Archive for April 5, 2018

Perjalanan naik kereta baik jarak dekat maupun jauh adakalanya membuat kita lapar. Jika anda terburu-buru tidak membawa bekal, tidak ada salahya anda mencoba menu baru yang ada di Kereta Api Indonesia.

Sebenarnya saya juga tidak begitu paham apa saja menu yang ada di dalam kereta. Cuma karena tadi di perjalanan menuju stasiun kehujanan, setelah masuk ke dalam kereta, badan terasa dingin dan perut keroncongan. Saya pun memesan makanan.

Ada dua jenis makanan yang ditawarkan, yaitu nasi ayam kecap dan nasi daging. Saya pun tidak banyak pertimbangan asal pesan saja karena sudah lapar. Saya pesan nasi daging.

Pas saya makan, di luar dugaan ternyata nasi daging ini enak sekali. nasinya hangat dan dagingnya  pedas,  disuwir empuk dengan rasa pedas manis. Ada sambal dan bawang gorengnya. Saya pun melahapnya habis. Di kemas dalam plastik keras menyerupai tempat makan anak yang bisa dipakai ulang.

Krengsengan Mercon

Usai makan, saya penasaran lihat tutup kemasan di bagian sampul. Oh ternyata nama menu nasi daging ini adalah “Krengsengan Mercon”.  Saya baru sekarang ini merasakan, kalau di lidah saya rasanya menyerupai bistik sapi, bedanya ini pedas cabenya nendang.

Menu favorit di dalam kereta yang pernah saya rasakan enak banget adalah mie jawa di kereta jurusan Surabaya-Banyuwangi, namun saat saya pesan menu ini  di jenis kereta lain ternyata tidak ada. Rupanya tiap kereta berbeda dalam  mengolah menu makanan bagi penumpang.

Jadi, tidak ada salahnya jika anda ingin mencoba menu baru “Krengsengan Mercon” di dalam kereta Pangrango, persembahan dari Kereta Api Indonesia (KAI), coba saja memesannya dijamin anda pasti suka, tapi ini bukan iklan ya 😊.

Kereta Pangrango
5 April 2018, Pukul 18.36

Dari Gank SMP Hingga Anaknya Masuk SMP

– Dalam persahabatan, hindari ingin menang sendiri, hormati dan saling memahami kepentingan mereka, semua sahabat istimewa –

Bulan Maret kemarin aku merasa sangat bahagia. Semenjak jarang aktif di media sosial, aku sekarang lebih merasakan kebahagiaan ketika menjumpai sahabat lama dengan bertatap muka. Ada kegembiraan tersendiri, melepas rindu, peluk cium dengan teman-teman.

Di usia 39 sekarang, menjelang 40 tahun kehadiran seorang teman sangat berarti, disamping tentu saja keluarga dan urusan pekerjaan. Media sosial telah mempertemukan kita dengan teman saat SD, SMP, SMA, kuliah, hingga teman saat di kantor lama.

Nah yang aku ceritakan ini adalah teman SMP. Seperti kebanyakan orang waktu SMP teman-teman punya gank atau grup kan? begitu juga aku. Gankku SMP tiga orang perempuan, Kita dekat sejak tahun 1992, kita memang jarang ketemu, baru pada Maret 2018 kemarin kita berjumpa melepas rindu meskipun tidak semua kumpul.

Ada keharuan, kerinduan yang membuncah saat pertama berjumpa setelah sekian lama. Semalam sepertinya tidak cukup untuk bercerita tentang masa-masa kita terpisah jarak.

Tidak ada banyak hal yang berubah dari teman-teman saat menemuinya, berkenalan dengan suami dan anak-anak teman. Tentu berbeda dengan saat kita remaja dulu. Sekarang sudah ada skala prioritas lain bagi kita semua.

Kedua temanku subur, masing-masing sudah punya anak empat dan lima. Bahkan tahun ini anak-anak mereka masuk SMP, seperti kita dulu, agar bisa mandiri anak-anaknya sekolah sambil tinggal di asrama, ada yang di Batam dan ada yang di Jogja.

