Archive for May, 2015

Merangkai Makna di Usia 36

Posted: May 3, 2015 by Eva in Inspirasi, Jalan-jalan, Pribadi

Pada ulang tahunku yang ke-36, 2 Mei 2015 kemarin. Aku tidak merayakan makan-makan dengan suami aku seperti tahun-tahun sebelumnya. Kebetulan tahun ini aku merayakannya di Indramayu, berkenaan dengan tugasku yang sedang melakukan riset tentang perikanan tangkap dan Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra. Sungguh istimewa aku memaknai ulangtahunku kali ini karena banyak rencana kedepan yang akan aku laksanakan bersama mas Arif.

Seminggu ini aku melakukan riset untuk penulisan buku tentang koperasi di Pantai Karangsong Indramayu. Sejak hari Rabu, aku udah berkunjung ke muara dan tempat pelelangan ikan Karangsong.

Aku Lagi Kerja di pesisir Pantai Karangsong

Aku Lagi Kerja di pesisir Pantai Karangsong

.

Potensi ikan di TPI Karangsong memang luar biasa, bertonton dengan aneka jenis ikan seperti tongkol, tenggiri, kakap merah, ikan cunang, ikan manyung, ikan patin, ikan kembung dan lain-lain. Omzet perhari bisa sampai 1 milyar lebih.

aku diatas kapal yang baru turun dari berlayar

aku diatas kapal yang baru turun dari berlayar

Hari Jumat, tepatnya 1 Mei 2015 aku jalan-jalan ke Pasar Mambo dan pendopo Kabupaten Indramayu sama pak Mamat, Sopir KPL Mina Sumitra, kota Indramayu memang tidak begitu besar, jadi kita mengitarinya cepat saja, keliling sebentar sebelum jadwal wawancara.

di Pasar Mambo

di Pasar Mambo

Setalah ke Pasar Mambo, saya mampir di Pendopo Kabupaten Indramayu, lumayan bagus pendoponya dan saya sempat berfoto-foto di sana.

Di Depan Pendopo Kab.Indramayu

Di Depan Pendopo Kab.Indramayu

Pada hari sabtunya 2 Mei 2015, aku kembali ke TPI Karangsong untuk kemudian wawancara di Koperasi KPL Mina Sumitra, di hari ulang tahunku ini aku pagi2 di telfon mas Arif saat itu aku di pusat perbekalan, mendapat ucapan selamat dari Veni dan Mbak Ika. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku gak mau terekspose dengan facebook atau twitter ttg hari lahirku, cukup orang-orang terdekatku aja yang tahu bagiku udah sudah cukup. Menjelang makan siang aku disuguhi makanan khas Indramayu Gombyang Pindang Ikan Manyung.

Gombyang Kepala Ikan Manyung

Gombyang Kepala Ikan Manyung

Usai wawancara, aku pulang ke D’ Nisa Guest House di Pasar Baru deket Sport Centre. Selama 5 hari menginap di sini cukup nyaman, tempat tidurnya enak dan pegawainya juga ramah-ramah. Kamar mandinya juga bersih.

di penginapan D'Nisa Indramayu

di penginapan D’Nisa Indramayu

Sore aku istirahat dan mencoba merangkum apa saja yang bisa aku tulis seharian di Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra. Habis Ashar, Eka atau Farikhatul Udkhiyah temenku waktu SMP di Sunan Pandanaran Telepon dan mengabari kalau dia mau mengajak aku jalan-jalan keliling Indramayu. Dia datang habis Isya bersama suami dan anaknya, akhirnya kita keliling Indramayu dan makan di Sport Centre. Alhamdulilah aku seneng dapat berbagi cerita dan sampai akhirnya aku pulang ke Guest House lagi hari sudah malam.

