Sebenarnya saya membaca Majalah National Geographic sudah lama, biasanya saya baca di Perpustakaan Kemendikbud Senayan Jakarta. Banyak wawasan baru setiap edisi, namun belum pernah saya ceritakan di blog ini. Baru pada bulan ini saya bikin sedikit review Majalah edisi bulan Juni yang mengangkat tema tentang Bumi Atau Plastik, Ancaman dan Asa Plastik di Indonesia. Namun, kali ini saya membaca ulang di koleksi umum perpustakaan proklamator Bung Karno Blitar.

Saya juga sudah membaca edisi Bulan Juli, namun karena saya sudah merasakan dan melihat bagaimana sampah di pinggir pantai beberapa waktu yang lalu, maka tidak ada salahya atau semoga belum terlambat kita mengantisipasi sejak dini timbunan sampah plastik yang ada di daratan maupan pinggir laut (pantai) bahkan dalam laut.

Konsistensi Tanpa Sampul Plastik

Satu hal yang saya suka dari majalah ini adalah mencopot sampul plastik yang ada di setiap majalah baru. Wah menarik juga ya, dimana hal paling sulit dalam hidup kita adalah konsisten antara tulisan dan perbuatan. Pemberitahuan ini dimuat semacam pengumuman sederhana namun resikonya besar.

Karena apa, jika kita membeli buku atau majalah baru tanpa sampul plastik terkadang kita berpikir bukan buku atau majalah baru karena sudah tidak ada plastiknya šŸ˜Š. Ya, semoga upaya ini menjadi kepedulian bagi kita semua untuk memperhatikan plastik atau sampah terdekat dalam kehidupan kita.

Ada banyak foto menarik seperti biasa, investigasi majalah ini berkaitan dengan semakin sulitnya kita menghentikan kebiasaan atau ketidakberdayaan terhadap apapun yang kita minum, makan, pakai dan tempat tinggal.

Delapan Juta Ton Plastik Berakhir di Laut dan Spesies Laut Terluka

Di halaman depan sudut kiri ada semacam penekanan kata terhadap jumlah sampah plastik dimana setiap tahun delapan juta ton plastik berakhir di laut. Itu baru yang terlihat di permukaan.

Dari halama 54 sampai halaman 101, laporan utama plastik ini membuat kita berkali-kali mengernyitkan dahi, tertegun, terbelalak melihat foto-foto, dan sedikit lega dengan adanya solusi untuk mengurangi.

Tulisan Laura Parker dan Fotografer Randy Olson dari National Geographic membuka tulisan dengan data statistik yang akurat tentang plastik.

Dia menulis bahwa sudah 150 tahun kita menciptakan materi yang ringan, kuat dan murah. Lebih dari 40% diantaranya hanya digunakan satu kali, Kini matero mukjizat ini membantu jantung berdenyut dan pesawat melesat dan delapan juta ton tiba di laut seperti yang saya tulis di atas.

Narasi yang kuat tentang bahaya plastik dan foto-foto sampah plastik di laut sangat menarik namun tidak asyik. Kenapa dikatakan demikian, karena kebiasaan buruk kita yang membuang barang plastik yang membahayakan biota laut.

20180728_091621
Sebelum Laut Berubah Menjadi Sup Plastik

Pada halaman 60 ditulis jika sampah plastik menewaskan jutaan satwa laut setiap tahun. Diketahui hampir 700 spesies, termasuk yang terancam punah karena dampaknya.Sebagian biota laut cedera dengan gamblang-tercekik jala terbengkalai atau cincin plastik minuman kaleng. Mungkin banyak lagi yang cedera tanpa terlihat.

“Spesies laut segala ukuran, dari zooplankton hingga paus, sekarang makan mikroplastik, serpih yang besarnya tak sampai lima meter,”

Ted Siegler, ahli ekonomi sumber daya daya dari Vermont mengatakan jika ini bukan masalah yang tidak diketahui solusinya.

“Kita tahu cara memungut sampah, cara membuang, cara mendaur ulang. Masalah utamanya adalah soal membangun lembaga dan sistem dan sistem, katanya idealnya sebelum laut berubah menjadi sup plastik encer yang mustahil dibenahi berabad-abad.

