Pada Akhirnya Kita Akan Pulang Sendirian

Posted: February 19, 2018 by Eva in Artikel

Minggu lalu ada berita duka bertubi-tubi dari Jogjakarta. Pada hari rabu, 6 September saya dikabari teman SMA, Nur Hartanti meninggal dunia karena kanker getah bening selama 2,5 bulan. Esok harinya 7 september ada Dewan Redaksi Pustaka Alvabet pada tahun 2004-2007 Pak Samsu Rizal Panggabean (SRP), meninggal karena sakit jantung, kemudian ayahnya Pak Bae, Mas Iyung, Mas Togen Abah Rouf meninggal senin dinihari 11 September 2017.

Semua berita yang kudengar terlambat karena aku lagi non aktif facebook sementara. Ada banyak kesan yang mendalam tentang ketiga orang itu, Nur hartanti, sosok anak pendiam, rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri sejak pertama aku kenal. Namun orangnya baik hati dan ramah. Dia kuliah di Geografi UGM bersama Dyank Aflahah, Dewi Masithoh, Opik Indrawan dan Febri. Mereka anak IPA 1 SMA Muhammadiyah II Jalan Kapas.

Sedangkan Pak Rizal aku hanya sebentar mengenalnya, Aku diajak bekerja di Alvabet oleh Mas Ahmad Zaky Kopma UIN Suka, disana aku diperkenalkan sama Dewan Redaksi yang menyeleksi semua terjemahan Alvabet seperti Pak Rizal. Taufik Adnan Amal, Pak HBS, Pak IAF dan Pak Bae merupakan orang yang harus mengacc semua sampul depan dan belakang, proses editing, kualitas terjemahan dan mengusulkan buku-buku yang akan diterbitkan. Sedangkan Abah Rouf adalah orangtua dari Pak Bae, Owner Alvabet juga ayah dari Mas Nurul Huda (Iyung) dan Ahmad Sirajul Huda (Togen) mereka berdua pernah lama bekerjasama dengan kami di Alvabet sebagai marketing dan pemasaran.

Jumat malam aku ke Jogja sama mas Arif Takziyah, paginya dijemput mobil teh geugeu. Kita berdua langsung menuju Rejodani Ngaglik, setelah sebelumnya makan soto kudus di Condong Catur. Sesampainya disana ada istri almarhum Bu Luthfi, serta anak Pak Rizal yang baru pulang dari Jepang Sarah Fitri Panggabean dan anak keduanya Irvan serta anak Pak bae, Dede.

Baru kali ini aku ke Jogja gak bilang-bilang teman, aku hanya langsung ke TKP, usai takziyah dan berziarah, aku langsung pergi ke Ngawi.

Pulang dari Ngawi, aku berziarah ke makam Kyai Mufid Mas’ud Sunan Pandanaran, saya terpukau ternyata Pondok Pesantren Sunan Pandanaran berkembang pesat, sangat bagus dan luas serta hijau, santrinya banyak.

Usai dari jalan kaliurang saya mampir Condong Catur tapi tidak ada Teh Neng adanya Hoho sendirian, baru setelah itu Takziyah ke Nurhartanti di jalan Berbah Banguntapan Bantul. Rumahnya memanjang dan parkirnya luas, sayang suaminya Mas Sigit tidak ada di tempat karena sedang ke rumah orangtuanya di Semin Gunung Kidul mengajak refreshing anak-anaknya.

Sehabis itu saya pulang ke Bantul ke Teh Geugeu, ketemu ponakan dan makan bakso, jam 12 malam pulang ke Tugu naik kereta ke Bandung. Sampai Bandung jam 9 pagi, dan lanjut naik kereta ke gambir jam 10.35. Sampai Jakarta saya langsung naik gojek ke kantor ambil kamera dan segera meluncur ke Golden Butik Kemayoran, ada acara kantor sampai Rabu 13 September.

Hari selasa saya dikejutkan sama status bbm, ada kabar ayahnya Pak Bae, Mas Iyung dan mas Togen meninggal dunia, saya baca siang dan rencana malam mau takziyah ke Bekasi. Tapi apa daya acara sampai malam, saya sangat kelelahan, pulang, istirahat dan bangun subuh untuk segera naik kereta ke Bekasi, ternyata sekarang ke Bekasi cepat dan gampang tidak sampai 1 jam, rumah duka tidak jauh juga dari stasiun.

Sepanjang jalan saya melamun sendirian, ingat terakhir ketemu mas Iyung dan Mas Duyung di Rs Medistra Bekasi, Abah Rouf sehat dan masih bisa shalat meski sakit. Saya waan sama teh ing dan Rifky karena hp mas iyung dan togen ga aktif, saya tanya alamat rumah ke mama oi, akhirnya saya sampai di Sawah Indah bertemu Umi, mas iyung, Togen dan dua orang kakak mas Iyung yang ga begitu aku kenal. Mereka sangat kehilangan. Umi sekarang memakai kursi roda dan duduk diam. Tidak banyak cerita, terakhir almarhum jatuh di kamar mandi.

Dari situ saya berpikir bahwa pada akhirnya kita semua akan meninggal. Kita akan pulang sendirian.

Satu hal yang harus aku siapkan adalah bahwa kita semua harus rela ditinggalkan oleh orang – orang yang kita cinta.

“Manusia ini tak punya akar

Dia diterbangkan ke mana-mana

seperti debu yang berhamburan di jalanan.

Ke segala arah, bertumbukan dengan angin

Ia jatuh terguling-guling.

Memang hidup kita ini sangatlah pendek

Kita datang ke dunia sebagai saudara

Tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah?”

Sajak T’ao Ch’ien

 

catatan: Ini tulisan tahun lalu Bulan September 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s