Archive for September, 2013

Resensi Buku

Judul : Rumah Seribu Malaikat
(Memoar Inspiratif tentang Satu keluarga Bersahaja yang membesarkan Puluhan Anak Angkat)
Penulis : Yuli Badawi dan Hermawan Aksan
Penerbit : Hikmah, Mizan Publika
Cetakan : I, Oktober 2010
Harga : 68.000

Sampul Buku RSM

Mencintai dan Menguji Ketulusan Hati Memelihara Anak

Aku dapat rekomendasi buku ini dari Nida, temanku SMA. Setelah itu aku cari ke toko buku di gramedia tenyata buku ini sudah habis. Lalu aku telfon Ahmad Fathoni, temanku yang sekarang kerja di Penerbit Mizan dan ternyata bukunya lagi cetak ulang, aku harus menunggu baru seminggu kemudian buku ini sampai di tanganku lewat pos.

Buku yang bersampul hijau kekuningan ini adalah kisah Yuli Badawi seorang perempuan bersahaja yang sudah memiliki empat orang anak, namun seringkali diberi amanat untuk memelihara anak angkat yang diberikan oleh orang-orang yang memiliki anak namun mereka tidak sanggup memeliharanya. Ada berbagai sebab kenapa anak tersebut tidak diinginkan orangtuanya, diantaranya adalah kedua orangtua anak tersebut tidak mampu secara ekonomi, ada juga yang termasuk anak haram yang tidak dikehendaki keluarganya, ada anak korban perkosaan, anak jalanan, dan anak yang dititipkan begitu saja di dukun bayi sehingga kondisi kesehatannya tidak terjaga.

Cerita ini dimulai dari kisah salah satu anak angkat Yuli Badawi yang bernama Azzam. Azzam anak laki-laki yang imut ini diangkat Yuli sebagai anak dari seorang dukun bayi yang ia kenal dengan baik. Sebelum menerima Azzam, Yuli pernah menolak lima kali anak yang ditawarkan untuk dipelihara olehnya. Saat menerima Azzam, suami Yuli Badawi sedang berada di tanah suci menunaikan ibadah haji. Lewat saluran telefon Yuli menghubungi suaminya dan mengizinkan. Keempat anak Yuli juga setuju untuk memelihara Azzam.

Yuli bukanlah orang berada, dia seorang PNS di sebuah SMA dan suaminya seorang pegawai swasta. Namun, tidak hanya berhenti sampai Azzam, hati Yuli semakin tersentuh ketika melihat anak-anak yang terlantar yang tidak dikehendaki oleh orangtuanya, hingga akhirnya memelihara Dimas, baqir, Saina, Putri, Daffa, Fakhrurozi, Ghozi, Naurah, Andika, Santi, Aisyah, Risma, dan masih banyak anak lagi sehingga berjumlah 16 anak.
Dalam buku setebal 421 halaman ini, Yuli bertutur tentang sejarah masing-masing anak yang diangkatnya. Dari sekian anak yang diangkatnya, tidak semua berjalan mulus, ada anak yang diambil kembali oleh orangtuanya, ada juga anak yang dipelihara oleh saudara Yuli sendiri karena ingin memeliharanya.

Tentu saja, kerepotan mengurus rumah tangga 16 anak menjadi seni tersendiri bagi Yuli, ia ceritakan dengan mendetail termasuk bagaimana para khadimah yaitu orang terpercaya yang membantu mengelola rumah tangga. Merekalah pasukan garda depan yang paling bersiaga kalau anak-anak membutuhkan sesuatu, terutama kalau Yuli dan Badawi sedang tidak di rumah. Cerita tentang Khadimah ini ia tulis dalam bab tersendiri, dimana ia menceritakan bahwa mereka ada yang betah ada juga yang tidak mengasuh anak-anak.

Selain itu, ada juga kisah bagaimana mereka pindah rumah dari satu rumah ke rumah lain dari yang kecil hingga besar, serta pertolongan orang-orang dermawan yang dengan senang hati membantu Yuli dan Badawi. Dari mulai sahabat dekatnya, tukang sayur, hingga orang membantu membangun rumahnya. Banyak hikmah yang dapat diambil Yuli ketika ia menceritakan suka dukanya memelihara enam belas anak.

Perkembangan psikologi anak yang ia rawat, juga tergambar jelas dan ia deskripsikan secara gamblang, sehingga bagi orang yang belum mempunyai anak buku ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi agar kita lebih mencintas dan harus ikhlas sepenuh hati. Sebagai orang tua Yuli juga tidak membedakan mana anak angkat dan mana anak kandungnya, sehingga ia dengan hati lapang menerima keberadaan anak yang ia pelihara dengan setulus hati.

