Siang itu cuaca sangat panas dan terik. Seorang kurir agen logistik mengagetkan saya dengan sebuah paket yang membuat saya gembira. Satu bundel majalah Basis edisi 01-02 tahun ke-67 2018 akhirnya tiba di rumah saya dengan selamat.

Ada empat tema besar kali ini seperti “Framming Gerakan Sosial”, “Ikonoklasme atau Idoloklasme”, Sayyid Ahmad Khan, Metode Kritis Rasional Pendidikan Sebagai Jalan Kemajuan, dan “Mencintai Boneka Mayu”.

Penantian majalah dua bulanan ini mengobati kerinduan saya yang sudah sangat lama  tidak pernah membaca Majalah ini.

Dejavu 15 tahun lalu

Bagaimana tidak, pada tahun 2000-2003 saat masih kuliah di kota Gudeg, meskipun saya kuliah di IAIN Sunan Kalijaga saya sering berkunjung ke Perpustakaan Sanata Dharma biasanya hari Senin, sambil membaca rubrik Pustakaloka yang memuat resensi buku, membuat saya betah berlama-lama di perpustakaan Sanata Dharma. Menunggu tulisan saya dimuat, atau siapa penulis yang hari ini resensinya di muat di Pustakaloka.

Selain alasan diatas, posisi perpus Sanata Dharma lokasinya di Mrican lebih dekat dengan rumah kakak di Condong Catur, perpustakaannya juga sunyi senyap dengan 800 lebih judul buku dan buka sampai jam 8 malam saat itu. Kalau ke perpus UIN Suka harus naik bis lagi, jadi saya suka singgah disitu tapi tidak sering, cuma tiap hari senin.

Di sana pula saya menemukan buku-buku lama yang terawat dengan rapi baru diantaranya karya-karya Romo Mangun Wijaya seperti “Burung-Burung Manyar” dari Penerbit Djambatan, serta karya-karya sastra inggris seperti Isabel Allende, dan karya lainnya yang beraneka ragam.

Nah sebelum membaca buku, biasanya saya ke bagian koran dan majalah, disanalah saya tidak pernah melewatkan Majalah Basis setiap edisi kala itu. Tidak terasa sudah 15 tahun, setelah hijrah ke Jakarta dan menetap di Depok (2003-2018) saya tidak pernah membaca Majalah Basis.

Tempo hari waktu saya ke Jogja, saya sengaja mampir ke perpus Sadhar, sekedar bernostalgia dan mengingat tempat saya mojok di lantai paling bawah. Masih seperti dulu, sunyi senyap, bedanya sekarang kalau mahasiswa di luar Sadhar, jika berkunjung ke Perpus membayar 25.000 selama satu hari. Tutupnya pun lebih malam.Di atas jam sembilan malam.

Saya Dejavu dan sedikit terharu mengingat masa-masa dulu saya sendirian tenggelam bersama buku, hingga tutup jam 8 malam. Kerinduan membuncah akan masa-masa itu, namun karena harus segera ke Panti Rapih, saya memfotokopi buku ke lantai tiga. Nah, disinilah bermula, mata saya tertuju pada Majalah Basis edisi Media Sosial dan Mobokrasi. Saya membaca, namun tidak sampai selesai.

Sesampai di Jakarta, saya mencoba menghubungi redaksi Majalah Basis dan memutuskan berlangganan, hingga akhirnya hari ini saya mulai membacanya.

Padat, Berisi dan Artistik

Satu hal yang saya suka dari Majalah Basis ini adalah isinya yang padat, berkualitas dan ilustrasi gambar yang artistik atau nyeni. Kajian historis, filosofis menjadi ciri khas dikaitkan dengan kondisi sekarang yang aktual. Sehingga kita akan dibawa pada petualangan intelektual yang tidak kering, namun kaya khazanah dengan bahasa yang mudah dicerna. Sampulnya selalu menggoda dan syarat interpretasi.

Untuk edisi ke -67, Majalah yang dipimpin oleh Sindhunata ini mengawalinya dengan rubrik Tanda-tanda Zaman, berjudul “Mencintai boneka Mayu” kisah yang menceritakan seorang fisioterapis Jepang bernama Masayu Ozaki yang mencintai boneka silikon sebagai pasangan hidup.

Saya sempat tersenyum simpul membaca rubrik ini, karena tidak menyangka ya, bagaimanapunn juga seorang suami tidak suka perempuan egois, dingin dan suka mengomel. Masayu lebih memilih boneka silikon seharga 70 juta yang sangat ia cintai.

Lembar demi lembar saya simak dengan gembira, pada rubrik kaca benggagala, radaksi Basis menampilkan tulisan tentang Ikonoklasme atau Idoloklasme yang ditulis mendalam oleh dosen STF Drijarkara Dr.A.Setyo Wibowo. Penulis
membuka dengan pemikiran kontemporer Prancis Jean Luc Marion yang membedakan ikon dari idola, kelihatannya istilah ikonoklasme harus diapresiasikan sebagai idoloklasme.

Masih banyak sebenarnya rubrik lain yang bagus, namun saat saya menulis sekarang ini belum semua rubrik saya baca sampai tuntas. Baru saya baca judulnya saja. Jadi jika anda ingin membaca semua isinya, silahkan membelinya atau berlangganan.

Namun karena minat saya pada buku, saya membaca rubrik pendidikan berjudul “Membaca: Minat atau Kemampuan” yang ditulis oleh Dian Vita Ellyati, serta kupas buku “Risalah Yap di Kursi Pesakitan” karya Muhammad Yunan Setiawan dan rehal buku “The Belly of Paris karya Emile Zola, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2017 yang dikupas oleh Laila Sari.

Itu saja sekilas tentang sebagian isi dari Majalah Basis edisi awal 2018 ini. Semoga bisa saya tuntaskan membacanya di akhir pekan ini. Terimakasih Pak Anang dari Majalah Basis yang merespon cepat, ketika dihubungi minggu lalu. Sesuai slogannya “Menembus Fakta” saya akan selalu menunggu fakta-fakta yang terungkap di edisi berikut-berikutnya.

Depok, 23 Maret 2018 Pukul 13:39

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s