Archive for September 16, 2016

Judul : Inilah Saatnya Bisnis Kafe Anak Muda
Penulis : Ajeng Wind dan Sabirin Wardhana
Penerbit: Grasindo
ISBN : 9786023752447

sampul-saatnya-berbisnis-kafe

sampul-saatnya-berbisnis-kafe

Investasi menjadi sebuah kata yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan anak muda. Jika dulu seseorang berpikir untuk berbisnis ketika memasuki usia dewasa, saat ini keinginan berbisnis sudah muncul pada remaja-remaja unyu. Investasi merupakan salah satu contoh terjun ke dunia bisnis dengan keuntungan yang cukup menggiurkan. Siapapun bisa berhasil di bisnis ini asalkan tahu caranya. Investasi di bidang kafe ini sangat menggoda karena tren anak sekarang yang suku dengan wifi gratisan dan mengadakan kumpul atau nongkrong bareng. Buku yang ditulis full color ini sangat menarik perhatian karena berisi cara membuat kafe dengan praktis.

Tradisi adanya kafe berasal dari negara-negara Asia, terutama Timur Tengah. Dalam sejarah tercatat bahwa di Mekkah sekitar abad ke-16 banyak berdiri kafe yang digunakan untuk minum kopi dan membicarakan banyak hal termasuk politik negeri tersebut. Tahun 1530, kafe pertama didirikan di Damaskus. Setelah itu menjamurlah kafe di negeri Nabi Musa tersebut. pada 1600-an kafe masuk Istanbul Turki yang pada saat itu memiliki Konstantinopel sebagai gerbang perdagangan dengan dunia barat.

Setelah menguak sejarah, buku yang terdiri dari dua belas bab ini menjelaskan secara terperinci tentang konsep kafe yang akan dikelola. Dari mulai modal bangunan, menu, sampai konsep untung rugi. semua dikupas tuntas. Ada bab tersendiri tentang bagaimana cara menemukan konsep yang unik dan jitu, persiapan memulai usaha, hingga jangan pusing dengan mikir modal.

Membaca buku ini saya jadi ingat dua kafe yang konsepnya saya suka, Kafe Filosopi Kopi di daerah Blok M dan satu lagi tempat nongkrong di Walnut Cafe Sarinah. Dua-duanya asyik dan betah berlama-lama disana. Kumpul teman maupun bersenda gurau.

Kembali ke buku ini, yang menarik adalah ada hitung-hitungan dalam menentukan harga jual minuman atau makanan di kafe. Pada bab Tips menentukan harga jual, disini ditegaskan bahwa ada tips tertentu yaitu laba minimal dua kali lipat harga pokok, jika lebih maka makin benefit. Hitung-hitungan diulas secara lengkap dari halaman 170 sampai 220. Di jamin setelah membaca buku ini anda bisa memperkirakan berapa modal yang harus dikeluarkan untuk membuka sebuah kafe.
Pada akhir tulisan, penulis memberi gambaran kepada pembaca agar jangan ragu untuk membuka usaha kafe. Dia memberi beberapa tips diantaranya bisnis harus terukur, unik dan menarik, berbisnislah dari sekarang, Jadikan hobimu menjadi bisnismu, lakukan dengan senang, modal semangat sangat penting, buktikan kecintaanmu dan stay fokus, serta yakinlah dapat mencapai target.

Jika anda ingin memulai bisnis kafe, buku ini wajib anda pegang buat referensi agar lebih siap membangun usaha yang menjadi passion kita. Selamat mencoba.

Eva Rohilah
Writerpreneur, pengamat buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Advertisements

Resensi Buku
Judul : Menemukan Indonesia
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Editor : Eka Saputra dan Nurjannah Intan
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Maret 2016
ISBN : 978-602-291-143-2
Harga: Rp.69.000

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Barangkali diantara kita pernah melakukan perjalanan ke beberapa negara di luar negeri dan menemukan ciri khas negara itu dari mulai tempat wisatanya, tata kotanya bersih atau tidak, penginapan yang nyaman dan murah, akses transportasi yang layak dan tentu saja ciri khas kuliner kota di negara tersebut. Namun ketika kita menemukan hal-hal baru di negara tersebut, ada sekeping hati yang yang merindukan suasana tanah air kita Indonesia tentang segala sesuatunya yang sulit kita temukan di negeri orang.

