Archive for August 27, 2018

Resensi Buku
Judul: Etika Jawa (Pedoman Luhur dan Prinsip Hidup Orang Jawa)
Penulis: Sri Wintala Achmad
Editor: Fita Nur A
Edisi: Januari, 2018
Penerbit: Araska, Bantul Jogjakarta
ISBN: 978-602-300-470-6

Dalam kehidupan manusia, peran etika sangat penting setelah ditegakkannya hukum. Karena dengan etika, manusia dapat membangun pribadi dan kepribadiannya menjadi kepribadian yang baik. Dalam prakata buku ini, ada semacam ungkapan bahwa hewan (binatang) hidup dengan nalurinya. Oleh karena itu hewan tidak mengenal etika. Tidak mengenal baik buruk dan benar atau salah. Maka sangatlah bodoh jika manusia menghajar hewan sampai tewas.

Berbicara mengenai etika, tidak dapat dilepaskan dengan daerah atau negara, dimana etika tersebut oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu orang-orang Barat berbeda dengan etika orang-orang Timur. Etika yang diterapkan oleh orang-orang Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Bali berbeda dengan etika yang diterapkan oleh orang-orang Jawa.

Mendalami Etika Filosofis dan Etika Teologis

Terlihat dalam pemaparan buku ini, sang penulis, Sri Wintala Achmad perempuan asal Cilacap  ini sangat hati-hati dalam menulis bertutur. Dimulai dengan makna etika dan arti kata Jawa.

Ada tiga pandangan dalam memahami etika yaitu etika filosofis yaitu etika yang berasal dari kegiatan berpikir menyangkut dua sifat yaitu non empiris dan praktis. Kedua, etika teologis yang bertitik tolak dari preuposisi agama. Etika teologis disebut juga Jongeneel sebagai etika transenden dan etika teosentris. Pandangan ketiga adalah relasi etika filosofis dan etika teologis menyangkut tiga aspek revisionsme (Augustinus), sintesis (Thomas Aquinas) dan Diaparalelisme (FED. Schleirmacher).

Banyak pertanyaan muncul kenapa perspektif budaya dan bahasa Jawa hanya meliputi Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimwa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Timur. Sri Wintala Achmad menjelaska  jika ketiga wilayah tersebut memiliki budaya hampir sama yaitu masyarakat asli Jawa Tengah menggunakan bahasa Jawa Panginyongan, DIY menggunakan bahasa Jawa dan Jawa Timur menggunakan Bahasa Jawa Pangarekan.

Sembilan Bab Bermutu dan Berkualitas

Terus terang, jika anda mengibaratkan makan, membaca buku ini isinya daging semua atau bernas dan berkualitas. Dimana ada sembilan bab dalam buku ini yang membahas saripati pembelajaran etika Jawa.

Dari mulai Pengertian hingga Slogan Etika Jawa, Ciri-Ciri Etika Jawa, Petuah Lisan Sumber Etika Jawa, Karya Sastra Etika Jawa, Aneka Simbol dan Etika Jawa, Etika Jawa Dalam Seni Tradisi, Etika Jawa Dalam Upacara Tradisi, Etika Jawa dan Aliran Kepercayaan serta Slogan-Slogan Etika Jawa.

Selain pengamatan pribadi, Sri Wintala Achmad juga menyampaikan beberapa pemikiran pengamat Jawa lainnya seperti Pardi Suratmo dan Iman Budhi Santoso misalnya dalam beberapa slogan-slogan dan etika Jawa.

Ada tujuh slogan yang dijadikan sumber etika antara lain. Eling lan waspada (bersikap ugahari, kritis dan tidak mudah terombang ambing), Sepi ing pamrih rame ing gawe (agar manusia bersikap penuh tanggung jawab, bertindak karena keinginan melainkan kebaikan), Andhap Asor (slogan yang mengajarkan sikap penuh rendah hati terhadap apa yang digariskan), Nrima (slogan agar manusia tidak memaksakan kehendak dan ambisius), Sabar (slogan agar manusia tidak terburu-buru, penuh perhitungan dalam bertindak), Aja Dumeh, slogan yang mengajarkan kepada manusia agar tidak sok atau sombong saat hidup bergelimang harta atau benda saat berkuasa), Gotong royong, slogan yang mengajarkan kepada manusia untuk bersikap suka memberi kesempatan kepada orang lain, saling menolong dan bekerjasama.

