Melawan Kawin Piara Mengajak Bersekolah

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Marcelina Wamburye
Guru Daerah Khusus Berdedikasi dari Papua Barat

Melawan Kawin Piara Mengajak Bersekolah

“Saya sedih ketika harus pergi ke kota kabupaten untuk mengambil gaji, sehingga harus meninggalkan murid-murid beberapa hari. Akibatnya, kelas kosong, karena tak ada yang mengajar.”

Marcelina Wamburye

Marcelina Wamburye

Nun jauh di pedalaman Papua Barat, di tengah kesunyian belantara, ada seorang pendidik yang tekun menjalankan tugasnya mencerdaskan anak bangsa. Dia adalah Marcelina Wamburye, guru yang mengajar di Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Paulus, di Desa Fruata, Distrik Fafurwar, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Wanita kelahiran Maprima, 23 Juni 1968, itu sudah 14 tahun mengabdikan hidupnya bagi pendidikan anak-anak Desa Fruata.

Teluk Bintuni mempunyai kekayaan alam yang melimpah mulai dari hasil hutan di permukaan tanah, hingga bahan tambang di bawahnya. Bahan tambang yang paling banyak ditemukan adalah gas alam cair (LNG), batu bara, dan mika. Sumber daya alam lainnya terdapat di perairan lautnya yang kaya ikan dan udang. Potensi alam yang besar itu ditunjang oleh letak geografisnya yang strategis, sehingga Kabupaten Teluk Bintuni sangat mungkin menjadi pusat pengembangan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah kepala burung Pulau Papua.

Namun sangat disayangkan, sumber daya alam yang berlimpah itu tidak didukung oleh sumber daya manusia yang bermutu. Selain itu, infrastruktur juga sangat minim. Permukiman-permukiman penduduk yang terpencar-pencar akhirnya menjadi desa-desa yang terisolir karena tak ada prasarana jalan yang memadai yang menjadi penghubung di antara mereka.

Begitulah kondisi Desa Fruata yang juga merupakan desa terpencil dan terisolir di papua Barat. Marcelina Wamburye, terpaksa harus hidup dengan segala keterasingannya dari peradaban yang ingar bingar di perkotaan. SD YPPK Santo Paulus tempat ia mengajar, yang terletak di Desa Fruata, berjarak puluhan kilometer jauhnya dari ibukota Kabupaten Teluk Bintuni, Distrik Bintuni.

Berjalan Kaki ke Pantai

Marcelina Womburye terpaksa harus berjalan kaki berhari-hari menuju Distrik Bintuni untuk mengambil gajinya, atau untuk mengirimkan laporan kepada Dinas Pendidikan Teluk Bintuni. Itu hanya untuk mencapai pantai saja sebelum perjalanan kemudian dilanjutkan dengan perahu. Satu-satunya angkutan yang beroperasi di sana adalah ojek motor, yang biasa mengantar hingga pantai. Ongkosnya sekali jalan Rp 500.000. Marcelina sendiri biasanya pergi dengan berjalan kaki dan terpaksa harus menginap di perjalanan.

Kesulitan transportasi ini tak hanya menghambat masalah pekerjaan, tapi juga akses untuk mendapatkan sumber makanan dan kebutuhan pokok lain. “Memang jarang sekali ada kesempatan ke kota, jadi kita makan seadanya saja, dengan memanfaatkan hasil kebun,” tutur Marcelina. Meskipun demikian, ibu tiga anak ini tidak pernah putus asa dalam menyampaikan ilmu kepada anak didiknya, karena menurut dia, menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil.

“Cita- cita menjadi guru ditanamkan sang ibu sejak saya berusia 12 tahun,” kenang Marcelina. Marcelina bertutur, ketika ayahnya meninggal, ibunya kemudian menjadi tulang punggung. Sang ibu mencari uang dengan membuat minyak kelowan, minyak gosok yang biasa digunakan untuk pijat dan penghangat badan. Marcelina sendiri bertugas menjualnya.

Walaupun kondisi saat itu sulit, tetapi sang Ibu mengharuskan Marcelina dan adik untuk berangkat ke sekolah. Ibunya selalu mengajarkan pada anak-anaknya untuk selalu menjaga semangat mereka dalam kondisi sesulit apapun. Kehidupan Marcelina saat itu sungguh sulit, tetapi ibunya selalu membuat dia semangat dengan mengajarkannya agar menemukan kebahagian di hari depan.

Sang Ibu jualah yang menanamkan pesan kepada Marcelina agar bersekolah dengan baik supaya bisa menjadi seorang guru dan menjadi pembimbing buat adik-adiknya kelak. Pesan dari sang Ibu sangat membekas dan menimbulkan tekad pada Marcelina untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang guru. “Kenangan dan nilai-nilai yang diajarkan ibu pada masa kecil itu sampai sekarang tidak akan bisa dilupakan,” kata Marcelina.