Dari Kota terbersih Sampai Kota Terjorok

Buku yang merupakan kisah perjalanan Pandji Pragiwaksono keliling dunia melakukan Stand up komedi “Mesake Bangsaku World Tour” (MBWT) ini sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis dengan bahasa yang ringan dan kocak seperti kita lihat Pandji berstand-up komedi yang sering kita lihat di TV atau Youtube. Bedanya ini dalam bentuk buku. Negara yang dikunjungi Pandji mulai April 2014 sampai April 2015 yaitu Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Goldcoast, Hongkong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Fransisco.
Pandji memang tokoh anak muda yang luar biasa, berkat kepintarannya dia berhasil melakukan perjalanan ke 25 kota dan 10 negara untuk melakukan stand up komedi MBWT dan bertemu warga Indonesia di luar negeri yang rindu akan Indonesia, untuk melakukannya tentu butuh biaya besar, tapi berkat sponsor Garuda Indonesia, Telkomsel dan Bank Mandiri semua mimpi Pandji terlaksana meskipun di beberapa kota tertentu harus menginap bukan di hotel tapi di kedutaan dan apartemen milik orang Indonesia.

Membawa tujuh orang rombongan tentu bukan hal yang mudah, tapi rombongan Pandji kompak dalam melaksanakan misi besarnya yaitu menghibur rakyat Indonesia di luar negeri. Nah di sela-sela kunjungan tersebut ada banyak cerita yang kocak dan konyol dikisahkan Pandji yang membuat anda tertawa ngakak.

Misalnya tentang kebiasaan buang air besar di beberapa negara yang tidak menyediakan air untuk membersihkannya dan harus pake tissu toilet, hampir di semua negara dan ini tentu saja sangat menggelikan, meskipun ada di beberapa negara seperti Berlin yg menyediakan air, dan untuk megantisipasinya Pandji menyarankan untuk selalu membawa botol Aqua kosong ukuran dua liter agar memudahkannya.
Permasalahan toilet ini penting dan justru di bahas Pandji di awal buku, dia melihat kebersihan suatu negara bisa dilihat dari kebersihan toiletnya. Dari beberapa negara yang dikunjunginya dia berkesimpulan bahwa kota terjorok adalah kota Guangzhouw China dan Kota terbersih adalah kota Tokyo Jepang.

Tentu ini sangat beralasan, Ghuang Zhow misalnya saat di Hotel Pandji menemukan kamar mandi laki dan perempuan tidak dipisah tapi di campur, di dalam toilet juga kotor dan jorok, padahal itu toilet hotel gmn toilet umum ya, bahkan di jalanan pun di trotoar dia menemukan kotoran manusia, ini sangat menjijikkan, berbeda dgn Jepang yang sangat mengutamakan kebersihan, toilet umum di Jepang sudah sangat modern bahkan banyak tombol yang sulit dimengerti, namun demikian betah berlama-lama karena nyaman dan wangi.

Kuliner, Penginapan murah, Kenyamanan Transportasi

Pandji sangat terperinci dan menjelaskan detail kota yang dikunjunginya, kelebihan dan kelemahan setiap kota diungkap secara gamblang. Contohnya kuliner enak di setiap kota seperti sea food enak di Sidney, keju dan roti yang enak dan murah di Amsterdam, kuliner enak di Hongkong dan beberapa makanan khas Indonesia di Amsterdam, Berlin, Camden Lock, word culinery di London, dan negara lainnya yang bisa menjadi rujukan anda jika berkunjung ke luar negeri.

Oh ya selain tempat kuliner, tempat belanja favorit dan toko mainan serta toko musik juga ada beberapa yang dikupas di buku ini.

Jika Singapura tempat menginapnya mahal anda akan diberi tahu di mana menginap yang murah, begitu juga di tempat lain anda akan terkaget kaget dengan mahalnya penginapan di Eropa sehingga anda harus menyiapkan uang lebih.

Juga alternatif penginapan murah lainnya. Satu hal yang juga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi saya selama ini adalah penggunaan transportasi massal di luar negeri, hampir di setiap kota dia menceritakan kenyamanan transportasi seperti trem di london, kereta cepat di Jepang dan China, bis bis yang nyaman di kota Meulbourne yang sejuk dan menjadi kota ternyaman di dunia, Tube di London, dan juga kegalakan dan mahalnya sopir taxi di Sydney Australia.