Sebenarnya masih banyak lagi beberapa tradisi dan makanan khas Jawa, kaitannya etika Jawa dan aliran kepercayaan. Namun sebaiknya jika anda ingin memahami lebih mendalam buku ini anda pasti akan sangat gembira.

Karena kalau saya baca sampai akhir  bagian Manunggaling Kawula Gusti hingga Kasampurnaning Dumadi (208-209) penulis yang merupakan alumni Fisafat UGM Yogyakarta ini pemaparannya sangat bagus, editannya bersih, nyaris sempurna tanpa cela.

Berbagai sumber yang lazim digunakan oleh orang tua dalam etika Jawa juga ada seperti dongeng, lelagon, tembang, simbol, benda pusaka, bahasa aksara, sesaji, kuliner, arsitektur, busana adat dan seni tradisi.

Apalagi di bagian akhir, ada beberapa slogan jawa yang berjumlah 57 slogan yang mengandung etika Jawa yang membuat anda mengerti kehidupan masyarakat Jawa.

Seperti Mikul dhuwur mendhem jero (memikul yang tinggi, mengubur yang dalam,dimana seorang anak harus menghormati orangtuanya yang telah melahirkan), Nabok nyilih tangan (memukul dengan meminjam tangan, Menang tanpa bala, ngasorke tanpa senjata artinya seseorang dapat meraih kemenangan dan menaklukkan dunia tanpa senjata hanya dengan cinta dan lain sebagainya.

Mengutamakan Spiritualitas daripada Materialitas

Jadi jika anda berada di luar daerah dari suku manapun dan memiliki sahabat, pasangan dan pimpinan dari suku Jawa tidak ada salahnya membaca buku ini sebagaai rujukan dan pedoman hidup etika Jawa.

Masyarakat Jawa Dimana seperti disampaikan Franz Magnis Suseno yang mengatakan jika di dalam lingkup masyarakat Jawa yang lebih memerhatikan spiritual ketimbang material, etika Jawa mendapatkan tempat utama. Oleh sebab itu pembelajaran mengenai etika Jawa tersebut dilakukan orang tua sejak anak masih berusia dini.

Koleksi khusus perpustakaan Bung Karno

28 Agustus 2018

Pukul 15:38

20180827_153639

 

Resensi Buku:

Judul Buku : Revolusi Cyberlaw Indonesia

Penulis: Danrivanto Budhijanto

Editor: Dinah Sumayyah

Edisi: I, 2017

Penerbit : Refika Aditama, Bandung

ISBN: 9786026322609

Apakah anda pernah merasa aneh dengan diri anda, tiba-tiba follower akun media sosial anda bertambah tanpa mengetahui kapan mengkonfirmasi, password blog kita tidak bisa dibuka karena ada yang ganti, tulisan kita ada yang menghancurkan editan dan substansi, tidak bisa unggah foto di blog karena wifi diproteksi, e-mail kita berganti password sendiri,  dan gawai kita dibuka orang lain, disadap, karena kepentingan tertentu dan  kita harus berkali-kali ganti password karena ingin memproteksi diri atau semakin seringnya sekarang orang bersidang karena pelanggaran hukum siber (cyberlaw).

Nah, bagi anda yang pernah merasakan kegelisahan di atas, anda harus mencari akar permasalahannya dan apa solusinya. Ketika komputer, laptop, gawai kita dicuri kita tentu akan kebingungan bagaimana dengan arsip yang belum kita simpan di hard disk eksternal, atau foto di gawai yang belum dipindahkan. Lalu tiba-tiba ada orang lain yang menyalahgunakan, kemana kita akan melaporkan kehilangan tiba-tiba foto kita tersebar di dunia digital.

