Archive for July 22, 2018

Sore tadi kami berjalan-jalan sore menyusuri perumahan kampung, pematang sawah, dan kebun jagung. Tujuannya selain untuk berolahraga, kami ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir (sarean).

Jarak dari rumah keluarga besar kami di Dusun Banggle, Kanigoro Blitar lumayan jauh, ada sekitar kurang lebih dua kilo meter. Kami berjalan enam orang, saya, mas arif dan empat orang keponakan.

Kurang lebih 50 menit kami berjalan, cuaca sore itu sangat cerah dengan udara segar. Meskipun bulan ini bukan musim penghujan, namun semua tanaman di perkebunan tumbuh subur dan saatnya musim berbuah.

Di Banggle, suasana desa sangat terasa meski kami tinggal di pinggir jalan raya. Namun, rumah di sini tidak begitu padat dan rapat. Jarak satu rumah dengan yang lain tidak berdekatan, akan tetapi disini hidup rukun dan damai.

Bahkan, jika anda berjalan jauh ke setiap sudut desa, lebih banyak perkebunan dan sawah daripada rumah tempat tinggal. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa yang lain mulus dan dipergunakan masyarakat dan petani untuk membawa hasil perkebunan, atau untuk mencari dedaunan makanan ternak dan sapi.

Ada yang naik sepeda, ada juga yang naik gerobak motor.Banyak rumah yang di belakangnya memelihara sapi dan kambing, dimana setiap sore para petani laki-laki atau perempuan pulang dari kebun mereka atau memberi makan ternak.

Tidak terasa kami pun sampai di tujuan, tidak lama kemudian kami pulang dan kembali berjalan sambil olahraga sore. Tidak sengaja kami yang berjalan sambil bercanda bersama keponakan melihat matahari yang hampir tenggelam sore itu. Tidak sia-sia kami abadikan.
Jika ingat matahari saya suka ingat usia kita yang juga akan semakin tua dan tenggelam seperti matahari, untuk kemudian, terbit lagi besok pagi dengan semangat baru.

Ada satu lagu yang selalu kuingat yang berkisah tentang Matahari, lagu Iwan Fals yang sangat terkenal.

Mata Hati

Matahari yang berangkat pulang
Tinggal jingga tersisa di jiwa
Bintang-bintang menyimpan kenangan
Kita diam tak bisa bicara

Hanya mata, hanya hati, hanya kamu hanya aku.
Aku di sampingmu, begitu pasti
yang tak kumengerti masih saja terasa sepi

Sudah Lima tahun terakhir ini kami sering sekali menjahitkan baju di tukang jahit langganan di Pamulang. Dari mulai seragam kerja suami, baju kerja aku kayak batik, celana dan blazer, juga aku jahit disana. Nama penjahitnya adalah Ferdy Tailor alamatnya di sebrang dr.wiwi reni jaya pamulang .

Orangnya baik dan kalau membuat pesananan jahitan selalu rapi dan bisa diandalkan. Sebetulnya dia adalah langganan mas arif sebelumnya, dari mulai phd sampai batik dikerjakannya dengan baik dan rapi.

Namun, karena pelanggannya banyak, kalau kesana anda harus antri sekitar 1-2 minggu dan harus janjian dulu saat mengantarkan atau saat diambil. Pelanggan penjahit Mas Ferdy beragam dari orang kantoran, seragam, sampai dengan pemilik butik di Jakarta Selatan.

Berikut beberapa contoh batik hasil karya Mas Ferdy.

Batik Sasirangan

Batik Sasirangan

Batik Madura

Batik Madura

seragam kerja

seragam kerja

Truntum Padi Batik Jogja

Truntum Padi Batik Jogja

Resensi Buku

Judul: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
(Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Lebih Baik)

Penulis: Mark Manson
Penerbit: Grasindo, Jakarta
Editor: Adinto F Susanto
Alih Bahasa: F.Wicakso
Edisi: I, Februari 2018.
Cet 2, Maret 2018

Buku bersampul orange ngejreng ini menarik perhatian saya dan tidak sabar membacanya saat melihat pertama kali. Judulnya yang provokatif ditulis oleh Mark Manson, blogger populer dari Amerika Serikat yang memahat kata dengan semangat yang meluap-luap, mudah dicerna, ringan dan enak dibaca.

Judul asli buku ini adalah The Subtle Art of Not Giving A Fu*k yang diterjemahkan menjadi “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (Pendekatan yang waras Demi menjalani hidup yang lebih baik) sangat menarik sebagai bacaan ringan bagi anda yang ingin merubah mindset (pemikiran). Terdiri dari Sembilan bab disertai sub bab yang membahas secara mendalam tentang beberapa hal di sekitar kita dari mulai pekerjaan, kebahagiaan, kegagalan, penolakan hingga kematian.

