Resensi Buku: Pemikiran Muhammad Iqbal tentang Agama, Filsafat dan Seni

Posted: April 17, 2018 by Eva in Agama dan Spiritualitas, Buku dan Media

Judul Buku: Agama, Filsafat, Seni dalam Pemikiran Iqbal
Penulis: Asif Iqbal Khan
Penerjemah: Farida Arini
Cetakan: 1, Mei 2002
Tebal: vii + 167 halaman
Penerbit: Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta

Relasi Simbiosis Antar Agama, Filsafat dan Seni

Muhammad Iqbal merupakan satu-satunya individu dalam sejarah Islam modern yang bisa menerima pemikiran Barat modern bersamaan dengan ajaran abadi Islam. Hal inilah mungkin yang membuatnya mampu mengemban tugas amat berat yakni menyusun kembali pemikiran religius Islam

Iqbal adalah seorang pencinta kehidupan yang percaya pada pendekatan yang dinamis dan berpandangan ke depan pada kehidupan dan masalah-masalahnya. Ia berkeinginan membangun kembali Islam dengan kejayaan dan kesederhanaannya sambil menghadapi tantangan dari ilmu pengetahuan modern dan filsafat, serta untuk mencapai keselamatan bagi seluruh umat manusia baik di dunia maupun di kehidupan selanjutnya. Untuk mencapai hal itu Iqbal melakukannya dengan dua hal, yakni melalui pemikiran filsafat dan ketajaman puisinya.

Buku ini merupakan terjemahan dari buku yang berjudul Some Aspects of Iqbal Thought yang berisi tema pokok tentang pemikiran Iqbal. Ia seorang filsuf Islam yang cukup berpengaruh. Dia beranggapan bahwa media agama sebagai hal sangat penting dalam kehidupan seseorang.

Hanya agamalah yang dapat menyelesaikan sepenuhnya permasalahan yang kompleks berhubungan dengan manusia. Dalam peta khazanah pemikiran tentang Islam modern, barangkali Iqbal merupakan satu-satunya pemikir yang memiliki akar kuat dalam tradisi Islam—Timur maupun Barat modern.

Oleh karena itu tidak berlebihan bila Iqbal dikatakan sebagai salah satu filsuf Islam besar yang membidangi gerakan yang dikenal sebagai gerakan kebangkitan Islam. Ia mencita-citakan adanya sebuah Renaisans Islam (sebagai agama ynag sempurna, agung, sekaligus sederhana). Pemikiran Iqbal dapat saja tersingkir dikarenakan terjadinya kemunduran Islam berbentuk ritualisme, obskurantisme dan fanatisme.

Agama Rasional Upaya Iqbal untuk memberikan keharmonisan antaragama dan filsafat terutama termotivasi oleh pertimbangan praktis. Dia menganggap bahwa prinsip agama tetap dibutuhkan dalam dasar yang rasional.

Hal ini sesuai denan pendapatnya bahwa agama merupakan dasar bagi pikiran, dengan keberanian bergulat dengan filsafat dan ilmu pengetahuan modern, guna membangun kehidupan manusia yang bahagia baik di dunia maupun di hari kemudian.

Kenyataannya bahwa tujuan Iqbal sepanjang hidupnya adalah untuk membangun kembali Islam. Hal itu dapat dilihat dengan nyata dari syair, puisi maupun prosanya. Keinginannya untuk menghidupkan kembali moral sosial dan ide politik Islam dapat dilihat dari kekuatan ekspresi yang muncul dalam puisi-puisi filosofisnya seperti Asrar dan komposisi-komposisi puisinya yang lain.

Ide Iqbal yang sistematis dapat ditemui dalam bukunya yang religius-filosofis berjudul The Recontruction of Religions Throught of Islam (Rekrontruksi Pemikiran Religius Islam).

Pidato-pidato, pernyataan-pernyataan dan pemikiran-pemikiran Iqbal telah membuktikan bahwa dia telah menemukan inspirasi dan petunjuk dari ajaran Al-Qur’an dan kehidupan Rasulullah SAW. Iqbal juga bangga dengan hasil yang telah dicapai oleh filsuf-filsuf dan ilmuwan-ilmuwan Islam sepanjang masa.

