Archive for October, 2018

Pantun Hari Rabu

Posted: October 31, 2018 by Eva in Seni, Film dan Budaya
Tags: ,

Pantun Hari Rabu

Dari Sudimara ke stasiun ke Palmerah
Pulang dari Tanabang menuju ke Serpong
Kalau terpanah asmara pipinya memerah
Saat jatuh cinta bawaannya rempong

Naik kereta ke stasiun Kalibata
Salah turun di stasiun Tebet
Awalnya dari tatapan mata
Eh lama-lama kok suka banget

Stasiun manggarai setiap hari ramai
Banyak orang pindah ke stasiun Bekasi
Jika hati kita cinta damai
Mari kita saling asah saling asih

Paling Ramai stasiun Sudirman
Tangganya banyak dari kiri dan kanan
Kalau mau naik kereta aman
Jangan banyak barang bawaan

Dari Sudirman ke stasiun kota
Berhenti sebentar di stasiun Cikini
Terimakasih petugas kereta
Tugas siang malam kerja tiada henti

 

Selamat Beraktivitas

Rabu, 31 Oktober 2018

Pukul 08.27

 

Advertisements

Selamat pagi ibu-ibu yang suka masak. Apakah pernah lupa matiin kompor karena sesuatu hal saat anda memasak atau memepes, merebus sayuran atau ikan. Lantas peralatan masak anda hangus atau gosong.

Jika anda pernah mengalaminya jangan khawatir, lakukan langkah berikut ini dengan kalem saja jangan panik.

Pertama rebus air hangat, masukkan dalam alat rumah tangga yang gosong, lalu masukkan cuka secukupnya. Rendam cukup lama berhari-hari, saya sudah pernah 4 hari. Diamkan amati biar perlahan – lahan ngelupas gosongnya berarti panci atau wajan anda masih bisa dipakai. Sikat pake sendok kecil bagian hitamnya sedikit-sedikit hingga menghilang.

20181031_135659

Jika sudah mengelupas gosongnya bisa anda cuci bersih memakai sabun pelan-pelan sampai bersih benar. Wajan ataupun panci bersih kembali.

Akan tetapi jika memang tidak bisa, berarti gosongnya parah panci atau wajan anda tidak bisa diselamatkan.

Selamat masak ya ibu-ibu jangan terlalu besar apinya jika memasak atau menggoreng, hemat gas dan jangan ditinggal pergi jika sedang memasak.

Salam

31 Oktober 2018
Pukul 07.56

Wandra Banyuwangi

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

Resensi Buku

Judul : Biografi Singkat Mohammad Hatta (1902-1980)

Penulis : Salman Alfarizi

Penerbit: GARASI, Jogjakarta

Edisi : Cetakan II, Juli 2009

Editor: Abdul Qadir Shaleh

Pada suatu ketika B.M Diah diminta oleh Majalah Prisma tentang generasi 1928 seperti Sukarno, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka. Kata Diah :  “Sukarno dan Hatta disekap Belanda, Sjahrir idem dito. Tan Malaka lari.”

Setelah 73 tahun Indonesia merdeka, ada beragam generasi melintasinya. Indonesia tidak melupakan Mohammad Hatta, salah seorang proklamator dan pemimpin bangsa ini yang jujur dan antikorupsi. Memegang teguh prinsip, tegas, terampil organisasi, memiliki intelektualitas tak tertandingkan, dan pemegang paham sosialisme yang setia.

Sosok Mohammad Hatta, sudah lama dikenal sebagai salah satu pendiri bangsa. Wakil presiden yang mendampingi Ir. Sukarno ini dikenal sebagai sosok yang sederhana dan disipin tinggi. Ekonomi Kerakyatan yang diperjuangkan atau disebut sebagai Hattanomics pernah diterapkan di era awal kemerdekaan.

Saya tidak akan menjelaskan bagaimana kiprah sejarah dan perjuangannya sebelum kemerdekaan yang sudah banyak orang paham, namun akan mengulas sisi pribadi dia yang patut di tiru kita sebagai orangtua maupun generasi muda penerus.

Ada banyak buku yang mengulas tentang biografi ekonom terkemuka Indonesia Mohammad Hatta. Ditulis oleh beberapa penulis dan penerbit dengan pendekatan berbeda, semua sama bagusnya. Namun, jika anda ingin membaca singkat, cepat dan padat, tidak ada salahnya anda membaca buku ini.

