Archive for October 16, 2018

“65 % kebahagiaan manusia ditentukan oleh lingkungan alam. Terutama oleh Pertanian dan Peternakan,” Eka Budianta, Budayawan, Kolumnis Trubus. 

Pergeseran gaya hidup yang sudah lama ditinggalkan rakyat Indonesia karena banyak yang melakukan urbanisasi ke kota besar menjadi buruh pabrik, pekerja otomotif, atau bekerja  di industri dengan teknologi maju di berbagai bidang  perlahan-lahan tapi pasti mulai mengalami pergeseran meski belum revolusioner.

Godaan gaji besar, gaya hidup hedonisme bertabur kemilau berlian dan nikmatnya jalan-jalan, senang-senang sepertinya masih akan lama untuk disadarkan. Entah jika Tuhan sudah memperingatkan  sesudah bencana beruntun yang menimpa ribuan korban gempa tsunami di Lombok, Sulawesi Tengah dan Jawa Timur beberapa  waktu terakhir.

Namun, saya percaya jika selama ini kembali ke desa, atau berkebun ditanah seadanya,  tidak hanya milik kaum petani di kampung. Masyarakat korban perkotaan juga sudah banyak yang menerapkan gaya hidup hijau, baik hijau di rumah, hijau pengelolaan sampah dan hijau alamiah dengan gaya hidup yang sederhana.

Dalam opini tetap seputar agribisnis yang berjudul “Hijau Tangguh” yang ditulis oleh Eka Budianta, masyarakat di Indonesia dan juga dunia menulis tentang perkembangan pesat luar biasa bisnis hijau.

Di mulai dengan konferensi Kota Hijau di Warsawa Polandia, Pak Eka menulis dengan semangat perkembangan terkini industri hijau seperti terapi hortikultur, chemo garden, forest bathing, dan aneka agrowisata.

Bangunan Hijau

Semalam saya melihat ada upaya membangun rumah bambu bagi korban bencana gempa tsunami itu membuat saya tertarik membaca tulisan Trubus edisi Oktober 2018 ini. Eka Budianta menjelaskan jika di Jepang dan Singapura berdiri konstruksi rumah sakit dengan tanaman di dinding, kebun dan ikan-ikan parit di atapnya.

Lomba kebersihan di galakkan, biopori hidroponik, daur ulang dan gaya hidup hijau menyeruak ke seantero nusantara. kampung hijau dan disiplin, rajin dan semangat sukses di Malang dan Surabaya.

Meningkatnya Indeks Bahagia

Pada 2017 kemarin Indonesia, menduduki peringkat ke-81 dari 155 negara. Ada 10 aspek kehidupan essensial yang diperhitungkan. Mulai dari kesehatan, penghasilan, harmonis keluarga, hubungan sosial, kondisi rumah dan lingkungan, bahkan ketersediaan waktu luang.

Peningkatan produksi dan konsumsi buah dan sayur di pelosok negeri sangat berpengaruh untuk meningkatkan indeks bahagia orang Indonesia. Kata Pak Eka di Sangeh bali ada program forest bathing, dimana disana ada hutan pala yang menjadikan udara memiliki kandungan positif bagi tubuh manusia.

Untuk lengkapnya beli majalah Trubus ya biar puas, bisa belajar berkebun dan menerapkan gaya hidup hijau. Selamat membaca dan terimakasih Pak Eka Budianta.

Perpustakaan Veteran, 16 Oktober 2018

Pukul 14.39

 

Advertisements

Pada majalah Trubus edisi September 2018, Dwi Andreas Santosa menulis tentang kebijakan pangan di Indonesia dalam dasawarsa tigapuluh tahun terakhir. Dalam artikel berjudul “Demi Padi”.

Andreas Santosa mengupas pertanian dari mulai meningkat produksi padi dan menekan impor serta aneka program seperti subsidi pupuk, perbaikan irigasi dan bantuan lainnya, yang berakibat pada peningkatan tajam sebesar 611 % pada periode 2004-2013.
Dalam hal ini pembangunan infrastruktur ke perbaikan jaringan irigasi, waduk dan pencetakan sawah sangat dirasakan petani.

Mereka yang senang dengan pembangunan infrastruktur buat petani adalah petani swasembada Pajale (Padi, Jagung, Kedelai). Anggaran pertanian yang meningkat dan program “Lumbung Pangan Dunia” yang diharapkan tercapai 2045 yang paradigmanya sama dengan kebijakan negara lainnya yaitu ketahan pangan (food security), atau yang sekarang biasa disebut sebagai kedaulatan pangan (food sovereignty).

Andreas Santoso juga menjelaskan konsep yang diadopsi negara-negara lainnya ketahanan pangan Indonesia diletakkan dalam kerangka perdangan internasional sebagaimana diatur World Trade Organization. Dimana menurut saya semua proses distribusi pangan bagi negara yang kekurangan pangan banyak diatur dalam sistem ekonomi yang dianut IMF-World Bank.

Data Akurat

Selain akuratnya segala hal kebutuhan petani, hasil panen, sistem perdagangan, Andreas Santoso yang merupakan guru besar juga menulis tentang data stagnasi dan turun naik produksi pane, menyangkut luas panen padi di tahun 2017 yang mengalami peningkatan mencapai 15,8 juta hektare, tetapi dari hasil citra satelit hanya 11,3 juta atau selisih 4,5 juta hektare.

Kajian data selama 17 tahun, keputusan impor dan volume beras impor panjang lebar dikupas Andreas Santoso yang menulis tentang padi atau beras tidak sebatas apa yang kita makan namun melalui distribusi yang panjang sampai dengan satgas pangan. Saya juga baru tahu jika pertumbuhan penduduk terus naik 1,49 % pertahun, di tengah stagnasi produksi padi. bahkan sampai margin perdagangan dan pengangkutan juga dikupas dengan data yang sangat lengkap.

Gandum

Hal lain yang cukup mengkhawatirkan adalah jika beras mahal terjadinya pergeseran konsumsi pangan pokok masyarakat Indonesia yang semula aneka pangan di dominasi beras bergeser ke gandum. Indonesia saat ini menjadi importir gandum terbesar di dunia dengan volume 12,5 juta ton pada 2017.

Menurut Andreas Konsumsi aneka olahan gandum justru meningkat dan menjadi pilihan sebagai cadangan bagi rumah tangga. Pasar beras yang relatif baik justru hancur akibat intervensi satgas pangan akibat kebijakan berlandaskan asumsi salah terkait produksi dan pergerakan harga.

Perpustakaan Veteran, 16 Oktober 2018

Pukul 13.51