Kenanganku Mondok di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran

Posted: January 9, 2018 by Eva in Agama dan Spiritualitas, Pendidikan, Pribadi
Tags: , , ,

Usai menamatkan Sekolah Dasar di SDN Cisande IV Cibadak Sukabumi Jawa Barat pada tahun 1992, aku melanjutkan untuk masuk pesantren. Saat itu, aku baru pertama kali menginjak kota Jogjakarta, dimana kakakku Teh Geugeu Syarifah sekolah SMP dan A Iwan kuliah di Universitas Negeri Yogjakarta (UNY).

Di usia yang masih 12 tahun aku sangat kaget ketika aku naik bis Rajawali jurusan Sukabumi Jogjakarta, aku dijemput kakak pertama untuk tinggal sementara di Perumnas Condong Catur sambil menunggu pengumuman masuk SMPN 30 Sardonoharjo Ngaglik Sleman, atau sekarang SMPN 3 Ngaglik.

Pada saat aku ke Jogja, aku masih memakai rok merah dan baju bintik merah, satu-satunya baju terbagus yang  kupunya. Setelah itu, aku dibonceng memakai motor Honda Astrea oleh kakak dari Condong Catur ke Ngaglik Sleman. Aku masih ingat betul, waktu itu  masih imut dan tidak memakai jilbab, lalu mendaftar ke SMPN 30 Sardonohardjo dan mendaftar di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran PPSPA yang beralamat di Jl.Kaliurang KM 12,5 Candi Ngaglik Sleman Jogjakarta.

Aku juga langsung berjumpa dengan KH. Mufid Mas’ud yang saat itu sedang bersantai memakai kaus putih dan sarung putih. Aku sangat senang bisa melihat pondok pesantren yang begitu besar, tidak seperti di kampungku di Sukabumi, dimana saya waktu SD tiap hari jalan kaki lewat galengan (pematang sawah) dan rel kereta api. Akan tetapi, karena kakakku ada 8, kalau hujan, kalau masuk sekolah SD sering digendong Kang Dada, kakak no 3 yang sekarang sudah punya cucu.

Rumah orang tuaku sederhana dengan sembilan anak. Akan tetapi sepeninggal ibuku, kakak pertama menyekolahkan adik-adiknya di Jogja. Sesudah diterima di SMP, kakak menjahit seragam di langganan kakak di Gejayan, seragamnya masih rok pendek dan seragam putih pendek. Lucunya waktu itu belum ada peraturan siswa SMP boleh mengenakan jilbab, baru setelah ada usulan dari Pondok Pesantren ke pihak sekolah, barulah kita semua memakai jilbab (anak pondok) yang di luar pondok dibebaskan, tidak ada kewajiban berjilbab.Waktu itu aku sekolah sepantar dengan keponakanku Trisasi Lestari dia masuk SMP 5 Jogja.

Aku masih ingat betul, waktu keponakanku masih kecil-kecil. Aku dekat dengan semua keponakanku. kakak iparku membekali aku selimut yang berwarna kuning merah garis-garis dan makanan ringan seperti Happy Tos dan perlengkapan untuk aku sekolah lainnya. Kakak-kakakku sangat mencintai aku, setiap bulan aku ditengok sama A Iwan untuk bayar bulanan yang saat itu langsung diberikan kepada Bapak Ndalem oleh Kakakku.

1524051719366

Asramaku berada di sebelah selatan dekat deretan kamar mandi, namanya SQL (Sekolah Luar). Kami semua adalah santri yang sekolah di luar (Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran MTSPA) dan Madrasah Aliyah Sunan Pandanaran (MASPA). Tapi kata teman-teman sistem SQL sekarang sudah tidak ada. Karena sekarang PPSPA santrinya sudah 3.500 dari seluruh Indonesia yang kebanyakan adalah anak dan saudara alumni PPSPA sejak pertama kali didirikan pada tahun 1975.