Inilah salah satu alasan mengapa dia begitu bersemangat mendukung penelitian dan studi mendalam yang dilakukan secara terus-menerus dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan Islam.

Keistimewaan Iqbal yang luar biasa adalah pandangannya tentang dasar kebudayaan Barat modern dan Islam yakni bahwa Iqbal tidak menganggap salah dunia Islam saat ini dan sedang mengikuti kebudayaan Barat dengan cepat.

Satu-satunya kekhawatiran Iqbal adalah kalau “kehidupan fisik yang gemerlapan” dunia Barat akan mempengaruhi gerakan dunia sehingga memnyebabkan tidak mampu mencapai inti jiwa kebudayaan yang sebenarnya.

Iqbal yakin kalau gerakan kaum komunis di Eropa dimulai secara luas karena dorongan bebas pemikiran Islam, buah humanisme yang berbentuk ilmu pengetahuan dan filsafat modern, dengan penuh segala hormat hanyalah merupakan perluasan dari kebudayaan Islam. Di sini bisa kita lihat betapa kuatnya perhatian Iqbal pada masa ini.

Dalam salah satu suratnya kepada Sahib Zada Aftad Ahmad Khan, Sekretaris All India Muhamm dari Educational Conference (Konferensi Pendidikan Islam Seluruh India) di Aligarh yang bertanggal 4 Juni 1925, dia mengatakan: “Secara kasar dapat dikatakan kalau kejatuhan politik Islam di Eropa yang sedang terjadi saat ini dimulai ketika para pemikir Islam melihat kesia-siaan ilmu pengetahuan edukatif.

Sehingga praktis sekarang ini Eropa-lah yang mengambil alih tugas penelitian dan penemuan. Aktivitas intelektual di dunia Islam praktis terhenti saat ini.”

Saat ini Barat memimpin prinsip-prinsip Islam untuk kepentingan intelektual dan ilmu pengetahuan mereka, lalu kenapa kita harus mengambil petunjuk dari mereka? Kita juga bisa mengambil jalan dengan melalui sumber asli perkembangan modern dalam ajaran Islam. Kebangkitan Islam berikut penyebarannya memainkan peran sangat menentukan dalam sejarah. Kebangkitan ini dengan sukses telah membelokkan jalannya sejarah yakni denan mengubah negara Arab menjadi negara pemimpin pada masanya.

Orang Arab mendapat identitas baru dan ide-ide cemerlang dan mereka juga dikeluarkan dari lubang kemerosotan yang sangat dalam serta peradaban yang rendah. Tapi hal itu hanya mungkin dilakukan selama umat Islam tetap setia dan bertanggung jawab pada jiwa ajaran Islam.

Iqbal juga mengetahui mengapa saat ini umat Islam tidak termotivasi dan terinspirasi oleh semangat perubahan ilmuwan Islam pada masa lalu. Perubahan yang mereka lakukan adalah berusaha melawan dominasi filsafat pada masa itu yang dikuasai tradisi Yunani.

Hal itu membuktikan bahwa ilmuwan Islam bukan pengikut yang membabi buta. Para ilmuwan Islam ini memiliki keberanian untuk memiliki keyakinan yang “berbeda dengan jalur yang tersingkir” dibandingkan dengan pendahulu mereka. Tujuan mereka adalah menguasai dan mengendalikan alam, sejarah, perubahan keadaan sosial, etika dan politik yang ada, sehingga sesuai kondisi yang berlaku saat itu.

“Kritik konservatif tak pernah menjadi halangan bagi gerakan konstruktif mereka. Dibandingkan dengan tekanan filsafat Yunani konseptualisme dan abstraksisme, Al-Qur’an mengajarkan pendekatan yang pragmatis dan praktis dalam kehidupan.

Semangat perubahan ini menimbulkan konflik antara mereka dengan logika dan filsafat Yunani. Dalam kuliahnya yang berjudul “Jiwa Kebudayaan Islam”, Iqbal berusaha menemukan perbedaan esensial yang ada antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat.

Resensi ini dimuat di Harian Solo Pos, 28 Juli 2002. Tulisan lama.

17 April 2018, Pukul 11.19

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s