Kerja Keras Tukang Sampah jadi CEO Hyundai Hingga jadi Presiden Korea Selatan

Posted: September 13, 2014 by Eva in Buku dan Media

Resensi Buku
Sampul Buku
Judul : Gerobak Lee Myung Bak
(Kisah Nyata Tukang Sampah Menjadi Presiden)
Penulis : Lee Myung Bak (Mantan Presiden Korea Selatan)
Penerjemah : Lulu Fitri Rahman
Judul Asli : The Uncharted Path
Cetakan : I, Juni 2014
ISBN :978-602-970697
Penerbit : Pustaka Inspira

Kisah nyata perjuangan hidup Lee Myung Bak, Presiden Korea Selatan periode 2008-2013 dikemas secara menarik dalam autobiografi berjudul “The Uncharted Path” yang diterjemahkan dengan baik oleh Penerbit Inspira. Siapa yang menyangka jika sejak kecil Lee Myung Bak hidup sangat miskin dan terbiasa kerja keras membantu orangtuanya dan membiayai sekolahnya sendiri.

Lee Myung Bak

Lee Myung Bak

Lee Myung Bak lahir di Osaka Jepang pada 19 Desember 1941. Buku ini mengawali cerita Lee Myung Bak Saat ia berusia empat tahun dimana ia dan keluarga kembali ke Korea untuk memulai hidup pasca perang. Kala itu pada Agustus 1945, dengan kekalahan Jepang dari tentara sekutu, akhirnya Korea meraih kemenangan setelah 36 tahun dijajah Jepang. Ayahnya Lee Choong-woo seorang buruh kasar di peternakan berasal dari sebuah kota kecil bernama Pohang.

Kenangan yang diingat pada masa kecilnya adalah membantu ibunya berjualan kue bolu kecil yang diisi selai kacang merah di sebuah pasar. Saat itu, usai perang korea yang berakhir pada 1953. Karena orangtuanya miskin dan kondisi pasca perang yang memprihatinkan, keluarga Lee menjadi tunawisma dan tinggal menumpang di rumah pamannya.

Makan Ampas

Usai menumpang di rumah sang paman, Lee Myung Bak sekeluarga akhirnya menetap di sebuah kuil tua yang tidak terpakai. Saking miskinnya setiap hari ia jarang makan nasi. Makanan sehari-harinya adalah ampas yang tersisa setelah membuat minuman keras. Ampas sangat murah dan hanya itu yang sanggup orangtuanya beli. Sebagai anak terkecil Myung Bak bertugas pergi ke tempat pembuatan minuman keras untuk mengambil ampas. Dengan uang sedikit ia hanya mampu membeli setumpuk dengan mutu terburuk.

Saat sekolah dasar, ia juga tidak pernah membawa bekal. Saat anak-anak lain menyantap makan siang ia meneguk air keran sebanyak-banyaknya. Meskipun begitu, Myung Bak tak pernah menganggap kemiskinan sebagai alasan, kemiskinan justru memperkuat semangatnya untuk bangkit.

Ketegaran dan pribadi Myung Bak banyak dibentuk oleh sosok seorang ibu. Ibunya berasal dari keluarga Kristen yang saleh. Seorang perempuan tangguh, cerdas dan bijaksana. Ibunya mengajarkan banyak hal pada Myung Bak agar bekerja tanpa pamrih dan membantu sesama. Setiap pagi Myung Bak dan saudara-saudaranya dibangunkan setiap pukul empat pagi. Usai bangun ibunya menyuruh anak-anaknya membentuk lingkaran untuk mengucapkan doa pagi. Menurut ibunya saat ia mengandung Myung Bak, ia bermimpi ada cahaya bulan bersinar terang hingga menyinari desa tetangga, sehingga ia diberi nama Myung (cemerlang) dan Bak (Menjangkau Luas)

Namun karena kondisi ekonomi, ibunya menyarankan kepada Myung Bak agar tidak usah kuliah, tapi tetap harus bekerja keras. Ibunya lebih mengutamakan pendidikan kedua kakaknya yang belajar di kota. Oleh karena itu pada saat SMA ia mengambil sekolah malam agar di siang harinya bisa membantu ibunya bekerja. Saat itu ia juga memulai usaha sendiri dengan menjual es krim dan gula-gula. Usai SMA, Lee Myung Bak memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan menjadi mahasiswa putus kuliah.

Universitas Korea

Universitas Korea

Dengan kerja keras, ia akhirnya lolos masuk Universitas Korea dan mengambil jurusan bisnis. Untuk membayar uang pendaftaran ia bekerja menjadi tukang angkut sampah di Itaewon. Setiap pagi, ia mengisi gerobak sorong dengan sampah lalu mengangkutnya sejauh beberapa kilometer. Pekerjaan itu ia lakukan hingga duduk di tingkat dua.

Saat mahasiswa sambil bekerja nyaris tanpa ada waktu istirahat, namun hal itu tidak menyurutkan akan ketertarikannya pada dunia aktivis mahasiswa, dengan kerja keras ia terpilih menjadi pemimpin mahasiswa. Bahkan saat banyak demonstrasi melawan pemerintahannya yang berkuasa saat itu Myung Bak akhirnya dipenjara. Saat itulah ibunya sering sakit-sakitan dan usai Myung Bak keluar dari penjara, ibunya pun meninggal. Pesan almarhum ibunya adalah agar Myung Bak agar selalu membela apa yang diyakini, selalu jujur dan jangan pernah takut.

