Archive for October 26, 2011

Melawan Kawin Piara Mengajak Bersekolah

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Marcelina Wamburye
Guru Daerah Khusus Berdedikasi dari Papua Barat

Melawan Kawin Piara Mengajak Bersekolah

“Saya sedih ketika harus pergi ke kota kabupaten untuk mengambil gaji, sehingga harus meninggalkan murid-murid beberapa hari. Akibatnya, kelas kosong, karena tak ada yang mengajar.”

Marcelina Wamburye

Marcelina Wamburye

Nun jauh di pedalaman Papua Barat, di tengah kesunyian belantara, ada seorang pendidik yang tekun menjalankan tugasnya mencerdaskan anak bangsa. Dia adalah Marcelina Wamburye, guru yang mengajar di Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Paulus, di Desa Fruata, Distrik Fafurwar, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Wanita kelahiran Maprima, 23 Juni 1968, itu sudah 14 tahun mengabdikan hidupnya bagi pendidikan anak-anak Desa Fruata.

Teluk Bintuni mempunyai kekayaan alam yang melimpah mulai dari hasil hutan di permukaan tanah, hingga bahan tambang di bawahnya. Bahan tambang yang paling banyak ditemukan adalah gas alam cair (LNG), batu bara, dan mika. Sumber daya alam lainnya terdapat di perairan lautnya yang kaya ikan dan udang. Potensi alam yang besar itu ditunjang oleh letak geografisnya yang strategis, sehingga Kabupaten Teluk Bintuni sangat mungkin menjadi pusat pengembangan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah kepala burung Pulau Papua.

Namun sangat disayangkan, sumber daya alam yang berlimpah itu tidak didukung oleh sumber daya manusia yang bermutu. Selain itu, infrastruktur juga sangat minim. Permukiman-permukiman penduduk yang terpencar-pencar akhirnya menjadi desa-desa yang terisolir karena tak ada prasarana jalan yang memadai yang menjadi penghubung di antara mereka.

Begitulah kondisi Desa Fruata yang juga merupakan desa terpencil dan terisolir di papua Barat. Marcelina Wamburye, terpaksa harus hidup dengan segala keterasingannya dari peradaban yang ingar bingar di perkotaan. SD YPPK Santo Paulus tempat ia mengajar, yang terletak di Desa Fruata, berjarak puluhan kilometer jauhnya dari ibukota Kabupaten Teluk Bintuni, Distrik Bintuni.

Berjalan Kaki ke Pantai

Marcelina Womburye terpaksa harus berjalan kaki berhari-hari menuju Distrik Bintuni untuk mengambil gajinya, atau untuk mengirimkan laporan kepada Dinas Pendidikan Teluk Bintuni. Itu hanya untuk mencapai pantai saja sebelum perjalanan kemudian dilanjutkan dengan perahu. Satu-satunya angkutan yang beroperasi di sana adalah ojek motor, yang biasa mengantar hingga pantai. Ongkosnya sekali jalan Rp 500.000. Marcelina sendiri biasanya pergi dengan berjalan kaki dan terpaksa harus menginap di perjalanan.

Kesulitan transportasi ini tak hanya menghambat masalah pekerjaan, tapi juga akses untuk mendapatkan sumber makanan dan kebutuhan pokok lain. “Memang jarang sekali ada kesempatan ke kota, jadi kita makan seadanya saja, dengan memanfaatkan hasil kebun,” tutur Marcelina. Meskipun demikian, ibu tiga anak ini tidak pernah putus asa dalam menyampaikan ilmu kepada anak didiknya, karena menurut dia, menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil.

“Cita- cita menjadi guru ditanamkan sang ibu sejak saya berusia 12 tahun,” kenang Marcelina. Marcelina bertutur, ketika ayahnya meninggal, ibunya kemudian menjadi tulang punggung. Sang ibu mencari uang dengan membuat minyak kelowan, minyak gosok yang biasa digunakan untuk pijat dan penghangat badan. Marcelina sendiri bertugas menjualnya.

Walaupun kondisi saat itu sulit, tetapi sang Ibu mengharuskan Marcelina dan adik untuk berangkat ke sekolah. Ibunya selalu mengajarkan pada anak-anaknya untuk selalu menjaga semangat mereka dalam kondisi sesulit apapun. Kehidupan Marcelina saat itu sungguh sulit, tetapi ibunya selalu membuat dia semangat dengan mengajarkannya agar menemukan kebahagian di hari depan.

