Iuran Untuk Ongkos Mengambil Gaji

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Ahasferos Djaha

Guru Berdedikasi dari daerah khusus Nusa Tenggara Timur

Iuran Untuk Ongkos Mengambil Gaji

Ahasferos Djaha

Ahasferos Djaha

“Di tempat kami, pada musim hujan, biasanya Desember sampai Februari, murid-murid baru bisa masuk sekolah pukul 09.00. Penyebabnya, pada musim hujan itu jalanan becek, dan sering turun kabut, sehingga menyulitkan perjalanan anak-anak ke sekolah.”

Sorot mata Ahasferos Djaha terlihat tajam dan memandang jauh ke depan. Di usianya yang menjelang senja terlihat garis-garis kerut di dahinya. Namun lelaki kelahiran Alor 12 April 1962 ini, masih tampak gesit dan bersemangat. Wajahnya tempak berseri-seri menunjukkan rasa senangnya berkumpul bersama para guru berdedikasi lainnya dari berbagai daerah khusus dan terpencil, mengikuti serangkaian kegiatan yang dihelat Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dalam menyambut hari ulang tahun Kemerdekaan RI, pertengahan Agustus 2011.

Ahasferos Djaha mengaku senang karena selama ini ia hanya bisa melihat para tokoh bangsa ini lewat layar televisi saja, namun akhirnya ia bisa menjumpainya langsung di Jakarta. “Saya ternyata bisa berjumpa langsung dengan Bapak Menteri Pendidikan Nasional dan Ibu Negara Ibu Ani Yudhoyono,” ujar Djaha. “Bagi saya ini benar-benar seperti mukjizat. Suatu kebanggaan bagi saya bisa terbang ke Jakarta dari kampung saya,” ia melanjutkan.

Mengajar di Puncak Gunung

Ahasferos Djaha adalah seorang guru di Sekolah Dasar (SD) Inpres Awaalah, Kecamatan Alor Barat, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten Alor yang terletak di bagian timur laut NTT terdiri dari tiga pulau besar dan enam pulau kecil yang tanahnya, rata-rata berupa pegunungan dan perbukitan kering yang tandus. Kabupaten ini berbatasan dengan pulau-pulau Maluku di sebelah timur, di sebelah barat dengan selat Lomblen Lembata, di sebelah utara dengan Laut Flores, dan di sebelah selatan dengan Selat Ombay dan Timor Leste.

Djaha yang memang lahir dan besar di Desa Awaalah, sudah 27 tahun mengajar di kampungnya itu. Ia pun tak pernah berniat beranjak dari desanya yang sebenarnya terletak nun jauh di atas gunung, terpencil dari keramaian kota. Ketika pertama kali bertugas sebagai pengajar, menurut Djaha, sekolahnya tak ubahnya seperti kondisi sekolah di pedalaman lainnya. SD Inpres Awaalah lebih mirip sekolah darurat tanpa fasilitas memadai. Jumlah tenaga pengajar, sarana dan prasarana belajar, buku-buku pelajaran, semuanya serba minim.

Kondisi kehidupan masyarakat pun amat sulit. Jangankan listrik, prasarana jalan pun masih berupa jalan tanah, yang tak bisa dilewati kendaraan, bahkan air bersih pun susah didapat. “Di desa kami tidak ada sumber air tanah. Kami hanya mengandalkan air hujan yang ditampung,” kata Djaha.
Di Desa Awaalah ada 12 Sekolah Dasar, tersebar dari pinggir laut sampai puncak gunung. Masyarakat yang tinggal di daerah pantai masih bisa menggali tanah untuk mendapatkan air bersih meski rasanya sedikit asin. “Tapi, kami yang tinggal di gunung, tak bisa menggali tanah karena air tak ada,” tutur Djaha. Begitu sulitnya mendapatkan air, sampai-sampai masyarakat yang tinggal di sana jarang mandi. “Banyak murid datang ke sekolah tidak mandi, tapi hanya cuci muka saja,” kata Djaha sambil terkekeh.

Ahasferos Djaha bertutur, masyarakat desanya biasa mendapatkan air bersih dengan cara menampung air hujan menggunakan bilah-bilah bambu yang mengalirkannya ke bak penampung. Air di sana merupakan barang langka dan mahal. Jika harus membeli air, ongkosnya cukup besar karena harus membayar tukang ojek untuk mencari orang yang menjual air.

Air biasanya dijajakan oleh penjualnya menggunakan mobil tangki, melewati jalan-jalan yang bisa dilalui mobil. Karena itu, penduduk di atas bukit harus mencarinya ke lembah, karena mobil tangki tak bisa naik hingga ke tempat mereka. Djaha pun kerap menggunakan ojek mencari mobil tangki air sambil membawa jerigen. Setiap jerigen air berisi 10 liter, harganya Rp 10.000. Bukan main mahalnya.

Ketiadaan prasarana jalan juga menyebabkan komunikasi dan hubungan antar daerah sangat sulit. Djaha sendiri terpaksa harus menempuh perjalanan dua atau tiga hari untuk mengambil gajinya ke Kalabahi, Ibukota kabupaten Alor Barat. Namun, belakangan, pengambilan gaji biasa dilakukan oleh bendahara sekolah dengan ongkos hasil patungan para guru.

Tiap guru dipungut iuran Rp 10.000 untuk ongkos mengambil gaji, yang turun setiap tanggal 7 tiap bulannya. Jarak Desa Awaalah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Alor, di kota Kalabahi, sekitar 60 km. Satu-satunya alat transpor adalah ojek sepeda motor. “Kalau tak ada ojek terpaksa jalan kaki, dan menginap di perjalanan, apalagi pada musim hujan,” tutur Djaha.