Yatim Sejak Usia Delapan Tahun

Lelaki yang bertubuh kecil pendek dan berbadan gempal ini lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Ayahnya seorang mursyid, sebuah pemimpin tarekat sufi di Sumatera Barat bernama Haji Mohammad Djamil dan Ibunya Siti Saleha. Mohammad Djamil adalah cucu seorang seorang ulama Minangkabau bernama Syaikh Abdurrahman atau dikenal Syaikh Batuhampar.

Menurut Hamka, nama Mohammad Hatta berasal dari Muhammad Ata yang diambil dari seorang penulis kitab Al-Hikam bernama Muhammad Ibn Abdul Karim Ibn Ata-Ilah Alsukandari. Sedangkan kakek dan nenek dari pihak ibunya adalah pengusaha angkutan pos antara Bukittinggi dan Lubuk Sikaping dengan menggunakan kuda, bernama Ilyas Bagindo Marah dan istrinya Aminah. Hatta memanggil keduanya Pak Gaek dan Mak Gaek.

Pernikahan Mohammad Djamil dengan Saleha melahirkan dua orang anak yaitu Hatta dan Rafi’ah. Ketika berusia delapan tahun, ayahnya mursyid Mohammad Djamil wafat. Ibunya menikah lagi dengan Haji Ning, pengusaha asal Palembang. Dari pernikahan itu, Hatta punya adik  empat orang perempuan.

Kondisi rumah tangga semasa kecil sangat berpengaruh dalam pola hidup Hatta yang terlepas dari pola budaya Minangkabau tradisional yang lazimnya konservatif, ada kalanya cenderung reaksioner. Sama halnya dengan pemuka gerakan nasional sezamannya yang berasal dari Minangkabau seperti Ibrahim Marah Sutan, Rustam Effendi, Abdul Muis, Bahder Johan, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir, Hazairin, Syaikh Djamil Djambek dan Syaikh Abdullah Muhammad.

Menikah Dengan Mas Kawin Buku

Terlalu panjang jika saya bercerita proses mahasiswa, menempuh pendidikan ke Belanda, aktif di organisasi dan memproklamasikan kemerdekaan RI. Saya kira nanti anda bisa baca sendiri dari halaman 15-32.

Lebih menarik kita membahas sisi pribadinya. Dimana Muhammad Hatta yang menikah usai Indonesia merdeka. Perempuan yang dinikahi Hatta adalah perempuan biasa yang saat menikah masih belia, bernama Siti Rahmiati Rachim. Mereka bertemu saat usia Rahmi berusia 17 tahun, selisih usianya dengan Mohammad Hatta adalah 24 tahun. Rahmi adalah perempuan kelahiran Bandung 16 Februari 1926. Mereka bertemu saat Sukarno dan Hatta kembali dari pengasingan. Hatta dan Rahmi menikah pada 18 November 1945 di Megamendung Bogor dengan mas kawin sebuah buku berjudul “Alam pikiran Yunani.”

Kecintaan Hatta pada buku sudah ada sejak kecil. Sejak umur lima tahun sudah bisa membaca dan menulis. Hatta punya kebiasaan membaca yang patut diteladani. Membaca buku pelajaran pada malam hari dan membaca buku lain termasuk roman untuk meluaskan cakrawala pengetahuan dibacanya pada sore hari. Selama 11 tahun di Belanda dia membawa 11 peti buku dan pakaian hanya satu koper.

Bagi Hatta, buku hampir seperti sebuah benda sakral. Dalam dunia pergerakan, mungkin Hatta adalah aktivis yang paling banyak menulis. Konon saat mahasiswa di Amsterdam kamarnya penuh sesak dengan buku. Dalam kehidupan sehari-hari, Hatta memiliki waktu khusus untuk belajar. Jauh dari kemewahan dan kegairahan akan perempuan.

Kekasih Hatta adalah buku, buku, dan buku. Karena itu, lahirlah anekdot; istri pertama Hatta sesungguhnya adalah buku, istri kedua Hatta adalah buku dan istri ketiga adalah Rahmi Hatta.

Berbeda dengan Sukarno yang sanggup membakar massa melalui pidato-pidatonya yang memikat. Hatta lebih banyak diam; ia lebih suka menulis. Isi buku-bukunya menggambarkan spektrum dan minat yang luas terhadap ekonomi, sosial dan sastra. Tokoh yang disukai Hatta adalah Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker, penulis Belanda yang pernah menulis Max Havelaar.

Satu ucapan Dekker yang kerap dikutip Hatta, dengan tepat menggambarkan sosok bekas wakil presiden itu adalah onhoorbar groeit de padi, artinya tak terdengar tumbuhlah padi. Hatta adalah padi yang tak terdengar itu.

