Nasi Campur Kopi atau Ubi dengan Kelapa

Posted: November 1, 2011 by Eva in Pendidikan

Ni Medelu, S.Pd

Guru SD Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud Sion, Desa Enggohe, Pulau Bukide, Nusa Tabukan, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

“Sekarang anak-anak sudah fasih menggunakan bahasa Indonesia, dan para orangtua juga saya himbau terus untuk sesekali memakai bahasa Indonesia di rumah, belajar dari anak-anak mereka.”

Ni Medelu

Ni Medelu

Bagaimana rasanya bertugas mengajar di pulau kecil di tengah laut luas yang bergelombang besar? Tanyakan saja kepada Ni Medelu, S.Pd. Perempuan itu sudah 14 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru di Pulau Bukide, nun jauh di lepas pantai utara Provinsi Sulawesi Utara, di tubir Samudera Pasifik, di perbatasan utara wilayah Indonesia. Saat ini ia mengajar di Sekolah Dasar (SD) Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Sion, Desa Enggohe, Pulau Bukide, Kecamatan Nusa Tabukan, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Jangankan ke ibukota provinsi, Manado, untuk mencapai ibukota kabupaten saja, Tahuna, ia harus naik perahu seharian melayari laut yang kadang bergelombang tinggi. Kecamatan Nusa Tabukan merupakan pemekaran dari Kecamatan Tabukan utara. Pemekaran ini terjadi oleh karena Wilayah Nusa Tabukan berada pada gugusan pulau kecil yang terpisah dari daratan Kecamatan Tabukan Utara di Pulau Sangihe.
Desa Tertinggal

Desa Enggohe, Bukide, didiami oleh 150-an kepala keluarga dengan total penduduk sekitar 484 jiwa. Pekerjaan mereka adalah sebagai nelayan tradisional dan petani. Enggohe adalah sebuah kampung nelayan dan petani yang tertinggal dengan mayoritas masyarakatnya yang tidak berpendidikan. Di sana kaum laki-laki berjuang melawan ganasnya ombak lautan dan menepis dinginnya angin malam untuk mencari ikan. Para istri kemudian menjualnya ke Tahuna, dengan menumpang perahu.
Penduduk Enggohe umumnya belum menganggap penting pendidikan. Karena itu, mereka lebih suka kalau anak-anaknya tidak sekolah dan membantu orang tuanya mencari ikan atau bertani. Itulah sebabnya, banyak penduduk Enggohe yang tidak bersekolah. Tercatat baru ada seorang sarjana di desa ini, yang berhasil mencapai sekolah tinggi berkat dorongan para gurunya.

Sebelum mengajar di SD GMIST Sion Enggohe, Ni Medelu mendapat tugas mengajar di SD GMIST Nipa, Kampung Nusa, di Kecamatan Tabukan Utara sejak ia ditugaskan pertamakali jadi pegawai negeri pada tahun 1997. Namun, seiring adanya pemekaran, Pada tahun 2000, Ni Medelu berpindah tugas untuk mengajar SD GMIST Sion Enggohe.

Ni Medelu lahir di Mawira, Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Sangihe, 5 Agustus 1971. Ia adalah seorang yang kidal, dan karena tidak jamak, ia pernah dipersoalkan ketika masuk sekolah, karena menulis dengan tangan kiri. Nama Ni Medelu sendiri memiliki arti. Nama marga Medelu dalam bahasa Sangihe berarti guntur yang menggelegar. Tapi, tak seperti namanya yang terkesan garang, Ni Medelu ternyata memiliki kepribadian yang lembut, santun, dan ramah. Cocok untuk seorang pendidik.

Setamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Tahuna, Ni Medelu mendaftar di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Manado, karena ia bercita-cita menjadi guru. Ni Medelu kemudian meneruskan pendidikannya sampai meraih gelar sarjana pendidikan di Universitas Terbuka.
Sekolah Sederhana

Ketika pertama kali datang ke Nusa Tabukan, ia menemukan sekolahnya amat sederhana. Gurunya hanya satu merangkap kepala sekolah. Ni Medelu juga merasakan kesulitan berkomunikasi karena bahasa daerahnya berbeda, dan jarang yang menguasai bahasa Indonesia.
Ia masih ingat, betapa susahnya mengajar Bahasa Indonesia pada masa-masa awal ia bertugas. “Perlu penerjemah ke bahasa daerah setempat, karena saya sendiri tak paham bahasa daerah mereka,” tutur Ni Medelu. Berkat ketekunan dan kesabarannya, Ni Medelu kemudian mengajak masyarakat setempat untuk membiasakan diri berbahasa Indonesia. Lama-lama, bahasa Indonesia makin populer.

“Sekarang anak-anak sudah fasih menggunakan bahasa Indonesia, dan orangtua juga saya himbau terus untuk sesekali memakai bahasa Indonesia di rumah, belajar dari anak-anak mereka,” kata Ni Medelu. Selain itu, Ni Medelu juga berhasil memotivasi para orang tua agar mau menyekolahkan anak-anaknya. Ni Medelu sendiri tidak terlalu mewajibkan anak-anak didiknya untuk mengenakan pakaian seragam lengkap dengan sepatunya, ke sekolah. Sebab, mencari pakaian seragam dan sepatu juga bukan perkara gampang di sana.

