Pernah Menjual Es Mambo dan Jadi Petugas Kebersihan

Posted: March 14, 2018 by Eva in Artikel, Pendidikan
Tags: ,

Penampilannya sangat sederhana, sorot matanya redup dan cenderung pendiam. Tak banyak yang ia katakan selain mengucap syukur tak terhingga pada Allah SWT, saat namanya dipanggil sebagai juara I Guru Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional. Perasaan haru dan gembira bercampur menjadi satu, wajahnya seketika merah merona saat namanya dipanggil sebagai juara I Guru Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 18 Agustus 2017 di Jakarta.

Tidak terbersit sedikitpun dalam hati Susi Sugianti, perempuan kelahiran Subang 1 Februari 1982 ini akan terpilih menjadi juara. Karya Nyata yang dipersentasikanpun terbilang sederhana, tentang kreativitas menggambar bagi anak TK. Akan tetapi siapa sangka justru karya yang sederhana itu, mudah dicerna siswa dan Nci (biasa Susi dipanggil) berhasil mempertahankan karyanya dengan gigih dan seksama di hadapan para juru yang merupakan akademisi mumpuni di Pendidikan Anak Usia Dini.

Sangat Terpengaruh Sosok Ibu
Tatapan mata sendu, senantiasa terpancar dari perempuan bertubuh mungil ini. Sejak kecil Susi terbiasa hidup menderita. Lahir dari keluarga broken home dan memiliki ayah seorang penjudi ulung, membentuk jiwa Susi menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting.

Edy Sumartoyo sudah lama menginginkan anak laki-laki. Bagi Edy, anak perempuan tidak bisa berbuat apa-apa, membuat Susi terlecut hatinya untuk bekerja keras membanggakan kedua orangtua. Kelembutan hati sang ibu, Encem Sukaesih sangat mempengaruhi kepribadian dirinya untuk senantiasa sabar dan hidup welas asih dengan sesama.

“Setiap hari mamah bekerja keras mencari nafkah sambil berjualan, tapi yang nyesek jualannya itu minuman keras. Sering saya ketakutan ketika harus membantu melayani orang mabuk. Hati berontak, menjerit tapi tidak bisa berbuat apa – apa,” ujarnya lirih sambil menahan perasaan. Selain membantu jualan minuman keras, Susi juga menceritakan kisahnya sejak usia enam tahun berjualan es mambo keliling membantu orang tua.

Pada tahun 2005 Susi mendaftar di D2 Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak di Sekolah Tingi Agama Islam Sabili. Ibunya sangat bahagia ketika melihat dirinya kuliah. Harapan yang sering diungkap ibu Encem Sukaesih adalah ingin melihat Susi wisuda dan menikah. Namun semua tidak sesuai rencana. “Beliau meninggal dalam pelukan saya usai wisuda, itu pengalaman terpahit dalam hidup saya ”ucap perempuan bertubuh mungil ini tak kuasa menahan air mata.

Sepeninggal sang ibu, Susi tidak larut dalam duka. Dia memiliki motivasi belajar tinggi, rajin membaca dan mencintai ilmu pengetahuan. Tidak hanya berhenti meraih gelar sampai Diploma II, pada ahun 2008 untuk meningkatkan dan mengembangkan diri, Susi melanjutkan kuliah S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Terbuka.

Hijrah Ke Nusa Tenggara Timur
Setelah menikah, pada 17 Juli 2009 Susi hijrah ikut suami yang bertugas di daerah terpencil yaitu Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Walaupun tinggal satu wilayah tapi mereka berdua tidak tinggal bersama. Jarak dari kota Soe ke tempat tugas suaminya kurang lebih dua jam di tempuh memakai ojeg motor. “Suami pulang satu pekan sekali. Kalau musim hujan tidak pulang karena harus melewati tiga sungai,” ujar perempuan berhijab ini menjelaskan.

Naluri sebagai guru tidak bisa tergantikan dengan apapun. Di kota Soe Susi dipertemukan dengan pengurus Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang mengeloala PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). “Saya pun mulai mengajar di PAUD Aisyiyah dengan honor 50.000 perbulan. Suami merasa kasian. Setiap hari selain menjadi guru saya juga harus berperan ganda menjadi petugas kebersihan,” ujar perempuan yang pintar menari ini seraya tersenyum simpul.

Pada November 2009, Susi mendapat informasi dari suaminya ada satu formasi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil untuk guru TK. “Suami sangat mendukung saya untuk daftar. Saya menolak dengan alasan tidak jauh dari keluarga. Saya tidak ingin berjauhan, suami tetap menyarankan, akhirnya saya ikut daftar. Alhamdulillah saya lulus tes CPNS memakai ijazah D2,” ungkapnya mengingat awal diterima menjadi PNS.
Menjadi Juara Berkat Menggambar Bebas

Selama enam tahun mengajar di TK Pembina Kota Kupang, sudah banyak asam garam yang dirasakan guru yang pandai menari ini dalam mendidik murid-muridnya, hingga akhirnya Susi berani mengikuti ajang kompetisi Guru Berprestasi. Peran suami memiliki andil besar dalam ajang kali ini, karena harus berbagi peran, mengurus ketiga buah hatinya yang ditinggalkan.

Selama ini Susi merasa belum bisa berbuat banyak dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini. “Kepercayaan dari rekan guru, kepala sekolah dan para orangtualah yang meyakinkan saya bahwa saya layak menjadi guru berprestasi. Dan ini memotivasi saya untuk ikut lomba guru berprestasi dengan harapan dapat meningkatkan kinerja, disiplin, dedikasi dan loyalitas saya,” ujarnya semangat.

Dalam ajang prestisius ini, Susi memaparkan Karya Nyata berjudul “Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Menggambar Bebas Pada Anak,” judulnya memang sederhana, akan tetapi Susi memiliki pendekatan metodologi yang menarik dan menyenangkan anak didik.

“Judul ini diangkat ketika saya melihat kondisi di kelas banyak anak – anak yang tidak minat dalam menggambar padahal berdasarkan teori banyak sekali manfaat menggambar bagi perkembangan anak,” ujarnya rendah hati sambil menunjukkan para siswanya menggambar bebas.

Dalam pemaparannya Susi menegaskan jika anak dilatih berkreasi menggambar bebas, mereka akan terbiasa melatih kelancaran, mengemukakan gagasan, kelenturan untuk mengemukakan alternatif pemecahan masalah, orisinalitas dalam menghasilkan pemikiran, elaborasi dalam gagasan dan keuletan. Temuan yang ditemukan Susi Sugianti, membuat tercengang para juri, sehingga akhirnya menjadi yang terbaik dari seluruh perwakilan provinsi yang ada di Indonesia.

“Menjadi suatu kebanggaan bagi saya bisa menjadi juara 1 guru berprestasi tingkat nasional. Ini menjadi sebuah momen yang sangat luar biasa. Banyak airmata yang harus di keluarkan. Saya berjuang meyakinkan pihak Dinas Pendidikan Kota Kupang, bahwa di tingkat nasional ada lomba berprestasi untuk jenjang guru TK,” ujar perempuan yang suka membaca buku agama dan motivasi ini seraya tersenyum gembira. (ER)

Susi Sugianti adalah
Juara I Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional 2017

 

 

 

Advertisements
Comments
  1. Cerita yg inspiratif. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s