Kepala Keluarga yang Disiplin dan Penuh Kasih Sayang

Selama mengayuh biduk rumah tangga, Hatta dan Rahmi memiliki tiga anak. Yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi’ah dan Halida Nuriah. Sebagai orang tua, Hatta terkesan pendiam dan kaku. Namun dia sangat berwibawa dan penuh kasih sayang.

Curahan kasih sayang pun terasa unik, karena beliau bukan sosok yang suka memuji, membelai dan menyanjung berkepanjangan.

Namun, menyapa anak-anaknya dengan sopan tanpa memanggil “kamu”. Dia biasa bertanya misalnya “Meutia sudah membaca tulisan ini? Atau “Gemala, dimana letakkan buku tadi?.”

Bahasa Indonesia yang digunakan Hatta adalah Bahasa yang standar. Mungkin ini pula yang menyebabkan nilai Bahasa Indonesia ketiga putrinya 8 dan 9, karena mereka terbiasa mendengar ayahnya menggunakan Bahasa Indonesia standar. (Ini harus dicamkan orangtua dan generasi milenial hehehe).

Menurut anak-anaknya, Hatta adalah sosok ayah yang sangat disiplin selam hidupnya yang dijalani selama puluhan tahun saat sehat. Ketiga anaknya dibesarkan oleh orang tua dengan alam pikiran modern. Meutia Farida, anak tertua dibiarkan memilih jurusan yang disukainya. Hatta justru banyak memberi saran berharga untuk studi antropologinya.

Gemala menjelaskan jika ayahnya bangun pada 04.30 WIB, lalu sembahyang dan berolahraga satu jam. Sesudah mandi dan berpakaian selama 15 menit ia akan sarapan pada pukul 06.30 sembari mendengarkan radio, Hatta akan masuk ruang kerja dan mendengarkan agenda yang dibaca oleh sekretaris pribadi bernama Wangsa Widjaya. Penghargaan Hatta kepada waktu juga terlihat betul dalam menanggapi hidup rencana anak-anaknya.

Wafat Menjelang Matahari Terbenam

Ciri khas Hatta, sanggup menjadi seorang rasional tanpa harus kebarat-baratan. Tokoh yang taat beragama ini berorientasi kerakyatan mengambil teladan dari dunia barat dalam urusan disiplin dan berorganisasi. Di mata sang istri yang selama ini mendampinginya, Rahmi melukiskan sosok suaminya sebagai orang yang teguh prinsip.

“Keteguhan prinsipnya tidak bisa dipatahkan oleh orang-orang terdekatnya sekalipun,”

Kesabaran Hatta dan Rahmi juga terasa saat mereka merasakan kecilnya tunjangan wakil presiden saat itu. Pengabdian Mohammad Hatta kepada bangsa Indonesia sudah terbukti dengan baik. Begitu jujurnya Hatta, saat pensiun dari jabatan wakil presiden, dia pernah mengalami kesulitan membayar listrik rumahnya di jalan Diponegoro (hlm 7). Hal ini dikarenakan sedikitnya tunjangan pensiun wakil presiden (apres) saat itu.

Banyak cerita menarik lainnya seputar buku yang ditulis, perpustakaan pribadi Bung Hatta di Sumatera Barat dan Jogjakarta yang terbengkalai, (halaman, 202-203). Begitu juga dia tidak menyukai Siti Hartini, sehingga selalu menghindar jika ketemu Presiden Sukarno kalau ada Hartini, karena Beliau sangat hormat kepada Ibu Fatmawati. Beliau juga menengok Bung Karno saat dua hari sebelum meninggal dunia, dan kisah menggelora lainnya yang harus anda baca.

Namun, resensi ini harus diakhiri dengan meninggalnya Mohammad Hatta pada 14 maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta,  dan dikuburkan di Tanah Kusir pada 15 Maret 1980 pada usia 77 tahun.

Penyanyi Iwan Fals mengabadikan peristiwa bersejarah ini. Halida Nuriah mengatakan jika hidup ayahnya sudah diatur Tuhan sedemikian rupa. “Seakan diatur oleh tangan yang lebih kuasa, masa hidupnya bagaikan satu kali putaran matahari. Ayah dilahirkan menjelang fajar menyingsing di kala panggilan sembahyang subuh berkumandang di surau-surau Kota Bukittinggi, dan wafat setelah tenggelamnya matahari, menjelang berakhirnya waktu maghrib…”.

