Archive for July, 2018

Bila kau lihat pemuda yang lebih kaya
Cintamupun segera berpindah kepadanya

Hari minggu kemarin kami naik bis AKAS jurusan Malang-Surabaya yang berlaju kencang tanpa macet. Di perjalanan ada seorang perempuan menyanyi lagu “Cinta Hampa” dengan merdu dan mendayu.

Saya mengambil video dari samping,karena posisi duduk yang sulit. Jadi gambarnya seadanya.

Berikut video dan liriknya

Cinta Hampa

Dipopulerkan oleh D’llyod

Ibarat air di daun keladi
Walaupun tergenang tetapi
Tak meninggalkan bekas
Pabila tersentuh
Dahannya bergoyang
Airpun tertumpah tercurah
Habis tak tinggal lagi

Begitu juga cintamu padaku
Cinta hanya separuh hati
Kau lepas kembali
Nanti di suatu masa
Kau juga akan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa
Karena cinta

Bila kau lihat pemuda yang lebih kaya
Cintamupun segera berpindah kepadanya

Tapi biarlah kau cari yang lain
Kan kau buat sebagai korban
Cinta palsu hampa
Nanti di suatu masa
Kau juga kan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa karena cinta

Advertisements

“Saya masuk di dalam buku-buku, saya membaca buku banyak sekali, malahan saya berkata, in the world of the mind, I met these great men”  Ir.Sukarno, 2 Februari 1963

Tidak terasa sudah hampir seminggu di Blitar. Berkumpul dengan keluarga Mas Arif. Hari Sabtu kemarin, adalah hari terakhir saya di Banggle Kanigoro, pagi-pagi saya berangkat untuk mendokumentasikan membuat video di tiga tempat dimana saya mengenal sejarah Presiden Sukarno. Meski sudah 12 tahun menikah, saya biasanya berkunjung ke makam Bung Karno saja, baru tahun ini saya komplek terpadu museum dan perpustakaan.

Sukarno dan Buku
Sejak muda, Sukarno selain mencintai seni dan menguasai banyak bahasa, Beliau adalah pemimpin yang rajin membaca.Dia sangat menyukai buku, menulis opini, dan berdiskusi banyak hal dengan para pahlawan pendiri negeri ini.

Isi orasi sangat membahana. Membangkitkan semangat juang dan rakyat Indonesia rela berkumpul mendengar pidatonya. Anda akan bisa melihat buku apa yang dibaca oleh Sukarno, serta dalam kurun waktu 1945-2018 sudah berapa orang dan penerbit menulis tentang pemikirannya dari pelbagai sudut pandang.

Beliau juga mendapat gelar Honoris Causa dari pelbagai universitas di Indonesia karena jasanya yang besar kepada republik ini.

Jika generasi anak muda sekarang malas membaca apa yang salah dengan pendidikan di negeri kita. Terlalu sibuk ngurusin hal-hal tidak penting atau terlalu banyak online.Bagaimanapun juga minat baca itu sulit jika tidak dibiasakan (tidak bermaksud menggurui).

Empat Bagian Gedung Museum dan Perpustakaan

Namun, meskipun demikian kita harus belajar dari pendahulu kita dengan menelusuri atau napak tilas jejak mereka seperti Museum Bung Karno yang terpusat satu lokasi dengan perpustakaan proklamator di Kota Blitar.

Selain makam Bung Karno yang terletak di atas Ada empat bagian gedung yang berada menyatu namun berbeda fungsi. Pertama Sebelah air mancur atau gedung memanjang penghubung makam dengan museum utama ada koleksi perpustakaan anak yang nyaman dengan beragam buku bacaan untuk anak-anak. Persisnya dekat gazebo, jika anda membawa anak mampir kesini.

Screenshot_2018-07-31-09-44-42-1

 

Setelah itu bagian kedua ada gedung utama di sebrangnya, yaitu Museum Bung Karno. Di sana ada foto-foto masa kecil Bung Karno, saat perjuangan, proklamasi, masa pembuangan, foto keluarga, kedatangan tamu negara dan lain sebagainya bisa anda lihat di sini.

Video Museum Bung Karno. Bisa di lihat di sini.

Setelah anda melihat ke museum, anda bisa menyebrang ke bagian tiga gedung yaitu perpustakaan proklamator koleksi umum. Di sana terdapat majalah, koran, buku sejarah, buku populer, novel, ekonomi dan lain sebagainya. Ratusan judul buku ada di sini dengan ruang baca yang nyaman.

Barang anda dititipkan di satpam perpustakaan.Anda juga bisa meminjam buku di sini yang terdiri dari dua lantai.Mendaftar jadi anggota bagi warga Blitar, dan mengusulkan buku yang ingin anda baca.

Berikut Video Koleksi Umum Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar.

Sebenarnya ada dua pilihan. Jika anda orang dari luar kota, anda ingin membaca langsung buku karya Bung Karno dan buku karya orang lain tentang sosok Bung Karno, anda bisa melewati perpustakaan koleksi umum, langsung di lantai dua menyebrang ke gedung bagian keempat yaitu perpustakaan koleksi khusus Bung Karno.

Anda bisa melihat audio visual, dan membaca di tempat. Koleksi khusus Bung Karno di jaga oleh beberapa orang petugas. Setelah mengisi daftar pengunjung, anda bisa melihat koleksi buku yang ada di etalase dan katalog.

Di sini anda hanya bisa membaca di tempat,tidak bisa dibawa pulang maksimal pinjam dua buku. Bagus-bagus koleksinya.

Berikut Video tentang Koleksi khusus Perpustakaan Bung Karno di lantai dua.

Video yang saya buat memakai perangkat gawai biasa dengan menggunakan aplikasi FilmoraGo. Saya menyadari video yang saya buat amatiran, sangat jauh dari sempurna. Harap maklum jika banyak kekurangan di sana sini.

Ketintang, 31 Juli 2018 Pukul 10.11 WIB

Sebenarnya saya membaca Majalah National Geographic sudah lama, biasanya saya baca di Perpustakaan Kemendikbud Senayan Jakarta. Banyak wawasan baru setiap edisi, namun belum pernah saya ceritakan di blog ini. Baru pada bulan ini saya bikin sedikit review Majalah edisi bulan Juni yang mengangkat tema tentang Bumi Atau Plastik, Ancaman dan Asa Plastik di Indonesia. Namun, kali ini saya membaca ulang di koleksi umum perpustakaan proklamator Bung Karno Blitar.

Saya juga sudah membaca edisi Bulan Juli, namun karena saya sudah merasakan dan melihat bagaimana sampah di pinggir pantai beberapa waktu yang lalu, maka tidak ada salahya atau semoga belum terlambat kita mengantisipasi sejak dini timbunan sampah plastik yang ada di daratan maupan pinggir laut (pantai) bahkan dalam laut.

Konsistensi Tanpa Sampul Plastik

Satu hal yang saya suka dari majalah ini adalah mencopot sampul plastik yang ada di setiap majalah baru. Wah menarik juga ya, dimana hal paling sulit dalam hidup kita adalah konsisten antara tulisan dan perbuatan. Pemberitahuan ini dimuat semacam pengumuman sederhana namun resikonya besar.

Karena apa, jika kita membeli buku atau majalah baru tanpa sampul plastik terkadang kita berpikir bukan buku atau majalah baru karena sudah tidak ada plastiknya 😊. Ya, semoga upaya ini menjadi kepedulian bagi kita semua untuk memperhatikan plastik atau sampah terdekat dalam kehidupan kita.

Ada banyak foto menarik seperti biasa, investigasi majalah ini berkaitan dengan semakin sulitnya kita menghentikan kebiasaan atau ketidakberdayaan terhadap apapun yang kita minum, makan, pakai dan tempat tinggal.

Delapan Juta Ton Plastik Berakhir di Laut dan Spesies Laut Terluka

Di halaman depan sudut kiri ada semacam penekanan kata terhadap jumlah sampah plastik dimana setiap tahun delapan juta ton plastik berakhir di laut. Itu baru yang terlihat di permukaan.

Dari halama 54 sampai halaman 101, laporan utama plastik ini membuat kita berkali-kali mengernyitkan dahi, tertegun, terbelalak melihat foto-foto, dan sedikit lega dengan adanya solusi untuk mengurangi.

Tulisan Laura Parker dan Fotografer Randy Olson dari National Geographic membuka tulisan dengan data statistik yang akurat tentang plastik.

Dia menulis bahwa sudah 150 tahun kita menciptakan materi yang ringan, kuat dan murah. Lebih dari 40% diantaranya hanya digunakan satu kali, Kini matero mukjizat ini membantu jantung berdenyut dan pesawat melesat dan delapan juta ton tiba di laut seperti yang saya tulis di atas.

