Menghidupkan Sekolah Sekarat Bersama Warga

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Asoyadi
Guru Berdedikasi dari daerah khusus Kalimantan Barat

Menghidupkan Sekolah Sekarat Bersama Warga

“Saya banyak berutang budi kepada penduduk, karena saya kerap menginap di rumah mereka dalam perjalanan. Kalau saya menginap, mereka sering saya buat repot karena harus menyediakan tempat tidur dan memberi saya makan.”
—–
Asoyadi terpana begitu menginjakkan kakinya di Ibukota Jakarta. Lelaki penyandang gelar sarjana pendidikan yang biasa dipanggil Asoy ini seolah seperti berada dalam mimpi. Ia berdecak kagum melihat gedung-gedung tinggi menjulang ke angkasa, melihat jalanan lebar mulus beraspal, dan kendaraan yang berjejal di hampir semua ruas jalanan Jakarta.

Asoyadi adalah guru sekolah dasar (SD) di daerah terpencil nun jauh di sana, di Kalimantan. Tepatnya, ia adalah pengajar di SD Negeri 25 Panit Semaro, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Ia diundang ke Jakarta pertengahan Agustus lalu, sebagai Guru Berdedikasi Daerah Khusus tingkat nasional tahun 2011 mewakili Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Bersama guru-guru berprestasi lainnya dari seluruh Indonesia, Asoy diundang menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-66 Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara. Selanjutnya, ia juga mengikuti serangkaian acara yang digelar Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas).

Asoyadi yang juga baru pertama kali naik pesawat –yang menerbangkannya ke Jakarta, tak henti-hentinya berkomentar kagum melihat pembangunan kota Jakarta yang seperti jauh tanah ke langit dengan pembangunan di daerahnya. “Saya takjub dengan Jakarta. Jalannya bertingkat-tingkat dan meliuk-liuk, gedungnya bagus-bagus,” ujarnya. “Di tempat saya mengajar di Kuala Behe, untuk mencapai jalan raya saja harus ditempuh berjam-jam jalan kaki melalui jalan kecil,” Asoyadi menambahkan.

Selama di Jakarta, Asoyadi tak menyembunyikan rasa senangnya bisa bertemu dengan sesama pengajar dari seluruh Indonesia. Mereka bersama-sama mengiktui kegiatan yang digelar oleh Subdit Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar (PTK) Dikdas Ditjen Pendidikan Dasar, Kemdiknas.

Asoyadi lahir di Desa Sekendal, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, pada 25 Maret 1975 itu. Asoy memang layak terpilih sebagai Guru Berdedikasi. Ia bukan hanya telah mengabdi selama 14 tahun tanpa noda, namun pengabdian itu pun terasa amat bermakna karena ia melaksanakan tugasnya sebagai pengajar di daerah terpencil di pedalaman, dengan berbagai kesulitannya.

Empat belas tahun lalu, Asoy lulus program Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Tak lama setelah lulus, ia berhasil menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan ditempatkan di SDN 25 Panit Semaro, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak. Asoyadi sendiri merasa tak begitu asing dengan kondisi perdesaan di pedalaman. Karena itu, ia rela saja meski ditugaskan mengajar jauh di pedalaman. Putra pasangan petani, Simplisianus Ganti dan Yustina Junah yang merupakan orang Dayak asli itu, pun segera pamit kepada keluarganya untuk mulai menjalankan tugasnya. Kala itu, Asoy berusia 22 tahun, dan ia membawa istrinya, Nurdiana Fitri, turut serta ke tempatnya mengajar.

Terpencil dan Terisolir
Kabupaten Landak adalah salah satu daerah tingkat dua di Provinsi Kalimantan Barat yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pontianak pada tahun 1999. Ibu kota kabupaten ini terletak di Ngabang. Luas wilayah Kabupaten Landak mencapai 9.909,10 km² terbagi dalam 10 kecamatan dengan 174 desa. Lokasi antara satu desa dengan desa lainnya terpencar-pencar dengan jarak yang jauh, dan belum terhubung satu sama lain dengan sarana jalan yang memadai. Yang ada, sebagian besar merupakan jalan setapak atau jalan kecil yang belum berbatu, sehingga susah dilalui kendaraan pada musim hujan.