Buku ini wajib dibaca oleh para orang tua maupun calon ibu yang ingin mengetahui bagaiamana merawat anak dengan baik dan mencintai anak sebagaimana adanya. Sangat Inspiratif.

Petualangan Sejati, Sejatinya Guru

Posted: September 30, 2013 by Eva in Buku dan Media, Pendidikan

Ini adalah tulisan resensi buku yang aku tulis enam tahun yang lalu, aku belum simpan di blog, baru sempat sekarang aku save semoga bermanfaat

Resensi buku SOKOLA RIMBA,
INSIST PRESS Jogjakarta
Butet Manurung

Sokola-Rimba sampul bukuuku

Petualangan Sejati, Sejatinya Guru

Ibuk, ado akehlah melawon?
Ee..akeh lagi lolo…apolah pintar?
Adoakeh todo lah tokang molajoko kanti?
(Ibu apa aku sudah pintar, ah aku masih bodoh, eh apa sudah pintar? apa aku nanti bisa mengajar orang?

Itu sebagian pertanyaan yang muncul dari bocah-bocah yang hidup di tengah rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, yang ditujukan kepada Butet Manurung. Butet mengalami banyak kesulitan di awal pendekatannya dengan masyarakat adat yang tinggal di TNBD Jambi itu untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Di kalangan masyarakat adat, yang biasa disebut orang rimba, ada pendapat “mending bodoh daripada pinter tetapi buat minterin orang”. Butet disangka akan mengubah adat mereka. Mereka pun sangat marah terhadap Butet. Sempat terucap dari tetua adat, “Jangan usik-usik adat kami!”

Pada akhirnya perempuan bernama Saur Marlina Manurung ini mendapat jalan masuk ke masyarakat rimba. Ketika itu ada dua orang rimba yang datang pada Butet minta diajari baca tulis. Dari dua orang itulah, sistem kader yang diterapkan Butet berhasil. Anak rimba yang minta diajari baca tulis semakin banyak. Hingga pada suatu ketika berdirilah sokola rimba alias sekolah rimba.

Model sekolah alternatif seperti sokola rimba tak cuma ada di Jambi. Butet keluar masuk hutan dan menyambangi beberapa suku terbelakang yang tersebar di berbagai daerah seperti Aceh, Makassar, Bulukumba, Flores,Halmahera, Klaten, dan Bantul.

Kerja keras dan keseriusan Butet memberikan pendidikan kepada komunitas-komunitas terpinggirkan dan terbelakang telah menyita perhatian masyarakat pendidikan. Membaca buku Sokola Rimba (Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba) tak ubahnya menyimak catatan harian Butet Manurung. Larik-larik kalimatnya dituturkan secara sederhana. Tidak menjadikan pembaca merasa seperti diceramahi. Melainkan mengajak imajinasi pembaca terbang ke alam rimba belantara di pedalaman Jambi. Banyak kisah pahit-getir menjelajah hutan dan kehidupannya bersama orang rimba (OR) yang disebutnya amat bersahaja.

Adaepisode-episode yang bisa membuat tertawa geli menyimak kisah-kisah orang rimba yang udik, konyol, dan lugu.Adapula penggalan yang bisa membuat decak kagum saat Butet mengungkap tradisi luhur dan sistem sosial orang rimba.

Pada bagian pertama buku ini, Butet menulis tuntas kisah pribadinya: dari menyusup di antara celah dedaunan belantara, akar bahar raksasa, selapisan tanah yang mengendap selama berabad-abad, dan pohon jangkung sialang (madu) yang disucikan, hingga ketakutannya hidup di tengah dangau sendirian, seperti tercampak di dunia yang gaib, rahasia, dan sekaligus menjadi ruang sengketa terbuka, yang sempat membuatnya menggigil saat gelap menyelimuti malam.
Memang, masih banyak orang yang mau mengajar untuk komunitas terpencil dan terbelakang yang masih tinggal di tengah-tengah hutan. Namun, berbagai rintangan banyak pula yang menyurutkan semangat para guru. Bukan saja karena pola kehidupan mereka masih sangat sederhana sehingga banyak menolak kehadiran orang luar. Tantangan datang dari sulitnyamedan, diperparah lagi risiko yang dihadapi selama berada di tengah hutan, seperti terserang penyakit, dihisap pacet, diterkam harimau dan dipatuk ular.

