, banyak
yang mengidap keyakinan bahwa modal uang adalah segalanya dalam
kesuksesan membangun bisnis. Kunci suksesnya sangat ditentukan pada
besarnya kepemilikan modal uang ini.

 

Sesungguhnya kalau kita tanya ke pengusaha sukses yang benar-benar
sukses – bukan pengusaha karbitan — modal uang itu memang penting,
namun bukan segala-galanya. Modal bukan satu-satunya penentu sukses.
Bahkan, dalam kenyataanya tak sedikit pengusaha yang sukses mesti
tanpa dukungan modal yang cukup. Kenapa? Karena, bagi mereka, yang
terpenting dalam bisnis adalah membangun nama baik dan trust ( di
hadapan mitra bisnis, konsumen, supplier, mitra pemodal, dll). Sudah
banyak bukti, banyak orang yang sebenarnya tidak punya uang modal,
tapi karena punya keahlian pada suatu bidang dan ia dipercaya oleh
orang alias ada orang lain yg trust kepadanya sehingga kemudian
menawari modal untuk memulai usaha. Jadi bukannya meminta, malah
ditawari modal.

Sejauh pengamatan saya bertemu pengusaha sukses dari perlbagai
kalangan, pebisnis yang punya pola pikir ‘modal uang adalah segalanya’
justru kemampuan untuk survive-nya lebih lemah dari yang lebih
mengedepankan kerja keras dan membangun trust. Lihatlah bisnis
anak-anak pejabat atau anak politisi yang biasanya hanya punya masa
jaya ketika orang tua atau patronnya masih berjaya di politik atau
pemerintahan. Ketika orang tuanya masih berjaya di panggung politik
atau pemerintahan, si anak mudah cari modal. Bisa minta si A, Si B,
menekan sana-sini, bahkan kalaupun pinjam kredit ke bank juga lebih
dimudahkan. Namun ketika orang tua atau patronnya lengser, ia menjadi
kehilangan separoh lebih daya saingnya (competitiveness) sehingga
bisnisnya pun makin memudar. Saya kira banyak sekali contoh seperti
itu, bahkan mungkin sangat dekat dengan lingkungan Bapak/Ibu sekalian
atau mungkin malah kawan Bapak/ibu sendiri.

 

Sebaliknya, saya punya beberapa relasi baik pengusaha yang modalnya
hanya beberapa juta atau ratus ribu rupiah, namun bisa sukses karena
pandai membangun trust dan mengedepankan kerja keras/tekun. Ada
kenalan saya pengusaha, namanyaPak Rudy Suardana. Kalau orang
Kalimantan Timur rasanya pasti akan kenal orang ini karena beliau
adalah main dealer untuk Suzuki di seluruh propinsi Kaltim, baik untuk
motor maupun mobil. Beliau juga pengembang (developer) yang membangun
Sudirman Square di Balikpapan, Kariangau Trade Center, Perumahan Bumi
Nirwana Asri, Sentra Samarinda Seberang, dll. Samekarindo Group
biasanya orang Kaltim tahu. Nah, beliau waktu memulai usaha modalnya
hanya dipercaya orang. Ada kawannya dealer di Surabaya yang meminta
dia menjualkan motor Suzuki ke relasi-relasi dia. Jadi polanya ia
membawa dagangan, dititipin oleh kawannya itu. Dia tak pakai modal.
Ini bisa terjadi karena kawannya itu sudah trust ke Pak Rudy sehingga
berani menitipkan dagangannya untuk dijualkann Pak Rudy. Dari situlah
ia kemudian berkembang menjdi pengusaha besar, padahal masa kecilnya
dibesarkan di panti asuhan. Ia tak hanya di otomotif namun juga properti.

Ada relasi saya lagi, namanya Bu Winita Kusnandar, beliau adalah
konsultan hukum bisnis terkemuka Jakarta yang perusahannya (Kusnandar
& Co) termasuk dalam Indonesian 10 Largest Law Firm di Indonesia.
Beliau sekarang juga punya bisnis pendidikan dan properti. Jangan
pikir ketika dulu memulai usaha dia punya modal banyak uang. Dia dulu
juga karyawan di perusahaan konsultan hukum pada umumnya yang kemudian
ditawarin oleh seorang konglomerat yang menjadi kliennya untuk buka
law firm sendiri. Jadi konglomerat yang jadi klien itu tahu reputasi
Bu Winita dan kemudian menawari ‘kenapa nggak buka law firm sendiri
saja?” sembari menawari pinjaman modal uang untuk sewa kantor di Jl
Rasuna Said. Dari situ Bu Winita pun sukses membangun law firmnya dan
kini bisnisnya sudah merambah ke properti, sekolahan, hotel, konsultan
manajemen dan keuangan, furnitur, dll.

 

Disini pesannya, modal uang bukan segalannya. Dalam membangun bisnis
yang lebih penting adalah memupuk nama baik dan trust. Anda boleh saja
bangkrut dan kehabisan modal, tapi percayalah, Anda masih bisa bangkit
bermodalkan nama baik dan trust orang lain kepada Anda. Saya kira
sangat banyak contoh akan hal ini. Bagi yang ingin melihat lebih dalam
bagaimana orang2 bermodal terbatas bisa sukses menjadi pengusaha
besar, silahkan baca buku ’10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS

 

DARI 0′, disusun Sudarmadi dan diterbitkan Gramedia. Di dalamnya juga
diulas ada kisah Pak Rudy Suardana dan Buku Winita Kusnandar yang
sempat saya singgung tadi.