Sang Ibu jualah yang menanamkan pesan kepada Marcelina agar bersekolah dengan baik supaya bisa menjadi seorang guru dan menjadi pembimbing buat adik-adiknya kelak. Pesan dari sang Ibu sangat membekas dan menimbulkan tekad pada Marcelina untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang guru. “Kenangan dan nilai-nilai yang diajarkan ibu pada masa kecil itu sampai sekarang tidak akan bisa dilupakan,” kata Marcelina.

Sekolah Pendidikan Guru

Demi cita-cita menjadi guru itu, usai menamatkan Sekolah Menengah Pertama, Marcelina Womburye kemudian melanjutkan ke Sekolah PendidikanGuru (SPG), dan lulus pada tahun 1990. Selang tiga tahun setelah lulus, Marcelina berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi guru setelah diangkat menjadi PNS. Ia ditempatkan pertama kali di sebuah SD di daerah Tembuni selama tiga tahun. Setelah itu pada Agustus 1997 ia dipindahkan ke SD YPPK Santo Paulus, di Desa Fruata, sampai sekarang.

Marcelina berkisah bahwa pada saat pertama kali bertugas di Desa Fruata, minat warga untuk menyekolahkan putera-puterinya sangat rendah. Kala itu, di sana masih banyak penduduk yang melakukan adat kawin piara, yakni menikahkan anak-anak mereka sejak kecil, sehingga anak-anak itu tak sempat bersekolah. Marcelina berusaha mengubah adat itu, dan mengajak para orang tua agar menyekolahkan anak-anaknya.

Perlahan-lahan Marcelina mengubah tradisi kuno itu, dan akhirnya mulai banyak anak di sana yang menjadi murid-muridnya. Hal yang membuatnya bangga, juga ketika anak-anak itu ada yang melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat SMA, sehingga banyak yang kini sudah menjadi pegawai negeri. “Bila sedang turun ke kota Kabupaten saya sering menjumpai anak didik saya yang sekarang sudah bekerja di berbagai instansi di Disttrik Bintuni,” ungkap Marcelina, gembira.

Saat ini Marcelina mengajar kelas satu dan kelas dua untuk semua mata pelajaran di SD YPPK St. Paulus. Dengan segala keterbatasan, ia bersama teman-teman lainnya sesama guru, bahu membahu mendidik para murid. “Saat ini ada enam kelas di sekolah kami, terdiri dari 150 murid,” ungkap Marcelina. “Untuk mengelola enam kelas, kami hanya memiliki empat guru, tentu saja kami kekurangan guru tapi beginilah kondisinya,” ia melanjutkan.

Kondisi bangunan sekolah pun sudah banyak yang mengalami kerusakan. “Saat ini Ada enam ruangan yang sebenarnya baru direhab pada 2005, tapi kontraktornya kurang bagus, sehinnga sudah rusak lagi,” kata Marcelina. Kekurangan guru dan kondisi gedung yang kurang memadai ini tentu berpengaruh terhadap kualitas pengajaran di sekolah. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya alat-alat penunjang seperti buku-buku pelajaran.

“Ada kalanya kita tidak punya buku pedoman. Dulu, kita biasa beli sendiri dengan uang kita sendiri, sebelum ada dana BOS,” kata Marcelina. “Memang, dari Dinas Pendidikan diberi, tetapi mereka mengatakan tidak ada dana untuk biaya transportasi untuk dikirim ke daerah kami,” Marcelina menambahkan.

Suka Duka Mengajar

Mengajar dengan segala keterbatasan ini tidak mengendorkan semangat Marcelina Womburye untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak didiknya. Banyak suka duka yang dialaminya selama mengajar dengan fasilitas seadanya itu. “Sukanya, saya bertemu dengan anak-anak sehingga saya bisa terhibur, apalagi jika mereka bisa naik kelas. Itu menjadi suatu kebanggaan bahwa saya berhasil,” papar Marcelina. “Dukanya, jika ada dari mereka yang tidak naik kelas. Saya jadi turut sedih karena berarti saya belum berhasil,” tambahnya.