Cerita seputar anak ini selalu menggemaskan. Dari seputar mengerjakan PR hingga yang sakit dan harus rawat jalan. Semua menjadi pelajaran. “Menjadi orangtua itu sulit lho, harus hati-hati dalam bicara,” ujar temanku yang sampai jam 10 malam masih membantu anaknya mengerjakan PR Matematika.

Saat kita melakukan video call dengan satu orang teman lagi, ada satu anak teman itu ikutan kepo dan nimbrung, seru. Di saat kita tertawa, dia juga ikut terrtawa.

Suasana tambah seru mengingat masa-masa dulu kita, kebiasaan-kebiasaan buruk saat alay, apakah masih ada atau enggak sampai sekarang juga hal-hal kocak lainnya. Itulah persahabatanku paling lama, meski on/off juga komunikasinya.

Ada dua nilai yang aku pelajari dalam menjalin persahabatan, yaitu cinta dan kasih sayang. Cinta melahirkan ketulusan dan kasih sayang menumbuhkan rasa kepedulian.

Cerita tentang sahabat tidak akan pernah habis, begitu juga seperti orang kebanyakan masih ada cerita seru dari teman SMA, kuliah, organisasi dan rekan kerja, semua memiliki kenangan di hatiku. Semua sahabat istimewa. Meskipun mungkin kesempatan bertemu jarang ada, jadi jarang berjumpa.

5 April 2018, Pukul 14:32

Berperawakan tinggi besar, tutur katanya lembut dan sopan. Setiap kata yang diucapkan terucap dari hati yang terdalam. Dengan sabar dia bercerita panjang lebar kiprahnya selama ini di dunia pendidikan. Selama mengajar jadi guru Taman Kanak-Kanak hingga menjadi Kepala TK Asmaul Husna Ranca Ekek Kabupaten Bandung.

Jika selama ini ada slogan “Guru Mulia Karena Karya” sepertinya Dr. Tjitji Wartisah, S.Pd, M.Pd (biasa disapa Cici) sudah memenuhi segala kriteria. Tidak banyak di Indonesia Kepala Taman Kanak-Kanak sudah lulus S3, bergelar Doktor, serta sudah menulis 73 buku yang diterbitkan penerbit ternama di Ibu Kota.

Sangat beralasan kiranya, jika gelar Kepala Sekolah Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional pada tahun 2017 ini berhasil ia sandang. Selain memiliki banyak karya dengan produktivitas yang luar biasa dalam dunia literasi, Cici Wartisah juga memiliki banyak terobosan serta menjadi teladan di sekolah, di lingkungan keluarga, dan masyarakat.

Dididik Orang Tua untuk Jujur dan Kerja Keras

Cici Wartisah adalah perempuan kelahiran Bandung 19 Februari 1971. Ia adalah anak keenam dari delapan bersaudara, pasangan D’Sape’i dan Sumiati. Sejak kecil orangtuanya selalu mendidik, mengasuh, dan menjaga anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Mereka selalu mengajarkan kejujuran, kerja keras, itu yang selalu diterapkan. Kini ayah ibuku sudah meninggalkan kami,” ujar Cici panjang lebar. Meskipun demikian, Cici ingin mewariskan didikan orangtua pada ketiga anaknya sekarang.

Istri dari Engkos Kamaludin ini berusaha mengatur keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga di sela kesibukannya. Ia merasa bersyukur memiliki suami yang baik, sangat menyayangi, penuh perhatian, selalu mendukungnya dalam kondisi apa pun. Karena dukungan dan motivasinya saya bisa meraih cita-cita dan berbagai prestasi. Cici memiliki tiga orang anak, dua orang putri dan satu orang putra. Anak saya paling besar bernama Fauziah Nurul Aini, lahir yang kedua bernama Tazkiyah Nur Mujahidah, dan putra bungsu kami bernama Salman Shidiq Al Mujahid.

Rajin Membaca dan Haus Ilmu Pengetahuan

Sebelum mengajar di TK Asmaul Husna Rancaekek sekarang, Cici mengajar di TK Darussalam Bumi Asri Padasuka Cimenyan Bandung. Untuk menunjang kariernya, setiap hari sebelum mengajar, dia rajin membaca buku dan memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang pendidikan anak usia dini. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi terbuka lebar. Pada 2002, Cici melanjutkan kuliah di Universitas Pendidikan Islam Bandung jurusan

Administrasi Pendidikan dan selesai tahun 2007. Motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 terus membara.