Bersama Eka, temen di SMPN 30 Sardonoharjo Jogja

Bersama Eka, temen di SMPN 30 Sardonoharjo Jogja

Aku bersyukur di hari ulangtahunku yang ke-36 ini terasa penuh makna. Setiap langkah dan usaha aku yakin bahwa harus hidup ikhlas dan konsisten dalam bekerja. Agar di hari-hari ulangtahunku di masa yang akan datang, akan lebih bermakna. Terimakasih aku ucapkan buat teman-teman dekat, keluarga dan terutama suamiku yang selalu support aku dalam kondisi apapun.

Terkadang aku masih serasa bermimpi jika Apa, ayah yang kucintai meninggalkan aku untuk selamanya. Ada rasa rindu dan haru di relung hatiku yang paling dalam mengingat kenanganku bersama beliau sepanjang usiaku. Yang selalu kuingat ayahku adalah seorang imam mesjid dan peternak ikan yang gigih. Kedisiplinannya melaksanakan sholat lima waktu secara berjamaah belum ada satupun yang mengalahkannya. Sebagai imam masjid dan Khatib Sholat Jumat, kehidupan ayahku sepenuhnya diabdikan untuk agama yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Apa sedang menulis Khutbah

Apa sedang menulis Khutbah

Nama lengkap ayahku Mualim Udin Jaenudin, lahir pada tanggal 3 Maret 1933, usianya saat meninggal 82 tahun. Usia panjang yang telah dia habiskan dengan penuh makna dengan membesarkan kesembilan anaknya. Sebagai anak bungsu, aku hanya sebentar mengalami kebersamaan bersama Apa yaitu waktu Sekolah Dasar. Setelah SMP hingga kuliah, aku lama di Jogja bersama kakakku dan jarang ketemu Apa. Tapi kenanganku yang sebentar sangat berkesan, menurut aq ayahku adalah orang yang paling sufi, nyaris tidak mempedulikan kehidupan duniawi, kesibukan sehari-hari adalah ibadah dan membaca Qur’an. Rutinitas sehari-hari selain ke mesjid adalah ngurus kolam ikan, bila menjelang idul fitri tiba di kampungku belum ada satupun yang berani mengganti imam shalat Iedul fitri, sepanjang usiaku Apa selalu menjadi imam besar Shalat Iedul fitri dan antrian orang yang ingin kambing atau sapi kurbannya di sembelih pada lebaran Iedul Adha.

Apa dan Keluarga di Makam Emak

Apa dan Keluarga di Makam Emak

Apa adalah orang yang ikhlas luar biasa. Setelah ditinggal oleh ibuku (Emak Halimah) 30 tahun yang lalu, dia seorang sosok yang mandiri, dia selalu mencuci dan menyetrika bajunya sendiri, setrikaan yang dikerjakan pun sangat rapi dan setrikaan anak-anaknya gak pernah kepake. Ditinggal jauh oleh anak-anaknya merantau ke Jogja dia tidak pernah mengeluh dan terus berusaha. Selama ini ayahku juga jarang sakit, meskipun dia pernah dirawat beberapa tahun yang lalu karena pusing berputar. Ayahku juga seorang perokok berat, dan pernah dirontgen kalau paru-parunya udah kotor oleh asap rokok, tapi ayahku gak pernah mau berhenti merokok.

Ayahku masih sehat, ketika pernikahan Novi

Ayahku masih sehat, ketika pernikahan Novi

Gigi ayahku sudah habis dan semuanya sudah ganti gigi palsu. Ayahku juga kalau makan gak mau yang asal-asalan, dia maunya makan enak kayak daging dan ikan. Kami sebagai anak-anaknya berusaha memenuhinya. Aku menyadari betul setelah aku menikah aku jarang pulang ke Sukabumi, itulah yang aku sesali sekarang. Aku pulang kadang sebulan sekali, setelah Apa meninggal aku berasa sangat menyesal kenapa aku gak sering pulang dan lebih banyak memperhatikan Apa.