Aku tidak tahu banyak sejarah Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud, karena beliau termasuk orang yang tidak banyak bicara, namun sangat tegas tapi sering bercanda. Seperti namanya, Mufid adalah orang yang memberi manfaat dan Mas’ud adalah orang yang selalu bahagia dan membahagiakan orang lain. Kalau di komplek putri kami mengaji setelah Subuh sampai sebelum berangkat sekolah, maka di komplek putra biasanya sore hari. Karena, aku waktu itu masih Juzz Amma dan Bin-Nadhor, maka saya sering nderes (Membaca Al-Qur’an) Kepada Ibu Ndalem Ibu Nyai.

Hj.Jauharoh Munawwir yang sangat tegas dan suaranya besar, dia selalu memakai mukena kalau nderes, semua takut sama Ibu Ndalem, biasanya dia memimpin Nderes berdua bersama anaknya Mbak Nah (Hj. Ninik Afifah).

Waktu mondok di Pandanaran aku bertemu dengan santri dari dari berbagai kota. Ada yang dari Cirebon, Indramayu, Jakarta, Klaten, Magelang, Pati (Ida Fitria Enha) dan lain sebagainya. Di situ kita juga belajar aneka bahasa daerah. Satu hal yang kuingat selama mondok di Pandanaran adalah kesederhanaan dalam makanan. Di mana makannya sayur nangka (jangan gori), sayur kol (jangan kol) dan kerupuk. Akan tetapi temanku Mbak Ika Nurazizah dari Magelang, kakak kelas di SMP selalu dibuatkan kering kentang sama kacang dan kalau dijenguk ibunya aku sering minta hehehe. Kalau aku karena tidak punya Ibu, begitupun ayahku (Apa) yang sudah tua tidak pernah menjenguk aku di pondok selama tiga tahun, jadi jarang dikirimi aneka makanan.

Kakakku Condong Catur juga jarang menengok, karena yang sering menjenguk dan mengantarku kebutuhan bulanan seperti susu dan Indomie, bulanan dan uang saku SMP adalah Kakak ke enam, Iwan Setiawan (A Iwan). Waktu itu, dia masih kuliah di Fakultas Ekonomi UNY.

Aku tidur di ranjang besi yang agak lebar, warnanya krem. Bagian atas diisi dua orang dan bagian bawah di isi dua orang. Pertama kali datang aku seranjang sama Mbak Siti Munawaroh, anak MAN I Jogja, dibawahnya ada Farikhatul Udkhiyah (Eka) dari Indramayu. Waktu ada Mbak Ika datang, saat itu aku pindah ranjang, selain sama mbak Ika, aku dekat juga sama mbak Tintin Nunani dari Cirebon.

Aku juga satu SMP sama si kembar Umi Haniin, Umi Haniatin, Farikhatul Udkhiyah (Eka), Lina Dwi Arfiastuti, Muchtar Hidayat, Eko Ariyanto, M.Nadjib, Muhammad Huda, Nuril, Rahmat dan masih banyak lainnya.

Satu asrama kita bergabung ada yang dari SMPN 30 Sardonoharjo, ada yang dari SMPN 8, ada yang dari MAN I, MAN Pakem, Universitas Gadjahmada, mereka harus menyesuaikan dengan jadwal pondok, seperti Kak Neny yang sekarang di Bandung, Kak Wahyunah yang sekarang di Bintaro, Kak Irma dan Kak Fauziyah. Semua santri-santrinya bahagia, seperti ketika saya mengikuti Haul ke 11 di Pondok Pesantren milik KH. Subhan Baalawi.

Kita semua alumni PPSPA yang di Jakarta Bogor Depok dan Bekasi memiliki Forum Silaturahmi Alumni Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Di Pondok Petir, justru aku ketemu dengan Kak Eni yang rumahnya tidak jauh dari rumahku di Pamulang Elok. Begitu juga, saya baru tahu bahwa yang memiliki Pondok Pesantren An-Nahdlah adalah Ibu Lia Zahiroh adalah alumni PPSPA istrinya Bapak Asrorun Ni’am. Dimana saat ini, anak pertama kakak kelas saya waktu di UIN UIN Sunan Kalijaga adalah Cak Shohib Sifatar yang bernama Arina (Kakak Arin) mondok di An-Nahdlah Pondok Petir.

