Archive for August 4, 2018

Meskipun masih memiliki banyak kekurangan dalam proses perekrutan, namun sejauh ini Hamid Muhammad optimis 6.294 CPNS Guru Garis Depan yang sudah dilepas secara simbolis akan bisa menunaikan tugasnya dengan baik.

 

Foto:Koleksi Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah

Dalam pengarahannya, Hamid Muhammad menjelaskan tentang beberapa hal yang harus diperhatikan para guru di daerah penempatan. berkaitan dengan kompetensi guru di sekolah tersebut, kepala sekolah, dan fasilitas sekolah.

Di sisi lain, Hamid juga menyampaikan tiga hal penting terkait proses pembelajaran.

“Pertama, Berkaitan dengan karakter, para GGD harus membekali siswa agar tidak mencontek, memiliki karakter berkaitan dengan kejujuran dan integritas, karakter berkaitan dengan kinerja yaitu disiplin dan pantang menyerah, dan rekatkan betul rasa kebangsaan kita tanpa membedakan suku, ras dan agama.

Kedua, terkait literasi, Kita termasuk bangsa yang kurang suka membaca apalagi menulis. Semaikan bacaan di sekolah dasar.

Dan ketiga berkaitan dengan kurikulum dan efektifitas pembelajaran, ini harus diperhatikan. Di Papua, anak-anak kelas I dan Kelas 2 banyak yang belum bisa membaca dan menulis, ini berat, karena walau tidak bisa membaca dan menulis mereka tidak boleh tidak naik kelas, jadi kawal terus tentang kurikulum,” jelas Hamid.

Tidak muluk-muluk sebenarnya target yang ingin dicapai oleh Kementerian. Berusaha agar pelayanan di daerah 3T meningkat.

“Indikasinya adalah prestasi anak-anak daerah semakin bagus. Kalau banyak anak-anak yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi sampai jenjang SMP, SMA, atau bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, nanti jika mereka bisa sekolah, anak-anak seperti ini yang berada di daerah terpencil inilah yang akan mengentaskan kemiskinan, saya kira itu yang kita inginkan,” ujar Hamid Muhammad.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Drs. Anas M Adam, M.Pd lebih menyoroti tentang upaya menghindari konflik antara PNS GGD dengan guru di daerah penempatan. Anas menekankan agar GGD membaca terlebih dahulu budaya, menyesuaikan diri dengan budaya setempat untuk menghindari konflik.

Kemudian dia juga berharap para peserta GGD jangan melakukan perubahan secara mendadak, akan tetapi lakukanlah perubahan itu secara gradual-pelan-pelan, anak-anaknya, guru-gurunya kemudian baru masyarakatnya. Jangan terlalu berambisi untuk mengubah semuanya karena itu justru akan menyebabkan timbul konflik juga.

“Saya berharap ilmu yang sedikit lebih menonjol yang dimiliki para GGD ini jangan terlalu dipamerkan, jangan merasa paling mampu, jangan pelit ilmu, karena itu akan menimbulkan potensi konflik. Dan saya berpesan, jangan hanya menggerakkan sekolahnya saja, sebaiknya juga memberikan imbas kepada sekolah lainnya di sekitar.” ujar lelaki asal dari Aceh ini sangat hati-hati.

Anas juga menjelaskan perihal lamanya penerbitan Surat Keputusan dan Pemberangkatan GGD. Katanya, permasalahan administrasi yang cukup memusingkan. “Karena kita tidak sendiri, program ini berkaitan dengan instansi-instansi lain, termasuk pemerintah daerah,” katanya.

Tulisan ini dimuat pada tahun 2017, setelah pelepasan PNS Guru Garis Depan

Advertisements

Jangan curiga dengan judul tulisan ini, karena sebenarnya hanya mengutip dari sebuah poster di pinggir jalan.

Jika Anda Bukan Orang Sembarangan, Maka  Jangan Buang Sampah Sembarangan,” Anonim

Hak Cipta foto Begron

 

Jangan disangka, dibalik masyarakat yang diam mereka mengekspresikan sikap lewat tulisan tangan yang ditulis penuh perasaan, sebuah perlawanan tanpa senjata.

Saat melewati kota Pasuruan saya memperhatikan pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan.

Meski apa yang saya temui hanya sekilas dan tidak ada dokumentasi foto. Namun, pesan yang di sampaikan masyarakat dalam bentuk tulisan tangan selalu saya ingat.

Pesan pertama saya temui dari pantat truk, isinya sebagai berikut:

“Jadilah Perintis Bukan Pewaris”

Saya terdiam membacanya, truk berjalan cukup lama di depan bis yang saya kendarai.

Tidak lama kemudian saya melewati rumah pinggir jalan yang menyerupai rumah kosong bercat hitam dengan tulisan tangan memakai kapur dengan huruf yang ditulis besar-besar.

“Jagalah Tanah Kita, Sebelum Semua Tanah Menjadi Ibukota,”

 

Pagi yang dingin, 4 Agustus 2018, Pukul 07:09