Buku ini bagus dan singkat sesuai judulnya. Namun kelemahannya ada pada sampul yang kurang nyeni, struktur penulisan yang meloncat, ke belakang dulu lalu memulai lagi saat muda. Namun terlepas dari itu semua tidak banyak ejaan yang salah, bahasanya pun mengalir dan nyaman dibaca dari bab mana saja.

Selamat membaca…

Perpustakaan Veteran Blitar, 30 Oktober 2018
Pukul 12.59 WIB

Lihatlah airmataku
Ya Tuhan Yang Maha Pengasih
Bercerita tentang duka
Dan kehancuran

Setiap tetes mengandung arti
Dari derita yang menekan
Telah lama daku mencoba
Namun tak mampu jua

Tuhan tolong hapuskan airmataku
Tiada satu dapat melakukannya
Dari derita ini
Dari dalamnya dosa
Hanya Engkau yang kuasa
Menghapuskan setiap tetes airmata
Menghapuskan setiap tetes airmata

Lihatlah airmataku
Berderai penuh kesedihan
Kucoba tuk menghentikannya
Namun tak mampu jua

Hari ini aku mau mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda buat generasi muda yang ada di sekitarku saja. Bukan saudara,  tapi orang – orang yang pernah bertemu dalam berbagai suasana.

Aku suka sama lagu Superman Is Dead (SID) yang berduet dengan Iwan Fals. Berjudul Bangunlah Putra Putri Pertiwi. Semoga kita terus semangat membangun negeri tercinta,  dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan video ini. Harap maklum masih amatiran videonya hehehehe….

28 Oktober 2018

07.48 WIB

Bangunlah Putra Putri Pertiwi

Oooh…oooh….oooh………
Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Kejam nadimu tak kan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkeramu

Angin gerimis
Mengelus merah putihku
yang berkibar

Mengelus merah putihmu
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa
Putih pun suci berkharisma

Pulau-pulau yang berpencar
Bersatu dalam kibarmu

Reff:
Terbanglah garudaku
Singirkan kutu-kutu di sayapmu
Oooh…ooh
Berkibarlah benderaku
Singkirkan kutuk di tiangmu

Hai jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu
Oooh….oooh….ooh…

Mentari pagi sudah membubung tinggi
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi

Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi, esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut

….

Slogan Pinggir Jalan

Posted: October 27, 2018 by Eva in Ekonomi Bisnis, Inspirasi

Malam ini ada yang masih lembur  atau masih di kantor menunggu deadline kerjaan. Atau masih joged dangdutan menyambut esok hari hahaha…

Jangan lupa ya yang masih kerja, istirahat, ngeteh-ngeteh atau ngopi biar gak ngantuk. Mak Pyar…

Kalau bicara ngopi saya jadi ingat sebuah slogan sederhana di pinggir jalan perbatasan Malang – Blitar. Tulisannya begini.

“Ojo Lali Kerjamu Melupakan Ngopimu” kalau ingat aku suka ketawa aja bacanya..🍵☕🍵☕🍵☕

Memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda esok hari gegap gempita terasa dimana-mana. Ada satu hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan salah satu janji sumpah pemuda yaitu Barbahasa  Satu Bahasa Indonesia.

Jujur saja, kalau sedang semangat dan buru-buru saya sering salah ketik,  dll. Kemudian, terus terang, di era teknologi ini saya sangat kerepotan dengan banyaknya istilah bahasa Inggris terutama bahasa serapan yang dimana antara ucapan dengan tulisan adakalanya kaku.

Tantangan terbesar bahasa Indonesia sekarang ini menurut saya ya itu, menghadang serbuan bahasa asing agar bahasa Indonesia tetap terjaga kualitasnya.

Belum lagi bahasa alay, bahasa instagram, bahasa yang disingkat di wa/sms, dan istilah-istilah kekinian yang dimana tidak semua generasi banyak yang tidak paham bahkan cenderung kurang sopan.

Seperti bokap gue, pembokat, nongki di mana lu, ngehe, typo, dan lain-lain. Terlepas dari itu semua saya juga tidak merasa paling benar dalm hal ini, karena saya juga dalam menulis kadang tidak konsisten dan tidak luput dari kesalahan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda teman-teman semua…

27 Oktober 2018

17.32 WIB

Setelah cukup lama menyusuri Pantai Karangsong Indramayu, saya sangat kaget dengan potensi ikan yang luar biasa di pantai utara Jawa.