Banyak hal tak terduga dalam hidupku dimana aku berjumpa dengan alumni Pondok PPSPA waktu di Kaliurang Jogjakarta, justru setelah 26 tahun aku meninggalkan Pandanaran. Aku berjumpa dengan Bu Nyai Lilik Ummu Kaltsum yang dulu suka menggantikan Ibu Ndalem. Bu Nyai Lilik sekarang memiliki Pondok Tahfidz Alqur’an di Parung Bogor bersama Gus Mustofa.

Ada banyak kenangan indah selama tiga tahun mondok. Kami semua dididik untuk terbiasa disiplin dan prihatin. Disiplin karena harus cepat-cepatan mandi (bare), setelah itu cepat-cepatan antri nderes mengaji di mesjid yang ada di komplek putri dan habis itu kita jam 7 sudah harus masuk sekolah. Aku termasuk yang malas bersama Mbak Ika dan Mbak Tintin, biasanya kita antri paling belakang karena memang ingin selalu bersama bertiga kemana-mana. Tapi kini mereka justru sukses, Mbak Tintin berwirausaha dan Mbak Ika bekerja jadi PNS di Pemda Magelang sesuai lulusannya Administrasi Negara UGM.

Ada banyak filosofi yang kuat ketika nyantri di pesantren. Kenapa kita harus prihatin dan makan seadanya. Karena supaya kita tidak dimanja makan enak. Semua santri jika saat mudanya susah, maka ketika mendapat ujian di hari tua menjadi orang tidak punya, maka dia tidak merasa aneh. Begitu juga dengan hafalan Al-qur’an, jangan sampai lupa dan harus selalu membaca Al-qur’an habis Shalat lima waktu, atau kalau bisa satu juzz sehari, jangan hanya saat Bulan Ramadan saja, tapi harus setiap hari. Berikutnya adalah harus mandiri, jangan harap santri menjadi PNS atau berharap banyak pada pemerintah, lebih baik mandiri atau punya Pondok Pesantren sendiri seperti Mas Lukman Kakak kelas, seangkatan sama Mbak Ika yang memiliki Pondok Pesantren di Tebet, Bu Nyai Lilik, Kyai Khusnul di Pondok Cabe, KH. Subhan Baalawi di Pondok Rajeg Cibinong dan lain sebagainya.

Satu hal lagi yang selalu kuingat amanat Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud, yaitu jika kita sudah menghembuskan nafas terakhir, atau kalau kita meninggal dunia, kita tidak boleh menerima karangan bunga dari siapapun.

Ibu Ndalem Hj.Jauharoh Munawir wafat pada April 1998 dan Bapak Ndalem wafat pada 2 April 2007. Semoga beliau berdua senantiasa mendapat maghfurlah dari Allah SWT dan semua santrinya bisa mengamalkan amanat atau pesan beliau berdua dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini penerus Bapak Ndalem KH. Mufid mas’ud adalah KH. Mu’tashim Billah dan KH. Masykur Muhammad serta ke-delapan anak-anak lainnya yang tidak mau disebutkan namanya karena pendidikan Hj. Jauharoh yang tidak ingin anak-anaknya mengemban amanat berat sebagai anak Kyai. Sepertinya itu saja yang ingin aku tulis sekarang, mohon maaf jika ada teman satu asrama tidak tersebut namanya.

Jakarta, 9 januari 2018 Pukul 13.55

Advertisements
Comments
  1. Gadung Giri says:

    tinggal di pondok pesantren, pertemanan yang begitu akrab dan murni pertemanan. jauh dari kesan berteman pada masa bekerja.

    • Eva says:

      yaa..sangat berkesan dan menyenangkan karena kita sama-sama jauh dr orang tua dan selama tiga tahun melaksanakan aktivitas dan rutinitas yang sama, jadi sama-sama saling peduli satu sama lain…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s