Sekolah Pendidikan Guru

Demi cita-cita menjadi guru itu, usai menamatkan Sekolah Menengah Pertama, Marcelina Womburye kemudian melanjutkan ke Sekolah PendidikanGuru (SPG), dan lulus pada tahun 1990. Selang tiga tahun setelah lulus, Marcelina berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi guru setelah diangkat menjadi PNS. Ia ditempatkan pertama kali di sebuah SD di daerah Tembuni selama tiga tahun. Setelah itu pada Agustus 1997 ia dipindahkan ke SD YPPK Santo Paulus, di Desa Fruata, sampai sekarang.

Marcelina berkisah bahwa pada saat pertama kali bertugas di Desa Fruata, minat warga untuk menyekolahkan putera-puterinya sangat rendah. Kala itu, di sana masih banyak penduduk yang melakukan adat kawin piara, yakni menikahkan anak-anak mereka sejak kecil, sehingga anak-anak itu tak sempat bersekolah. Marcelina berusaha mengubah adat itu, dan mengajak para orang tua agar menyekolahkan anak-anaknya.

Perlahan-lahan Marcelina mengubah tradisi kuno itu, dan akhirnya mulai banyak anak di sana yang menjadi murid-muridnya. Hal yang membuatnya bangga, juga ketika anak-anak itu ada yang melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat SMA, sehingga banyak yang kini sudah menjadi pegawai negeri. “Bila sedang turun ke kota Kabupaten saya sering menjumpai anak didik saya yang sekarang sudah bekerja di berbagai instansi di Disttrik Bintuni,” ungkap Marcelina, gembira.

Saat ini Marcelina mengajar kelas satu dan kelas dua untuk semua mata pelajaran di SD YPPK St. Paulus. Dengan segala keterbatasan, ia bersama teman-teman lainnya sesama guru, bahu membahu mendidik para murid. “Saat ini ada enam kelas di sekolah kami, terdiri dari 150 murid,” ungkap Marcelina. “Untuk mengelola enam kelas, kami hanya memiliki empat guru, tentu saja kami kekurangan guru tapi beginilah kondisinya,” ia melanjutkan.

Kondisi bangunan sekolah pun sudah banyak yang mengalami kerusakan. “Saat ini Ada enam ruangan yang sebenarnya baru direhab pada 2005, tapi kontraktornya kurang bagus, sehinnga sudah rusak lagi,” kata Marcelina. Kekurangan guru dan kondisi gedung yang kurang memadai ini tentu berpengaruh terhadap kualitas pengajaran di sekolah. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya alat-alat penunjang seperti buku-buku pelajaran.

“Ada kalanya kita tidak punya buku pedoman. Dulu, kita biasa beli sendiri dengan uang kita sendiri, sebelum ada dana BOS,” kata Marcelina. “Memang, dari Dinas Pendidikan diberi, tetapi mereka mengatakan tidak ada dana untuk biaya transportasi untuk dikirim ke daerah kami,” Marcelina menambahkan.

Suka Duka Mengajar

Mengajar dengan segala keterbatasan ini tidak mengendorkan semangat Marcelina Womburye untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak didiknya. Banyak suka duka yang dialaminya selama mengajar dengan fasilitas seadanya itu. “Sukanya, saya bertemu dengan anak-anak sehingga saya bisa terhibur, apalagi jika mereka bisa naik kelas. Itu menjadi suatu kebanggaan bahwa saya berhasil,” papar Marcelina. “Dukanya, jika ada dari mereka yang tidak naik kelas. Saya jadi turut sedih karena berarti saya belum berhasil,” tambahnya.

Dan yang pasti, yang membuat Marcelina bangga dan bahagia menjadi guru adalah jika ada anak didiknya yang berhasil mengukir prestasi dan menghasilkan karya. Misalnya, ketika murid-muridnya meraih penghargaan dari bupati atas prestasinya membuat karya-karya kerajinan.

Dan kesedihan lainnya terjadi, ketika Marcelina dan rekan-rekan guru yang lain harus pergi, misalnya untuk mengambil gaji ke kota kabupaten, sehingga harus meninggalkan murid-muridnya beberapa hari. Akibatnya, kelasnya kosong, karena tak ada yang mengajar.

Semangat Marcelina Wamburye untuk melanjutkan pengabdiannya di pedalaman makin menggelora setelah kini ia meraih penghargaan sebagai guru berdedikasi, mewakili Papua Barat. Marcelina berharap, agar Kementerian Pendidikan Nasional bisa memperhatikan lebih banyak guru lagi yang sedang berjibaku membangun pendidikan di pedalaman. Sebab, ia yakin begitu banyak para pendidik yang rela mengabdi untuk Ibu Pertiwi dengan menjadi pengajar di sekolah-sekolah darurat nun jauh di kawasan terpencil di pedalaman pulau-pulau Indonesia.

Eva Rohilah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s