Jack Ma dan Bualan Sang Asisten

Posted: March 13, 2018 by Eva in Buku dan Media, Ekonomi Bisnis
Tags: , , ,

Resensi Buku
Judul: Jack Ma, Sisi-Sisi Tak terduga Godfather Bisnis China
(Biografi resmi karya asisten sekaligus sahabatnya)
Penulis: Chen Wei
Penerbit: Noura Publishing, Jakarta
Edisi: Cet ke-2, Mei 2017
Penerjemah Nadiah Abdidin, Inez Kriya Janitra

 

“Faktor kunci dari membual adalah memiliki pendengar-pendengar yang baik. Tidak peduli seberapapun hebatnya pemikiran manusia, Tuhan akan menggelengkan kepala dan tersenyum begitu mendengarnya. Jadi, membual tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya pemikiran Anda. Yang terpenting, Anda bahagia,”-Chen Wei, penulis.

Dikemas Secara Jenaka

Ketika membaca pengantar buku berjudul “Jack Ma, Sisi-Sisi Tak terduga Godfather Bisnis China.” (Biografi resmi karya asisten sekaligus sahabatnya) ini saya tertawa, terus terang sang penulis buku ini Chen Wei memiliki selera humor yang baik dalam menulis.

Kekuatan membual memang tidak dibatasi, kebebasan berimajinasi tidak disekat oleh ruang dan waktu. Sederhana saja sebenarnya, cara Chen Wei dalam menuliskan kisah tentang sahabatnya Jack Ma yang menjadi sosok berpengaruh dalam industri digital di China. “Menulis seperti membual,” ungkapnya renyah.

Menurut Chen Wei, hanya ada dua jenis manusia yang bahagia di dunia ini. Pertama, manusia-manusia yang suka membual, dan yang kedua manusia-manusia yang senang mendengarkan.
Manusia yang tidak membual tentu orang yang sengsara, meski dia memiliki prestasi-prestasi hebat seperti Michael Angelo. Manusia yang mampu membual tetapi tidak suka membual juga sengsara, seperti Arthur Schopenhauer.

Menjadi seorang asisten menurut Chen Wei adalah seorang profesi istimewa. Apalagi asisten Jack Ma yang betul-betul merangkak dari nol bersama-sama. Asisten-asisten berbeda juga memiliki dunia berbeda-beda. Para asisten di jenjang kepemimpinan menteri merupakan kader level kementerian, sementara asisten bagi selebritis layaknya pengasuh bayi seumur hidup mereka.

“Namun saya sama sekali bukan seperti itu, saya telah mengenal Zhang Jizhong dan Jack Ma selama lebih dari 10 tahun lebih dan telah menjadi asisten mereka berdua secara bergantian. Setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pekerjaan utama saya, saya tidak bisa memberikan satu jawaban yang pasti, entah dalam hubungannya dengan Mr.Zhang jizhang maupun dengan Jack Ma,” ungkap Jack Ma terus terang.

Terlambat Ibarat Seorang Merampok Bank

Chen Wei membuka cerita perkenalannya dengan Jack Ma saat bertemu di kelas Bahasa Inggris pada awal Tahun 1992. Menurut Chen Wei, sebagai seorang murid, Jack Ma adalah orang yang sangat disiplin dalam mengajar les Bahasa Inggris dibanding pengajar lainnya. Ia selalu tepat waktu dan jarang terlambat saat mengajar.

Chen Wei masih ingat betul bagaimana ucapan Jack Ma saat datang ke kelas. Dengan lugas Chen Wei menjelaskan ucapan Jack Ma.
“Topik kita hari ini adalah tentang keterlambatan. Saya pribadi paling benci keterlambatan, karena menunjukkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Keterlambatan menunjukkan ibarat membunuh seseorang untuk merampok bank,” ujar Jack Ma yang melekat di dalam pikiran Chen Wei saat mengenalnya pertama kali.

Selain itu ciri khas Jack Ma dalam mengajar Bahasa Inggris memiliki metodologi mengajar yang unik dan cara tersendiri. Dia tidak terpaku pada teks apalagi tata bahasa atau frasa kalimat.

Setelah membahas sejarah pertemuan pertama dengan Jack Ma, bab berikutnya mengalir dengan cepat dari mulai Bab dua berjudul tentang Jack Ma Merambah Internet, bab tiga tentang Jack Ma dan Jang Jizhong, bab Empat, Ali Baba Saya Datang, Bab lima tentang Orang-orang Ali yang Sibuk, bab 6 tentang Minat dan Filosofi, bab 7 tentang Tai Chi Jack Ma, bab 8 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Budaya Ali, bab 9 tentang Jack Ma dan Budaya Ali yang berbeda, bab 10, Jack Ma dan para selebritas, bab 11, Bepergian dengan Jack Ma, bab 12 dari Pensiun hingga menjadi Perusahaan Publik, dan diakhiri oleh Penutup berjudul Orang Ali yang Paling Tidak berambisi.

Meskipun sangat padat dengan 12 bab, namun dijamin ada tidak akan kelelahan membaca buku ini. Tidak sampai sehari, mungkin dalam hitungan 3-5 jam anda akan melahap buku bersampul putih dan merah ini.