Narasi yang kuat tentang bahaya plastik dan foto-foto sampah plastik di laut sangat menarik namun tidak asyik. Kenapa dikatakan demikian, karena kebiasaan buruk kita yang membuang barang plastik yang membahayakan biota laut.

20180728_091621
Sebelum Laut Berubah Menjadi Sup Plastik

Pada halaman 60 ditulis jika sampah plastik menewaskan jutaan satwa laut setiap tahun. Diketahui hampir 700 spesies, termasuk yang terancam punah karena dampaknya.Sebagian biota laut cedera dengan gamblang-tercekik jala terbengkalai atau cincin plastik minuman kaleng. Mungkin banyak lagi yang cedera tanpa terlihat.

“Spesies laut segala ukuran, dari zooplankton hingga paus, sekarang makan mikroplastik, serpih yang besarnya tak sampai lima meter,”

Ted Siegler, ahli ekonomi sumber daya daya dari Vermont mengatakan jika ini bukan masalah yang tidak diketahui solusinya.

“Kita tahu cara memungut sampah, cara membuang, cara mendaur ulang. Masalah utamanya adalah soal membangun lembaga dan sistem dan sistem, katanya idealnya sebelum laut berubah menjadi sup plastik encer yang mustahil dibenahi berabad-abad.

20180728_091610

Mendengar kata sup plastik, membuat saya menelan ludah. Membayangkan apa yang tejadi jika kita membiarkan ini berlangsung tanpa kesadaran dan pencegahan yang radikal.

Tutup botol minuman kemanasan dibuat dengan ilustrasi seperti gambar gurita plastik dengan spesies laut yang menghuni tutup botol. Seperti tutup botol minuman ringan dalam perut anak albatros di Midway Atoll, cacing keel yang hidup di tutup botol air minum, dll.

20180728_092521

 

Solusi untuk menghentikan

Pembahasan tentang plastik biodegrable dan Norwegia yang berhasil mendaur ulang 97%, produk yang bisa membantu mengurangi plastik, serta enam hal yang bisa anda dilakukan untuk menguranginya (98-101).

20180728_092658

Produk yang bisa membantu mengurangi limbah plastik juga disampaikan seperti sikat gigi dengan kepala sikat yang bisa diganti, pembungkus makanan berbahan dasar lilin lebah dan kapas, sedotan dari logam yang bisa dipakai ulang, dan cincin pengikat minuman yang dibuat dari kompos limbah pembuatan minuman berkaleng.

Lalu apa saja enam hal itu, pertama tanpa kantong plastik, tanpa sedotan, lupakan botol plastik, hindari kemasan plastik, daur ulang yang bisa, dan jangan buang sampah sembarangan.

Dilema Mengkampayekan Lingkungan Bersih dengan Penetrasi Kapital

Saya sendiri termasuk yang sulit konsisten dengan sampah plastik karena kondisi dan keadaan. Tidak hanya sampah plastik, saya juga gelisah dengan sampah elektronik dan teknologi seperti modem bekas, usb bekas, kaset bekas, baterei bekas, colokan bekas, casing bekas dan komputer dan laptop bekas. Dimana di masa yang akan datang pasti akan semakin menumpuk dan tidak tahu bagaimana cara mengurainya.

20180728_092717

Berbicara isu lingkungan kita juga harus memikirkan nasib industri plastik, pekerja pabrik plastik dan makanan yang dibungkus plastik dll. Menjadi dilematis memang ketika kepedulian lingkungan berlawanan dengan keuntungan kapital dan gaya hidup yang instan dan praktis.

Tapi bagaimanapun kesadaran dan lingkungan dan alam yang bersih itu lebih penting daripada uang banyak kita sakit-sakitan. Karena air yang kita minum tercemar hingga harus minum air kemasan dibungkus plastik, tanah yang kita tanami sudah tereduksi sampah yang tidak terurai, ikan yang kita makan terancam mengandung mikroplastik dan efek lainnya yang menimbulkan penyakit berbahaya dan akan mengancam bumi manusia dan isinya. Maka tidak aneh ya jika orang yang dipenjara atau orang tua kita dulu minum air keran.

Sebenarnya apa yang saya baca di majalah National Geographic kali ini baru sedikit saya sampaikan, lebih baik anda dan keluarga,sahabat, teman kerja atau semua orang membaca majalah ini. Bisa membeli, atau membacanya sambil berkunjung ke perpustakaan.

Koleksi umum Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar
28 Juli 2018 Pukul 14.50

Resensi Buku: Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia)
Penulis : Ir. Sukarno
Edisi : Tjetakan Ketiga, 1963
Penerbit: Panitya Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Sukarno
Koleksi: UPT Perpustakaan Bung Karno Kota Blitar, Perpustakaan Nasional RI
Sarinah dan Perjuangan Perempuan untuk Keadilan Sosial

“Sjair Inggris mengatakan Man works from rise to set of sun, woman’s work is never done, artinya, laki kerdja dari matahari terbit sampai terbenam, perempuan kerdja tiada hentinja siang dan malam,” Ir.Sukarno, dalam buku Sarinah halaman 77

Screenshot_2018-07-28-14-34-15

Orang Ketjil Berbudi Besar

Raden Soekemi Sosrodiningrat dan Ida Ayu Nyoman Ray memiliki dua orang anak, yaitu Sukarmini dan Sukarno. Sebagai keluarga bangsawan, mereka memiliki kesibukan lain disamping membesarkan dua orang anaknya yang masih Balita. Sukarno akhirnya di asuh oleh Sarinah.

Kitab Sarinah ditulis oleh Sukarno sesudah berpindah kediaman dari Djakarta ke Djogjakarta, dimana saat itu tiap dua pekan sekali Sukarno mengadakan banyak kursus-kursus keputrian. Sukarno menulis bahwa alasan utamanya kenapa kitab (buku) ini dinamakan “Sarinah”?

Saja menamakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terimakasih saja kepada pengasuh saja ketika saja masih kanak-kanak. Pengasuh saja itu bernama Sarinah. Ia “mbok” saja. Ia membantu ibu saja, dan dari dia saja menerima banjak rasa kasih. Dari dia saja mendapat peladjaran mentjintai “orang ketjil”. Dia sendiripun “orang ketjil” tetapi budinja selalu besar! Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu.

Mendapat Pujian dari Tiga Pemimpin Dunia

Sebagai orang yang pernah bekerja di penerbitan, saya tidak menyangka jika buku yang ditulis presiden pertama Indonesia ini, sampulnya memuat endorsement (pujian) dari para pemimpin dunia, padahal buku ini terbit tahun 1963. Berarti bisa dibayangkan jika, dunia penerbitan di Indonesia sudah mengalami kemajuan pesat sejak jaman perjuangan. Paling sulit dalam proses penerbitan buku selain editing adalah mencari endorsement, harus lama menunggu, menyesuaikan jadwal dan menanti tokoh tersebut membaca buku yang ditulis. Ini membuktikan bahwa Bapak Proklamator kita selain menguasai banyak bahasa juga dikagumi pemimpin dunia.

Orang pertama yang menulis pujian terhadap buku bersampul gading dengan judul merah ini, adalah Mahatma Gandhi. Dia menulis sebagai berikut. Banyak sekali pergerakan-pergerakan kita kandas di tengah djalan, oleh karena keadaannya wanita kita”-Gandhi.
Setelah itu, pemberi pujian kedua adalah  Lenin. Lenin berkata “Djikalau tidak dengan mereka (wanita), kemenangan ta’ mungkin kita tjapai,” Lenin dan sebagai penutupnya adalah Presiden Turki,  yang menulis “Diantara soal-soal perjuangan yang harus diperhatikan, soal wanita hampir selalu dilupakan,” Kemal Ataturk.

Enam Bab Penuh Makna Filosofis

Anda jangan membayangkan jika buku ini menceritakan biografi Sarinah dari A-Z. Karena yang dalam buku ini yang dimaksud Sarinah oleh Bung Karno adalah symbol perempuan Indonesia yang tidak berdaya, lebih banyak menceritakan tentang pemikiran perempuan Indonesia yang harus berjuang, memperjuangkan dirinya, bangkit dari kebodohan dan keterpurukan namun tidak lupa kodrat.

Bab pertama, Sukarno menulis panjang lebar tentang Makna dan Soal Perempuan, bab kedua mendedahkan tentang Laki-laki dan Perempuan, bab tiga tentang dari Gua ke Kota. Terlihat, dalam proses penulisan, Sukarno sangat bersemangat dengan tulisan yang diketik dan banyak penekanan huruf-huruf besar jika menyangkut salah satu nilai yang diperjuangkan.