Ditulis untuk Menjinakkan Revolusi Digital

Buku yang ditulis oleh Danrivanto Budhijanto yang mengajar di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran ini ditulis dengan kualifikasi, kompetensi dan  semangat yang tinggi. Dalam pujian (endorsement) Dr. J.Kristiadi mengatakan jika Danrivanto menulis ini untuk menjinakkan revolusi digital agar tidak merusak tatanan kehidupan bangsa. Kualifikasi penulis sangat mumpuni dalam menulis bacaan formal yang menghubungkan hukum dan teknologi yang sangat langka. Danrivanto juga sudah lama menggeluti dunia hukum dan teknologi baik di lingkungan akademik, industri dan birokrasi.

Buku ini terdiri dari lima bab. Bab pertama tentang Revolusi cyberlaw Indonesia Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik 2016, bab dua urgensi revisi UU Informasi dan transaksi elektronik 2008, Bab tiga tentang pilar-pilar norma dalam undang-undang informasi dan transaksi elektronik 2016, bab empat tekno legislasi dalam kerangka pembangunan hukum di Indonesia dan bab lima membahas regulasi membahas data digital di era Big Data.

Danrivanto mengawali tulisan dengan menjelaskan perkembangan pesat tekknologi komputer baik perangkat keras (sotware), jaringan komunikasi dan teknologi multimedia dimungkin menjadi tulang punggung masyarakat abad 21. Namun demikian selain keuntungan yang menjanjikan dari teknologi informasi, teknologi internet ternyata memunculkan permasalahan baru dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, misalnya pelanggaran hak-hak kekayaan intelektual, penipuan dalam transaksi elektronik, perpajakan dalam perdangan elektronik dan cybercrimes.

Membahas Secara Yuridis dan Filosofis Undang-Undang ITE

Ada empat belas aspek yang dibahas dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik  (ITE) yang disusun oleh Depkominfo dan DPR yang ditetapkan sejak tahun 2008. UU ITE yang terdiri dari 13 bab dan 54 pasal ada yang menganggap sebagai rezim hukum baru untuk mengatur dunia maya (cyberspace) namun ada juga yang menganggap untuk melindungi.

Keempat belas aspek  yang ada dalam UU ITE ini sangat jelas membongkar halal haram dalam dunia siber. Dari mulai aspek yurisdiksi, aspek pembuktian elektronik, aspek informasi dan perlindungan konsumen, aspek tandatangan elektronik, aspek pengamanan tanda tangan elektronik, aspek pengamanan  terhadap tanda tangan elektronik, aspek penyelenggara sertifikasi elektronik, aspek penyelenggaraan sertifikat elektronik, dan transaksi elektronik, aspek tanda tangan digital, aspek transaksi elektronik, aspek nama domain, aspek perlindungan rahasia pribadi, aspek pemerintah dan masyarakat, aspek perlindungan kepentingan umum dan aspek-aspek perbuatan yang dilarang (ada enam butir, halaman 7)

Sedangkan landasan filosofis, penulis banyak menjelaskan teori hukum Mochtar Kusumaatmaja, Roscoe Pound, Laswell dan Mc Dougal (filsafat budaya), Jeremy Bentham (aliran utilitarianism), Lawrence M. Friedman (legal system). Jadi buku ini tidak kaku karena tidak hanya sekedar membahas secara yursdiksi dalam pembuatan UU ITE tapi juga melakukan pendekatan filosofis agar lebih bermakna.

Dilengkai Contoh Kasus dan Lampiran UU ITE

Setelah sekian lama kita bercinta dengan teknologi yang dalam media sosial ketika di like atau di love ser-seran (bahasa jawa), membuat banyak hal menjadi mudah, menyenangkan,  bermanfaat, mengenang masa lalu, menguntungkan secara ekonomis, menimbulkan kesenjangan sosial, menyebar kabar bohong dan rasa kebencian hingga merebaknya bulir-bulir perselingkuhan, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan teknologi itu jika berlebihan tentu tidak baik apalagi sampai kebablasan.

Maka sedari dini semua pihak baik pemerintah, para inovator dan pembuat aplikasi, pengguna teknologi (konsumen), penjual kuota dan wifi dan para ahli hukum harus bekerjasama untuk  mengerem dampak negatif dari pelanggaran UU ITE agar tidak menimbulkan banyak penyakit hati maupun kecanduan yang sangat tinggi terhadap gawai bagi generasi yang akan datang. Meskipun tentu kita tidak sama sekali meninggalkannya.

