Archive for March, 2018

Maxim Gorky: Pecundang

Posted: March 31, 2018 by Eva in Buku dan Media
Tags: , ,

Buku ini aku beli bulan Juli tahun 2002, tapi waktu minggu lalu ke Gramedia di BSD kok masih beredar ya, banyak berjejer termasuk laris.

Sedikit pengarang Rusia yang menikmati popularitas dalam kehidupannya sebagaimana Maxim Gorky, dan sedikit saja novel yang menyodorkan pada kita kisah yang murung dari prahara besar revolusi Rusia.

Pecundang ditulis pada 1907. Maxim Gorky adalah nama pena dari Bapak Realisme sosialis ini. Gorky sendiri artinya pahit.

Dalam novel ini diceritakan tentang kekuasaan, pribadi yang risau dan kejujuran yang langka.

Sudah 11 tahun tinggal di Pondok Petir Depok, berbatasan dengan Pamulang, tepatnya sejak Januari 2007 seringkali di rumah ada barang-barang yang rusak. Entah itu karena faktor alam seperti petir atau karena memang alat rumahtangga sudah aus spare partnya.

Baik barang elektronik seperti AC, TV, kulkas dan mesin cuci. Handphone bisa sinyalnya kurang, lcdnya pecah atau bahkan mati total, serta laptop atau komputer yang sudah tidak bisa digunakan.

Dari pengalaman yang saya alami ada beberapa tempat service yang bisa direkomendasikan atau jadi rujukan, karena saya pernah mencobanya. Berikut saya tulis beberapa, mungkin ada yang sudah tahu, ada juga yang tidak.

1. Servis AC, kulkas, mesin cuci dll
Nama tempat servisnya adalah Makmur Service yang berada disebelah kiri dekat kampus Universitas Pamulang (Unpam). Kalau mau service disana harus janjian sehari sebelumnya karena antri. Berikut no telfonnya:0217431058

2. Service HP, tablet, android, dll.
Nama tempat servicenya Bintang Seluler. Dulu berada di dekat pertigaan kelurahan Reni, sekarang pindah ke sebelum pangkalan ojek (kalau dari arah gaplek), ada gang kecil dan plang tempat servis. No Hp:628567123542

3.Service komputer, laptop, dan sejenisnya.
Nama tempat service komputer ini adalah Point Komputer berada di dekat bekas Bank BRI di dekat bunderan Unpam komplek pamulang permai. Sangat cepat penyelesaian masalah komputer kita disini karena memiki tenaga ahli yang berpengalaman. Pernah ganti layar laptop karena pecah, masuk siang sore jam 5 sudah ada sparepartnya. No telfonya ini 021.7418450

4. Service televisi, DVD, tape recorder, dan sejenisnya.
Nama tempat servicenya saya lupa tapi dekat rumah berada di dekat Indomaret Suryakencana yang dekat Reni Jaya, samping foto kopi. Pernah tv saya kena petir di service cepat di sini. No telfnya jg tidak punya lebih baik datang langsung pingir jalan kelihatan.

5. Service alat rumah tangga seperti magicom rusak, blender, kipas angin dll.
Nama tempat servicenya adalah 33A Service
berada di jalan suryakencana seberang toko pakaian sebrang klinik mitra sehat. No hpnya adalah: 081808302412

6. Service Tas, biasanya jika tas kita rusak resletingnya, atau bernoda dan talinya lepas ada dua tempat service tapi saya lupa namanya, pertama di jl. H.Nawi sebrang Amec, yang kedua di Witanaharja sebelum danau.

Buat anda yang berada di Pamulang Barat, Reni Jaya, Pondok Petir, Bojongsari dan sekitarnya semoga bisa membantu ya. Ini bukan promosi hanya sekedar berbagi pengalaman. Mohon maaf jika ada tempat service yang tidak berkenan, takut melanggar undang-undang persaingan usaha (sok serius ☺) mungkin nanti bisa diupdate disini dan ditambah referensinya.

Semoga bermanfaat…

Pamulang 30 Maret 2018
Pukul 22.10 WIB

Seperti biasa saat senja hari
Aku menyiram tanaman di depan rumah
Dan aku temukan pohon belimbing wuluh
Sudah tumbuh tunas baru

Wah senang sekali melihatnya
Mengingat pohon itu sering berbuah
Lebat dan subur
Kini makin kokoh dan berkembang

Pamulang 30 Maret 2018
Pukul 18.30

Dalam dua tahun ini saya kehilangan dua orang yang dekat dengan saya dikarenakan penyakit kanker yang sangat ganas merenggut nyawa. Mereka dan keluarga enggan disebut nama lengkap, karena satu atau dua hal, jadi saya memakai inisial.

Dari mulai Kanker Usus Besar yang diderita kakak kelas waktu kuliah namanya (MSR) yang meninggal dunia di usia 40 tahun, bekerja sebagai PNS, awalnya tinggal di Cempaka Putih, namun setelah selama 1,5 tahun bergelut dengan kanker usus besar di rawat di Purbalingga.

Kedua, adalah teman SMA waktu Jalan Kapas Semaki, Jogja terkena Kanker Getah Bening,  (NHT), meninggal saat usia 37 th. Saya pernah memuat kisah beliau beberapa waktu lalu di sini.
NHT meninggal karena kanker getah bening, Ibu rumah tangga yang setia mendampingi suaminya yang bekerja di Kemendikbud, tinggal di Depok. Hanya 2,5 bulan menderita penyakit, dia akhirnya dibawa ke Bantul Jogja, di rawat di RS. Sardjito. Sungguh NHT sebaya sama aku saat wafat meninggalkan suami dan kedua anaknya yang masih usia Sekolah Dasar. Kini anaknya dititipkan di rumah mertuanya di Semin Gunung Kidul.


Aneka Pemicu kanker

Mari kita mengenali lebih dekat, beberapa gejala ketiga jenis kanker itu.  Apa yang saya ceritakan mungkin bukan persfektif ilmu kedokteran, karena saya bukan dokter, akan tetapi adalah dari cerita, berbasis pengalaman dan pengamatan keluarga terdekat yang tahu betul, kenapa mereka menderita kanker.

Dari cerita kerabat dan sahabat yang menemani selama almarhum dan almarhumah sakit, ada banyak pemicu kanker ketiga orang tersebut.

Pertama, (MSR) yang terkena Kanker Usus Besar, menurut kakaknya Kai Mei, ada tiga macam penyebab utama MSR terkena kanker usus besar. Pertama adalah makanan yang dikonsumi selama ini, yaitu suka dengan makanan yang penyajiannya cepat, enak. Kedua adalah pola makannya yang tidak teratur. Makan jika pas lapar saja, kadang tidak sarapan, makan siang terlambat. Dan yang ketiga ini mungkin banyak di alami kaum urban di ibukota, yaitu gaya hidup yang tidak teratur, dimana sering lembur dan menghabiskan waktu banyak, untuk nongkrong sampai larut malam.

Menurut Kak Mei, ketiga hal itu menjadi pemicu kenapa adiknya MSR terkena usus besar sampai meninggal dunia. Selama dirawat oleh keluarga, perawatan kanker usus besar ini ekstra hati-hati karena menjalar sampai saluran pembuangan, sehingga badan MSR tergerus kurus dan harus susah payah jika buang air besar.

Kedua, (NHT) Kanker Getah Bening ini ceritanya sangat panjang dan mengharukan. Awalnya, Sigit suaminya bercerita jika saat sisiran, NHT bertanya, kok leherku gatal ya, lalu dia garuk. Makin lama kok setelah digaruk, muncul benjol kecil yang empuk jika diraba, tampak kenyal dan berair. Setelah dirasa mengganggu tidak lama kemudian segera di periksa dan ternyata dia sudah terkena kanker getah bening stadium tiga. Dari situlah, Sigit sekeluarga boyongan dari Depok, pindah ke Jogjakarta dan rutin menjalani perawatan di RS. Sardjito.

Ada banyak pengalaman dari Mas Sigit ketika dia menceritakan pengalaman NHT 2,5 bulan kemotheraphi. Sungguh terharu dan menyesakkan dada, mengingat kita masih sebaya, disertai foto-foto saat masih ada.