Aku menengok Apa sebulan Sekali ke Sukabumi

Aku menengok Apa sebulan Sekali ke Sukabumi

Sekitar tahun 2013, apa mengeluh karena tidak bisa baca Alqur’an. Rupanya apa kena Katarak. Kami anak-anaknya menabung bersama untuk melakukan operasi katarak agar Apa dia bisa membaca Al-Qur’an. Karena setiap habis sholat dan Bulan Puasa ayahku tidak bisa lepas dari Al-Qu’an, kalau Ramadhan dia seminggu sekali Khatam Alqur’an. Setelah uang terkumpul, Apa malah tidak mau operasi katarak karena takut sakit dan sayang uangnya, tentu kami anak-anaknya kecewa, tapi itu pilihannya sehingga operasi katarakpun gagal digelar. Tidak lama setelah tidak jadi operasi, aku ditelfon kakaku di Sukabumi, bahwa Apa sakit lagi.

Setelah sakit Apa semakin terpuruk dan kelihatan tak berdaya. Dia sering mengeluh sakit kepala yang tidak tertahankan. Aku pun mulai lebih sering pulang ke Sukabumi dan prihatin dengan kondisi apa. Setelah hampir setahun kena cacar air di bagian mata ayahku dirawat sama kakak-kakakku di Sukabumi. Rupanya sakit yang dulu kena syaraf dan akibatnya apa sudah menjadi pelupa. Setelah melewati rawat jalan, berangsur-angsur apa mulai pulih dan keliatan kembali sehat.

Apa setelah sembuh dari Herpes Zoster

Apa sembuh sakit

.

Karena sering sakit-sakitan dan usia mulai senja Apa sering terbaring di tempat tidur dan hanya bisa pasrah. Tidak bisa ke mesjid dan tidak bisa membaca Al-Qur’an. Kami anak-anaknya pun merasa sedih melihat kondisi ini. Saya pun berusaha membesarkan hatinya dan berniat membuat kartu BPJS buat jaga-jaga.

Foto terakhir untuk BPJS

Foto terakhir untuk BPJS

Enam bulan berselang sejak kesembuhan dari ayahku sesak napas dan gak bisa makan. Kami sekeluarga kumpul dan bermusyawarah bagaimana baiknya demi kesembuhan apa. Ternyata setelah diperiksa dokter di RS Kartika Sukabumi, Apa mengalami pembengkakan jantung dan lambung, juga paru-paru,  akhirnya dirawatlah di RS Kartika selama dua hari. Tidak lama setelah dirawat, kurang lebih satu bulan, Apa meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Aku ditelfon kakakku jam setengah 3 malam dan langsung ke Sukabumi sama mas Arif, sampai rumah, Apa sudah dikafani dan dibacain yasin sama sanak keluarga. Apa meninggal pada 25 Januari 2015.

Di Pusara Ayahku

Di Pusara Ayahku

Selama tujuh hari, kami melaksanakan Tahlil dan Yasiin. Kesembilan anak berkumpul kecuali Teh Idah, kami semua berduka dan merasa sangat kehilangan.

Apa dan Emak

Apa dan Emak

Dengan meninggalnya Apa, kami sembilan bersaudara sudah tidak punya lagi ayah dan ibu.

kami yang berduka

kami yang berduka

Pada awal Maret, kami menggelar acara 40 hari di Mesjid Assyarifiyah Bantarkaret Sukabumi Jawa barat di tempat ayahku menjadi imam masjid dan mengaji. Alhamdulilah yang datang banyak, kami mencetak Yaasin dan bagikan paket makanan, diiringi ceramah. Kami pun berdoa semoga amal ibadah Apa diterima Allah SWT. Tiga hal yang saya ingat dari almarhum adalah Hidup itu harus Ikhlas, banyak beribadah dan jangan lupa mengaji. Selamat jalan Apa…Kami anak-anakmu, menantu, cucu dan cicit sangat mencintaimu.

Peringatan 40 hari

Peringatan 40 hari