Archive for April 3, 2018

Saya sudah mendengar sejak lama, jika di Jogjakarta sudah dibangun perpustakaan yang sangat besar. Tepatnya di jalan Janti. Namun, sejak didirikan belum sekalipun kesana. Pada bulan Maret lalu, saya pun sengaja singgah di perpustakaan yang diberi nama Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Grhatama Pustaka. Wah saya senang sekali melihat penampakannya sejak dari pintu gerbang, hingga masuk dan mencermati ke setiap ruangan tertata rapi dan bersih layaknya sebuah hotel.

Sangat Nyaman Meski Harus Lepas Sepatu

Arsitektur perpustakaan  ini unik dan artistik, kental budaya Jawa. Di setiap tiang-tiang besar yang mengitarinya. Beberapa falsafah Jawa, dan kata-kata mutiara terkait dengan minat baca ditulis sedemikian rupa dengan bahasa Jawa kuno. Gedung ini memiliki tiga lantai, dengan fasilitas lengkap. Di setiap lantai ada selasar dengan taman yang sedikit terbuka untuk ruang diskusi pengunjung.

Di lantai satu ada layanan koleksi anak-anak, ruang bermain Anak, ruang musik, kemudian di lantai dua, layanan keanggotaan perpustakaan, layanan bebas pustaka, layanan informasi dan customer service, hingga layanan koleksi huruf Braile.

Nah saya langsung masuk di lantai dua ini dan sangat gembira melihat pengunjung yang sangat ramai. Bantal Sofa warna warni bertebaran di setiap sudut ruangan. Faktor kenyamanan dalam membaca sangat terasa di ruangan yang dilengkapi AC dingin dan free wifi ini. Anak-anak SMP hingga orang dewasa terlihat membaca di setiap sudut perpustakaan. Bantal sofa seperti ini pertama kali saya lihat di Taman Baca Sanggingan Ubud Bali. Di sana di letakkan di luar dekat alam terbuka, menyatu dengan tanah, kalau di perpus Grhatama Pustaka, diletakkan di setiap sudut, dekat rak buku.

Namun jangan lupa, sebelum anda masuk ke ruang baca utama yang ada di lantai dua, anda harus melepas sepatu. Usai dilepas, dikantongin dan sepatunyapun harus dibawa kemanapun anda pergi. Saya cukup lama berada disini, mencermati tiap pengunjung dan serta buku apa saja yang ada di rak buku.

20180309_135100

Termasuk mengamati salah satu pengunjung yang sedang pewe (posisi uwenak) istilah sekarang membaca sambil tiduran di bantal sofa beralaskan karpet merah yang empuk.

Dari Karya Karl May Hingga Biografi Nelson Mandella

Usai mengamati tingkah para pengunjung, saya mampir ke pojok sastra dan biografi yang berada di sebelah tengah. Disitu saya menemukan banyak buku lama dan juga buku baru. Dari mulai Karl May, Edward Said, William James, Pramoedya Ananta Toer, hingga biografi Nelson Mandela.

20180309_135048

20180309_133549

Sambil mencermati beberapa buku tersebut, saya pun membacanya. Bagus dan lengkap saya cermati. Padahal saya baru mencermati beberapa rak saja yang menurut saya menarik. Ada beragam buku seperti  biografi Warren Buffet,  kicauan Indra Herlambang dalam buku Kicau Kacau, bersampul kuning dll. Jadi lengkap dari karya yang historis, hingga populis bisa anda temui di sini.

Bahkan ada sebuah buku berjudul menarik karya Ara berjudul “Lelaki, Gadis dan Kopi Campur Garam”. Penasaran saya tertarik baca tapi waktunya tidak memungkinkan. Jadi hanya sekilas saja dibolak balik, sambil berharap bisa ke Jogja lagi dalam waktu yang lebih lama.

20180309_133448

Saat waktu sudah beranjak sore, saya mendengar akan ada pemutaran film di lantai tiga tepatnya di ruang audio visual, saya lupa film apa yang akan diputar. Namun, saya  tidak sempat menontonnya. Selain ruang audiovisual di lantai tiga ini ada juga ruang digital, majalah dan koran hingga kamus dan ensiklopedia.

Perpustakaanmu Surgamu

Usai menghabiskan sekitar tiga jam, di Grhatama Pustaka,  akhirnya saya keluar  pulang dan akan melanjutkan perjalanan ke Perpustakaan Universitas Sanata Dharma. Karena jam lima harus ke Panti Rapih. Sebelum pulang saya mampir ke toilet Grahatama Pustaka dan toiletnya  sangat bersih, ada juga ruang tunggu yang ramai pengunjung.

Saat menunggu jemputan, saya memperhatikan suatu papan nama yang bagus di atas pintu masuk utama dekat dengan beberapa backdrop informasi. Papan itu bertuliskan The library place we went to find out what there was to know it was absolutely essenstial, your library is your paradise. Saya pun memperhatikannya dengan seksama, setelah itu kemudian pulang.