Dan yang pasti, yang membuat Marcelina bangga dan bahagia menjadi guru adalah jika ada anak didiknya yang berhasil mengukir prestasi dan menghasilkan karya. Misalnya, ketika murid-muridnya meraih penghargaan dari bupati atas prestasinya membuat karya-karya kerajinan.

Dan kesedihan lainnya terjadi, ketika Marcelina dan rekan-rekan guru yang lain harus pergi, misalnya untuk mengambil gaji ke kota kabupaten, sehingga harus meninggalkan murid-muridnya beberapa hari. Akibatnya, kelasnya kosong, karena tak ada yang mengajar.

Semangat Marcelina Wamburye untuk melanjutkan pengabdiannya di pedalaman makin menggelora setelah kini ia meraih penghargaan sebagai guru berdedikasi, mewakili Papua Barat. Marcelina berharap, agar Kementerian Pendidikan Nasional bisa memperhatikan lebih banyak guru lagi yang sedang berjibaku membangun pendidikan di pedalaman. Sebab, ia yakin begitu banyak para pendidik yang rela mengabdi untuk Ibu Pertiwi dengan menjadi pengajar di sekolah-sekolah darurat nun jauh di kawasan terpencil di pedalaman pulau-pulau Indonesia.

Eva Rohilah

Iuran Untuk Ongkos Mengambil Gaji

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Ahasferos Djaha

Guru Berdedikasi dari daerah khusus Nusa Tenggara Timur

Iuran Untuk Ongkos Mengambil Gaji

Ahasferos Djaha

Ahasferos Djaha

“Di tempat kami, pada musim hujan, biasanya Desember sampai Februari, murid-murid baru bisa masuk sekolah pukul 09.00. Penyebabnya, pada musim hujan itu jalanan becek, dan sering turun kabut, sehingga menyulitkan perjalanan anak-anak ke sekolah.”

Sorot mata Ahasferos Djaha terlihat tajam dan memandang jauh ke depan. Di usianya yang menjelang senja terlihat garis-garis kerut di dahinya. Namun lelaki kelahiran Alor 12 April 1962 ini, masih tampak gesit dan bersemangat. Wajahnya tempak berseri-seri menunjukkan rasa senangnya berkumpul bersama para guru berdedikasi lainnya dari berbagai daerah khusus dan terpencil, mengikuti serangkaian kegiatan yang dihelat Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dalam menyambut hari ulang tahun Kemerdekaan RI, pertengahan Agustus 2011.

Ahasferos Djaha mengaku senang karena selama ini ia hanya bisa melihat para tokoh bangsa ini lewat layar televisi saja, namun akhirnya ia bisa menjumpainya langsung di Jakarta. “Saya ternyata bisa berjumpa langsung dengan Bapak Menteri Pendidikan Nasional dan Ibu Negara Ibu Ani Yudhoyono,” ujar Djaha. “Bagi saya ini benar-benar seperti mukjizat. Suatu kebanggaan bagi saya bisa terbang ke Jakarta dari kampung saya,” ia melanjutkan.

Mengajar di Puncak Gunung

Ahasferos Djaha adalah seorang guru di Sekolah Dasar (SD) Inpres Awaalah, Kecamatan Alor Barat, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten Alor yang terletak di bagian timur laut NTT terdiri dari tiga pulau besar dan enam pulau kecil yang tanahnya, rata-rata berupa pegunungan dan perbukitan kering yang tandus. Kabupaten ini berbatasan dengan pulau-pulau Maluku di sebelah timur, di sebelah barat dengan selat Lomblen Lembata, di sebelah utara dengan Laut Flores, dan di sebelah selatan dengan Selat Ombay dan Timor Leste.

Djaha yang memang lahir dan besar di Desa Awaalah, sudah 27 tahun mengajar di kampungnya itu. Ia pun tak pernah berniat beranjak dari desanya yang sebenarnya terletak nun jauh di atas gunung, terpencil dari keramaian kota. Ketika pertama kali bertugas sebagai pengajar, menurut Djaha, sekolahnya tak ubahnya seperti kondisi sekolah di pedalaman lainnya. SD Inpres Awaalah lebih mirip sekolah darurat tanpa fasilitas memadai. Jumlah tenaga pengajar, sarana dan prasarana belajar, buku-buku pelajaran, semuanya serba minim.

