Dari Centhini Hingga Babad Tanah Jawi, Koleksi Naskah Kuno Perpustakaan Jawa Tengah

Posted: March 8, 2018 by Eva in Artikel, Buku dan Media, Perpustakaan
Tags:

Saat ini, koleksi naskah-naskah kuno sulit ditemukan jika anda ingin memilikinya. Akan tetapi jika anda ingin  membaca dan mendalami beberapa naskah kuno yang terawat dengan rapi anda bisa mengunjungi Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah.

Ada banyak koleksi naskah kuno seperti 12 seri Serat Centhini, Perjanjian Gianti – Perang Diponegoro (Sekitar Jogjakarta 1755-1825), Serat Smaradahana, Serat Gembring Baring, Serat Babad Dipanegara, hingga Babad Tanah Jawi.

Babad Tanah Jawi pun ada dua judul. Pertama Babad Tanah Jawi karya Sudibjo Z.H yang diterbitkan Dinas Pendidikan dab Kebudayaan pada 1980,  dan Babad Tanah Jawi yang disusun olehW.L.Olthof Belanda tahun 1941. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit narasi Jogjakarta pada 2007.

Dari sekian banyak buku tersebut, disini saya akan mengulas secara singkat dua buku saja, yaitu Centhini dan Babad Tanah Jawi.

Centhini adalah sebuah buku tua, tidak saja tua umurnya, tetapi juga tua isi ajarannya. Konon, kata Centhini berasal dari kata Canti, suku kedua dibaca dengan letupan suara, sehingga terdengar kata Cantik. Kata cantik berasal dari bahasa Melayu yang artinya elok, indah, bagus, menyenangkan. Canti mendapat bubuhan ni, di belakangnya menunjukkan sifat kewanitaan (feminin) sehingga menjadi centhini. Sedangkan asal-usul mengapa cantini dapat berubah lafal menjadi centhini masih sulit diungkapkan. Karena sifat yang feminin itulah, setiap orang yang membaca buku centhini sering terpesona oleh keindahannya.

Dalam Falsafah Centhini dijelaskan bahwa yang berkehendak menyusun Serat Centhini adalah Pangeran Adipati Anom, Calon Pakubuwono V. Oleh karena yang dikehendakinya berisi berbagai hal tentang kehidupan maka  maka yang mengerjakannya pun terdiri dari beberapa orang seperti Kyai Pangulu Tafsir Anom yang berkaitan dengan gending-gending digarap oleh Demang Niyaga, adapun yang diserahi tugas menyusunnya dalam bentuk buku secara utuh adalah Yasadipura II bersama Rangga Tresna.

Serat Centhini adalah roman yang disusun dalam rangkaian tembang-tembang Jawa. Seperti layaknya sebuah roman, isinya dibuat sedemikian rupa sehingga memikat hati pembacanya.Isinya banyak menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia dalam bermasyarakat.

Serat Centhini ditulis untuk memuaskan semua orangtua yang gemar ajaran-ajaran ilmu tua akan tidak bosan-bosannya mengikuti wejangan Seh Amongraga.

Membaca Serat Centhini hendaknya kita kritis serta waspada, ada banyak nilai positif tentang makrifat misalnya tapi ada juga bahasa-bahasa yang khusus dewasa, membacanya harus hati -hati jika anda belum dewasa, jangan sampai terpengaruh ajaran-ajaran negatif yang dapat menjerumuskan.

Sedangkan Babad Tanah Jawi, berisi tentang kebiasaan masa lalu, raja-raja di tanah Jawa yang menjelaskan silsilah atau asal -usul garis keturunannya sebagai alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasaannya.

Teks asli “Babad Tanah Jawi” memuat silsilah raja-raja Jawa dari Nabi Adam, dewa-dewi dalam agama Hindu, tokoh-tokoh dalam Mahabharata, Cerita Panji Masa Kediri, Masa Kerajaan Pajajaran, Masa Majapahit hingga masa Demak yang kemudian dilanjutkan lagi dengan silailah kerajaan Pajang, Mataram dan berakhir pada masa Kertasura.

Semarang, 8 Maret 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s