Lalu saya berpikir, sebagai orang yang berasal dari  Selatan Jawa, saya penasaran dengan potensi ikan dan ekosistem laut di pantai selatan Jawa dalam hal ini Pantai Pelabuhan Ratu.

Selama ini, orang kampung saya biasa menyebut Pelabuhan Ratu, dengan nama  “Palabuan” lebih terkenal dengan potensi wisatanya daripada potensi bahari lainnya baik itu ikan, udang kerang dll.

Sampai sekarang pun saya belum tahu seperti apa perkembangan nelayan dan potensi ikan di Pantai Pelabuhan Ratu. Karena saya tidak pernah datang langsung ke koperasi nelayan di sana, begitu juga kapal atau perahu berlayarnya sampai mana.

Yang saya tahu di Palabuan terkenal dengan ikan tongkol  yang sudah di pindang, ikan layur basah, dan daerah kami banyak ikan asin. Teri hurang,  peda, cumi, ikan  tembang jeung saparakanca, (dan sejenisnya)

Kalau yang jualan ikan tongkol keliling tidak jualan, harganya naik atau ikannya kecil-kecil, paling jawabannya sederhana.

“Keur hese laukna, ngeus sababaraha poe puguh hese ceunah,” kata penjual.

Bukannya tidak mau mengenal lebih dalam potensi bahari di Sukabumi kampung sendiri, tapi entah kenapa akses ke pusat pelelangan ikan di Pelabuhan Ratu tidak semudah ketika saya mengunjungi Pantai Karangsong di Utara Jawa.

Tapi ah sudahlah…tidak bermaksud membandingkan atau mencari kesalahan nanti dikira ada udang di balik batu karang hehehe….

Pantai Pelabuhan Ratu Dua Tahun Lalu

 

Ketika di depan mata

Saya merasakan

Daun bergoyang pelan

Putik bunga berjatuhan

 

Disitulah desiran angin

Berhembus lembut setiap saat

Menghadirkan kegembiraan

Bagi segenap mahluk Tuhan

 

Angin ibarat cinta

Tidak berwarna dan rupa

Tapi bisa kita rasakan

Lembutnya sejukkan jiwa

 

Aku ingin mengucapkan selamat pagi

Kepada angin yang selalu hadir

Bersama matahari, bulan dan hujan

Hingga embun di daun yang tertahan

 

Kanigoro Blitar, 27 Oktober 2018

Pukul 08.32

 

 

 

 

 

 

Akhir pekan ini terasa istimewa,  saya mau masak sayur lodeh karena ada ikan asin dan sisa kol wortel bekas sayur sop kemarin untuk bikin bakwan.

Sudah lima bulan ini kami masak tanpa sambal. Kalau pun ingin pedas biasanya saya masukin cabe satuan (ceplus) di sayur.

Saya gak usah tulis resep, pasti pembaca semua sudah tahu caranya bikin sayur lodeh dll. Cuma untuk bakwan kriuk saya tambahkan tepung terigu dan sedikit tepung beras (dua sendok). Jangan lupa menu wajib di sini ada rempeyek.

Selamat berakhir pekan…yuuk masak…

Sebenarnya pertemuan WordPress Meet up ke -13 Jakarta sudah berlangsung sejak April 2018 di Estubizi Jakarta Selatan. Namun saya baru tulis laporannya sekarang karena sibuk pindahan dan serba – serbi lainnya, hingga tertunda. Semoga saya belum lupa materinya.

WPJKT 13 ini mengambil tema besar “Dari Freelancer Menjadi Owner“. Pada bulan April lalu, Komunitas WP Jakarta mengadakan  Dimana pada waktu itu ada empat orang pembicara yaitu Mas Ivan Kristanto dari WP Jakarta, Mas Tiko dari Sinergi Antar Benua (SAB), Mas Anas dan Mas Leo dari Kompas.id

Acara yang berlangsung sejak sore hari ini berlangsung seru. Setelah dibuka oleh Pak Ruslan, owner (pemilik) rumah Estubizi, menyampaikan kegembiraannya kepada Peserta WP13 mejadi tuan rumah pertemuan kali ini.

Pembicara pertama adalah Mas Ivan Kristanto yang menjelaskan tentang perkembangan komunitas WP yang terus berkembang. Bagaimana menghadirkan topik bagus, membaut video menarik dan aneka tips-tips menarik yang berguna bagi pembaca.

Selain itu, Mas Ivan juga bercerita sedikit tentang penerjemahan artikel yang dilaksanakan oleh para komunitas WP di berbagai tempat. Seperti di Ubud Bali, ada khusus penerjemahan artikel oleh komunitas penerjemah.