 

Usai tiga bab menjelaskan tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga, bernegara, dan kehidupan sosial, bab empat pembahasannya lebih mendalam yaitu menyangkut ideologi Matriarchat dan Patriarchat, yang dilanjutkan dengan bab lima membahas tentang wanita bergerak.

Dalam kaitannya dengan ideologi matriarki, patriarki, feminis dan neo feminis anda akan kaget dengan pemikiran Beliau. Dimana disini, dia mengambil banyak ide-ide tentang gerakan wanita yang menurut dia bisa menjadi semacam ruh dalam suatu perjuangan. Selain karena perempuan memiliki rahim (kasih sayang), maka ruh dalam rahim perempuan harus memperjuangkan diri akan terciptanya suatu kehidupan penuh harapan.

Sarinah Dalam Perdjoangan Republik Indonesia (more…)

Resensi Buku
Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat
Karya: Cindy Adams, Edisi Revisi, 2007
Alih bahasa: Syamsu Hadi
Penerbit: Yayasan Bung Karno dan Penerbit Media Pressindo Jogjakarta

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata,” Ir. Sukarno 1933.

Buku berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” ini merupakan karya monumental Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno yang memerintah sejak tahun 1945-1966. Buku ini berkisah tentang perjuangannya sejak dia lahir, sekolah, kuliah, menikah, memproklamasikan kemerdekaan, membesarkan anak-anak, mengunjungi pelbagai negara, bertarung melawan pemberontakan komunis dan paham Islam yang kolot, diturunkan dari pemerintahan dan diancam digantung karena antek CIA, hingga masa akhir hayatnya yang sakit cukup lama dan menderita di hari tua hingga ajal menjemput dan menutup mata.

Buku yang ditulis oleh wartawati asal Amerika Serikat Cindy Adams ini sudah beberapa kali terbit dan mengalami revisi, seperti yang dijelaskan Guruh Sukarnoputra dalam kata sambutannya di pembukaan buku ini. Sempat diterbitkan beberapa kali dan diterjemahkan dengan makna yang tidak tepat, membuat keluarga Bung Karno membuat revisi yang terbit pada tahun 2007.

Sebagai wartawati, Cindy Adams menulis dengan baik buku yang terdiri 33 bab ini. Narasi yang disampaikan Cindy Adams, ditulis secara bertutur, sehingga seolah-olah Bung Karno sendiri yang menceritakan dirinya dalam buku yang memiliki tebal 415 halaman ini ditulis pada tahun 1964. Awal mula penulisan buku ini adalah saat itu Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones berkunjung ke istana Bogor dan menyarankan Bung Karno untuk menulis biografi.

Bung Karno akhirnya menyetujui untuk membuat biografi dan bersedia diwawancara oleh Cindy Adams, wartawati Amerika Serikat yang berada di Indonesia bersama suaminya Joey Adams yang memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara.

Putra Sang Fajar Berbintang Gemini

Sukarno adalah anak dari seorang ibu kelahiran Bali. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai Serimben (biasa disapa Idayu). Idayu, merupakan keturunan bangsawan. Raja Singaraja yang terakhir adalah paman ibunya Bung Karno. Sedangkan sang ayah, berasal dari Blitar, Jawa Timur. Nama lengkapnya Raden Soekemi Sosrodiharjo. Raden Soekemi merupakan gelar kebangsawanan. Dan bapak berasal dari Keturunan Sultan Kediri.

Raden Soekemi-ayah Sukarno-merupakan mantri guru sekolah pribumi dan sempat menjadi asisten peneliti bahasa Van Den Tuuk dan pernah bekerja di Buleleng Singaraja, karena Ibu Sukarno (Idayu) berasal dari keluarga Serimbin.

Raden Soekemi merupakan putera seorang ulama masyhur pada masanya. Keluarga Raden Soekemi merupakan patriot hebat. Nenek dari nenek ayah Sukarno memiliki pejuang pendamping pahlawan besar Diponegoro. Sewaktu Sukarno kecil, Ibunya sering mendengarkan cerita-cerita mengenai kebangsaan dan kepahlawanan. Sukarno bersimpuh di dekat kaki Ibu berjam-jam untuk mendengarkan cerita menarik dari perjuangan melawan penjajahan.

Kepada Cindy Adams, Sukarno terus terang menceritakan kisah cinta orangtuanya di masa muda. “Ibuku tercinta itu pun menceritakan bagaimana Bapak menaklukkan hatinya. Semasa muda Ibu adalah gadis di Pura Hindu Budha yang bertugas membersihkan rumah ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak yang bekerja sebagai guru sekolah rendah gubernemen di Singaraja sering datang ke air mancur di muka pura pulang sekolah. Suatu hari dia melihat Ibu, sering bertegur sapa dan keduanya saling jatuh cinta. (hlm, 25)

Sudah menjadi tradisi, perempuan Bali tidak boleh menikah dengan orang luar. Bukan orang luar dari negara lain, tetapi orang dari pulau lain. Waktu itu sama sekali tidak ada perkawinan campuran antara satu suku dengan suku lain. Kalaupun bencana semacam ini terjadi, pengantin baru itu diasingkan dari rumah orangtuanya sendiri.

Karena ayah Sukarno beragama Islam dan Ibunya seorang Hindu tidak mungkin mereka menikah. Namun, karena saling cinta, mereka akhirnya mendobrak tradisi. Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai akhirnya melakukan kawin lari. Peristiwa ini memang tidak lazim, namun untuk mendapat pengesahan, kedua pengantin di bawa ke depan pengadilan.

Akhirnya pengadilan mengizinkan perkawinan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai meskipun pengadilan menjatuhkan denda kepada sebesar 25 ringgit atau 25 dollar kepada mempelai perempuan dengan menjual perhiasan.

“Karena merasa tidak disenangi di Bali, Bapak kemudian mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk pindah ke Jawa. Bapak di pindah ke Surabaya dan disanalah aku dilahirkan,” ujar Sukarno pada Cindy Adams. Sukarno lahir pada 6 Juni 1901.

Cindy Adams menulis tentang asal usul kenapa, dia mendapat julukan Putra Sang Fajar. “Ketika aku masih bocah kecil, mungkin berumur dua tahun, ibu telah memberkatiku. Dia bangun sebelum matahari terbit dan di dalam kegelapan di beranda rumah kami yang kecil dia duduk tidak bergerak, tanpa melakukan apa-apa dan tanpa bicara, hanya memandang ke arah timur dengan sabar menantikan datangnya fajar.

Ketika aku terbangun dan mendekatinya, dia mengulurkan kedua belah tangannya dan meraih badanku ke dalam pelukannya, lalu pelan-pelan mendekap tubuhku ke dadanya. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan lembut,” ujar Sukarno menerawang masa kecilnya bersama Ibu tercinta.

“Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau, anakku, kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena Ibu melahirkanmu saat fajar menyingsing. Kita orang Jawa memiliki suatu kepercayaan, bahwa seorang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah digariskan sebelumnya. Jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra sang fajar,” (hlm 21)

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal 6 Juni. Aku bernasib sangat baik dengan dilahirkan di bawah bintang Gemini, lambang anak kembar. Dan memang itulah aku yang sebenarnya. Dua sifat yang sangat bertentangan. Aku bisa lemah lembut atau aku bisa rewel; keras bagai baja, atau puitis penuh perasaan. Pribadiku merupakan perpaduan dari pikiran dan emosi.

Aku orang yang suka memaafkan, akan tetapi aku pun seorang yang keras kepala. Aku menjebloskan musuh-musuh negara ke balik jeruji penjara, namun aku tidak tega membiarkan burung terkurung di balik sangkar.


Berganti Nama Karena Sering Sakit

Raden Soekemi adalah seorang pecinta seni dan pengagum wayang. Sejak lahir, Sukarno diberi nama Kusno. Namun, karena sakit-sakitan, ayahnya mengganti namanya.

“Namaku ketika lahir adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang sakit-sakitan. Aku terkena malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit. Bapak berpikir. ”Namanya tidak cocok. Kita harus memberinya nama lain agar tidak sakit-sakitan lagi. Bapak adalah pengagum Mahabharata, cerita klasik Hindu zaman dahulu. Aku belum mencapai usia remaja, ketika bapak berkata, “Engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar Mahabharata.” (halaman31).

“Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno-mengikuti cara Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan semua OE ditulis kembali menjadi U. Nama Soekarno sekarang ditulis menjadi Sukarno. Tetapi tidak mudah bagi seseorang untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun, jadi dalam hal tanda tangan aku menulis S-O-E,” ungkap Sukarno terus terang tentang penulisan nama yang sampai saat ini masih simpang siur antara Soekarno atau Sukarno.