“Alhamdulillah saya diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk bisa lanjut kuliah S2 di STKIP Pasundan Cimahi jurusan Pendidikan IPS, walaupun tidak linear, saya bersyukur karena saya lebih mendalami materi dan wawasan sosial sehingga menumbuhkan kepekaan serta kepedulian untuk memajukan masyarakat dan pendidikan di Indonesia,”ujarnya semangat.

Pada tahun 2009 Cici berkesempatan mengikuti Lomba guru Berprestasi jenjang Guru TK meraih juara II Tingkat Nasional. “Keberhasilan di tahun ini sangat membawa berkah, karena saya mendapat hadiah luar biasa, umroh dan beasiswa melanjutkan kuliah S3,” ujarnya senang. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan, program Doktoral dia peroleh dari Universitas Nusantara (UNINUS) jurusan Manajemen Pendidikan.

Menulis 73 Buku dan Aktif di Organisasi

Di usianya yang sudah matang saat ini, bertubi-tubi keberuntungan menghampiri perempuan hitam manis ini. Bahkan pernah meraih “Teacher of the Year” pada tahun 2016 dan memiliki banyak kesempatan berbagi ilmu dengan sesama guru di berbagai pelosok Indonesia.

“Alhamdulillah dari dulu saya hobi menulis dan sering menulis walaupun untuk kalangan terbatas. Akan tetapi tahun 2013 saya diminta oleh Penerbit Erlangga untuk menulis buku-buku Erlangga. Sampai tahun ini sudah cukup banyak buku-buku karya saya yang diterbitkan Erlangga,” ujarnya.

Sampai saat ini ada 73 buku karyanya yang sudah diterbitkan. Beberapa judul seperti empat seri buku berjudul “Hobiku Membaca”, empat jilid buku berjudul “Aktivitas Pendidikan Karakter” dan “Seri 4 Sahabat – Tematik Saintifik usia 4-5 tahun Tema Lingkunganku” (Sesuai Kurikulum 2013 PAUD) dan masih berderet judul buku lainnya.

Cici juga senang berorganisasi, baik organisasi kemasyarakatan, sosial dan juga organisasi profesi. Pernah menjadi Sekretaris Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak (IGTKI-PGRI) di Kabupaten
Bandung dua periode, PKK RW, sekretaris dan PKK Kabupaten Bandung pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung sebagai Bendahara, juga sekretaris II di Forum Doktor. “Aktif di berbagai organisasi merupakan salah satu bentuk kontribusi untuk terlibat pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM),” ujarnya menyampaikan alasan kuat aktif di organisasi.


GE-BOT Membawa Berkah Juara

Selama mengikuti ajang pemilihan Kepala Berprestasi tingkat Nasional pada 2017 ini, dia mempresentasikan Karya nyata hasil pengalamannya berjudul “GE-BOT Kreatif Bermain Belajar Permulaan Berhitung dan Membaca”.

Menurut Cici di hadapan juri, permainan ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Beberapa orang menganggap mengajarkan matematika atau membaca permulaan sangat sulit dilakukan pada anak usia dini. Oleh karena itu media pembelajaran ini dibuat untuk membantu ibu guru dalam belajar.

“Media GE-BOT Kreatif Untuk membaca Dan berhitung yang menyenangkan, merupakan alat peraga edukatif yang murah meriah, mudah  diperoleh dari bahan bekas,” ujar Cici sambil memperlihatkan alat peraga GE-BOT dari olahan limbah. Apa yang disampaikan media GE-BOT ini sudah ia terapkan lama di TK Asmaul Husna Bandung.

Maka saat namanya dipanggil ke depan menjadi juara I Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional, dia merasa sangat gembira, bangga dan haru.

“Saya tidak mengejar keberhasilan untuk pribadi, selama saya menjadi kepala sekolah saya berusaha untuk menjadikan lembaga sekolah yang terbaik, anak didik yang berpotensi, serta memotivasi guru-guru di sekolah untuk selalu menjadi guru yang hebat, serta berani bersaing dengan guru lain,” ungkapnya menutup cerita. (ER)