Indonesia, Rich country Poor Management

Dari beberapa negara yang dikunjungi, seringkali Pandji bertemu orang bule dan menanyakan tentang kesannya terhadap Indonesia, dan Pandji menemukan jawabanya dari orang Spanyol yang mengatakan bahwa

“Indonesia is the Rich Country, Poor Management” dan Pandji mengakui memang benar Indonesia, Indonesia negara kaya tapi miskin manajemen pengelolaan.

Meskipun demikian, setelah mengunjungi beberapa kota dan negara di atas, Pandji menemukan kebebasan dan kebahagiaan tiada tara di Indonesia dibandingkan di negara lain. Dua rasa itu Bebas dan Bahagia tidak ditemukan Pandji di negara lain, makanya nasionalisme Pandji teruji dalam hal kecintaannya terhadap Indonesia.

Menurut Pandji Indonesia harus belajar banyak dari kota London dalam menjaga keragaman. Di London warga dunia dari berbagai negara hidup damai dan teratur.

Ada satu kalimat Pandji yang saya garis bawahi dalam buku ini yaitu pendapatnya tentang keragaman, Hasil studi Wayra di Inggris tentang riset keragaman. Riset atas 240 perusahaan start-up di London, menyatakan 82,5 persen responden setuju bahwa keragaman membawa pemikiran baru dan menumbuhkan kultur inovasi. Sebanyak 97,1 % menyatakan bersedia bekerjasama dalam tim yang beragam. Jadi bukan hanya warga London itu yang beragam tapi juga bersedia bekerjasama dalam perbedaan.

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

“Kita sering disuapi jargon Bhinneka Tunggal Ika, tapi pada kenyataannya kita belum benar-benar bisa bekerjasama dalam perbedaan. Bahkan belum bisa menghargai perbedaan apalagi perbedaan pendapat,” (halaman 143).

Saya senang dengan kutipan ini dan menjadi bahan perenungan dalam setiap pergaulan kita di era media sosial sekarang ini.
Rencana “Menemukan Indonesia” ini juga ada dalam bentuk film yang akan diputar pada 30 Maret 2016 mendatang, sebenarnya saya masih ingin menceritakan banyak tentang isi buku ini tapi akan sangat panjang, dan saya sarankan untuk mengetahui lebih banyak tentang kisah Pandji dan buku ini, saya rekomendasikan Anda untuk membacanya.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Resensi Buku
Judul : Koperasi Nelayan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tangkap Berbasis Ekonomi Gotong Royong
Penulis : Ono Surono, ST
Editor : Eva Rohilah
Penyelaras
Bahasa : Ahmad Mustofa
Penerbit: RM Books Jakarta
Cetakan : I, Desember 2015
ISBN : 9786027936447
Harga : Rp.70.000

Sampull buku Koperasi Nelayan

Sampull buku Koperasi Nelayan

Kebijakan pembangunan di sektor kelautan dan perikanan selama ini dapat dikatakan belum berhasil menyelesaikan permasalahan kemiskinan nelayan secara mendasar. Modernisasi perikanan belum mampu menghapus kemiskinan di masyarakat nelayan pembudi daya ikan dan petambak garam. Selain itu, faktor keamanan di laut masih kurang terlindungi. Baru di era pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla inilah perhatian terhadap pemberdayaan sektor kelautan ini dibenahi seperti masalah pemberantasan Illegal Fishing yang gencar pemerintah. Kondisi yang merugikan karena illegal fishing ini perlu diperbaiki di samping melakukan sejumlah langkah lain agar potensi maritim Indonesia bisa dikelola dengan baik sekaligus memberikan kontribusi yang besar pada peningkatan kesejahteraan nelayan.

Namun, pemberantasan illegal fishing saja tidak cukup, masih banyak permasalahan yang melilit masyarakat nelayan Indonesia seperti demografi masyarakat pesisisir, minimnya teknologi penangkapan ikan, masalah keamanan nelayan, isu perbatasan antarnegara, dan buruknya manajemen pengelolaan nelayan. Beberapa permasalahan mendasar yang dialami nelayan dikupas secara tuntas dan jelas dalam buku ini agar masyarakat dan pemerintah tahu bahwa persoalan nelayan bukanlah persoalan yang sederhana, tapi sangatlah kompleks. sehingga perlu langkah besar untuk menerobos kemandegan dalam pengelolaan nelayan.

