Generasi Millenial, Berdamai dengan Lingkungan dan Energi

Posted: March 6, 2018 by Eva in Lingkungan, Teknologi

 

Dalam beberapa waktu terakhir saya mengamati anak-anak muda, terutama generasi millenial sekarang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap lingkungan sekitar, terutama sampah. Baik dalam keseharian maupun dalam beberapa acara formal.

Pernah suatu hari saya mengikuti acara pemuda dimana tidak ada air minum kemasan dan snack dus-dusan. Anak-anak muda itu bawa tumbler sendiri dan snack ringan juga tersedia di depan registrasi namun tidak tidak banyak, mereka fokus pada acara yang saat itu membahas tentang peranan anak muda berdamai dengan manusia dan alam.

Tidak semua memang peserta dan pembicara anak millenial, ada juga beberapa orang peserta termasuk panitia adalah orang-orang yang sudah dewasa dan dia terlihat lebih memahami isu-isu terkait sampah di pegunungan karena merupakan kegiatan rutinnya bersama komunitas pendaki gunung.

Selain itu ada juga seorang perempuan aktivis lingkungan yang membahas tentang sampah plastik di pantai yang menjadi kegelisahan nelayan dan aktivis lingkungan. Karena selain sering di makan oleh organisme laut, acapkali ditemukan kandungan merkuri dan plastik pada ikan yang akan berbahaya dan bisa mengakibatkan kanker jika di makan.

Gerakan membawa tumbler ini massif juga sekarang digunakan oleh anak muda di warung kopi. Beberapa warung kopi memberi diskon khusus buat yang membawa tumbler seperti di Anomali Cafe misalnya, meski tidak membuat kartu member seperti warung kopi terkemuka lainnya tapi kebijakannya hampir sama, bisa isi ulang jika habis dan promo setiap ulang tahun atau event. Ini juga merupakan strategi meraih pelanggan.

Belum lama ini juga saya mengamati inovasi anak-anak muda yang berhasil mengelola sampah secara individu. Beragam inovasi mereka, ada yang membeli sampah, sampai dengan batako dari sampah plastik yang ditemukan anak MTs (Generasi Post-Millenial/ gen z*). Beberapa kreasi drum bekas bisa dikreasikan jadi kursi unik di kafe, tutup botol Aqua jadi pin atau aneka kresek warna warni jd bross dan lain sebagainya.

Tentu ini kabar gembira bagi masa depan generasi anak-anak Indonesia yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap lingkungan sekitar dan keberlanjutan (sustainability) bumi. Di luar negeri saya sering melihat di siaran televisi DW Indonesia aneka cara pengelolaan sampah yang sangat modern dan berteknologi tinggi dan Yayasan Bunda Tzu Ci yang juga memiliki jaringan relawan yang luas dalam mendaur ulang sampah.

Anak Muda dan Tantangan Energi

Masih dalam acara yang sama, ada seorang gamers anak muda yang memang kerjanya membuat games dan mengikuti aneka lomba games. Di sinilah kekhawatiran saya sebagai emak-emak yang gelisah dengan ketergantungan anak sekarang terhadap permainan games di gadget.

Saya melihat sendiri bagaimana sekarang setiap orang memiliki gadget tidak hanya satu. Selain main games, juga aktif di media sosial. Saat mulai bekerja, hp menyala, laptop menyala, powerbank di cas kali sekian ratus juta pengguna. Itu adalah rutinitas hampir sebagian besar rakyat Indonesia yang sebagian besar sudah terhubung dengan internet (data pengguna akurat terus berubah). Terbayang kan, bagaimana energi listrik tersedot setiap harinya oleh kita sebagai konsumen. Apalagi era sekarang hampir setiap rumah tersambung wifi.

Pasti banyak yang bete kan, jika saat update status atau menulis di blog, listrik mati. Itulah ketergantungan kita terhadap energi sangat tinggi. Bagi anak milenial dan post milenial tidak begitu merasakan dampaknya, karena bisa lari ke kafe atau tempat lainnya tapi bagi kita emak-emak ini, tidak hanya listrik mati yang bikin bete, tapi tagihan listrik juga naik kalau kita tidak hemat.

Meskipun demikian, saya juga mengamati anak-anak muda sekarang dengan segala kreatifitas yang dimiliki sudah banyak yang memikirkan bagaimana membuat energi terbarukan. Maski inovasi mereka tidak semasif pengolahan sampah lingkungan dan masih belum teruji secara profesio nal tapi semangat inovasi ke arah sana sudah ada. Acapkali temuannya justru mengejutkan.

Energi terbarukan selama ini dianggap menjadi solusi dalam rangka energi berkeadilan, disamping penghematan tentu saja. Namun, biaya untuk energi terbarukan itu sangat  mahal dan butuh keberanian untuk melakukan terobosan.

Keadilan energi dalam penerangan listrik di Jawa dan luar Jawa yang menjadi sorotan selama ini juga sudah lama menjadi bahasan baik oleh NGO maupun pemerintahan. Namun, saya baru tahu ternyata beberapa pelosok Indonesia Timur yang masih gelap itu karena pemasangan infrastruktur energi listrik di daerah tersebut berbiaya tinggi (high cost) tidak seimbang antara biaya pemasangan dengan penduduk di daerah tersebut yang jauh berpencar dimana yang akan pasang rumah mungkin hanya 20 orang atau kurang (misalnya), padahal biaya pasang dari gardu listrik ke rumah tersebut mahal karena jaraknya sangat jauh.

Jadi ingatlah, ketika kita semua, orang tua, dan anak muda, ketika kita sedang asyik berselancar di dunia maya, hemat-hematlah  energi listrik. Biar listrik di negara kita tidak tersedot di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan saja, tapi juga bagian Indonesia lainnya yang masih gelap gulita.

Tulisan ini hanyalah pengamatan pribadi saja, tentu masih banyak ya anak muda lainnya juga yang justru kurang peduli, baik terhadap lingkungan ataupun energi,  tentu itu di luar pengamatan saya.

Namun ada satu hal yang menarik dari kecendrungan anak muda sekarang dalam melakukan perubahan terkait dengan lingkungan dan energi ini banyak diantaranya adalah independent. Mereka enggan dikaitkan dengan kepentingan politik tertentu.

Buat peneliti, akademisi, anak millenial dan post- millenial yang memiliki kecerdasan dan daya inovasi tinggi semoga terus berkarya dan membuat terobosan baru dalam mewujudkan keadilan energi  bagi kita semua.

Pondok Petir, 6 Maret 2018
Pukul 12.24

*) Ket:Generasi Post- Millenial / generasi Z? biasa disebut juga dengan iGenCentennials atau Plurals, adalah generasi yang lahir setelah generasi Y (Generasi Millennial). Kebanyakan anak-anak yang lahir setelah tahun 2000 kebawah.

Advertisements
Comments
  1. […] Meskipun bagi kalangan petani di desa, berjalan kiloan meter atau bersepeda ke sawah itu sudah lama di lakukan sejak kecil hingga menjelang hari tua. Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang anak muda kekinian yang peduli energi dan lingkungan silahkan klik di sini Anak Muda Peduli Lingkungan dan Energi […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s