Kondisi kehidupan masyarakat pun amat sulit. Jangankan listrik, prasarana jalan pun masih berupa jalan tanah, yang tak bisa dilewati kendaraan, bahkan air bersih pun susah didapat. “Di desa kami tidak ada sumber air tanah. Kami hanya mengandalkan air hujan yang ditampung,” kata Djaha.
Di Desa Awaalah ada 12 Sekolah Dasar, tersebar dari pinggir laut sampai puncak gunung. Masyarakat yang tinggal di daerah pantai masih bisa menggali tanah untuk mendapatkan air bersih meski rasanya sedikit asin. “Tapi, kami yang tinggal di gunung, tak bisa menggali tanah karena air tak ada,” tutur Djaha. Begitu sulitnya mendapatkan air, sampai-sampai masyarakat yang tinggal di sana jarang mandi. “Banyak murid datang ke sekolah tidak mandi, tapi hanya cuci muka saja,” kata Djaha sambil terkekeh.

Ahasferos Djaha bertutur, masyarakat desanya biasa mendapatkan air bersih dengan cara menampung air hujan menggunakan bilah-bilah bambu yang mengalirkannya ke bak penampung. Air di sana merupakan barang langka dan mahal. Jika harus membeli air, ongkosnya cukup besar karena harus membayar tukang ojek untuk mencari orang yang menjual air.

Air biasanya dijajakan oleh penjualnya menggunakan mobil tangki, melewati jalan-jalan yang bisa dilalui mobil. Karena itu, penduduk di atas bukit harus mencarinya ke lembah, karena mobil tangki tak bisa naik hingga ke tempat mereka. Djaha pun kerap menggunakan ojek mencari mobil tangki air sambil membawa jerigen. Setiap jerigen air berisi 10 liter, harganya Rp 10.000. Bukan main mahalnya.

Ketiadaan prasarana jalan juga menyebabkan komunikasi dan hubungan antar daerah sangat sulit. Djaha sendiri terpaksa harus menempuh perjalanan dua atau tiga hari untuk mengambil gajinya ke Kalabahi, Ibukota kabupaten Alor Barat. Namun, belakangan, pengambilan gaji biasa dilakukan oleh bendahara sekolah dengan ongkos hasil patungan para guru.

Tiap guru dipungut iuran Rp 10.000 untuk ongkos mengambil gaji, yang turun setiap tanggal 7 tiap bulannya. Jarak Desa Awaalah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Alor, di kota Kalabahi, sekitar 60 km. Satu-satunya alat transpor adalah ojek sepeda motor. “Kalau tak ada ojek terpaksa jalan kaki, dan menginap di perjalanan, apalagi pada musim hujan,” tutur Djaha.

Sekolah Hampir Mati

Meskipun kondisi kehidupan di desanya yang juga jadi tempatnya mengabdi sangat memprihatinkan, Ahasferos Djaha tidak pernah menyerah. Ia tak berniat beranjak setapak pun meninggalkan desanya. Ia ingin terlibat langsung membangun pendidikan di kampungnya, mencerdaskan anak-anak desa yang kelak akan meneruskan membangun daerahnya. Masih segar dalam ingatan Djaha ketika pertama kali ia menjadi guru pada Agustus 1984. Kala itu sekolahnya seperti hidup tidak, mati tak hendak. Gurunya cuma satu, dan murid-muridnya sudah jarang masuk sekolah.

Djaha lalu berupaya menghidupkan sekolah itu, dan mengajak masyarakat bersama-sama memelihara dan menjaga sekolah. Secara bertahap, sekolah itu pun mulai berdenyut kembali. Gurunya, yang semua hanya ia sendiri bersama kepala sekolah, kini sudah bertambah jadi tujuh orang. Jumlah muridnya pun terus naik. sekarang, malah sudah sangat banyak yakni 222 orang, dan jumlah gurunya makin terasa sedikit, sehingga tidak seimbang.

Guru SD Inpres Awaalah hanya ada tujuh orang, plus beberapa guru tambahan yang direkrut dari anggota masyarakat yang bisa mengajar. “Kalau kekurangan guru, maka kami pakai juga warga yang tamatan SMA tapi yang punya kemampuan mengajar. Kami kontrak mereka dengan dibiayai dana BOS,” tutur Djaha.