Landak berasal dari Bahasa Belanda yang terbagi menjadi dua suku kata Lan dan Dak, yang berarti tanah orang Dayak. Mayoritas penduduk aslinya memang dari etnis Dayak dengan segala kekhasan budaya dan adat istiadatnya. Bahkan di sana masih ada peninggalan rumah Panjang/Betang yang merupakan warisan kebudayaan nenek moyang suku Dayak.

Asoyadi bertutur, dari desa kelahirannya ia terpaksa harus menempuh medan berat ke tempat tugasnya. Ia harus berjalan kaki berjam-jam lamanya dari ujung jalan raya terakhir, sebelum sampai di Desa Panit Semaro, tempat sekolahnya berada.

Selain itu, sesampainya di tempat tugas, Asoyadi juga dihadapkan pada kondisi sekolah yang nyaris sekarat. Kala itu, waktu pertama kali ia datang di sana tahun 1997, sekolah yang menjadi tempat bertugasnya sudah hampir tutup. Gurunya yang cuma seorang, jarang datang, dan akibatnya banyak muridnya yang juga enggan bersekolah atau pindah ke sekolah lain. Kepala sekolahnya tak berdaya. Ia saja sudah kewalahan mengajar sendirian.

“Begitu saya bertugas, saya langsung berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk membujuk lagi murid-murid agar mau kembali lagi bersekolah,” tutur Asoyadi. Asoy lalu menggelar rapat dengan para orang tua murid, agar membujuk anak-anaknya kembali sekolah. “Kemudian saya minta bantuan mereka agar memperbaiki rumah dinas guru, serta merawat bangunan sekolah yang sudah nyaris rusak karena tak terawat,” kenang Asoy lagi. Masyarakat pun ternyata mau bekerja bergotong royong merawat sekolah.

Animo warga untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi. Meskipun pada saat itu, SDN 25 Panit Semaro hanya menerima murid di kelas 4 saja. Warga di sana pun turut berpartisipasi memelihara bangunan sekolah. Mereka bersama-sama membersihkan sekolah dari sampah dan rumput-rumput liar.

Susah Mengambil Gaji

Gaji pertama yang diterima Asoyadi ketika itu hanyalah Rp 102.800. Sungguh kecil jika melihat beratnya tantangan yang harus dihadapi Asoy. Namun sambutan masyarakat dan antusias anak-anak untuk bersekolah kembali membuat semangat Asoy makin membara untuk terus mengajar di sana. ”Saya katakan bahwa saya harus betah. Sebab saya dibutuhkan warga, dan warga sangat baik menerima saya,” kata Asoy.

Padahal, perjuangan dan kehidupan Asoyadi sangat berat. Ketika akan mengambil gaji bulanan, misalnya, ia harus pergi ke Ngabang, ibukota Kabupaten Landak. Perjalanan dari desa tempatnya mengajar menuju Ngabang harus ditempuh seharian. Ia antara lain harus menuju kota kecamatan Meranti dulu yang memakan waktu empat jam dengan berjalan kaki. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan satu jam menuju kota kecamatan Menyuke, baru setelah itu menuju Ngabang. Jika hujan deras, ia terpaksa menginap di rumah penduduk di perjalanan.

“Saya banyak berutang budi kepada penduduk, karena saya harus menginap di rumah mereka dalam perjalanan,” kata Asoy. “Kalau saya menginap, mereka sering saya buat repot karena harus menyediakan tempat tidur dan memberi saya makan,” tutur Asoy. Seringkali Asoy membuat jalan bersama masyarakat menembus semak-semak agar bisa dilewati. Pada tahun 2009, kata Asoy, baru ada ojek motor yang bisa dibayar untuk mengambil gaji ke Ngabang, dengan waktu tempuh 5 jam. Tapi kalau hujan, terpaksa motor pun ditinggal di rumah penduduk karena jalanan jeblok.

Perjuangan yang ditempuh murid-muridnya pun tak kalah berat. Setiap hari mereka harus pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, menempuh perjalanan berat melewati jalan-jalan setapak dari rumahnya masing-masing. Kalau musim hujan, mereka harus basah kuyup dengan kaki belepotan lumpur. Banyak dari mereka yang tidak memakai sepatu, kecuali pada hari Senin ketika mereka diwajibkan mengenakan sepatu karena harus mengikuti upacara bendera. Pada hari lainnya, jangankan sepatu, sandal pun mereka tak memakainya.