Sarat Makna Filosofis

Meskipun Ali Baba merupakan perusahaan berbasis teknologi, tapi apa yang ditulis Chen Wei tentang Jack Ma dan perusahaan itu sarat nilai-nilai filosofis. Beberapa kejutan tentang Jack Ma akan anda temukan dalam perspektif Chen Wei sebagai orang terdekat.

Diakui Chen Wei, Sejak tahun 1995 Jack Ma merambah internet memulai bisnis pertama, banyak yang sudah familiar dengan kisah-kisah perintisan usahanya. Namun, saya terkesan dengan sesuatu yang berbeda selama prosesnya mendirikan China Pages. Sosok Jack Ma di mata Chen Wei sangat luar biasa, dia memiliki banyak pendapat yang ia samakan dengan referensi dalam menggambarkan kerja keras Jack Ma dari Schopenhauer, Freiderich Wilhelm Nietzsche hingga Socrates.

“Setiap pemikir hebat lebih takut dipahami daripada salah dimengerti. Salah dimengerti barangkali akan melukai harga dirinya, tetapi dipahami akan melukai hati dan simpatinya,” Friedrich Nietszche, kutip Chen Wei dalam bab dua.

“Perjalanan bisnis Jack Ma sangat sering melebihi ekspektasi saya waktu mengambil pekerjaan ini,” ujar Chen Wei kagum. Falsafah China juga di paparkan penulis dengan baik tentang perkembangan tahap demi tahap perusahaan milik Jack Ma. Berikut saya kutip.

“Pohon Besar besar yang terengkuh oleh kedua lengan tumbuh dari sepucuk tunas”

“Menara Setinggi sembilan lantai menjulang dari Gundukan Tanah Kecil”

“Perjalanan sejumlah seribu bermula dari satu langkah”

Begitu juga ketika menggambarkan beberapa hambatan bisnis Jack Ma, Chen Wei mengutip filosof Jerman. “Manusia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, tetapi dia tidak bisa mengatur atas apa yang dia inginkan,” Schopenhauer.

Kedekatan Chen Wei tidak hanya dengan Jack Ma sebagai atasan, tapi juga dengan istrinya Zhang Ying. Saya suka kalau membaca biografi tokoh siapapun itu berkaitan dengan kehidupan keluarga terdekat seperti pasangan dan kedua orang tua. Chen Wei menggambarkan Zhang Ying sebagai separuh jiwa Jack Ma, teman berbagi ranjang atau istilah dia itu “separuh tempat tidur” yang kita miliki merupakan hal yang penting dalam hidup.
Ketika mengibaratkan hidup sebagai suami istri, Chen Wei membuat saya tertawa sejenak. Karena dia menggambarkan hubungan seorang suami dengan istrinya setengah bercanda tapi penuh makna.

“Jika Anda mendapatkan seorang istri yang baik, maka anda akan bahagia, Jika anda mendapatkan istri yang buruk, maka anda akan menjadi filsuf,” Socrates.

Bukan Elang, Tapi Bakteri yang Terbang

Buku ini sangat bagus bukan hanya bagi anda yang berprofesi sebagai asisten ataupun bagi anda yang memiliki toko online atau hendak merintisnya. Tapi bagi siapa saja yang ingin belajar bahwa merintis usaha itu harus jatuh bangun dan penuh hambatan, meskipun setelah melewati semuanya berjalan lapang.

Saya memang tidak akan mengupas bisnis secara mendetail, karena pastilah sudah banyak orang mengupasnya. Akan tetapi saya berusaha mencatat beberapa sisi humanisme Chen Wei dalam menggambarkan sosok Jack Ma dengan segala kedekatan dan bualan-bualan yang kocak.

Chen Wei menggambarkan pekerjaan yang ia lakukan selama ini mendampingi Jack Ma,  membesarkan Ali Baba dengan semua jaringannya  ia lakukan sepenuh hati.

“Ada sejenis bakteri yang ingin terbang, tetapi tidak memiliki sayap. Karena itu dia menginvasi telur-telur katak. Akibat invasi bakteri itu, seluruh kecebong yang menetas bertransformasi menjadi katak lumpuh hingga dapat dengan mudah di makan elang. Akhirnya bakteri bisa merasakan indahnya terbang seperti yang selama ini ia impikan. Saya bukan seekor elang, saya adalah bakteri yang sedang terbang,” tuturnya lugas.

Buku ini ringan dan enak dibaca meskipun menurut saya kertas cetakannya terlalu tipis, sehingga bagi yang membacanya hati-hati kalau melipat atau kena hujan. Sampulnya yang putih bagus seperti isinya. Saya menutup resensi buku ini dengan satu bualan yang membuat pembaca apalagi anak muda semangat untuk belajar, bekerja dan berusaha.

“Kehidupan terasa gelap, kecuali ada semangat. Semangat terasa buta kecuali ada pengetahuan, pengetahuan hanyalah kesia-siaan kecuali ada pekerjaan,”Chen Wei.

Pondok Petir pukul 19.49

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s