Karena buku ini sangat tebal, saya tidak akan menceritakan secara mendetail apa saja yang terjadi semasa kecil hingga beranjak dewasa menjadi remaja dan gemar membaca karya filsafat. Namun, jika anda ingin membaca langsung buku ini, ada beberapa bab yang menceritakan bagaimana kisah sedih masa mudanya di Eerste Indianse School, di mojokerto, kemudian pindah ke ke Europheesche Lagere School (ELS), dan melanjutkan ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya dan tinggal di rumas HOS Tjokroaminoto sahabat ayahnya, di buku ini Sukarno memiliki kesan Kota Surabaya sebagai Dapur Nasionalisme.

Di masa remaja, Sukarno melanjutkan kuliah ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH, sejak 1959 menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan tinggal di kediaman H. Sanusi, teman dekat HOS Tjokroaminoto. Selama di Bandung, Sukarno melakukan perjalanan ke daerah persawahan di Bandung, disana ia bertemu dengan seorang petani bernama Marhaen.

Selanjutnya setelah lulus ia berjuang, rajin menulis opini dan mendirikan Partai Nasional Indonesia serta keluar masuk penjara (bui) dari penjara Banceuy, Sukamiskin, proses pengadilan dan satu bab sendiri saat keluar dari penjara (139).

Perempuan dalam Kehidupan Sukarno

Selain peran ibunya Ida Ayu Nyoman Rai yang sangat ia hormati. Sukarno kecil diasuh oleh seorang perempuan bernama Sarinah. Bagi Sukarno, rasa cinta kasih sayang bagai oase yang luas di padang pasir. Ia mampu menyejukkan dan membasahi tanah yang tandus. Menurutnya terlahir sebagai anak orang miskin dan melarat merupakan surat takdir yang harus dijalani. Dalam kemiskinan itulah, ia mendapat kasih sayang cinta yang penuh dari seorang Ibu dan pengasuhnya bernama Sarinah.

Menurut Bung Karno, tidak ada cinta yang lebih baik dari cinta seorang ibu. Namun, ia juga tidak mengesampingkan sosok Sarinah sebagai seorang pengasuh. Sarinah adalah seorang pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Tidak ada hal yang istimewa dari riwayat hidupnya. Ia pun tidak menikah dan tidak memiliki keturunan.

“Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak menikah, dia kami anggap sebagai anggota keluarga. Dia tidur dengan kami, tinggal bersama kami, memakan apa yang kami makan, tetapi dia tidak mendapat gaji sepeserpun. Dialah yang mengajariku mengenal kasih sayang. Sarinah mengajariku untuk mencintai rakyat. Rakjat kecil.

Selagi dia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan dia memberi nasihat, “Karno, di atas segala nya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia,” Sarinah adalah satu nama biasa. Tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita biasa. Dia orang yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku.” (Halaman 30)

Karena rasa cintanya yang besar pada Sarinah, Sukarno menulis sebuah buku yang terbit pada tahun 1963 berjudul “Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia)” yang ia tulis di Jogjakarta. (Resensi Menyusul). Selain Ibu Idayu dan Sarinah, ada perempuan lain yang juga memiliki pengaruh dalam kehidupan Presiden pertama Indonesia ini.

Bung Karno menjelaskan jika dia menyukai gadis-gadis menarik di sekitarnya, karena aku merasa mereka seperti bunga dan aku suka memandang bunga. Orang bilang, Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan sudut matanya. Itu tidak benar. Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan seluruh bola matanya.

Tetapi ini bukanlah suatu kejahatan. Bahkan Nabi Muhammad SAW, mengagumi kecantikan. Dan sebagai seorang Islam yang saleh, aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. “Tuhan yang dapat menciptakan mahluk cantik seperti kaum perempuan adalah Tuhan yang maha besar dan maha pengasih,” Aku setuju dengan ucapan beliau ini. (hlm 13).

Perempuan pertama yang pernah melaksanakan kawin gantung dengan Sukarno adalah Siti Oetari (16 tahun), putri HOS Tjokroaminoto, pada tahun 1921, dan diajak kuliah di ITB Bandung. Saat di Bandung, Sukarno tinggal di H. Sanusi dan jatuh cinta pada istri H. Sanusi bernama Inggit Garnasih dan menjelaskan pada Inggit bahwa hubungannya dengan Oetari adalah sebagai adik kakak. Sukarno juga terus terang kepada H.Sanusi bahwa ia mencintai Inggit, setelah itu H. Sanusi menceraikannya.

Sukarno dan Inggit Garnasih menikah pada 24 Maret 1923 dan menemani perjalanan politik, di penjara, diasingkan di Ende Flores, dan dibuang ke Bengkulu. Selama 18 Tahun menikah dengan Inggit, Sukarno tidak punya keturunan, mereka mengangkat anak angkat Ratna Juami (Omi), putri Ny. Murtasih kakaknya Inggit.

Di Bengkulu Ratna Juami sekolah di Rooms-Katholik Vakschool dan bersahabat karib dengan Fatmawati, putri tokoh Muhammadiyah di Bengkulu bernama Hassan Din. Saat itu Fatmawati berusia 15 tahun dan Sukarno mengajar Fatmawati dan Ratna Juami mengaji. Namun, karena intensitas di Pengasingan Bengkulu, lama-lama Sukarno jatuh cinta pada Fatmawati, dan berniat menikahinya.

Sukarno meminta restu pada Inggit untuk menikah dengan Fatmawati, namun Inggit menyatakan dengan tegas bahwa ia menolak dimadu dan memilih bercerai. Sukarno memulangkan Inggit ke Bandung pada 1942. Pada 1 Juni 1943, Sukarno menikah dengan Fatmawati.

Ir. Sukarno berpidato dalam sidang Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengenai dasar negara yang diberi nama Pancasila, 1 Juni 1945. Bersama dengan Ir. Sukarno dan Drs. Muhammad Hatta, Bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan

Jepang dan memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dan membacakan teks proklamasi dan diangkat sebagai Presiden RI pertama oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945. Saat hamil Guntur, Fatmawati menjahit bendera merah putih yang nantinya menjadi bendera pusaka. (halaman, 398).

Perjuangan tidak Pernah Usai Meskipun Telah Merdeka Pada 4 Januari 1946, Ibukota negara pindah dari Jakarta ke Jogjakarta. Namun tidak lama kemudian pusat pemerintahan kembali dari Jogjakarta ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan pada Konferensi Meja Bundar (KMB), 28 Desember 1949. Pada 5 Juli 1959, Presiden Sukarno atas nama rakyat Indonesia mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959.

Dengan Fatmawati, Sukarno memiliki lima orang anak, yaitu Guntur, Megawati Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Pernikahan Fatmawati dan Bung Karno kandas pada 1954, ketika Bung Karno ingin menikahi Siti Hartini, perempuan asal Ponorogo. Fatmawati berprinsip tak ingin dimadu dan anti poligami. Dengan Siti Hartini, Bung Karno memiliki dua orang anak yaitu Taufan dan Bayu.

Dalam buku ini tidak diceritakan siapa saja perempuan yang menikah dengan Sukarno setelah Siti Hartini. Namun, dalam gambar di halaman belakang ada foto-foto Sukarno Hartini menjamu acara kenegaraan dalam menerima tamu dari luar negeri. Dan foto-foto anak-anak Fatmawati menghadiri pernikahan anak Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto), yaitu Kartika di Jepang. Mereka terlihat rukun dan guyub meskipun berbeda ibu kandung.

Disamping berkaitan dengan peran perempuan dalam kehidupan Sukarno, ada sepuluh bab lain yang harus anda baca, berkaitan dengan memepertahankan kemerdekaan, dimana masa-masa itu sejarah mencatat banyak peristiwa penting. Seperti ketika Jepang datang, Pendudukan Jepang, Kolaborator atau Pahlawan, Anakku yang Pertama, Harganya Kemerdekaan, Awal dari Akhirnya, Perundingan di Saigon, Diculik, Proklamasi, Revolusi dimulai.

Refleksi atas Sebuah Perjuangan Penuh Cinta

Setelah anda membaca dari awal tentang masa kecil, remaja, mahasiswa dan sejarah merdeka, pemberontakan dari dalam negeri yang dimana saya kira para pembaca sudah kenyang dengan pelajaran sejarah yang selama ini kita pelajari, dari SD-SMP. Jadi tidak usah saya perjelaskan panjang lebar, lebih baik membaca sendiri buku ini dan anda akan banyak membuka mata tentang siapa itu Sukarno, Muhammad Hatta dan para pahlawan yang selama ini berjuang buat tanah air tercinta.