SD Inpres Awaalah tidak seperti SD kebanyakan yang mewajibkan siswanya masuk tepat pukul 07.00. Murid di SD ini masuk sekolah pukul 08.00. “Kami memberi toleransi waktu, karena letak rumah para murid itu jauh dari sekolah, sehingga anak-anak butuh waktu untuk mencapainya dengan berjalan kaki,” tutur Djaha. Tidak hanya jarak dan medan perjalanan yang menghambat proses belajar tepat waktu. Menurut Djaha, kondisi cuaca juga mempengaruhi jam masuk sekolah.

“Di tempat kami, pada musim hujan, biasanya Desember sampai Februari, murid-murid baru bisa masuk sekolah pukul 09.00,” kata Djaha. Penyebabnya, pada musim hujan itu jalanan becek, dan anak-anak kerap terlambat sampai di sekolah. Selain itu, sering turun kabut dan udara sangat dingin, sehingga menyulitkan perjalanan anak-anak.

Kelengkapan fasilitas sekolah pun amat minim. Karena kurangnya fasilitas pendukung dalam proses belajar mengajar, kata Djaha, membuat para guru sulit menyampaikan materi pelajaran. “Meskipun guru sudah membuat metode pengajaran banyak atau multimetode, tapi tidak didukung oleh sarana belajar yang semestinya seperti buku, dan alat-alat peraga,” kata Djaha. Toh, menurut Djaha, proses belajar selalu diarahkan bagaimana mambuat murid bisa belajar dengan bersemangat.

Aktif dalam Keagamaan

Meskipun tidak didukung fasilitas yang memadai di SD Inpres Awaalah, namun Ahasferos Djaha bersama guru yang lain tidak pantang menyerah. Apalagi sebagai putra asli kelahiran Awaalah Djaha memiliki harapan yang tinggi agar anak-anak didiknya menjadi orang yang berhasil, dan mengangkat kesejahteraan desanya. Sejak awal bertugas di sekolahnya, Djaha diberi kesempatan untuk menempati rumah yang dibangunnya bersama masyarakat setempat tidak jauh dari tempatnya mengajar.

Djaha sendiri memiliki hubungan baik dengan masyarakat setempat dan menjaga toleransi antar umat beragama. Bahkan sebagai pendidik yang dituakan, Djaha terlibat aktif dalam berbagai kegiatan gereja. “Masyarakat senang karena saya bukan urus sekolah saja, tapi juga mengurus gereja,” kata Djaha. “Tolerasi agama di tempat kami sangat bagus. Keluarga Islam banyak, sehingga kalau tiba hari Lebaran atau Idul Fitri, kami semua masyarakat Awaalah menyatu merayakannya,” tutur Djaha. Begitu juga ketika Natal tiba, kata Djaha, orang Islam juga ikut membantu acara perayaan di gereja.
Di SD Inpres Awaalah sendiri, murid yang beragama Islam ada sekitar 90 orang. Mereka dilayani oleh guru agama Islam juga dalam pelajaran agama.

Terlibatnya Djaha dalam kegiatan kerohanian berawal dari tidak adanya pendeta yang mau rutin naik ke atas gunung untuk melayani jemaah. Akhirnya, dialah yang memimpin acara-acara keagamaan, dengan memperbaiki gereja kecil. Bagi Djaha aktif di gereja adalah seni dalam hidup. “Saya harus bisa membimbing masyarakat kami, karena masyarakat berharap ada yang bisa mebimbing,” kata lulusan Program D-2 di sebuah perguruan tinggi swasta di Kalabahi dan kemudian melanjutkan ke Universitas Terbuka itu.

Menurut Ahasferos Djaha, masyarakat pedalaman seperti warga Dewa Awaalah menilai guru itu sebagai tetua yang biasa memberi petuah sehingga cukup dihormati. Karena itu, Djaha merasa mendapat tuntutan moral untuk tampil memimbing masyarakat termasuk dalam kehidupan beragama. Namun, sebagai pendidik ia pun tak melupakan tugas pokoknya menyelanggarakan pendidikan untuk masa depan anak-anak desanya.