Menulis, Membaca dan Berhitung
Butet menelusup hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi berawal dari keterlibatannya dalam Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI Warsi), sebuah organisasi yang bergerak sebagai fasilitator pendidikan. Aktivis muda progresif yang mengantongi dua ijazah, Antropologi dan Bahasa ini, tugas awalnya hanya sebagai pemberi informasi kepada orang rimba tentang peran penting mereka untuk menjaga hutan secara umum.

Ia mengawali pendekatannya dengan pendidikan, yang diyakini sebagai awal dari segala perubahan sikap. Butet secara tidak sengaja mengawali petualang hidupnya dengan menjadi salah satu pendiri model sekolah nonformal yang diselenggarakan di rimba.

Setelah sekian lama berinteraksi, Butet sadar bahwa orang-orang rimba hanya butuh sekelumit pengetahuan tentang baca, tulis, dan berhitung untuk berinteraksi dengan orang lain di perkotaan. Mereka tak perlu diceramahi bagaimana menjaga hutan. Mereka tak perlu diajarkan ilmu konservasi yang njlimet hanya untuk memahami kenapa hutan perlu bestari. Butet justru harus bia menggali keunggulan orang rimba dan membantu mereka ketika berhadapan dengan persoalan dengan masyarakat luar.

Pergulatan nurani Butet sangat terlihat saat melihat laporan-laporan dan foto-foto kegiatannya dijadikan kunci mengalirnya dana dari lembaga donor penyokong uang operasional. Butet tersiksa. Nuraninya berontak. Ia keluar dari KKI Warsi. Perempuan yang menghabiskan masa kecilnya diLeuven, Belgia ini memilih mengelola sekolah rimbanya tanpa keterlibatan lembaga manapun.

Namun, jangan membayangkan Sokola Rimba Butet adalah sepetak bangunan bertembok beratap layaknya sekolah. Sokola Butet hanya dangau kecil tak berdinding, tak beratap, agar jika tak dibutuhkan lagi bisa segera ditinggalkan. Sokola rimba adalah sekolah nomaden, justru sekolah yang mendatangi murid.

Maka jika ditanya, di manakah alamat Sokola Rimba itu, maka Butet menjawab enteng: pada koordinat 01′ 05’’1 LS – 102′ 30’’ BT, alias lokasi Taman Nasional Jambi. Letak sekolahnya memang tak pasti desa maupun kecamatan.
Di sekolah, Butet membagikan buku tulis bergaris, pensil, dan pena yang dia punyai. “Murid” yang tidak kebagian disilakan mengambil ranting dan menggarisi tanah. Suatu ketika saat tiba waktu belajar menggambar, seorang murid menangkap seekor kijang kecil. Binatang lucu itu ditidurkan di atas kertas dan mulailah sang murid menggambar ruas-ruas tubuh kijang tersebut.

Sulitnya Menjadi Guru

Di bagian kedua, buku ini menawarkan opini yang lebih non-diari kehidupan orang rimba. Butet menggugat pandangan orang luar (non-rimba) yang menganggap orang rimba butuh belas kasihan, yang justru menjadikan orang rimba makin rendah diri.

Butet juga menentang anggapan bahwa orang rimba terbelakang, tak berbudaya. Pengalamannya tinggal bersama orang rimba mencatat kehidupan mereka mandiri dan ramah lingkungan, selama tak ada gangguan dari orang luar.
Sokola Rimba juga menjadi sekolah nonformal yang menurutnya lebih mengakrabkan masyarakat adat, terpencil dan terasing. Sekolah yang bukan hanya bisa baca-tulis-hitung, namun juga bisa memberikan pilihan-pilihan kepada orang rimba memilih dan sadar akan pilihannya.

Perjuangan tak kenal lelah Butet itu banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Ia menerima banyak penghargaan. Misalnya Man and Biosphere Award 2000 dari LIPI, Woman of the Year bidang pendidikan dari ANTV Jakarta (2004), Heroes of Asia Award kategori konservasi dari Majalah TIME (2004), penghargaan pendidikan untuk anggota masyarakat biasa dari Menteri Pendidikan Nasional, penghargaan perempuan dalam bidang keadilan dari PEKA, dan penghargaan dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (2005).

Kisah Butet bukan hanya catatan tentang etnografi rimba dan upaya dia mendirikan sokola rimba. Melainkan juga kitab kearifan tentang hidup berdampingan dengan manusia-manusia terpinggirkan dan terasing.

*EVA ROHILAH. Dimuat di Majalah Guru. Dirjen PMPTK Depdiknas. Edisi-4 November 2007