Namun, anda akan terharu membaca bagian akhir. Terutama tiga bab yang menjelaskan tentang masa Masa Mempertahankan Hidup, Masa Perkembangan, dan Sukarno Menjawab. Bagaimana dia selalu gelisah dengan isu Partai Komunis Indonesia, sulit tidur dan tidak bisa lepas dari membaca buku saat ia dilanda kesedihan dan kecintaan pada rakyat Indonesia. Cerita tentang kaus dalam dan piyama kesayangan pemberian para sahabat, membuat kita sadar bahwa Bung Karno di era buku ini ditulis sedang dalam masa kegalauan. Pesan tentang ia dimana ia dikuburkan setelah meninggal, dan beberapa foto kenangan sejarah bersama keluarga dan saat ia sakit ada di halaman belakang.

Kartunis Penolak Bantuan

Dalam buku ini dijelaskan dengan tegas, Bung karno jika biografi ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap kehidupan pribadinya maupun terhadap rakyat yang dicintainya dan juga masyarakat Internasional. Ia gunakan kesempatan ini antara lain untuk menjawab serangkaian tuduhan yang pernah ditujukan pada media massa nasional dan internasional kepadanya, antara lain sebagai kolaborator Jepang dan komunis serta terlalu sering ke luar negeri.

Tidak cukup satu atau dua hari anda membaca buku bersampul merah ini. Saya sempat berhenti sejenak menghela nafas, merenung, melanjutkan lagi dengan perasaan bercampur aduk. Karena selama ini, saya mengakui, bahwa saya kurang banyak membaca buku sejarah pahlawan, hanya sekilas saja, tidak sampai mendalam sampai urusan yang sangat pribadi pun pendiri Bangsa ini. Bung Karno sangat terbuka dalam beberapa hal, kita semua anak muda dan generasi penerus harus tahu itu, jangan hanya enak-enak saja menikmati buah dari kemerdekaan.

Seperti buku Mahatma Gandhi yang pernah saya tulis sebelumnya di sini, peran Bapak, Ibu, Istri, keluarga dan sahabat memiliki pengaruh yang besar untuk mencetak seorang pemimpin revolusioner. Kita juga bisa merasakan bagaimana, kesedihan Bung Karno setelah menjadi Presiden dan tinggal di Istana, Ibunya tidak mau ikut ke Istana dan memilih tinggal di Blitar. Sehingga, Bung Karno, sering pulang ke Blitar, sungkem dan bersimpuh meminta do’a kepada ibunya agar semua pekerjaannya diberi kelancaran.

Setelah ini saya ingin banyak membaca karya lainnya berkaitan dengan beberapa tokoh yang ada dalam buku ini supaya saya, dan semoga Anda pembaca menjadi orang yang tidak sok tahu sejarah sebenarnya dan ahistoris. Dengan membaca kita akan merasakan bagaimana kegembiraan Sukarno mencintai Marhaen, bahagia memiliki anak, semangat memproklamasikan diri, perceraian, dan kesedihan yang menyayat hati, menghibur diri dengan buku dan tabah menghadapi masa akhir kehidupan

Ada dua kejutan yang saya baca di halaman akhir, yang membuat saya tidak menyesal membaca buku ini dari awal sampai akhir. Pertama yaitu, kebenciannya atas bantuan Amerika Serikat, dia mengatakan dengan tegas. “Go to Hell, American Aid,”. Tanpa ada kelanjutan makna sesudah itu. Kedua, Sebuah karya Karikatur yang ia buat sendiri dan dimuat di halaman belakang buku ini, karyanya bagus dan menarik. Saya tidak menyangka jika Bung Karno adalah seorang Kartunis.

Kelebihan buku ini ada pada penuturan yang gamblang dan menyentuh perasaan. Banyak kejutan, dan kita bisa memahami pemimpin berbintang gemini ini dari berbagai sudut pandang. Namun kelemahannya, buku ini sudah jarang beredar, hanya ada di beberapa tempat tertentu, itu saja tidak bisa dipinjam, hanya bisa ditempat. Sedangkan secara teknis kelemahan fatal ada pada cetakan foto yang nampak buram, padahal fotonya bagus-bagus. Seperti anak-anak Bung Karno ketika kecil, foto kunjungan pemimpin beberapa negara dan foto ketika Beliau sakit terlihat suram.

Namun, diantara ratusan buku yang berkisah tentang orator ulung dan arsitek ini, saya rekomendasikan membaca buku ini. Apalagi jika anda punya banyak waktu luang, tidak kebanyakan online, dan ingin mengetahui biografi pemimpin negeri yang sangat kita cintai ini.

Blitar, 25 Juli 2018, Pukul 18:34

Saya cukup lama mengikuti kecendrungan anak-anak Indonesia yang terlahir setelah tahun 2010 ke bawah, kaitannya dengan minat mereka terhadap membaca dan olahraga, untuk menghindari kecanduan mereka terhadap teknologi internet dan permainan (game) online yang ada dalam perangkat lunak (gadget) maupun komputer/laptop.

Meski penelitian saya ini belum sepenuhnya benar karena permasalahan anak di tiap daerah berbeda, namun saya optimis di masa yang akan datang, anak-anak Indonesia akan memiliki minat yang sangat tinggi terhadap dunia membaca atau dunia pustaka karena pendidikan orangtua dan semakin menariknya perpustakaan di setiap wilayah yang ada di Indonesia.

20180724_124350

 

Sejak awal tahun 2018, ada beberapa provinsi yang saya kunjungi seperti Perpustakaan DPR RI, Perpustakaan Jawa Barat, Perpustakaan Jawa Tengah, Grhatama Pustaka Jogjakarta, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Jogjakarta, Perpustaan Provinsi Banten, Perpustakaan Saidjah Adinda Lebak, Perpustakaan Daerah DKI Jakarta di Kuningan, Perpustakaan Kemendikbud, Perpustakaan Kementerian Keuangan, Perpustakaan Kementerian Pertanian, Perpustakaan Kabupaten Sukabumi, Perpustakaan Kota Sukabumi dan Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar.


Anak-anak banyak yang berkunjung ke perpustakaan bersama teman-teman satu kelas atau sepermainan. Ada juga yang diantar oleh ibunya usai dijemput dari sekolah. Beragam cara mereka dilakukan orang tua agar sang anak terhindar dari permainan (game) di gadget yang sudah seperti narkoba, sulit dihentikan.

Ki Hadjar Dewantara pernah melukiskan tentang pentingnya membaca bagi anak-anak. Terutama bila dikaitkan dengan keutamaan pendidikan.

Berkaitan dengan minat olahraga. Keberadaan Lingkungan, orangtua, remaja, dan sanak saudara yang gemar berlari setiap pagi (jogging) sebelum bekerja, atau naik sepeda untuk berangkat ke kantor atau berwiraswasta sudah semakin marak di kota-kota besar. Semoga para orang tua anak-anak Indonesia tidak sekedar suka menonton olahraga, tapi juga suka berolahraga.

Meskipun bagi kalangan petani di desa, berjalan kiloan meter atau bersepeda ke sawah itu sudah lama di lakukan sejak kecil hingga menjelang hari tua.

ol (6)

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang anak muda kekinian yang peduli energi dan lingkungan silahkan klik di sini Anak Muda Peduli Lingkungan dan Energi.

Kita memang tak bisa memaksa anak menjadi seperti yang diinginkan oleh orangtua. Namun, jika kita memberi contoh yang baik, maka dengan sendirinya sang anak bisa menjadikan orangtua sebagai figur panutan, begitu juga sebaliknya.

Maka saya berharap, di masa yang akan datang anak-anak Indonesia akan menorehkan prestasi di berbagai bidang, baik dalam penemuan (inovasi) karena ketekunan maupun dalam prestasi olahraga.

Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar, Jawa Timur, 23 Juli 2018

Pukul 13.17 WIB

Sore tadi kami berjalan-jalan sore menyusuri perumahan kampung, pematang sawah, dan kebun jagung. Tujuannya selain untuk berolahraga, kami ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir (sarean).

Jarak dari rumah keluarga besar kami di Dusun Banggle, Kanigoro Blitar lumayan jauh, ada sekitar kurang lebih dua kilo meter. Kami berjalan enam orang, saya, mas arif dan empat orang keponakan.

Kurang lebih 50 menit kami berjalan, cuaca sore itu sangat cerah dengan udara segar. Meskipun bulan ini bukan musim penghujan, namun semua tanaman di perkebunan tumbuh subur dan saatnya musim berbuah.

Di Banggle, suasana desa sangat terasa meski kami tinggal di pinggir jalan raya. Namun, rumah di sini tidak begitu padat dan rapat. Jarak satu rumah dengan yang lain tidak berdekatan, akan tetapi disini hidup rukun dan damai.

Bahkan, jika anda berjalan jauh ke setiap sudut desa, lebih banyak perkebunan dan sawah daripada rumah tempat tinggal. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa yang lain mulus dan dipergunakan masyarakat dan petani untuk membawa hasil perkebunan, atau untuk mencari dedaunan makanan ternak dan sapi.