Dalam kata pengantar buku ini yang ditulis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, yang mengatakan bahwa Kedaulatan diartikan sebagai kemandirian dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan dengan memperkuat kemampuan nasional untuk melakukan penegakan hukum demi mewujudkan kedaulatan secara ekonomi. Keberlanjutan dimaksudkan untuk pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan secara lestari sehingga dapat memperkuat daya saing bagi pencapaian kemajuan dan kemandirian bangsa di masa mendatang. Kesejahteraan dicapai melalui pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar, meningkatkan pendapatan dan pemerataan pendapatan, sehingga akan meningkatkan taraf hidup dan ketentraman masyarakat kelautan dan perikanan.

Oleh karena itu menurut Susi , dia menyambut baik penerbitan buku ini karena menyangkut pentingnya pelembagaan nelayan seperti koperasi. Hal ini sejalan dengan visi kementerian yang ketiga yaitu kesejahteraan. Kesejahteraan menjadi tujuan bersama serta menjadi salah satu program KKP. Jika nelayan berkoperasi maka kondisi perekonomiannya akan semakin meningkat dan nelayan lebih sejahtera. Saya harap Koperasi Nelayan menjadi distributor produk perikanan nelayan dan juga bisa menjadi ujung tombak pemasaran dari hasil perikanan tangkap.

Susi mengatakan bahwa ia besar di Pangandaran di bidang usaha perikanan. Dia melihat koperasi di Pangandaran sangat baik, seperti KUD Minasari, KUD Minapari, dan KUD Batu karas. Saya sempat menggadaikan 4,8 kg emas batangan untuk KUD Minapari, karena mereka tidak dapat pinjaman dari bank jika tidak ada jaminannya. Susi berani melakukan itu karena dia tahu KUD tersebut dikelola dengan benar, dan alhamdulillah lunas. Sementara itu Menteri Koperasi dan UMKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, mengharapkan buku ini bermanfaat bagi para pelaku usaha perikanan untuk mengembangakn masyarakat pesisir melalui kelembagaan koperasi perikanan dan koperasi nelayan.

Selain itu, buku ini juga menampilkan tentang penerapan kearifan lokal dan budaya dalam pengelolaan sumber daya kelautan seperti pesta laut Nadran di Indramayu Jawa Barat, pesta nelayan Mappaande Sasi di Mamuju Sulawesi Barat, pesta menangkap ikan terbang di Pattorani, Takalar Sulawesi Selatan dan kearifan lokal lainnya.

Salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan adalah dengan pengelolaan koperasi nelayan. Gagasan dan pikiran tentang Koperasi nelayan; Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tangkap Berbasiskan Ekonomi Gotong Royong yang merupakan pengalaman penulis mengelola Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra, Karangsong Indramayu Jawa Barat ini diharapkan akan bermanfaat bagi nelayan dan masyarakat yang ingin mengembangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, pemerintah, serta para pengambil kebijakan. Karena memperjuangkan nasib nelayan, pembudidaya ikan dan petambak garam adalah kewajiban sosial politik dari seluruh elemen anak bangsa ini, apalagi pemerintah dan tentu seluruh anggota legislatif untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Buku ini hadir ditengah gencarnya pemerintah dalam mengkampanyekan Indonesia sebagai poros maritim dunia, namun minim referensi. Sangat jarang ada penulis yang menuangkan ide-ide besar tentang maritim dan pengelolaan perikanan tangkap dan hasil laut. Untuk itulah Ono Surono, ST yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangkan komisi IV, menuangkan ide dan pengalamannya mengelola Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra Indramayu Jawa Barat dalam sebuah buku yang ringan dan enak dibaca. Ono Surono yang juga merupakan ketua Ikatan Koperasi Perikanan Indonesia periode 2015-2020 mengharapkan agar buku ini bisa menjadi best practise bagi koperasi perikanan lain di seluruh pelosok negeri agar maju dan lebih berkembang.

Eva Rohilah
Pengamat Buku, tinggal di Depok