Sekolah Hampir Mati

Meskipun kondisi kehidupan di desanya yang juga jadi tempatnya mengabdi sangat memprihatinkan, Ahasferos Djaha tidak pernah menyerah. Ia tak berniat beranjak setapak pun meninggalkan desanya. Ia ingin terlibat langsung membangun pendidikan di kampungnya, mencerdaskan anak-anak desa yang kelak akan meneruskan membangun daerahnya. Masih segar dalam ingatan Djaha ketika pertama kali ia menjadi guru pada Agustus 1984. Kala itu sekolahnya seperti hidup tidak, mati tak hendak. Gurunya cuma satu, dan murid-muridnya sudah jarang masuk sekolah.

Djaha lalu berupaya menghidupkan sekolah itu, dan mengajak masyarakat bersama-sama memelihara dan menjaga sekolah. Secara bertahap, sekolah itu pun mulai berdenyut kembali. Gurunya, yang semua hanya ia sendiri bersama kepala sekolah, kini sudah bertambah jadi tujuh orang. Jumlah muridnya pun terus naik. sekarang, malah sudah sangat banyak yakni 222 orang, dan jumlah gurunya makin terasa sedikit, sehingga tidak seimbang.

Guru SD Inpres Awaalah hanya ada tujuh orang, plus beberapa guru tambahan yang direkrut dari anggota masyarakat yang bisa mengajar. “Kalau kekurangan guru, maka kami pakai juga warga yang tamatan SMA tapi yang punya kemampuan mengajar. Kami kontrak mereka dengan dibiayai dana BOS,” tutur Djaha.

SD Inpres Awaalah tidak seperti SD kebanyakan yang mewajibkan siswanya masuk tepat pukul 07.00. Murid di SD ini masuk sekolah pukul 08.00. “Kami memberi toleransi waktu, karena letak rumah para murid itu jauh dari sekolah, sehingga anak-anak butuh waktu untuk mencapainya dengan berjalan kaki,” tutur Djaha. Tidak hanya jarak dan medan perjalanan yang menghambat proses belajar tepat waktu. Menurut Djaha, kondisi cuaca juga mempengaruhi jam masuk sekolah.

“Di tempat kami, pada musim hujan, biasanya Desember sampai Februari, murid-murid baru bisa masuk sekolah pukul 09.00,” kata Djaha. Penyebabnya, pada musim hujan itu jalanan becek, dan anak-anak kerap terlambat sampai di sekolah. Selain itu, sering turun kabut dan udara sangat dingin, sehingga menyulitkan perjalanan anak-anak.

Kelengkapan fasilitas sekolah pun amat minim. Karena kurangnya fasilitas pendukung dalam proses belajar mengajar, kata Djaha, membuat para guru sulit menyampaikan materi pelajaran. “Meskipun guru sudah membuat metode pengajaran banyak atau multimetode, tapi tidak didukung oleh sarana belajar yang semestinya seperti buku, dan alat-alat peraga,” kata Djaha. Toh, menurut Djaha, proses belajar selalu diarahkan bagaimana mambuat murid bisa belajar dengan bersemangat.

Aktif dalam Keagamaan

Meskipun tidak didukung fasilitas yang memadai di SD Inpres Awaalah, namun Ahasferos Djaha bersama guru yang lain tidak pantang menyerah. Apalagi sebagai putra asli kelahiran Awaalah Djaha memiliki harapan yang tinggi agar anak-anak didiknya menjadi orang yang berhasil, dan mengangkat kesejahteraan desanya. Sejak awal bertugas di sekolahnya, Djaha diberi kesempatan untuk menempati rumah yang dibangunnya bersama masyarakat setempat tidak jauh dari tempatnya mengajar.

Djaha sendiri memiliki hubungan baik dengan masyarakat setempat dan menjaga toleransi antar umat beragama. Bahkan sebagai pendidik yang dituakan, Djaha terlibat aktif dalam berbagai kegiatan gereja. “Masyarakat senang karena saya bukan urus sekolah saja, tapi juga mengurus gereja,” kata Djaha. “Tolerasi agama di tempat kami sangat bagus. Keluarga Islam banyak, sehingga kalau tiba hari Lebaran atau Idul Fitri, kami semua masyarakat Awaalah menyatu merayakannya,” tutur Djaha. Begitu juga ketika Natal tiba, kata Djaha, orang Islam juga ikut membantu acara perayaan di gereja.
Di SD Inpres Awaalah sendiri, murid yang beragama Islam ada sekitar 90 orang. Mereka dilayani oleh guru agama Islam juga dalam pelajaran agama.

Terlibatnya Djaha dalam kegiatan kerohanian berawal dari tidak adanya pendeta yang mau rutin naik ke atas gunung untuk melayani jemaah. Akhirnya, dialah yang memimpin acara-acara keagamaan, dengan memperbaiki gereja kecil. Bagi Djaha aktif di gereja adalah seni dalam hidup. “Saya harus bisa membimbing masyarakat kami, karena masyarakat berharap ada yang bisa mebimbing,” kata lulusan Program D-2 di sebuah perguruan tinggi swasta di Kalabahi dan kemudian melanjutkan ke Universitas Terbuka itu.

Menurut Ahasferos Djaha, masyarakat pedalaman seperti warga Dewa Awaalah menilai guru itu sebagai tetua yang biasa memberi petuah sehingga cukup dihormati. Karena itu, Djaha merasa mendapat tuntutan moral untuk tampil memimbing masyarakat termasuk dalam kehidupan beragama. Namun, sebagai pendidik ia pun tak melupakan tugas pokoknya menyelanggarakan pendidikan untuk masa depan anak-anak desanya.

Eva Rohilah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s