Berbagi Keceriaan dengan Mengembangkan Ruang Baca

Posted: June 7, 2014 by Eva in Buku dan Media

Resensi buku Mengembangkan Ruang Baca karya John Wood

Rimanews.com | Rabu, 14 Mei 2014

Mengembangkan Ruang Baca

Mengembangkan Ruang Baca

Keluar dari Microsoft, Membangun Ruang baca Hingga Tercipta 10.000 Perpustakaan di Berbagai Negara.

Ada pepatah yang mengatakan, jika Anda ingin sukses, maka keluarlah dari zona nyaman anda, maka buku yang berjudul Membangun Ruang Baca ini membuktikannya. Bagaimana tidak, saat si penulis John Wood saat itu berusia 35 tahun dan sedang berada di posisi puncak di perusahaan teknologi terkemuka Microsoft untuk cabang Asia, ia meninggalkan segala fasilitas seperti gaji tinggi, tunjangan tempat tinggal dan fasilitas yang diberikan perusahaannya untuk mengabdikan dirinya dalam memulai sebuah organisasi amal yang memperjuangkan literasi global dengan menciptakan perpustakaan bagi sekolah di beberapa negara seperti Nepal, Srilangka, Vietnam, Laos, India, Afrika Selatan, Kamboja, Bangladesh, Zambia, dan Tanzania.

Berawal dari Bahundanda

Buku yang sangat inspiratif ini terdiri dari 25 bab yang merupakan buku kedua John Wood. Buku pertamanya Leaving Microsoft to Change the World juga meraih sukses di pasaran. Buku ini judul aslinya adalah Creating Room to Read. Ketertarikannya terhadap buku tidak lepas dari peranan orangtuanya yang sejak kecil menanamkannya untuk gemar membaca buku, dalam sehari ia bias menghabiskan Sembilan buku di perpustakaan tak jauh dari rumahnya. Kebiasaan itu ia bawa hingga ia beranjak dewasa dan bekerja. Suatu hari, pada saat ia masih bekerja di Microsoft saat libur, ia melakukan perjalanan ke Nepal, tepatnya di perbukitan Annapurna di Himalaya. Di sana ia singgah di sebuah desa bernama Bahundanda.

Saat itu, ia diajak oleh Pasupathi, salah seorang pegawai sumberdaya daerah untuk Departemen Pendidikan Provinsi Lamjung. Pasupathi menjelaskan bahwa di Nepal, kami terlalu miskin untuk membiayai pendidikan, tetapi sampai kami mendapatkan pendidikan, kami akan selalu menjadi miskin. Pernyataan itu menggetarkan Wood sehingga ia tidak habis piker bagaimana ini bisa terjadi.

Pertanyaan itu, ia ajukan kepada Pak Rajeev, kepala sekolah Bahundanda yang telah menunjukkan kepadanya delapan ruang kelas di sekolahnya yang bobrok dan rusak. Dengan limapuluh siswa berdesak-desakan dalam satu ruang kelas kecil. Sekolah itu tidak punya meja, sehingga siswa-siswanya duduk di atas bangku panjang dan menyangga buku tulis di atas lutut. Yang paling mengejutkan Wood, adalah kondisi perpustakaan sekolahnya. Mengingat latar belakang ia sebagai pecinta perpustakaan seumur hidup, ia kegirangan ketika Pak Rajeev mengajaknya ke perpustakaan.

“Namun gambaran ideal yang saya bayangkan tidak bisa lebih keliru lagi. Selain tanda di atas pintu yang bertuliskan PERPUSTAKAAN, tidak ada hal sekecil apapun mengenai ruangan ini yang mencirikan perpustakaan. Tidak ada meja, kursi, penerangan untuk membaca, tidak ada Irak, dan yang paling penting tidak ada buku.

Kegetiran tentang kondisi pendidikan di Nepal inilah yang akhirnya membuat perubahan besar dalam diri Wood dan menjungkirbalikkan kehidupannya. Ia menceritakan hal ini kepada keluarganya dan ia mendapat dukungan besar, ia menggalang dana di berbagai tempat dan mengumpulkan buku dari berbagai penerbit untuk kemudian ia bawa ke Nepal dan terciptalah sebuah organisasi amal Room to Read pada tahun 1999. Ia mengajak Erin Ganju, seorang perempuan yang sebelumnya bekerja di Unilever dan di Nepal ia dibantu oleh Dinesh Shresta.

Pada tahun 2005, Room to Read berkembang pesat dan telah mendirikan ribuan perpustakaan, bahkan tidak hanya perpustakaan yang dikembangkan tapi juga membangun sekolah dan meberikan dukungan jangka panjang bagi anak perempuan untuk melanjutkan pendidikan mereka hingga menamatkan sekolah menengah.

Jatuh Bangun Menggalang Donasi

Kegigihan John Wood dan timnya dalam mengelola Room to Read tidak lepas dari kepintaran Wood dalam melakukan fundrising. Jatuh bangun dalam menggalang donasi ini ia tulis dalam beberapa bab tersendiri. Ia menerima donasi dari hanya beberapa dolar hingga jutaan dolar. Ia menceritakan secara mendetail bagaiamana ia mendapatkan donasi dari beberapa perusahaan besar di Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Belanda, hingga Australia. Bagi anda yang bergerak di LSM yang fokus untuk fundraising strategi Wood dalam buku ini patut anda tiru.

Saat ini dukungan terhadap Room to Read dari berbagai pihak baik personal maupun lembaga diantaranya ada dari Financial Times, The Newyork Times, UNESCO, CBS News, UNESCO, Skoll Foundation, Oprah Winfrey Show, Barron, dan Charity Navigator. Ia juga secara resmi membuat laporan keuangan lembaganya secara berkala di laman resminya dengan penuh tanggung jawab.

Namun, tidak hanya keberhasilannya saja dalam melakukan fundrising yang ia ceritakan pengalaman pahit ketika ia dibohongi oleh seorang pengusaha besar juga ia ceritakan dalam satu bab tersendiri yang ia tidak sebut namanya. Di bagian tengah buku ini juga memuat foto-foto keberhasilannya dalam melakukan fundrising hingga ke menara Burj di Dubai. Ia juga mengutip salah satu ayat Al-qur’an tentang keutamaan membaca.

Secara keseluruhan buku ini sangat inspriatif bagi siapa saja yang mempunyai mimpi ingin mengubah dunia. Saat menulis buku ini ia, ia juga mengunjungi Pulau Bali sebagai salah satu tempat untuk menulis kisahnya ini, dan menyukai makanan pedas pinggir jalan di Indonesia. Tidak ada salahnya, jika ada waktu luang dan mulai bosan dengan zona nyaman anda, bacalah buku ini, dengan buku kita akan membuka cakrawala dunia.

Eva Rohilah
Pecinta Buku, tinggal di Depok

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s