Jika anda berkunjung ke Jogja, atau berada di Jogjakarta dan sekitarnya,  atau sedang sekolah di kota gudeg ini, bisa datang ke perpustakaan Grhatama Pustaka yang buka setiap Senin-Jumat dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam. Bahkan sabtu minggupun buka meski hanya sampai jam empat sore. Semoga lengkapnya fasilitas, kenyamanan dan kelengkapan buku yang ada di kota pelajar ini memberi inspirasi bagi perpustakaan yang ada di daerah lain di Indonesia.

3 April 2018, 21:11

Advertisements

Beragam Makna Dibalik Tatapan Mata Perempuan

Resensi Buku: Tatapan Perempuan
(Perempuan Sebagai Penonton Budaya Populer)
Judul asli: The Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture
Editor: Lorraine Gamman dan Margareth Marshment
Penerbit: Jalasutra, 2017

Sebuah buku bersampul biru, menarik perhatian saya sore itu. Sampulnya yang menawan dan judulnya yang menarik perhatian membuat mata ini tidak bisa melepaskan pandangan. Buku yang saya baca hari ini berjudul “Tatapan Perempuan” karya terjemahan dari Bahasa Inggris The Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture yang terbit sudah lama yaitu pada tahun 1988.

Ada tiga belas penulis perempuan yang menulis disini. Mereka adalah Lorraine Gamman, Margareth Marshment, Suzanne Moore, Andrea Stuart, Maggie Anwell, Avis Lawellen, Belinda Budge, Jacky Stacey, Jacqui Roach dan Petal Felix, Anna Ross Muir, Ann Treneman, Janet Lee dan Shelagh Young.

Dari Teka-teki Tatapan Perempuan Hingga Status Perempuan di Bidang Film dan Televisi

Membuka lembaran awal buku ini, ada ungkapan menarik, kenapa menulis buku tentang perempuan yang memandang? Tentu ini adalah suatu teka-teki, memandangnya kepada siapa? kepada laki-laki atau kepada sesama perempuan? Dalam representasi yang paling popular tampaknya laki-laki melihat dan perempuan adalah yang dilihat. Dalam film, televisi, pers, narasi, dan narasi popular pun laki-laki diperlihatkan sebagai yang mengendalikan tatapan; perempuan yang dikendalikan.

Bagaimana kita dapat mengubahnya? Perubahan seringkali merupakan perlawanan pelan-pelan yang dilakukan hari demi hari yang memerlukan strategi pragmatis untuk hari ini dan besok. Umumnya strategi-strategi ini melibatkan perlawanan terhadap makna.

Budaya populer adalah wilayah perjuangan tempat pelbagai makna ditentukan dan diperdebatkan. Budaya populer juga dipandang sebagai suatu wilayah tempat makna diperdebatkan dan ideologi dominan dapat diobrak abrik. Diantara pasar dan ideologi, para pelaku finansial dan para produser, sutradara dan aktor, penerbit dan penulis, kapitalisme dan buruh, perempuan dan laki-laki dibahas maknanya dalam pelbagai hal, sejalan dengan perjuangan tanpa henti demi pengendalian.

Bahkan dalam Bab 10, Anne Ross Muir membahas tentang status perempuan yang bekerja di bidang film atau televisi. Ada banyak penulis, sutradara, produser, teknisi actor, penerbit, jurnalis, kritikus, guru, dan mahasiswi yang berpartisipasi yang berpartisipasi dalam produksi dan distribusi bentuk-bentuk populer pelbagai wacana disekelilingnya.

Tidak Hanya Berdasar Gender

Ada banyak film, sinetron dan karya lainnya yang dibahas dalam buku ini, meski sudah tidak kekinian karena settingnya tahun 1980-an. Bagaimana perempuan melihat film detektif polisi, juga cerita-cerita tentang persahabatan antar perempuan.

Menarik sekali mengupas tentang beberapa film bertemakan persahabatan perempuan seperti Stage Door (1937), The Woman (1939), Caged (1950), Girlfriend (1978) dll.

Seringkali kita melihat di televisi perempuan diperlihatkan bukan sebagai teman, tapi sebagai tokoh antagonis yang saling membenci, lawan dalam cinta atau bisnis.

Beberapa tokoh perempuan yang berhasil sebagai pejuang emansipasi, politisi, bahkan pengusaha sukses kadang jarang muncul, meski belakangan mulai ditampilkan.Entah karena tidak seimbang atau memang jumlahnya kurang.Meskipun dalam pengamatan saya lebih banyak peran segi sisi seksisme yang diutamakan.

Meskipun demikian buku ini tidak menghakimi batasan gender. Ada juga kritik terhadap para aktris perempuan di masa itu yang justru tidak terlihat memperjuangkan feminis, tapi lebih kepada memperjuangkan diri sendiri. Terlepas dari itu semua buku ini menarik sebagai bahan referensi bacaan bagi kalangan akademisi, pemuda hingga pelaku industri hiburan ditanah air juga bagi siapa saja yang tertarik melakukan kajian bagaimana posisi perempuan dalam budaya populer.

3 April 2018
Pukul 16.14

Sudah sejak hari minggu
Kita terpisah ruang dan waktu
Ada sejumput rindu
Yang tersimpan di dadaku

Waktu terasa lambat berlalu
Masih ada dua hari lagi menunggumu
Kupandangi sebuah foto darimu
Sebagai rasa pelepas rindu…

3 April 2018
Pukul 09.55