Ada yang naik sepeda, ada juga yang naik gerobak motor.Banyak rumah yang di belakangnya memelihara sapi dan kambing, dimana setiap sore para petani laki-laki atau perempuan pulang dari kebun mereka atau memberi makan ternak.

Tidak terasa kami pun sampai di tujuan, tidak lama kemudian kami pulang dan kembali berjalan sambil olahraga sore. Tidak sengaja kami yang berjalan sambil bercanda bersama keponakan melihat matahari yang hampir tenggelam sore itu. Tidak sia-sia kami abadikan.
Jika ingat matahari saya suka ingat usia kita yang juga akan semakin tua dan tenggelam seperti matahari, untuk kemudian, terbit lagi besok pagi dengan semangat baru.

Ada satu lagu yang selalu kuingat yang berkisah tentang Matahari, lagu Iwan Fals yang sangat terkenal.

Mata Hati

Matahari yang berangkat pulang
Tinggal jingga tersisa di jiwa
Bintang-bintang menyimpan kenangan
Kita diam tak bisa bicara

Hanya mata, hanya hati, hanya kamu hanya aku.
Aku di sampingmu, begitu pasti
yang tak kumengerti masih saja terasa sepi

Sudah Lima tahun terakhir ini kami sering sekali menjahitkan baju di tukang jahit langganan di Pamulang. Dari mulai seragam kerja suami, baju kerja aku kayak batik, celana dan blazer, juga aku jahit disana. Nama penjahitnya adalah Ferdy Tailor alamatnya di sebrang dr.wiwi reni jaya pamulang .

Orangnya baik dan kalau membuat pesananan jahitan selalu rapi dan bisa diandalkan. Sebetulnya dia adalah langganan mas arif sebelumnya, dari mulai phd sampai batik dikerjakannya dengan baik dan rapi.

Namun, karena pelanggannya banyak, kalau kesana anda harus antri sekitar 1-2 minggu dan harus janjian dulu saat mengantarkan atau saat diambil. Pelanggan penjahit Mas Ferdy beragam dari orang kantoran, seragam, sampai dengan pemilik butik di Jakarta Selatan.

Berikut beberapa contoh batik hasil karya Mas Ferdy.

Batik Sasirangan

Batik Sasirangan

Batik Madura

Batik Madura

seragam kerja

seragam kerja

Truntum Padi Batik Jogja

Truntum Padi Batik Jogja

Resensi Buku

Judul: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
(Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Lebih Baik)

Penulis: Mark Manson
Penerbit: Grasindo, Jakarta
Editor: Adinto F Susanto
Alih Bahasa: F.Wicakso
Edisi: I, Februari 2018.
Cet 2, Maret 2018

Buku bersampul orange ngejreng ini menarik perhatian saya dan tidak sabar membacanya saat melihat pertama kali. Judulnya yang provokatif ditulis oleh Mark Manson, blogger populer dari Amerika Serikat yang memahat kata dengan semangat yang meluap-luap, mudah dicerna, ringan dan enak dibaca.

Judul asli buku ini adalah The Subtle Art of Not Giving A Fu*k yang diterjemahkan menjadi “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (Pendekatan yang waras Demi menjalani hidup yang lebih baik) sangat menarik sebagai bacaan ringan bagi anda yang ingin merubah mindset (pemikiran). Terdiri dari Sembilan bab disertai sub bab yang membahas secara mendalam tentang beberapa hal di sekitar kita dari mulai pekerjaan, kebahagiaan, kegagalan, penolakan hingga kematian.

Membahas Eksistensi Diri dengan Gamblang dan To The Point

Dalam buku pengembangan diri yang mewakili generasi yang lahir di era-1980an, Mark Manson seorang  yang memiliki jutaan pembaca menunjukkan pada kita bahwa kunci untuk menjadi orang yang lebih kuat, lebih bahagia adalah dengan mengerjakan segala tantangan dengan lebih baik dan berhenti memaksa diri untuk menjadi “positif” setiap saat. Anda jangan kaget dengan ungkapan memaksa menjadi “positif” disini, akan tetapi menjadi diri kamu sendiri itu lebih baik, daripada tampil memoles diri untuk mendapat pengakuan.

Dimulai dengan kisah kegagalan beberapa tokoh terkemuka yang sering gagal dalam mewujudkan eksistensinya namun tidak pantang menyerah seperti penulis Charles Bukowski, Hiroo Onoda, Dave Mustaine dan lain sebagainya yang mengalami banyak penolakan hingga mereka sukses. Mark Manson mengemasnya dengan narasi yang menarik dan segar.

Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson melalui blognya telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri kita sendiri maupun dunia. “Tidak semua orang bisa menjadi luar biasa, ada para pemenang dan pecundang di masyarakat, dan beberapa diantaranya tidak adil dan bukan kesalahan Anda,” ujarnya. Tepat saat kita mampu mengakrabi ketakutan, kegagalan dan ketidak pastian saat kita berhenti melarikan diri dan mengelak, serta mulai menghadapi kenyataan-kenyataan yang menyakitkan-saat itulah kita mulai menemukan keberanian dan kepercayaan diri yang selama ini kita cari dengan sekuat tenaga.

Ia melontarkan alasan bahwa manusia tak sempurna dan terbatas. Ia mengajak kita untuk mengerti batasan-batasan diri dan menerimanya, inilah sumber kekuatan yang paling nyata. Ia menulis pandangannya dengan gamblang dan bahasa yang to the point.


Bukan Sekedar Mencari Kebahagiaan Semu

Dalam tulisan ini setting era digital dan media sosial sangat terasa. Dia dengan santai menceritakan tentang kecemasan masyarakat di era di media sosial. Juga kritiknya terhadap gaya hidup konsumtif yang membuat orang tidak pernah puas.

“Saya meyakini ide ini bertahun-tahun, menghasilkan banyak uang, berkunjung ke lebih banyak negara, memiliki lebih banyak pengalaman, bersama dengan pasangan. Tetapi lebih banyak tidak selalu lebih baik. Faktanya justru kebalikannya yang benar. Sesungguhnya kita sering merasa bahagia dalam situasi berkekurangan,” ujar Mark Manson jujur. (hlm 216).

Dalam hidup ini kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya harus bijaksana dalam menentukan kepedulian anda. ‘Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal, tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak dan penting,” tulis Manson halaman 6.

Kelebihan buku ini ada pada penerjemah yang sangat fasih menggunakan istilah-istilah populer kekinian, sehingga menciptakan perbincangan yang dibungkus dengan cerita yang menghibur serta humor yang cadas. Kelemahannya menurut saya ada pada setting cerita yang sangat Amerika terutama tentang gaya hidup yang sangat kebarat-baratan.

Jangan Baca Buku ini Jika Anda Seorang Pemalas

Akan tetapi jika anda seorang pemalas, sering menghabiskan waktu percuma tanpa arah yang jelas, dengan berkumpul bersama teman-teman, atau sibuk mencela dan mencibir keadaan, maka sebaiknya anda jangan membaca buku ini. Apalagi jika anda orang yang sok sibuk kesana kemari, berkumpul bersama orang-orang yang tidak jelas, pamer ini itu, padahal anda sebenarnya tidak punya pekerjaan, maka jangan harap anda akan senang membaca buku ini.

Karena buku ini ditulis hanya untuk anda yang ingin memiliki banyak waktu untuk berkreasi, mengemas kesulitan dengan solusi cerdas, dan orang-orang yang optimis, dimana di setiap kesukaran, atau masalah ada yang bisa kita lakukan. Seperti menyalakan lilin dalam kegelapan, atau berwirausaha daripada menjadi pengangguran, meski untungnya tidak seberapa, akan tetapi kita tidak duduk diam dan termangu. Maka orang-orang yang ingin menjadi kreatif itu pasti akan senang membaca buku Mark Manson ini.

Meskipun demikian buku ini merupakan tamparan di wajah kita semua untuk mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan dan apa adanya. Orang tua, anak millennial hingga anak post-millenial pasti suka gaya menulis Manson. Sehingga tidak ada salahnya jika buku ini menjadi buku terlaris versi beberapa media di Amerika Serikat dan cetak ulang dalam bulan kedua di Indonesia.

22 Juli 2018, 10.39

Saya membaca berita meninggalnya kartunis GM Sudarta saat berlangsungnya kualifikasi Piala Dunia. Saya sangat terkejut, mengingat beberapa waktu yang lalu saya mendatangi pameran kartun GM Sudarta di Bentara Budaya tentang perjalanan almarhum berkarya selama 50 tahun di harian Kompas, menampilkan sosok Om Pasikom dengan beragam karakter yang menggelitik.