Musibah alam sempat menguji Ni Medelu. Pada 21 Januari 2001, sekolahnya terkena longsor. Akibat hujan yang terus menerus, terjadi longsor. Tanah longsor itu menjebolkan dinding sekolah sehingga rata dengan tanah. Semua sarana dan prasarana sekolah tertimbun dan hancur berantakan. Terpaksa, sekolah dipindah ke balai desa dan gedung gereja. “Beberapa bulan kemudian karena balai desa dipakai, kami terpaksa pindah ke SMPN I Nusa Tabukan,” tutur Ni Medelu.
Cukup lama, Ni Medelu dan anak didiknya meminjam gedung SMPN I Nusa Tabukan, karena baru pada 2006 ada bantuan mendirikan sekolah baru. Setelah bangunan baru selesai didirikan, barulah Ni Medelu memboyong anak-anak didiknya ke gedung sekolah baru itu. Karena bangunan baru hanya terdiri dari tiga kelas, maka waktu belajar dibagi. Kelas 1 sampai kelas tiga masuk pagi, dan sisanya masuk sore.
Tambahan Guru Honorer

Bersamaan dengan kembalinya ia bersama murid-muridnya ke sekolah baru, saat itu pula ada tambahan tenaga guru honorer. Guru honorer itu adalah Pdt. A. Kahiking, S.Th. Meski dibayar murah, sang pendeta dengan tekun membantu Ni Medelu memberikan pendidikan kepada para siswa.
Seiring berlalunya waktu, SD GMIST Sion Enggohe pun terus berkembang. Saat ini, ada 63 orang murid di sekolah itu, dengan jumlah pengajar ada lima orang guru, terdiri dari empat orang PNS (Pegawai Negeri SIpil), dan satu tenaga honorer, serta seorang sukarelawan tenaga pengajar dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang dikelola oleh Anies Baswedan.

Sejalan dengan perkembangan zaman, pola pikir masyarakat tentang pendidikan pun turut berkembang. Ini ditunjukkan dengan perhatian dan kepedulian masyarakat Enggohe yang mulai mementingkan pendidikan anak-anaknya. Perhatian komite sekolah terhadap perkembangan sekolah pun makin besar, terlihat dari selalu hadirnya mereka dalam rapat-rapat sekolah.

Adapun masalah yang sering timbul adalah ketika guru harus mengurus administrasi sekolah, termasuk mengambil gaji, atau mengikuti pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan di ibukota kabupaten, Tahuna, atau di tempat lain luar wilayah pulau. “Artinya, kita harus meninggalkan tugas mengajar satu dua hari, karena perjalanannya saja bisa seharian, dan tidak setiap jam ada perahu untuk pulang ke pulau,” tutur Ni Medelu. “Kalau ketinggalan perahu, kita harus menyewa perahu khusus harganya Rp 150.000 hingga Rp 200.000, tapi kalau menunggu perahu yang biasa melayani angkutan harian, ya harus menunggu keesokan harinya, artinya harus bermalam,” papar Ni Medelu.
Makan Nasi Saja atau Ubi

Sebenarnya, pernah ada bantuan dari pemerintah bagi masyarakat Desa Enggohe berupa satu unit perahu dengan mesinnya, untuk dipergunakan masyarakat bepergian ke pulau lain. Tapi sekarang sudah rusak akibat hantaman badai dan gelombang, dan tak ada dana untuk memperbaikinya. Akibatnya, sekarang masyarakat yang hendak menyebrang ke wilayah daratan utama, untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok terpaksa bergantung pada perahu dari pulau lain.
Jika sedang terjadi musim gelombang tinggi, dan angin kencang, tak ada perahu yang berani berlayar. Kapal yang biasa mengirim barang-barang kebutuhan pokok pun tak berani datang. Akibatnya, penduduk kadang kekurangan bahan makanan. “Kalau kami masih ada persediaan beras, kami biasa makan nasi saja disiram dengan kopi,” tutur Ni Medelu. “Kalau tidak, kami makan singkong yang dicampur dengan kelapa parut,” ia menambahkan, sambil tersenyum.

Selain itu, hambatan utama dalam pelaksanaan tugas pendidikan di Enggahe adalah ketiadaan listrik. Ni Medelu dan penduduk Enggohe terpaksa masih mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan. Setiap malam Ni Medelu ditemani oleh lampu botol dan pelita yang temaram. Jika ada angin kencang, mereka pun harus bergelap-gelapan karena tak ada lampu minyak yang mampu bertahan dari terpaan angin kencang. “Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan pada malam hari terbengkalai. Pekerjaan pun semakin menumpuk, apabila esoknya cuaca tidak berubah,” tutur Ni Medelu.

Sarana komunikasi pun jadi persoalan lain. Satu-satunya alat komunikasi yang menjadi andalan Ni Medelu adalah telepon seluler (ponsel). Tapi sinyalnya muncul tenggelam. Dan, jika batereynya habis, tentu tak bisa diisi ulang karena tak ada listrik. “Untuk mengisi baterenya, kalau datang hari pasar mesti ke pasar, atau menitipkan kepada yang berangkat. Cara yang lain adalah datang kepada yang punya generator,” kata Ni Medelu.
Ni Medelu berharap pemerintah mau memperhatikan kondisi masyarakatnya, dengan membantu membangun infrastruktur yang dibutuhkan. Listrik dan sarana transportasi adalah yang dianggap paling penting, agar kehidupan ekonomi dan pendidikan masyarakatnya berkembang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s