Membahas Eksistensi Diri dengan Gamblang dan To The Point

Dalam buku pengembangan diri yang mewakili generasi yang lahir di era-1980an, Mark Manson seorang  yang memiliki jutaan pembaca menunjukkan pada kita bahwa kunci untuk menjadi orang yang lebih kuat, lebih bahagia adalah dengan mengerjakan segala tantangan dengan lebih baik dan berhenti memaksa diri untuk menjadi “positif” setiap saat. Anda jangan kaget dengan ungkapan memaksa menjadi “positif” disini, akan tetapi menjadi diri kamu sendiri itu lebih baik, daripada tampil memoles diri untuk mendapat pengakuan.

Dimulai dengan kisah kegagalan beberapa tokoh terkemuka yang sering gagal dalam mewujudkan eksistensinya namun tidak pantang menyerah seperti penulis Charles Bukowski, Hiroo Onoda, Dave Mustaine dan lain sebagainya yang mengalami banyak penolakan hingga mereka sukses. Mark Manson mengemasnya dengan narasi yang menarik dan segar.

Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson melalui blognya telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri kita sendiri maupun dunia. “Tidak semua orang bisa menjadi luar biasa, ada para pemenang dan pecundang di masyarakat, dan beberapa diantaranya tidak adil dan bukan kesalahan Anda,” ujarnya. Tepat saat kita mampu mengakrabi ketakutan, kegagalan dan ketidak pastian saat kita berhenti melarikan diri dan mengelak, serta mulai menghadapi kenyataan-kenyataan yang menyakitkan-saat itulah kita mulai menemukan keberanian dan kepercayaan diri yang selama ini kita cari dengan sekuat tenaga.

Ia melontarkan alasan bahwa manusia tak sempurna dan terbatas. Ia mengajak kita untuk mengerti batasan-batasan diri dan menerimanya, inilah sumber kekuatan yang paling nyata. Ia menulis pandangannya dengan gamblang dan bahasa yang to the point.


Bukan Sekedar Mencari Kebahagiaan Semu

Dalam tulisan ini setting era digital dan media sosial sangat terasa. Dia dengan santai menceritakan tentang kecemasan masyarakat di era di media sosial. Juga kritiknya terhadap gaya hidup konsumtif yang membuat orang tidak pernah puas.

“Saya meyakini ide ini bertahun-tahun, menghasilkan banyak uang, berkunjung ke lebih banyak negara, memiliki lebih banyak pengalaman, bersama dengan pasangan. Tetapi lebih banyak tidak selalu lebih baik. Faktanya justru kebalikannya yang benar. Sesungguhnya kita sering merasa bahagia dalam situasi berkekurangan,” ujar Mark Manson jujur. (hlm 216).

Dalam hidup ini kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya harus bijaksana dalam menentukan kepedulian anda. ‘Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal, tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak dan penting,” tulis Manson halaman 6.

Kelebihan buku ini ada pada penerjemah yang sangat fasih menggunakan istilah-istilah populer kekinian, sehingga menciptakan perbincangan yang dibungkus dengan cerita yang menghibur serta humor yang cadas. Kelemahannya menurut saya ada pada setting cerita yang sangat Amerika terutama tentang gaya hidup yang sangat kebarat-baratan.

Jangan Baca Buku ini Jika Anda Seorang Pemalas

Akan tetapi jika anda seorang pemalas, sering menghabiskan waktu percuma tanpa arah yang jelas, dengan berkumpul bersama teman-teman, atau sibuk mencela dan mencibir keadaan, maka sebaiknya anda jangan membaca buku ini. Apalagi jika anda orang yang sok sibuk kesana kemari, berkumpul bersama orang-orang yang tidak jelas, pamer ini itu, padahal anda sebenarnya tidak punya pekerjaan, maka jangan harap anda akan senang membaca buku ini.

Karena buku ini ditulis hanya untuk anda yang ingin memiliki banyak waktu untuk berkreasi, mengemas kesulitan dengan solusi cerdas, dan orang-orang yang optimis, dimana di setiap kesukaran, atau masalah ada yang bisa kita lakukan. Seperti menyalakan lilin dalam kegelapan, atau berwirausaha daripada menjadi pengangguran, meski untungnya tidak seberapa, akan tetapi kita tidak duduk diam dan termangu. Maka orang-orang yang ingin menjadi kreatif itu pasti akan senang membaca buku Mark Manson ini.

Meskipun demikian buku ini merupakan tamparan di wajah kita semua untuk mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan dan apa adanya. Orang tua, anak millennial hingga anak post-millenial pasti suka gaya menulis Manson. Sehingga tidak ada salahnya jika buku ini menjadi buku terlaris versi beberapa media di Amerika Serikat dan cetak ulang dalam bulan kedua di Indonesia.

22 Juli 2018, 10.39