“Nggih, bojo kulo niku gejalanipun nggih boten onten, tiba tiba bibar kerikan onten benjolan cilik, trus periksa ke dokter umum. niku menjelang puasa. nur taksih sehat puasa sampai hampir 3 minggu, terus mudik tgl 21 juni. tgl 22 periksa, disuruh operasi, diagnosa penyumbatan kelenjar ludah, trus ambil massa 0,5cc. tgl 5 juli dr hasil PA rs bethesda didiagnosa NHL (LIMPOMA NON HODGKIN). Kami rembukan karna disuruh kemo, saya pindahin rujukan askes/bpjs istri ke Bantul. thp 1 kemo tgl 25 juli, hasil lab dari RS sardjito keluar utk pastikan penyakitnya. thp 2 tgl 15 agustus, tp ngedrop mk dirawat tgl 15 tsb, tgl 16 kemonya, tgl 17 September pulang” ujar Mas Sigit menjelaskan.

Sampai saat meninggalpun, Mas Sigit tidak tahu apa penyebab kanker getah bening. Sebelum sel kanker menyerang, tidak ada gejala apa-apa tiba-tiba muncul, pemicu dari kebiasaan makan juga kecil atau jarang. Namun ada satu hal yang ia katakan dan saya berusaha mengingatnya untuk menjadi pelajaran di masa depan. Berikut saya kutip.

 

Kepada MSR dan NHT  yang sudah meninggalkan kami semua terlebih dahulu, semoga diterima amal ibadahnya di Sisi-Nya, keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kami memetik hikmah dari semua ini. Menuntun kami agar senantiasa lebih berhati-hati dan bisa mengantisipasi serta menghindari penyakit kanker yang kian merajalela.

Depok, Kamis 29 September 2018
Pukul 14.33

Resensi Buku: The Seat of the Soul (An Inspiring Vision of Humanity’s Spiritual Destiny (Visi Baru tentang Takdir Manusia)
Penulis: Gary Zukav
Penerjemah: M.Thoyibi
Penerbit: Pustaka Alvabet
Edisi: 1, Agustus 2006

Dengan kepiawaian luar biasa dalam menyederhanakan abstraksi ilmiah dan fisika baru, Gary Zukav membawa kita menuju tahap baru evolusi manusia. menurut penulis karya masyhur The Dancing Wu Li Masters ini, kita sedang berevolusi: dari mahluk pemburu kekuatan berdasar persepsi indrawi (kekuatan eksternal) menuju spesies pencari kekuatan otentik (berdasar nilai-nilai ruh).

Dengan mata ilmuwan dan hati filsuf, Zukav menunjukkan bahwa mengisi kehidupan dengan ketakziman, belas kasih dan kepercayaan membuat kegiatan-kegiatan kita penuh makna dan tujuan. Nilai-nilai ruh, mengubah perkawinan menjadi kemitraan spiritual, psikologi menjadi psikologi spiritual, dan setiap tulisannya reflektif dalam kehidupan sehari-hari.


Sebuah Karya yang Wajib Anda Baca

Buku ini adalah buku kedua yang sangat inspiratif. Setelah buku yang tidak akan terlupakan dan menjadi favorit sampai sekarang adalah Sang Alkemis karya Paulo Coelho yang aku baca sejak masih kuliah. The Seat of the Soul adalah buku yang paling lama saya baca (enam bulan lebih baru tuntas), penuh konsentrasi tinggi dan butuh suasana sepi saat membaca lembar demi lembar pemikiran Gary Zukav. The Seat of the Soul menggambarkan perjalanan menakjubkan menuju ruh kita masing-masing. Buku ini adalah bacaan favorit saya selama tahun 2017.

Sebenarnya sudah lama ingin meresensi buku ini, cuma ya itu belum selesai membacanya, jadi lambat hadir di blog. Ada empat bab dalam buku ini yaitu Pendahuluan yang berisi Evolusi, Karma, Ketakziman, dan Hati. Bab dua Penciptaan berisi tentang intuisi, Cahaya, Niat I, Niat II. Bab tiga tentang Tanggung Jawab, membahas tentang Pilihan, kecanduan, Hubungan dan Ruh. dan Bab empat mengangkat tema Kekuatan yang membahas Psikologi, Ilusi, Kekuatan dan kepercayaan.

Buku yang masuk Best Seller Internasional dan telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa ini direkomendasikan bagi anda yang menyukai buku-buku serius dengan penghayatan mendalam. Mungkin bagi yang tidak suka filsafat atau psikologi buku ini kurang bagus atau memusingkan. Karena memang banyak istilah-istilah seperti evolusi, manusia sarwa indra, manusia panca indra, teori evolusi,altruistis, dan masih banyak istilah lainnya yang membuat anda diam sejenak.

Dalam bab evolusi misalnya, Zukav menjelaskan jika ketika dua manusia saling berhubungan, dalam pengertian kompleksitas organisasional mereka dianggap berevolusi secara setara. Jika keduanya mempunyai intelegensia yang sama, tetapi yang satu berpikiran kerdil, kikir, egois, sementara yang lain murah hati dan altruistis, maka orang yang murah hati dan altruistis itu kita sebut lebih berevolusi (hlm 4).

Dari Lee Harvey Oswald dan John F Kennedy Hingga Qabil dan Habil

Meskipun buku ini sudah terbit lama sekali, yaitu pertama pada tahun 1990 dan diterjemahkan pada tahun 2006, namun, apa yang disampaikan Zukav dalam pembahasannya tentang refleksi manusia dalam dinamika perubahan yang serba cepat ini membuat pembaca akan merefleksikan bagaimana relasi, ketakziman kita dengan keluarga, orangtua, sanak saudara, bahkan lingkungan kerja.

“Kita mengetahui bahwa aktivitas kehidupan diisi dengan ketakziman, aktivitas itu menjadi hidup dengan makna dan tujuan. Kita tahu bahwa ketika tak ada ketakziman dalam aktivitas kehidupan akibatnya adalah kekejaman, kekerasan dan kesendirian,” (hlm 6).

Masih membahas tentang ketakziman dan kebutuhan pada kekuatan fisik, menghasilkan sesuatu jenis kompetisi yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Kebutuhan itu mempengaruhi hubungan antar kekasih, antar kekuatan adidaya, antar saudara kandung, antar ras, antar kelas, dan antar jenis kelamin.

Saya pun sempat menstabilo suatu ungkapan Zukav yang menjelaskan. Energi permusuhan antara Lee harvey Oswald denga John Kennedy sama dengan yang menyebabkan permusuhan antara Qabil dan Habil. sanak saudara bertikai.


Membedakan tiga titik; Fisik, Jiwa dan Ruh

Membaca buku ini kita diajak membedakan ada tiga ruang dalam diri kita yang ibarat lapisan sebenarnya memiliki makna dan peran yang berbeda-beda. Yaitu diri kita sendiri secara fisik dan lahiriah, lapis kedua adalah jiwa (personality) dan yang lebih dalam lagi adalah ruh (soul) yang tidak kasat mata.

Dalam skema yang lebih besar, Zukav menjelaskan jika kerangka pemikiran yang lebih besar dari manusia sarwaindra memungkinkan pemahaman tentang perbedaan yang secara eksperiensial bermakna antara jiwa (personality) dan ruh (soul). Jiwa adalah bagian dari diri Anda yang lahir (fisik), hidup dan mati dalam dimensi waktu. Menjadi manusia dan memiliki ruh merupakan hal yang sama, ruh Anda,seperti halnya tubuh anda merupakan kendaraan evolusi anda.

Rasa takut dan emosi kekerasan yang telah telah menjadi ciri keberadaan hanya bisa dialami oleh jiwa. Hanya jiwalah yang dapat merasakan kemarahan, ketakutan, kebencian, balas dendam, kepedihan, rasa malu, penyesalan, ketidak acuhan, frustasi, kesinisan dan kesepian. Hanya jiwa yang bisa menghakimi, memanipulasi, dan mengeksploitasi. Hanya jiwalah yang dapat mengejar kekuatan eksternal. Hanya jiwalah yang dapat mengejar kekuatan eksternal. Jiwa sesungguhnya juga bisa mencintai, mengasihi, dan arif dalam berhubungan dengan manusia lainnya. Tetapi cinta, belas kasih dan kearifan itu sebenarnya bukan berasal dari jiwa melainkan berasal dari pengalaman ruh. (hlm 15).