20180728_091610

Mendengar kata sup plastik, membuat saya menelan ludah. Membayangkan apa yang tejadi jika kita membiarkan ini berlangsung tanpa kesadaran dan pencegahan yang radikal.

Tutup botol minuman kemanasan dibuat dengan ilustrasi seperti gambar gurita plastik dengan spesies laut yang menghuni tutup botol. Seperti tutup botol minuman ringan dalam perut anak albatros di Midway Atoll, cacing keel yang hidup di tutup botol air minum, dll.

20180728_092521

 

Solusi untuk menghentikan

Pembahasan tentang plastik biodegrable dan Norwegia yang berhasil mendaur ulang 97%, produk yang bisa membantu mengurangi plastik, serta enam hal yang bisa anda dilakukan untuk menguranginya (98-101).

20180728_092658

Produk yang bisa membantu mengurangi limbah plastik juga disampaikan seperti sikat gigi dengan kepala sikat yang bisa diganti, pembungkus makanan berbahan dasar lilin lebah dan kapas, sedotan dari logam yang bisa dipakai ulang, dan cincin pengikat minuman yang dibuat dari kompos limbah pembuatan minuman berkaleng.

Lalu apa saja enam hal itu, pertama tanpa kantong plastik, tanpa sedotan, lupakan botol plastik, hindari kemasan plastik, daur ulang yang bisa, dan jangan buang sampah sembarangan.

Dilema Mengkampayekan Lingkungan Bersih dengan Penetrasi Kapital

Saya sendiri termasuk yang sulit konsisten dengan sampah plastik karena kondisi dan keadaan. Tidak hanya sampah plastik, saya juga gelisah dengan sampah elektronik dan teknologi seperti modem bekas, usb bekas, kaset bekas, baterei bekas, colokan bekas, casing bekas dan komputer dan laptop bekas. Dimana di masa yang akan datang pasti akan semakin menumpuk dan tidak tahu bagaimana cara mengurainya.

20180728_092717

Berbicara isu lingkungan kita juga harus memikirkan nasib industri plastik, pekerja pabrik plastik dan makanan yang dibungkus plastik dll. Menjadi dilematis memang ketika kepedulian lingkungan berlawanan dengan keuntungan kapital dan gaya hidup yang instan dan praktis.

Tapi bagaimanapun kesadaran dan lingkungan dan alam yang bersih itu lebih penting daripada uang banyak kita sakit-sakitan. Karena air yang kita minum tercemar hingga harus minum air kemasan dibungkus plastik, tanah yang kita tanami sudah tereduksi sampah yang tidak terurai, ikan yang kita makan terancam mengandung mikroplastik dan efek lainnya yang menimbulkan penyakit berbahaya dan akan mengancam bumi manusia dan isinya. Maka tidak aneh ya jika orang yang dipenjara atau orang tua kita dulu minum air keran.

Sebenarnya apa yang saya baca di majalah National Geographic kali ini baru sedikit saya sampaikan, lebih baik anda dan keluarga,sahabat, teman kerja atau semua orang membaca majalah ini. Bisa membeli, atau membacanya sambil berkunjung ke perpustakaan.

Koleksi umum Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar
28 Juli 2018 Pukul 14.50

Advertisements
Comments
  1. khairunnajih says:

    Mungkin ada peraturan yang ketat dan tegas oleh pemerintah untuk menindaklanjuti fenomena tersebut, bu.

  2. khairunnajih says:

    Semestinya ada tindakan tegas yang dilakukan oleh pemerintah lewat sebuah peraturan.

    • Eva says:

      Ya, sepakat. Kesadaran akan lingkungan dan sistem yang baik harus didukung oleh peraturan perundang-undangan, atau hukum untuk efek jera

  3. @uruuchan says:

    saya jadi ingin baca lebih lengkap. nanti kalau ke perpustakaan akan saya cari edisi natgeo yang satu ini :”) miris sekali baca fakta-fakta yang baru sebagian dipaparkan dalam tulisan… šŸ˜¦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s