Pembicara Kedua adalah Mas Trilastiko yang menyampaikan tema “From Freelancer to Bussines Owner” Apa yang disampaikan oleh Tiko menarik banyak perhatian peserta diskusi karena banyak hal baru yang disampaikan berkaitan dengan peningkatan kualitas dan kebonafitan freelancer.

Selama ini memang masih banyak para pemilik modal meragukan kemampuan freelancer. Dimana kalau istilah saya itu mereka kadang dianggap sebagai manusia kelas dua. Karena para owner mengatakan jika freelancer itu kerjanya sedikit saja.

Namun, menurut Tiko yang punya pengalaman sekolah di Jerman dan mitra kerjasama luas di dalam dan luar negeri, tidak selamanya freelancer akan menjadi kelas dua. Dia pun memberikan tips agar freelancer berubah kelas menjadi pemilik (owner).

Selain kiat agar lebih bonafit, untuk menjadi owner, freelancer bisa sharing jobs (berbagi pekerjaan, baik dengan programmer, penulis, dll). Karena dengan sharing jobs kita bisa meningkatkan perekonomian kita. Ketika freelancer bisa dengan mudah menjalankan semua kerjaannya, maka ketika menjadi owner, seorang freelancer akan lebih fleksibel.

Langkah berikutnya agar freelancer menjadi lebih mandiri dengan membuka usaha sendiri adalah menjaga integritas. Misalnya jangan terlambat dari deadline, juga member tenggat waktu yang pasti bagi rekan-rekan freelancer yang sudah sharing jobs.

Di sinilah tahapan seorang freelancer menjadi owner saat orang tersebut bisa memanage (mengatur) orang atau karyawan. Dan yang terakhir adalah Performa, Berkaitan dengan performa itu akan berbanding lurus dengan kualitas pekerjaan dan output yang kita hasilkan. Jika performa sudah baik maka dengan sendirinya anda sudah mencapai cita-cita menjadi owner.

Pembicara Ketiga dan Keempat adalah Mas Anas dan Mas Leo dari  Dimana  mereka menyampaikan perbedaan kompas.com dan http://www.kompas.id. Dimana kompas.com lebih ke berita online yang sangat bergantung pada kecepatan waktu dan kekinian berita. Sedangkan kompas.id adalah laman milik harian Kompas versi Digital e-paper. Jadi meski masih dalam satu payung Kompas Grup, namun beda manajemen.

Saya tidak akan menyampaikan rahasia bagaimana Mas Anas dan Mas Leo, mengelola ribuan artikel karena itu menyangkut rahasia perusahaan. Jadi hanya baik untuk dikonsumsi WPJKT13 aja ya (off thr record), karena kan nanti banyak ditiru media online lain.

Setelah selesai acara, masing-masing pembicara mendapat souvenir dari Dewa Web. Ada  Yasa dan Natasha yang hadir mewakili Dewa Web. Saya pun berbincang lama dan minta no kontak teman-teman peserta #WP13JKT di bloknote biru yang merupakan hadiah dari Wordcamp 2017 Sunter. Namun, karena catatan biru saya hilang di hotel Alana Jogjakarta, maka saya tidak ada kontak satu pun dengan mereka. (Semoga Tuhan tidak memaafkan pencuri itu…).

Acara yang berlangsung sampai malam ini seru dan gayeng. Makanannya juga sederhana, ada aneka minuman dengan beragam pilihan. Menyenangkan dan penuh keakraban. Usai tanya jawab, kita pun foto bersama dengan salam khas kita. Salam WordPress atau salam W.

Setelah acara WPjkt13 masih adalagi WP berikutnya yaitu WPJKT14 meetup dengan tema Optimalization and PWD yang dilaksanakan di kantor Dewaweb Kebon jeruk, dengan sponsor Dewaweb dan Google. WPJKT15 juga tidak kalah serunya mengambil tema SEO (Search Engine Optimalization, Amp dan Adsense) yang dilaksanakan di kantor Google Indonesia, WPJKT16 mengambil tema  Woo Commerce For Newbie dan Terakhir WPJKT17 mengulas tentang aplikasi android dengan WordPress.

Bulan Bersinar di Pagi Hari

Posted: October 26, 2018 by Eva in Rumah
Tags:

Apakah anda pernah merasa aneh, ketika bangun pagi melihat ke langit sebelum fajar dan matahari terbit di sebelah timur, anda menengok ke bumi bagian barat masih ada bulan bersinar terang.