Keadilan Tanpa Penghakiman

Berikutnya yang menarik adalah dalam bab “Karma”, dimana Zukav mengangkat tokoh Mahatma Gandhi yang pernah dipukuli beberapa kali selama hidupnya. Meskipun Gandhi pernah dua kali dipukuli sampai hampir mati, dia menolak untuk menuntut para penyerangnya. Karena Gandhi mengetahui jika bahwa ora-orang itu melakukan sesuatu “yang mereka anggap benar”. Posisi penerimaan tanpa penghakiman ini merupakan inti kehidupan Gandhi yang tidak suka menyimpan dendam.

Apakah keadilan tanpa penghakiman itu? Keadilan tanpa penghakiman merupakan kebebasan melihat yang Anda lihat dan mengalami yang Anda alami tanpa menanggapi secara negatif. Hal ini memungkinkan Anda secara langsung mengalami aliran kecerdasan tanpa hambatan, pancaran dan cinta alam semesta yang melingkupi realitas fisik kita. keadilan tanpa penghakiman mengalir secara alami dari pemahaman atas ruh dan caranya berevolusi. Dan masih banyak pemikiran-pemikiran Zukav lainnya yang jika saya tulis disini nanti akan terlalu panjang atau justru membosankan jika anda hanya menyukai sesuatu yang bersifat praktis dan tidak suka membaca karya berat seperti ini.

Saya masih ingat betul, buku ini memang kurang begitu laku di pasar Indonesia. Banyak yang tidak tahu dan hanya sedikit saja yang membeli, padahal di luar negeri sangat berjaya di zamannya,menjadi Bestseller Internasional.

Tidak banyak memang harapan yang disampaikan Zukav dalam buku ini. Dalam pengantarnya dia menulis bahwa yang saya tawarkan dalam buku ini merupakan jendela yang saya gunakan untuk melihat kehidupan. Saya tawarkan jendela itu kepada pembaca, tetapi tidak mengharuskan pembaca untuk menerimanya. Kita punya banyak hal untuk dilakukan bersama, mari kita melakukannya dengan kearifan,cinta, dan kegembiraan.

Pondok Petir, Depok 28 Maret
Pukul 22.57

Seminggu yang lalu, sebuah komunitas diskusi yang memiliki konsentrasi terhadap perkembangan start-up di tanah air, Block71 yang bekerjasama dengan National University of Singapore (NUS) Enterprise menggelar diskusi secara mendalam, tentang bagaimana update terkini aplikasi kesehatan dan bagaimana peranan teknologi kesehatan di Indonesia dengan tema “Deep Dive Series: Healthtech.”

Acara yang berlangsung dari siang hingga sore hari ini pesertanya membludak.Tidak hanya dari praktisi kesehatan, toko kesehatan online, para tenaga kesehatan,  media , hingga anak muda yang jago IT dan para pembuat aplikasi banyak yang hadir. Sementara itu di luar ruang diskusi, ada  pameran stand aplikasi dan startup terkini di bidang kesehatan yang memudahkan pasien dan bisa diunduh saat itu juga.

Saat saya datang acara sudah mulai, ruangan penuh dan akhirnya saya keliling stand pameran hanya bisa ikut sesi kedua. Beberapa stand diantaranya IGene Laboratory, yang bisa mendeteksi dan solusi terbaik kanker sejak dini, sulit hamil, dll. Saya mampir di stand Qiwii, sebuah aplikasi dari Bandung yang memudahkan pasien untuk mengantri, jadi tidak usah nunggu lama di rumah sakit, cukup unduh aplikasi Qiwii nanti ada notifikasi anda langsung terjadwal dengan dokter untuk diperiksa.

Setelah itu saya mendatangi stand lainnya seperti Sehati TeleCTG, Prosehat, dan Homecare24. Acara ini dimoderatori oleh Dea Surjadi, Bussiness Development dari Golden Gate Ventures.

Para pembicara sesi pertama adalah
Samir Chaibi, Investment Manager – GREE Ventures, kemudian Prof Daryo Soemitro, MD., Neurologist, Head of IT Division Health Business Analysist Consultant – Indonesia Health Management Consultant Association (IHMCA).

Usai sesi pertama selesai saya baru gabung di sesi dua dimana ada
Nathanael Faibis, CEO of Alodokter
Vinita Choolani, CMO of INEX Innovations Exchange Pte Ltd, Andi Waluyo Sarpadan, COO of Sehati dan TeleCTG, serta Aditya Hadi Pratama.

Banyak perkembangan baru yang disampaikan oleh para pembicara, seperti perkembangan pesat aplikasi Alodokter yang dari tahun ke tahun terus meningkat, member aplikasi dan websitenya sudah banyak dan masuk Top 50
most visited website dengan 300 ribu orang lebih melakukan chat dengan dokter. Bahkan kini sudah berkembang menjadi Alo Medika (khusus untuk sesama dokter) dan Alo Dokter (untuk portal dan pasien).

Begitu juga aplikasi INEX, yang menyoroti tentang kesehatan perempuan, seperti prenatal test, deteksi kanker sejak dini, cancer incididence dan cancer mortality. Agak ngeri juga ketika Ibu Vinita memperlihatkan grafik tentang kanker kanker uterus dan kanker lainnya yang banyak menyerang perempuan.

INEX berkantor pusat di Singapura dan akan mengembangkan sayap ke Malaysia dan daerah lainnya.

Sedangkan aplikasi Sehati, inovasi di bidang kesehatan mereka beragam seperti persiapan kelahiran (good pregnancy preparation), booking dokter, manajemen pengelolaan tenaga kesahatan, Tele CTG, Ibu dan Bayi dsb. Sehati punya misi pemerataan pelayanan kesehatan untuk generasi berkualitas.

Saat break, saya mampir ke stand Pasienia dan Periksa.id. Cukup lama saya bertanya kepada penjaga stand pameran tentang aplikasi Pasienia yang diciptakan oleh alumni Fak.Kedokteran UII Jogjakarta.

Rupanya aplikasi Pasienia itu adalah aplikasi yang merupakan tempat berbagi ( sharing) aneka keluhan dengan sesama pasien yang sakit. Ada pengelompokan penyakit. Ini menarik, karena jika anda sakit biasanya kan mager ya, nah bisa sambil bertanya dengan teman-teman yang sudah mengunduhnya dengan mengidap penyakit dan keluhan yang sama.

Jadi sekarang jika anda sedang hamil, menunggu persalinan, atau sakit parah dan terbaring di rumah sakit, tidak hanya bosan menunggu jadwal minum obat dan periksa, sekarang anda juga bisa mengunduh aneka aplikasi yang anda butuhkan.

Meski sekarang berobat lebih mudah, efektif dan efisien dengan beragam aplikasi di atas atau ke klinik terdekat, akan tetapi lebih baik kita mencegah daripada mengobati. Jadi jangan (malas gerak) / mager ya, mari kita berolahraga yang ringan hingga rutin, hati-hati memilih makanan dan jaga kesehatan.

Semoga bermanfaat.

Terimakasih Block71 dan semua narasumber.

Gencarnya promo perjalanan (travelling) baik dari dalam negeri maupun luar negeri, memberi keuntungan sendiri bagi para pengrajin industri kecil di beberapa pelosok daerah.

Para pelaku industri kecil membuat aneka souvenir yang beragam dan memiliki ciri khas tersendiri yang tidak ada di daerah atau negara lain.

Salah satu yang menarik saya belakangan adalah para pedagang souvenir yang langka tapi unik dan cantik.
Keterbatasan suatu daerah untuk membuat bahan baku kerajinan tangan (cinderamata) atau souvenir tidak membuat mereka kehabisan akal.

Contohnya adalah souvenir lukisan dari kulit pohon yang berasal dari Pulau Fiji, suatu Pulau kecil dekat Selandia Baru.

Waktu melihat pertama kali wah keren ya, melukis di kulit pohon tanpa mblobor (tak beraturan) atau tinta yang tembus acak-acakan mengingat kulit pohon itu sangat tipis dan rapuh.

Selama ini di beberapa daerah melimpah ruah bahan dasar untuk melukis.Dari mulai kain, kanvas, kulit diolah sedemikian rupa, namun Pulau Fiji yang terpencil ini justru lebih kreatif, membuat lukisan dari kulit pohon, terkesan artistik namun sangat unik, jarang ada yang punya.

Ternyata kreasi cenderamata berbahan dasar kulit pohon ini tidak hanya ada di Pulau Fiji, kini Papua pun memiliki kreasi dengan bahan dasar sama.

Bedanya di Papua, kulit pohon dibuat untuk membuat tas tangan atau sejenis dompet yang natural. Tanpa cat dan polesan, hanya ada sedikit bordir komputer benang bertuliskan dan berlogo Papua.