Salam hormat dan semoga sukses untuk Bapak/Ibu sekeluarga. Amiin..

Advertisements

Empat nilai luhur Cao San Chun Hui

Posted: May 27, 2008 by Eva in Inspirasi

Empat nilai luhur Cao San Chun Hui

Sampai dengan serial ke-28 aku semakin penasaran dengan kisah lanjutan Ketika Gladiol Bersemi. (Cao San Cun Hui), terutama saat Kisah cinta bagaimana Dong Lang bertemu dengan pasangannya lewat perjodohan. Geli banget deh waktu Dong lang di jodohkan ama A Xue dan orang tuanya, pada gadis yang sama.

Dong Lang yang pendiam adalah tipe pekerja yang ulet. Lelaki jarang bicara ini terlihat kaku dan hanya memikirkan bagaimana membuat keramik yang bagus. Ide ini membuat istri Dong Lang membuka usaha keramik di depan rumah Ming Zhong.Pada awalnya sepi, tapi setelah ada pembeli dari Jepang yang menguasai tentang keramik membeli keramik buatannya, adik Dong Lang Gao Ming Shan memiliki ide untuk membuat galeri bernama Jian Tai. Galeri ini berada dalam rute wisata kunjungan turis dari Jepang ke Taiwan. Ketekunan Dong Lang yang mewarisi sifat ayahnya adsalah nilai pertama yang menurut saya bagus disampaikan pada pemirsa.

Lama kelamaan, galeri ini ramai dan memiliki banyak pekerja. Gao Ming Shan sebagai direktur memiliki insting bisnis yang kuat. Selain sebagai direktur di Jian Tai, ia juga melanjutkan proyek property milik keluarga. Ming Shan sangat sibuk, sehingga menginjak usia diatas 30 tahun ia belum memikirkan jodoh.

Hingga suatu hari ia ketemu Wen Xin Hua seorang perempuan cantik modern yang memiliki kemampuan bahasa Inggris bagus menarik perhatiannya. Kisah cinta mereka berdua sangat lucu dan alamiah. Ketegasan sikap Xin Hua sangat disukai ming shan, begitu pula saat Ming Shan memperhatikan ibunya yang lagi sakit di rumah sakit dengan penuh perhatian membuat hati Xin Hua luluh.

Tak lama mereka pun menikah, dengan menikahnya Xin Hua Pak RT dan Bu RT Gao tinggal di rumah Ming Shan yang megah. Ming shan sengaja melarang orang tuanya tinggal di rumahnya agar tidak kembali ke gunung. Meskipun sudah mapan, orang tua Ming Shan sangat hemat terutama ibunya. Usai menikah Xin Hua sempat serba salah menyesuaikan dengan keluarga Gao. Tidak boleh membuang kertas dan plastik, tidak menyalakan penghangat ruangan, dan  jangan terlalu sering beli baju baru adalah tiga sikap mulia bu RT Gao yang melekat di benak menantu.

 

Hemat adalah nilai kedua dari drama ini. Seringkali mereka anak-anak keluarga Gao memuji ibunya yang hemat, jika tidak hemat tidak mungkin mereka bisa sekolah dan sukses seperti sekarang ini. Demi membahagiakan mertua seringkali para menantunya berbohong menyebutkan harga aslinya.

 

“Seringkali kalau kita ke gunung sesama ipar saling mengingatkan tentang baju baru yang kita pakai, kita simpan dulu waktu pulang baru kita pakai,” ujar tokoh  Xin Hua asli pada guest room seraya tertawa.  Pernikahan Xin Hua dan Ming Shan yang sangat sibuk membuat Xin Hua banyak menyesuaikan diri dengan suaminya. Disinilah saling pengertian suami istri dimulai. Saya salut atas pengertian Xin Hua yang periksa ke dokter hanya ditemani kakak ipar saat periksa hamil, begitu juga sangat mengharukan ketika ming shan yang kaku dan tidak bisa dansa meminta Xin Hua berdansa dengan romantis.

 

Rukun dengan Pasangan adalah nilai ketiga dari drama ini. Aku berusaha untuk tidak emosi dengan suamiku yang juga sepertinya mulai menyenangi serial ini. Selain rukun, aku juga berusaha untuk berlapang dada. Empat nilai seperti tekun, hemat, rukun dengan pasangan dan berlapang dada merupakan kunci sukses dalam kehidupan keluarga Gao.

Karena ada film ini, aku jadi semangat menjalani hari-hariku terutama kalo udah pengen shopping, please hemat deh dan jangan sering ganti baju hehe3x, selain itu aku juga selalu ingin pulang cepat sampai di rumah, karena aku gak boleh ketinggalan satu episode pun. Setiap jam 9 teng aku udah siap nongkrong sambil nyemil nonton DAAI TV.