Raden Saleh Inspirasi Cinta Satwa

Posted: September 20, 2014 by Eva in Lingkungan

Hubungan manusia dengan satwa seringkali menjadi kisah yang menarik untuk ditelisik. Sejarah Taman Margasatwa Ragunan yangii pada awalnya merupakan koleksi hewan milik Raden Saleh saat masih di Taman Margasatwa Cikini dan inspirasi kecintaannya terhadap satwa dibahas tuntas dalam diskusi rutin Sahabat Ragunan yang bertajuk “Raden Saleh Pelopor Taman Margasatwa” di Teater Schmutzer Taman Margasatwa Ragunan pada 19 Agustus 2014.

Hadir sebagai narasumber adalah Dayan D.Layuk Allo alumni Institut Teknologi Bandung yang merupakan pemerhati sejarah Raden Saleh dengan moderator Eka Budianta dari Sahabat Ragunan. Acara yang berlangsung mulai pukul sepuluh pagi ini diawali dengan pemutaran dua buah film yang dibawa oleh Hermawan Rianto berjudul Kearifan Budaya Indonesia dan “Incredible Journey.”

Pembicara Diskusi Rutin sahabat Ragunan

Moderator dan Pembicara Diskusi Rutin sahabat Ragunan

Sebagai pembuka, moderator Eka Budianta menjelaskan sekilas tentang sejarah Raden Saleh. Perjalanan Hidup Raden Saleh yang memiliki banyak jasa dalam berbagai bidang baik saat masih di Semarang hingga kepergiannya ke Eropa, lalu menetap di Bogor dijelaskan secara singkat. Beberapa peran Raden Saleh dan karya-karya juga dijelaskan Eka Budianta yang sangat berguna bagi peserta diskusi sebagai pengantar.

Setelah pemaparan dari moderator, sampailah pada acara inti yaitu penyampaian materi tentang Raden Saleh sebagai pelopor taman margasatwa oleh Dayan D Layuk Allo. Dayan membuka diskusi dengan menjelaskan tentang kehidupan pribadi Raden Saleh yang memiliki nama asli Syarief Bustaman memiliki tanah yang luas, hal ini tidak lepas dari peranan istrinya Constancia Winckelhaagen seorang janda kaya.

Peserta Diskusi semangat

Peserta Diskusi semangat

Di lahan yang luas di Batavia, Pada tahun 1858 Raden Saleh dan istrinya sudah memiliki puri yang sangat megah. Di samping puri itu ada lahan 10 hektar untuk kebun raya dan koleksi satwa yang pada tahun 1864 Planten en Dierentuin.

Itulah yang kelak menjadi Keboen Binatang Tjikini mulai 1949 hingga 1964. Setelah satwa dipindah ke Ragunan, kebun itu dibangun menjadi Taman Ismail Marzuki.
Dalam slidenya Dayan sangat rinci menggambarkan tentang posisi lahan milik Raden Saleh serta kemegahan puri yang sangat indah dengan aliran sungai ciliwung yang melewatinya.

Dayan mengatakan, inspirasi puri itu didapat ketika mukim di Eropa, antara 1829 hingga 1852, serta kunjungan berikutnya di tahun 1878. Setiap istana selalu dibangun di tepi sungai yang indah.

Dalam sejarahnya sebagai maestro pelukis, menurut Dayan, Raden Saleh memiliki beberapa mentor yaitu Prof. C.G.C. Reinwardt dan A.A.J.Payen sebagai mentor dan sahabat. Pada tahun 1844 Raden Saleh melakukan perjalanan ke Dresden Jerman dimana kunjungan tersebut menjadi sumber inspirasi kemanusiaannya. Disana ia bertemu dengan F.Serre dan istrinya. Kedua orang itu memiliki peran yang sangat besar selama Raden Saleh di Jerman. Disana ia membuat mesjid biru yang aksen kacanya sangat bagus dan ia gambar dan ketika kembali ke Indonesia ia membuat aksen kaca serupa di kediamannya.

Raden Saleh juga terinspirasi oleh para inspirator dunia seperti H.C.Andersen Ernst II, Adipati Sachsen-Coburg dan Gotha, selain itu para sahabat: pelukis, pematung, ilmuwan,komposer, penulis, filsuf, ekolog,dan lain-lain.

Setelah ke Jerman, Raden Saleh juga mengunjungi Paris Prancis yang dikatakan Dayan sebagai sumber inspirasi hiruk pikuk seni. Disana, Raden Saleh bertemu dengan Henri Martin seorang pengusaha sirkus yang punya tiga ekor singa. Berhari-hari Raden Saleh menekuni anatomi singa itu sebagai lukisannya. Raden Saleh bahkan rela melukis wajah Henri Martin secara gratis agar ia diijinkan menjadikan harimau-harimau milik Henri Martin itu menjadi obyek lukisnya.

Dayan menunjukkan kecintaan Raden Saleh pada satwa melelui lukisan seekor kuda mati dan wajah sangat sedih dari pemiliknya. Sebuah lukisan lagi, tentang seorang budak bernama Androkles, yang mencabuti duri dari kaki singa. Lukisan itu menjadi logo sebuah majalah filantropi yang terbit di Jerman pada 1844.
Di Paris Raden Saleh membeli sebuah rumah tidak jauh dari pusat kota untuk melukis dan menyimpan koleksi lukisannya. Selain Paris, Raden Saleh juga mengunjungi London zoo, dalam tayangan slide, tampak lukisan Raden Saleh tentang Harimau dan London zoo terlihat sangat indah dan mempesona.

Raden Saleh Syarif Bustaman

Raden Saleh Syarif Bustaman

Sekembali ke Tanah Air, Raden Saleh banyak membantu museum pusat dan mendirikan kebun binatang di cikini yang kini berkembang menjadi Taman Margasatwa Ragunan. Selain itu ia juga membuat taman di Semarang dan merancang kebun kabupaten Majalengka.

Dayan mengakhiri pemaparannya tentang inspirasi Raden Saleh dalam melukis adalah inspirasi cinta. Setelah Raden Saleh menikah lagi dengan Raden Ayu Danudirjo, putri dari ajudan Pangeran Diponegoro. Raden Saleh meninggal pada 23 April 1880 di Bogor. Saat pemakamannya diiringi oleh 2000 orang penduduk dari berbagai ras dan golongan.

Pada akhir acara, Sahabat Ragunan menghadirkan pematung lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, Drs. Dunadi yang akan membuat patung Raden Saleh di Taman Margasatwa Ragunan. Dia menjelaskan tahapan pembuatan patung yang saat ini sudah sampai pengecoran. Sebelum acara ditutup moderator membuka forum tanya jawab dan acara ditutup dengan makan siang.

buklet

booklet

 

 

 

 

 

 

 


Tulisan ini dimuat di Booklet Sahabat Ragunan yang dibagikan pada Peringatan Ulang Tahun 150 Tahun TM Ragunan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s