Cendramata ini tampak cantik dan alami jika dipakai untuk sehari-hari atau belanja. Lengkap dengan beberapa wadah yang diresleting yang bisa menyimpan kartu, uang, hingga smartphone. Ringkas, masuk semua.

Ketika melihat dua souvenir berbahan kulit pohon ini saya sungguh penasaran seperti apa ya proses pembuatannya. Mengingat, proses pengambilan kulit pohon itu rumit, belum setelah itu proses produksi yang tentu dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

Saya salut sama kreativitas tanpa batas para pengrajin kulit pohon baik di Pulau Fiji maupun Papua, atau mungkin di daerah lainnya. Meskipun ada kelemahan dimana kedua barang itu tidak boleh kena basah dan hujan, karena akan mengkerut bahkan rusak, semoga bahan dasarnya tidak merusak pohon atau lingkungan.

Adakalanya kreativitas muncul justru saat kita dalam kondisi serba terbatas. Terimakasih buat yang sudah memberiku oleh-oleh lukisan dari Pulau Fiji dan Dompet dari Papua. Tabik….

Pamulang 27 Maret 2018
Pukul 17:21

Semalam aku bikin puisi
Karena rasa gundah hati
Mungkin tidak begitu berarti
Tapi aku menulisnya hati-hati

Hari ini senin pagi
Aku membuka mata menyambut mentari
Meski sempat ada tragedi
Tapi akhirnya aku bisa menahan diri

Aku menemuimu di Manggarai tadi pagi
Sudah lama tidak bersua kembali
Turun dari kereta setengah berlari
Aku memelukmu dengan sepenuh hati

Tidak terasa perjumpaan sekejap ini
Membuatku seperti tersiram kembali
Akan kenangan bersama tempo hari
Semoga suatu hari, kita bisa bertemu kembali

Jakarta, 26 Maret 2018
Pukul 14.39

Foto menanti kereta datang.

Sabtu Bersama Apa

Posted: March 24, 2018 by Eva in Pribadi

Biasanya setiap akhir bulan tiba
aku selalu rindu bertemu Apa
Pulang kampung ke sejenak lari
dari keramaian ibu kota.

Kini setiap sabtu tiba
Aku tidak pernah lagi melihat Apa
Rindu memeluk dan melihat senyumnya
Bercengkrama dan menemaninya nonton bola

Pengobat rindu, selain doa, ada lagu yang syahdu untuk ayahku yang telah tiada.

Pamulang, 24 Maret 2018

Ayah oleh Panbers

Lembut wajahnya terlukis di bingkai
Wajah yang tenang dan sayu
Ku lihat redup syahdu memilu ayahku ayahku

Waktu lampau tetap ku ingat
Untuk ku kenang, untuk ku rasa
Kini hanya wajah bayangan
Terlukis dalam ingatan

Hanyalah ini pelepas rinduku
Untuk ayahku, untuk ayahku
Untuk ayahku, untuk ayahku

ini ada video amatiran, aku gak begitu bisa buat video tapi belajar, mohon maaf jika kurang bagus, video amatir pengobat rindu.

Rasa kebersamaan dan kedekatan, dirasakan oleh hampir semua Peserta Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pendidikan Masyarakat (DIKMAS) pada 14-20 Agustus 2017 silam. Begitu juga dengan Dwi Asti SPd. PAUD, Guru Taman Kanak-Kanak (TK) Mamba’ul Ulum, Bajubang, Provinsi Jambi. Pengalaman berharga ini mungkin tidak akan terulang sepanjang hidupnya.

Perempuan hitam manis berkaca mata ini tidak menyangka akan menjadi juara III Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional. Penghargaan ini merupakan anugerah yang sangat luar biasa sekaligus amanat yang senantiasa ia emban untuk memberikan yang terbaik dalam segala hal. Ada segurat pesan yang ingin disampaikan kepada sesama peseta. ”Buat para guru seperjuangan agar jangan pernah takut untuk melangkah dan berinovasi serta berkreativitas” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini kalem.


Disiplin Tinggi Anak Petani Karet

Dwi Asti lahir pada 24 Desember 1985 di sebuah desa kecil di Desa Bajubang berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bernama Sunarto sang Ibu Wasiati, bekerja sebagai petani karet dan sekolah hanya sampai tingkat Sekolah Dasar. “Dari kecil saya diajarkan untuk kerja keras, tanggung jawab dan menghargai waktu serta disiplin untuk segala hal,” ujar Asti.

Sebagai anak tengah, Asti kecil terbiasa membantu mengatur keluarga. Saat kelas 6 SD, sang ibu menderita sakit parah cukup lama dan harus dirawat di rumah sakit ditunggui sang Bapak. “Sejak itu urusan rumah tangga dari memasak, mencuci pakaian dan piring, menyapu sampai menggosok baju saya lakukan dengan penuh tanggung jawab, sadar harus menggantikan posisi ibu,” ucapnya.

Ada kenangan yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya berkaitan dengan ketiadaan uang saat ia harus membayar uang Lembar Kerja Siswa (LKS) menjelang ujian sekolah. Asti tidak berani meminta ataupun meminjam kepada kerabat, akhirnya ia memecahkan celengan yang isinya uang koin. “Saya membayar uang Buku LKS itu dengan uang koin ke sekolah. Sedih rasanya,”ujarnya.


Jangan Menilai Sesuatu Dari Uang

Kepahitan dalam hidup telah membentuk kepribadian Asti menjadi sosok yang tangguh. Lulus SMA ia selalu mencari lowongan di koran. Sebelum menjadi guru TK ia pernah bekerja sebagai sales, hingga akhirnya ada kesempatan menjadi guru honorer untuk megikuti pendidikan 6 bulan menjadi pendidik anak usia dini dengan biaya yang tidak terlalu mahal.

Setelah berkonsultasi dengan orangtua dan didorong kecintaannya terhadap anak, Asti mengikut pendidikan itu, dan langsung mengajar sesudahnya. “Akan tetapi saat itu tawaran mengajarnya jauh ada di luar kota, Ibu mengizinkan tetapi dia mengatakan kalau ada tempat yang dekat berapapun gajinya di syukuri saja,” ujar Asti yang membuat ia berpikir panjang.

1522895262970

Dengan beberapa pertimbangan, Asti memutuskan untuk menjadi honor di TK dekat dengan rumahnya dengan harapan dapat memberikan yang terbaik buat lingkungan. “Ibu selalu mengingatkan untuk tidak menilai sesuatu dari uang. Berapapun honor yang di terima di syukuri,” kata Astri.

Selain itu, dalam setiap pekerjaan Asti tidak mau asal-asalan, selalu menginginkan yang terbaik sebisa mungkin bekerja profesional. Asti juga tidak malu belajar dan menanyakan pada guru-guru
senior yang sudah banyak pengalaman mengajar.

“Akhirnya ada jalannya saya kuliah S1 PAUD bea siswa dari Universitas Terbuka Tahun 2008,” ucap Asti girang.

Sebagai guru profesional Asti selalu berpikir positif, sebab profesi guru adalah kemulian apalagi guru Anak Usia Dini. Anak-anak masih bersih Dan suci. Jika Ada waktu luang sempatkan diri untuk selalu haus akan informasi tentag anak usia dini.

Di sela kesibukannya mengajar, Asti suka membaca buku-buku seputar anak usia dini maupun psikologi perkembangan buat inovasi dalam pembelajaran ataupun bagaimana menstimulasi perkembangan anak usia dini yang baik dan benar.

“Karena kita adalah guru kedua mereka setelah ibu mereka dirumah. Samakan persepsi pengajaran di rumah dan di sekolah agar tujuan kita memberikan pondasi karakter melekat pada diri anak sertã konsep-konsep dalam pembelajaran,” ujarnya tegas.

Mengembangkan Kognitif Lewat Permainan Cokabar

Saat ini, Asti sedang kuliah S2 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Sifuddin Jambi. Meraih gelar Master bukan untuk mengejar titel mentereng, namun untuk mengembangkan diri sertã memperluas pengetahuan untuk mewujudkan pendidik yang profesional.

Karya nyata Asti yang dipersentasikan dalam kegiatan Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional kemarin berjudul “Permainan Cokabar Dalam Mengembangkan Kognitif Anak Usia Dini Di Kelompok B1 Tk Mamba’ul Ulum Bajubang”.
Permainan Cokabar adalah singkatan dari permainan Cocok Angka dengan Gambar.