Kasus-kasus besar dalam pelanggaran hukum siber seperti kasus Prita Mulyasari, Iwan Piliang dan kasus lainnya dibahas secara tuntas di dalam buku ini, bagaimana proses dan perkembangnnya, solusi dan lain sebagainya. Selain itu, buku setebal 212 halaman ini yang sangat menarik adalah ada lampiran tentang isi dan pasal-pasal yang ada dalam UU ITE dari halaman 159-212. Dari jumlah hukuman hingga berapa jumlah nominal denda yang dijatuhkan juga ada.

Lebih Bijak dan Berhati-hati

Bagi anda yang selama ini bekerja di dunia digital, pembuat aplikasi, pakar dan berprofesi penegak hukum, media daring dan juga semua pihak yang sudah tidak bisa melepaskan diri dari teknologi tidak ada salahnya membaca buku ini. Namun ekspekstisanya jangan terlalu berlebihan jika membaca buku karya penulis gundul asal Cimahi ini.

Anda juga jangan terlalu ketakutan akan rezim hukum dalam UU ITE yang dibahas dalam buku bersampul putih ini, namun lebih dipahami agar kita semua pembaca lebih bijak dan berhati-hati dalam menggunakan teknologi.  Jangan terlalu ingin tahu (kepo) sama akun orang dengan nekad mencari hacker, mengobrak-abrik situs atau memblokir karena ada sesuatu yang kurang disuka dan tindakan lain yang dilarang dalam dunia digital dimana kita semua semua bergerak dengan sangat cepat.

Bagaimanapun juga kita harus bisa menahan diri untuk melakukan apapun dalam dunia digital yang merugikan. Seperti yang ditulis dalam halaman 138-139. Kebebasan memperoleh informasi memiliki keterkaitan yang sangat erat dari pemahaman hak pribadi (privacy right). Kebebasan memperoleh informasi yang harus berakhir apabila muncul garis embarkasi perlindungan terhadap hak pribadi sebagaimana yang dimuat dalam pasal 28F UU 1945.

Bahkan di negara seliberal Amerika Serikat, kebebasan memperoleh informasi tidak diperkenankan melanggar hak-hak pribadi dari seseorang. Ketika freedom of Act diundangkan pada tahun 1974, pada tahun yang bersamaan diundangkan pula Privacy Act oleh Pemerintah Amerika Serikat. Meski lengkap dan mendalam, namun di bagian akhir buku ini cenderung membosankan. Akan tetapi buku ini jangan sampai anda lewatkan.

Koleksi Khusus Perpustakaan Bung Karno

Blitar, 28 Agustus, 2018

Pukul 12:40

bunderan hi

Lima Belas Tahun Sudah Menyusuri Selatan Jakarta

Melewati  hutan beton  dan macet merata

Mencari  berita  olahraga  hingga menulis buku orang Jakarta

Kini sudah saatnya aku berganti suasana

 

Dari Ciputat, Kalibata, hingga Kebayoran Lama

Banyak kutemui sahabat yang menyayangi sesama

Hingga berakhir di Pondok Petir cukup lama

Semua karena rejeki harus dicari bersama

 

Banyak hal yang berkesan di ibukota

Dari menjaga stand buku, narkoba di saku celana polisi ibukota

Ketinggalan tumbler di DPR RI, dan melihat ular melata

Semua aku alami dan lihat sendiri di Jakarta

 

Dengan bis malam dan truk kami pindah

Meninggalkan semua kenangan indah

Kini semua berakhir sudah

Hati pun sudah tidak merasa gundah

 

Selamat tinggal sahabat dan tetangga yang ramah

Mari kita semua hati-hati menjaga rumah

Agar tidak mudah sembarang di jamah

Oleh orang yang tidak ramah

 

Mohon maaf jika ada kesalahan

Baik yang menjaga kebaikan dan tersulut Kemarahan

Semoga kita semua dimaafkan Tuhan

Menjalin silaturahmi dengan keindahan

 

Blitar, 28 Agustus 2018

Pukul 09:26