Waktu itu, ada tiga orang pembahas karya-karya GM Sudarta, yaitu Trias Kuncahyono, Seno Gumira Aji Darma, Romo Mudji Sutrisno dan dipandu oleh Putu Fajar Arcana. Diskusi berlangsung serius dalam beragam perspektif, Pak Trias Kuncahyono membahas dalam kebiasaan GM Sudarta yang sering mengganti tema menjelang deadline, Seno Gumira Ajidarma membahas sejarah kartun dari sisi historis dan filosofis, sedangkan Romo Mudji melengkapinya dalam sisi etika.

Diskusi berlangsung seru, dan saya pun bertanya tentang beberapa kartun yang menyulut kontroversi di pelbagai media dunia, batasan berekspresi, hingga kurang dihargainya eksistensi hasil karya kartunis belakangan ini.

Saya masih ingat, dia menulis dalam tulisan yang dipigura sangat besar, tentang pergulatannya selama 50 tahun bersama Om Pasikom. Om Pasikom adalah teman diskusi, bertukar pikiran, pemberi nasehat, juga teman bercanda yang mengasyikkan. Sangat disayangkan, saat acara berlangsung, almarhum tidak bisa datang karena alasan kesehatan. Namun, beberapa karya maestronya mengitari sepanjang dinding gedung Bentara Budaya tempat terjadinya diskusi.

Meskipun GM Sudarta tidak hadir, namun tulisan di pigura itu saya simpan. Dia selalu menganggap bahwa yang membuat dia betah menjadi kartunis adalah bisa “mati ketawa cara indonesia”. Dia juga selalu ingat nasehat Pak Jakob Oetama berikut ini.

Acara yang dihadiri banyak pecinta kartun ini berlangsung meriah dan semarak. Para pembicara dan peserta diskusi semangat untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Seno Gumira Ajidarma panjang lebar menjelaskan tentang historis dan batasan-batasan yang sakral dan profan dalam membuat karikatur.

Acara ditutup dengan jawaban yang memuaskan dan peserta diskusi pulang dengan gembira. Termasuk saya yang mengitari karya-karya GM Sudarta yang tersebar mengelilingi Bentara Budaya sore itu. Berikut foto-foto karikatur yang saya abadikan. Semoga, segala amal baik, kritik Om Pasikom yang telah 51 tahun berkarya mendapat Pahala dari Sang Maha Pencipta.

Sudah empat hari saya berada di Surabaya. Tempat yang bersih dan kotanya tertata rapi. Kanan kiri trotoar bersih tapi jarang ada yang jalan kaki. Orang Surabaya lebih senang naik mobil dan kendaraan bermotor untuk jarak dekat dan jarak jauh.

Pada hari minggu saya berjalan kaki dari RSUD Dr. Soetomo ke Delta Mall. Jalan-jalan sore membuat hati ini gembira, udara segar, di iringi gemericik air di dekat lambang kota Surabaya yaitu patung buaya. Di bawahnya mengalir air sungai yang sangat jernih. Betah saya berlama-lama menikmati indahnya Kota Surabaya, melewati monumen kapal selam dan menikmati segala kelebihannya.

Kemarin senin, saya sama Mas Arif berjalan-jalan menunggu senja di jembatan Suramadu. Berangkat habis Ashar yang ditempuh kurang lebih 50 menit dari tempat kami menginap.

Pemandangan sore itu sangat indah. Jembatan Suramadu membentang dari ujung barat ke ujung timur. Akan tetapi saya tidak naik ke atas jembatan, saya lebih senang berada di sebelah kiri jembatan dan mas Arif di sebelah bawah dan kanan jembatan.

Nelayan Kesulitan Mencari Kerang

Saya cukup lama berjalan di sekitar perahu nelayan, mengingatkan saya saat berada di Pantai Karangsong Indramayu Pantai Utara Jawa Barat. Di Karangsong rata-rata nelayan memiliki kapal besar di atas 7 GT. Ada yang 30 GT sampai 60 GT. Namun, nelayan di pantai dekat penyebrangan jembatan Suramadu, adalah nelayan harian yang pergi dalam hitungan jam, atau harian. Sedangkan kapal besar di atas 30 GT berlayar ke sebrang pulau dalam hitungan minggu dan bulan. Biasanya untuk mencari ikan.

Nelayan di sekitar jembatan Suramadu rata-rata adalah nelayan yang memiliki perahu ukuran  antara 7-8 GT. Biasanya perahu mereka mencari kerang, udang dan rajungan. Namun, saat saya berbincang dengan para nelayan yang sedang merapikan jaring nylon yang halus, mereka banyak mengeluh karena sejak dibangun jembatan Suramadu, mereka kesulitan mendapatkan kerang. Bahkan hampir tidak ada, karena harus mencari ke bagian laut dalam ke sebelah selatan jembatan yang tidak ramai kendaraan.

Mereka kini hanya bisa menghasilkan udang dan rajungan, itu saja jika jaringnya tidak rusak terkena sampah lautan yang banyak tersangkut jika ombak pasang.

Meskipun demikian, mereka tetap gembira, berkumpul sore hari membetulkan senar jaring bersama teman-teman sesama nelayan, menunggu waktu yang tepat untuk berlayar. Biasanya di atas jam 12 malam saat laut sepi dari gemuruh kendaraan bermotor, dimana udang dan rajungan naik ke permukaan laut.

Saya juga mengamati ada anak muda yang membawa karung entah mencari apa tapi seperti malu-malu. Dia berjalan sendirian dan sangat hati-hati karena di pinggir pantai banyak aneka hewan bercangkang yang masih hidup maupun yang tinggal cangkangnya saja menyerupai kerang tapi seperti kumbang.

Jika di pantai yang bersih kumbang jalan di pasir terlihat indah, di pantai bawah jembatan Suramadu, kumbang-kumbang kasihan karena mereka harus hidup diantara sampah plastik yang dibuang sembarangan. Saya tidak yakin yang membuang adalah nelayan, tapi entah siapa. Tidak hanya sampah plastik, ada juga sampah kain, sampai sampah celana dalam. Semua bercampur mengganggu keindahan pemandangan memandang indahnya jembatan.

Sampah plastik di pinggir pantai sisi kiri jembatan

Karena banyak sampah, saya pun tidak jadi berlama-lama. Kalau mau kesana harus hati-hati juga kalau memakai sandal, karena banyak cangkang kumbang keras yang nempel di sandal, jadi harus memakai sandal yang barbahan dasar karet keras.

Setelah cukup melihat sisi jembatan dan pantai dari sebelah kiri, saya pun berjalan ke pantai sebelah kanan. Di sana banyak orang tua yang membawa anak bermain di bawah jembatan dan berjalan di pinggir pantai.

Saya pun menemui Mas Arif yang berada di sebelah kanan. Kami naik ke atas sisi kanan untuk mencari spot terbaik, dimana di sana ombaknya sangat besar. Ada gedung petugas yang mengawasi pantai dan banyak penjual makanan.

Namun sayang, lagi-lagi saya kecewa ketika duduk berdiri di atas bebatuan. Tumpukan sampah berkumpul di bibir pantai bawah jembatan sisi kanan.

Sampah plastik di pinggir pantai jembatan Suramadu sisi kanan

Karena waktu menjelang senja telah tiba. Kami pun pulang. Kendaraan umum seperti angkutan kota di Surabaya sangat jarang. Anak-anak kecil sudah pada merokok dan naik motor memenuhi jalan. Sepanjang jalan saya merenung, sebenarnya saya sangat betah tinggal di Surabaya, makanan dan kuliner enak, penginapan banyak pilihan. Dua hal yang disayangkan, selain udara panas, mau menyebrang jalan saja sulit, karena terlalu padatnya kendaraan.

Surabaya, 17 Juli 2018
pukul 17.23

Resensi Buku: Sapiens

Riwayat Singkat Umat Manusia

Penulis: Yuval Noah Harari

Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari Palar

Penyunting: Andya Primanda

Penerbit: KPG, 2017

Edisi : Cetakan ke-2 Oktober 2017

Buku “Sapiens” yang saya baca ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menuntaskannya. Karena menyangkut sejarah kehidupan manusia yang  terdiri dari tiga revolusi. Pertama, revolusi kognitif, kedua revolusi pertanian, dan ketiga revolusi sains. Dimana pada saat peralihan dari revolusi pertanian ke sains, bahkan ada satu bab tersendiri tentang pemersatuan umat manusia.

Namun, perlu dijelaskan bahwa, Homo Sapiens yang ada di dalam buku ini bukan berdasarkan teori biologis, tapi teori Darwin. Dimana manusia pada awal di temukan, Homo Sapiens atau disebut spesies Sapiens (bijak) dalam genus homo (manusia), hlm 5.

