Menemukan Indonesia yang Bebas dan Bahagia Setelah Keliling 20 Kota di 10 Negara

Posted: September 16, 2016 by Eva in Artikel, Buku dan Media, Jalan-jalan

Resensi Buku
Judul : Menemukan Indonesia
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Editor : Eka Saputra dan Nurjannah Intan
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Maret 2016
ISBN : 978-602-291-143-2
Harga: Rp.69.000

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Barangkali diantara kita pernah melakukan perjalanan ke beberapa negara di luar negeri dan menemukan ciri khas negara itu dari mulai tempat wisatanya, tata kotanya bersih atau tidak, penginapan yang nyaman dan murah, akses transportasi yang layak dan tentu saja ciri khas kuliner kota di negara tersebut. Namun ketika kita menemukan hal-hal baru di negara tersebut, ada sekeping hati yang yang merindukan suasana tanah air kita Indonesia tentang segala sesuatunya yang sulit kita temukan di negeri orang.

Dari Kota terbersih Sampai Kota Terjorok

Buku yang merupakan kisah perjalanan Pandji Pragiwaksono keliling dunia melakukan Stand up komedi “Mesake Bangsaku World Tour” (MBWT) ini sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis dengan bahasa yang ringan dan kocak seperti kita lihat Pandji berstand-up komedi yang sering kita lihat di TV atau Youtube. Bedanya ini dalam bentuk buku. Negara yang dikunjungi Pandji mulai April 2014 sampai April 2015 yaitu Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Goldcoast, Hongkong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Fransisco.
Pandji memang tokoh anak muda yang luar biasa, berkat kepintarannya dia berhasil melakukan perjalanan ke 25 kota dan 10 negara untuk melakukan stand up komedi MBWT dan bertemu warga Indonesia di luar negeri yang rindu akan Indonesia, untuk melakukannya tentu butuh biaya besar, tapi berkat sponsor Garuda Indonesia, Telkomsel dan Bank Mandiri semua mimpi Pandji terlaksana meskipun di beberapa kota tertentu harus menginap bukan di hotel tapi di kedutaan dan apartemen milik orang Indonesia.

Membawa tujuh orang rombongan tentu bukan hal yang mudah, tapi rombongan Pandji kompak dalam melaksanakan misi besarnya yaitu menghibur rakyat Indonesia di luar negeri. Nah di sela-sela kunjungan tersebut ada banyak cerita yang kocak dan konyol dikisahkan Pandji yang membuat anda tertawa ngakak.

Misalnya tentang kebiasaan buang air besar di beberapa negara yang tidak menyediakan air untuk membersihkannya dan harus pake tissu toilet, hampir di semua negara dan ini tentu saja sangat menggelikan, meskipun ada di beberapa negara seperti Berlin yg menyediakan air, dan untuk megantisipasinya Pandji menyarankan untuk selalu membawa botol Aqua kosong ukuran dua liter agar memudahkannya.
Permasalahan toilet ini penting dan justru di bahas Pandji di awal buku, dia melihat kebersihan suatu negara bisa dilihat dari kebersihan toiletnya. Dari beberapa negara yang dikunjunginya dia berkesimpulan bahwa kota terjorok adalah kota Guangzhouw China dan Kota terbersih adalah kota Tokyo Jepang.

Tentu ini sangat beralasan, Ghuang Zhow misalnya saat di Hotel Pandji menemukan kamar mandi laki dan perempuan tidak dipisah tapi di campur, di dalam toilet juga kotor dan jorok, padahal itu toilet hotel gmn toilet umum ya, bahkan di jalanan pun di trotoar dia menemukan kotoran manusia, ini sangat menjijikkan, berbeda dgn Jepang yang sangat mengutamakan kebersihan, toilet umum di Jepang sudah sangat modern bahkan banyak tombol yang sulit dimengerti, namun demikian betah berlama-lama karena nyaman dan wangi.

Kuliner, Penginapan murah, Kenyamanan Transportasi

Pandji sangat terperinci dan menjelaskan detail kota yang dikunjunginya, kelebihan dan kelemahan setiap kota diungkap secara gamblang. Contohnya kuliner enak di setiap kota seperti sea food enak di Sidney, keju dan roti yang enak dan murah di Amsterdam, kuliner enak di Hongkong dan beberapa makanan khas Indonesia di Amsterdam, Berlin, Camden Lock, word culinery di London, dan negara lainnya yang bisa menjadi rujukan anda jika berkunjung ke luar negeri.

Oh ya selain tempat kuliner, tempat belanja favorit dan toko mainan serta toko musik juga ada beberapa yang dikupas di buku ini.

Jika Singapura tempat menginapnya mahal anda akan diberi tahu di mana menginap yang murah, begitu juga di tempat lain anda akan terkaget kaget dengan mahalnya penginapan di Eropa sehingga anda harus menyiapkan uang lebih.

Juga alternatif penginapan murah lainnya. Satu hal yang juga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi saya selama ini adalah penggunaan transportasi massal di luar negeri, hampir di setiap kota dia menceritakan kenyamanan transportasi seperti trem di london, kereta cepat di Jepang dan China, bis bis yang nyaman di kota Meulbourne yang sejuk dan menjadi kota ternyaman di dunia, Tube di London, dan juga kegalakan dan mahalnya sopir taxi di Sydney Australia.

Indonesia, Rich country Poor Management

Dari beberapa negara yang dikunjungi, seringkali Pandji bertemu orang bule dan menanyakan tentang kesannya terhadap Indonesia, dan Pandji menemukan jawabanya dari orang Spanyol yang mengatakan bahwa

“Indonesia is the Rich Country, Poor Management” dan Pandji mengakui memang benar Indonesia, Indonesia negara kaya tapi miskin manajemen pengelolaan.

Meskipun demikian, setelah mengunjungi beberapa kota dan negara di atas, Pandji menemukan kebebasan dan kebahagiaan tiada tara di Indonesia dibandingkan di negara lain. Dua rasa itu Bebas dan Bahagia tidak ditemukan Pandji di negara lain, makanya nasionalisme Pandji teruji dalam hal kecintaannya terhadap Indonesia.

Menurut Pandji Indonesia harus belajar banyak dari kota London dalam menjaga keragaman. Di London warga dunia dari berbagai negara hidup damai dan teratur.

Ada satu kalimat Pandji yang saya garis bawahi dalam buku ini yaitu pendapatnya tentang keragaman, Hasil studi Wayra di Inggris tentang riset keragaman. Riset atas 240 perusahaan start-up di London, menyatakan 82,5 persen responden setuju bahwa keragaman membawa pemikiran baru dan menumbuhkan kultur inovasi. Sebanyak 97,1 % menyatakan bersedia bekerjasama dalam tim yang beragam. Jadi bukan hanya warga London itu yang beragam tapi juga bersedia bekerjasama dalam perbedaan.

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

“Kita sering disuapi jargon Bhinneka Tunggal Ika, tapi pada kenyataannya kita belum benar-benar bisa bekerjasama dalam perbedaan. Bahkan belum bisa menghargai perbedaan apalagi perbedaan pendapat,” (halaman 143).

Saya senang dengan kutipan ini dan menjadi bahan perenungan dalam setiap pergaulan kita di era media sosial sekarang ini.
Rencana “Menemukan Indonesia” ini juga ada dalam bentuk film yang akan diputar pada 30 Maret 2016 mendatang, sebenarnya saya masih ingin menceritakan banyak tentang isi buku ini tapi akan sangat panjang, dan saya sarankan untuk mengetahui lebih banyak tentang kisah Pandji dan buku ini, saya rekomendasikan Anda untuk membacanya.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s