Suatu Hari Bersama Bis 102 dan Angkot Reni

Posted: February 11, 2018 by Eva in Artikel, Humaniora, Jalan-jalan

Hampir tiga tahun ini kami tiap hari beraktivitas menggunakan motor untuk bekerja. Parkir di Stasiun Sudimara lanjut naik KRL ke tempat bekerja, namun mulai awal tahun 2018 ini sesekali saya naik busway.Dulu jika pulang tidak bareng suami saya kadang naik angkot, tapi sering ngetem lama dan akhirnya naik ojek daring.

Resiko tidak bisa naik motor itu repot, kadang kalau tidak bisa diantar adakalanya kalau bepergian jarak dekat naik sepeda, atau naik ke opang lama di Pamulang Elok, namanya Bang Amir opang asli pondok petir, kalau tidak bisa kadang Bang Jadu. Mereka mudah dihubungi dan merupakan orang Betawi asli. Rumahnya tidak jauh dari komplek perumahan kami.

Namun siang itu kamis, 8 Februari saya kebetulan habis ada acara di daerah Palmerah arah Slipi, tiba-tiba saya kok malas ya naik KRL atau busway, saya kangen naik bis kuning Koantas Bima 102 jurusan Tanabang-Ciputat.

Biasanya di perempatan Slipi banyak bis yang ngetem tapi sore ini tidak, saya menunggu ada sekitar 10 menit langsung bisnya jalan. Saya sudah cukup lama tidak naik bis 102 terakhir kapan ya mungkin 1 tahun lalu lebih karena malas sekali lewat jalur Pondok Indah Radio Dalam karena macet sekali, lebih nyaman pakai commuter.

Namun seraya merenung entah kenapa saya sangat menikmati naik bis 102 yang isinya lumayan penuh. Baru naik fly over dekat Senayan saya dihibur pengamen remaja menyanyikan dua lagu, satu lagu ciptaan sendiri dan yang kedua lagi Franky Sahilatua yang asyik sekali ku dengar di tengah gemuruh mesin bis.

“Hangatnya matahari
Membakar tapak kaki
Siang itu disebuah terminal
Yang tak rapi. Wajah pejalan kaki
Kusut mengutuk hari
Jari jari kekar kondektur
Genit goda kaki

Wah sayang lagu mereka berhenti padahal saya masih menikmati.
Perlahan tapi pasti bis berjalan tanpa hambatan hanya macet sedikit depan Senayan City arah Taman Puring. Tiba-tiba naik seorang Bapak-bapak memakai kacamata berbaju hitam dan bertopi memetik gitar dengan syahdu. Wah saya merasa senang sekali dengan lagu-lagu lawas yang ia nyanyikan seperti lagu-lag Panbers dll salahsatunya liriknya begini…

“Demi engkau dan si buah hati aku rela begini….

Wah Bapak ini saya lihat sangat pintar bernyanyi dengan penuh perasaan sehingga semua penumpang diam, hingga akhirnya dia turun sebelum masuk jalan radio dalam.

Sekian lama perjalanan lancar, bis 102 tersendat di depan Plaza Pondok Indah sehingga harus memotong jalur lewat RSPI hujan deras mengguyur sampai halte busway Lebak Bulus.

Memasuki jalan Cirendeu bis bocor, waduh penumpang banyak yang pindah termasuk saya yang geser dua kursi ke belakang. Sampai di pool terakhir Pasar Ciputat hujan deras tiada henti karena kosong saya ngobrol sama kondektur yang cerita bahwa setorannya turun 50% lebih dari sehari 700 rb skg jd 300 rb karena sekarang ada busway jurusan Ciputat Sudirman dan kendaraan online di mana-mana. Dia berkata bahwa pengaruh dua jenis kendaraan itu sangat besar bagi kelangsungan armadanya sehingga sekarang armada 102 dikurangi.

Dia juga cerita kalau bis – bis kopaja dan Koantas lainnya sekarang sepi karena banyak kendaraan gratis seperti bis tingkat dan busway yang tidak lewat jalur. Bis P 19 juga kata kondektur tadi dulu setorannya paling besar sehari bisa 1.500.000 akan tetapi sekarang turus drastis di bawah 500 ribu.

Kemajuan teknologi dan kenyamanan berkendara sangat berpengaruh pada para pengusaha armada dan para sopir kondektur yang sekian lama hidup di ibukota. Sulit dicari solusi karena bagaimanapun harus ada yang menjadi korban dan dikorbankan.

Akan tetapi Bapak kondektur ini sangat tegar menghadapi apa yang dialaminya sehari-hari. Ia bercerita tiada beban. Badannya kekal dan kulitnya legam, rambutnya yang ikal dan sorot matanya yang tajam menggambarkan ketabahannya menghadapi bisnya yang bocor, sepinya penumpang bertarung dengan macet dan hujan sepanjang perjalanan Slipi – Ciputat. Saya membayar tarif 4000 rupiah.

Usai bercerita panjang lebar tentang setoran bis, dan terminal yang dibakar kami sampai di tujuan akhir. Ada tiga orang penumpang yang turun bersama saya, kami semua berlarian mencari tempat berteduh. Air menggenang membasahi sepatuku masuk sampai ke dalam sela-sela kaki, selokan mampet dan sayapun meloncat ke pinggir toko cari tempat berteduh menunggu angkot ke Reni Jaya jurusan Reni.

Seperti biasa angkot cukup lama lewat, hingga sekitar 12 menit kemudian datang dan ngetem di pengkolan (belokan) langsung penuh seperti biasa. Saya pun berjalan menuju ke angkot Reni dan akhirnya angkot pun berjalan. Selang berapa meter ke depan tiba-tiba ada penumpang bucis (bahasa sunda), (basah kuyup) lelaki setengah baya masuk tergesa membawa bungkusan besar hitam.

Dia mencegat agak ke tengah karena hujan, namun karena berhenti mendadak, sebuah mobil mewah di belakang langsung membunyikan klakson, Bapak itu setengah berteriak mengumpat “Orang kaya, gak sabaran,” ujarnya sambil menoleh ke belakang dan merapikan bawaan. Dia terlihat menahan geram, kami di dalam angkot pun berisik mendengar bunyi klakson.

Tidak lama kemudian, mobil itu menyalip dari sebelah kanan lalu melaju kencang. Kami semua penumpang dalam angkot Reni yang sudah ringkih dan karatan disana-sini hanya terpaku diam… hening. Tidak lama kemudian angkot Reni pun melaju perlahan dengan suara mesinnya yang khas, menderu, membelah hujan….

Pondok Petir, Minggu 11 Februari 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s