Ide Cokabar adalah terinspirasi dengan coklat cukybar yang rasa nya enak dan disukai oleh banyak kalangan anak-anak hingga dewasa. Diharapkan dengan permainan ini anak-anak juga dapat menyukai permainan ini. “Seperti kita ketahui otak akan dapat menerima sesuatu jika dalam keadaan senang. Dan sejalan dengan prinsip pembelajaran di taman kanak-kanak salah satunya anak bermain seraya belajar atau belajar seraya bermain,” ujar Asti menguatkan alasan.

Latar belakang Asti mengangkat masalah kognitif khususnya tentang lambang bilangan. Sebab banyak anak- anak yang kurang memahami bentuk lambang bilangan dengan angka/ bilangan yang di sebut/ diucapkan oleh anak. Anak – anak hapal untuk berhitung 1-10 tetapi untuk menunjukkan bentuk lambang bilangan abanyak yang kurang memahaminya.

Jangan Sombong dan Menunda Pekerjaan

Berkat Cokabar, Asti meraih juara III Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional. Penghargaan pemenang guru prestasi ini merupakan anugerah yang sangat luar biasa bagi Asti. Sekaligus amanat yang diemban buat senantiasa berusaha memberikan yang terbaik dalam segala hal.

Ajang kompetensi yang bergengsi ini bukan lah sesuatu yang dapat membuat kita menyombongkan diri tetapi juga ajang silaturahmi antar pendidik di seluruh provinsi. Di tempat ini lah kita di ajarkan untuk profesional.” Jangan pernah sombong dengan apa yang telah Allah berikan hari ini, jangan pula menunda pekerjaan. Teruslah berkarya buat negeri tercinta kita menjadi pendidik anak usia dini yang profesional,” pungkas Asti (ER)

Dwi Asti SPd.AUD
Juara III
Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional 2017

Siang itu cuaca sangat panas dan terik. Seorang kurir agen logistik mengagetkan saya dengan sebuah paket yang membuat saya gembira. Satu bundel majalah Basis edisi 01-02 tahun ke-67 2018 akhirnya tiba di rumah saya dengan selamat.

Ada empat tema besar kali ini seperti “Framming Gerakan Sosial”, “Ikonoklasme atau Idoloklasme”, Sayyid Ahmad Khan, Metode Kritis Rasional Pendidikan Sebagai Jalan Kemajuan, dan “Mencintai Boneka Mayu”.

Penantian majalah dua bulanan ini mengobati kerinduan saya yang sudah sangat lama  tidak pernah membaca Majalah ini.

Dejavu 15 tahun lalu

Bagaimana tidak, pada tahun 2000-2003 saat masih kuliah di kota Gudeg, meskipun saya kuliah di IAIN Sunan Kalijaga saya sering berkunjung ke Perpustakaan Sanata Dharma biasanya hari Senin, sambil membaca rubrik Pustakaloka yang memuat resensi buku, membuat saya betah berlama-lama di perpustakaan Sanata Dharma. Menunggu tulisan saya dimuat, atau siapa penulis yang hari ini resensinya di muat di Pustakaloka.

Selain alasan diatas, posisi perpus Sanata Dharma lokasinya di Mrican lebih dekat dengan rumah kakak di Condong Catur, perpustakaannya juga sunyi senyap dengan 800 lebih judul buku dan buka sampai jam 8 malam saat itu. Kalau ke perpus UIN Suka harus naik bis lagi, jadi saya suka singgah disitu tapi tidak sering, cuma tiap hari senin.

Di sana pula saya menemukan buku-buku lama yang terawat dengan rapi baru diantaranya karya-karya Romo Mangun Wijaya seperti “Burung-Burung Manyar” dari Penerbit Djambatan, serta karya-karya sastra inggris seperti Isabel Allende, dan karya lainnya yang beraneka ragam.

Nah sebelum membaca buku, biasanya saya ke bagian koran dan majalah, disanalah saya tidak pernah melewatkan Majalah Basis setiap edisi kala itu. Tidak terasa sudah 15 tahun, setelah hijrah ke Jakarta dan menetap di Depok (2003-2018) saya tidak pernah membaca Majalah Basis.

Tempo hari waktu saya ke Jogja, saya sengaja mampir ke perpus Sadhar, sekedar bernostalgia dan mengingat tempat saya mojok di lantai paling bawah. Masih seperti dulu, sunyi senyap, bedanya sekarang kalau mahasiswa di luar Sadhar, jika berkunjung ke Perpus membayar 25.000 selama satu hari. Tutupnya pun lebih malam.Di atas jam sembilan malam.

Saya Dejavu dan sedikit terharu mengingat masa-masa dulu saya sendirian tenggelam bersama buku, hingga tutup jam 8 malam. Kerinduan membuncah akan masa-masa itu, namun karena harus segera ke Panti Rapih, saya memfotokopi buku ke lantai tiga. Nah, disinilah bermula, mata saya tertuju pada Majalah Basis edisi Media Sosial dan Mobokrasi. Saya membaca, namun tidak sampai selesai.

Sesampai di Jakarta, saya mencoba menghubungi redaksi Majalah Basis dan memutuskan berlangganan, hingga akhirnya hari ini saya mulai membacanya.

Padat, Berisi dan Artistik

Satu hal yang saya suka dari Majalah Basis ini adalah isinya yang padat, berkualitas dan ilustrasi gambar yang artistik atau nyeni. Kajian historis, filosofis menjadi ciri khas dikaitkan dengan kondisi sekarang yang aktual. Sehingga kita akan dibawa pada petualangan intelektual yang tidak kering, namun kaya khazanah dengan bahasa yang mudah dicerna. Sampulnya selalu menggoda dan syarat interpretasi.

Untuk edisi ke -67, Majalah yang dipimpin oleh Sindhunata ini mengawalinya dengan rubrik Tanda-tanda Zaman, berjudul “Mencintai boneka Mayu” kisah yang menceritakan seorang fisioterapis Jepang bernama Masayu Ozaki yang mencintai boneka silikon sebagai pasangan hidup.

Saya sempat tersenyum simpul membaca rubrik ini, karena tidak menyangka ya, bagaimanapunn juga seorang suami tidak suka perempuan egois, dingin dan suka mengomel. Masayu lebih memilih boneka silikon seharga 70 juta yang sangat ia cintai.

Lembar demi lembar saya simak dengan gembira, pada rubrik kaca benggagala, radaksi Basis menampilkan tulisan tentang Ikonoklasme atau Idoloklasme yang ditulis mendalam oleh dosen STF Drijarkara Dr.A.Setyo Wibowo. Penulis
membuka dengan pemikiran kontemporer Prancis Jean Luc Marion yang membedakan ikon dari idola, kelihatannya istilah ikonoklasme harus diapresiasikan sebagai idoloklasme.

Masih banyak sebenarnya rubrik lain yang bagus, namun saat saya menulis sekarang ini belum semua rubrik saya baca sampai tuntas. Baru saya baca judulnya saja. Jadi jika anda ingin membaca semua isinya, silahkan membelinya atau berlangganan.

Namun karena minat saya pada buku, saya membaca rubrik pendidikan berjudul “Membaca: Minat atau Kemampuan” yang ditulis oleh Dian Vita Ellyati, serta kupas buku “Risalah Yap di Kursi Pesakitan” karya Muhammad Yunan Setiawan dan rehal buku “The Belly of Paris karya Emile Zola, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2017 yang dikupas oleh Laila Sari.

Itu saja sekilas tentang sebagian isi dari Majalah Basis edisi awal 2018 ini. Semoga bisa saya tuntaskan membacanya di akhir pekan ini. Terimakasih Pak Anang dari Majalah Basis yang merespon cepat, ketika dihubungi minggu lalu. Sesuai slogannya “Menembus Fakta” saya akan selalu menunggu fakta-fakta yang terungkap di edisi berikut-berikutnya.

Depok, 23 Maret 2018 Pukul 13:39

Air, seperti halnya tanah, api dan udara adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Sudah selayaknya kita hemat, jaga, dan lestarikan sepanjang masa.Anugerah yang luar biasa dari yang maha Kuasa.

Ada beberapa beberapa hal yang sering tidak kita sadari tentang kebiasaan kita terhadap air.

Pertama, jika minum air baik air putih, kopi, teh atau susu, sirup dan sejenisnya jangan lupa harus dihabiskan.