Eva Rohilah

Menghidupkan Sekolah Sekarat Bersama Warga

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Asoyadi
Guru Berdedikasi dari daerah khusus Kalimantan Barat

Menghidupkan Sekolah Sekarat Bersama Warga

“Saya banyak berutang budi kepada penduduk, karena saya kerap menginap di rumah mereka dalam perjalanan. Kalau saya menginap, mereka sering saya buat repot karena harus menyediakan tempat tidur dan memberi saya makan.”
—–
Asoyadi terpana begitu menginjakkan kakinya di Ibukota Jakarta. Lelaki penyandang gelar sarjana pendidikan yang biasa dipanggil Asoy ini seolah seperti berada dalam mimpi. Ia berdecak kagum melihat gedung-gedung tinggi menjulang ke angkasa, melihat jalanan lebar mulus beraspal, dan kendaraan yang berjejal di hampir semua ruas jalanan Jakarta.

Asoyadi adalah guru sekolah dasar (SD) di daerah terpencil nun jauh di sana, di Kalimantan. Tepatnya, ia adalah pengajar di SD Negeri 25 Panit Semaro, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Ia diundang ke Jakarta pertengahan Agustus lalu, sebagai Guru Berdedikasi Daerah Khusus tingkat nasional tahun 2011 mewakili Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Bersama guru-guru berprestasi lainnya dari seluruh Indonesia, Asoy diundang menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-66 Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara. Selanjutnya, ia juga mengikuti serangkaian acara yang digelar Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas).

Asoyadi yang juga baru pertama kali naik pesawat –yang menerbangkannya ke Jakarta, tak henti-hentinya berkomentar kagum melihat pembangunan kota Jakarta yang seperti jauh tanah ke langit dengan pembangunan di daerahnya. “Saya takjub dengan Jakarta. Jalannya bertingkat-tingkat dan meliuk-liuk, gedungnya bagus-bagus,” ujarnya. “Di tempat saya mengajar di Kuala Behe, untuk mencapai jalan raya saja harus ditempuh berjam-jam jalan kaki melalui jalan kecil,” Asoyadi menambahkan.

Selama di Jakarta, Asoyadi tak menyembunyikan rasa senangnya bisa bertemu dengan sesama pengajar dari seluruh Indonesia. Mereka bersama-sama mengiktui kegiatan yang digelar oleh Subdit Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar (PTK) Dikdas Ditjen Pendidikan Dasar, Kemdiknas.

Asoyadi lahir di Desa Sekendal, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, pada 25 Maret 1975 itu. Asoy memang layak terpilih sebagai Guru Berdedikasi. Ia bukan hanya telah mengabdi selama 14 tahun tanpa noda, namun pengabdian itu pun terasa amat bermakna karena ia melaksanakan tugasnya sebagai pengajar di daerah terpencil di pedalaman, dengan berbagai kesulitannya.

Empat belas tahun lalu, Asoy lulus program Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Tak lama setelah lulus, ia berhasil menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan ditempatkan di SDN 25 Panit Semaro, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak. Asoyadi sendiri merasa tak begitu asing dengan kondisi perdesaan di pedalaman. Karena itu, ia rela saja meski ditugaskan mengajar jauh di pedalaman. Putra pasangan petani, Simplisianus Ganti dan Yustina Junah yang merupakan orang Dayak asli itu, pun segera pamit kepada keluarganya untuk mulai menjalankan tugasnya. Kala itu, Asoy berusia 22 tahun, dan ia membawa istrinya, Nurdiana Fitri, turut serta ke tempatnya mengajar.

Terpencil dan Terisolir
Kabupaten Landak adalah salah satu daerah tingkat dua di Provinsi Kalimantan Barat yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pontianak pada tahun 1999. Ibu kota kabupaten ini terletak di Ngabang. Luas wilayah Kabupaten Landak mencapai 9.909,10 km² terbagi dalam 10 kecamatan dengan 174 desa. Lokasi antara satu desa dengan desa lainnya terpencar-pencar dengan jarak yang jauh, dan belum terhubung satu sama lain dengan sarana jalan yang memadai. Yang ada, sebagian besar merupakan jalan setapak atau jalan kecil yang belum berbatu, sehingga susah dilalui kendaraan pada musim hujan.

Landak berasal dari Bahasa Belanda yang terbagi menjadi dua suku kata Lan dan Dak, yang berarti tanah orang Dayak. Mayoritas penduduk aslinya memang dari etnis Dayak dengan segala kekhasan budaya dan adat istiadatnya. Bahkan di sana masih ada peninggalan rumah Panjang/Betang yang merupakan warisan kebudayaan nenek moyang suku Dayak.