Berbeda dengan sekolah di kota, di SDN 25 Panit Semaro setiap harinya jam pelajaran dimulai pukul 07.30, kecuali hari Senin yang sama dengan di kota yakni pukul 07.00 karena ada upacara bendera. Toleransi setengah jam ini, menurut Asoy, diberikan karena jarak kampung tempat tinggal murid-murid cukup jauh dan mereka harus berjalan kaki menempuh medan berat ke sekolahnya. Selain itu, banyak anak-anak yang harus bekerja dulu membantu orang tuanya di rumah.
Kegiatan belajar mengajar di SDN 25 Panit Semaro dijalankan dengan fasilitas yang tentu saja serba terbatas. Meskipun dengan sarana dan prasarana minim, namun hasilnya lumayan memuaskan. Menurut Asoyadi, sejak tahun 1999 sampai sekarang SDN 25 Panit Semaro meluluskan 100% siswa-siswanya setiap ujian akhir nasional.

Asoyadi

Asoyadi

Susah Berkomunikasi

Karena berada di daerah terpencil, nun jauh di pedalaman, komunikasi merupakan kendala utama bagi pengembangan SDN 25 Panit Semaro. Informasi kebijakan dari Dinas pendidikan provinsi atau kabupaten, biasanya terlambat sampai. “Kami harus menempuh perjalanan lama menuju kabupaten, hanya untuk mendapatkan informasi kalau ada pengumuman penting,” tutur Asoy.

Asoy dan teman-teman guru lainnya memang punya ponsel alias telepon seluler, tapi nyaris tak berfungsi karena lemahnya sinyal. Kalau mau pakai ponsel, kata Asoy, terpaksa harus cari daerah yang sinyalnya bagus. “Kadang kalau mau mengecek ada SMS masuk saja, harus berjalan kaki selama 15 menit mencari tempat terbuka untuk mencari sinyal yang bagus,” tutur Asoy.

Selain persoalan tugas, Asoy juga menghadapi masalah berat lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Ketersediaan air bersih dan belum adanya aliran listrik merupakan persoalan yang sangat merepotkan. Masyarakat di sana biasa menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk mandi, mencuci maupun minum dan memasak. Tak ada fasilitas MCK (mandi cuci kakus) di sana. Satu-satunya fasilitas kakus atau WC hanyalah di rumah dinas guru, dan itu pun tak terurus karena susah memperoleh air bersihnya.

Kalau mengalami sakit lebih repot lagi. Di tempat Asoy bertugas sama sekali tak ada puskesmas, tenaga medis, apalagi dokter. Masyarakat biasa pergi ke dukun kalau sakit. Asoy pun terpaksa memanfaatkan jasa dukun, termasuk ketika menolong istrinya melahirkan dua puteranya. Toh, rasa kebersamaan masyarakat sangat tinggi, sehingga kalau ada yang sakit mereka ramai-ramai menolong. Asoy pun pernah ditandu warga ketika menderita sakit untuk dibawa ke dukun. Tak ayal lagi, Asoy merasa begitu betah dan merasa damai tinggal bersama masyarakat desa yang begitu baik, meski berada nun jauh di tempat terisolasi.

Pemerintah menyadari segala kesulitan yang dialami guru yang bertugas di daerah terpencil. Karena itu, pemerintah telah memberikan insentif berupa tunjangan khusus. Asoy pun menyatakan terimakasih. Ia kini menerima tunjangan khusus Rp 1,3 juta sebulan yang dirapel dan diberikan setahun sekali. Di luar itu, Asoy juga menerima tunjangan Rp 100.000 per bulan dari pemerintah provinsi dan Rp 150.000 per bulan dari pemerintah kabupaten.

Asoy menyatakan terimakasihnya atas tunjangan-tunjangan itu karena telah membuatnya bersemangat mengabdi di daerah terpencil. Asoy merasa begitu terharu ketika terpilih menjadi Guru Sekolah Dasar Berdedikasi untuk kategori Daerah Khusus dari Provinsi Kalbar.

Menurut Asoy, dedikasinya yang tinggi tak terlepas dari dorongan masyarakat Panit Semaro, yang telah memberinya semangat dan membuatnya bertahan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. ”Saya sangat berutang budi kepada masyarakat. Penghargaan ini bukan hanya untuk saya tapi juga untuk mereka,” kata Asoy dengan mata berkaca-kaca. Ia berterimakasih kepada pemerintah, dan juga kepada masyarakat yang telah menerima dirinya dan membantu melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, dengan baik.

Eva Rohilah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s