Kedua, Jika di suatu acara kita disuguhi air kemasan, jangan lupa juga harus dihabiskan dan botol atau cupnya kita buang. Jangan sampai selesai acara bertebaran botol-botol berisi air baru diminum sedikit atau setengah sudah ditinggalkan begitu saja.

Ketiga, jika kita menyiram tanaman, mandi, mencuci piring atau pakaian, sesudahnya jangan lupa keran dimatikan dengan rapat jangan sampai menetes karena jika lama-lama tetesan air itu akan sia-sia.

Keempat, jangan lupa bawa botol minuman atau thumbler jika bepergian kemanapun anda pergi. Jika kita hemat air dari sekarang berarti kita memberi kehidupan yang lebih baik bagi masa depan anak cucu kita. Jangan sampai mereka tidak bisa mandi atau membeli air dengan harga tinggi karena airnya sudah kita habiskan dari sekarang.

Kelima, jika musim hujan tiba, jangan lupa keluarkan ember-ember yang kita punya, baskom dan lain sebagainya untuk menadah air hujan. Setelah terkumpul bisa buat mandi, wudhu, mencuci, atau menyiram tanaman.

Di negara kita air melimpah, kecuali mungkin di beberapa daerah di Indonesia Timur seperti NTT. Coba lihat saat anda berkunjung ke luar negeri, di beberapa negara banyak toilet yang tidak menyediakan air, harus pakai tissue, begitu juga di Afrika mereka kesulitan air. Jadi bersyukurlah kita tinggal di Indonesia yang memiliki banyak sumber mata air.

Mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan tentang hal-hal sederhana yang mungkin karena satu atau dua hal kita lupa berkaitan dengan air yang ada di sekitar kita. Tidak bermaksud menggurui, hanya sekedar berbagi.

Semoga bermanfaat.

Selamat memperingati hari air sedunia 2018, World Water Day 2018.

Depok, 14.47 WIB

Anda pasti sering menggunakan Google ketika ingin mencari informasi di berbagai bidang kehidupan. Enakkah jika ada sebuah analog Google khususnya untuk pencarian loker?

Informasi terbaru tentang semua loker di 64+ negara di seluruh dunia dapat Anda temukan pada Jooble, agregator lowongan kerja internasional.

Keuntungannya adalah bahwa semua postingan terdapat pada sumber yang sama. Anda tidak perlu menghabiskan waktu untuk browse lama atau mencari informasi di berbagai situs web kecil.

Dengan Jooble, Anda cukup memasukkan judul posisi serta lokasi yang diinginkan untuk mendapatkan akses ke ribuan lowongan aktual di seluruh dunia. Selain itu, mereka yang tinggal di kota-kota kecil, dapat memakai “pencarian lanjutan” untuk mencari peluang kerja di berbagai provinsi dan daerah dalam satu detik.

Satu situs web – semua loker! | One site – all jobs!

Jooble

Aku menemuimu pagi itu
Gadis belia yang masih TK
Lincah gemulai tersenyum ceria
Sesekali bergelayut manja

Acha, kulitmu putih seperti ibumu
Matamu sipit seperti ayahmu
Namun bukan itu yang aku suka darimu
Aku justru suka gaya rambutmu

Rambutmu dikuncir dua
Saat kita berjalan bersama
Rambutmu bergoyang mengikuti irama
Senangnya aku melihatmu berdendang ria

Entah kapan aku bisa menemuimu lagi Acha
Mungkin kelak jika kamu dewasa
Jadilah gadis yang berbakti ya Nak…
Seperti harapan ayah bundamu yang masih muda

Puisi  buat Azcha Arivya Myiesha di Serang

Kehilangan

Posted: March 21, 2018 by Eva in Puisi
Tags: ,

 

Ibarat awan di langit angkasa
Satu persatu perlahan mengembara
Kadang timbul, kadang tidak ada
Itulah dirimu yang enggan menyapa

Ada rasa bersalah dari hati yang terdalam
Meski rasa ini kusimpan dalam-dalam
Semoga tidak menjadi api dalam sekam
dan kamu pun tak menyimpan dendam

Biarlah kamu pergi bersama awan-awan itu
Seperti saat dulu kamu belum bersamaku
Saat-saat masa aku berjibaku
Dengan segenap rasa sakit yang menderaku

Aku tahu aku tak pernah meninggalkanmu
Tapi jika kamu ingin meninggalkanku itu
Adalah hakmu, pilihan hidupmu
Aku pun tidak akan mengganggu

Biarlah aku disini dengan sejenak menepi
Mengamatimu dari jauh sambil menyendiri
Maafkan aku sepenuh hati
Biarlah aku tenggelam bersama puisi

Puisi untukmu Sahabat
Jakarta, 21 Maret 2018

Perempuan berkulit putih dan berkacamata itu tidak menyangka, perjuangan mengikuti Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Berprestasi akan berakhir pilu. Meski menorehkan prestasi sebagai juara II Guru Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional, Fransiska S.Pd. AUD tidak akan melupakan bagaimana ujian hidup kepada dirinya tidak berhenti mendera.

Untuk bertanding di tingkat nasional, Siska tidak menyangka akan membutuhkan biaya besar. Ia berusaha membicarakannya dengan Kepala TK. Namun, reaksinya mengecewakan. Pihak sekolah tidak bisa membantu secara finansial, Siska harus berusaha sendiri jika ingin maju. “Saya merasa tidak dihargai dan sangat tidak menyangka ketika Kepala TK dimana saya mengajar justru ingin memotong gaji saya karena tidak masuk kerja selama mengikuti kegiatan guru berprestasi,” ucap Siska.

Pada 14-20 Agustus 2017 Fransiska mengikuti kegiatan Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) PAUD DIKMAS yang diadakan Direktorat Pembinaan GTK PAUD DIKMAS di Jakarta. Selama seminggu ia meninggalkan anak, keluarga dan murid-muridnya di TK Al-Hikmah Kalidoni Palembang, Sumatera Selatan.

Anak Buruh Cuci Pengajar Les Sempoa

Fransiska lahir pada 6 November 1983 di Palembang. Anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Bapak Salik dan Ibu Lenni lahir dari keluarga sangat sederhana. Untuk mencukupi kebutuhan Pak Salik saya bekerja sebagai buruh bangunan dan BU Lenni menjadi buruh cuci di Kalidoni.

Berkat kerja keras orangtua, Siska bersama dua saudaranya berhasil melanjutkan sekolah sampai tingkat SMA. Bahkan, kecerdasan Siska sudah terlihat sejak kecil hingga remaja, terbukti selalu mendapat peringkat bagus dan lolos masuk SMUN 5 Palembang,salah satu SMU Unggulan di kota Palembang.

Namun sayang, karena faktor ekonomi keluarga, istri dari Dian Wahyudi ini tidak bisa melanjutkan kuliah. Setamat SMU dia melamar kerja bekerja menjadi guru di Tk Al-Ikhlas, namun karena jauh dari rumah ia berhenti megajar. Pada tahun 2004 ia melamar kembali menjadi guru di Tk Al-Hikmah 2 dan TKA/TPA Nurdini yang tidak jauh dari ia tinggal. Setelah menjadi guru selama 4 tahun saya memutuskan untuk lanjut kuliah. “Saya ingin menambah ilmu pengetahuan karena memiliki banyak kekurangan, Dikarenakan latar belakang pendidikan saya yang hanya lulusan SMA. Saya pun mulai masuk kuliah S1 PAUD di Universitas Terbuka (UT) pada 2008,” ucap Siska.

Gaji sebagai guru TK dan TPA sangat kecil, apalagi hanya tamatan SMA, ibu dua anak ini merasa tidak akan cukup. “Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mengajar les sempoa dan les privat. Saya juga dapat bantuan dari pemerintah untuk dana kualifikasi S1/D4. Lulus kuliah pada tahun 2012 dengan IPK 3,45,” ujar Siska Gembira.

Menangis Ingat Anak Saat Penjurian

Sejak menikah pada 2011, Siska memiliki dua anak laki-laki lucu, bernama Achmad Fathan Siswahyudi dan Achmad Hilal Ramadhan. Pada tahun 2013 Siska ditugaskan oleh kepala sekolah untuk mengikuti seleksi pemilihan guru berprestasi tingkat kecamatan kalidoni dan saya berhasil meraih juara pertama. Namun saya tidak mau melanjutkan ke tingkat kota Palembang. Hal ini dikarenakan saya baru saja melahirkan anak saya yang pertama.