Asoyadi bertutur, dari desa kelahirannya ia terpaksa harus menempuh medan berat ke tempat tugasnya. Ia harus berjalan kaki berjam-jam lamanya dari ujung jalan raya terakhir, sebelum sampai di Desa Panit Semaro, tempat sekolahnya berada.

Selain itu, sesampainya di tempat tugas, Asoyadi juga dihadapkan pada kondisi sekolah yang nyaris sekarat. Kala itu, waktu pertama kali ia datang di sana tahun 1997, sekolah yang menjadi tempat bertugasnya sudah hampir tutup. Gurunya yang cuma seorang, jarang datang, dan akibatnya banyak muridnya yang juga enggan bersekolah atau pindah ke sekolah lain. Kepala sekolahnya tak berdaya. Ia saja sudah kewalahan mengajar sendirian.

“Begitu saya bertugas, saya langsung berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk membujuk lagi murid-murid agar mau kembali lagi bersekolah,” tutur Asoyadi. Asoy lalu menggelar rapat dengan para orang tua murid, agar membujuk anak-anaknya kembali sekolah. “Kemudian saya minta bantuan mereka agar memperbaiki rumah dinas guru, serta merawat bangunan sekolah yang sudah nyaris rusak karena tak terawat,” kenang Asoy lagi. Masyarakat pun ternyata mau bekerja bergotong royong merawat sekolah.

Animo warga untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi. Meskipun pada saat itu, SDN 25 Panit Semaro hanya menerima murid di kelas 4 saja. Warga di sana pun turut berpartisipasi memelihara bangunan sekolah. Mereka bersama-sama membersihkan sekolah dari sampah dan rumput-rumput liar.

Susah Mengambil Gaji

Gaji pertama yang diterima Asoyadi ketika itu hanyalah Rp 102.800. Sungguh kecil jika melihat beratnya tantangan yang harus dihadapi Asoy. Namun sambutan masyarakat dan antusias anak-anak untuk bersekolah kembali membuat semangat Asoy makin membara untuk terus mengajar di sana. ”Saya katakan bahwa saya harus betah. Sebab saya dibutuhkan warga, dan warga sangat baik menerima saya,” kata Asoy.

Padahal, perjuangan dan kehidupan Asoyadi sangat berat. Ketika akan mengambil gaji bulanan, misalnya, ia harus pergi ke Ngabang, ibukota Kabupaten Landak. Perjalanan dari desa tempatnya mengajar menuju Ngabang harus ditempuh seharian. Ia antara lain harus menuju kota kecamatan Meranti dulu yang memakan waktu empat jam dengan berjalan kaki. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan satu jam menuju kota kecamatan Menyuke, baru setelah itu menuju Ngabang. Jika hujan deras, ia terpaksa menginap di rumah penduduk di perjalanan.

“Saya banyak berutang budi kepada penduduk, karena saya harus menginap di rumah mereka dalam perjalanan,” kata Asoy. “Kalau saya menginap, mereka sering saya buat repot karena harus menyediakan tempat tidur dan memberi saya makan,” tutur Asoy. Seringkali Asoy membuat jalan bersama masyarakat menembus semak-semak agar bisa dilewati. Pada tahun 2009, kata Asoy, baru ada ojek motor yang bisa dibayar untuk mengambil gaji ke Ngabang, dengan waktu tempuh 5 jam. Tapi kalau hujan, terpaksa motor pun ditinggal di rumah penduduk karena jalanan jeblok.

Perjuangan yang ditempuh murid-muridnya pun tak kalah berat. Setiap hari mereka harus pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, menempuh perjalanan berat melewati jalan-jalan setapak dari rumahnya masing-masing. Kalau musim hujan, mereka harus basah kuyup dengan kaki belepotan lumpur. Banyak dari mereka yang tidak memakai sepatu, kecuali pada hari Senin ketika mereka diwajibkan mengenakan sepatu karena harus mengikuti upacara bendera. Pada hari lainnya, jangankan sepatu, sandal pun mereka tak memakainya.