27 Tahun Bekerja Untuk Hyundai

Hyundai Construction

Hyundai Construction

Begitu keluar dari penjara Lee Myung Bak rupanya telah lulus kuliah. Ia pun melamar pekerjaan ke berbagai tempat, sampai akhirnya ia menemukan iklan kecil di sebuah surat kabar tentang sebuah perusahaan bernama Hyundai Construction, perusahaan konstruksi membutuhkan karyawan untuk dipekerjakan di Thailand. Karena pernah dipenjara, proses kerja di Hyundai sempat mengalami kendala, namun akhirnya dapat diatasi. Ia diwawancara langsung oleh pendiri saat itu yaitu Chung Ju-Yung.
Karena terbiasa kerja keras, Lee Myung Bak menorehkan banyak prestasi di Hyndai Construction. Karirnya pun melejit dan perusahaan pun berkembang semakin pesat. Tidak hanya di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Filipina tapi hingga Timur Tengah seperti Irak, bahkan sampai Rusia. Kepercayaan Chung Ju-Yung terhadap dirinya dan perkembangan pesat perusahaan diceritakan dalam beberapa bagian buku ini, termasuk persaingan Hyundai dan Samsung juga dikupas secara menarik.

Chung Ju Yung

Chung Ju Yung

Pada usia 28 tahun ia menikah bertepatan dengan tanggal kelahirannya 19 Desember dengan seorang perempuan bernama Yoon ok. Ia dikaruniai empat orang anak. Namun karena kesibukannya sebagai eksekutif muda, ia bahkan tidak pernah mendampingi keempat anaknya lahir. Bahkan untuk liburan bersama pun sangat jarang ia lakukan. Kesibukannya sangat dipahami oleh Yoon ok. Sehingga kerja kerasnya berhasil. Pada saat usia 35 tahun ia ditunjuk Chung Ju Yung untuk mengemban amanah sebagai CEO Hyundai Construction.

Yoon ok

Yoon ok

Memulai Karir di Dunia Politik

Usai berhenti dari Hyundai, Lee Myung Bak lantas meniti karir di bidang politik, hingga akhirnya terpilih menjadi walikota Seoul. Gebrakannya yang banyak dikenang orang adalah memulihkan Cheonggyecheon. Dengan menata para pedagang di kota itu dan melakukan proyek Big Dig. Jalan-jalan di sekitarnya diperlebar, melakukan perbaikan sistem transportasi umum agar para pengendara mobil pribadi pindah menggunakan transportasi umum. Dengan dibantu teknologi Canggih kemacetan bisa diawasi begitu juga dengan adanya kereta bawah tanah dan penghancuran jalan tol.

Proyek Restorasi

Proyek Restorasi

Seperti yang dijanjikan, Sungai Cheonggyecheon pulih dalam dua tahun. Untuk pertamakalinya setelah berpuluh-puluh tahun warga dapat menikmati udara segar dan air yang bersih di jantung kota Seoul. Para pekerja kantor mulai bepergian dengan berjalan kaki dan di akhir pekan orang-orang datang bersama keluarga dan teman-teman mereka di taman terbuka. Seoul pun dikenal sebagai kota hijau. Sistem perbaikan transportasi seperti penataan bus dan lain-lain menjadi contoh beberapa negara seperti Vietnam dan China, Turki, Jepang, Taiwan hingga Indonesia. Lee Myung Bak pun mendapat sorotan dari berbagai media atas proyek restorasi yang dibangunnya. Ia pun mendapat penghargaan dari majalah TIME sebagai Pahlawan Lingkungan.

Sungai Cheonggyecheon di malam hari

Sungai Cheonggyecheon di malam hari

Ketertarikannya pada pembangunan yang berkelanjutan dan lingkungan membuat ia lebih banyak lagi belajar seusai menjadi walikota Seoul. Ia mengunjungi beberapa negara maju seperti Belanda, Jerman, Jepang, India dan Uni Emirat Arab. Ia mencari tahu apa yang dilakukan oleh orang lain untuk bertahan menghadapi abad ke-21.

Tanggal 19 Desember 2007, Lee Myung Bak mendapatkan kesempatan lain untuk melayani negaranya. Ia terpilih sebagai Presiden Republik Korea yang ke-17. ”Tanggal 19 Desember Kebetulan hari ulang tahunku sekaligus tanggal pernikahanku. Hari itu begitu istimewa dengan banyak perayaan. Jika ada yang bertanya apa yang kurayakan pada hari itu? Ulang tahun – hari pernikahan, atau hari terpilih sebagai Presiden- aku menjawab bahwa dalam suatu cara semuanya berhubungan: Aku merayakan kehidupanku, pernikahanku, serta kesempatan yang diberikan untuk melayani negaraku,” tulis Lee Myung Bak pada halaman 399.

Mendapat Penghargaan dari Majalah Time, Sebagai Pahlawan Lingkungan

Mendapat Penghargaan dari Majalah Time, Sebagai Pahlawan Lingkungan

Buku ini luar biasa, sangat inspiratif. Penyampaiannya sederhana dan mudah dicerna. Buku ini membuat kita yakin bahwa siapapun yang mau berjuang pasti bisa meraih mimpi. Layak dipaca oleh para pelaku bisnis, politisi atau siapa saja yang ingin mewujudkan mimpinya.

Eva Rohilah
Penulis adalah Pecinta Buku tinggal di Depok

Advertisements
Comments
  1. Wildan says:

    kirim satu ke jalan plaosan barat 48 kota Malang te 😀 😀

  2. Rahmanputera says:

    Dear Eva Rohilah…

    Cerita yang bagus dan sangat memotivasi para peraih mimpi dan pejuang sebagai seorang pengusaha.

    semoga selalu ada buku buku lain atau lanjutan cerita ini yang boleh di berikan sebagai santapan bacaan dini hari.

    sekian, terima kasih
    Rahmanputera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s