Pada tahun ini, Siska mengikuti lagi ajang pemilihan Guru TK Berprestasi. Setelah lulus di tingkat kecamatan untuk lanjut ke tingkat Kota, bermodalkan laptop pinjaman dari yayasan ia gunakan sampai ke tingkat nasional. Sekuat tenaga ia memberikan yang terbaik bagi dan mempersiapkan materi sebagus mungkin.

Ada momen yang membuat Siska tidak kuat menahan air mata. “Saat tes wawancara saya sempat menangis di depan juri dikarenakan teringat kedua anak saya. Karena pengorbanan yang paling besar mengikuti seleksi lomba guru berprestasi bukan hanya sekedar materi tapi juga kehilangan waktu bersama anak-anak saya. Karena sebelumnya saya tidak pernah meninggalkan kedua anak saya dalam waktu yang cukup lama,” ucapnya sendu. Di tingkat Kota Palembang ia berhasil menjadi juara I, berhadiah ibadah Umroh yang ia berikan kepada ayahanda tercinta.

Meski sudah menang, Siska masih mendapat cibiran dari rekannya bekerja. “Mereka mengatakan kalau saya menang hanya karena kebetulan saja. Namun saya tidak berkecil hati, saya tetap memberikan yang terbaik, hasilnya tidak sia-sia hingga berhasil mendapatkan juara pertama kembali di tingkat provinsi,” ungkapnya terus terang.

Inovasi Ulat Bulu Meningkatkan Kemampuan Bahasa

Mendapatkan predikat guru berprestasi menjadi beban cukup berat bagi Siska. Karena dia harus memberi contoh teladan baik dalam sikap dan perilaku saya bagi anak murid, rekan guru, wali murid dan masyarakat.

Untuk mengikuti pemilihan guru berprestasi ini Sisja menulis karya nyata yang merupakan inovasi dari hasil pemikiran dan pengalaman selama ini berjudul “Upaya Meningkatkan Kemampuan
Bahasa Melalui Membaca Menggunakan Permainan Kata Dan Si Ulat Bulu Pada Anak Kelompok B1 Tk Al-Hikmah 2 Kalidoni Palembang”.
Tentu ada argumen kuat mengapa ia mengangkat judul ini? Menurut Siska, fenomena yang terjadi di lapangan bahwa banyak SD yang mengajukan persyaratan atau tes masuk dengan menggunakan konsep akademik terutama tes “membaca dan menulis”. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan strategi pengembangan yang sesuai dengan karakteristik anak Taman Kanak-kanak dan pengembangannya harus tetap berpijak pada prinsip-prinsip dasar yang hakiki. Di mana pendidikan sebagai wahana untuk mengembangkan berbagai kemampuan praskolastik yang lebih subtansial.

Pemilihan model pembelajaran permainan kata dan si Ulat Bulu dapat menjadikan sebuah alternatif dalam pengembangan kemampuan membaca. Permainan kartu kata dan si Ulat Bulu memberikan suatu situasi belajar yang santai dan informal, bebas dari ketegangan dan kecemasan. Anak-anak dengan aktif dilibatkan dan dituntut untuk memberikan tanggapan dan membuat keputusan.

Harapan saya prestasi ini jangan sampai membuat saya merasa puas. Karena perjuangan tidak hanya sebatas meraih predikat sebagai guru berprestasi, tetapi masih banyak yang perlu diperjuangkan. “Rencana saya ke depan saya harus menambah wawasan saya tentang pendidikan Anak Usia Dini sehingga bisa membuat pembelajaran yang lebih inovatif lagi. Saya juga harus mendorong pengembangan guru-guru menjadi guru yang profesional bukan hanya sekedar pengakuan tetapi realita,” pungkasnya optimis. (ER)

Fransiska S.Pd.AUD adalah Juara II Guru TK Berprestasi tingkat Nasional 2017

Sekedar berbagi teman-teman adakah yang pernah mengalami pakaian baik baju atau celana kita kena goresan pena atau bercak tinta? saya akan berbagi sedikit pengalaman yang saya alami hari ini.

Celana saya kena bercak tinta merah dan garis pena warna biru di bagian kanan. Sangat mengganggu dan jika dipakai kelihatan tampak kotor.

Saya berusaha bertanya baik kepada kerabat, sahabat dan mbah google, hingga akhirnya saya menemukan cara sederhana dari berbagai penemuan tersebut.

1. Rendam bagian celana yang kena tinta dengan sabun cuci piring.
2. Setelah itu sikat dengan hati-hati, goresan pena sudah menghilang tapi bercak tinta masih sulit.
3.Bagian bercak tinta yang mengembang, taburi dengan baking soda, yang biasa buat kue, diamkan agak lama (setengah jam) hingga akhirnya nodanya perlahan pudar dan menghilang
4. Sikat halus dan noda pun hanya tinggal sedikit, setelah itu kucek-kucek pakai air sabun sedikit, lalu nodanya menghilang, bilas dan bersihkan.
5. Usai dibersihkan, keringkan di mesin cuci lalu jemur pakaian atau celana anda dan tampak bersih seperti sediakala.

Selamat mencoba yaa….

Selamat Hari Raya Nyepi

Posted: March 17, 2018 by Eva in Artikel
Tags:

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi Caka 1940, kepada semua umat Hindu yang ada di Indonesia dan di belahan dunia lain.

Semoga bisa diperingati dengan syahdu dan penuh makna.

Salam…

Seorang ibu-ibu berbadan gemuk membawa seorang anaknya mengamen di bis Mulya jurusan Serang-Kalideres.Tiga lagunya asyik-asyik dan enak di dengar.

Berikut lagu pertama

Rindu Berat oleh Camelia Malik

Kau suka ku cinta
jadinya sama-sama
Kau rindu ku kangen
jadinya satu sama

Kalo sudah begini, sayang
berpisah ku tak kuat
Jangankan satu minggu, sayang
Sehari ku rindu beraaat

Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Kau cinta kau suka

Kau dan aku sama-sama sudah dewasa
Wajar saja kalo kita sudah menyinta

Aku mau walaupun hidup seadanya
Asal cinta tak kan pernah terbagi dua
Dirimu diriku bagaikan kancing dan baju
Kemana bersama bagai Romie da Juli

Kau suka ku cinta
jadinya sama-sama
Kau rindu ku kangen
jadinya satu sama

Kalo sudah begini, sayang
berpisah ku tak kuat
Jangankan satu minggu, sayang
Sehari ku rindu beraaat

[Reff:]
Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Lagu Kedua

Wulan Merindu
By: Cici Paramida

Sunyi Sepi Malam Tanpa Sinar Bulan
Sesepi Diriku Sendiri Dalam Penantian
Tak Tahan Rasanya Gelora Di Jiwa
Ingin Segera Bertemu

Duhai Kekasihku Duhai Pujaanku
Aku Rindu Kepadamu
Sekian Lamanya Kumemendam Rasa
Tak Tertahan Lagi Rasa Gundah Di Dalam Dada

Teringat Dirimu Terbayang Kau Selalu
Setiap Malam-malamku
Datanglah Sayangku Hadirlah Kasihku
Wulan Ini Merindumu

Betapa Indahnya Dunia Terasa
Bila Kau Ada Di Sisiku
Alangkah Syahdunya Seakan Terasa
Bagaikan Ku Di Alam Surga

Bawalah Diriku Oh Sayang
Kuingin Selalu Bersamamu
Tak Sanggup Lagi Diri Ini
Berpisah Denganmu Kasih

Cintaku Sayangku Kasihku
Kuserahkan Hanya Kepadamu
Semoga Tuhan Merestui
Bahagia Selamanya

Lagu ketiga

Iming-Iming oleh Rita Sugiarto

Haa..haaaa…
Haaa haaaa…
Bulan yang engkau janjikan
Bintang malam kau tawarkan
Yang ada hanya celakaaa…
Karena hati.. kau sakiti..

Ku..rang apakah..
ya.. aku ini..
baik sudah cantik juga sudah
Di matamu

Musim hujan kepanasan
Musim panas kehujanan
Pantaslah saja diriku
Selalu dalam keresahan

Kau janji janji..
Kau tawar tawar..
Kau janjikan kau tawarkan cinta
Iming-iming saja

Cinta siapa..
Rindu siapa..
Kalau cinta milik orang lain
Ya percuma saja
Biarlah.. diriku..
sendiri.. sendiri saja..

Musim hujan kepanasan
Musim panas kehujanan
…..

