Archive for December, 2017

Mengingat dan Menata Kembali Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru

Saat aku menulis resensiĀ  buku ini, sudah hampir tiga bulan aku tidak aktifkan whatsapp, facebook dan instagram, tiga media sosial yang sangat tidak bisa kita hindari sekarang ini. Tapi apa yang terjadi, ternyata biasa aja tidak terlalu kampungan justru aku merasa semakin yakin akan nikmatnya menikmati komunikasi lewat telfon dan smsan.

Dalam tatanan ilmu sosial baru yang hadir dalam buku yang saya resensi kali ini yaitu berjudul “Guncangan Besar, Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru” adalah semakin marak beredarnya orang-orang yang memiliki akun media sosial tapi terjerumus dalam konflik sosial seperti perkelahian, pertengkaran, cekcok rumah tangga hingga orang yang ingin meninggal dunia dalam kesendirian.

Sampul Buku Guncangan Besar

Sampul Buku Guncangan Besar

Saat menulis buku ini, Francis Fukuyama yang merupakan sosiolog asal Jepang yang besar di Amerika, justru mengamati bahwa merebak dan semakin dicintainya media sosial membuat orang-orang lebih bangga, narsis dan ingin terlihat menawan, padahal aslinya biasa saja, itulah guncangan besar yang dinamakan pencitraan oleh media sosial.

Buku ini terdiri dari tiga bab, yang satu sama lain saling berkaitan. Di mulai dengan hipotesis Guncangan Besar, pada saat buku ini ditulis tahun 2003, hingga saat buku ini diterjemahkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama bekerjasama dengan Freedom Institute.

Hipotesis buku ini justru baru terbukti sekarang, 11 tahun setelah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Di mana saat ini, guncangan besar akibat terlalu sering aktifnya orang di media sosial sedang melanda dunia.

Dimana di sekitar kita sering terlihat kemunafikan dan kegetiran yang sepertinya terlihat sempurna di mata media sosial, tapi pada kenyataannya justru sangat mengerikan. Maka akan lebih baik jika dari sekarang kita lebih bijak bermedia sosial. Sebaiknya kita lebih sering bertatap muka dengan dunia riil atau nyata, daripada sibuk pencitraan ini itu di media sosial.

Pamulang 11 Desember 2017
Pukul 11.22

Sampul Buku-Rumah Bambu

Sampul Buku-Rumah Bambu

Cerita Sederhana yang Menukik Hati

Jika anda ingin membaca cerita-cerita yang ringan, pendek dan sangat menyentuh perasaan, anda harus membaca Kumpulan Cerpen karya YB.Mangun Wijaya atau akrab biasa disapa Romo Mangun dalam salah satu Kumpulan Cerpennya berjudul “Rumah Bambu” yang diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Gramedia (Penerbit KPG).

Buku ini sebenarnya buku lama, saya harap Penerbit berani untuk menerbitkan kembali buku-buku ini untuk generasi di masa yang akan datang yang lebih mencintai kesederhanaan dan hidup bersahaja dibanding dunia anak muda sekarang yang serba digital dan penuh hiruk pikuk belaka.

Ada satu peristiwa dalam hidup Romo Mangun yang di kemudian hari menjadi cerita “legendaris”. Seorang teman menyebut peristiwa itu sebagai tragedi lem kanji. Suatu ketika Romo Mangun menyuruh salah seorang pembantunya membuat lem kanji. Kebetulan Romo sedang membutuhkan banyak lem, sementara ia enggan membelinya di toko. Selain mahal dan bikin boros, memang demikianlah prinsipnya: Jangan mudah membeli sesuatu yang sebenarnya dapat dibuat sendiri. Lem kanji yang dipesan pun jadi.

Celaka, Romo bukannya senang, tetapi malah marah, sebab lem kanji itu terlalu banyak dan mubazir. Sambil marah, Romo mengambil piring, sendok, garam, lalu menyodorkan kepada si pembuat lem kanji itu dan menyuruh memakannya. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, tapi peristiwa itu benar-benar terjadi.

Selain itu ada juga cerita tentang pesawat tempur dan helikopter milik TNI angkatan Udara yang sudah lapuk dan bulukan, tapi berusaha diterbangkan oleh pilot yang masih belajar, tepatnya di halaman 97 yang berjudul tentang Pilot. Tapi yang terjadi sekarang memang Alutsista Kementerian Pertahanan dan semua TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara sudah pada lapuk dan hanya ada sedikit anggaran membeli Alutsista seperti Sukhoi, yang baru saja diberi mahal malah dipakai orang Rusia yang tidak tahu ilmu kedirgantaraan.

Dari cerita di atas dapat kita simbulkan bahwa kita harus pandai-pandai menilai diri sendiri. Suatu hal atau barang yang menurut kita mahal, belum tentu mahal menurut orang lain. Lebih baik kita membeli sedikit lem kanji daripada memarahi orang yang membuatkan kita lem kanji dengan banyak dan kelelahan agar mendapat upah.

Dalam buku yang terdiri dari 20 Cerita pendek (Cerpen) yang belum pernah di publikasikan ini, semua cerita yang ada dikemas secara artistik dan menggelitik namun cetar membahana. Kita akan di bawa ke dalam cerita bencong yang menyamar menjadi pengamen, hingga cerita-cerita sederhana lainnya yang menyentuh hati dan memekakkkan telinga.

Jadi tunggu apa lagi, datang saja ke Perpus Kementerian Kemendikbud untuk membaca buku ini, jika Penerbit KPG enggan menjualnya kembali, karena royaltinya belum diterima sama Romo Mangun Wijaya.

Jakarta, 4 Desember 2017