Berbeda dengan sekolah di kota, di SDN 25 Panit Semaro setiap harinya jam pelajaran dimulai pukul 07.30, kecuali hari Senin yang sama dengan di kota yakni pukul 07.00 karena ada upacara bendera. Toleransi setengah jam ini, menurut Asoy, diberikan karena jarak kampung tempat tinggal murid-murid cukup jauh dan mereka harus berjalan kaki menempuh medan berat ke sekolahnya. Selain itu, banyak anak-anak yang harus bekerja dulu membantu orang tuanya di rumah.
Kegiatan belajar mengajar di SDN 25 Panit Semaro dijalankan dengan fasilitas yang tentu saja serba terbatas. Meskipun dengan sarana dan prasarana minim, namun hasilnya lumayan memuaskan. Menurut Asoyadi, sejak tahun 1999 sampai sekarang SDN 25 Panit Semaro meluluskan 100% siswa-siswanya setiap ujian akhir nasional.

Asoyadi

Asoyadi

Susah Berkomunikasi

Karena berada di daerah terpencil, nun jauh di pedalaman, komunikasi merupakan kendala utama bagi pengembangan SDN 25 Panit Semaro. Informasi kebijakan dari Dinas pendidikan provinsi atau kabupaten, biasanya terlambat sampai. “Kami harus menempuh perjalanan lama menuju kabupaten, hanya untuk mendapatkan informasi kalau ada pengumuman penting,” tutur Asoy.

Asoy dan teman-teman guru lainnya memang punya ponsel alias telepon seluler, tapi nyaris tak berfungsi karena lemahnya sinyal. Kalau mau pakai ponsel, kata Asoy, terpaksa harus cari daerah yang sinyalnya bagus. “Kadang kalau mau mengecek ada SMS masuk saja, harus berjalan kaki selama 15 menit mencari tempat terbuka untuk mencari sinyal yang bagus,” tutur Asoy.

Selain persoalan tugas, Asoy juga menghadapi masalah berat lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Ketersediaan air bersih dan belum adanya aliran listrik merupakan persoalan yang sangat merepotkan. Masyarakat di sana biasa menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk mandi, mencuci maupun minum dan memasak. Tak ada fasilitas MCK (mandi cuci kakus) di sana. Satu-satunya fasilitas kakus atau WC hanyalah di rumah dinas guru, dan itu pun tak terurus karena susah memperoleh air bersihnya.

Kalau mengalami sakit lebih repot lagi. Di tempat Asoy bertugas sama sekali tak ada puskesmas, tenaga medis, apalagi dokter. Masyarakat biasa pergi ke dukun kalau sakit. Asoy pun terpaksa memanfaatkan jasa dukun, termasuk ketika menolong istrinya melahirkan dua puteranya. Toh, rasa kebersamaan masyarakat sangat tinggi, sehingga kalau ada yang sakit mereka ramai-ramai menolong. Asoy pun pernah ditandu warga ketika menderita sakit untuk dibawa ke dukun. Tak ayal lagi, Asoy merasa begitu betah dan merasa damai tinggal bersama masyarakat desa yang begitu baik, meski berada nun jauh di tempat terisolasi.

Pemerintah menyadari segala kesulitan yang dialami guru yang bertugas di daerah terpencil. Karena itu, pemerintah telah memberikan insentif berupa tunjangan khusus. Asoy pun menyatakan terimakasih. Ia kini menerima tunjangan khusus Rp 1,3 juta sebulan yang dirapel dan diberikan setahun sekali. Di luar itu, Asoy juga menerima tunjangan Rp 100.000 per bulan dari pemerintah provinsi dan Rp 150.000 per bulan dari pemerintah kabupaten.

Asoy menyatakan terimakasihnya atas tunjangan-tunjangan itu karena telah membuatnya bersemangat mengabdi di daerah terpencil. Asoy merasa begitu terharu ketika terpilih menjadi Guru Sekolah Dasar Berdedikasi untuk kategori Daerah Khusus dari Provinsi Kalbar.

Menurut Asoy, dedikasinya yang tinggi tak terlepas dari dorongan masyarakat Panit Semaro, yang telah memberinya semangat dan membuatnya bertahan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. ”Saya sangat berutang budi kepada masyarakat. Penghargaan ini bukan hanya untuk saya tapi juga untuk mereka,” kata Asoy dengan mata berkaca-kaca. Ia berterimakasih kepada pemerintah, dan juga kepada masyarakat yang telah menerima dirinya dan membantu melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, dengan baik.

Eva Rohilah