Itulah yang kurasakan pagi ini. Pukul 04.50 atau jam lima kurang sepuluh, di belahan bumi bagian barat masih ada bulan yang bersinar terang dan sempurna. Di tengah langit biru, abu-abu dan semburat lembayung. Sungguh saya takjub dengan anugerah Yang Maha Kuasa.

Saya tidak menyangka jika bisa melihat sinar bulan di pagi hari  dan mengabadikannya. Terburu – buru saya pun menutup gawai dan masuk ke dalam rumah.

Jum’at 26 Oktober 2018

Pukul 07.01

Kompor gas yang saya miliki sudah lama, sekitar 12 tahun. Sudah lama saya sering bermasalah dengan karat dan lemak yang menempel sulit dihilangkan. Tidak seperti kompor model baru yang bahan dasarnya bening dan mudah dilap, kompor ini warnanya hitam pekat.

Dulu suka saya sikat, cuma kadang sakit sampai pegel apalagi kalau nyentuh ujung-ujungnya jeruji yang buat nyala api. Nah, belum lama ini saya menemukan cara cepat menghilangkan karat.

Rebus air secukupnya hingga mendidih, lalu anda masukkan asam sitrat. Rendam  tatakan jeruji itu sekitar 3 – 5 jam. Diamkan cukup lama. Setelah itu sikat pelan-pelan pakai sikat gigi bekas. hingga karat yang membandel mengelupas. Jangan pakai sabun ya…

Nah jika sudah bersih, lalu jemur di panas matahari dan coba lihat. Karatnya bisa hilang tidak? Selamat mencoba ya, semoga bermanfaat terutama buat ibu-ibu yang suka memasak..

Kanigoro, 25 Oktober 2018

Pukul 18.16 WIB

Bila Harimu Penuh Warna

Posted: October 25, 2018 by Eva in Inspirasi, Seni
Tags: ,

Melihat bunga warna warni ini sangat menyegarkan mata. Meski ini bunga yang berada di pinggir jalan, tapi bunga ini milik orang yang punya rumah.

Aku melewatinya saat berjalan beberapa hari yang lalu menyusuri jalan Madura. Ada beragam warna yang aku suka.

Jadi ingat lagi Armada yang liriknya…

Bayangkan bila harimu penuh warna
Itulah yang saat ini ku rasakan..

Lanjutkan sendirinya lagunya 🎶🎵🎼semoga kita yang menyukai beragam warna terhindar dari kebencian….

25 Oktober 2018

08.05

Ketika Matahari Beranjak Naik

Posted: October 24, 2018 by Eva in Inspirasi, Rumah
Tags:

Semangat menyambut hari kamis teman-teman. Saya sangat bahagia tiap hari hujan terus meski sebentar. Tiga hari berturut – turut kemarin hujan memberi kesejukan bagi bumi yang sudah lama kering.

Ketika hati kita bahagia, maka apapun yang ada di depan kita terlihat istimewa. Seperti cahaya matahari yang mulai terbit menyinari pagi yang cerah.

Rencanakanlah hidup anda sebelum direncanakan orang lain. Selamat beraktivitas sahabat semuanya. Semoga rencana kita hari ini berjalan lancar.

Blitar 25 Oktober 2018

Era Reformasi Bukan Basa Basi

Oleh : Qasidah Palapa

Era Reformasi bukan basa basi
Era Reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita salah arti

Era Reformasi bukan basa basi
Era Reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita salah arti

Politik Ekonomi
Sering jadi ambisi
Janganlah reformasi
Untuk hajat pribadi

Jangan cuma bicara
Tanpa bukti yang nyata
Siapa yang akan percaya
Tak kan ada yang percaya

Era reformasi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai kita salah arti
Kita salah arti

Politik ekonomi sering jadi ambisi
Janganlah reformasi untuk hajat pribadi

Jangan cuma bicara

Semua orang bisa

Tanpa bukti yang nyata

Siapa yang kan percaya

Tak ka nada yang percaya

Era reformasi bukan basa basi
Era reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita Salah arti

Simak lagunya ya

*) Saya bukan aktivis ’98, saat itu saya masih kelas 3 SMA, jadi ini sekedar mengingatkan saja mohon maaf jika ada yang kurang berkenan

 

Jika anda memiliki barang yang mudah pecah atau retak karena tidak sengaja terjatuh atau karena air suhu tinggi saat dipakai merebus, maka anda jangan langsung membuang atau tidak memakainya lagi keramik atau tembikar itu.

