Menerjemahkan Bahasa Sunda Sampai Istilah-istilah Rumit

Posted: April 4, 2018 by Eva in Buku dan Media
Tags: ,

Kamus Bahasa Sunda Karya Raden
Satjadibrata
Cetakan: Keempat, 2016
Tebal : 376 Halaman
Penerbit: Kiblat Buku Utama Bandung

Dalam sejarah Sunda, Kamus Basa Sunda Karya Raden Satjadibrata termasuk kamus yang banyak dipakai oleh pemerhati Bahasa Sunda.

Sebelumnya ada kamus Bahasa Sunda- Belanda yang disusun oleh orang Belanda. Yaitu, Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek (Leiden,1884, dan 1913), tapi yang memakai adalah orang Belanda.

Jadi, kamus ini dibuat dengan sepenuh hati oleh Satjadibrata dengan kesadaran bahwa Bahasa Sunda, dan budaya sunda lainnya akan memiliki banyak peminat dari daerah lain baik dari suku di luar suku sunda maupun peneliti dari luar negeri yang tertarik dengan tanah Pasundan.

“Karaos perlu teu kinten ayana kamus nu kenging di damel tuduh jalan, nyaeta kamus Sunda nu diterangkeun ku basa Sunda tur diangken ku ahli Basa Sunda, yen leres kateranganana.Hanjakal teu aya kamus sarupi kitu teh,” ujar Satjadibrata dalam pengantarnya.

Namun sebelum kamus Satjadibrata ini ada Bupati Cianjur R.Arya Kusumaningrat, namun kamus Melayu-Sunda pada tahun 1857, sayang belum dibukukan.

Cetakan pertama kamus Basa Sunda Karya Satjadibrata ini terbit pada tahun 1944 dengan judul Kamus Soenda-Melajoe, kemudian di revisi pada 1950 dengan judul Kamoes Soenda Indonesia.

Enampuluh tahun setelah edisi kedua terbit, Penerbit Kiblat Buku Utama dapat menerbitkan kembali Kamus sunda edisi ketiga. Namun, karena Bahasa Indonesia yang digunakan oleh Satjadibrata adalah Bahasa Indonesia yang berkembang tahun 1950, yang lebih dekat ke Bahasa Melayu, maka penerbit Kiblat menyuntingnya agar lebih sesuai dengan Bahasa Indonesia yang digunakan sekarang.

Ketika saya membaca kamus ini memang sangat lengkap sampai hal-hal terkecil (diterangkeun nepi ka bubuk leutikna) yang rumit dan jarang diucapkan. Meskipun saya asli orang Sunda, namun ada istilah-istilah yang saya belum familiar di kamus ini.

Seperti istilah “mutiktrik, artinya gede beuteung lantaran seubeuh dahar (kenyang akibat kebanyakan makan) kemudian “mutuh” yang artinya kacida teuing (keterlaluan), saya membacanya juga sambil seuserian (tertawa) karena banyak istilah-istilah lucu dan masih banyak istilah lainnya.

4 April 2018, Pukul 13.52

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s