Semangat Petani Muda Menanam Padi

Posted: April 12, 2018 by Eva in Inspirasi, Lingkungan
Tags: , ,

Jika di belantara ibukota penuh dengan hiruk pikuk dan dituntut serba cepat, di kampungku kehidupan berjalan biasa saja. Semua berjalan santai, tidak ada kemacetan yang berarti. Anak muda juga tidak selalu sibuk dengan gadget, setiap pagi begini banyak diantara mereka justru pergi ke sawah, membantu orangtuanya di sawah menanam, hingga memanen padi.

Perkembangan zaman telah membuat pemuda sekarang tidak seperti orang tua dulu jika ke sawah. Mereka sekarang tidak segan memakai celana jeans digulung, memakai kaos dan bertopi karena cuaca panas. Mereka mengikuti betul semua tahapan menanam padi. Dari mulai menggaru (membajak sawah) memakai kerbau  hingga musim panen seperti gambar di bawah ini.

Usai memanen padi dan dijemur, anak muda lainnya sesama tetangga membantu membawa padi yang sudah kering, memanggulnya di atas pundak kemudian di bawa ke penggilingan padi.

Begitulah kehidupan di bumi Pasundan, gemah, ripah, loh jinawi. Foto diambil tepatnya di desa Landeuh, Bantarkaret Lebak, Sukabumi. Posisinya tidak persis kampung saya, namun jalan sedikit ke arah selatan. Tetangga kampung masih satu desa. Desa ini berada di bawah kaki Gunung Walat, dekat sungai Cimahi.

Meskipun demikian tidak semua pemuda bertani. Sebagian ada yang kerja di home industri sandal, pegawai, wiraswasta, hingga menjadi TKI ke Jakarta dan luar negeri. Sedangkan yang perempuan selain menjadi ibu rumah tangga, sebagian ada mengajar, karyawan pabrik garmen, dan membuka usaha. Semua pekerjaan mulia di mata Tuhan, mari bertebaran mencari rejeki.

Kembali ke pemuda bertopi yang semangat menanam padi, saya jadi teringat beberapa pesan kedaulatan pangan yang sangat kuat seperti dalam buku Max Havelaar, juga sebuah acara bincang televisi tentang pasangan muda yang berhenti bekerja lalu memberdayakan petani dan mengelola sawah di Bantul Jogjakarta.

Semoga semangat pemuda ini menular kepada pemuda lainnya untuk kembali ke desa, menanam padi dan mengelola sawah. Baik itu sawah milik sendiri maupun milik orang tua.

12 April 2018, Pukul 11:20

Advertisements
Comments
  1. Aamiin. Sekarang memang pengaruh ponsel kudu diperhatikan. Terlebih lagi lebih banyak sisi negatif yang nyangkut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s