Cukup sampai disitu Ibu itu mempersembahkan lagu, dia turun di Balaraja.

Lumayan lama dia menyanyi diiringi hujan deras di luar sana.
Saya sempat videokan, coba simak ya..

Selama saya tinggal di Pondok Petir, Depok, berbatasan dengan Pamulang, belum sekalipun saya main ke Kabupaten Lebak. Padahal tempat tinggal saya  dekat Tangerang Selatan, termasuk dekat. Baru pada bulan Februari lalu saya berkunjung ke  Kabupaten Lebak, naik KRL (Commuter) dari Sudimara ke Stasiun Rangkas Bitung. Saya berangkat pagi-pagi sekali  dan ternyata memang  jauh sekali perjalanan dari Sudimara ke Rangkas Bitung lebih dari satu jam perjalanan.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika anda bersama keluarga mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah di Provinsi Banten yang terkenal dengan penduduk aslinya Suku Baduy. Saya pun tidak menyesal berkunjung ke tempat ini, karena selain tempatnya mudah dijangkau (tidak jauh dari stasiun), datang ke sini juga anda (bebeunangan, bahasa Sunda-ed) artinya dapat banyak.

Kenapa dikatakan demikian, karena ada tiga tempat yang  anda bisa kunjungan yang terpusat di satu lokasi. Sehingga anda betah berlama-lama di sini. Pertama, mengunjungi perpustakaan Saidjah Adinda, setelah membaca koleksi buku, kemudian menonton film sejarah, kedua, berkunjung ke Museum Multatuli yang baru saja diresmikan dan sebelum pulang anda bisa mengunjungi cara pembuatan batik lebak yang berada persis di belakang museum, proses produksi, penjahitan sampai penjualan. Tidak ada salahnya, tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata anda bersama teman, kerabat, atau keluarga, baik yang berada di Jakarta ataupun pinggiran ibukota.

Perpustakaan Saidjah Adinda

Moda transportasi untuk menempuh ke tiga lokasi ini lokasi  bisa naik apa saja. Dari jalan kaki, naik ojek, hingga angkutan kota. Para pengemudi beragam angkutan disana sudah hapal. Bilang saja nama lokasi yang berada di dekat alun-alun, persisnya di Jl.Alun-alun Timur No.6 Rangkas Bitung, Lebak.

Pertama yang saya kunjungi adalah Perpustakaan Saidjah Adinda. Desain arsitektur perpustakaan ini unik, dengan deretan buku yang beragam. Ada ratusan koleksi buku milik perpustakaan Saidjah Adinda ini, dari sejarah, agama, politik, pertanian, sosial, dan buku bacaan anak-anak.

Berikut beberapa koleksi buku Perpus Saidjah Adinda. Pak Ali Rahmat, meminjami saya buku  bersampul kuning berjudul Max Havelaar.  Dan saya pun membacanya meski tidak sampai selesai.

Saat saya berkunjung, koleksi majalah dan koran yang berada di lantai dua ramai dengan anak-anak yang masih usia SD yang bergiliran juga sambil bermain. Sedangkan koleksi buku dewasa tampak sepi, karena sedang jam kerja sehingga hanya ada beberapa petugas yang merupakan pegawai dan anak muda.

Usai makan siang, perpustakaan mengumumkan ada pemutaran film Max Havelaar, di ruang audiovisual. Saya pun berkunjung kesana, dimana studionya dibuat dari rangkaian bambu. Anak-anak SMA nampak sudah memenuhi studio, dan film pun sudah diputar. Dari film itulah saya mengenal siapa itu Saidjah Adinda yang menjadi nama perpustakaan. Sangat mengerikan tokoh Saidjah dalam film ini, dimana ia seorang perempuan anak petani yang mengenakan caping namun ditendang dengan kasar oleh kolonial dan menjalin cinta tidak sampai dengan Adinda. Lebih jelasnya tentang siapa itu Saidjah Adinda, anda bisa klik link di bawah ini. Saidjah Adinda

Film yang berdurasi cukup lama ini menarik untuk ditonton. Selain mengenalkan sejarah bagaimana Kawedanaan Lebak di zaman kolonial, anda akan lebih paham

Museum Multatuli

 

Setelah melihat koleksi buku, majalah, surat kabar, serta menonton film di Audiovisual, saya berjalan sedikit ke gedung sebelah kanan dimana di situ ada Museum Multatuli. Karena sudah menonton filmnya saya jadi tahu sedikit tentang siapa itu Multatuli, kaitannya dan Max Havelaar, dan alasannya kenapa diabadikan sebagai museum. Museum ini menyerupai rumah tua bercat putih tulang kombinasi kuning gading.

Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada Januari hingga Maret 1856. Berdasarkan pengalamannya di daerah tersebut, dia menulis sebuah novel berjudul Max Havelaar yang pertama kali diterbitkan pada 1860.

Dengan Max Havelaar, Multatuli ingin membuka mata dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia Belanda. Ide-ide itu menginspirasi tokoh-tokoh pendiri bangsa, seperti Soekarno, untuk memerdekakan Indonesia.

Sebagai karya monumental,  novel Max Havelaar, Kabupaten Lebak memutuskan untuk menjadikan bekas kantornya  dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920-an sebagai museum. Menurut Ubaidillah, Museum Multatuli ini direhab dan didesain ulang oleh arsitek dari IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia).

Sejak anda masuk di pintu depan anda akan tertegun dengan karya seni baik foto maupun karya seni lainnya, tentang eksistensi manusia. Sejarah kopi dan pertanian, puisi rendra, serta tokoh-tokoh pahlawan dari Lebak dan nasional. Hening dan senyap anda selama mengunjungi beberapa bagian museum yang dilengkapi dengan pidato tiada henti selama anda mengitarinya.

Tidak begitu besar memang isi dari museum ini, akan tetapi anek koleksi, foto, peta, alur sejarah sampai dengan karya Multatuli sangat lengkap dan padat. Sehingga anda tidak usah berlama-lama di dalam anda bisa larut dalam sejarah zaman kolonial. Jika anda perhatikan betul, akan banyak ilmu dan sejarah yang saya sendiri tidak tahu awalnya nama-nama tokoh antikolonial.

Usai mencermati dan mengambil gambar, saya keluar museum dengan wawasan baru dan banyak hal tentang museum Multatuli. Banyak spot-spot menarik di dalam musem dan luar museum, tapi tidak saya cantumkan disini, biar nanti anda berkunjung kesana saja hehehe…

 Sentra Batik Lebak

Hari sudah beranjak sore, jam tiga saya keluar dari museum. Berjumpa dengan Pak Ubaidillah di pintu belakang saat saya mau ke sentra batik Lebak yang persis berada di belakang Museum. Kita ngobrol sebentar dan sempat ambil gambar. Tidak lama kemudian saya melanjutkan perjalanan ke sentra batik Lebak. Sentra batik ini sangat luas dan terbuka.

Tiga orang anak muda sedang melakukan proses membatik. Ada yang mencap, ada juga dua orang yang mendampinginya. Beberapa batik yang sudah selesai digarap dijemur hingga kering. Setelah itu di sebelah barat ada lelaki setengah baya yang sedang menjahit batik lebak, berupa konveksi yang terhubung dengan pemasaran.

Di bagian depan sentra batik, ada toko yang menjual batik yang sudah jadi. Ada yang dalam bentuk pakaian maupun kain siap jahit. Unik dan bagus corak motif batik Lebak saya perhatikan warnanya cerah. Berikut beberapa koleksinya.

Usai dari Sentra batik, saya lapar dan berencana kembali ke Stasiun Rangkas Bitung untuk melanjutkan perjalanan nanti malam ke Serang. Cukup puas sudah dari pagi hingga sore saya mengitari tiga tempat ini, ada banyak kesan yang mendalam dan wawasan  baru di luar yang saya ketahui selama ini.

Seusai dari sentra batik, wah anak-anak pulang sekolah ramai sekali berkumpul di Museum Multatuli. Ada yang bercengkrama, ada juga yang berselfie ria. Di selasar museum ada juga sekelompok anak muda, sepertinya dari Jakarta sedang berdiskusi serius membentuk lingkaran.

Jadi tunggu apalagi, ini kan hari Jum’at,  besok akhir pekan tidak ada salahnya anda berkunjung ke tiga lokasi ini untuk berwisata sambil menambah wawasan,   sambil jalan-jalan atau menghabiskan akhir pekan.

Pamulang, 10.05 WIB