Karena selain barang yang terbuat dari tanah liat itu rapuh dan  memiliki nilai seni tradisional pembuatnya, barang tersebut juga sangat bermanfaat.

Contohnya tembikar retak dibawah ini karena kepanasan usai menampung air panas saat menggodok daun. Cukup lama didiamkan, beberapa waktu yang lalu saya mengoleskan putih telur di dalam dan diluar. Setelah itu saya jemur.

Namun, tidak puas dengan putih telur. Saya mencoba dengan satu cara lain agar  tembikar ini benar-benar rekat dan menyatu, sehingga besok bisa dipakai lagi. Hari ini saya mencoba mengoleskan agar-agar dan cuka untuk memperbaiki keretakan tembikar.

Pertama-tama ambil satu bungkus agar-agar. Lalu campur dengan tiga sendok cuka. Lalu aduk-aduk hingga membuat satu adonan. Lalu oles-oles ke dalam tembikar yang pecah atau retak.

Jika sudah dioles, langkah berikutnya adalah jemur dalam cuaca panas atau terik matahari hingga mengering.

Silahkan mencoba ya, jaga perabotan anda dengan baik dan hati-hati menyimpan peralatan rumah tangga.
23 Oktober 2018

Antara Kesetaraan dan Kebebasan

Posted: October 23, 2018 by Eva in Artikel

Alexis De Tocqueville, seorang pemikir besar Prancis yang sangat berpengaruh pernah menulis dalam pemikirannya tentang Revolusi, Demokrasi dan Masyarakat sebagai berikut.

1540258364732

Semua orang berkomentar bahwa pada zaman kita, dan terutama di Prancis, hasrat akan kesetaraan ini makin mendapat tempat di hati manusia. Sudah ratusan kali dikatakan bahwa orang yang sezaman dengan kita terikat secara jauh lebih bersemangat dan erat kesetaraan ketimbang kepada kebebasan; namun ketika saya tidak melihat bahwa penyebab fakta telah dianalisis secara memadai,saya akan berupaya memperlihatkannya.

Tidak mustahil kita membayangkan titik ekstrem tempat kebebasan dan kesetaraan bertemu dan berbaur. Marilah kita beranggapan bahwa semua anggota komunitas mengambil bagian dalam pemerintahan dan masing-masing memiliki hak yang setara padanya.

Ketika tiada seorangpun yang

berbeda dari rekan-rekannya, tiada

seorangpun  yang bisa menjalani

tirani manusia akan bebas secara

sempurna karena mereka akan

sepenuhnya setara; dan mereka

akan semua sempurna, karena

mereka akan sepenuhnya bebas. 

Dia mengambil contoh dari negara demokratis seperti Amerika Serikat.

Menurut Tocquoville menuju keadaan ideal inilah negara-negara demokratis terarah itulah bentuk terlengkap yang bisa dicapai oleh kesetaraan di muka bumi; namun ada ribuan kesetaraan lain yang tanpa menjadi benar-benar sempurna, tidak kurang dihargainya oleh negara – negara itu.

 

Selamat hari Selasa WP reader, sarapan apa pagi ini? yuk masak ikan tongkol pindang blimbing wuluh biar semangat kerja hari ini.

 

Di sini tadi pagi hujan gerimis saat saya mau ke luar rumah belanja ke pasar Kanigoro karena bakul ethek (tukang sayur keliling) gak datang.  Hari ini rencana saya mau masak oseng kangkung sama ikan tongkol pindang dan tempe goreng.

Aku suka banget masak ikan ini karena bikin makan nambah. Kecut-kecut blimbing wuluh seger banget. Kalau kangkung udah banyak yang tahu resepnya, apalagi tempe goreng gampang bikinnya jadi gak usah aku tulis.

Resep ikan tongkol pindang blimbing wuluh

Dua keranjang ikan tongkol pindang (8-10 ekor) di goreng, santan 100 ml direbus.

Bumbu halus: bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, garam, gula.

Bumbu iris: Blimbing wuluh, cabe hijau, lombok.

Masukkan bumbu halus, gongso sampai warna kekuningan, masukkan santan, ikan aduk-aduk sampai meresap. Lalu masukkan belimbing wuluh, cabe hijau dan lombok.

Setelah itu aduk aduk agak lama sampai asat (airnya megental) lalu matikan kompor angkat dan hidangkan. Dimakan hangat-hangat enak.

Yuk selamat pagi selamat sarapan

Blitar 23 Oktober 2018

Pukul 07.58