Revolusi Kognitif dan Revolusi Pertanian

Homo Sapiens merupakan anggota satu famili yang merupakan salah satu rahasia paling terkunci rapat dalam sejarah. Dimana Homo Sapiens lebih suka memandang dirinya sendiri sebagai berbeda dari hewan.Kerabat-kerabat terdekat Homo Sapiens adalah simpanse, gorila dan orang utan. Simpanse adalah kerabat kita yang paling dekat.

Enam juta tahun yang lalu, satu kera betina memiliki dua putri, yang satu menjadi nenek moyang semua simpanse yang satu lagi adalah nenek moyang kita.

Guna menuntaskan kontroversi ini dan memahami perihal seksualitas, masyarakat dan politik kita, kita perlu belajar belajar tentang kehidupan leluhur kita, mengkaji bagaimana sapiens hidup antara revolusi kognitif pada 70.000 tahun silam dan awal mula revolusi pertanian sekitar 12.000 tahun silam.

Homo Sapiens hidup pada zaman dahulu kala dengan para pemburu dan pengumpul purba yang hidup di daerah yang lebih subur daripada Kalahari untuk mendapatkan bahan makanan dan bahan mentah.

Ditambah lagi, mereka menikmati beban pekerjaan rumah yang lebih ringan. Mereka tidak punya piring untuk dicuci, karpet untuk dibersihkan, lantai untuk di pel,popok untuk diganti, maupun tagihan untuk dibayar.

Para cendekiawan pernah percaya bahwa pertanian menyebar dari satu titik asal tunggal di Timur Tengah ke empat penjuru dunia.Orang-orang di Amerika Tengah mendomestikasi jagung dan buncis, orang Amerika Selatan membudidayakan kentang dan Ilama, revolusi pertanian pertama di Tiongkok mendomestikasi padi, millet dan babi.

Di daerah lain misalnya Amerika Utara bosan menyisir sesemakan demi mencari labu liar yang bisa di makan, orang Papua menjinakkan tebu dan pisang, sementara petani Afrika Barat pertama menjadi millet Afrika, padi Afrika, sorgum, dan gandum sesuai dengan kebutuhan mereka. Dari titik fokus awal ini, pertanian menyebar ke seluruh dunia.

Revolusi pertanian menjadikan masa depan jauh lebih penting daripada sebelumnya. Para petani harus selalu mengingat masa depan, bangun pagi-pagi buta untuk bekerja seharian di ladang karena mengkhawatirkan siklus musim produksi.

Pemersatuan Umat Manusia

Meskipun  penulis Yuval Noah Harari adalah  seorang Yahudi, beliau orang yang mengakui keragaman. Bahkan pada bagian tiga yang menjelaskan tentang Pemersatuan bangsa, beliau menampilkan gambar yang sangat indah tentang jamaah haji mengelilingi Ka’bah di Mekkah.

Bahkan hukum tentang agama sendiri bahas dalam satu bab di bagian tiga (248-256), juga bagaimana orang memandang sepakbola sebagai agama.

Revolusi Sains dan Kebahagiaan Semu

Dalam bagian yang membahas Revolusi Sains ini ada tujuh bab yaitu penemuan ketidak tahuan, perkawinan sains dan imperium, kredo kapitalis, roda-roda industri, revolusi perizinan, dan mereka pun hidup bahagia selamanya, tamatnya homo sapiens.

Orang yang terlalu banyak mengkonsumsi teknologi akan mengalami kebahagiaan semu karena menderita keterasingan dan kekosongan makna meskipun mereka makmur.

Dan barangkali leluhur kita yang tidak punya banyak hal justru menemukan banyak kepuasan dalam masyarakat, agama dan kedekatan dengan alam.

Uang, Penyakit dan Kebahagiaan

Orang yang kaya, baik karena membuat aplikasi teknologi yang memiliki jutaan pengguna dan penumpang, biasanya ia akan memiliki banyak uang. Kalau punya uang atau harta melimpah ia ingin makan enak dan bermalas-malasan. Membeli suatu yang mewah dengan cara mengkredit atau membeli makanan sembarangan yang penting enak.

Apa hubungan antara uang, makanan tidak bergizi (kemproh/jawa, geuleuh/sunda) yang biasa dibeli oleh orang kelebihan uang. Maka yang timbul adalah serangan penyakit seperti batuk dan jantung karena rokok dan makanan goreng-gorengan, sakit kanker karena makanan bermicin, sulit buang air besar karena kurang serat dan menjadi pemalas akibat jarang olahraga dan terlalu sering membeli fastfood dan memesan makanan lainnya lewat online.

Ada satu kesimpulan menarik tentang apa makna uang. Uang memang mendatangkan kebahagiaan, namun hanya sampai pada titik tertentu, dan selepas titik itu uang tidak punya makna (halaman 456).

Noah Harari juga menjelaskan jika sudah sampai pada kesimpulan di atas, terlalu banyak uang, malas-malasan, menimbulkan penyakit, maka yang ada adalah tergerusnya kebahagiaan. Tiada ada orang yang punya uang banyak tapi setiap hari mengeluh sakit, di rawat, dioperasi, tidak bisa jalan dan di hari tua sakit-sakitan.

Belum lagi orang yang terlalu banyak uang merusak lingkungan. Membeli makan dan tidak menghabiskan, bahkan sering membuang-buang makanan di tempat sampah, padahal di benua lain orang kelaparan. Apalagi yang merusak ekologis seperti menambang bahan bakar dan fosil yang seharusnya terpendam lama di habiskan orang-orang yang serakah untuk memenuhi permintaan pasar mobil atau kendaraan bermotor dan pemborosan listrik, seperti minyak bumi dan batubara.

Orang yang memiliki uang dan membeli kendaraan yang diisi oleh sumber daya yang merusak bumi, maka selamanya ia akan merasa diri paling kaya dan paling gagah.

Karena semua yang ada di dunia ini dia hanya melihat dari penampilan semata seperti mobil mewah, handphone mahal dan hidup serba ada. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah merusak alam dan lingkungan ekologis terbesar kita yaitu bumi dan seisinya.

Bahkan gejolak ekologis itu mungkin membahayakan kelestarian kita (Homo Sapiens) sendiri. Pemanasan global, naiknya permukaan laut dan pencemaran yang tersebar luas dapat menjadikan bumi kurang bersahabat bagi kita sendiri dan akibatnya pada masa depan mungkin terjadi lomba tiada akhir antara upaya manusia dan bencana alam yang dipicu manusia (420).

Secara keseluruhan buku ini sangat bagus dan penerjemahannya juga sangat menarik dan cerdas. Kelebihan buku ini ada pada kualitas isi dan pemaparan yang jujur, gamblang dan mengejutkan.

Namun ada satu hal yang mestinya harus dipertanyakan tentang teori singularitas dan tamatnya Homo Sapiens berkaitan dengan berakhirnya kehidupan atau biasa kita sebut hari kiamat (dalam agama Islam).

Namun, sebenarnya ada satu pesan mulia dari buku ini, dimana hari akhir kehidupan (kiamat) bisa kita cegah dengan cara kembali ke bagian satu yaitu kembali ke zaman revolusi pertanian dan mengurangi menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan transportasi massal dan membiarkan jalan-jalan tol yang baru di bangun itu untuk distribusi bahan baku dan hasil industri dari pelosok tanah air agar merata, sehingga bahan yang sulit di daerah lain bisa disalurkan lewat truk dan lewat perjalanan laut. Jangan sampai ada mobil masuk ke kapal laut ya, apalagi mobil kreditan, karena akan membebani kapal dan tenggelam sehingga kalau tenggelam ke dasar laut yang hancur adalah biota laut dan kasihan nelayan, ikan mereka keracunan barang kemewahan orang-orang sebrang lautan yang serakah dan ingin punya mobil mewah padahal merusak lingkungan, alam, dan membebani lautan.

Jika bumi, lautan, udara semua di isi oleh keserakahan maka yang ada adalah ketidak seimbangan seperti kebakaran, longsor dan banjir meski tidak ada hujan, gempa alam di berbagai wilayah dan seperti yang kita lihat sekarang banyak terjadi kejadian kriminal karena orang kesulitan untuk membayar cicilan.

Itu saja mungkin yang bisa saya sampaikan dalam buku ini, anda akan rugi jika tidak membacanya. Akan tetapi karena buku ini mahal, maka sebaiknya kita sekarang lebih baik berolahraga, banyak jalan dan naik transportasi massal.

Kurangi makan-makan dan lebih baik kita menanam seperti Homo Sapien dulu ada dan senang berkelompok bersama untuk menanam aneka tanaman yang bisa bermanfaat untuk anak cucu kita, bukan berkumpul sambil makan-makan enak dan menghabiskan waktu percuma dan tidak menghabiskan makanan.

Surabaya, 15 Juli 2018

Pukul 11.27 WIB